
Aku memborgol kedua tangan Bu Margareth dan memerintahkan Fina untuk menuntunnya keluar dari kamarnya Fiona. Sementara Pak Celio dan Fiona sama sekali tidak memedulikan Bu Margareth ditangkap begitu saja. Aku berpamitan kepada mereka berdua untuk melanjutkan misiku lagi yaitu penangkapan Dokter Reyhan. Di saat aku sedang keluar dari ruangan itu, Hans berlari menghampiriku dengan napasnya terengah-rengah sambil menepuk dadanya.
"Ini gawat!" seru Hans panik.
"Memangnya ada apa lagi? Di mana Dokter Reyhan? Kamu tidak menangkapnya?" tanyaku bingung sambil berkacak pinggang.
"Dokter Reyhan melarikan diri!"
"Apa?" Aku tersentak kaget hingga mataku terbelalak.
Aku bergegas berlari menuju ruangannya yang disusul seluruh anggota timku kecuali Fina. Ketika aku tiba di sana, benar perkataan Hans barusan. Dokter Reyhan tidak ada di ruangannya.
"Kita harus memeriksa rekaman CCTV, siapa tahu tadi dia sempat di sini," usul Tania dengan ide cerdasnya.
Aku langsung berlari menuju ruang pengendalian rumah sakit untuk memeriksa rekaman CCTV. Di rekaman itu tidak ada tanda kehadiran Dokter Reyhan hari ini. Ia sudah merencanakan ini dari awal jika sampai ketahuan.
"Kalau begini bagaimana menangkapnya!" sergah Tania geram menghembuskan napasnya kasar.
"Mungkin kita bisa melihat plat mobilnya," balasku lalu memerintahkan petugas keamanan untuk memperlihatkan rekaman CCTV di tempat parkir kemarin.
Aku memantau rekaman CCTV itu dan terus fokus menatapnya tanpa melewatkan sedetik pun. Beberapa lama kemudian, akhirnya sosok Dokter Reyhan yang ada di tempat parkir terekam di kamera.
"Berhenti! Coba perbesar layarnya!" pintaku kepada salah satu petugas keamanan yang mengendalikan rekamannya.
Petugas keamanan itu memberhentikan rekamannya kemudian aku mencatat plat mobil Dokter Reyhan untuk melakukan pelacakan. Selain itu, aku juga meminta petugas keamanan itu untuk memutar rekaman CCTV kejadian saat Bu Margareth mengunjunginya waktu itu.
Di rekaman itu, terlihat sosok Bu Margareth seperti sedang bernegosiasi dengan Dokter Reyhan. Lalu Dokter Reyhan mengeluarkan botol obat itu dari laci meja kerjanya dan memberikannya kepada Bu Margareth. Wujud botol obat itu sama persis dengan yang dikonsumsi oleh Pak Celio. Botol obatnya tidak ada label merk sama sekali, berbeda dengan apa yang kulihat di toko obat tadi. Aku membuat salinan rekaman CCTV ini ke USBku sebagai bukti penangkapan yang lebih akurat. Setelah penyalinan rekaman itu berhasil dibuat, aku mengajak anggota timku ke tempat parkir, lalu kembali ke kantor lagi.
Setibanya di kantor, aku memeriksa rekaman CCTV jalan raya sepanjang hari ini. Di sekitar rumah sakit dan juga rumahnya ia tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Aduh jadi gimana nih!" keluh Tania.
"Kita harus memantaunya terus," ucap Nathan.
"Bagaimana dengan Bu Margareth?" tanyaku kepada Fina.
"Sudah aku masukan ke dalam sel," jawabnya.
"Bu Margareth sudah berhasil ditangkap, sekarang tinggal Dokter Reyhan yang masih berkeliaran di mana pun. Kapan berakhirnya ini!" keluh Hans memukuli mejanya dengan kasar.
"Sudahlah kamu bersabar saja," balas Fina berusaha menenangkannya.
Di saat aku sedang fokus memantau kamera CCTV, mobil Dokter Reyhan terekam di kamera itu. Lalu aku langsung melihat sekeliling tempat itu, bersiap-siap ke sana.
"Sepertinya itu dekat dari sini jaraknya, kita harus pergi sekarang juga!" ajakku kepada semua anggota timku.
"Aku akan ikut denganmu," sahut Fina langsung.
"Aku juga," tambah Nathan.
"Lebih baik jangan semuanya ikut denganku. Nathan dan Tania tetap di sini mengawasi kamera CCTV itu mengenai pergerakan Dokter Reyhan. Sedangkan Hans dan Fina ikut denganku."
"Baiklah, Penny," patuh Hans.
Aku, Fina, dan Hans bergegas menaikki mobil van hitamnya untuk menangkap Dokter Reyhan. Di tengah jalan pencariannya, secara tidak sengaja kami bertemu mobilnya di tengah jalan.
"Itu mobilnya! Cepat kejar dia, Hans! titahku menepuk pundaknya.
"Baiklah, kalian semua berpegangan yang kuat. Aku akan menambahkan kecepatan mobilnya."
Aku dan Fina berpegangan erat gagang pintu mobilnya lalu Hans menginjak pedal gasnya dengan kecepatan penuh mengejar mobilnya Dokter Reyhan. Karena pergerakan mobil kami yang mencurigakan dilihat dari pantulan kaca spion mobilnya Dokter Reyhan, ia menambah kecepatan mobilnya lagi menghindari mobil kami. Lalu Hans menambah kecepatannya lagi sehingga hampir membuat tubuhku dan Fina terhempas ke depan. Wajah Fina mulai memucat karena sebenarnya ia tidak kuat jika mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan penuh.
"Fina, kamu baik-baik saja?" tanyaku mencemaskannya.
"Aku baik-baik saja. Hanya kepalaku sedikit pusing dan terasa mual saja. Sepertinya aku mulai mabuk lagi," jawabnya sedikit gemetaran sambil memegangi kepalanya.
"Apa? Maaf Fina, aku tidak bermaksud membuatmu mabuk begini. Kalau begitu aku akan mengurangi kecepatan mobilnya supaya kamu tidak mual," lontar Hans panik sambil menatap fokus kaca depan.
"Jangan! Nanti kita akan kehilangannya! Lebih baik kamu fokus saja menyetirnya mengejar dia!" bantah Fina tegas.
"Tapi nanti kamu semakin mual!" celetuk Hans balik.
"Perasaan pribadi dan pekerjaan jangan dicampur menjadi satu! Kamu fokus menyetir saja!" elak Fina.
"Iya, aku mengerti."
"Sedangkan kamu, apakah kamu terasa pusing atau mual?" tanya Fina kepadaku mengalihkan pembicaraannya.
"Tidak.Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?" tanyaku bingung hingga dahiku berkerut.
"Syukurlah jadinya Adrian tidak usah terlalu mencemaskanmu."
"Adrian? Ada apa dengannya?"
"Tidak. Sudahlah aku tidak mau banyak bicara. Lebih baik aku tiduran dulu supaya tidak parah mualnya." Fina memejamkan kedua matanya lalu menghadap jendela mobil.
Sedangkan di sisi lain, Adrian baru saja keluar dari ruang rapatnya bersama dengan rekan kerjanya. Lalu ia kembali ke ruang kerjanya sendiri menaruh tumpukan berkas kasusnya di meja kerjanya dan melanjutkan mengerjakan kasus yang diselidikinya lagi. Karena kekhawatirannya masih ada, ia membuka ponselnya untuk mengetahui kabar dari Fina. Sebuah notifikasi muncul di ponselnya lalu ia dengan sigap membukanya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah terlalu mencemaskannya. Penny masih baik-baik saja sampai sekarang."
Ketika membaca pesan dari Fina, ia bernapas lega dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Kembali lagi di saat aku bersama anggota timku sedang melakukan pengejaran terhadap Dokter Reyhan. Semakin lama Dokter Reyhan melajukan mobilnya semakin jauh hampir menuju keluar kota. Tapi aku tidak lengah begitu saja. Hans tetap mengejarnya dalam keadaan kebut walaupun diklakson oleh mobil orang lain. Di saat kami sedang melakukan pengejaran, Dokter Reyhan melajukan mobilnya menuju suatu pergudangan kosong lalu Hans membuntutinya dari belakang. Dokter Reyhan memarkirkan mobilnya tepat di luar gudang itu kemudian melarikan diri lagi. Aku dan anggota timku keluar dari mobil van hitam berlari mengejarnya.
"Sebaiknya kita berpencar saja! Jangan sampai dia lolos!" titahku.
"Aku ke sebelah sini," sahut Hans yang berlari ke arah kanan.
"Sedangkan aku ke arah sini saja," ujar Fina berlari ke arah kiri.
"Baiklah kalau gitu aku lurus ke depan saja."
Aku melakukan pencarian ke seluruh area pergudangan itu di segala sudut tanpa melewatkannya.
"AAAHHHH!" Terdengar teriakan Fina menjerit ketakutan.
"KAMU DI MANA, FINA?" pekikku sambil berlari mencarinya.
Sedangkan Hans yang mendengar suara jeritan Fina langsung panik dan pucat mencarinya di segala area gudang itu. Ia mengacak-acak rambutnya seperti orang gila sambil mengepalkan tangannya dan terus mencarinya. Akhirnya aku dan Hans bertemu di satu titik tempat juga.
"Ayo, kita cari Fina bersama!" ajakku.
Lalu kami berdua melanjutkan pencarian lagi. Aku punya firasat buruk mengenainya. Aku takut Dokter Reyhan melakukan sesuatu buruk padanya. Akhirnya setelah kami menyusuri seluruh gudang tersebut, kami menemukan sosok Fina yang sedang ditangkap oleh Dokter Reyhan. Kakinya diikat kuat dengan tali dan juga sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Hans mulai menunjukkan amarahnya berlari menuju Dokter Reyhan kemudian menonjoknya kasar.
BRUGHH
"BERANINYA ANDA MENYAKITI FINA!" ketus Hans yang terus menonjok Dokter Reyhan tanpa henti-hentinya sampai tidak berdaya.
Sedangkan aku menghampiri Fina melepas ikatan tali di kakinya lalu membantunya berdiri. Hans sudah merasa dirinya puas menghajar habis-habisan Dokter Reyhan untuk melampiaskan amarahnya kemudian memeluk Fina dengan erat.
"Fina, apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang keparat itu lakukan terhadapmu?" tanya Hans sambil menyeka bekas darah yang melekat pada sudut bibirnya Fina.
"Aku ... takut." Fina bergidik ngeri hingga giginya gemetaran.
"Kenapa kamu tidak lari mencariku saja? Kenapa kamu berdiam saja? Kamu bisa menghubungiku untuk melindungimu."
"Dia sungguh wanita yang bodoh!" ketus Dokter Reyhan membangkitkan tubuhnya secara perlahan lalu menghampiri Fina.
"Apa Anda bilang? Dasar berengsek!" umpat Hans meninjunya lagi tapi dipukul balik oleh Dokter Reyhan hingga tubuhnya terhempas ke tanah.
BRUGHH
"HANS!" pekik Fina.
"Hentikan perbuatan Anda! Sebenarnya apa yang Anda inginkan? Kenapa Anda menyerang teman saya?" tanyaku sangat geram melindungi kedua temanku berdiri di depan.
"Teman Anda itu jelas-jelas menipu saya! Apalagi waktu itu saat dia sengaja menumpahkan kopinya mengenai baju saya!" bentak Dokter Reyhan.
"Apa?" tanya Hans tidak memercayai ucapannya.
Fina berdiam sejenak karena gugup ingin menjelaskan kejadian waktu itu kepada Hans. Ia takut kekasihnya akan marah setelah mendengar penjelasannya dan meninggalkannya begitu saja.
"Itu Hans ...." desis Fina sangat gugup.
"Kenapa? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Hans dengan nada kesal.
"Pacar Anda melakukan pelecehan terhadap saya! Dia sengaja menumpahkan kopi di baju saya supaya bisa mendekati saya!" ketus Dokter Reyhan melanjutkan penjelasannya.
"Apa itu benar, Fina?" tanya Hans mulai sedikit kecewa dengannya.
"Hans, bukan itu maksudku ...."
"Ini semua salahku. Aku yang memulai semua ini," sesalku menunduk bersalah.
"Ini bukan salahmu, Penny," elak Fina bernapas lesuh.
"Demi menjalankan misi, aku memerintahkan Fina untuk bersandiwara. Aku tahu aku sangat egois. Tapi ini sepenuhnya bukan salahnya. Jangan mengomelinya habis-habisan."
"Oh, jadi waktu itu Anda hanya memanfaatkan saya saja. Tidak akan kubiarkan begitu saja!"
"Sebaiknya Anda menyerah saja. Kami memiliki bukti bahwa Anda melakukan kejahatan," tuturku dengan santai.
"Kejahatan apa yang telah saya perbuat? Selingkuh? Kalian berlebihan sekali! Saya hanya selingkuh tapi Anda menangkap saya sampai masuk penjara." Dokter Reyhan mengatakan itu tidak ada rasa bersalahnya sama sekali.
"Dasar berandal tidak ada akhlak sama sekali! Anda masih bilang hanya selingkuh," umpatku sambil mengepalkan kedua tanganku serasa ingin menonjoknya langsung.
"Lalu Anda menangkapku atas kesalahan apa?"
Aku mengeluarkan borgol dari saku blazerku kemudian memborgol kedua tangannya.
"Dokter Reyhan, Anda ditangkap atas kejahatan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Pak Celio dan melakukan penyebaran obat illegal. Anda memiliki hak menyewa pengacara untuk membela Andabatau hak untuk berdiam diri saja."
"Lepaskan saya! Saya belum selesai berbicara!" bentak Dokter Reyhan memberontak.
"Ikut dengan saya ke kantor polisi sekarang juga!" Aku menuntunnya memasuki mobil van hitam dengan paksa.
__ADS_1
Sedangkan Hans merangkul pinggangnya Fina untuk menuntunnya memasuki mobil itu. Setibanya di kantor polisi, aku langsung membawa Dokter Reyhan menuju ruang interogasi untuk melanjutkan pembicaraan kami yang tertunda tadi.
"Mari kita mulai interogasinya sekarang," tegasku mulai fokus pada penyelidikan.
"Saya dengar Anda menyelidiki kasus gadis remaja yang terjatuh di tangga darurat. Kenapa kasus ini jadi saya yang tersangkanya? Padahal bukan aku pelakunya."
"Membuat obat-obatan illegal lalu menyebarluaskannya tanpa izin dulu, itu jelas-jelas kelakuan kejahatan Anda yang melibatkan keluarga orang lain hancur!"
"Apa Anda punya bukti bahwa saya yang menciptakan obat illegal itu?" tanya Dokter Reyhan dengan percaya diri.
Lalu aku mengambil botol obat itu dan juga memperlihatkan foto botol obat yang ada di toko obat kepadanya.
"Dua botol obat ini jelas sangat berbeda. Yang ada di foto itu merupakan botol obat asli yang terpajang di etalase toko obat. Sedangkan botol obat yang ada di tangan saya ini merupakan obat palsu."
"Saya mengerti dua botol obat ini jelas berbeda. Tapi tidak bukti bahwa saya yang membuatnya."
"Fiona, putri Bu Margareth yang menceritakan kejadian sebenarnya kepada saya. Sebenarnya dia memantau pergerakan ibunya dan juga Anda saat di pusat perbelanjaan. Anda jelas-jelas memberikannya kepada Bu Margareth agar bisa menghabisi suaminya."
Dengan tatapan tajam, Dokter Reyhan mendekatiku berbisik di dekat daun telingaku.
"Margareth yang meminta saya memberi obat itu untuk melumpuhkan otak suaminya yang sudah tidak berguna itu. Jadi ini sepenuhnya bukan salah saya."
"Anda sendiri lebih parah! Anda yang memprovokasinya untuk selingkuh."
"Lagi pula dia yang mulai duluan untuk mendekati saya."
"Pokoknya saya tidak mau ikut campur dengan urusan kalian lagi. Tugas saya hanya menyelidiki kasus dengan baik sampai selesai. Saya hanya bisa melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh saksi dan juga bukti yang membuktikan kejahatan Anda dan Bu Margareth. Sesi interogasi sampai di sini saja. Saya permisi dulu."
"Anda--"
"Oh iya, satu hal lagi. Karena Anda dokter jadinya izin praktik Anda juga akan dicabut. Sia-sia deh perjuangan Anda selama ini hancur akibat keserakahan Anda. Silakan nikmati hukuman Anda," sindirku tersenyum sinis lalu keluar dari ruang interogasi.
Di saat aku keluar dari ruang interogasi, aku menghampiri Bu Margareth yang sedang duduk termenung di dalam sel. Ia menatapku dengan tajam dan mengepalkan tangannya.
"Kenapa? Anda mau menampar saya lagi?" sergahku santai melipat kedua tanganku di depan dada.
"Dasar wanita tidak tahu malu!" umpat Bu Margareth.
Aku melampiaskan amarahku yang terpendam di hati dengan menamparnya balik tanpa segan-segan akibat perbuatannya terhadapku waktu itu.
PLAKK
Tamparan yang cukup kuat dariku mendarat pada pipinya hingga memerah sepertiku waktu itu.
"BERANINYA ANDA!" ketusnya.
"Rasakan ini akibat perbuatan Anda!" bentakku kemudian meninggalkannya sendiri di dalam sel itu.
Hari sudah mulai gelap. Sekarang sudah waktunya aku untuk pulang kerja dan bisa bermain dengan suamiku lagi sepuasnya. Aku mengambil tasku yang kuletakkan di atas meja kerjaku lalu melangkahkan kakiku keluar dari kantor. Sosok Adrian sudah menungguku di luar kantor sambil melambaikan tangannya padaku. Aku berlari menghampirinya kemudian merangkul tangannya dengan erat.
"Sayang!" sapaku tersenyum manis.
"Kamu kelihatan ceria sekali. Apa misimu berjalan dengan lancar?" Adrian mengelus kepalaku lembut.
"Tentu saja. Akhirnya kasus yang membuatku stress selama beberapa hari ini terselesaikan juga. Sekarang aku bisa bermain denganmu lagi."
"Ayo kita jemput anak kita sekarang!" ajaknya menuntunku memasuki mobilnya.
Saat Adrian membukakan pintu mobilnya untukku, terdapat sebuah paper bag yang diletakkan di atas kursiku. Aku mengambil paper bag itu lalu menduduki kursi. Adrian duduk di kursi pengemudi sambil menekan tombol starter mobilnya.
"Sayang, ini apa?" tanyaku penasaran.
"Coba buka deh! Ini hadiah untukmu."
Aku membuka paper bag itu isinya cookies cokelat.
"Sayang, kamu tahu saja aku sedang ingin memakan cokelat," ucapku berdecak kagum menatap cookies itu.
"Aku tadi mampir sebentar membelikannya sebagai hadiah kamu berhasil menyelesaikan misimu dengan baik."
"Padahal kasus yang aku selidiki sekarang tidak serumit dengan kasus yang dulu kita selidiki bersama," balasku merendah.
"Walaupun itu kasus rumit atau sederhana yang terpenting kamu menyesaikannya selalu sempurna. Aku sangat bangga padamu, Sayang." Adrian mengelus pipiku lembut.
"Terima kasih, Sayang." Aku mencium pipinya sekilas mengukir senyuman khasku di hadapannya.
"Aku juga bersyukur kamu hari ini terlihat sehat terus."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Dari Fina."
"Pantesan tadi Fina menanyakanku mengenai kondisi tubuhku. Ternyata karena kamu yang terus mencemaskanku sampai menyuruh Fina untuk terus memantauku, 'kan."
Adrian melepas jas kerjanya untuk menyelimutiku lalu memelukku dengan hangat.
"Nanti kamu masuk angin lagi, jadi kamu butuh kehangatan dariku," ujarnya.
__ADS_1
"Mmm kalau begini aku tidak akan terserang demam lagi berkat kamu."