Good Partner

Good Partner
S2 : Part 28 - Tipuan Maut


__ADS_3

Aku berjongkok mengambil chip itu dengan tanganku mulai gemetaran. Jangan bilang selama ini pergerakan seluruh aktivitasku dan anggota timku diketahui karena ada seseorang yang sengaja memasang chip ini tanpa sepengetahuanku. Apalagi chip ini terpasang pada sebuah pot kecil yang diletakkan di depan ruang kerja timku. Aku mengamati sekelilingku namun tidak ada seorang pun yang bertingkah mencurigakan di sini dan tetap menjalankan aktivitasnya seperti orang normal. Terutama petugas kebersihan ini sepertinya tidak mengetahui keberadaan chip ini dalam pot. Kalau seandainya ia yang menaruhnya, untuk apa membiarkanku mengambil chip ini terang-terangan di hadapannya atau bertindak gegabah memecahkan potnya.


Aku bergegas memasuki ruang kerja timku lalu mengambil sebuah plastik kecil yang aku letakkan di dalam laci meja kerjaku dan memasukkan chipnya ke dalam sana. Sementara seluruh anggota timku kebingungan mengamatiku yang sedang terfokus dengan chip misteriusnya.


"Penny, apa yang terjadi? Kenapa bisa ada chip di tanganmu?" tanya Fina.


"Kalian semua mulai sekarang kalau berbicara tentang kasusnya sebaiknya hati-hati deh."


Mata Hans terbelalak mengamati chipnya hingga mulutnya terbuka lebar.


"Apa mungkin selama ini kita DISADAP?" Hans teriak menjerit membuat Fina dengan sigap membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"Sssttt!!"


"Bisakah kamu tidak norak! Kalau sampai didengar pelakunya gimana!" omel Fina seperti seorang ibu yang mengomeli anaknya.


"Iya dasar Hans selalu norak setiap saat," sindir Nathan menyipitkan matanya.


"Tapi bagaimana bisa ada seseorang yang menaruh chip ini di kantor?" tanya Tania bingung.


"Itulah ada penyusup yang memasuki kantor ini secara diam-diam."


"SIAPA ITU PENYUSUPNYA?" teriak Nathan membuat Hans menggelengkan kepalanya.


"Ssttt!!"


"Dasar, Nathan! Tadi kamu menyindirku sekarang kamu sendiri juga norak sepertiku!" hardik Hans menatap menyeringai.


"Hehe maaf aku tidak sengaja," ucap Nathan tertawa malu sambil menggarukkan kepalanya seperti orang bodoh.


"Sepertinya kita harus melihat rekaman CCTV. Pasti wajah pelakunya tertangkap pada kameranya," usul Fina berwajah serius.


"Baiklah sekarang kita ke ruang pengendalian!" ajakku terburu-buru meninggalkan ruangan itu yang diekori semua anggota timku.


Setibanya di ruang pengendalian, aku memerintahkan salah satu petugas di sana untuk memutar video rekaman CCTV beberapa hari belakangan ini. Aku dan seluruh anggota timku mulai fokus mengamati rekamannya tanpa terlewatkan satu detik pun. Pertama, aku melihat video rekaman CCTV saat pertama kali munculnya kasus pembunuhan ini yaitu tubuhnya Angelina dan Gracia ditemukan di hutan. Dilihat dari video rekaman CCTV ini sepanjang hari itu, tidak ada satu pun pergerakan anggota kepolisian di sini yang bertingkah mencurigakan. Bahkan tidak ada satu pun orang yang menyentuh pot tepat di depan ruang kerja timku.


Aku mengamati video rekaman pada hari kedua aku menyelidiki kasus ini. Hasilnya sama seperti hari pertama, tidak ada satu pun pergerakan orang yang mencurigakan di sini. Sementara Hans dan Nathan mulai bermalasan mengamati video rekaman CCTV hingga matanya seperti sulit dibuka dengan lebar. Lalu aku menegur mereka berdua tegas.


"Hei, Nathan dan Hans! Kalau sedang bekerja jangan bermalasan ngantuk dong!" tegurku tegas.


"Aku juga maunya gitu. Tapi asalkan kamu tahu saja, aku sejak dulu paling tidak suka melihat video rekaman CCTV kelamaan. Mataku sepertinya perih setiap kali melihatnya," sahut Hans mengucek kedua matanya.


"Ah, memang kamu sangat berlebihan, Hans!" sergah Nathan.


"Hufft! Padahal kamu sendiri juga sama saja setiap kali melihat rekaman CCTV selalu bermalasan!" ketus Hans mengerucutkan bibirnya.


"Eh, tapi aku tidak sampai matanya perih! Lagi pula juga baru kali ini saja mataku sulit dibuka karena kurang tidur!" celetuk Nathan balik mendongakkan kepalanya.


"Sudahlah kalian tidak usah bertengkar lagi! Kepalaku sudah sakit akibat memantau video rekamannya ditambah mendengar perdebatan kalian membuatku ingin melempar kalian keluar dari ruangan ini!" Fina menatap menyeringai mencolek pundaknya mereka berdua dengan kasar.


"Kalian selalu saja bertengkar setiap saat! Mau di ruang kerja tim kita, TKP, atau ruang pengendalian selalu bertengkar seperti tom and jerry. Kalian seharusnya tahu diri dong! Apa kalian mau tingkah kekanak-kanakan kalian dilihat orang lain?" omelku panjang lebar hingga suaraku sedikit berserak.


Suara omelanku membuat seisi ruang pengendalian ini jadi hening. Para petugas keamanan yang berjaga di sana tatapan matanya tertuju pada Hans dan Nathan menertawainya diam-diam.


Aku menghampiri mereka lalu berdiri di tengah dan mendekatkan wajahku pada daun telinga mereka.


"Kalian sebagai anggota timku seharusnya jangan mempermalukanku di hadapan semua petugas keamanan di sini. Dari tadi mereka menertawai kalian," bisikku kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Iya aku tahu, Penny. Sudahlah kamu tidak usah mengomeli kami lagi!" sungut Hans menunduk malu.


"Aku jadi malu nih gara-gara diomelimu, Penny," keluh Nathan.


"Ya sudahlah sekarang kita lanjutkan lihat video rekaman CCTV lagi."


Aku menekan tombol putar untuk melanjutkan pemantauan video rekaman CCTV. Sudah aku putar sekian banyak video rekaman CCTV sejak terjadinya kasus pembunuhan ini namun tetap saja tidak ada pergerakan yang mencurigakan sama sekali. Lalu aku memutuskan untuk memutar video rekaman CCTV di hari aku menangkap Nielsen. Sepertinya pelaku mulai bertindak sejak hari itu. Aku mengamati video rekaman CCTV sepanjang hari itu tapi tidak ada seorang pun yang menyentuh pot kecil di dekat ruanganku. Kalau pelakunya tidak menyusup di hari aku menangkap Nielsen, kemungkinan besar pelakunya menyusup di hari aku membebaskan Nielsen.


Untung saja tiba-tiba ada ide cemerlang yang terlintas dalam pikiranku. Aku memutar video rekaman CCTV pada saat Nielsen dibebaskan. Ketika video tersebut merekam sosok Nielsen yang masih berada di dalam sel sementara, sontak ada seorang pria bertubuh tinggi berpakaian rapi berjalan menuju depan ruang kerja timku. Ia tidak sengaja hampir menyenggol pot tanamannya hingga hampir terjatuh ke lantai. Dengan tangannya lincah, ia menangkap pot tersebut menaruhnya kembali ke tempatnya semula. Pria bertubuh tinggi berpakaian rapi itu adalah pengacara Leonard yang mendatangiku pertama kali saat membebaskan Nielsen dari tuduhannya. Mataku terbelalak tidak percaya mengamati video rekaman CCTV. Tidak mungkin rekaman ini merupakan rekaman rekayasa yang pernah dilakukan oleh Josh sebelumnya. Tubuhku berdiri lemas hampir terjatuh ke belakang lalu dengan sigap Fina menahan tubuhku yang hampir tumbang. Aku merasa bodoh karena tertipu olehnya selama ini.


"Pelaku yang memasang chip ini ke dalam potnya adalah pengacara Leonard," ucapku lemas.


"Tapi Penny, kalau dilihat rekamannya sepertinya dia tidak memasang chipnya deh. Dia hanya hampir menyenggol potnya setelah itu menaruhnya kembali ke tempat semula," sangkal Hans menunjuk video rekamannya.


"Benar tuh kata Hans. Lagi pula mana mungkin sih seorang pengacara yang andal bekerja di salah satu firma hukum ternama melakukan perbuatan kejam begitu," lanjut Nathan kali ini mendukung pernyataan Hans.


"Tapi bisa juga pengacara Leonard adalah pelakunya. Kamu lihat saja pergerakannya mencurigakan. Masa iya dia bisa menyenggol potnya tiba-tiba. Padahal selama ini tidak ada seorang pun yang pernah menyenggol potnya kecuali petugas kebersihan yang hari ini bertugas," sangkal Fina menautkan kedua alisnya.


"Menurutku sih aku sedikit meragukan pengacara Leonard adalah pelakunya. Kalau sampai dia sungguh pelakunya, kenapa waktu itu dia membela Nielsen? Kalau aku jadi dia mendingan membiarkan Nielsen dikurung di penjara saja," ujar Tania berpikir keras.


"Hmm masa sih? Biasanya pembunuh itu tidak akan membiarkan saksi mata hidup bebas di dunia ini. Walaupun Nielsen membusuk di penjara, tapi bagi pembunuhnya bisa juga itu belum cukup puas baginya. Jadinya dia lebih memilih membebaskan Nielsen dan membunuhnya langsung," tambah Fina melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aish sayangnya tekniknya memasang chip itu sangat licik! Bahkan terekam kurang jelas pada kamera CCTV!" hardik Hans mengacak-acak rambutnya.


"Yang namanya orang ingin berbuat jahat mana ada sih melakukannya terang-terangannya!" ketus Nathan.


"Kalau seandainya terekam dengan jelas kan sekarang kita bisa menangkapnya dan bawa surat perintah penangkapannya ke kantornya," balas Hans.


"Bicara sih gampang, ya, Hans!"


Aku berusaha untuk mencerna pikiranku saat ini. Dari seluruh persepsi yang dilontarkan oleh seluruh anggota timku memang terdengar masuk akal juga. Mungkin pengacara Leonard merupakan pelakunya yang sebenarnya. Apalagi saat hari pertemuanku dengan Reporter Yulia di pusat perbelanjaan itu sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganjal pikiranku. Kenapa pengacara Leonard bisa mengunjungi Kafe itu secara kebetulan dari sekian banyak Kafe di pusat perbelanjaan itu? Lalu saat ia ingin mengajakku makan siang bersamanya sepertinya ia bermaksud untuk mendekatiku secara sengaja supaya aku tidak mencurigainya sama sekali. Tingkah lakunya sejak awal di hadapanku terlihat sangat sempurna hingga sekarang aku mencurigainya.


Aku mengisyaratkan seluruh anggota timku dengan mengibaskan jari telunjuk untuk segera menuju ruang kerja tim mengadakan rapat darurat. Setibanya di sana, aku berdiri di tengah ruangan di antara mereka semua memulai rapatnya.


"Sebaiknya kita membicarakan semuanya di sini saja. Jangan sampai ada orang yang tahu dengan diskusi kita sementara," tegasku dengan tatapan serius.


"Iya tenang saja. Kami tidak mungkin membocorkan informasinya kepada orang lain sebelum mendapatkan buktinya yang akurat," sahut Fina.


"Jadinya sekarang gimana, Penny? Apakah kamu berpendapat bahwa pengacara Leonard merupakan pembunuhnya yang sesungguhnya?" tanya Nathan penasaran.


"Ah, aku sudah tidak tahu lagi. Apa dia adalah pelakunya atau bukan. Aku sih tidak mau sembarangan ambil kesimpulan dulu!" celoteh Hans berjalan mondar mandir.


"Perasaan tadi aku bertanya ke Penny deh, bukan kamu, Hans! Kenapa malahan kamu yang menjawabku?" celetuk Nathan berkacak pinggang.


"Oh iya, benar juga sih kenapa malahan aku yang berpikir keras, ya!" Hans menepuk jidatnya seperti orang bodoh.


"Makanya lain kali kau jangan main sembarangan jawab orang! Kamu kebanyakan emosi dan tidak sabaran sih jadi orang!" lanjut Nathan menggelengkan kepalanya.


Lagi-lagi batas kesabaran Fina sudah habis.


"Kalian berisik sekali sih dari tadi! Sudahlah sebaiknya kita dengarkan langsung saja pendapatnya Penny!" ketusnya dengan tatapan menyeringai.


"Memang untuk sementara ini sesuai dengan pemikiran kalian, bisa juga pengacara Leonard merupakan sosok pelakunya yang sesungguhnya," ucapku bertopang dagu.


"Tuh kan benar apa yang aku bilang tadi!" seru Fina heboh.


"Sehari sebelum pembunuhnya mengintai Reporter Yulia, sebenarnya aku bertemu dengan pengacara Leonard di Kafe tempat pertemuanku dengan Reporter Yulia. Menurut kalian bukankah ini terdengar sangat aneh kalau dinamakan sebuah kebetulan?"

__ADS_1


"Benar juga sih, Penny. Selain itu dilihat dari video rekaman CCTV tadi, sepertinya postur tubuhnya pengacara Leonard sesuai dengan kriteria postur tubuh pembunuhnya," sahut Fina.


"Tapi aku masih bingung! Masa sih pengacara Leonard adalah pelaku yang sebenarnya?" Hans mengernyitkan alisnya dengan tatapan tidak percaya.


"Hmm untuk sementara ini sepertinya kita harus menyelidikinya lebih dalam. Kalian semua sebaiknya mencari informasi apa pun tentangnya," pintaku kepada seluruh anggota timku.


"Baiklah, Penny!" patuh semuanya bersamaan.


Semuanya kembali menuju meja kerja masing-masing mulai melakukan pencarian segala informasi mengenai pengacara Leonard. Sedangkan aku hanya berdiam diri di meja kerjaku melipat tanganku di atas meja untuk menopang kepalaku yang kini terasa sangat berat.


Sedangkan di sisi lain, di saat yang bersamaan Adrian dan Yohanes berada di atap rumah sakit sedang menginterogasi Carlos. Tubuhnya Yohanes sedikit merinding berhadapan langsung dengan sosok Carlos yang sudah ia anggap sebagai kaki tangan pembunuhnya selama ini. Sementara Adrian melangkahkan kakinya mendekati Carlos dengan tatapan mata elang.


"Aku memberimu kesempatan terakhir kalinya untuk berkata jujur. Apakah kamu sungguh kaki tangan pelakunya?" tanya Adrian mempertegasnya.


Carlos mengangkat kepalanya tegak berlagak penuh percaya diri.


"Iya memang aku adalah kaki tangan pelakunya."


"Tuh kan sudah kuduga kamu memang kaki tangan pelaku karena pergerakanmu selama ini selalu terlihat mencurigakan," balas Yohanes sedikit gugup sebenarnya.


"Memang aku adalah pelaku yang melaporkan informasi tentangmu kepada pembunuhnya," lanjut Carlos.


"Beraninya kau melakukan itu padaku!" bentak Yohanes menonjok wajahnya Carlos kasar.


Ketika Yohanes ingin menonjoknya lagi, Adrian menahan kepalan tangannya sambil menggelengkan kepala padanya mengisyaratkan untuk tetap bersikap tenang. Yohanes menurutinya terpaksa sambil melonggarkan lilitan dasi pada lehernya.


"Apa mungkin kamu selama ini bekerja denganku supaya bisa memantau pergerakanku terus?" selidik Adrian kembali fokus pada penyelidikannya.


"Mengenai itu bukan karena perintah pembunuhnya tapi memang aku ingin bekerja sama denganmu sejak dulu."


"Dasar kamu tidak tahu diri sama sekali! Beraninya di saat seperti ini kamu masih bermuka tebal!" ketus Yohanes hampir mendaratkan kepalan tangannya lagi.


"Aku belum selesai bicara pada kalian."


"Memangnya ada apa lagi yang bisa kamu sampaikan pada kami?" tanya Adrian penasaran.


"Apa kamu mengenal Reporter Yulia?" tanya Carlos.


"Dia adalah temanku. Memangnya ada apa dengannya? Jangan bilang kejadian yang dialaminya semalam adalah perbuatanmu juga!" sergah Adrian dengan tatapan tajam.


"Justru kamu yang harusnya berterima kasih padaku karena sebenarnya aku memerankan peran penting juga dalam kasus pembunuhan ini."


"Peran penting apa?" tanya Yohanes.


"Karena sebenarnya aku adalah saksi mata yang mengirimkan alat recorder beserta suratnya kepada Reporter Yulia."


Adrian tersentak kaget hingga matanya membulat sempurna. Sebenarnya perkataan yang barusan dilontarkan oleh Carlos masih sulit dipercaya. Apalagi baginya sedikit mustahil kalau kaki tangan pelaku juga merupakan seorang saksi mata.


"Apa mungkin barusan kamu berkata jujur padaku?" tanya Adrian masih meragukannya.


"Untuk apa aku berbohong denganmu, Adrian. Lagi pula juga aku sudah tertangkap basah oleh kalian bahwa aku sebenarnya adalah kaki tangannya pembunuhnya," balas Carlos mengangkat alisnya dan melipat kedua tangannya.


"Kalau kamu adalah kaki tangan pembunuhnya, kenapa kamu tiba-tiba ingin berkhianat darinya? Apa mungkin dia berkhianat darimu juga?" tanya Yohanes.


"Apa mungkin kamu memiliki sebuah alasan tiba-tiba ingin mengungkapkan kebenaran di balik insiden kasus pembunuhan ini?" selidik Adrian.


"Iya benar perkataanmu barusan, Adrian. Memang aku sebenarnya punya alasan untuk mengungkapkannya secara tiba-tiba. Karena aku sudah muak bekerja sama dengannya yang tidak berguna untukku."

__ADS_1


"Memangnya dia melakukan penawaran padamu?" selidik Yohanes.


"Bukan penawaran sih. Tapi lebih cenderung sebuah ancaman."


__ADS_2