
Aku sudah terlanjur nyaman menikmati suasana romansa sangat manis. Rasanya aku ingin memperpanjang waktuku bersama pria yang kusayangi lebih lama lagi.
Adrian menduduki ranjang di sebelahku membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya, mengukir senyuman bahagia pada wajahnya. "Penny, kamu jangan langsung pergi bekerja. Kamu beristirahat sejenak setelah berkelahi dengan pelaku.
Aku tersenyum girang mendengar ia sangat peka terhadap isi pikiranku. "Kamu menyarankan aku seperti itu supaya bisa bermanja denganku, 'kan."
"Bisa dikatakan begitu. Tapi memangnya kamu tidak ingin bermanja denganku? Kamu tidak merindukan aku sama sekali?"
Aku mempererat pelukan semakin manja. "Aku juga merindukanmu, Adrian. Kalau begitu aku ingin beristirahat sebentar sesuai dengan keinginanmu sampai tubuhku tidak pegal lagi."
Sementara di ranjang sebelah, sepasang suami istri memandangi momen kemesraan inj hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Seperti biasa mereka bermesraan tidak melihat tempat," ejek Tania tertawa kecil.
"Menurutku mereka berdua terlihat seperti sepasang pengantin baru menikah," ujar Nathan asal bicara.
"Hmm benar juga sih. Apalagi mereka berdua semakin hari semakin terlihat mesra saja. Tinggal menunggu waktunya saja."
Adrian mengelus pipiku bekas tamparan tadi dengan lembut seperti mengobatiku secara tidak langsung.
Aku merasa energi dalam tubuhku terisi penuh, aku ingin kembali ke kantor sebelum ditegur habis-habisan. "Adrian, sekarang tubuhku tidak merasa pegal lagi berkat vitaminmu. Apakah aku boleh kembali bekerja sekarang?"
"Tapi kamu sungguh sudah merasa kuat sekarang? Kamu jangan memaksakan dirimu."
"Tenang saja. Bahkan sekarang aku sudah bisa berlari," tuturku dengan tatapan percaya diri.
Adrian mendesah pasrah sejenak. Sebenarnya hatinya agak berat mengizinkannya, tapi ia tidak ingin mencegahnya juga daripada berujung berdebat lagi. "Baiklah, aku tidak akan menghalangimu."
Aku beranjak dari ranjang pasien perlahan bersama Tania untuk kembali lagi bertugas. Walaupun kakiku masih sedikit sakit akibat terjatuh berulang kali, tapi aku harus melihat rekaman CCTV kejadian saat Tania sedang dikejar di depan minimarket.
Adrian merangkul tanganku menuntunku berjalan menuju tempat parkir, begitu pula juga Nathan merangkul tangan Tania. Kami berempat pergi ke ruang pengendalian dan memantau rekaman CCTV. Kali ini CCTV di jalan tidak dirusak pelaku sehingga bisa melihat pergerakannya dari awal. Pelaku itu muncul bukan berasal dari kantor polisiku, tapi dari arah yang berlawanan.
"Pelakunya bukan salah satu dari anggota kepolisian di kantor kita," ujarku menatap rekaman itu dengan fokus.
Nathan menggebrak meja kasar. "Itu pasti pelaku yang membunuh Maria dan Emma! Tidak bisa kubiarkan setelah memperlakukan istriku seperti ini!"
Tania mengelus punggung tangan Nathan perlahan. "Sudahlah jangan marah lagi, yang terpenting sekarang aku masih hidup."
"Tapi bagaimana pelakunya bisa tahu bahwa Tania sedang pergi ke minimarket?" pikir Nathan bingung hingga dahinya berkerut.
"Pelakunya pasti mendapat informasi dari orang dalam di kantor kita," balasku sesuai dengan pemikiranku saat ini.
Adrian menatap kami bertiga dengan wajah serius. "Waktu itu saat kalian sedang berada di kantor, apakah ada orang lain selain kalian berdua yang sedang duduk atau berjalan di saat kalian sedang berbincang?"
Aku berpikir sejenak. Sewaktu aku menceramahi Nathan panjang lebar tadi, semua orang terlihat biasa saja. Semuanya sibuk mengurus pekerjaan masing-masing.
Nathan menggeleng, mengerutkan dahi. "Hmm sepertinya tidak. Hans sedang sakit perut jadinya dia sibuk ke kamar kecil terus sedangkan Fina belum datang ke kantor."
"Tapi bukankah tadi Danny sedang menyeduh kopi?" tanya Tania.
"Iya tadi cuma Danny yang ada di sana," sahut Nathan dengan datar.
__ADS_1
"Sebentar, jangan bilang dia itu ...." Perasaanku tidak enak, tapi aku masih ragu juga.
"Jangan bilang kamu mencurigainya, Penny!" tukas Tania mulai keringat dingin dan memucat.
"Tidak mungkin Danny pelakunya. Biasanya dia itu yang paling disiplin di kantor kita dan juga suka mengomeli kita hampir setiap pagi gara-gara kita buat keributan terus," lanjut Nathan masih ragu.
"Lagi pula dia juga sudah bekerja sebagai kepala detektif sekitar 8 tahun. Sangat disayangkan jika dia melakukan hal seperti itu," tambah Tania.
Aku berjalan mondar-mandir. "Yang pasti karena kejadian buruk saat ini, sebaiknya kita jangan terlalu memercayainya dengan mudah. Kita masih tidak tahu apakah dia sungguh bekerja sama dengan pelakunya atau orang lain lagi yang ada di kantor. Ini hanya baru persepsi dari pikiranku saja."
"Intinya kalian bertiga harus selalu berwaspada mulai saat ini juga. Kita tidak tahu kejadian apa lagi yang akan mendatang suatu hari nanti. Untuk penyelidikan kasus pembunuhan ini, sebaiknya kalian jangan mendiskusikannya secara terang-terangan agar orang dalam itu tidak tahu pergerakan kita," usul Adrian pada kami semua.
"Tenang saja, kami bertiga pasti bisa mengatasinya," balasku dengan percaya diri.
"Artikel itu kita harus minta Reporter Yulia untuk menerbitkannya secepatnya," usul Adrian dengan tatapan serius.
"Aku akan meneleponnya dulu untuk memintanya bertemu dengan kita."
Aku mengambil ponsel yang ada di saku jaketku dan menekan kontak Yulia untuk menghubunginya.
"Halo Yulia, apakah kamu sedang sibuk sekarang?"
"Untuk saat ini, aku kebetulan sedang makan siang. Ada apa, ya?"
"Aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Bisakah kita saling bertemu sekarang juga? Ini sangat mendesak."
"Baiklah, aku akan segera menemuimu. Kita bertemu di Kafe waktu itu saja."
Kami berempat bergegas keluar dari ruang pengendalian itu dan menuju Kafe tempat pertemuanku dengan Yulia.
Sedangkan di sisi lain, pelaku itu berjalan dengan pincang memasuki sebuah rumah megah yaitu rumah pemuda misterius itu. Ia mengeluh kesakitan sambil memegang pundaknya menghampiri pemuda misterius itu di ruang kerjanya.
"Apa kamu gagal?" tanya pemuda misterius itu geram.
"Maafkan aku Tuan, tadi tiba-tiba aku dikepung oleh sekelompok detektif itu," jawab asisten pribadi itu sambil berlutut di depan pemuda itu.
Pemuda itu menendang asisten pribadinya sekuat tenaga. "Kamu sangat payah! Seharusnya kamu langsung menghabisi detektif wanita itu begitu saja!"
"Tadi itu saat aku sedang mengejar detektif itu, tiba-tiba ada dua detektif yang menghajarku sekaligus sehingga aku tidak berdaya untuk menghabisinya. Setelah itu aku berusaha untuk kabur terlebih dahulu sebelum tertangkap oleh mereka tapi salah satu dari dua detektif itu terus mengejarku," ujar asisten pribadi itu menjelaskan kejadian sebenarnya panjang lebar.
"Apakah bayaranmu itu terlalu sedikit jadinya kamu melaksanakan tugasmu dengan lalai?" tanya pemuda itu menaikkan nada bicaranya.
"Tidak ... bayarannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku."
Pemuda itu berjalan menuju brankasnya dan membuka kode aksesnya memperlihatkan tumpukan uang yang ada di dalamnya.
Asisten itu menatap tumpukan uang itu gugup. "Apa ini?"
"Jika kamu ingin semua uang yang ada di brankasku ini, kamu harus melaksanakan tugasmu dengan baik tanpa ada sedikit kesalahan!"
"Baik Tuan, aku tidak akan lalai dalam melaksanakan tugasku lagi," patuh asisten pribadi itu berdiri tegak.
__ADS_1
"Siapkan mobil untukku! Aku harus pergi ke kantor sekarang juga!" pinta pemuda itu dengan tegas.
Pemuda itu mengepalkan tangan geram. "Dasar keparat para detektif itu! Rencanaku gagal terus akibat perbuatan mereka! Cepat lambat aku akan menghabisi mereka semua dengan tanganku sendiri!"
Kali ini tidak hanya aku saja yang bertemu dengan Yulia, tapi teman-temanku juga ikut serta menemaniku agar tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadaku.
Setibanya di Kafe, Yulia belum berkunjung datang jadinya aku memilih tempat duduk yang bisa memuat banyak orang. Tak lama kemudian, Yulia memasuki Kafe itu sambil melihat sekeliling Kafe dengan ketakutan.
"Maaf, kalian pasti sudah menungguku lama," ujar Yulia sambil menduduki sebuah kursi kosong.
"Tidak apa-apa, lagi pula kami baru sampai di sini juga barusan," balasku tersenyum ramah padanya.
"Omong-omong, kamu ingin menyampaikan sesuatu yang penting itu apa?" tanya Yulia kepadaku mulai penasaran.
Aku mengeluarkan surat kabar pemberiannya dari tasku dan meletakkannya di atas meja. "Berita menghilangnya dua gadis ini, aku ingin kamu merilis beritanya."
Reaksi Yulia sangat terkejut. "Tapi aku tidak berhak merilis artikel ini. Lagi pula ini harus disetujui atasanku."
"Kamu tidak usah meminta persetujuan ini dari atasanmu. Kita hanya merilis berita ini saja untuk memancing pelakunya. Kita gunakan artikel ini sebagai umpan untuk menangkapnya dengan mudah," jelas Adrian dengan fokus.
"Tapi kalau kita melakukan ini apakah akan berhasil begitu saja?" tanya Yulia masih ragu.
"Satu-satunya seorang reporter yang kuandalkan sejak dulu itu hanyalah kamu. Dulu kamu berani mengungkapkan kebenaran lewat artikelmu, kini kamu harus berani merilis artikel ini supaya kita bisa dengan mudah menangkap pelakunya. Kumohon Yulia, bantulah kami untuk merilis artikel ini di semua media," bujukku pelan.
Yulia menampakkan senyuman percaya diri memasukkan surat kabar ini ke dalam tas. "Baiklah. Aku akan menuruti perintahmu. Artikel ini akan kurilis secepatnya juga."
"Terima kasih Yulia atas kerja samanya," ucapku sopan.
"Lagi pula, karena kalian sudah berbuat baik padaku di masa lalu, aku akan membalasnya sekarang."
Setelah selesai berbincang dengannya, kami berempat keluar dari Kafe itu dan Nathan menatapku dengan melongok.
"Kenapa kamu menatap seperti itu, Nathan?"
"Jadi kemarin itu kamu membaca surat kabar artikel itu, ya?" tanya Nathan balik.
Aku mengerucutkan bibir mengangkat kepalaku angkuh. "Iya, memangnya kenapa? Sekarang kamu puas setelah menyamakan aku dengan orang tua?"
"Apa? Teganya kamu menyamakan Penny dengan orang tua!" protes Adrian memelototi Nathan dengan tajam.
"Jangan marah dong, Adrian. Aku bercanda saja."
"Bercanda tapi terdengar seperti sungguhan. Sebaiknya kamu minta maaf pada Penny sekarang!"
Nathan memasang wajah memelas menundukkan kepala padaku. "Maafkan aku, Penny, waktu itu aku hanya bercanda. Lagi pula juga kenapa kamu menyembunyikan artikel itu dariku dan Tania?"
"Kamu harus tahu posisi kita sekarang. Aku tidak mungkin mengungkapkan itu dengan jelas di sana. Nanti kalau sampai ketahuan dengan mata-mata pelakunya gimana? Apakah kamu mau bertanggung jawab?"
Nathan langsung menggeleng cepat. "Tidak deh."
"Aku tidak sabar menunggu artikel ini dirilis, kita lihat bagaimana reaksi pelakunya ketika melihat berita itu."
__ADS_1