
Mendengar laporan yang disampaikan oleh Fina barusan, kini saatnya aku dan Adrian memainkan perannya. Sebelum itu kami memakai kacamata hitam dulu supaya penyamaran kami tidak tertangkap basah. Kami berdua melangkah keluar dari lift bersandiwara seperti pasangan pengantin baru saja menikah. Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja dan memeluknya erat sambil melangkah sepanjang koridor. Sedangkan Adrian merangkul pinggangku erat dan mengukir senyuman bahagianya pada wajahnya.
Saat berpapasan dengan kepala jaksa Henry di koridor, Adrian sengaja mulai bertingkah aneh padaku seperti meraba punggungku terus dan mengecup pipiku sekilas. Sementara aku tidak ingin berdiam saja atas perlakuan manisnya padaku sekarang. Walaupun ini hanya bersandiwara, tapi kami berdua menganggapnya seolah seperti sungguhan. Aku membalasnya dengan mengecup pipinya lalu mengelus pipi bekas diciumku dengan lembut. Kepala jaksa Henry menghentikan langkah kakinya tiba-tiba lalu menoleh ke belakang.
"Tunggu sebentar kalian berdua!" pekiknya.
Mata Nathan terbelalak mendengar lontarannya barusan mulai berkeringat dingin. Sedangkan aku dan Adrian menghentikan langkah kaki kami sedikit merinding ketakutan karena ia menegur kami barusan lalu menoleh ke belakang. Kakiku mulai sedikit gemetar takut penyamaran kami tertangkap basah olehnya, namun Adrian tetap saja masih santai menggenggam tanganku untuk menenangkanku agak panik sekarang.
'Kamu tidak perlu takut, Sayang. Kalau sampai rencanamu gagal, aku akan melakukan rencana cadangan yang telah kubuat. Untung saja kamu adalah istriku, bahkan aku siap melakukannya sekarang," gumamnya dalam hati.
Apakah mungkin kami harus melakukan rencana cadangannya di hadapan kepala jaksa Henry? Memang sih ini terlalu berlebihan tapi ini demi keselamatan kami.
Sementara dari kejauhan Hans dan Fina juga terkejut hingga mulutnya terbuka lebar. Apalagi raut wajah Hans sudah tidak enak dilihat sekarang.
"Aish di saat situasi mencekam kenapa mereka masih bisa bertingkah begini! Pantesan saja Penny memilih berperan begini bersama Adrian supaya bisa bermesraan! Rasanya ingin melempar sepatuku kepada mereka!" gerutu Hans suaranya kecil.
"Biarkan saja mereka. Lagi pula Adrian sudah menyusun strategi lainnya," sahut Fina berbisik.
Kepala jaksa Henry mendatangi kami dengan tatapan elang mengamati dari ujung kepala hingga kaki seperti alat scanner. Aku menahan rasa kegugupanku dengan memasang raut wajah kepolosanku.
"Memang pasangan zaman sekarang tidak ada tata kramanya sama sekali! Masa kalian bermesraan di koridor sudah seperti kamar kalian sendiri! Selain itu, kenapa kalian memakai kacamata hitam di dalam ruangan? Bingung sama anak zaman sekarang bisanya jadi tukang pamer!" gerutunya membuat telingaku sedikit terasa panas sekarang.
Aku dan Adrian hanya menganggukkan kepala tidak membalas perkataannya sama sekali. Ia menghembuskan napasnya kasar lalu melanjutkan perjalanannya menuju lift. Akhirnya napasku terasa lega lagi dan kembali melanjutkan sandiwaranya. Ketika kami berdua berpapasan dengan Hans dan Fina yang sedang mendorong kereta pesanan makanannya, secara diam-diam Hans memberikan kartu akses kamarnya kepadaku. Aku langsung menerimanya sambil melanjutkan sandiwaranya sampai kepala jaksa Henry memasuki liftnya.
Sambil menelusuri sepanjang koridornya, aku menolehkan kepalaku memantau pergerakan kepala jaksa Henry. Ketika ia sudah memasuki liftnya, aku dan Adrian bergegas melangkah mundur menghampiri kamar hotelnya. Aku menempelkan kartu akses kamarnya lalu Adrian menarik tanganku dengan lincah memasuki kamarnya dan menutup pintunya rapat.
Tubuhku sudah lemas seperti ingin diterpa angin kencang apalagi mengamati tatapan mata elang tadi membuatku ingin terjatuh pingsan rasanya. Adrian secara spontan mendekapku hangat sambil mengusap kepalaku.
"Sayang, sekarang tenangkan dirimu. Semua sudah aman, kamu tidak perlu takut lagi."
"Tadi itu aku sungguh takut ketahuan olehnya. Apalagi tatapan matanya itu menakutkan sekali," ucapku sedikit terbata-bata menggigit bibirku.
"Sebenarnya aku juga sedikit gugup tadi. Apalagi takut dia mengajak kita berkomunikasi dengannya."
Helaan napasku sedikit lesuh hingga membuat Adrian secara spontan mengecup keningku manis.
"Sayang ...." lirihku.
"Semoga vitamin dariku barusan, kamu tidak akan ketakutan seperti tadi lagi. Kalau ada masalah yang menimpamu, pasti aku akan selalu mendampingimu mengatasi masalahnya."
"Tenang saja. Sekarang aku sudah kembali lega berkat vitaminmu barusan yang menenangkanku," balasku santai sambil mengelus kepalanya lembut.
"Kejadian tadi kita jangan memikirkan lagi, anggap berlalu saja. Sebaiknya kita fokus sama misi pekerjaan kita sekarang saja."
"Oh iya, aku bahkan sampai melupakan itu karena gugup tadi. Baiklah, kalau begitu kita beraksi sekarang sebelum dia kembali ke sini."
Sebenarnya isi sling bagku bukan alat kosmetik namun isinya berupa peralatan untuk membuka brankas rahasianya. Aku mengambil sarung tangan karetnya untukku dan Adrian lalu memakainya sebelum beraksi. Usai itu kami menghampiri brankas pribadinya berukuran kecil yang diletakkan di sudut kamar. Aku mengambil beberapa peralatan khusus seperti bedak bubuk, kuas, dan juga selotip.
Ini saatnya aku memulai aksi kerenku. Aku mengambil sedikit bubuknya lalu menaburkannya pada alat kode aksesnya secara perlahan. Setelah itu karena bubuknya sedikit berlebihan aku taburkan, aku mengambil kuasku menyapu bercak bubuknya melingkar lembut. Sekarang memasuki tahap akhir, Adrian membantuku menempel selotipnya pada setiap tombol angka kode aksesnya. Tidak kusangka kami berhasil menemukan sidik jarinya walaupun memakai cara sederhana ini sehingga bisa membuka brankasnya tanpa membutuhkan tenaga yang banyak.
Dengan sigap Adrian membuka brankasnya mengambil semua dokumen penting yang disimpan dalam sana. Terutama buku rekening rahasianya, aku membuka bukunya satu per satu sampai menggelengkan kepalaku mengamati nominal yang tertera di sana.
"Adrian, coba lihat deh!"
Ia menaruh dokumen lainnya di atas meja lalu melihat isi buku rekeningnya sampai melongok.
"Memang keterlaluan! Ternyata dia sudah bertindak sejauh ini!" gerutunya geram.
"Dengan jumlah nominal sebanyak ini, mungkin aku bakal membeli rumah lagi. Tapi kenapa dia tidak memakainya sama sekali, ya? Dia tidak membagikan uangnya kepada siapa pun," ucapku bingung memiringkan kepalaku.
"Berarti uangnya dia sembunyikan di rumahnya sendiri," sambung Adrian mulai berasumsi cerdas.
"Maksudmu itu ada ruang rahasia yang menyimpan semua uang ini di dalam rumahnya?"
"Kita juga harus menyusup rumahnya untuk mencari ruang rahasianya lagi."
Aku mengambil beberapa dokumen lainnya berisi mengenai surat identitasnya pengacara Leonard yang dipalsukan beserta akta kelahiran nama aslinya. Selain itu, juga ada sebuah USB yang terselip di tumpukan dokumen. Aku mengambil USBnya mengamatinya bingung hingga dahiku berkerut.
"Apa isinya kira-kira? Apa mungkin ada data lain lagi yang tersimpan dalam sana?" tanyaku bingung.
"Hmm entahlah. Yang pasti isinya itu data yang sangat penting dan tidak boleh diketahui orang lain makanya dia menyimpannya di dalam brankas rahasia ini."
Sementara di sisi lain pada saat yang bersamaan, Nathan menuntun kepala jaksa Henry menuju mobilnya yang berisik sekali dari tadi akibat alarmnya berbunyi nyaring terus. Kepala jaksa Henry bergegas mematikan alarm mobilnya sambil memegangi pintu mobilnya yang terkena goresan halus sepanjang dua sentimeter.
"Sial! Beraninya dia menghancurkan mobilku!" umpatnya mengepalkan tangannya.
Nathan bergeming menelan salivanya berat dengan tangannya sedikit gemetar sekarang. Namun sebenarnya ia juga ingin menertawainya membayangkan perbuatan pelampiasannya Yohanes tadi. Sementara Yohanes masih di dalam mobilnya sibuk memantau kepala jaksa Henry sibuk tertawa keras sampai perutnya sakit.
"Makanya lain kali jangan sembarangan memarahi orang! Rasakan akibat perbuatan kejam itu terhadap semua orang di kantor!" gerutu Yohanes.
Kembali lagi pada Nathan saat ini masih gugup sampai tidak berani menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Lalu dengan tatapan mata elangnya, kepala jaksa Henry menghampirinya mengepalkan kedua tangannya.
"Apa Anda tahu ciri-ciri pelakunya seperti apa?"
"Waktu itu saya saat sedang berjaga, ada seorang pria wajahnya tidak terlihat jelas bertindak mencurigakan terhadap mobil Anda. Saya kira dia hanya numpang lewat, tapi tidak menyangka dia bakal berbuat iseng seperti itu," jelas Nathan berwajah datar walaupun sebenarnya ia sangat gugup sekarang.
Embusan napas kasar kepala jaksa Henry membuat Nathan semakin ketakutan apalagi seperti sedang diterkam singa ganas yang sudah tidak diberi makan selama seminggu.
"Ya sudah, kalau begitu kita lihat rekaman CCTV. Siapa tahu saya tahu pelakunya yang berusaha menghancurkan saya sejak awal," usul kepala jaksa Henry.
"Baiklah, Anda ikut dengan saya ke ruang pengendalian."
Setibanya di ruang pengendalian, Nathan memutar rekaman CCTV saat Yohanes merusak mobil kepala jaksa Henry tadi. Kakinya sedikit gemetar hampir tidak bisa dikendalikan sama sekali takut Yohanes yang tertangkap basah, bukan dirinya sendiri.
"Coba Anda perbesar layarnya!" titah kepala jaksa Henry.
__ADS_1
Nathan mengangguk menurutinya memperbesar layarnya perlahan lalu memfokuskan pada posisinya Yohanes. Kepala jaksa Henry mulai mengamati rekamannya dengan fokus sampai dahinya berkerut. Terlihat pada rekaman CCTV, memang wajahnya Yohanes tidak tampak jelas apalagi wajahnya ditutupi masker.
"Sial! Kalau begini mana bisa saya tahu pelakunya siapa!" umpat kepala jaksa Henry meninju meja.
"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud lalai dalam melakukan pekerjaan saya," sesal Nathan pura-pura bersalah.
"Ya sudahlah! Biarkan saja berlalu! Untung saja hanya sebuah mobil, bukan saya yang dihajar olehnya. Kalau begitu lebih baik saya kembali ke kamar hotel saja!"
Kepala jaksa Henry menatap kesal lalu menghentakkan kakinya kasar kembali menuju kamarnya lagi. Sementara Nathan sibuk memantaunya dari kejauhan lalu dengan sigap melaporkan pergerakannya lagi melalui earpiece.
"Penny! Adrian! Kepala jaksa Henry sekarang sedang kembali ke kamarnya lagi."
Mendengar laporan dari Nathan langsung, aku dan Adrian bergegas merapikan kembali semua barang yang berserakan ke tempat semula supaya seolah-olah tidak terjadi apa pun. Lalu kami membawa semua barang buktinya beserta peralatan yang kubawa keluar dari kamar itu. Kami berdua berlari menuju kamar pesanan kami dan di depan sana sudah ada Fina dan Hans yang sedang menunggu dari tadi.
"Kartu aksesnya mana?" tanya Fina.
"Ini kartunya." Aku memberikan kartunya pada Fina.
"Sebaiknya kalian cepat masuk ke dalam kamar!" pinta Hans.
"Baiklah. Kalian tetap harus berwaspada, ya," balasku menepuk pundaknya.
Hans dan Fina kembali memainkan perannya seperti semula bergegas menghampiri depan kamarnya kepala jaksa Henry. Sementara Adrian menempelkan kartu akses kamarnya lalu dengan sigap kami berdua memasuki kamar dan menutup pintunya rapat.
Belum bisa bersantai saat ini. Aku mengambil sebuah laptop yang kusimpan dalam tas lalu membuka layarnya sambil mencolokkan USB terhubung pada laptop.
Sementara di saat bersamaan, kepala jaksa Henry baru saja keluar dari liftnya berjalan santai sepanjang koridornya menuju kamarnya. Dirinya terheran ketika mengamati sosok Hans dan Fina masih saja berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Kenapa kalian masih berada di sini?"
"Oh, tadi saat Anda meninggalkan kamar, Anda lupa membawa kartu akses kamarnya," jawab Fina tersenyum ramah sambil menyerahkan kartu aksesnya.
"Tadi kami ingin memanggilmu namun Anda sudah pergi jadinya dari tadi kami menunggu Anda di sini," lanjut Hans berpura-pura ramah.
"Begitu rupanya. Terima kasih. Untung saja kalian rela menunggu saya di sini. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan bisa memasuki kamarnya lagi. Sepertinya saya harus memberikan tips kepada kalian sebagai apresiasinya." Kepala jaksa Henry mengeluarkan dompetnya mengambil beberapa lembar uang kertasnya yang nominalnya lumayan banyak.
"Tidak perlu. Kami melakukannya secara sukarela tanpa meminta tips," tolak Fina sopan.
"Iya benar. Ini sebagai salah satu bentuk pelayanan terbaik dari hotel ini," lanjut Hans berlagak percaya diri.
"Ya sudah, kalau kalian tidak mau menerima tipsnya apa boleh buat saya tidak akan memaksa kalian. Yang pasti sebagai gantinya saya akan memberi penilaian tinggi terhadap layanan kamar hotelnya."
"Terima kasih," balas Fina sopan.
"Kalau begitu kalian bisa kembali bekerja lagi."
Hans dan Fina menundukkan kepalanya hormat lalu meninggalkan kepala jaksa Henry di sana. Ketika kepala jaksa Henry sudah tidak menampakkan dirinya, mereka berdua bergegas berkomunikasi lewat earpiece lagi.
"Penny, biarkan aku dan Hans memasuki kamar kalian."
Aku langsung menurutinya lalu membukakan pintunya untuk mereka berdua. Sambil mengamati sekeliling koridor, Hans dan Fina langsung memasuki kamar sedikit panik. Begitu pintu tertutup rapat, mereka berdua langsung duduk lemas bersandar pada pintunya sambil menarik napasnya perlahan supaya tidak tegang.
"Dasar, Adrian! Rasanya aku ingin mencekik lehermu sekarang juga!" gerutu Hans menatap menyeringai sambil menyingsingkan lengan bajunya.
"Memangnya aku kenapa? Apa salahnya aku?"
"Gara-gara kamu bertingkah berlebihan tadi, kita hampir tertangkap basah olehnya!"
"Kan namanya juga kita sedang sandiwara! Jadinya kan wajar kalau aku bertingkah berlebihan daripada nanti dia mencurigai kita!"
"Aish kalian berdua tadi hampir membuatku kehabisan napas saja!"
"Cukup, Hans! Jangan membentak suamiku lagi! Rasanya aku ingin merobek mulutmu sekarang!" bentakku kesal.
"Sayang ...." lirih Adrian tercengang membelai rambutku.
"Kasihan Adrianku dibentak terus." Sorot mataku terpaku padanya.
Mendengar lontaranku barusan, senyuman Adrian semakin mengambang lalu menggenggam tanganku erat.
"Tidak apa-apa, kalau aku yang dibentak. Yang terpenting bukan kamu yang dibentak olehnya," lontarnya santai.
"Tapi kamu baru saja sembuh sudah dibentak."
Adrian menyunggingkan senyuman nakal mendekatkan wajahnya pada daun telingaku.
"Yang terpenting barusan kamu panggilku 'Adrianku' di depan kedua anggota timmu rasanya hatiku sudah berbunga, Sayang."
"Itu memang lidahku sudah spontan ingin memanggilmu seperti itu."
Sementara dua detektif lainnya di dalam kamar ini hanya bisa menggelengkan kepala mereka bagaikan nyamuk.
"Memang kalian bermesraan tidak ada batasnya!" ketus Hans menatapku sebal.
"Hei, Hans! Kamu juga jangan membentak istriku!"
"Kalian sendiri yang mulai mengompori kami!" elak Hans masih tidak ingin mengalah.
"Sudahlah kalian tidak usah bertengkar lagi! Yang penting sekarang masalah sudah beres semua dan aku bisa kembali tenang lagi," celoteh Fina melerai perdebatan mereka berdua.
"Benar tuh. Sekarang kan kita sudah bisa bersikap tenang lagi dan tidak usah mengkhawatirkan apa pun lagi," balasku santai.
"Aku setuju denganmu, Sayang. Apalagi aku bisa bersantai denganmu lagi sekarang."
"Mmm aku tidak sabar melakukan kegiatan menyenangkan bersamamu." Secara spontan aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya manja.
__ADS_1
"Aku rindu mencicipi masakanmu, Sayang."
"Pokoknya semua masakanmu aku sangat rindu."
"Selain itu, aku rindu tidur bersamamu sepuasnya di kamarku."
"Kita tidak perlu tidur di ranjang pasien lagi."
Reaksi kedua detektif itu mulai tidak enak dilihat lagi. Mereka memutar bola mata bermalasan sambil berkacak pinggang.
"Hufft mulai lagi deh mereka! Untung saja kalian tidak bertingkah aneh di hadapannya," sambung Hans menyipitkan matanya.
Adrian mengernyitkan alisnya melipat kedua tangannya di dada memasang raut wajah polosnya.
"Maksudmu apa, Hans?"
"Bukan apa-apa," balasnya memalingkan mata darinya sambil bersiul.
"Memang Hans ada-ada saja pemikirannya," lontarku menyipitkan mataku curiga.
"Omong-omong, apakah ada sesuatu penting lainnya di dalam brankas itu selain buku rekening rahasianya?" tanya Fina mengalihkan pembicaraannya.
Aku memperlihatkan semua dokumen yang kuambil dalam brankasnya kepada mereka berdua. Mata Hans terbelalak ketika mengamati isi dokumen rahasianya satu per satu.
"Jadinya selama ini kepala jaksa Henry yang memalsukan data pribadinya pengacara Leonard," ujar Hans.
"Lalu sebenarnya dia memiliki seorang anak tapi kenapa dia menyembunyikannya dari kita semua?" tanya Fina terheran.
"Nah makanya itu, aku mencurigai anak yang ditukarnya waktu itu adalah anaknya sendiri," jawabku berwajah serius.
"Sebaiknya kita lihat isi dari USBnya," usul Adrian.
Kami berempat menghampiri laptopku lalu mulai mengamati isinya. Terlihat ada sebuah video rekaman CCTV yang tersimpan di dalam sana.
"Apa mungkin video itu?" Lontaran Hans langsung terputus bingung ingin berkata seperti apa.
"Kemungkinan besar isi dari rekaman ini adalah kronologi anaknya meninggal yang sebenarnya," sambung Adrian.
"Tunggu apalagi! Ayo kita lihat rekamannya sekarang juga!" seru Fina sudah tidak sabaran.
Aku menekan tombol putarnya untuk memutar video rekamannya. Kami berempat mulai berfokus pada videonya sampai Hans menatap rekaman mengerikan ini melongok. Dilihat dari isi rekaman ini, kepala jaksa Henry sedang berargumen dengan putranya di rumahnya lantai dua. Menurut bahasa tubuh anaknya, sepertinya ia mengetahui ayahnya melakukan perbuatan kejahatan lalu berdebat dengannya dahsyat. Memang kelihatannya perdebatan antara sang ayah dan anak cukup mengerikan hingga kepala jaksa Henry tidak sengaja mendorong tubuhnya anaknya sendiri terjatuh dari tangga hingga darahnya mengalir dari kepalanya cukup deras.
Aku sudah tidak mengerti dengan perbuatan kejamnya sekarang. Hanya karena demi menutupi kejahatannya saja sampai tidak sengaja membunuh anaknya. Bahkan ekspresinya Hans dan Fina mengamati video rekamannya sampai bergidik ngeri.
"Apa maksud semua ini? Jadi dia yang membunuh anaknya lalu menukar tubuh anaknya dengan pengacara Leonard?" lontar Hans kebingungan menggigit bibirnya.
"Bisa dikatakan begitu. Memang dia sudah kehilangan akal sehatnya. Lebih menghargai kekayaan daripada anaknya sendiri," lanjut Fina mendengkus kesal.
"Bahkan dia tidak pantas disebut sebagai manusia!" ketus Adrian menggebrak mejanya kasar.
"Tapi untuk apa selama ini dia menyiksa pengacara Leonard sampai tumbuh menjadi seorang monster?" tanya Hans bertopang dagu.
"Sebenarnya sejak awal dia tidak berniat mengadopsi pengacara Leonard. Dia melakukannya demi menutupi kejahatannya saja. Maka dari itu mungkin selama ini dia menyiksanya kalau baginya dirinya tidak sempurna di hadapannya," jelasku berpikir cerdas.
"Dasar berengsek tidak tahu diri sama sekali! Aku tidak sabar akan menangkapnya secepatnya!" umpat Hans mengepalkan tangannya.
"Melihat perkaranya sebanyak ini, tenang saja hukuman yang diberikan pasti akan berat," lontar Adrian santai.
"Sebaiknya sekarang kita beristirahat dulu saja. Apalagi kalian pasti lelah telah menjalankan misi lumayan berat ini," usulku kepada mereka.
"Iya memang berat sih tapi seru juga, Penny. Baru pertama kali aku melakukan aksi beginian," balas Hans tersenyum lebar.
"Ish tadi kamu protes pada kami, sekarang kamu bilang seru! Maunya apa sih sebenarnya!" celetuk Adrian berkacak pinggang.
"Kalau itu memang tadi rasanya uratku tegang sekali! Tapi misi yang barusan itu keren banget sudah seperti bermain film saja."
"Bahkan aku seperti seorang bintang film saja tadi yang sedang melakukan syuting," sambung Fina berlagak sombong.
"Tapi mereka berdua tetap saja berakting berlebihan tadi! Mereka terlihat seperti sedang melakukannya sungguhan!" ketus Hans menatapku dan Adrian seperti ingin menerkam.
"Lagi-lagi membahas itu. Sudahlah tidak usah permasalahkan lagi!" omel Fina memukul punggungnya Hans.
"Ya sudah deh. Lebih baik kita semua bergegas pulang dari sini saja. Rasanya tubuhku sekarang pegal-pegal," kata Hans sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Kalian berdua pulang dulu saja. Aku dan Penny menetap di sini dulu."
Mendengar perkataannya barusan, Hans langsung mulai membayangkan yang aneh-aneh dan menatap Adrian dengan curiga.
"Jangan bilang kamu--"
"Aduh kenapa kamu selalu memikirkan yang aneh-aneh sih! Tenang saja aku bukan tipe pria yang seperti itu!" oceh Adrian menepuk jidatnya.
"Cih! Aku tidak memikirkan hal gituan! Ya sudahlah aku dan Fina pulang dulu!"
"Kalau begitu kami pulang dulu, ya," pamit Fina ramah.
"Baiklah hati-hati di jalan, ya, kalian berdua." Aku merespon mereka dengan melambaikan tanganku.
Ketika mereka berdua melangkah keluar dari kamar, Hans tiba-tiba menolehkan kepalanya menatap Adrian.
"Ingat itu, Adrian!" tegas Hans.
"Iya, astaga aku tidak mungkin melakukannya!"
"Biasanya kan pasangan suami istri suka bertingkah aneh di kamar hotel hehe," tawanya terkekeh.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?" Adrian semakin geram hingga menaikkan satu oktaf nada bicaranya.
"Tidak apa-apa. Ya sudah kita bergegas pulang saja Fina!" ajak Hans menggandeng tangannya Fina bergegas menutupi pintu kamarnya.