Good Partner

Good Partner
Part 45 - Ucapan Menusuk


__ADS_3

Ketika aku melihat Emma diperlakukan seperti itu oleh Fina, aku berinisiatif menarik tangan Fina dengan kasar ke sudut ruangan untuk berbicang dengannya.


"Lepaskan aku!" pekiknya melepaskan genggaman tanganku kasar.


"Jangan mengucapkan itu di depan Emma. Kamu justru menakutinya!" bentakku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.


Fina berdecak kesal mencolek lenganku. "Kamu benar-benar sangat lamban, Penny! Kamu harus bertindak cepat jika sedang menginterogasi orang!"


"Itu bukan menginterogasinya, tapi sama saja seperti membunuhnya secara tidak langsung, Fina! Kamu memberikan tekanannya seperti itu kemungkinan dia tidak akan berbicara dengan kita lagi!" ketusku mengepalkan tanganku bersiap-siap ingin menarik kerah kemejanya.


"Ya sudah, kalau begitu sana kamu menginterogasinya sendiri!" Fina mengambek lalu duduk termenung di sudut ruangan.


Aku kembali menghampiri Emma berusaha menenangkannya serta meminta maaf atas kelakuan Fina tadi. Apalagi melihat kondisinya sekarang sangat ketakutan, aku jadi merasa bersalah padanya. Walaupun ini bukan ulahku tapi aku sebagai atasan merasa malu melihat anggota timku berkata kasar di hadapan orang lain.


"Maaf Emma, jika Fina membuatmu tersinggung."


Emma menggeleng. "Tidak apa-apa. Biasanya banyak detektif yang menginterogasi seperti itu di film."


"Tapi, kenapa waktu itu kamu bertengkar dengan teman dekatmu? Bukankah biasanya kalian terlihat akrab seperti di foto itu?" Aku menunjuk foto Emma yang sedang bersenang-senang bersama Maria di taman bermain.


Emma menghela napas lesu. "Karena aku cemburu dengannya."


Alisku terangkat sebelah. "Kenapa kamu cemburu?"


"Sebenarnya Maria memiliki seorang kekasih. Kebetulan sekali aku juga menyukai kekasihnya. Tapi karena rasa cemburuku yang terpendam di hatiku itu membuatku sudah tidak dapat menahannya lagi, lalu aku bertengkar dengannya menjambak rambutnya."


Emma terdiam sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya. "Tapi bukan berarti aku ingin membunuhnya. Walaupun aku cemburu tapi aku tidak bersikap sejauh itu! Lagi pula dia adalah satu-satunya teman terdekatku selama ini."


"Apa mungkin kamu punya nomor telepon kekasihnya atau alamat rumahnya?"


"Tunggu sebentar!"


Emma merobek selembar kertas kecil menuliskan nomor telepon, alamat rumah, beserta nama kekasihnya Maria lalu memberikannya kepadaku. "Ini informasi lengkapnya yang kuketahui."


"Terima kasih atas kerja samanya, Emma."


"Oh iya, satu hal lagi aku mencurigai tingkahnya Maria!" seru Emma tiba-tiba membuatku semakin penasaran.


"Bisakah kamu jelaskan padaku?"


"Maria itu bekerja sebagai seorang fotografer untuk membiayai uang kuliahnya selama ini. Tapi belakangan ini, dia selalu menyembunyikan dan tidak memberitahu kliennya padaku. Seperti ada sesuatu yang penting tidak boleh kuketahui. Tidak seperti biasanya dia bertingkah seperti ini di hadapanku."


"Apa mungkin kliennya itu adalah kekasihnya?"


Emma menggeleng. "Bukan. Aku pernah melihatnya sedang berbicara dengan seorang kliennya dari kejauhan. Sepertinya orang itu sangat berkuasa dan sangat kaya dilihat dari penampilannya."


"Kamu mengingat wajah kliennya?"


"Waktu itu sudah malam jadi tidak bisa melihatnya terlalu jelas."

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak memaksakanmu lagi. Terima kasih sudah memberitahuku mengenai ini."


Emma menggenggam tanganku memasang ekspresi wajah sedih. "Aku mohon kamu menangkap pelaku yang membunuh temanku secepatnya!"


Aku tersenyum tipis melepas genggaman tangannya. "Tenang saja, aku akan menangkapnya secepat mungkin agar tidak banyak korban lagi."


"Nanti aku akan menghubungimu lagi kalau ada informasi tambahan."


Aku berpamitan dengan Emma lalu menarik tangan Fina keluar dari rumah itu. Di luar rumah Emma, aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku dari kejauhan. Aku menatap sekelilingku namun tidak ada orang yang melewati jalan ini satu pun. Mungkin aku sudah cukup lelah akibat mengurus kasus ini sehingga aku berhalusinasi lagi.


"Ada apa, Penny?" tanya Fina tiba-tiba melihat tingkahku sangat aneh.


Aku memijit pelipis pelan. "Tidak apa-apa."


"Sebaiknya kita bergegas ke kantor sekarang!"


Setibanya di kantor, aku masih merenungkan perkataan Emma yang terakhir kali dibicarakan. Pelakunya pasti antara kekasihnya Maria atau klien rahasianya. Aku mengambil foto-foto mayat Maria dan menatapnya lagi dengan fokus.


Sedangkan di sisi lain, ada seorang pemuda terlihat dari belakang sedang berada di sebuah ruang rahasia menaruh kamera milik Maria di sebuah kotak khusus sambil tersenyum sinis melihatnya. Lalu asisten pribadinya memasuki ruangan, menghampirinya sambil membawa sebuah amplop.


"Aku ingin melaporkan sesuatu yang penting kepada Tuan," ucap asisten pribadi itu.


"Apa itu?"


"Tadi ada dua detektif wanita yang mendatangi rumah Emma untuk menginterogasinya mengenai kasus ini. Aku serahkan bukti fotonya kepada Tuan sekarang." Asisten pribadi itu menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat kepada pemuda itu.


"Rencana kita cepat lambat akan gagal begitu saja gara-gara dua bedebah ini!" ketus pemuda itu membanting mejanya dengan kuat.


"Sekarang kita harus bagaimana?"


"Singkirkan Emma secepatnya! Sebelum para detektif itu menggali informasi lebih dalam lagi."


"Baik Tuan, akan aku laksanakan perintahnya!" patuh asisten pribadi itu tanpa ragu meninggalkan ruang rahasia.


Aku sedang sibuk berpikir keras di meja kerjaku, Hans menghampiriku tiba-tiba dengan lesu. Tidak biasanya ia menghampiriku di saat sedang gelisah.


Tapi karena suasana hatiku sedang memburuk karena masalah yang diciptakan Fina dua kali berturut-turut, tatapanku memelototi Hans. "Ada apa lagi, Hans? Kamu ingin mengajak ribut denganku lagi!"


"Tidak kok, hanya saja aku ragu dengan Fina." Hans menghembuskan napasnya pasrah.


Sudah kuduga tujuannya mendatangiku hanya karena urusan wanita. Aku tersenyum usil sengaja mencolek lengannya. "Memangnya kenapa? Kamu ingin mengincarnya? Kamu menyukainya?"


Hans menunduk. "Sebenarnya sih begitu, tapi sepertinya hatinya masih tidak rela melepaskan Adrian. Dia tidak tertarik padaku."


"Tenang saja, aku tidak akan membiarkannya merebut Adrian dariku!" sambungku sambil memainkan pulpenku.


"Tapi ...."


Aku menepuk pundak Hans santai. "Adrian sudah bertekad bulat menganggapku sebagai pacar pertama dan terakhirnya. Jadinya kamu tidak perlu cemas."

__ADS_1


"Kalian ini sedang berbicara apa sih!" pekik Danny menghampiri kami berdua sambil berkacak pinggang.


Lagi-lagi aku ditegur Danny karena urusan asmara. Danny merupakan ketua detektif paling sensitif membicarakan sesuatu berbau romansa. "Tidak ada hal yang penting."


"Kalian harus selalu ingat saat sedang bekerja, dilarang sekali berbincang mengenai urusan pribadi, terutama masalah asmara!" sergah Danny tegas padaku dan Hans.


Aku memutar bola mata. "Baiklah aku mengerti."


Ketika Danny kembali menuju meja kerjanya, Hans mengepalkan tangannya menatap Danny dengan tatapan mata elang dari kejauhan. "Aish dia selalu mengerikan seperti serigala buas!"


"Sudahlah kita tidak usah membicarakannya dari belakang. Lebih baik kamu fokus bekerja saja sekarang."


Malam harinya, aku bersiap-siap merapikan berkas di meja kerjaku sebelum pulang ke rumah. Sebelum itu, aku berpamitan pulang dengan teman-temanku terlebih dahulu.


Di tengah perjalanan pulang saat aku sedang mengendarai mobilku dengan santai, tiba-tiba ada sebuah mobil mengikutiku dari belakang. Tadinya aku mengira hanya mobil biasa. Namun semakin lama pergerakan mobil itu terlihat mencurigakan hingga aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi untuk menghindarinya. Namun mobil itu tidak menyerah mengejarku terus hingga terpaksa aku harus menyetir seperti orang gila dengan ketakutan.


Di tengah persimpangan lampu merah, dengan kecepatan penuh, aku menginjak pedal gas mendalam menerobos lampu kuning hingga mobil itu gagal mengikutiku. Untung saja aku berhasil melakukannya walaupun aku masih sedikit ketakutan sekarang sepanjang perjalanan menuju rumah.


Setibanya di rumah, aku bergegas keluar dari mobilku dan memasuki rumahku dengan panik dan menguncinya dengan rapat hingga ibu dan ayah bingung melihatku.


"Penny, ada apa sih? Kenapa kamu panik seperti itu?" tanya ibu.


Sebenarnya aku ingin berkata jujur pada kedua orang tuaku tapi aku tidak ingin mereka mencemaskanku seperti dulu. Oleh karena itu, secara terpaksa aku harus membohongi mereka.


"Aku ingin memasuki kamar mandi!" Aku langsung berlari memasuki kamar mandi dan menyalakan keran air supaya seolah-olah aku sungguh sedang buang air kecil.


Dari tadi aku terus memikirkan kenapa sekarang aku yang menjadi target pembunuhnya? Sebenarnya apa yang diinginkan pembunuh dariku?


Tanpa berlama-lama di kamar mandi supaya ibu tidak mencurigaiku, aku keluar dari kamar mandi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Ding...dong...


Aku membuka pintu pagar dengan sigap yang dicampur dengan takut akan pembunuh itu menghampiriku untuk membunuhku. Aku membuka pagar secara perlahan.


Melihat Adrian yang mengunjungiku sekarang, aku kembali bernapas lega tersenyum tipis di hadapannya. "Adrian, sedang apa kamu ke sini malam-malam begini?"


"Kamu harus ikut denganku sekarang, Penny!" ajak Adrian panik.


"Ada apa lagi memangnya? Apakah terjadi sesuatu lagi?"


"Emma teman dekatnya Maria ditemukan tewas di rumahnya."


Mataku terbelalak panik. "Apa? Kapan itu terjadi?"


"Sekitar setengah jam yang lalu, aku menerima telepon dari polisi yang bertugas."


"Kalau begitu ayo kita harus ke sana sekarang juga!" Aku bergegas mengambil jaketku yang ada di sofa.


"Ayo naik mobilku! Kalau kamu pergi sendiri sangat bahaya!" ajak Adrian menuntunku menuju mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2