Good Partner

Good Partner
S2 : Part 39 - Precious Moment


__ADS_3

Aku duduk mematung setelah mendengar ucapannya seperti petir sedang menyambar tubuhku. Hatiku terasa pedih tertusuk tidak berdarah apalagi mengamati tatapan matanya terlihat biasa saja seperti menganggapku sebagai orang asing baginya. Spontan aku melepas genggaman tangannya lalu beranjak dari kursi menjauhinya.


"Kamu sungguh tidak mengingatku sama sekali?" tanyaku sangat gugup.


"Memangnya kamu siapa? Kenapa kamu sangat dekat padaku?" tanyanya balik dengan tatapan kosong.


"Kamu tega sekali tidak mengingatku sama sekali! Mungkin ini akibat benturan yang cukup kuat mengenai kepalamu."


"Aku terkena benturan kepala karena apa?" Adrian bingung pada dirinya sendiri sambil memegang kepalanya dibalut plester.


"Ini aneh sekali. Kata dokter kamu tidak akan mengalami amnesia karena tidak ada kerusakan internal pada otakmu. Sepertinya aku harus memanggil dokter lagi untuk mengecek kondisimu sekali lagi." Aku terburu-buru membalikkan tubuhku ingin meninggalkannya.


"Tunggu!" pekiknya dari belakang.


Aku menghentikan langkah kakiku lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan sendu.


"Kenapa kamu memanggilku?" tanyaku.


"Coba kamu ke sini sebentar!"


"Aku panggil dokter dulu."


"Tidak boleh! Pokoknya kamu harus menuruti perintahku!" hardiknya keras kepala.


Aku memutar bola mataku bermalasan terpaksa mendengar perintahnya lalu mendekatinya lagi.


"Memangnya kamu kenapa sih?" tanyaku lagi sedikit kesal dicampur sedih.


Adrian menggeserkan tubuhnya ke samping sedikit lalu menepuk bantalnya.


"Tidur di sebelahku sekarang!" titahnya tegas.


Aku berusaha mencerna perintahnya barusan. Anehnya Adrian menganggapku sebagai orang asing tapi menyuruhku untuk tidur di sebelahnya. Tapi untung saja ia adalah suamiku jadinya tidak masalah kalau aku tidur di sebelahnya sekarang.


"Tapi kamu menganggapku sebagai orang asing. Mana mungkin aku tidur di sebelahmu?" tanyaku berbasa-basi.


"Sudahlah tidak usah cerewet! Sekarang kamu ikuti perintahku saja!"


Aku langsung menuruti perintahnya melepaskan sepatuku menaikki ranjangnya bisa dikatakan lumayan sempit. Adrian dengan sigap memelukku hangat menyunggingkan senyuman nakal padaku.


"Penny sayang..."


Aku tersentak kaget dicampur bingung dengan tingkahnya sekarang. Sebelumnya Adrian bersikap seperti orang amnesia, sekarang tiba-tiba ia mengingat namaku. Air mataku mulai membanjiri pipiku hingga mataku sembab.


"Adrian, kamu sungguh mengingatku?" tanyaku untuk memastikannya dirinya tidak amnesia.


Adrian mengusap air mataku menggunakan jari jempol kanannya.


"Aku mana mungkin melupakanmu Penny Patterson merupakan istriku terlangka di dunia ini."


Ucapannya barusan, Adrian sungguh mengingatku sepenuhnya. Untuk melepas kerinduanku selama lebih dari 12 jam, aku mendekatkan wajahku pada wajahnya mencium bibirnya dengan lembut penuh perasaan cinta dan kegembiraan selama beberapa detik. Lalu aku melepas tautan bibirku untuk mengakhirinya, namun Adrian menyentuh pipiku mencium bibirku lagi sedikit agresif penuh perasaan kerinduan dan kasih sayang padaku. Ia tidak ingin melepas tautan bibirnya sampai dirinya puas sambil meraba punggungku perlahan.


Sedangkan di sisi lain, dua pasangan suami istri itu sedang melangkah menuju kamar inap sambil berbincang sedikit.


"Kalau seandainya Adrian masih belum sadar juga sampai saat ini memang dia tega sekali dengan Penny!" ketus Fina dengan tatapan tajam.


"Mungkin Penny akan menangis seharian sampai tidak bisa makan," gurau Hans tertawa kecil.


"Ish sudahlah kalian tidak usah membicarakannya lagi! Seharusnya kalian kasihan padanya!" sungut Tania mengangkat alisnya.


"Iya betul kata Tania," lanjut Nathan merangkul bahunya.


"Sudahlah sebaiknya kita cepat ke sana sekarang nanti dia bisa kelaparan!" celetuk Fina.


Mereka berempat menghentikan langkah kaki tepat di depan pintu kamar. Baru saja Fina ingin membuka pintunya, tatapan matanya langsung melotot ketika mengamati perlakuan yang tidak terduga.


"Oh my god!" seru Fina.


"Memangnya ada apa sih?" tanya Hans penasaran langsung menatap kacanya.


Mulutnya Hans sampai terbuka dengan lebar membuat Tania dan Nathan penasaran dengannya yang bertingkah berlebihan.


"Ada apa sih?" tanya Nathan.


Hans langsung mendorong Nathan dan Tania memandang kacanya langsung. Reaksi mereka berdua bahkan sama saja berlebihan dengan Hans dan Fina. Bahkan sampai rasanya mereka berdua ingin tertawa keras.


"Wah mereka berdua akhirnya berciuman untuk melepas kerinduannya!" sorak Nathan terkekeh.


"Memang mereka sudah menganggap dunia seperti milik berdua saja," tambah Tania sambil terus menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba ada dokter yang ingin memasuki kamarnya. Mereka berempat dengan sigap menghadang jalannya berpura-pura bertingkah polos.


"Kenapa kalian menghalangi saya? Sekarang sudah waktunya memberikan suntikan infusnya."


"Pasien baru saja tidur nyenyak. Sebaiknya Anda jangan mengganggunya," usul Fina tersenyum ramah.


"Tapi pasien--"


"Nanti saja baru beri suntikan infusnya. Kami saja sampai tidak berani masuk mengganggunya," lanjut Nathan tertawa seperti orang bodoh.


"Ya sudah, kalau pasien sudah bangun sebaiknya panggil saya." Dokter tersebut meninggalkan mereka berempat.


"Untung saja kita menjaganya di sini," ucap Tania lega.


"Ish memang mereka kalau melakukannya tidak lihat tempat!" omel Nathan mengerucutkan bibirnya.


"Sudahlah yang terpenting sekarang kita membiarkan mereka menikmatinya saja," ujar Hans santai.


Kembali lagi pada aku dan Adrian masih saja melakukan sentuhan bibirnya. Adrian mencium bibirku dengan manis sambil meremas punggungku sedangkan aku terus menikmatinya dengan menggerakkan bibirku sampai puas sambil terus mengalungkan kedua tanganku pada lehernya dalam kondisi mata kami masih terpejam. Ciuman yang kami lakukan saat ini selain untuk melepas kerinduan, tapi kami saling menyalurkan rasa kegembiaraan yang tidak kami rasakan selama kemarin.


Tak lama kemudian, ia melepas tautan bibirnya lalu mengusap bibirku yang basah dengan jari jempolnya mengukir senyuman bahagianya padaku.


"Aku mengira kamu tidak akan pernah membuka matamu," lontarku tersenyum lega.


"Sayang, di saat aku tidak sadarkan diri, aku menyadari bahwa ada satu bintang besar bersinar terang sedang menungguku. Maka dari itu, aku mengikuti cahayanya dan memperjuangkan hidupku demi bintangku. Bintang kesayanganku tidak akan tetap bersinar terang jika pendampingnya tidak menemaninya terus."


"Sayang ...." lirihku.


"Bintang bernama Penny Patterson akan selalu bersinar terang menerangi kehidupan jika Adrian Christopher tetap terus mendampingi hidupnya selama sisa hidupnya."


"Sayang ...." lirihku lagi.


"Cahaya dalam tubuhku sempat meredup akibat luka yang dialamiku. Tapi karena bintang kesayanganku selalu mencintaiku, aku kembali bersinar terang menjadi bintang penuh harapan berkat dirinya."


"Sayang, aku sudah tidak tahan lagi dengan gombalanmu dari tadi." Buliran air mata haru terus mengalir pada wajahku.


"Aku rindu menggombalmu, Sayang. Sehari saja tidak menggombalmu, rasanya hidupku tidak bisa tenang."


Aku tertawa gemas sambil mengelus pipinya.


"Kamu boleh menggombalku sesuka hatimu, Sayang."


"Apalagi aku bisa merasakan detak jantungmu yang berdebar terus dari tadi. Aku yakin pasti karena kita berciuman tadi dan juga gombalan manis spesial untukmu." Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya mengedipkan mata kirinya padaku.


"Kamu membuat jantungku berdebar terus. Tapi aku sangat menyukai kamu berbuat begini padaku."


Sorot matanya terfokus pada bibirku lalu ia meraba bibirku dengan jari jempolnya.


"Ini aneh sekali. Seharusnya bibirmu memucat ketika menungguku sampai sadar. Tapi kenapa kamu masih bisa memakai lipstik?" tanyanya memasang raut wajah polosnya.

__ADS_1


"Ish kenapa di saat begini masih bisa membahas lipstik! Aku memakainya supaya untuk menutupi bibirku yang pucat supaya kau tidak mencemaskanku ketika kau tersadar," ujarku berterus terang.


Adrian semakin menyunggingkan senyuman nakal lalu mendekatkan bibirnya padaku lagi hanya berbeda tipis.


"Bukankah karena kamu sengaja menggodaku supaya aku bisa menciummu?"


"Ish buk--"


Ucapanku terputus langsung mulutku dibungkam olehnya dengan mengecup bibirku sekilas.


"Sudah lama aku tidak merasakan manisnya bibirmu seperti cokelat," lontarnya tertawa nakal terus.


"Adriiaan!"


"Kenapa, Penny?"


"Dasar modus! Memang sikapmu tidak berubah sejak dulu!" ketusku mengerucutkan bibirku.


"Tapi kamu sendiri suka, 'kan," godanya lagi tersenyum manis padaku.


"Iya deh aku suka sekali."


"Tuh kan kamu sangat menyukainya bahkan sampai tadi kamu menikmatinya ketika kita berciuman mesra."


Mendengar lontarannya barusan membuatku semakin tersipu malu hingga pipiku sekarang memanas. Jantungku semakin berdebar tidak karuan akibat perlakuan manisnya dari tadi. Maka dari itu, lebih baik aku mengalihkan pembicaraan saja daripada jantungku lepas.


"Tapi omong-omong, apa kamu sungguh amnesia?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya sekaligus meyakinkannya.


"Aku tidak mungkin amnesia. Kalau sampai itu terjadi aku bisa menangis selamanya sampai aku mengingatmu kembali. Lagi pula tadi aku masih bisa menggombalmu."


Aku masih menatapnya curiga lalu melipat kedua tanganku di dada.


"Masa sih? Lalu kenapa kamu tadi melihatku seperti orang asing? Kenapa tadi kamu sedikit galak padaku seperti bukan Adrian yang aku kenal? Maksudku itu, apa kamu sempat mengalami amnesia tadi saat pertama kali bangun?"


"Itu karena tadi aku sengaja berpura-pura untuk melihat reaksimu saja," tawanya terkekeh.


"Coba aku tes daya ingatmu dulu!"


"Aduh kenapa pakai tes segala! Aku ingat semuanya."


"Sudahlah kamu cukup menjawab pertanyaanku saja!"


"Tidak mau."


"Kalau kamu berhasil menjawab pertanyaanku tepat, kamu boleh bebas bertindak padaku. Mau cium aku lagi sampai kamu puas juga tidak masalah."


"Pertanyaannya apa?" Adrian langsung bersemangat mendengar persyaratan tadi.


Aku memutar bola mataku bermalasan. Setiap ada hal berkaitan dengan ciuman, pasti ia langsung bersemangat.


"Apa kita punya anak?" selidikku.


"Aduh kalau itu sih aku pasti bisa jawab! Tentu saja kita memiliki seorang anak perempuan bernama Victoria Anastasia berusia 3 tahun dan saat ini sekolah di Sunshine Kindergarten."


"Oh, ternyata kamu mengingatnya juga."


"Sudah pastilah! Victoria adalah anak kemenangan kita berdua. Aku mana mungkin melupakan anakku sendiri sementara kamu sendiri mengandung anakku."


"Baiklah kalau begitu kita ke pertanyaan kedua. Kapan tanggal pernikahan kita?"


"Tanggal 8 April 2022. Aku tidak mungkin melupakan tanggal yang mencetak momen bersejarah kita," jawabnya mengecup pipiku sekilas.


"Syukurlah untung kamu mengingatnya semuanya dengan jelas," ucapku lega melukiskan senyuman khasku.


"Penny, semua kenangan indah yang telah kita lalui dari pertemuan pertama kita sampai sekarang aku tidak mungkin melupakannya tanpa terlewatkan satu momen. Bagiku satu momen entah menurutmu terlihat biasa saja tapi semua momen berharga kita setiap saat sangat menghiasi kehidupanku selama ini. Bahkan momen ketika aku mendapat penghargaan di masa sekolah dulu maupun saat aku pertama kali bekerja sebagai seorang jaksa, tetap saja semua itu masih jauh kalah berharganya dengan momen setiap kali bersamamu setiap saat," ungkapnya tulus sampai aku menangis terharu.


"Setiap momen bersamamu tidak bisa dibeli dengan apa pun. Karena kamu adalah harta karunku yang jauh lebih langka dibandingkan batu permata atau emas yang berkarat banyak."


"Kamu melupakan satu hal."


"Satu hal lagi kamu adalah bintangku yang selalu menyinari kehidupan keluarga kecil kita apalagi dengan senyuman langkamu membuat kehidupan kita semakin bersinar terang," gombalnya lagi membuatku tersipu malu.


"Ish ada satu lagi! Kalau kamu sungguh melupakannya, memang kamu terkena amnesia."


"Kamu akan selalu menjadi vitamin penyemangatku setiap saat," ucapnya sambil mengusap kepalaku.


Aku membenamkan kepalaku pada tubuhnya dengan manja memeluknya dengan erat.


"Adrian sayang ...." lirihku manja.


"Manja sekali, Penny," sahutnya mengelus pipiku lembut.


"Karena kamu sungguh mengingat semuanya--"


"Aku ingin menciummu lagi, Sayang."


Tanpa berlama-lama, Adrian langsung mencium bibirku lagi. Tapi kali ini durasinya singkat lalu ia melepas tautan bibirnya.


"Vitamin penyemangat yang kuberikan dari tadi, lima kali lipat lebih banyak dari biasanya. Ini sebagai pengganti kemarin aku tidak memberimu vitamin penyemangat."


"Hmm energiku kembali terisi lagi walaupun belum sepenuhnya."


"Baiklah aku akan menciummu lagi, Sayang." Adrian terus menghujani ciumannya pada bibirku hingga aku tertawa geli.


"Sayang, semakin lama kamu semakin suka menciumku, ya." Aku terus tertawa geli sambil menyentuh pipinya dengan kedua tanganku.


"Karena aku ingin menyalurkan semua energiku padamu. Vitamin yang kuberikan barusan sepuluh kali lipat lebih kuat dari sebelumnya."


Senyumanku terus mengambang sambil aku membalasnya menghujani ciuman pada bibirnya juga.


"Kamu juga tidak ada bedanya denganku. Memang perkataanku benar waktu itu, setiap malam aku merasakan manisnya kehangatan bibirmu dalam mimpiku," lontarnya tertawa kecil.


"Ish kamu mengungkit hal itu lagi."


"Tidak masalah, kamu ingin menciumku sepuasnya sudah pasti diperbolehkan."


"Tadinya aku berpikir bahwa mungkin aku sungguh akan kehilanganmu. Apalagi kemarin seharian dadaku terasa sakit sekali," ucapku sambil mengelus pipinya lembut.


"Tenang saja, Penny. Mana mungkin aku meninggalkanmu dan anak kita sendirian. Aku juga masih ingin hidup panjang bersama kalian berdua sampai aku menua. Aku tidak akan membuat dadamu merasa sesak lagi," balasnya mengelus dadaku.


"Tapi kemarin itu kamu menakutiku seperti seolah-olah kamu sungguh ingin pergi meninggalkanku ketika aku menemukanmu dalam kondisi sekarat."


"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud menakutimu. Tapi bagaimana kamu bisa menemukan keberadaanku waktu itu? Padahal di pesan singkat itu hanya tertulis alamatnya saja. Sedangkan area pergudangan itu kan lumayan luas jangkauannya."


Aku melepas pelukannya sebentar lalu beranjak dari ranjang mengambil jas kerjanya dilumuri sedikit bercak darah dan mengeluarkan pulpen pemberianku.


"Aku tahunya dari ini," ucapku sambil memberikan pulpennya dan kembali tidur dalam dekapannya.


"Jangan bilang kamu memasang alat pelacaknya tanpa sepengetahuanku."


"Iya memang benar. Aku khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk padamu lagi. Ternyata benar dugaanku, kamu dalam bahaya lagi dan membuatku selalu mencemaskanmu. Untung saja aku sudah memberimu pulpennya jadinya aku bisa melacak keberadaanmu."


Adrian menghembuskan napasnya lesuh sambil mengelus telapak tanganku.


"Penny, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu waktu itu. Aku hanya ingin nyawamu tetap selamat."


"Tidak apa-apa, Adrian. Yang penting aku bisa melihatmu dalam kondisi sehat saja sudah bersyukur," balasku menggeleng pelan.


Tiba-tiba perutnya mulai mengamuk merusak momen romantis kami. Adrian menunduk malu sambil mengelus perutnya merengek seperti anak kecil padaku.

__ADS_1


"Aku lapar! Aku mau makan!"


"Memangnya kamu sudah buang angin tadi?"


"Sudah kok."


"Kapan? Kok aku tidak tahu sih?" tanyaku dengan tatapan sedikit curiga.


"Tidak tahu."


"Ish perasaan tadi aku tidak mendengarmu buang angin deh!" sungutku menatapnya menyeringai.


"Ih beneran tadi aku sudah buang angin! Telingamu saja yang bermasalah!"


"Kamu barusan bilang apa? Telingaku bermasalah?" Aku bergegas melepas rangkulannya menyipitkan mataku.


"Penny, aku bukan ber--"


"Oh, jadi secara tidak langsung kamu mengatakan pendengaranku sudah seperti seorang nenek, ya!"


"Dengarkan aku dulu, Sayang!"


"Ya sudah, kalau begitu kamu urus dirimu sendiri saja sana! Aku tidak mau mengurusmu lagi!" ketusku menghembuskan napasku kasar ingin beranjak dari ranjangnya lagi.


Sementara di sisi lain, dua pasangan yang tadi menyaksikan perbuatan tidak terduga di luar kamar, saat ini sedang sibuk bergosip di taman rumah sakit.


"Aku bingung dengan mereka berdua. Otak mereka ditaruh di mana sih? Masa di rumah sakit masih bisa melakukan gituan?" tanya Hans terheran sambil berjalan mondar mandir.


"Mungkin otaknya Adrian sudah sedikit konslet akibat kena pukulannya sedangkan Penny galau terus selama seharian jadinya dia tidak bisa berpikir jernih," sahut Nathan mulai berasumsi konyol.


"Ish Penny bukan karena begitu tahu! Pasti Penny sedikit aneh karena dua hari yang lalu dia sempat hampir mati tenggelam. Untung saja Adrian menolongnya tepat waktu," lanjut Tania berpikir konyol juga.


"Aduh, Tania! Mana ada sih hubungannya antara otaknya Penny begitu dengan dirinya yang hampir mati tenggelam!" sergah Fina menepuk jidatnya.


"Lalu menurutmu sendiri kenapa Penny baru kali ini tidak bisa berpikir jernih?" tanya Tania balik.


"Hmm bisa jadi kejadian di kolam renang itu membuat otaknya tercuci bersih jadinya kemarin hampir saja dia tidak bisa berpikir jernih," jawab Fina berpikir hingga dahinya berkerut.


"Nah kalau itu lebih masuk akal, Fina!" seru Hans menepuk pundaknya Fina.


"Mereka pikir ini di rumahnya atau di hotel, ya? Masa mereka melakukan ciumannya terang-terangan di rumah sakit dalam kondisi kacanya jernih begitu?" Nathan tertawa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Ish kamu ini kenapa selalu saja berpikir di hotel terus! Jangan-jangan kamu suka menginap di hotel!" ketus Hans menyipitkan matanya.


"Ada-ada saja kalian! Sudahlah aku lelah menggosipkan orang terus! Nanti kena karma jadinya," ujar Fina.


"Biarkan saja mereka berdua bergosip sampai puas," sahut Tania mendesah pasrah.


"Memang para bapak tukang gosip semua!" ketus Fina.


"Perasaan tadi yang pertama kali melihat mereka melakukan begituan siapa, ya?" Tatapan mata Hans terfokus pada Fina.


"Hmm siapa ya? Sepertinya bukan aku?" Fina memasang raut wajah polosnya sedikit memalingkan matanya dari mereka.


"Bukan aku juga. Bahkan tadi aku melihatnya yang paling terakhir," sahut Tania penuh percaya diri.


"Yang heboh duluan siapa, yang omongin kita tukang gosip siapa," ejek Hans menggelengkan kepalanya.


"Iya deh aku yang memulai duluannya tadi! Tapi setidaknya aku tahu diri memberikan mereka waktu untuk bersama lebih lama."


"Seharusnya tadi kita mengganggu momen mereka, ya. Aku penasaran melihat reaksi mereka seperti apa ketika kita membuka pintunya tiba-tiba di saat mereka sedang berada di dunia lain." Hans membayangkannya hingga tertawa terbahak-bahak.


"Iya benar juga, ya. Kenapa aku tidak kepikiran sih? Sepertinya seru kalau mengganggu mereka berdua," tambah Nathan tertawa nakal juga.


"Kalian tega sekali membayangkannya! Padahal mereka berdua itu adalah teman kalian sendiri. Masa kalian sebagai temannya mengganggu kemesraan mereka!" hardik Tania mengerucutkan bibirnya.


"Namanya juga lelaki. Biasanya tidak tahu diri semua!" sergah Fina melipat kedua tangannya.


"Bagaimana kalau sekarang kita kembali ke sana lagi?" tawar Tania.


"Iya aku bahkan sampai lupa memberikan makanannya untuk Penny," sahut Fina.


"Ah, kalau Penny tidak usah diberi makanan! Dia kalau sudah bersama dengan Adrian pasti sudah lupa makan deh," seloroh Nathan.


"Mendingan makanannya buatku saja, Fina." Hans ingin merebut sekantong plastik berisi bungkusan makanannya dari Fina namun ditepis tangannya.


"Jangan pernah mencoba mengambilnya!" tegas Fina memelototinya.


"Ish sama suami sendiri pelit banget si,h Fina! Kamu tega sekali lebih memilih temanmu dibandingkan aku!" sungut Hans mendengkus kesal.


"Karena aku sudah terlanjur membelikan makanan untuknya. Ya sudah deh, lebih baik aku memberinya saja."


"Sudahlah kalian tidak usah berdebat lagi! Lebih baik kita ke sana saja sekarang!" ajak Tania.


Kembali lagi pada aku ingin beranjak dari ranjang karena kesal mendengar perkataannya barusan namun tubuhku ditariknya lagi hingga terjatuh tepat di atas dadanya.


"Kamu tidak akan pernah bisa kabur dariku, Penny," ucap Adrian tersenyum nakal sambil menahan tubuhku dengan sekuat tenaganya agar aku tidak bisa terlepas darinya.


"Lepaskan aku, Adrian!" Aku berusaha memberontaknya namun ternyata cukup kuat juga walaupun tubuhnya masih belum pulih dibandingkan diriku dalam kondisi masih sehat.


"Tidak mau!" ejeknya menjulurkan lidahnya padaku.


"Bukankah kamu tadi lapar, ya? Kau sendiri kan merengek padaku meminta makanan?"


"Itu sih tadi. Sekarang aku sudah berubah pikiran."


"Pokoknya aku malas lihat wajahmu sekarang akibat kau bilang pendengaranku bermasalah!"


"Yah malah ungkit hal itu lagi! Ayolah, Penny! Tadi aku sungguh bercanda denganmu. Jangan disimpan dalam hati."


Senyuman nakal terukir pada wajahku lalu aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.


"Aku tidak mungkin mengambek padamu lagi. Setiap waktu kebersamaan kita, tidak boleh ada pertengkaran lagi. Gara-gara kejadian buruk kemarin, sekarang aku telah mengerti."


"Penny ...." Adrian semakin mempererat pelukannya.


"Pernyataanku barusan, aku tidak akan menariknya kembali."


"Baiklah kamu harus selalu ingat ucapanmu barusan. Jangan sampai ditarik kembali."


"Ya sudah kalau begitu sekarang aku pergi beli makanan dulu. Kamu tunggu di sini sebentar."


"Jangan pergi meninggalkanku, Penny! Aku ingin kamu tetap berada di sisiku." Adrian mencegahku.


"Kalau kamu lapar sebaiknya harus makan. Apalagi kondisi tubuhmu begitu butuh energi yang banyak."


"Misalnya energi vitamin penyemangat." Adrian mengedipkan mata kirinya padaku.


"Ish dasar genit!"


"Aku bercanda. Jangan lama-lama ya beli makanannya. Aku beneran lapar deh sekarang."


"Iya tenang saja. Lagi pula untuk apa sih aku pergi berlama-lama tidak ditemanimu."


"Baiklah kalau begitu aku akan melepaskanmu sekarang."


Adrian melepas pelukannya membiarkanku bangkit dari ranjangnya. Namun aku sedikit sulit beranjak dari sana karena ranjangnya sempit sekali untukku bebas bergerak. Tanpa sengaja aku terjatuh kembali menimpa tubuhnya lalu dengan sigap ia melingkarkan kedua tangannya pada punggungku. Jantungku semakin berdebar ketika posisiku ini sangat tidak enak dilihat apalagi jarak wajahku sangat tipis dengannya. Bukan tidak enak dilihat sih, tapi lebih cenderung membuat semua orang iri melihatnya.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba keempat detektif memasuki kamar ini lalu menatap tingkah kami berdua sampai melongok.

__ADS_1


__ADS_2