Good Partner

Good Partner
S2 : Part 35 - Bad Feeling


__ADS_3

Ada satu hal yang aku tidak terpikirkan dari tadi tiba-tiba terlintas dalam pikiranku. Kalau seandainya Zack tidak menyembunyikan ruang rahasia di balik lukisan maupun ruang penyimpanan minuman alkoholnya, berarti bisa jadi ada suatu ruang rahasia dalam kamarnya pengacara Leonard. Karena hanya itu satu-satunya tempat teraman baginya untuk membuat ruang rahasia dan tidak ada satu pun orang yang bisa menemukannya sembarangan. Aku dan Adrian bergegas memasuki kamarnya dan mencari suatu tombol yang tersembunyi dalam sana. Saat kami sedang melakukan pencarian tombolnya, Hans dan Nathan juga memasuki kamar ini ikut bergabung denganku mencarinya.


"Kamarnya luas juga, ya," ucap Hans dengan tatapan berdecak kagum.


"Ish kamu masih bisa norak saja di situasi begini!" sungut Nathan menyenggol lengannya Hans.


Sambil melakukan pencariannya juga, Hans juga menggeledah semua laci meja kamar tersebut. Ia menemukan berbagai macam obat yang tersimpan dalam laci meja samping ranjang.


"Wah, ternyata orang ini seram juga, ya, minum banyak obat begini!" seru Nathan lagi.


"Bisa tidak kalau bekerja jangan pakai mulut!" tegur Adrian tegas.


"Iya deh sekarang aku diam saja."


Sebelum mengembalikan obatnya ke tempat semula, Hans mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu mengambil foto semua obat tersebut sebagai bukti tambahan bahwa pengacara Leonard mengidap gangguan jiwanya yang langka. Usai itu ia memasukkan obatnya ke dalam laci mejanya lagi.


Sementara aku dan Adrian memasuki walk in closet mencari sebuah tombol atau semacamnya. Aku menggeledah semua laci maupun pintu lemarinya, namun tidak ada satu pun tombol mencurigakan di dalam sana. Adrian juga dari tadi melakukan hal yang sama denganku tiba-tiba tidak sengaja membuka pintu ruang rahasianya. Pintu tersebut terbuka secara lebar. Aku berdecak kagum dengannya lalu mengecup pipinya sekilas.


"Kamu memang jenius sekali, Adrian!" pujiku tersenyum girang.


"Padahal aku tidak sengaja menemukannya," sahutnya merendah.


"Ish kalian berdua di saat begini masih bisa saja bermesraan!" sungut Hans menatap tajam seperti ingin membalas dendam.


"Daripada kamu tadi lihat botol obat saja sampai reaksimu berlebihan!" elak Adrian balik.


"Itu kan memang aku kaget saja dia sanggup minum obat sebanyak gitu sama ada suntikan. Kalau aku jadi dia sih tidak akan sanggup."


"Mendingan aku dipuji istriku karena aku paling berjasa dalam menemukan ruang rahasianya," sanggah Adrian mengangkat kepalanya berlagak sombong.


"Ah, gitu saja kamu sudah sombong sekali, Adrian!" sergah Hans memelototinya.


"Sudahlah kalian berisik sekali sih! Sekarang cepat fokus bekerja lagi!" tegurku sedikit meneriakki mereka.


Kami berempat memasuki ruang rahasia itu bersama. Di dalam sana, banyak barang korban yang tersimpan dalam sebuah kotak pajangan transparan. Aku membuka salah satu kotaknya mengambil kartu identitasnya Angelina.


"Jadi ternyata selama ini Zack menyembunyikan semua barang korban di sini," ucapku sambil mengambil barang lainnya.


"Aku jadi teringat dengan kasusnya Josh. Kedua kasus ini memiliki kesamaan yaitu menyimpan barang korban sebagai cinderamatanya," ujar Nathan.


"Ish beda! Kalau kasusnya Josh itu dia simpan barang berharganya korban," sanggah Hans.


Aku mengamati sebuah dinding yang dipenuhi dengan semua foto para korban dan juga semua anggota timku. Aku bergidik ngeri ketika mengamati foto semua anggota timku yang hancur ditusuk dengan pisau olehnya. Persis dengan kotak misterius yang pernah kuterima sebelumnya.


"Ternyata selama ini dia mengincar kita," ucapku gelagapan.


"Dia pasti ingin membunuh kita satu per satu supaya tidak menangkapnya," lanjut Nathan.


Aku kembali melanjutkan mengamati semua foto yang tertempel di sana untuk memastikan Zack tidak mengincar anakku atau orang tuaku. Untung saja tidak ada satu pun foto mengenai itu dan juga orang tuanya seluruh anggota timku. Kini aku sedikit terasa lega apalagi perbuatan jahat Zack sudah terungkap semuanya sekarang.


Tiba-tiba suaranya Fina terdengar dalam alat earpiece.


"Kalian semua sebaiknya keluar dari sana sekarang! Pengacara Leonard sudah selesai melakukan sesi terapinya!"


"Baiklah, Fina."


Aku kembali menoleh pada mereka bertiga.


"Jadinya sekarang kita membawa semua barangnya ke kantor polisi?" tanya Nathan.


"Kita harus membawa semuanya ke sana lalu membuat surat perintah resmi penangkapan pengacara Leonard," jawabku dengan tatapan serius.


"Sepertinya kita harus bergegas mengambil semua barang buktinya sekarang sebelum pengacara Leonard tiba di sini!" titah Adrian.


Aku, Adrian, dan dua detektif lainnya terburu-buru mengambil semua barang yang ada di dalam kotak transparan itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah plastik transparan. Usai itu, kami bergegas keluar dari ruang rahasia tersebut dan membereskan semua barang seolah-olah tidak terjadi penggeledahan. Untuk saat ini aku belum bisa menangkap pengacara Leonard langsung tanpa adanya surat perintah penangkapan resmi.


Aku juga membersihkan semua benda yang terkena semprotan larutan Luminol supaya Zack tidak mengetahuinya. Sedangkan Adrian dan Hans membuka kembali semua tirai yang awalnya ditutup untuk melihat jejak pembunuhannya. Setelah semuanya sudah beres, kami berempat bergegas keluar dari rumah itu mengunci pintunya rapat kemudian memasuki mobil masing-masing.


Beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba juga di kantor polisi. Aku langsung memerintahkan Nathan untuk membuat surat penangkapannya secepatnya dan meminta atasan untuk menyetujuinya. Sedangkan aku, Adrian, dan Hans memasuki ruang kerja timku menyusun semua barang bukti di atas meja panjang. Tak lama kemudian, Tania dan Fina tiba di sini bergabung denganku.


"Ini semua barang para korban?" Tania menatapnya sampai melongok.


"Iya nih. Bahkan fotonya saja sampai lengkap," balas Hans.


"Aku sudah tahu sekarang. Waktu itu Angelina dan Gracia dikabarkan sekolah di luar negeri melalui email. Mungkin bisa juga email Bu Fransisca diketahui dari isi ponsel ini. Pasti mereka semua memiliki alamat emailnya. Jadinya Zack melakukan penyamaran seolah-olah menjadi wali orang tua murid dengan menggunakan alamat email palsu," papar Tania bertopang dagu.


"Benar juga sih perkataanmu itu."


Sedangkan di sisi lain ketika pengacara Leonard sedang melakukan perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba kepalanya mulai terasa sakit lagi. Lalu dengan inisiatif ia memberhentikan mobilnya di tepi jalan sambil mencarikan obat pemberian dari dokter Jesslyn barusan. Ketika ia ingin mengambil obatnya dari tasnya, ia merasa seperti Zack ingin menguasai tubuhnya lagi.


"Jangan pernah bermimpi untuk menguasai tubuhku Zack! Aku akan membuang semua kenangan masa lalumu!"


Namun kepalanya semakin terasa sakit seperti mau pecah. Tubuhnya mulai melemah lalu raut wajah yang tadinya penuh kegelisahan kini berubah drastis menjadi sosok pembunuh kejam. Zack menaruh kembali obatnya pengacara Leonard ke dalam tasnya lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam mobil. Zack menggeser layar ponselnya lalu mengamati video rekaman CCTV yang ia letakkan tersembunyi di sekeliling rumahnya. Emosinya sudah mulai tidak stabil ketika mengamati video seseorang menerobos rumahnya secara diam-diam dan mengambil semua barang para korban di dalam ruang rahasia.

__ADS_1


"Awas saja kamu, detektif Penny! Akan aku membunuhmu sekarang juga akibat perbuatanmu tadi!"


Zack melempar ponselnya di atas kursi sebelahnya lalu melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Kembali lagi pada saat aku dan yang lainnya sedang menunggu surat resmi penangkapan pengacara Leonard. Aku berjalan mondar mandir dalam ruangan sambil memainkan kuku jariku.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Adrian sedikit khawatir.


"Perasaanku tidak enak saja sekarang. Aku merasa seperti rencana kita tidak akan berjalan dengan lancar deh," jawabku merinding ketakutan.


Adrian secara spontan menghampiriku menuntunku menduduki meja kerjaku. Ia duduk tepat di sebelahku sambil membelai rambutku lembut.


"Sayang ...." lirihku manja.


"Tenang saja, Penny. Sebentar lagi semuanya akan berakhir."


"Kamu yakin?"


"Iya aku yakin sekali."


"Mmm kalau begitu aku ingin kamu tetap bersamaku sekarang. Aku ingin ditemanimu sepanjang hari."


"Walaupun ada yang menghubungiku, aku tetap berfokus padamu." Adrian mendekapku hangat sambil mengusap kepalaku.


drrt...drrt...


Ponselnya Adrian bergetar dalam saku jasnya. Ia bergegas mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan teleponnya dari Yohanes.


"Halo Yohanes, kenapa kamu meneleponku?"


"Hei, Adrian! Kamu ada di mana sekarang?"


"Sekarang aku ada di kantor polisi. Memangnya ada apa?"


"Sebaiknya kamu harus kembali ke kantor sekarang! Kepala jaksa Henry dari tadi mencarimu."


"Aduh ada apa lagi sih dia memanggilku!"


"Aku juga tidak tahu sih. Yang pasti raut wajahnya tidak enak dilihat."


"Ya sudah deh, aku ke sana sekarang."


Adrian bergegas menutupi panggilan teleponnya lalu kembali menoleh padaku. Apalagi raut wajahnya sangat lesuh karena barusan ia harus mengingkari janjinya.


"Sebaiknya kamu ke sana saja sekarang. Aku bisa sendiri di sini," balasku tersenyum simpul.


"Tapi barusan aku mengingkari janjimu."


"Tidak apa-apa. Daripada kamu dimarahi habis-habisan oleh kepala jaksa. Sebaiknya kamu merelakanku saja. Aku tidak suka melihatmu dimarahi terus." Aku mengelus pipinya lembut.


"Tapi apakah kamu bisa sendiri, 'kan?" tanyanya meragukanku.


"Aduh, Sayang! Aku bukan anak kecil lagi. Tentu saja aku bisa melakukan sendiri," keluhku mengerucutkan bibirku.


"Tapi aku tidak rela meninggalkanmu, Sayang. Aku ingin menemanimu sepanjang hari. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu gimana?"


Aku menggenggam tangan kanannya mengelus punggung tangannya lembut.


"Kamu tidak perlu mencemaskanku. Apa kamu lupa? Aku ini adalah detektif wanita terkuat di kantor ini."


"Tapi Sayang--"


Jari telunjukku langsung membungkam mulutnya yang cerewet.


"Percayakan saja semuanya padaku. Aku pasti akan baik-baik saja."


Sejenak Adrian mendesah lesuh.


"Baiklah. Lagi pula juga sebentar lagi pengacara Leonard akan ditangkap kalian. Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Ingat kamu harus lapor padaku jika terjadi sesuatu," pamitnya mengecup puncak kepalaku beberapa detik.


"Iya aku tahu. Kamu juga hati-hati. Sampai bertemu nanti, Sayang," ucapku melambaikan tanganku.


Adrian melambaikan tangannya padaku lalu berlari keluar dari ruang kerja timku menuju lahan parkir. Tak lama kemudian, Nathan memasuki ruangan ini sambil membawa surat perintahnya.


"Ayo kita pergi tangkap pengacara Leonard sekarang!" ajak Nathan penuh semangat.


"Nah kalau sekarang saatnya aku menunjukkan aksi kerenku!" seru Hans membenarkan jaketnya.


Aku dan semua anggota timku bergegas memasuki mobil van hitam. Nathan menginjakkan pedal gasnya mendalam menuju rumahnya pengacara Leonard. Setibanya di sana, Hans langsung membuka pintu pagarnya paksa. Aku dan semua anggota timku bergegas menggeledah seisi rumah itu lagi. Namun perasaanku tidak enak tiba-tiba. Anehnya kondisi rumah ini seperti sebelum aku dan yang lainnya meninggalkan tempatnya. Selain itu juga tidak ada mobil terparkir di garasi rumahnya maupun depan rumahnya. Sekitar menghabiskan waktu sekitar 10 menit, aku dan semua anggota timku berkumpul lagi di halaman rumahnya.


"Sepertinya pengacara Leonard melarikan diri," lontar Tania panik.


"Aduh kenapa bisa begini sih!" keluh Hans menggarukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mungkin bisa juga dia kembali ke kantornya," ujar Fina cerdas.


"Sebaiknya kita ke firma hukum L&C sekarang!" ajakku.


Aku dan semua anggota timku kembali memasuki mobil van hitam menuju ke sana. Setibanya di sana, kami langsung menerobos ke dalam gedung itu walaupun dihalangi petugas keamanan di sana.


"Maaf Anda tidak boleh sembarang menerobos masuk ke dalam!" tegur salah satu petugas keamanan.


Aku memperlihatkan surat resmi penangkapan pengacara Leonard kepada petugas keamanan tersebut namun tetap saja tidak membiarkan kami memasuki gedung itu.


"Kalau Anda tidak mengizinkan kami memasuki gedung ini, maka kami akan menganggap Anda bersekongkol dengan tersangka," ancamku dengan tatapan tajam.


"Tapi tetap saja kalian tidak bisa menerobos masuk begitu saja!" sanggah petugas keamanan itu.


"Kalau Anda tetap bersikap seperti ini terus terpaksa kami harus memakai tindakan kekerasan," ancam Fina.


"Ada apa ribut-ribut begini?"


Seorang pria muda berpakaian formal menghampiriku menatapku santai.


"Ada yang bisa aku bantu?" tawar pria muda itu ramah.


"Di mana pengacara Leonard? Kami ke sini untuk melakukan penangkapannya," tanyaku.


"Nah itu dia! Aku juga bingung sebenarnya semenjak tadi pagi dia tidak menampakkan dirinya di sini. Apakah telah terjadi sesuatu padanya?" Pria muda tersebut melontarkan pertanyaannya ketika baru menyadari ucapanku barusan.


"Pengacara Leonard saat ini merupakan tersangka utama kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini," ucapku lantang.


Semua orang di sana mendengar perkataanku sangat terkejut. Terutama pria muda di hadapanku saat ini menatapku seperti tidak memercayaiku.


"Apa aku tidak salah mendengarnya?" tanyanya gugup.


"Aku sudah membawa surat resmi penangkapannya. Semua bukti dan saksi mata sudah jelas membuktikan dia adalah pelakunya," jawabku santai memperlihatkan surat penangkapannya.


"Tapi bagaimana bisa seorang pengacara kompeten begitu merupakan seorang buronan?"


"Ceritanya sangat panjang. Pokoknya barangkali dia menampakkan dirinya di sini, sebaiknya kamu menghubungi kami segera," ujarku membalikkan tubuhku meninggalkan gedung firma hukum itu lagi.


Aku dan seluruh anggota timku kembali melanjutkan perjalanan mencari keberadaan pengacara Leonard lagi. Aku duduk tertegun tepat di sebelah Fina sambil memikirkan tempat yang biasanya dikunjungi Zack sebagai persembunyian sementara. Kalau seandainya ia tidak mengunjungi rumahnya dan juga kantornya, apakah mungkin ia kembali ke panti asuhan itu? Tapi sepertinya tidak mungkin ia berkunjung kesana soalnya tidak mungkin menampakkan dirinya terang-terangan selagi statusnya sekarang adalah seorang buronan. Satu-satunya cara untuk menemukan keberadaannya adalah dengan melihat kamera CCTV di sekitar jalanan menuju klinik.


"Hans, sebaiknya kita ke ruang pengendalian CCTV untuk mengecek pergerakan mobilnya pengacara Leonard," pintaku kepadanya.


"Baiklah, Penny," patuh Hans.


Setibanya di sana, aku memerintahkan salah satu petugas keamanan untuk memperlihatkan rekaman kamera CCTV hari ini. Namun sayangnya antara kebetulan atau aku kurang beruntung. Kamera CCTV rusak sejak kemarin sehingga tidak bisa memantaunya.


Kemudian aku memutuskan untuk mengajak seluruh anggota timku kembali ke ruang kerja tim untuk menyusun strategi penangkapannya lagi.


"Jadi sekarang gimana, Penny? Kalau di semua tempat dia tidak menampakkan dirinya, kita harus mencarinya ke mana?" tanya Nathan bingung.


"Mungkin Zack bersembunyi di suatu tempat di mana kita tidak bisa menemukannya sama sekali," sahutku berpikir keras.


"Di suatu tempat di mana tidak ada kamera CCTV sama sekali," tambah Fina.


"Hmm mungkin dia bersembunyi di pergudangan kosong? Kasus yang kita selidiki selama ini semua tersangka pasti bersembunyi di sana," kata Hans mulai berspekulasi.


"Sepertinya kita harus mengecek seluruh area di sekitar sana," ujarku terburu-buru.


"Bagaimana kalau kita berpencar saja carinya supaya cepat menangkapnya?" tawar Fina.


"Ide yang bagus, Fina! Kalau begitu nanti aku pergi bersama denganmu dan Tania ke area pergudangan ini. Sedangkan Hans dan Nathan pergi ke area ini," ucapku sambil memperlihatkan peta pergudangan kosong di kota ini.


"Ya sudah, aku dan Nathan menaikki mobil van hitamnya. Nanti kalian bertiga naik mobilku saja," sahut Hans.


"Kalau begitu sekarang kita pergi berpencar!"


Aku, Fina, dan Tania bergegas memasuki mobilnya Hans. Karena Fina tidak bisa menyetir mobil dalam kondisi kebut jadinya terpaksa aku yang menjadi sopir mereka. Aku menginjakkan pedal gasnya mendalam dan mulai menyetir seperti orang gila sampai kepala Fina sedikit terasa pusing. Aku tidak peduli dengannya sama sekali yang terpenting sekarang aku harus menangkap pengacara Leonard secepatnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, aku memarkirkan mobilnya di sembarang tempat area pergudangan kosong itu. Kami bertiga bergegas keluar dari mobil dan mulai melakukan pencariannya.


"Sebaiknya kita mencarinya berpencar saja," saranku.


"Tapi bukankah bahaya kalau kita berpencar?" tanya Fina ragu.


"Iya, Penny. Apalagi sekarang hari sudah mulai gelap," tambah Tania.


"Tidak apa-apa. Ini supaya pencariannya cepat saja. Kalau kita bersatu terus nanti bisa memakan waktu lama."


"Ya sudah deh apa boleh buat kalau kamu memaksa," balas Fina memutar bola matanya bermalasan.


"Kalian semua harus berhati-hati," saranku langsung terburu-buru meninggalkan mereka berdua.


Sama halnya dengan Fina dan Tania juga pergi berpencar ke segala sisi area pergudangan kosong itu. Aku berjalan secara perlahan mulai menelusuri area yang terlihat horror ini sedikit bergidik ngeri. Tapi apa boleh buat aku harus berpencar begini supaya lebih efektif mencarinya.

__ADS_1


Sontak ada seseorang menutup hidungku membiusku dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius dari belakang hingga pandanganku mulai kabur sekarang. Anehnya aku tidak mendengar suara langkah kakinya sama sekali. Ketika aku ingin membela diriku, tubuhku mulai melemah, lalu secara perlahan mataku terpejam.


__ADS_2