
Seminggu kemudian, pagi harinya, aku sarapan dulu seperti biasa sebelum berangkat kerja. Tumben sekali hari ini ibu memasak makanan lebih banyak dari biasanya. Di saat aku sedang sarapan, ada seseorang yang membuka pintu rumahku tiba-tiba.
"Peter, sarapan untukku di mana!" pekik Randy sambil berjalan menuju ruang makan.
Paman Randy tidak datang sendirian, tapi Adrian juga ikut bergabung sarapan bersamaku. Ia duduk tepat di sebelahku lalu menyentuh tanganku di bawah meja.
"Pagi, Penny," ucapnya sambil menggenggam tanganku dengan erat.
"Ibu tumben mengundang Adrian dan paman Randy sarapan bersama kita," ujarku dengan tatapan kebingungan.
"Sekarang kita adalah satu keluarga. Sudah pasti kita harus sering sarapan bersama seperti ini. Lagi pula rumah kita hanya bersebelahan saja," lanjut Peter percaya diri.
"Padahal aku, kan ,belum resmi menikah dengannya," balasku tersipu malu.
"Walaupun belum menikah, aku sudah anggap kamu adalah istriku," bisik Adrian dengan senyuman nakalnya.
"Ish apaan sih kamu ini!"
"Kamu tidak suka aku menganggapmu sebagai istriku lebih awal?"
Sebenarnya aku suka, tapi Adrian selalu mengucapkannya terang-terangan tanpa melihat kondisi sekitarnya.
"Oh iya, bagaimana kalau besok kita pergi berpiknik?" ajak Randy.
"Benar juga, sesekali kita semua berpiknik bersama. Lagi pula besok hari libur," sahut Peter dengan antusias.
"Aku sih mau saja. Anak-anak pasti sangat menginginkannya. Benarkah, Penny?" tanya ibu padaku.
"Tentu saja aku bisa. Sekalian juga aku ingin menenangkan pikiranku. Selama ini aku bekerja dengan keras bahkan tidak ada waktu untuk beristirahat."
"Bagaimana denganmu, Adrian?" tanya Randy pada putranya.
"Aku bisa, Ayah. Daripada di rumah, aku tidak melakukan apa pun lebih baik kita berkumpul bersama saja."
"Baguslah! Aku tidak sabar menantikan besok!" seru Peter.
"Sekarang kita lanjutkan sarapannya dulu," usul Maia.
Setelah selesai sarapan, aku berpamitan dengan kedua orang tuaku dan juga paman Randy sebelum berangkat ke kantor. Saat aku sedang berjalan menuju mobilku, Adrian menahan tanganku tiba-tiba.
"Tunggu, Penny!"
"Kenapa?"
"Saat aku tadi berbisik denganmu bahwa aku sudah menganggapmu sebagai istriku kenapa raut wajahmu begitu?"
"Tapi memang benar aku belum menjadi istrimu." Aku sengaja membohonginya, padahal bukan karena itu.
"Biar gimanapun sekarang kita adalah satu keluarga."
"Kamu sangat percaya diri!"
"Bodoh amat!" Adrian menjulurkan lidahnya padaku.
Sikapnya sangat menggemaskan membuatku tidak tega membohonginya lagi.
"Sebenarnya aku menyukainya tapi kamu membuat pipiku semakin memerah saja," ungkapku tersipu malu.
Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya menyentuh pipiku lembut mengelusnya pelan.
"Bukankah bagus untukmu? Kamu semakin terlihat cantik kalau pipimu memerah."
"Ish kamu memang dari dulu selalu nakal!" sungutku mencebik kesal.
"Sudahlah, aku berangkat ke kantor dulu. Nanti aku terlambat."
Saat ia ingin memasuki mobilnya, langkah kakinya terhenti lalu menggandeng tanganku menuju mobilnya juga membuatku bingung padanya.
"Adrian, bukankah kamu tadi bilang ingin berangkat ke kantor?" tanyaku bingung.
"Aku ingin mengantarkanmu," lontarnya santai.
"Tapi--"
"Sudahlah kamu tidak usah banyak bicara dan menurutiku saja." Adrian membuka pintu mobil mempersilakanku memasuki mobilnya.
Di tengah perjalanan menuju kantorku, aku terus menatapnya sambil melipat kedua tanganku di depan dada.
"Kenapa kamu ingin mengantarkanku tiba-tiba?"
"Karena aku hanya ingin melakukannya," balasnya santai sambil menatapku sekilas.
"Tapi nanti kamu bisa terlambat."
"Tadi aku hanya bercanda. Sebenarnya aku memiliki banyak waktu untuk mengantarkanmu. Lagi pula kamu pasti sangat merindukan rutinitas kita setiap pagi berangkat bersama."
"Iya juga sih."
"Besok saat piknik, aku ingin bermain denganmu sepuasnya walaupun ada orang tua kita."
"Aku penasaran dengan piknik besok seperti apa. Apalagi kita tidak pernah berpiknik bersama orang tua kita.
Keesokan harinya sebelum berangkat, aku membantu ibu mempersiapkan makanan untuk piknik nanti. Tentu saja kami menyiapkan berbagai macam makanan. Setelah selesai membantu ibu, aku membersihkan diriku lalu sibuk memilih baju yang akan kupakai nanti. Aku terus mencoba beberapa pakaian yang ada di lemariku tapi aku bingung untuk memilih pakaian yang cocok untukku supaya terlihat cantik di matanya.
"Penny! Cepat keluar dari kamarmu! Sebentar lagi kita akan berangkat!" pekik ibu dari luar kamarku.
"Iya tunggu sebentar! Sebentar lagi aku selesai!"
Dengan sigap aku mengambil kemeja putihku dan juga celana jeans. Setelah aku berpikir panjang lebih baik aku memakainya dengan pakaian sederhana. Lagi pula ini hanya piknik biasa, bukan berkencan dengannya. Setelah itu aku juga tidak lupa merias wajahku yang terlihat natural supaya membuat pacarku semakin berbunga memandangiku.
Setelah selesai semuanya, aku keluar dari kamarku berlari menuruni tangga menghampiri ibu. Sedangkan ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya menatapku seperti ini.
"Kamu lama sekali sih, Penny!" keluh Maia mulai cerewet.
"Menurutku tidak lama m. Ibu saja yang selalu terburu-buru," balasku dengan wajah polos.
"Kamu ini sama sekali tidak memikirkan Adrian yang sedang menunggumu dari tadi!" gerutu ibu menghembuskan napas kasarnya.
"Apa?"
"Ya sudah, kita berangkat sekarang juga. Kamu bantu ibu bawa barangnya!" pinta ibu dengan tegas.
Aku hanya bisa menuruti ibu dan bergegas membantunya memasukkan barang-barangnya ke dalam mobilku. Tak lama kemudian, Adrian dan paman Randy menghampiriku.
"Penny, kamu naik mobil Adrian saja. Biar paman menaikki mobilmu bersama Peter dan Maia," pinta Randy padaku.
"Tapi ayah, mobilku bisa memuat lima orang," sahut Adrian bingung hingga dahinya berkerut.
"Mobilmu itu sedan tidak bisa memuat banyak orang," balas Randy.
"Tapi--"
__ADS_1
"Sudahlah Penny, lebih baik kamu menaikki mobil Adrian saja. Biar ayah yang mengendarai mobilmu," ujar Peter sedikit bermaksud mengusirku.
"Baiklah aku akan menurutimu, Ayah," jawabku pasrah.
Aku menghampiri Adrian lalu menaikki mobilnya. Di tengah perjalanan, sambil mengendarai mobilnya ia sesekali menatapku tersenyum sendiri.
"Kenapa kamu tertawa begitu? Apa ada yang lucu?" tanyaku penasaran.
"Aku harus berterima kasih kepada kedua ayah kita karena sengaja membiarkan kita berduaan seperti ini."
"Bukankah karena mobilmu ini tidak memuat banyak orang?"
"Ayahku kalau mencari alasan untuk berbohong pasti ketahuan deh kalah cerdas denganku. Jumlah penumpang jelas sebanyak lima orang. Walaupun mobil sedan atau mobil SUV pasti akan muat. Ayahku tidak pandai berbohong." Adrian tertawa puas sambil menggelengkan kepalanya.
Memang ayah dan paman sangat peka. Aku jadi semakin leluasa menikmati momen ini hanya bersama kekasihku.
"Aku sangat suka berduaan denganmu seperti ini."
"Kalau begitu aku akan memutar sebuah lagu romantis supaya semakin manis suasananya. Kamu pasti suka lagunya."
Sambil mengendarai mobilnya, Adrian menekan layar LCD nya dan memilih sebuah lagu romantis berjudul "How Do I Live - Trisha Yearwood".
"Orang tua kita memang yang terbaik bisa tahu keinginan kita sekarang," tuturnya.
"Maka dari itu, untung saja orang tua kita sangat perhatian pada kita, mungkin kalau orang tua lain tidak akan membiarkan kita berduaan bersamamu."
"Sekarang aku bisa menggenggam tanganmu dan melihat wajahmu sepuasnya sambil menyetir mobil."
"Apalagi lagunya sangat cocok untuk hubungan kita selama ini."
Sedangkan di sisi lain, Peter sibuk mengendarai mobil. Maia menatap Peter dan juga Randy sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kalian berdua pasti sengaja membiarkan mereka berdua bersama," tukas Maia menyipitkan matanya curiga.
"Mereka ini masih muda. Sebaiknya mereka berdua menghabiskan waktu bersama di saat seperti ini," balas Peter santai.
"Betul itu. Aku sangat setuju dengan Peter. Ini demi kebaikan anak kita," sambung Randy.
"Kalian berdua memang sangat kompak. Tidak heran persahabatan kalian selalu utuh."
"Lagi pula aku jamin mereka berdua pasti sedang bermesraan di dalam mobil menikmati kesempatan emas ini," lontar Peter santai.
"Dilihat dari hubungan mereka yang sangat mesra selama ini, sudah pasti mereka akan menggunakan kesempatan ini dengan baik," tambah Randy tertawa kecil.
Sekitar hampir 30 menit waktu perjalanan, akhirnya kami semua tiba di tempat tujuan. Aku membantu ibu mengeluarkan barang-barangnya di mobilku. Lalu, setelah semuanya beres kami memulai makan bersama. Adrian yang pertama kali mencoba mencicipi salah satu makanan memasukkannya ke dalam mulut.
"Ini sangat lezat. Aku tebak pasti Penny yang memasak semua makanan ini," ujar Adrian dengan percaya diri.
"Kamu salah. Itu ibu yang memasak semua makanannya," balasku dengan ledekan.
"Maaf aku salah sangka," sesalnya menunduk bersalah pada ibu.
"Tidak apa-apa, Adrian. Tapi kenapa kamu menyangka Penny yang memasak semuanya?" tanya Maia penasaran.
"Masakan Penny selalu terasa lezat. Walaupun dulu dia memasaknya dengan rasa biasa saja, tapi semakin lama masakannya semakin ada kemajuan," jawabnya berterus terang.
"Ini aneh sekali. Dulu Penny malas sekali untuk memasak dan selalu makanannya terasa tidak lezat. Belakangan ini saja, dia sangat rajin memasak dan masakannya selalu terasa lezat," balas Maia mengerutkan dahinya.
"Ish ibu jangan ngomong begitu di hadapan semua orang! Aku jadi malu nih," sungutku menunduk malu.
"Kamu tidak perlu malu di hadapanku, yang terpenting kamu tetaplah Penny yang sangat kusayangi," balasnya sambil mengelus kepalaku lembut.
"Memang masakan calon menantuku ini terasa lezat. Seperti saat tahun baru itu dan juga saat ulang tahunnya Adrian," puji Randy terkagum mengacungkan jempolnya padaku.
"Karena paman sudah menganggapmu seperti anak sendiri, paman ingin sesekali menyuapimu makanan," ujar Randy sambil menyuapiku.
"Terima kasih paman telah menganggapku sebagai anak paman sendiri," balasku ramah.
"Kamu jangan memanggilku paman lagi. Rasanya sangat aneh jadinya kamu boleh memanggilku ayah."
"Baik, Ayah," sahutku girang.
Rasanya aku sangat tidak terbiasa memanggil paman Randy dengan panggilan 'Ayah'. Aku tidak menyangka paman menerimaku sampai menganggapku sebagai anaknya sendiri.
Sedangkan Peter tidak mau kalah dengan Randy. Ia mengambil sesendok makanan mengarahkan ke mulutnya Adrian.
"Aku juga tidak mau kalah. Aku ingin menyuapi makanan untuk calon menantuku yang tampan ini," ujar Peter percaya diri.
"Terima kasih pujiannya, Paman," jawabnya merendah.
"Kamu jangan memanggilku paman lagi. Sejak dulu aku sudah menganggapmu sebagai anak sendiri, panggilku 'Ayah' saja."
"Baik, Ayah."
Sedangkan Maia juga mengambil sesendok makanannya dan menyuapi Adrian.
"Terima kasih, Bu. Kalau ibu yang menyuapiku, makanannya terasa semakin lezat," ucap Adrian dengan senyuman ramah.
"Lalu bagaimana denganku? Kenapa tidak ada yang ingin menyuapiku?" protesku memanyunkan bibirku sedikit kecewa.
Tanpa berpikir panjang, Adrian langsung menyuapiku dan mencium pipiku sekilas.
"Tenang saja, kalau tidak ada yang ingin menyuapimu, ada aku di sini," ucapnya sambil merangkul bahuku mesra.
"Memang kamu yang terbaik, Adrian."
"Oh, jadi ibu bukan yang terbaik," protes Maia dengan tatapan cemburu.
"Sekarang kamu lebih memilih Adrian dibandingkan kedua orang tuamu ini," kata ayah menatapku dengan cemburu juga.
"Hehe ayah dan ibu yang terbaik juga," balasku memeluk kedua orang tuaku dengan hangat.
"Sudah sekarang kita lanjutkan makannya lagi. Setelah ini aku ingin memancing ikan," tutur Randy sambil makan dengan melahap.
"Oh iya benar juga. Aku sampai lupa kita akan bertanding memancing ikannya," balas Peter menepuk jidatnya.
Kami semua hanya bisa tertawa dan melanjutkan makannya lagi. Beberapa menit kemudian, Peter, Maia, dan Randy selesai menyantap makanannya. Lalu Peter dan Randy bersiap-siap mengambil peralatan memancingnya.
Sedangkan aku dari tadi belum selesai menyantap makanannya. Dari tadi Adrian sibuk menyuapiku saja tanpa henti-hentinya membuatku mulai kesal.
"Adrian, sudah hentikan! Kamu juga harus makan!" protesku mencebik kesal.
"Aku dari tadi makan."
"Dari tadi yang makan itu adalah aku bukan kamu!"
"Kamu adalah belahan jiwaku sama saja seperti aku yang makan."
"Mulai lagi deh kamu menggombalku."
"Tadi yang protes ingin disuapi itu siapa, ya? Sekarang malahan giliran disuapi terus malah protes juga, sebenarnya maunya apa sih!" ketusnya mulai geram.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus makan juga!"
Aku berusaha untuk menyuapinya malahan ia lari dariku.
"Jangan kabur, Adrian!" pekikku sambil membangkitkan tubuhku.
"Coba saja tangkap aku sini!"
"Ish dasar, Adrian! Kamu seperti anak kecil saja!"
Kami berdua jadi bermain kejar-kejaran seperti Tom and Jerry. Ia lari cepat sekali membuat tubuhku semakin gerah apalagi di bawah sinar matahari terik ini.
"Sini, Adrian!" Aku menghentikan langkah kakiku sejenak sambil mengibaskan kerah kemejaku.
"Justru kamu yang harus mengejarku, Penny," ledeknya menjulurkan lidahnya padaku.
"Aku sudah mulai capek nih! Hentikan, Adrian! Aku menyerah saja!"
"Yah tidak seru deh kalau kamu capek! Tapi aku akan menangkapmu sekarang."
Ia berlari menghampiriku menyunggingkan senyuman nakalnya lalu memeluk pinggangku erat.
"Haha akhirnya kamu yang tertangkap juga olehku." Adrian menertawaiku puas.
"Nah, karena kamu sudah menghampiriku sekarang habiskan makanannya."
"Tidak mau!" tolaknya keras kepala.
"Ayo, Adrian!" Aku berusaha menyuapinya tapi ia malahan menjauhkan kepalanya dariku.
"Pokoknya tidak mau!" Adrian menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dalam kondisi masih memelukku dengan erat.
Sekarang tubuhnya itu dalam posisi terbaring sehingga posisi tubuhku ini seolah-olah seperti menimpa tubuhnya. Ia malahan masih bisa tersenyum nakal sambil membelai rambutku lembut.
"Adrian, kamu ini keterlaluan! Gara-gara ulahmu itu makanannya jadi tumpah!" ketusku sambil memukuli dadanya pelan.
"Tidak masalah. Yang terpenting aku bisa melihat wajahmu dengan jarak dekat seperti ini."
"Kamu!"
"Kalau protes lagi, aku akan menggelitikmu."
"Kamu seperti anak kecil!"
Ia sungguh menggelitikku membuatku tertawa sampai sakit perut dan wajahku merah merona seperti kepiting rebus.
"Hahaha aduh geli!" Aku tertawa geli sambil mempererat pelukannya.
"Makanya jangan protes!"
"Sudah hentikan! Aku sudah tidak tahan nih!"
"Bodoh amat yang penting aku bahagia."
"Adrian!"
"Ini hukumanmu akibat kalah dariku, Penny. Kamu harus menerimanya."
"Ish aku juga ingin menggelitikmu deh supaya kapok!" Aku menyunggingkan senyuman nakal mulai memainkan jari jemariku.
Melihat tingkahku sekarang, Adrian menelan salivanya berat menghentikan aksinya sejenak.
"Penny, kamu sungguh ingin menggelitikku sekarang?" tanyanya gugup.
"Ini akibat kamu menggelitikku tadi dan juga kamu keras kepala tidak ingin makan!"
Aku menggelitik tubuhnya tanpa memberikan jeda satu detik hingga ia terus tertawa terbahak-bahak sampai napasnya mulai terengah-rengah.
"Penny, cukup hentikan! Aku sudah tidak kuat."
"Baiklah aku akan berhenti sekarang. Kasihan calon suamiku." Aku langsung menghentikan aksiku sejenak.
"Sebagai balasannya, aku akan menggelitikmu lagi."
"Adriiiaannn!"
Karena ia menggelitikku lagi, maka aku juga menggelitiknya sambil tertawa nakal. Kami berdua menjadi saling menggelitik di tengah taman tanpa peduli orang tua kami memandangi kami dari kejauhan.
Sedangkan di sisi lain, Randy dan Peter menatap anak mereka dari kejauhan sambil memancing ikan.
"Aku jarang sekali melihat putraku tertawa bahagia seperti ini," ujar Randy.
"Putriku juga tidak pernah tertawa sampai begini," ucap Peter ikut tersenyum ceria juga.
"Memang mereka berdua sungguh saling mencintai satu sama lain. Aku jadi teringat sewaktu dulu aku berpacaran dengan Desy."
"Seandainya Desy masih hidup, dia pasti sangat bahagia melihat Adrian seperti ini. Apalagi tunangannya adalah wanita cantik dan cerdas."
"Yang terpenting, aku sangat bahagia melihat Adrian sangat disayangi oleh wanita yang dicintainya. Aku tidak usah mencemaskannya lagi."
"Aku sangat bersyukur putriku ini selalu dilindungi dan dicintai oleh putramu. Jadinya aku sangat yakin mereka pasti akan hidup bahagia selamanya."
Sedangkan Maia menghampiri Peter dan Randy yang sedang sibuk berbincang lalu ikut bergabung juga. Maia menatap tingkah pasangan bahagia itu sampai menggelengkan kepalanya.
"Mereka ini sudah dewasa tapi masih seperti anak kecil," ucap Maia.
"Sudah biarkan saja, Maia. Justru mereka ini masih muda jadinya wajar jika bertingkah seperti itu," balas Peter santai sambil menyentuh pundak ibu.
"Untung saja putrimu dan putraku ini memang sudah berjodoh sejak dulu. Seandainya putraku ini bersama dengan wanita lain, aku tidak rela rasanya," ujar Randy tersenyum sendiri.
"Aku ingin mengambil foto mereka berdua. Rasanya sangat langka melihat momen seperti ini." Maia mengambil ponselnya lalu memotret dari kejauhan.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Peter semakin penasaran.
"Hasil fotonya terlihat bagus. Memang mereka ini sungguh seperti pasangan sudah menikah saja," jawab Maia tersenyum sendiri sambil memandangi hasil fotonya.
"Dunia seperti milik mereka berdua saja," lanjut Peter bernapas lega.
"Bahkan orang tuanya sendiri tidak dipedulikan lagi. Lihat saja tuh tingkahnya mereka," tutur Randy dengan cemberut.
"Sabar, Randy. Yang terpenting putramu itu bahagia dengan putriku," kata Peter menepuk pundaknya Randy.
"Iya juga sih, ini semua demi putraku."
"Omong-omong, kalian sudah menangkap berapa ikan?" tanya Maia mengalihkan pembicaraannya.
"Oh iya, bahkan kita sampai lupa untuk memancing lagi akibat melihat anak kita," jawab Peter menepuk jidatnya.
"Setelah selesai, sebaiknya kita pulang saja. Kita biarkan mereka menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi," usul Randy dengan ide cemerlangnya.
"Aku sangat setuju denganmu, Randy. Dengan begini mereka bisa pergi berkencan sepuasnya. Pasti mereka sangat menyukainya."
__ADS_1
"Mereka ingin pulang malam saja tidak masalah," ucap Maia santai.