
Aku bersama anggota timku bergegas ke TKP. Setibanya di TKP, aku langsung memakaikan kalung name tagku pada leherku lalu melintasi police line menghampiri korban yang tidak sadarkan diri sambil memasang sarung tangan karet. Aku memeriksa kondisi tubuh korban dan untungnya korban itu ternyata masih hidup.
"Dia masih hidup. Tim paramedis kapan tiba di sini?" tanyaku kepada salah satu petugas kepolisian yang berjaga di sana.
"Sebentar lagi akan tiba di sini," balas salah satu polisi yang bertugas.
Tak lama kemudian, tim paramedis tiba di sini lalu mengangkat tubuh korban secara perlahan dan membawanya menuju mobil ambulans. Lalu aku bersama anggota timku juga mengikuti tim paramedis ke rumah sakit terdekat.
Kami semua menunggu korban yang sedang dioperasi di ruang operasi. Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani pasien itu keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku penasaran.
"Operasinya berjalan lancar. Untungnya pendarahan otaknya tidak begitu parah jadinya pasien bisa sadar secepatnya."
"Syukurlah," balasku dengan lega.
"Kalau begitu kami akan memindahkan pasien ke ruang inap."
"Pindahkan anak saya ke bangsal VIP," pinta ibu dari pasien itu.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu Anda bisa ikut dengan saya untuk mengisi formulirnya terlebih dahulu."
Beberapa menit kemudian setelah mengisi formulir perawatan inap, pasien tersebut dipindahkan langsung ke bangsal VIP. Ibu dari pasien tersebut terus menangis di hadapan anaknya sambil menyentuh pipi anaknya. Sedangkan aku dan anggota timku hanya bisa berdiam diri saja tidak ikut campur dengan urusan mereka. Lalu seorang pria paruh baya memasuki ruangan ini dan menghampiri anaknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang.
"Anakku ... kenapa dia bisa seperti ini? Aku ayah yang payah tidak bisa melindungi anakku dengan baik," ucap ayah dari pasien itu yang menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah jangan menyalahkan dirimu. Lagi pula kita tidak tahu kenapa anak kita bisa berakhir seperti ini. Kalau sampai ketemu pelaku yang memperlakukan anak kita seperti ini, aku akan membunuhnya sekarang juga," balas ibu dari pasien tersebut dengan tatapan tajam.
Aku merasa tidak enak jadinya melihat situasi seperti ini. Aku mengisyaratkan anggota timku untuk meninggalkan ruangan ini dengan mengibaskan tanganku sambil menatap pintu kamarnya. Setelah semua anggota timku meninggalkan ruangan ini, aku berpamitan dulu dengan kedua orang tua dari pasien ini.
"Permisi, saya pamit dulu, ya. Jika anak Anda sudah sadarkan diri, Anda bisa hubungi saya segera karena anak Anda merupakan satu-satunya saksi dari kejadian ini," pamitku ramah.
"Detektif Penny, saya akan mengandalkan Anda mencari pelaku yang melukai putri saya hingga menjadi seperti ini," ucap ibu dari pasien itu yang memohon kepadaku.
"Tenang saja. Saya pasti akan menangkap pelakunya," balasku dengan percaya diri.
"Saya akan mengandalkan Anda juga," ucap ayah dari pasien tersebut.
"Saya pasti akan menangkap pelakunya. Bapak dan ibu tidak usah khawatir lagi."
"Anda bisa menghubungi saya melalui nomor ini," ucap ibu itu sambil memberikan kartu namanya kepadaku.
"Terima kasih, saya permisi dulu," pamitku lalu meninggalkan kamar.
Kemudian aku bergabung dengan anggota timku yang sedang menungguku di luar kamar itu.
"Ayo, kita kembali ke kantor sekarang!" ajakku.
Kami bergegas ke tempat parkir menaikki mobilnya Nathan lagi. Sesampainya di kantor polisi, kami semua langsung berkumpul di ruang rapat untuk mendiskusikan kasus ini.
"Hari ini sekitar pukul 11 siang, seorang gadis remaja ditemukan terjatuh pingsan di tangga darurat di apartemen tempat tinggalnya dengan cedera kepala cukup serius. Nama gadis itu adalah Fiona Natalia berusia 14 tahun. Saat itu seorang ibu tua sedang menuruni tangga darurat dari atap apartemen tersebut dan menemukan kondisi korban seperti itu," ujarku mulai fokus pada penyelidikan.
"Lalu ibu tua itu ada di mana sekarang?" tanya Fina.
"Sekarang dia sedang perjalanan menuju ke sini. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba di sini," jawab Hans.
"Tapi menurut kalian siapa pelakunya? Atau bisa juga ini kasus bunuh diri?" tanya Nathan mulai berpikir keras hingga dahinya berkerut.
"Menurutku ini bukan kasus bunuh diri. Korban masih terlalu muda untuk melakukan hal seperti itu," sanggah Tania menggelengkan kepalanya cepat.
"Hmm sebaiknya kalian mencari informasi lebih dalam mengenai korban. Mungkin kita bisa mengunjungi sekolahnya untuk menggali informasi lebih dalam lagi. Siapa tahu korban mengalami penekanan dari lingkungan sekolahnya atau bisa saja ada seseorang yang dendam padanya," usulku dengan tatapan serius.
"Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi!" seru Nathan menepuk jidatnya.
"Kita akan pergi ke sana setelah menginterogasi ibu tua itu," tambahku menyelesaikan rapatnya.
"Aduh, leherku terasa pegal! Sepertinya aku harus minum vitamin dulu," keluh Tania memijit lehernya.
"Sini biar aku yang memijit lehermu," tawar Nathan dengan sigap beranjak dari kursinya lalu memijat leher istrinya.
Mendengar vitamin, rasanya aku ingin mendapatkan vitamin lebih banyak dari Adrian walaupun tadi pagi ia sudah memberiku vitamin penyemangat. Aku melihat aksi mereka berdua membuatku menjadi iri. Seandainya Adrian bekerja di kantorku pasti ia akan memijit leherku setiap hari seperti Nathan dan Tania. Aku jadi teringat ketika dua hari yang lalu saat ia pulang kerja.
*****
Dua hari yang lalu...
Di saat aku menunggu Adrian pulang kerja. Setelah menidurkan Victoria, karena masih belum larut malam jadinya aku memutuskan untuk menunggunya pulang. Seiring waktunya berjalan, aku sudah menunggunya sekitar hampir 2 jam tapi ia tidak berkunjung pulang. Sejak aku menikah dengannya, ini baru pertama kalinya ia pulang selarut ini. Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam tapi masih saja sosok suamiku belum menampakkan diri juga.
__ADS_1
Aku semakin mencemaskannya takut terjadi sesuatu yang buruk menimpanya maka dari itu aku memutuskan menghubunginya. Walaupun aku sudah menghubunginya sekitar tiga kali berturut-turut, ia tidak mengangkat panggilan teleponku sama sekali. Di saat itu hatiku sudah mulai terasa tidak enak dan semakin mencemaskannya. Tidak seperti biasanya ia bersikap seperti ini padaku. Aku tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum ia sungguh pulang menemuiku.
Aku terus menunggunya sampai kedua mataku sudah tidak bisa bertahan lagi dan aku terus menguap, rasanya tubuhku tidak bisa bertahan lagi. Secara perlahan aku memejamkan kedua mataku dan akhirnya tertidur pulas di sofa ruang tamu. Teganya ia menelantarkanku sendirian di sofa ruang tamu menunggunya sampai ketiduran.
Di saat aku sedang tertidur, aku merasa ada kehangatan seseorang. Kehangatan yang berbeda dari lainnya membuatku selalu nyaman setiap bersamanya. Aku langsung membuka kedua mataku dan menatap suamiku yang sedang mendekapku dengan hangat. Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 malam. Ia memecahkan rekor pulang paling larut hari ini.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?" tanyaku sedikit kesal dengannya.
"Maaf, Sayang. Ponselku tadi mati karena baterainya habis."
"Lalu kenapa kamu tidak mengisi daya baterai ponselmu menggunakan powerbank?"
"Powerbankku ketinggalan akibat terburu-buru tadi pagi. Kamu pasti sangat mencemaskanku sampai ketiduran di sofa."
"Aku sangat mencemaskanmu! Aku kira sesuatu yang buruk menimpamu! Kamu seperti bukan Adrian yang aku kenal yang selalu mengangkat teleponku setiap saat. Kamu tega sekali menelantarkanku sendirian di sini. Walaupun ada Victoria, tapi kalau tidak ada kehadiranmu di sini percuma saja. Aku merasa seperti diriku sebelum menikah denganmu!" Aku sedikit membentaknya sampai mataku sedikit berkaca-kaca.
"Aku sungguh minta maaf denganmu, Penny. Aku berjanji akan selalu mengangkat teleponmu agar kamu tidak mencemaskanku sampai begini, mulai besok aku tidak akan ceroboh lupa membawa powerbank lagi. Tenang saja hari ini yang terakhir kalinya aku pulang selarut ini. Aku juga tidak suka pulang malam apalagi sampai tubuhku pegal-pegal sekarang. Tidak melihat keluargaku seharian ini juga membuatku merasa kesepian walaupun di kantor aku berkumpul dengan rekan kerjaku. Aku sangat merindukan istri dan anakku yang merupakan dua harta berhargaku paling langka."
Aku menyentuh pipinya lalu mengelusnya dengan lembut sambil menatap wajahnya yang sangat kusut sekarang akibat kelelahan bekerja.
"Aku tidak suka melihat wajahmu berantakan begini. Aku rindu wajahmu yang selalu tampak segar di depan mataku."
"Besok wajahku akan kembali normal lagi menjadi Adrian yang selalu terlihat tampan di depan matamu," lontarnya bernada angkuh sambil mengedipkan mata kirinya padaku.
"Ish mulai deh kamu bertingkah sombong!" Aku mulai tersenyum tipis setelah mendengar ucapannya barusan.
"Bodoh amat. Yang penting tingkahku ini selalu membuatmu bahagia."
"Aku suka melihat tingkahmu imut seperti ini lagi!" seruku kembali girang sambil mencubit pipinya lembut.
Adrian semakin mempererat pelukannya bermanja padaku mengukir senyuman hangatnya.
"Mmm aku rindu bermanja denganmu seperti ini, Sayang," tuturnya manis.
"Sayang, kamu sudah makan? Kamu ingin makan apa? Biar aku memasak makanan untukmu," tawarku sambil mengelus kepalanya pelan.
"Aku sudah makan tadi. Kamu sebaiknya tidur saja, ini sudah malam."
"Tidak mau! Aku ingin memijitmu! Belakangan ini kamu bekerja terus sampai kelelahan, tubuhmu harus dipijit." Aku melepaskan jas kerjanya menaruh pada sandaran sofa.
"Besok kamu harus kembali bekerja. Kalau kamu kurang tidur nanti bisa sakit."
Aku menarik tangannya menuju kamar lalu menghempaskan tubuhnya terjatuh ke ranjang. Aku membalikkan tubuhnya menjadi posisi tengkurap untuk memijat punggungnya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanyanya gugup menelan salivanya berat.
"Aku ingin memijitmu. Kamu diam saja."
Aku melakukan pemanasan pada jari jemariku ini lalu memulai memijit punggungnya.
"Bagaimana? Apakah tubuhmu masih terasa pegal-pegal?" tanyaku sambil memijitnya pelan.
"Mmm sudah lebih baik rasanya. Ayo jangan berhenti!"
"Baiklah aku akan memijitmu terus sampai kamu puas."
Tiba-tiba Adrian membalikkan tubuhnya menghadapku dan menarik tanganku sehingga kepalaku ini terjatuh di atas dadanya yang bidang.
"Kamu gimana sih! Tadi suruhku jangan berhenti, sekarang malahan kamu membuatku berhenti!"
"Tidak usah lagi. Nanti jari-jarimu yang mungil pegal jadinya tidak bisa bekerja."
"Tapi tubuhmu itu--"
"Sudah tidak pegal."
"Kamu tidak berbohong, 'kan?"
"Tenang aku tidak berbohong."
Saat aku ingin melepas dekapannya, aku bisa merasakan detak jantungnya terus berdebar kencang sehingga aku memutuskan untuk bermanja dengannya lagi sedikit lebih lama. Sorot matanya terfokus padaku sambil mengelus pipiku lembut.
"Sayang, aku tahu hatimu sekarang sedang berdebar," ungkapku manis padanya.
"Kalau kamu mengetahuinya, biarkan aku melihatmu seperti ini lebih lama lagi."
"Tapi ini sudah malam, sebaiknya--"
__ADS_1
Aku belum selesai melanjutkan perkataanku, ia menghujani kecupan manisnya pada pipiku.
"Sayang, sebenarnya aku sudah mengantuk tadi. Tapi karena melihat senyuman istimewamu, kini rasa kantukku mulai memudar."
"Ish tapi kamu harus tidur!"
"Tidak mau!" tolaknya sambil menjulurkan lidahnya padaku.
"Kalau aku memperlakukanmu begini, apakah kamu ingin tidur?"
Aku menghujani kecupan manis pada pipinya hingga membuat senyumannya semakin mengambang. Ia menyunggingkan senyuman nakal mempererat pelukannya sambil berguling-guling di atas ranjang dengan gelak tawa bahagianya.
"Tentu saja aku semakin ingin bermain denganmu, Sayang," lontarnya santai.
"Iih kamu nakal sekali!"
"Kamu tidak suka bermain bersamaku?"
"Bukan begitu. Nanti kamu bisa sakit kalau kurang tidur."
Spontan Adrian membaringkan tubuhku pada posisi tidurku semula lalu menyelimutiku hangat sambil mengecup keningku manis.
"Baiklah aku akan menurutimu. Besok kita akan bermain lagi, aku berjanji besok akan pulang lebih awal demi bisa menghabiskan waktu bersamamu lebih lama lagi."
*****
Kembali lagi di saat aku iri melihat Nathan dan Tania melakukan itu di hadapanku. Aku juga sesekali ingin dipijit Adrian, bukan aku yang terus memijitnya hampir setiap malam. Karena sekarang jam makan siang, aku memutuskan untuk menghubunginya. Walaupun vitamin penyemangatku bekerja di tempat yang agak jauh dari kantorku, tapi jarak tidak pernah memisahkan kami berdua. Aku yakin saat ini ia pasti sedang tidak sibuk. Aku ingin mendengar suaranya agar aku bisa bersemangat untuk bekerja.
"Halo sayang, kamu sedang sibuk?" tanyaku lewat telepon.
"Aku sedang makan siang nih. Kau pasti merindukanku, ya."
"Iya, aku sangat merindukanmu. Kamu sudah minum teh hijau buatanku tadi pagi?"
"Aku barusan meminumnya. Rasanya enak sekali, terima kasih, Sayang."
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Seandainya saja sekarang kamu berada di sisiku. Aku pasti akan lebih bersemangat untuk bekerja."
"Kamu kenapa? Apakah telah terjadi sesuatu padamu?"
"Aku barusan menangani kasus yang lumayan rumit, rasanya kepalaku mulai sakit lagi. Aku sebenarnya membutuhkan vitamin penyemangat saat ini untuk membangkitkan semangat kerjaku."
"Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu sepanjang waktu."
"Tidak apa-apa. Lagi pula ada Adrian yang selalu melekat di leherku untuk menemaniku sepanjang waktu," ucapku sambil menyentuh kalung pemberiannya waktu itu.
"Aku jadi cemburu sekarang. Nasib Adrian itu lebih baik daripada aku. Adrian yang itu selalu berada di sisimu setiap saat."
"Ish tidak usah begitu. Masa cemburu sama sebuah kalung sih. Adrian Christopher yang asli selalu tetap nomor satu di hatiku."
"Penny Patterson juga akan selalu menjadi nomor satu di pikiran dan hatiku. Aku sangat menyayangimu."
"Mmm kamu membuatku tersenyum terus sekarang." Kini senyumanku terus mengambang mendengar gombalannya dari tadi.
"Namun sangat disayangkan aku tidak bisa melihat senyuman indahmu sekarang."
"Tidak apa-apa. Walaupun kamu tidak bisa melihatnya langsung, tapi sekarang kamu pasti sedang membayangkan senyumanku sampai hatimu berbunga."
"Memang instingmu sangat kuat padaku, Sayang. Aku memang sedang membayangkanmu sekarang."
"Penny, ibu tua itu sudah tiba di sini," ucap Fina memotong pembicaraan kami berdua.
"Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita lagi, ya. Aku harus menginterogasi dulu. Jangan pulang larut malam lagi, kamu harus beristirahat yang cukup. Aku menyayangimu, Adrian."
"Baiklah aku pasti akan menurutimu. Tenang kalau aku tidak sibuk, aku pasti akan pulang lebih awal agar bisa melihat wajahmu dan juga Victoria. Semangat bekerja ya, aku sangat menyayangimu, Penny."
"Aku tutup teleponnya, ya. Kamu juga harus selalu bersemangat kerja," ucapku mengakhiri pembicaraan kami berdua lalu menutup panggilan teleponnya.
Sekarang kembali lagi bekerja dengan semangat. Aku bersama anggota timku keluar dari ruang rapat untuk menghampiri ibu tua itu yang sudah menunggu dari tadi di luar ruang rapat.
"Apakah Anda adalah pelapor mengenai kasus ini?" tanyaku kepada ibu tua itu.
"Iya benar," balas ibu tua itu.
"Perkenalkan saya Detektif Penny. Saya yang bertugas menangani kasus ini," ucapku dengan ramah dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
"Senang berkenalan dengan Anda. Saya Teresa," balas Bu Teresa kemudian berjabat tangan denganku.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari kita masuk ke ruang interogasi sekarang!"