Good Partner

Good Partner
Part 32 - Pengejaran


__ADS_3

Aku memandangi jam tanganku melihat waktu kunjunganku tersisa tiga menit lagi. Dalam waktu tiga menit berharga, paman Randy ingin mengungkapkan kejahatan sebenarnya yang dilakukan Pak Colin di masa lalu.


"Aku langsung bicara pada intinya saja untuk menghemat waktu. Colin tidak hanya melakukan penggelapan dana perusahaan saja, tapi juga melakukan pencucian uang. Waktu itu aku dan Peter menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan perusahaan. Aku berusaha membujuk Colin. Tapi dia tetap membantahnya dan marah padaku dan Peter. Secara terpaksa, aku dan Peter diam-diam menyelidiki kasus ini berencana akan melaporkannya pada pihak kepolisian. Namun rencana kami tidak berhasil," terang paman Randy menjelaskan semuanya padaku dan Adrian secara panjang lebar.


"Maaf, waktu kunjungan telah habis. Silakan berkunjung di lain waktu," ucap sipir itu akan mengantarkan paman Randy kembali ke ruang tahanannya.


"Satu hal lagi yang sangat penting harus kalian ketahui. Colin sepertinya menyembunyikan sesuatu penting di suatu tempat karena terakhir kali aku melihat gerak-geriknya sangat mencurigakan. Sepertinya dia menyembunyikan bukti kejahatannya selama ini, tapi sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia sudah memindahkan tempat persembunyiannya atau tidak. Kalian berdua harus segera menemukan bukti itu dan mengungkapkan semua kebenaran dibalik kasus ini." Paman Randy berpesan pada kami untuk terakhir kalinya, lalu meninggalkan ruangan ini.


Aku dan Adrian berjalan menuju tempat parkir, masih memikirkan maksud paman Randy terutama penjelasan terakhirnya tadi. Aku masih penasaran apa yang disembunyikan Pak Colin selama ini diam-diam dan tempat persembunyian rahasianya ada di mana. Apakah mungkin di restorannya ada ruang rahasia?


Saat aku ingin memasuki mobilku, Adrian menggenggam tanganku. "Tunggu sebentar, Penny!"


"Ada apa, Adrian?"


"Omong-omong, maksud dari kartu cadangan itu adalah ayahmu, ya," tuturnya tersenyum cerdas padaku.


"Iya. Sekarang kamu sudah puas, 'kan?" kataku dengan kesal mengingat Adrian mengejekku sebelumnya.


"Iya, aku sudah puas sekarang. Tapi kamu tidak perlu kesal padaku juga." Adrian memanyunkan bibirnya.


"Aku tidak kesal, Adrian," sahutku lembut tersenyum manis padanya.


Tatapan Adrian semakin berbinar ketika memandangi senyumanku terlihat manis. "Kamu menyebalkan tapi gemas juga."


Jantungku berdebar kencang dalam sekejap. Tanganku terus meremas lengan kemejaku berusaha mengendalikan detak jantungku. "Bisakah kamu tidak menyindirku terus?"


Adrian tertawa usil mencubit pipiku lembut. "Aku tidak menyindir. Aku berbicara sesuai fakta karena kamu sengaja mempermainkanku tadi."


Aku mengelus pipiku bekas dicubitnya. "Adriiann!"


Tangan kanannya perlahan mengelus pipiku bekas dicubit memasang pandangan penuh makna, membuat mataku tidak berkedip. Sebenarnya apa yang merasuki pikirannya yang membuatnya bertingkah manis dari tadi. Apakah karena stress memikirkan kasus? Atau ia ingin terlihat manis di mataku?


"Aku mau balik ke kantor dulu, sampai jumpa," pamitnya sambil memasuki mobilnya.


Aku memasuki mobilku lalu melajukan dengan kecepatan rata-rata kembali ke kantor.


Ketika aku melangkah memasuki kantor, pandanganku terfokus pada meja kerja Pak John, aku tidak melihat kehadiran Pak John di kantor apalagi meja kerjanya masih bersih seperti sebelumnya. Padahal ini sudah dua minggu berjalan sejak pengajuan cutinya. Aku takut Pak John melarikan diri tanpa sepengetahuanku. Aku memanggil Tania dan Nathan untuk segera berkumpul di ruang rapat.


Di dalam ruang rapat, aku memposisikan tubuhku berdiri di tengah ruangan memulai rapatnya.

__ADS_1


"Ada kabar dari Pak John? Aku tadi melihat tidak ada kehadirannya di kantor," tanyaku pada mereka berdua.


"Selama ini aku tidak pernah mendengar kabar darinya lagi. Sepertinya dia masih bersembunyi di dalam rumahnya sampai sekarang," jawab Tania mendesah pasrah.


"Jadi kita harus melakukan apa terhadap Pak John?" tanya Nathan padaku.


"Jika dia masih di rumahnya, kita harus menangkapnya sekarang dengan paksa sebelum dia melakukan tindakan lain yang berbahaya," sahutku mengangkat alisku.


Bola mqta Nathan terbelalak. "Sekarang kita menangkapnya? Mana mungkin bisa? Komisaris polisi pasti tidak akan memercayai kita, apalagi kita tidak punya surat penangkapan resmi."


"Sebenarnya waktu itu, aku merekam pembicaraan mereka. Lalu, foto waktu itu dan buku rekeningnya sudah pasti bisa dijadikan bukti yang cukup kuat untuk menangkapnya," jawabku tersenyum cerdas sambil memperlihatkan alat rekamannya pada mereka berdua.


"Wah, kamu memang cerdas sekali, Penny!" puji Tania terkagum mengacungkan jempolnya padaku.


Setelah selesai mengajukan surat penangkapan, akhirnya pembuatan surat itu disetujui komisaris polisi. Aku dan rekan timku langsung mengunjungi rumah Pak John untuk menangkapnya langsung.


Sekarang di depan rumah Pak John, dipenuhi kerumunan polisi sehingga ia tidak bisa melarikan diri ke mana pun.


Ding...dong...


Aku sudah menekan tombol bel rumah Pak John namun tidak ada respons sama sekali.


Aku sudah berteriak berulang kali, tetap saja masih tidak ada respons darinya. Firasatku mulai tidak enak takut ia sudah melarikan diri lebih awal.


"Jika kamu tidak menjawab, maka saya akan mendobrak pintunya dengan paksa," ucapku sambil membuka pintunya dengan paksa, dibantu para petugas kepolisian.


Setelah pintunya terbuka, aku langsung memasuki rumahnya dan ternyata dugaanku benar. Pak John sudah melarikan dari rumahnya. Aku melihat jendela bagian belakang rumahnya terbuka lebar, Dengan sigap aku melangkah ke sana dan melihat Pak John yang sedang berlari.


"CEPAT KEJAR DIA SEKARANG!" pintaku kepada aparat polisi untuk membantuku mengejar Pak John.


Aku langsung berlari menuju mobilku, melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Tania dan Nathan juga menyusulku mengejar Pak John tepat di belakang mobilku. Pak John mengambil salah satu sepeda motor milik kurir yang tergeletak di jalan dan dalam kondisi menyala kemudian membawanya kabur.


Spontan aku menambah kecepatan mobilku untuk mengejarnya. Di tengah pengejaran, Pak John mengendarai sepeda motor itu dengan kebut dan menerobos lampu merah. Secara terpaksa, aku harus menerobos lampu merah itu agar tidak kehilangannya padahal aku tidak bermaksud melanggar.


Tin..tin..tin..


Aku sudah mulai kesal membunyikan klakson mobilku. Lalu tiba-tiba ada mobil lain yang menyelip di depan mobilku sehingga aku sulit melihat keberadaan Pak John. Karena mobil ini menghalangi jalanku, aku harus membunyikan klakson mobil lagi supaya mobil itu minggir dari hadapanku.


Tin..tin..tin..

__ADS_1


Aku membunyikan klaksonku berulang kali dan akhirnya mobil itu tidak menghalangi jalanku lagi. Aku langsung menginjak gas lagi untuk menambah kecepatan dan akhirnya aku berhasil mengejar Pak John. Pak John melihatku yang berhasil mengejarnya, sekarang ia panik dan menambah kecepatannya. Kini kesabaranku sudah melewati batas dan akhirnya aku mengambil pistolku mengarahkannya keluar dari mobilku menembak salah satu ban sepeda motor.


DOORR


Aku menembak ban sepeda motor itu sebanyak dua kali dan akhirnya bannya kempis juga. Kemudian Pak John berhenti di bahu jalan dan meninggalkan sepeda motor, lalu berlari lagi. Dengan sigap aku menginjak gas lagi dan memberhentikan mobilku di hadapannya menghalangi jalannya. Tania dan Nathan juga mengepung Pak John sehingga ia tidak bisa kabur ke mana pun lagi. Aku keluar dari mobilku berlagak sombong sambil menodongkan pistolku ke arahnya.


"Kamu sudah tidak bisa kabur ke mana pun lagi, sebaiknya kamu menyerah saja!" bentakku.


"Benar-benar kamu orang yang pantang menyerah, Penny. Aku menyerah," balas Pak John kemudian mengangkat kedua tangannya.


Aku memborgol tangan Pak John. "Kamu ditangkap karena telah bersekongkol dengan pelaku kejahatan dibalik semua insiden ini dan menerima suap dari pelaku. Harap mengikuti saya ke kantor polisi sekarang juga!"


Setibanya di kantor polisi, aku langsung menginterogasi Pak John. Sekarang perannya terbalik, dulu ia menginterogasi tersangka sedangkan sekarang ia diinterogasi sebagai tersangka. Sebelum memulai interogasinya, aku menyusun foto-foto Pak John menerima suap dari Pak Colin, buku rekening Pak John, dan rekaman pembicaraan mereka.


"Mari kita mulai interogasinya," ucapku mulai fokus pada interogasinya.


"Kamu benar-benar seperti penguntit," sindir Pak John saat melihat foto-fotonya tersusun di meja.


"Sejak kapan kamu bekerja sama dengan Pak Colin? Setahun yang lalu? Atau mungkin lima belas tahun yang lalu?"


Alis Pak John terangkat sebelah. "Pak Colin ... sepertinya saya tidak pernah mendengar namanya."


"Kalau begitu, kenapa kamu bisa bertemu dengannya seperti di foto ini?" tanyaku lagi sambil menunjukkan fotonya.


"Itu foto kurang jelas karena diambil dari jarak jauh. Mungkin kamu keliru."


Karena ia menyangkal perbuatannya, aku menyalakan alat rekamannya yang merekam pembicaraan mereka. Aku bisa menebak isi pikiran Pak John dilihat dari bahasa tubuhnya saat mendengat rekaman itu. Pasti ia ingin mencari alasan lain lagi untuk membela dirinya.


"Merekam pembicaraan orang itu merupakan tindakan ilegal. Lagi pula bukti rekaman ilegal ini tidak bisa dibuktikan di pengadilan," tegas Pak John berlagak benar.


"Baiklah, saya menganggap rekaman ini tidak bisa dibuktikan di pengadilan. Tapi, kenapa kamu tiba-tiba kabur dari rumah saat polisi mengepung di luar rumah? Lalu, kamu juga mencuri sepeda motor kurir untuk menghindari saya. Oh ya, satu hal lagi tindakan kriminal yang telah kamu lakukan yaitu pencurian. Hukumanmu akan bertambah banyak nantinya," ucapku sedikit mengancamnya dengan senyuman licik.


Saat aku mengatakan itu, raut wajah Pak John langsung berubah drastis dan pucat. Sekarang ia tidak akan bisa menyangkalnya lagi dan menyerah begitu saja.


"Katakan sekarang, sebenarnya apa yang kamu inginkan! Saya akan melakukan apa pun sesuai yang kamu perintahkan," celetuk Pak John kesal dan menyerah.


"Kamu pasti tahu Pak Colin menyembunyikan sesuatu yang sangat penting. Benda itu ada di mana?"


"Itu ...."

__ADS_1


__ADS_2