Good Partner

Good Partner
Part 28 - Keberadaan Ayah


__ADS_3

Aku dan kedua temanku langsung mengunjungi Bank Venice yaitu tempat di mana Pak John melakukan transfer uang ke nomor rekening misterius. Aku meminta salah satu pegawai di sana mengidentifikasi nomor rekening itu. Sebelum itu aku memberitahu identitasku dengan name tag agar pegawai itu memercayaiku membagi informasi penting.


"Apakah Bapak tahu pemilik nomor rekening ini?" tanyaku kepada salah satu karyawan Bank.


"Pemilik nomor rekening ini atas nama Yulia Emerald. Beliau merupakan salah satu reporter di stasiun TV BYZ."


"Baik, Pak. Terima kasih atas kerja samanya."


Aku langsung menghampiri semua temanku sedang duduk di bangku pengunjung.


"Bagaimana jadinya? Siapa pemilik nomor rekening itu?" tanya Nathan penasaran.


"Pemiliknya itu adalah Reporter Yulia Emerald. Tapi kenapa Pak John memberikan sejumlah uang itu kepada seorang reporter?" Aku semakin bingung sambil menggarukkan kepalaku kesal.


"Mungkin reporter itu ada hubungannya dengan ayahmu? Menurut aku sih reporter itu bisa juga sudah bekerja sama sejak awal dan menutupi kasus ayahmu yang menghilang itu," papar Tania berpikir keras namun sedikit ragu menyimpulkannya.


"Coba aku tanya karyawan Bank itu lagi untuk mendapatkan nomor telepon beserta alamatnya!"


Aku kembali menghampiri karyawan itu lagi. "Maaf, saya mau bertanya lagi, apakah Bapak mempunyai nomor telepon beserta alamatnya?"


"Boleh saja. Ini kartu namanya. Mungkin ini sangat berguna untuk Anda," jawab karyawan itu memberikan kartu nama Reporter Yulia.


"Terima kasih atas kerja samanya."


Aku berlari menghampiri kedua temanku lagi tersenyum cerdas.


"Apakah kamu mendapatkannya?" tanya Tania.


"Ini kartu namanya," jawabku sambil memperlihatkan kartu nama itu.


"Kita harus menemuinya sekarang juga!" ajak Tania bergegas berlari menuju tempat parkir diikuti olehku dan Nathan dari belakang.


Setibanya di stasiun TV BYZ, aku dan rekan timku mencari Reporter Yulia di setiap area sana tanpa melewatkan satu titik. Namun bagiku mustahil mencarinya seperti ini.


Aku memutuskan bertanya kepada salah satu karyawan di sana mengenai keberadaan Reporter Yulia sekarang. "Permisi, apakah Reporter Yulia Emerald sedang berada di kantor?"


"Reporter Yulia sedang duduk di sana yang memakai jaket kulit berwarna cokelat," jawab karyawan itu menunjuk sosok Reporter Yulia sedang memainkan ponselnya.


"Terima kasih atas kerja samanya," ucapku lalu berjalan menghampiri Reporter Yulia.


Aku mengisyaratkan Tania dan Nathan dengan menggerakkan jari telunjukku untuk mengikutiku supaya tidak terlalu menarik perhatian pegawai di sana. Aku melangkahkan kakiku menghampiri Reporter Yulia. Jika dilihat dari kejauhan, ternyata aku sering melihatnya di kantor polisi mewawancarai saksi mata maupun tersangka.


"Permisi, boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku tersenyum ramah padanya.


Dengan sigap Reporter Yulia menaruh ponselnya ke dalam saku jaketnya lalu tatapan matanya langsung tertuju padaku. "Maaf kamu siapa?"


"Saya Detektif Penny, mohon kerja samanya untuk meluangkan waktumu sejenak. Ada beberapa hal yang harus saya perbincangkan padamu," balasku memperlihatkan name tag padanya.


Reporter Yulia mengamati sekelilingnya seperti alat scanner lalu beralih padaku lagi. "Boleh saja. Tapi sebaiknya kita jangan membicarakannya di sini. Bagaimana kalau kita membicarakannya di Kafe? Ada satu Kafe terletak di lantai dasar."


Reporter Yulia beranjak dari kursi menuntunku menuju Kafe, diikuti Nathan dan Tania dari belakang.


Kami berdua menduduki tempat duduk terletak di tengah Kafe sedangkan Nathan dan Tania mengawasi perbincanganku dengan Reporter Yulia dari kejauhan.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan kepada saya?" tanya Reporter Yulia sambil minum kopi.

__ADS_1


"Apakah mungkin kamu mengenal orang ini?" selidikku sambil memperlihatkan foto Pak Colin.


"Aku tidak mengenal orang ini sama sekali," jawab Reporter Yulia berterus terang padaku.


"Lalu, kamu mengenal orang ini?" tanyaku lagi sambil memperlihatkan foto Pak John.


Raut wajahnya berubah dan ia memalingkan matanya dariku. Tangannya gemetar saat mengangkat cangkir kopinya dan wajahnya mulai memucat. Sedangkan aku mengulas senyuman licikku.


"Berarti kamu mengenalnya karena wajahmu terlihat sangat gugup dan tidak berani menjawabnya saat melihat foto orang ini," ucapku dengan percaya diri dan menyimpan foto Pak John ke dalam saku jaketku.


"Katakan yang sebenarnya! Apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Reporter Yulia merinding ketakutan.


"Kasus menghilangnya ayah saya yang bernama Peter Patterson sekitar 15 tahun yang lalu, apakah kamu sungguh menulis artikel itu dan menutupi faktanya?"


"Saya sungguh tidak tahu apa-apa. Saya hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh John," jawab Reporter Yulia gugup.


"Apakah kamu yakin? Lalu, kenapa Pak John selama ini mentransfer uang yang sangat banyak ke nomor rekeningmu? Apakah kamu berbuat sesuatu lain yang kamu sembunyikan selama ini?"


"Saya ...."


Reporter Yulia terdiam sejenak bingung ingin menjawabku seperti apa.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin memberikan jawabannya hari ini. Besok kita akan bertemu lagi. Bagiku kamu merupakan salah satu reporter yang sangat andal tapi menjawab pertanyaan dariku saja tidak bisa," sindirku kesal sambil beranjak dari kursi.


"Saya yang membiayai rumah sakit ayahmu," ungkap Reporter Yulia secara tiba-tiba.


Aku terdiam sejenak lalu menolehkan kepalaku menghadapnya melihat raut wajah reporter yang sangat tulus padaku. "Ayah saya berada di rumah sakit?"


"Selama 15 tahun ini, saya yang membiayai rumah sakitnya. Maksud saya Pak John yang memberikan sejumlah uang itu pada saya untuk membiayai rumah sakit ayahmu."


"Rumah sakit terpencil di Korea Selatan. Nama rumah sakitnya adalah Yeongdong Hospital."


Tubuhku semakin lemas mendengar satu kebenaran yang selama ini aku tidak ketahui. Berkat reporter satu ini, aku jadi bisa menemukan ayah lebih mudah.


"Terima kasih telah berkata jujur padaku. Terima kasih juga atas kerjasamanya dan waktunya. Silakan kembali bekerja," ujarku datar sambil melangkahkan kakiku lemas meninggalkan Kafe.


Tania dan Nathan juga menyusulku menuju tempat parkir. Saat ini pikiranku sangat kacau hingga Tania melihatku dengan cemas.


"Kenapa wajahmu seperti itu, Penny? Apakah Reporter Yulia mengatakan hal yang buruk kepadamu? Tadi aku dan Nathan duduknya agak berjauhan denganmu jadi tidak mendengarnya dengan jelas," tanya Tania menyentuh pundakku.


Aku merutukki diriku sendiri hingga air mataku mulai mengalir dari kelopak mataku. "Selama 15 tahun ini, ayahku dirawat di rumah sakit. Aku ini memang payah. Anaknya sendiri bahkan tidak mengetahui keberadaan ayahnya sendiri."


Tania memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku. "Jangan menangis, Penny. Berarti ini kabar baik untukmu bahwa sekarang kamu pasti bisa bertemu dengan ayahmu."


"Sekarang bukan waktunya menangis, Penny. Kamu harus segera membawa ayahmu pulang dengan selamat," tambah Nathan menepuk punggungku juga.


"Kamu harus pesan tiket pesawat dulu untuk ke sana. Mungkin kamu juga harus mendaftar cuti sekitar seminggu."


Aku menyeka air mataku dengan lengan jaketku, lalu mengeluarkan ponselku. "Baiklah, aku akan memesan tiketnya sekarang lewat aplikasi."


Aku menggeser layar ponselku menelusuri sebuah aplikasi pemesanan tiket pesawat. Lalu, aku mencari tiket penerbangan besok pagi.


"Apakah masih ada tiket pesawat ke Korea?" tanya Tania sambil menatap layar ponselku.


"Ada nih. Penerbangan pukul 8 pagi," jawabku dengan semangat memesan tiketnya langsung.

__ADS_1


"Untung saja ada. Berarti kamu tinggal mengajukan cuti selama seminggu di kantor," lanjut Tania.


Setibanya di kantor, aku mengajukan cutiku selama seminggu. Ini pertama kalinya aku mengajukan cuti padahal biasanya aku tidak pernah cuti bahkan satu hari pun. Sebelum pulang ke rumahku, aku menghubungi Adrian dulu untuk bertemu denganku.


"Halo Penny, ada apa kamu meneleponku?"


"Adrian, kamu sibuk sekarang?"


"Aku tidak sibuk. Sekarang aku ingin pulang."


"Bagaimana kalau kita bertemu di taman kota sekarang? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."


"Boleh nih. Aku akan ke sana sekarang."


"Sampai bertemu nanti, Adrian."


Aku menutup panggilan teleponnya bergegas melangkah keluar dari kantor.


Setibanya di taman kota, aku menduduki sebuah bangku kosong sambil melemaskan kakiku menunggu kedatangannya. Tidak sampai dua menit, Adrian berjalan cepat menghampiriku lalu duduk di sebelahku. Aku menyambutnya dengan menampakkan senyuman ceria.


"Penny, tumben sekali kamu mengajakku bertemu di taman kota."


"Sesekali kita berbincang di sini sambil menghirup udara segar."


"Omong-omong, kamu ingin membicarakan apa denganku? Sepertinya terjadi sesuatu yang baik padamu."


Aku mengatupkan bibir sejenak. "Ayahku ternyata masih hidup."


Mendengar perkataanku barusan, Adrian ikut bahagia bermain mengayunkan tangan bersamaku. "Benarkah? Ayahmu sekarang ada di mana?"


"Ayahku sekarang dirawat di Yeongdong Hospital di Korea Selatan. Penerbanganku besok pagi."


Raut wajahnya kembali lesu ketika mendengarku harus pergi besok. "Maafkan aku. Besok pagi aku tidak bisa menemanimu di bandara karena aku harus bekerja."


"Tidak apa-apa. Kamu harus mementingkan pekerjaanmu dibandingkan mengunjungiku. Lagi pula aku hanya pergi seminggu."


Adrian berinisiatif melepaskan jas kerjanya menyelimuti tubuhku dan memelukku dengan hangat. "Kalau begitu aku hanya bisa mendoakanmu supaya kamu bisa bertemu dengan ayahmu tanpa adanya halangan. Apalagi kamu sudah tidak bertemu ayahmu selama 15 tahun, pasti kamu sangat merindukannya sekarang."


"Terima kasih, Adrian. Aku tidak sabar bertemu ayahku besok."


Sebelum berpisah, aku menikmati kehangatan bermanja dengannya dalam durasi lama. Entah kenapa aku semakin ingin egois ingin bersamanya terus.


Malam harinya, aku mengemas barang kebutuhanku yang akan di bawa ke sana.


Tiba-tiba, ibu memasuki ke kamarku dan melihatku bingung. "Penny, kenapa kamu mengemas barangmu? Kamu ingin bepergian jauh?"


Aku bingung ingin menjawabnya seperti apa. Mustahil aku berkata jujur, nanti ibu pasti akan pingsan mendengarnya. Terpaksa aku harus berbohong. "Aku ada urusan di luar negeri. Ini berhubungan dengan kasus yang sedang kuselidiki sekarang."


"Kamu harus membawa banyak mantel, nanti kamu bisa kedinginan. Sepertinya sekarang di sana sedang musim gugur. Lalu, obat-obatan lainnya juga harus kamu bawa dengan lengkap."


"Iya Bu, tenang sudah kubawa semuanya dengan lengkap. Besok aku harus bangun sekitar pukul 6 pagi, aku memasak sarapan untuk diriku saja. Ibu tidak usah bangun terlalu pagi."


"Baiklah, jangan tidur terlalu larut malam. Nanti kamu bisa bangun kesiangan lagi," pesan ibu sambil meninggalkan kamarku.


Setelah aku membereskan keperluanku yang akan dibawa, aku segera mematikan lampu kamarku dan membaringkan tubuhku di atas ranjang. Aku harus mengisi energiku supaya aku bisa mencari ayah tanpa mengenal lelah.

__ADS_1


__ADS_2