Good Partner

Good Partner
Part 73 - Tabrak Lari


__ADS_3

Josh berada di rumahnya sedang menatap dua gadis itu dalam kondisi masih koma, sekaligus memberikan makanan dengan cara memasukkan makanan itu dengan menyuntikkannya ke dalam selang infus. Ia menatap salah satu gadis itu mengelus pipinya dengan senyuman psikopat.


Tiba-tiba, asisten pribadinya memasuki ruangan itu melaporkan sesuatu kepadanya.


"Ada apa lagi?" hardik Josh.


"Dua detektif wanita itu mengunjungi rumah sakit bertemu Dokter Emily," jawab asisten pribadi itu panik.


Josh melempar semua barang di meja. "Apa! Bagaimana bisa mereka tahu aku sedang berkunjung di sana?!"


"Tadi aku mengintai mereka berdua diam-diam. Mereka bermaksud mencari tahu penyakit Tuan yang sedang alami."


"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Dokter Emily harus dihabis sekarang juga untuk membungkam mulutnya!" ketus Josh sambil melepaskan lilitan dasi di lehernya, membuang ke lantai.


"Jadi sekarang kita harus bagaimana?"


"Bunuh Dokter Emily sekarang juga!" pinta Josh dengan lantang.


Respons asisten pribadi itu gugup. "Apa? Tapi nanti Tuan tidak bisa berkonsultasi dengannya lagi."


"Aku lebih memilih tidak bisa berkonsultasi dengannya daripada kejahatan yang telah aku perbuat terungkap! Kamu harus menyamarkan pembunuhan ini sebagai kecelakaan tabrak lari!"


"Tapi bagaimana caranya?"


"PIKIRKAN SENDIRI CARANYA UNTUK MENYAMARKAN ITU BUKAN KASUS PEMBUNUHAN TAPI KASUS TABRAK LARI!" teriak Josh membanting mejanya.


"Baik Tuan, akan aku laksanakan perintahnya."


Asisten pribadi itu bergegas keluar dari ruangan, hendak mengunjungi suatu tempat. Ia mengambil sebuah truk yang sudah tidak terpakai lagi dan mengganti plat nomor kendaraan itu agar tidak tertangkap basah.


Sedangkan Dokter Emily sedang bersiap-siap pulang ke rumahnya membawa tas kerja keluar dari rumah sakit. Biasanya ia menaiki bus umum sehingga terpaksa ia harus berjalan kaki menuju halte bus.


Jalan raya itu sudah mulai sepi karena sudah larut malam. Ia menyeberangi jalan menuju halte dengan zebra cross. Tiba-tiba saat ia sedang menyeberangi jalan, ada sebuah truk menabraknya dan menghantamnya sampai terhempas ke udara.


BRUKKK


Tubuh Dokter Emily terlempar dan terjatuh ke jalan dengan kuat hingga banyak darah berlumuran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di saat larut malam begini, tidak ada orang yang menyaksikan kejadian itu.


Aku sibuk menyelidiki kasus lagi dengan Adrian di ruang kerjanya. Aku mendiskusikan dengannya mengenai penyakit yang diidap Josh dan juga botol obat. Tiba-tiba ada notifikasi pesan yang masuk di email.


"Ada pesan yang masuk," ujarku sambil membuka email.


"Pesan dari siapa? Kenapa ada orang mengirimkan pesan di saat larut malam begini?"


"Ini dari Dokter Emily."


Aku membuka pesan yang dikirimkan dan memperlihatkan pada Adrian. "Isinya catatan medis."


"Dengan ini, kita punya bukti akurat untuk membuktikan bahwa Josh mengidap penyakit gangguan jiwa," papar Adrian dengan tatapan fokus.


drrt...drrt...


Ponselnya Adrian tiba-tiba berbunyi di tengah perbincangan kami. Ia mengambil ponselnya di meja dan mengangkatnya langsung.


"Halo, ada apa ini?"


"Ada seorang dokter wanita ditemukan tewas di dekat halte bus rumah sakit. Nama dokter itu Emily Vilia, jika dilihat dari kartu identitasnya."


"Baiklah, saya ke sana sekarang." Adrian langsung menutup telepon dengan panik.

__ADS_1


Firasatku mulai tidak enak melihat raut wajah Adrian sangat pucat. "Ada apa?"


"Dokter Emily ditemukan tewas di dekat halte bus rumah sakit."


Aku membelalakan mataku, dugaanku benar. "Apa? Apakah dia dibunuh?"


"Aku juga tidak tahu pasti. Sekarang kita harus bergegas ke sana." Adrian mengambil kunci mobilnya dengan sigap.


Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di TKP. Aku berlari menghampiri tubuh Dokter Emily tergeletak di tengah jalan sudah tidak berdaya. Menyeramkan melihat tubuhnya dipenuhi darah, sedangkan tadi siang masih terlihat sehat.


Aku tidak ingin berbasa-basi, aku bertanya pada salah satu petugas kepolisian. "Apakah ada saksi mata yang mengamati kejadian ini?"


"Sekarang hampir tengah malam, tidak ada orang yang menyaksikan kejadian ini."


"Lalu, bagaimana kalian bisa menemukan tubuhnya?"


"Ada seorang pejalan kaki tidak sengaja menemukan tubuh korban di tengah jalan. Lalu dia segera melaporkannya kepada kami melalui telepon umum."


"Apakah kalian sudah mengecek rekaman CCTV di sepanjang jalan ini?"


"Belum sih karena kita sibuk olah TKP dari tadi."


"Baiklah."


Aku menoleh ke belakang melangkah menghampiri Adrian. "Kita harus pergi ke ruang pengendalian. Aku yakin ini bukan kasus tabrak lari biasa."


Setibanya di ruang pengendalian, aku memerintahkan petugas di sana memutar rekaman CCTV pada saat kejadian itu. Aku dan Adrian menatap rekaman itu sangat fokus, melihat ada sebuah truk yang melintasi jalan raya itu dengan kecepatan penuh, lalu menabrak Dokter Emily.


"Coba hentikan rekaman itu!" pintaku tegas.


Petugas keamanan memberhentikan rekamannya langsung.


Layarnya langsung diperbesar namun hasilnya tidak terlalu jernih. Yang terpenting plat nomor truknya masih terlihat sedikit jelas.


"Kita harus melacak plat nomor truk itu," usul Adrian sambil mencatat plat nomor dengan ponselnya.


Dahiku berkerut akibat berpikir terlalu keras karena insiden ini sangat janggal. Aku sudah berpengalaman sebagai detektif divisi kecelakaan lalu lintas, tapi tidak pernah menemukan kasus aneh begini. "Ini sangat aneh biasanya di jalan raya seluas ini, jarang sekali ada kasus tabrak lari. Sepertinya ini dilakukan dengan sengaja."


Adrian bertopang dagu. "Aku yakin ini pasti ulah Josh menghabisi nyawanya Dokter Emily untuk menghilangkan jejak."


"Coba kita lihat lagi rekaman CCTV."


Aku dan Adrian melanjutkan menyaksikan rekaman CCTV itu lagi. Truk yang menabrak Dokter Emily itu melaju ke arah daerah terpencil.


"Ayo Penny, kita harus ke sana sekarang!" ajaknya menggandeng tanganku berlari keluar dari ruangan ini.


Kami menemukan truk yang menabrak Dokter Emily terparkir di bawah jembatan. Kami melangkah keluar dari mobil berlari menghampiri truk itu. Namun kami mendatangi tempat ini tidak membuahkan hasil. Keberadaan kaki tangan Josh tidak ditemukan.


"Aish pelakunya sudah kabur begitu saja!" ketusku menggarukkan kepalaku kesal.


"Aku akan memanggil tim forensik menemukan sidik jarinya." Adrian mengambil ponselnya di saku celananya menghubungi petugas tim forensik.


Setengah jam kemudian, tim forensik tiba di sini sambil membawa peralatan. Setelah melakukan pemeriksaan, salah satu petugas itu menghampiri Adrian.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Adrian.


"Kami sudah mengecek seluruh truk itu dan hasilnya tidak ditemukan sidik jari sama sekali."


"Bagaimana dengan rekaman dasbornya?"

__ADS_1


"Kamera dasbornya sengaja telah dirusak pelaku."


Hening sejenak. Aku dan Adrian hanya bisa pasrah mendengar kabar buruk ini.


"Tapi plat nomor truk ini adalah palsu." Petugas forensik itu melanjutkan melaporkan penyelidikannya.


Adrian mengernyitkan dahi. "Maksudnya palsu itu?"


"Pelakunya melepas plat nomor asli dan menukarkannya ke yang palsu."


Adrian menghembuskan napas lemas. "Baik saya mengerti, kerja yang bagus. Terima kasih atas bantuannya."


Adrian meninggalkan petugas tim forensik itu dan kembali menghampiriku lagi.


Melihat ekspresi wajahnya terlihat lesu, pasti dia akan membawakan kabar buruk. "Sidik jarinya tidak ditemukan?"


"Tidak, tapi plat nomor yang digunakan adalah palsu. Pasti Josh menyuruh seseorang menyamarkan ini sebagai kasus tabrak lari biasa dan menggunakan truk tidak terpakai ini untuk menabrak Dokter Emily."


"Aduh situasi semakin rumit! Tubuhku semakin terasa pegal akibat ini!" keluhku sambil meregangkan kedua tanganku.


Adrian menepuk-nepuk pundakku. "Sebaiknya kita pulang saja, besok kita akan lanjutkan lagi. Lagi pula kamu harus istirahat cukup."


Aku menuruti perintahnya, lalu kami berdua kembali ke kediamannya untuk beristirahat. Aku tidak bisa tidur langsung begitu saja. Sebenarnya aku masih bingung dengan motif pembunuhan yang dilakukan Josh. Apa yang sebenarnya diinginkannya hingga membunuh banyak wanita?


Aku beranjak dari ranjang melangkah keluar dari kamarku menuju pantry mengambil segelas air untuk menenangkan pikiranku. Pada saat bersamaan, Adrian juga sama sepertiku terbangun.


Adrian menatapku bingung. "Kenapa kamu masih belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga sama sepertimu tidak bisa tidur."


"Sebenarnya selama ini pikiranku terusik dengan penyakit Josh. Aku takut suatu hari nanti akan diincarnya sama seperti wanita lain."


Adrian langsung memelukku erat dengan ketakutan. "Jangan berkata seperti itu, Penny. Aku pasti akan melindungimu supaya kamu tidak terluka karena keparat itu."


Aku tersenyum tipis mengelus punggungnya. "Tenang saja, Adrian. Lagi pula aku juga selama ini selalu ditemani semua anggota timku, pasti aku tidak terluka. Lalu kamu selalu menjadi malaikat pelindungku."


Adrian mencium kelopak mataku sekilas. "Sebaiknya kamu tidur saja. Nanti kamu bisa sakit kalau kurang tidur."


Aku mencium pelipisnya. "Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidur demi pacarku."


Aku terbangun dalam kondisi kantung mataku yang besar akibat kurang tidur. Aku bergegas beranjak dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan wajahku. Setelah itu, aku mengambil tasku dan kunci mobilku bersiap berangkat ke kantor.


Tiba-tiba di saat aku sedang mengikat tali sepatuku, Adrian menahan tangan kiriku mencegahku pergi. "Biar aku saja yang antarkan kamu."


Aku menggeleng santai. "Tidak apa-apa. Aku pergi sendiri saja, lagi pula aku tidak tahu nanti malam apakah aku pulang larut malam lagi atau tidak."


Adrian menyentuh pundakku dengan kedua tangannya. "Walaupun kamu pulang larut malam, aku tetap akan menunggumu demi keselamatanmu."


"Tapi aku tidak akan merepotkanmu terus."


Adrian menatapku dengan senyuman manis sambil mengelus pipiku lembut. "Tidak masalah. Asalkan orang yang merepotkanku itu adalah wanita yang kusayangi."


Aku mengulurkan jari kelingking. "Tapi berjanji ya. Nanti kamu bisa menjemputku. Jangan seperti waktu itu kamu menelantarkanku dan membiarkanku menaiki taksi pulang sendirian."


"Tenang, aku berjanji kok." Adrian mengulurkan jari kelingkingnya dan menempelkannya pada jariku.


Sebelum aku masuk ke dalam kantor, aku berpamitan dengan Adrian terlebih dahulu seperti biasa. Lalu aku memasuki kantorku dan menghampiri anggota timku memanggil mereka semua memasuki ruang rapat. Agenda rapat ini adalah memastikan Inspektur William membuka mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2