
Adrian melepas tautan bibirnya lalu membelai rambutku dengan lembut. Jantungku berdegup kencang rasanya seperti ingin meledak hingga pipiku mulai memanas.
"Seorang putri cantik sepertimu pantas mendapatkan ciuman dari pangeran tampan," gombalnya dengan senyuman godaan.
"Ish dasar modus! Selalu saja kamu bertindak selagi ada kesempatan," celetukku terus menyentuh pipiku.
"Tapi kamu mau kan dapat ciuman dari pangeran tampan sepertiku."
Seperti biasanya aku tidak bisa menahan senyumanku hingga pada akhirnya aku mengulum senyuman terindahku padanya.
"Iya sih."
"Tuh benar dugaanku. Kamu tidak akan pernah bisa membohongiku, Penny."
"Aku jadi teringat saat aku mendapat ciuman pertamaku waktu itu. Aku sangat bersyukur mendapat ciuman pertama darimu sepanjang hidupku."
"Padahal waktu itu aku menciummu hanya inisiatifku saja."
"Apa kamu tahu yang aku rasakan waktu itu?" tanyaku.
"Aku ingat sekali waktu itu kamu sangat gugup sampai mematung."
"Aku gugup bukan karena merasa risih. Tapi saat itu pertama kalinya aku merasakan cinta darimu. Mulai saat itu, aku sangat yakin bahwa kamu sungguh mencintaiku walaupun kamu belum menyatakan cintamu padaku."
"Penny ...."
Aku menyentuh tangannya sambil mengelus cincin pernikahan yang terpasang pada jari manisnya.
"Tadinya aku berpikir bahwa aku mungkin tidak ditakdirkan hidup bersamamu. Apalagi kamu merupakan pria paling sempurna seperti pangeran di dunia dongeng."
"Tapi kenyataannya sekarang kamu hidup bahagia bersama pangeranmu ini dan memiliki seorang malaikat kecil yang mewarnai keindahan keluarga kecil kita."
"Maka dari itu, aku ingin hubungan kita bertiga terus seperti ini. Apalagi kamu sudah berjanji padaku pada hari pernikahan kita waktu itu."
"Aku masih mengingatnya dengan jelas sampai sekarang. Aku akan membahagiakanmu seumur hidupku dan juga selalu menjaga keluarga kecil kita penuh dengan cinta. Tidak ada yang mampu mengubah cintaku untukmu. Aku tidak akan pernah meminta lebih dari cintamu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku pasti akan mencintaimu lebih dalam lagi," ungkap Adrian, air mata bahagianya terus membanjiri pipinya.
"Aku juga masih mengingat janjimu dengan jelas sampai sekarang," balasku menyeka air matanya pada pipinya.
"Penny, sekarang aku ingin memperpanjang waktu hari ini bersamamu untuk mengenang hari pernikahan kita," ucapnya merangkul bahuku dengan mesra.
"Aku juga belum puas menghabiskan waktuku bersamamu hari ini. Waktu berlalu begitu cepat rasanya."
"Kalau begitu aku ingin melakukan satu hal lagi padamu."
"Kamu mau melakukan apa pun aku tidak mempermasalahkannya sama sekali."
"Kamu mau dicium pangeran tampan lagi?" tawarnya tersenyum nakal.
"Mmm aku mau sekali!" sahutku bersemangat.
Tanpa berlama-lama, Adrian mencium bibirku lagi dengan lembut. Namun aku langsung melepas tautan bibirnya lagi dan menggenggam tangannya.
"Kenapa kamu melepasnya?" tanyanya bingung memanyunkan bibirnya.
"Kamu ini bagaimana sih! Kalau kamu melakukannya di sini nanti Victoria bisa melihat kita."
"Ini sudah larut, seharusnya dia tidak mungkin bangun."
"Kalau seandainya Victoria bangun karena ingin ke kamar mandi gimana? Kan nanti kita bisa tertangkap basah olehnya. Kamu masih tidak kapok juga waktu itu kita dilihat oleh ayah dan ibu."
"Iya juga sih."
"Kalau begitu kita lanjutkan di kamar saja, bagaimana?"
"Nah betul itu. Aku bisa melakukannya sampai puas."
Adrian menggendongku menatapku dengan senyuman bahagia menuju kamar sambil mengunci pintu kamarnya dengan rapat.
"Kenapa kamu mengunci pintu kamarnya? Kamu tidak mungkin berbuat aneh-aneh, 'kan?" tanyaku sedikit gugup menelan salivaku berat.
"Astaga Penny, kamu sekarang sudah bisa berpikir yang aneh-aneh, ya!" Adrian menggelengkan kepalanya menertawaiku.
"Bukan begitu. Aku hanya berpikir positif saja," balasku tersipu malu memalingkan mataku.
Adrian membaringkan tubuhku di atas ranjang empuk berukuran king size dan melanjutkan aksi ciumannya lagi. Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya dan menikmati ciuman darinya yang penuh cinta, kehangatan, dan juga lembut sesuai dengan hatinya. Adrian meraba tubuhku perlahan dari ujung rambutku hingga punggungku lalu menggenggam tanganku yang terpasang cincin pernikahannya dengan sengaja melekatkan kedua cincin ini menyatu terus sampai tidak ingin melepaskannya begitu saja. Intinya situasi saat ini tidak ada yang bisa mengganggu kami berdua lagi sehingga kami dapat melakukannya sampai puas.
Beberapa saat kemudian, Adrian mengakhiri aksi manisnya lalu mencium puncak kepalaku mendalam.
"Happy anniversary, My only love," ucapnya mengelus pipiku.
"Happy anniversary, My beloved husband," ungkapku mengecup bibirnya sekilas.
Adrian membaringkan tubuhnya tepat di sebelahku sambil menyelimutiku dan dirinya lalu mendekapku dengan hangat. Aku membenamkan kepalaku pada tubuhnya dan memeluknya erat.
"Selamat malam, Sayang. Semoga kamu memimpikanku," ucap Adrian sambil menepuk punggungku berirama.
"Aku juga ingin kamu memimpikanku terus."
"Aku selalu bermimpi tentangmu setiap malam."
"Terima kasih, Sayang."
Adrian mendaratkan ciuman manisnya pada bibirku lagi sekilas hingga membuat hatiku semakin berbunga.
"Mmm sayang ...." Aku membenamkan kepalaku pada tubuhnya dengan manja.
"Supaya mimpimu semakin manis, Sayang."
Secara perlahan akhirnya kami tertidur lelap sampai besok pagi.
Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela kamar. Saatnya mengawali hariku penuh bersemangat, aku terbangun dari tidurku terlebih dahulu lalu menatap suami tampanku masih tertidur seperti bayi. Aku mengulurkan tanganku mengelus kepalanya lembut dengan pandangan berbinar.
Tak lama kemudian, Adrian menggerakkan tubuhnya terbangun dari tidurnya lalu dengan sigap aku memejamkan mataku berpura-pura tertidur lagi. Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku menempelkan hidungnya pada hidungku sambil membelai rambutku.
"Aku mencintaimu, Penny," ungkapnya manis.
"Aku juga mencintaimu, Adrian." Secara perlahan aku membuka kedua mataku tersenyum lebar.
Adrian tersentak kaget dan menjauhkan wajahnya dariku.
"Maaf Sayang, aku tidak bermaksud membangunkanmu."
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula aku sudah bangun dari tadi. Aku sengaja tidak mau melepas pelukanmu ini karena aku masih ingin manja denganmu."
"Mau manja denganku lebih lama lagi? Kalau begitu setengah jam saja kita terus begini." Adrian mempererat pelukannya mengusap kepalaku.
"Sekarang jam berapa sih? Sepertinya hari sudah mulai terang," tanyaku bermalasan.
"Sudahlah kamu tidak usah tahu sekarang jam berapa. Kalau masih ngantuk sebaiknya tidur lagi saja."
"Ish nanti kita terlambat kerja gimana! Aku juga belum membuatkan sarapan untuk kita bertiga."
"Nanti aku yang buatkan sarapannya saja. Kamu urus Victoria saja."
"Benar juga. Belakangan ini kamu jarang membuatkan sarapan."
"Kamu pasti rindu dengan nasi omelet spesial buatanku," godanya sambil mencubit pipiku lembut.
"Aku rindu banget. Memang nasi omelet buatanmu itu rasanya paling berbeda di antara semua," balasku mengelus pipinya dengan pandangan berbinar-binar.
"Kalau begitu nanti aku akan memberimu porsi yang lebih banyak dari biasanya supaya kamu kuat."
Aku melepas pelukannya memasang raut wajah cemberut dan memukuli dadanya. Lagi-lagi ia mengucapkan sesuatu yang membuatku tersinggung.
"Aduh!"
"Kamu tega sekali sih padaku! Masa kamu ingin istrimu ini terlihat gemuk. Nanti aku bukan istri cantik di matamu lagi lho!" celotehku melipat kedua tanganku.
"Aku bukan bermaksud membuatmu terlihat gemuk. Tapi aku ingin kamu selalu menjadi wanita terkuat bagiku. Lagi pula kalau berat badanmu itu naik, aku tidak akan pernah mengejekmu."
"Sudahlah aku lebih baik membangunkan Victoria dulu!"
Aku duduk tepat di ujung ranjang sambil meregangkan kedua tanganku ke atas. Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya menarik tanganku dengan paksa hingga aku terjatuh kembali pada dekapannya.
"Adriiaan!"
"Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara denganmu."
__ADS_1
"Kamu nakal sekali sih! Kalau kita tidak bersiap-siap nanti bisa terlambat!" omelku.
"Tidak mau! Aku masih mau tidur bersamamu!" tolaknya merengek seperti anak kecil.
"Dasar nakal!"
Beberapa menit kemudian aku dan Adrian beranjak dari ranjang untuk bersiap-siap sebelum berangkat kerja. Aku memasuki kamarnya Victoria lalu membangunkannya secara perlahan.
"Victoria, ayo bangun," panggilku menepuk lengan tangannya.
Victoria masih bermalasan dan raut wajahnya seperti muka bantal sambil menguap terus.
"Mama, aku masih ngantuk."
"Nanti Victoria bisa terlambat sekolah lho. Nanti Bu guru memarahimu."
"Iya mama," patuhnya terpaksa.
Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas pada pikiranku untuk membuat Victoria tidak bermalasan. Aku mendekatkan wajahku pada daun telinganya berbisik padanya.
"Hari ini papa yang membuat nasi omeletnya lho."
"Benarkah? Papa buat nasi omeletnya?"
"Iya, Anakku."
"Asyik! Aku suka nasi omelet buatan papa!" soraknya kembali bersemangat membuka matanya lebar.
Victoria turun dari ranjangnya lalu berlari keluar dari kamarnya menghampiri Adrian yang sedang sibuk memasak di dapur.
"Papa!" panggil Victoria.
"Wah, anak papa sudah bangun ternyata! Pagi-pagi begini semangat sekali," sambut Adrian berjongkok di hadapan Victoria dan mengelus kepalanya yang mungil.
"Aku mau makan nasi omelet buatan papa!"
"Papa sebentar lagi selesai masak. Victoria mandi dulu saja supaya semakin bersemangat."
"Victoria, sini biar mama memandikanmu," potongku menghampiri Victoria dan menggandeng tangannya.
"Tapi aku mau makan," balasnya memanyunkan bibirnya.
"Nanti setelah mandi bisa makan. Victoria mandi dulu saja sambil nunggu papa selesai masak," saranku lembut.
"Benar kata mama. Sekalian juga supaya Victoria terlihat bersih kalau sudah mandi. Papa suka sekali kalau anak papa selalu terlihat bersih," lanjut Adrian.
"Oke, aku mau mandi sekarang!" patuh Victoria menarik tanganku menuju kamar mandi.
Usai memandikan Victoria dan juga mengeringkan rambutnya, aku menuntunnya menuju meja makan membantunya menduduki kursinya. Adrian menghidangkan nasi omeletnya pada piring kecil dan memberikan sendok di atasnya untuk Victoria.
"Nasi omelet spesial buatan papa sudah jadi," ucap Adrian.
"Asyik! Aku bisa makan nasi omelet buatan papa lagi!" Victoria mengambil sendok ukuran kecil sambil menyantapnya dengan melahap.
"Victoria, makannya jangan terburu-buru nanti bisa tersedak," tegurku.
"Oke, Mama!"
"Nah kalau untuk mama porsinya harus yang banyak," ucap Adrian memberikan sepiring nasi omeletnya dalam porsi banyak.
"Ish kamu sungguh membuatku ingin terlihat gemuk!" ketusku menatap menyeringai.
"Jadinya kamu tidak suka dengan nasi omelet buatanku, ya?"
"Bukan begitu ...."
"Mama kalau tidak suka, aku saja yang makan," potong Victoria merebut piringku.
Aku merebut piringku dari Victoria dan menahan piringku supaya tidak direbut lagi.
"Mama suka sekali nasi omelet buatan papa. Karena mama tahu kalau papa memasak nasi omelet ini penuh dengan cinta." Aku merangkul tangannya Adrian dengan mesra.
"Itu karena papa sayang dan cinta banget sama mama," balasnya menggenggam tanganku mengelusnya dengan lembut.
"Bahkan setiap pagi aku selalu bersemangat bangun lebih awal demi bisa mencoba masakan spesialmu."
"Aku juga selama ini sangat menyukai nasi omelet buatanmu yang rasanya jauh tidak berbeda dariku."
"Tadi yang bilang takut gemuk itu siapa, ya?" tanya Adrian menyipitkan matanya menatapku sebal.
"Kalau itu aku menarik ucapanku lagi deh."
"Makanya lain kali jangan bisanya mengoceh terus. Tuh buktinya kamu makan sampai melahap begini."
"Malahan bagiku nasi omeletnya masih kurang hehe," tawaku terkekeh.
"Dasar rakus!"
"Kamu barusan bilang apa?" Aku menaruh sendokku di atas piring menatapnya tajam.
"Tidak ada. Kamu saja yang salah mendengar," balasnya berlagak polos.
"Aneh sekali. Aku merasa tadi barusan kamu membicarakanku deh." Aku menyipitkan mataku sambil bertopang daguku.
"Sambil menunggumu selesai sarapan, aku mandi dulu, ya," ucapnya sengaja mengalihkan pembicaraannya untuk menghindariku.
"Iya sana mandi dulu. Hanya kamu saja yang belum mandi dari tadi."
Awalnya ia sudah beranjak dari kursinya lalu kembali menduduki sambil mencium pipiku sekilas.
"Kamu membuatku kaget saja!" Mataku terbelalak ketika mendapat perlakuan manisnya sambil memegangi dadaku.
"Aku hanya iseng melakukannya."
"Ish kamu mandi saja. Nanti bisa terlambat!"
Usai Adrian membersihkan dirinya, ia melangkahkan kakinya memasuki walk in closet memakai ikat pinggangnya dan juga mengambil dasi beserta kotak kecil berisi jam tangan barunya. Adrian memakai jam tangan tersebut dan terus menatapnya berbinar mengukir senyuman cerianya.
Sementara aku memasuki walk in closet menghampirinya yang sedang mengalungkan dasi di lehernya.
"Kamu sengaja memakai satu set hadiah pemberianku, ya," ucapku dengan pandangan berbinar memandangi penampilannya terlihat gagah.
"Iya dong. Semua hadiah darimu itu sudah pasti aku memakainya setiap hari."
Sorot mataku tertuju pada jam tangan yang baru kuberikan semalam. Penampilannya saat ini terlihat sangat tampan membuatku berbunga sekarang.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya sengaja matanya berkedip padaku.
"Aku memang tidak salah membeli jam tangannya untukmu. Kamu membuat jantungku semakin berdebar saja di pagi hari."
"Semua jam tangan pemberianmu, aku akan memberi namamu."
"Kenapa begitu?"
"Kalung pemberianku, kamu menamakannya dengan namaku. Sedangkan dua jam tangan pemberianmu, aku ingin memberi namamu supaya terlihat seperti kamu selalu menggenggam tanganku setiap saat walaupun kamu tidak berada di sisiku."
"Sejak dulu kamu memang sangat romantis, Sayang."
"Dengan begini, aku tidak akan merasa kesepian saat bekerja di kantor."
"Omong-omong, dasi ini merupakan hadiah ulang tahunmu dariku waktu itu." Aku mengelus dasinya lembut.
"Benar sekali. Aku merasa dasi ini paling istimewa walaupun aku juga memiliki dasi lainnya pemberian darimu."
"Karena hadiah ini merupakan pemberian dariku saat statusku itu pertama kali sebagai tunanganmu."
Adrian melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku dan semakin mempererat pelukannya.
"Sayang, tolong ikatkan dasi untukku," rayunya manja.
"Dasar manja! Padahal hampir setiap hari sejak kita menikah, aku ikatkan dasi untukmu."
Namun sebenarnya pikiran dan ucapanku berbeda. Padahal sebenarnya aku senang sekali mengikatkan dasi untuknya sebelum berangkat kerja. Tanganku meraih dasinya mulai mengikatnya dengan senyuman mengambang.
"Kamu tersenyum cantik, Sayang," ucapnya memajukan wajahnya tepat di hadapanku.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Kalau tidak percaya, coba saja kamu bercermin sekarang."
"Itu karena memang suasana hatiku setiap hari selalu bahagia."
Aku mengambil jas kerjanya membantunya memakaikannya.
"Sekarang kamu sudah terlihat rapi sekali dan tampan," ucapku tersenyum ceria sambil menyingkirkan debu melekat pada jasnya.
Adrian menggenggam tanganku menuntunku menduduki meja rias lalu menjadikan pundakku sebagai penopang kepalanya.
"Sudah terbukti dengan jelas, Sayang. Senyumanmu terlihat sangat cantik."
"Hmm sepertinya masih ada yang kurang."
Aku mengambil bedakku memakai di setiap sisi wajahku supaya terlihat lebih berkilauan.
"Ini baru namanya sempurna," ujarku menampakkan gigi putihku.
"Warna lipstikmu mulai memudar, Sayang." Adrian semakin bermanja padaku melingkarkan kedua tangannya pada perutku.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan memakainya lagi."
Dengan sigap aku mengambil lipstik merahku memolesnya pada seluruh area bibirku lalu merapatkan bibir atas dengan bibir bawah.
"Bagaimana dengan sekarang? Apakah sudah terlihat sempurna?" tanyaku sambil menyisir rambutku.
"Setiap kali melihat istri kesayanganku sedang merias wajahnya, hatiku sudah sangat berbunga."
"Mmm kamu bisa saja berkata seperti itu," balasku tersenyum mengambang.
"Kamu sudah terlihat sempurna sepertiku. Coba kita bercermin bersama sekarang."
Kami berdua menatap cermin bersamaan mengukir senyuman hangat.
"Kamu benar, Sayang. Sekarang penampilan kita sudah seperti pasangan suami istri sempurna di antara semua pasangan."
"Karena kamu sudah membuatku terlihat rapi begini, seperti biasa aku akan membuatkan kopi spesial untukmu."
Adrian menuntunku menduduki sofa di ruang tamu. Lalu ia menghampiri pantry dan menyalakan mesin espressonya. Usai itu, Adrian menuangkannya ke sebuah cangkir kecil dan memberikannya kepadaku.
"Ini kopi spesial buatanmu."
"Terima kasih, Sayang."
Aku menikmati kopi buatannya secara perlahan untuk merasakan sensasinya yang luar biasa karena rasa kopinya sangat pas dan nikmat.
"Mmm seperti biasa kopi buatanmu ini selalu terasa enak. Untung saja aku memiliki barista pribadi," pujiku mengacungkan jempol padanya.
"Tidak seperti Hans yang sampai sekarang belum bisa membuat kopi sendiri," ejek Adrian tertawa puas.
"Dia itu buatkan kopi instan untuk Fina saja sudah sombong sekali. Beda jauh sama kesayanganku ini yang bisa melakukan apa saja," tambahku mencubit pipinya lembut.
"Tenang saja tidak ada satu pun yang bisa mengalahkanku. Pokoknya suamimu ini paling istimewa deh," balasnya mengangkat kepalanya berlagak sombong.
"Dasar sombong!"
"Kamu harus beruntung memiliki suami sepertiku."
"Aku selalu kecanduan minum kopi buatanmu."
"Mama! Papa! Ayo kita pergi sekarang!" ajak Victoria berlari menghampiri kami sambil membawa tas ranselnya lalu menggandeng tanganku dan Adrian.
"Wah, anak papa sudah tidak sabaran sekolah, ya! Beda jauh sama anak lainnya!" Adrian ikut girang mengelus kepalanya Victoria.
"Tunggu sebentar, ya. Mama habiskan kopi buatan papa dulu."
Aku meneguk kopi itu sampai tidak tersisa satu tetes pun. Adrian secara spontan mengelap sisa bercak kopi yang melekat pada sudut bibirku dengan jari jempolnya.
"Jangan lupa cuci tangan!" tegurku tegas.
"Iya aku tahu. Ini mau cuci tangan sambil cuci cangkirnya," sahutnya membawa cangkirnya ke pantry sekalian mencuci tangannya.
Usai itu, aku dan Adrian menggandeng tangannya Victoria keluar dari kediaman kami menuju basement. Aku mengambil kunci mobil dalam tas kerjaku tapi langsung direbut Adrian.
"Hari ini aku yang antar kalian berdua," ucapnya menuntun Victoria memasuki mobil SUV.
"Tapi kamu yakin tidak sibuk, 'kan? Nanti siapa yang akan menjemput Victoria pulang sekolah?"
"Tenang saja. Hari ini aku yang menjemputnya pulang. Lagi pula aku juga tidak terlalu sibuk jadi punya banyak waktu luang."
"Baiklah. Hari ini aku mengandalkanmu sepenuhnya." Aku memasuki mobilnya duduk di sebelah kursi pengemudi.
Beberapa menit kemudian, akhirnya tiba juga di Sunshine Kindergarten. Aku dan Adrian menggandeng tangannya Victoria mengantarnya sampai di lobby sekolahnya saja.
"Victoria, hari ini yang semangat ya sekolahnya," ucap Adrian tersenyum lebar.
"Jangan berbuat nakal di sekolah, ya," pesanku mengelus kepala mungilnya.
"Aku selalu jadi anak yang baik seperti mama dan papa," patuh Victoria.
"Sini biar mama dan papa memelukmu dulu." Adrian secara spontan memeluk Victoria dengan hangat dan juga aku ikut memeluknya.
"Ini energi dari mama dan papa supaya Victoria selalu bersemangat," kataku melepas pelukannya.
"Aku pasti selalu semangat!" Victoria berlompat girang.
"Kalau begitu papa dan mama berangkat kerja dulu, ya. Bye bye, Victoria," pamit Adrian melambaikan tangannya.
"Bye, Victoria," pamitku melambaikan tanganku.
"Bye, Papa mama," sahut Victoria.
Aku dan Adrian melanjutkan perjalanan menuju kantorku. Di tengah perjalanan, aku membuka ponselku memainkan sebuah aplikasi sosial media. Aku terkejut tercampur bingung menatap fotoku sedang melihat bintang semalam diposting oleh Adrian.
"Sayang, sejak kapan kamu fotoin aku?" tanyaku mulai penasaran.
"Sebenarnya semalam saat kamu sibuk fokus melihat bintang. Aku sangat terpesona dengan kecantikanmu apalagi kamu mengeluarkan senyuman khasmu lagi. Jadinya aku fotoin kamu diam-diam dan mengabadikan momen langka ini."
"Tapi aku memakai piyama."
"Kamu mau pakai apa pun juga terlihat cantik. Aku tidak peduli dengan penampilanmu. Aku hanya membutuhkan senyumanmu saja."
Aku membaca caption postingan fotonya sampai rasanya ingin menekan tombol hati sebanyak seratus kali untuk postingan ini.
"Malam yang terindah bagi kami berdua. Terutama melihat ukiran senyuman istri tercintaku membuat hatiku selalu bahagia. I really love you, My only love."
Aku menggenggam tangannya dengan erat menatapnya berbinar mengulum senyuman khasku.
"Love you too," ucapku manis.
"Bagaimana hasil fotonya? Kamu menyukainya?"
"Hasil foto yang bagus dan caption sangat romantis terlihat sangat sempurna. Seharusnya kamu bagikan fotonya kepadaku."
"Nanti akan aku kirimkan deh fotonya untukmu setelah tiba di kantor."
"Sayang sekali tombol hatinya hanya bisa ditekan sekali saja. Padahal aku ingin menekannya sebanyak seratus kali." Aku memanyunkan bibirku sambil terus menekan tombol hatinya.
Tidak terasa perjalanan menuju kantorku begitu cepat. Adrian memberhentikan mobilnya tepat di pintu gerbang kantor. Ia mendekapku dengan hangat sambil mengelus punggungku.
"Kamu pasti ingin menekan tombol hati itu seratus kali karena kau mencintaiku seratus persen, 'kan," ucapnya.
"Iya benar."
"Tidak masalah kalau hanya bisa menekan sekali. Aku maunya kamu tulus mencintaiku."
"Sayang, aku butuh vitamin penyemangat darimu sebelum kembali bekerja," rayuku manis.
Adrian mencium pipiku dan juga puncak kepalaku dengan lembut.
"Vitamin penyemangat dariku selalu ada setiap saat untukmu."
"Ini vitamin penyemangat dariku juga," balasku mencium pipinya mendalam.
"Aku jadi semakin bersemangat bekerja nih."
"Aku masuk ke kantor dulu, ya. Sampai bertemu nanti, Sayang."
__ADS_1
"Sampai bertemu juga, Sayang."
Aku memasuki kantor polisi menuju ruang kerja unit 1 divisi kekerasan kejahatan. Seperti biasa pemandangan di kantor ini setiap paginya sejak beberapa tahun yang lalu selalu saja diawali dengan perdebatan dua detektif pria konyol ini membuat kepalaku terasa sakit.