
Adrian menginjak pedal gasnya mendalam langsung melajukan mobilnya mengikuti mobilnya pengacara Leonard diam-diam dari belakang. Aku terus berfokus mengamati arah mobil yang berada di depanku mulai penasaran dengan tempat tujuan yang ingin dikunjunginya. Kalau bukan kantor firma hukum L&C, lalu sebenarnya ingin pergi ke mana di saat pagi-pagi begini? Tidak mungkin pengacara Leonard melakukan aksi kejahatannya sekarang apalagi dalam kondisi langit masih terang, mudah tertangkap basah nanti. Akan tetapi dilihat caranya mengendarai mobilnya, sepertinya ia sangat santai menuju tempat tersebut.
"Adrian, sebaiknya kamu jangan kebut deh."
"Aku sudah tidak kebut lagi. Dilihat dari cara menyetirnya sepertinya dia tidak melakukan tindakan yang mencurigakan."
"Iya pemikiranmu sama persis sepertiku. Tapi sebenarnya aku bingung. Dia mau ke mana sih?"
"Ke suatu tempat di mana mungkin kita tidak akan menduganya."
Sementara pengacara Leonard membelokkan mobilnya ke arah kanan. Adrian menyalakan lampu sen kanan mengikutinya juga ke arah sana. Semakin lama pengacara Leonard melajukan mobilnya semakin jauh dari gedung pencakar langit. Kami berdua sudah mengikutinya dari tadi namun tempat tujuannya masih tidak jelas. Pengacara Leonard tidak memasuki hotel maupun rumah sakit. Memang benar pasti ada suatu tempat yang sangat penting baginya hampir setiap hari ke sana.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit mengikutinya dari tadi, aku sudah mulai merasa bosan hingga mataku sudah terasa berat membukanya. Aku memejamkan mataku sejenak membalikkan tubuhku menghadap kaca jendela sampingku untuk tidur sejenak.
"Penny! Sepertinya pengacara Leonard memberhentikan mobilnya tepat di depan klinik itu," ucap Adrian suaranya lumayan keras hingga membuatku sedikit terkejut.
Aku membuka kedua mataku bermalasan mengamati mobilnya pengacara Leonard terparkir tepat di depan sebuah klinik. Adrian yang menyadari dirinya telah mengejutkanku barusan secara spontan menggenggam tanganku.
"Maaf, Penny. Aku tidak bermaksud membangunkanmu. Kalau kamu mau tidur tidak masalah. Biar aku saja yang terus memantaunya," sesalnya menunduk bersalah.
"Tidak apa-apa. Tadi aku hanya sedikit merasa bosan saja jadi aku tidur sebentar."
drrt...drrt...
Ponselku bergetar tiba-tiba dalam saku blazerku. Aku dengan sigap mengambil ponselku lalu menggeser layar ponselku mengangkat panggilan telepon dari Hans sambil terus mengamati pergerakan pengacara Leonard dari dalam mobil.
"Halo, kenapa kamu meneleponku tiba-tiba?"
"PENNY KAMU ADA DI MANA SEKARANG? APA KAMU BANGUN KESIANGAN LAGI?" Suara teriakkan Hans lewat telepon membuat gendang telingaku hampir pecah.
"ISH BISA TIDAK SIH KALAU TELEPON JANGAN TERIAK-TERIAK!" teriakku penuh emosi.
Adrian mencolek lenganku halus lalu mendekatkan wajahnya pada daun telingaku.
"Siapa yang meneleponmu yang tidak tahu diri sama sekali?" bisiknya kesal.
"Itu, Hans. Biasa dia selalu saja menganggapku bangun kesiangan."
"Sini berikan ponselmu padaku."
"HEI, PENNY! KENAPA KAMU TIDAK MENJAWABKU SAMA SEKALI?" Suara teriakannya lagi yang terdengar pecah walaupun aku tidak menyalakan loudspeakernya membuat Adrian semakin geram padanya.
Tangannya Adrian lincah langsung merebut ponselku dari genggaman tanganku lalu menyalakan loudspeaker dan meletakkannya di atas dasbor mobil.
"HEI, HANS! KENAPA KAMU MENERIAKKI ISTRIKU PAGI-PAGI?"
"ADRIAN, KENAPA KAMU YANG MENGANGKAT TELEPONNYA? MEMANGNYA PENNY ADA DI MANA?"
"Penny berada di sampingku sekarang. LEBIH BAIK KAMU TIDAK USAH TERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG TIDAK WARAS SEBELUM AKU MEROBEK MULUTMU!"
"KAMU JUGA SAMA SAJA, ADRIAN. KENAPA KAMU MENERIAKKIKU?"
"ITU KARENA KAMU YANG MULAI DULUAN TADI!"
"Ya sudah deh aku sekarang bicara seperti orang normal lagi. Memangnya kalian sedang ada di mana sekarang? Apa mungkin kalian masih di apartemen?"
"Kami sedang mengintai pergerakan pengacara Leonard saat ini. Lagi pula kamu ngapain sih menghubungi Penny tiba-tiba? Kamu merusak suasana hati saja."
"Habisnya aku lihat jam sekarang sudah mulai siang. Dari tadi kami semua menunggu kedatangan kepala detektif kami sampai bosan. Eh malahan kalian sibuk bermesraan berdua di tempat lain."
"Bermesraan dari mana. Perasaan dari tadi juga kami sibuk bekerja menjalani misi penting," ucapku cemberut.
"Iya memang kami sedang bermesraan juga sambil mengintai pengacara Leonard dari tadi," tuturnya membohongi Hans.
"Ish kenapa kamu berbicara begitu dengannya!" sungutku memukuli lengan tangannya.
"Tujuannya untuk mengomporinya haha," tawanya terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
"Tuh kan dugaanku benar. Sudahlah aku tahu kalian rindu melakukan kegiatan romantis tapi sekarang bukan waktunya melakukan hal begituan. Bahkan aku dan Fina saja tetap fokus pada pekerjaan."
"Ah, dasar sok pamer! Sudahlah aku tutup teleponnya saja sekarang!" ketus Adrian bergegas menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Hans yang dari tadi sibuk menelepon langsung menaruh ponselnya kasar di atas meja kerjanya. Nathan menatap tingkahnya Hans yang penuh emosi langsung menghampirinya menertawainya dari tadi.
"Nah kan makanya jangan bikin orang marah. Lihat tuh Adrian langsung tutup teleponnya," ledek Nathan.
"Tidak apa-apa. Yang penting hanya aku dan Fina serius bekerja di kantor ini. Bahkan semalam saja Fina masih mau bekerja walaupun tengah malam, benarkah begitu, Fina?" Hans melakukan kontak mata langsung pada Fina.
"Iya benar dong. Kita kan memang pasangan yang selalu kompak kalau kerja selalu yang serius dan tidak lamban seperti Penny dan Adrian," sahut Fina memegang bahunya Hans mesra.
Nathan dan Tania memutar bola matanya bermalasan menggelengkan kepala mereka.
"Mulai deh pasangan yang selalu memamerkan diri beraksi," ucap Tania nada malas.
"Iya mereka mulut besar. Padahal kita berdua juga kalau bekerja selalu yang benar. Benarkah begitu, Tania?"
"Tentu saja. Kita kalau sedang kerja tidak pakai mulut, tapi pakai otak, tangan, dan kaki." Tania berlagak sombong melipat kedua tangannya di depan dada.
"Memang pemikiran kalian tidak ada bedanya dengan Adrian dan Penny. Kalian sama saja lambannya," sergah Hans.
"Oh, sekarang kamu mengikuti gaya bicaranya Fina, ya," elak Nathan.
"Bukan mengikuti gayanya. Tapi memang aku dan dia sudah cocok satu sama lain memiliki pemikiran yang cepat tanggap dan tidak lamban seperti kalian."
"Benar tuh tidak seperti Penny dan Adrian yang selalu saja pemikirannya ingin bersenang-senang terus," sindir Fina tertawa kecil.
"Omong-omong mereka berdua sungguh sedang mengikuti pengacara Leonard, ya?" tanya Nathan mulai penasaran.
"Kata Adrian sih begitu tadi."
"Tapi masa pengacara Leonard melakukan hal yang mencurigakan di pagi hari sih?" tanya Nathan lagi.
"Hmm kalau itu aku juga tidak tahu sih. Memang terdengar aneh kalau pengacara Leonard melakukan kegiatan lainnya di pagi hari."
"Nah benar, 'kan. Kali ini dugaan kita sama."
"Apa mungkin mereka sungguh melakukan kegiatan bersenang-senang di pagi hari?" Hans mulai berasumsi aneh bertopang dagunya.
"Benar juga perkataanmu itu. Apalagi mereka kalau sudah bersatu, sudah deh dunia terasa seperti milik mereka berdua," lanjut Nathan menambah bumbu pembicaraannya.
"Mereka kalau sudah berbuat begitu sudah tidak peduli keadaan di sekitar lagi. Tidak peduli ada temannya yang berada di sampingnya," tambah Hans.
"Hadeh para bapak sudah bergosip saja di pagi hari," ejek Tania menggelengkan kepalanya.
"Iya nih. Biasanya kan ibu-ibu yang suka bergosip di pagi hari. Sedangkan dua bapak ini malahan tukang gosip di kantor," sindir Fina sambil memberikan kopinya kepada Hans.
"Ish kenapa kalian berdua menyamakanku dengan ibu tukang gosip!" ketus Hans mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya wajahku dan Hans mirip seperti ibu tukang gosip, ya?" Nathan memasang raut wajah polosnya sambil memegang wajahnya.
"Iya memang benar!" sahut Tania dan Fina bersamaan.
Kembali lagi pada aku dan Adrian masih melakukan pemantauan pergerakan pengacara Leonard di dalam mobil. Sejak panggilan telepon itu berakhir, aku dan Adrian bersin terus hingga hidung kami memerah.
"Sepertinya dari tadi ada yang membicarakan kita dari belakang," ucapku dengan tatapan curiga.
"Siapa lagi kalau bukan Hans dan Nathan yang selalu menjadi tukang gosip," lanjut Adrian dengan tatapan menyeringai.
"Awas saja kalau mereka membicarakan kita yang aneh-aneh, nanti aku akan merobek mulut mereka sampai tidak bisa bicara lagi!" hardikku mengepalkan tangan kananku.
Tiba-tiba Adrian melepas ikatan sabuk pengamanku kemudian menarik tanganku pelan hingga tubuhku terjatuh dalam dekapannya hangat sekarang sambil membelai rambutku.
"Penny, aku sungguh ingin bermesraan denganmu sekarang. Apalagi ini kesempatan emas aku bisa berduaan denganmu di saat jam kerja."
"Di saat begini kamu masih bisa melakukan hal ginian. Tapi hmm ...."
Setelah kupikir dengan matang, memang ini kesempatan yang langka bagiku berduaan bersamanya di situasi begini terutama tidak diganggu anggota timku. Aku mempererat pelukannya membenamkan kepalaku pada tubuhnya manja.
"Tapi pikiran dan ucapan sangat berbeda jauh. Kamu tidak usah berpura-pura, Penny. Jujur saja padaku bahwa kamu sebenarnya ingin bermanja denganku lebih lama lagi," ucap Adrian dengan senyuman godaannya.
"Mmm tadi aku belum berpikir matang. Sekarang rasanya aku membutuhkanmu sepenuhnya."
Sementara di dalam klinik pada saat yang bersamaan, pengacara Leonard sedang menjalankan terapi rutinnya. Tak lama kemudian, dokter Jesslyn menghentikan aksi terapinya dan menepuk tangannya keras untuk membangunkan pengacara Leonard dari dunia halusinasi.
__ADS_1
Pengacara Leonard membuka kedua matanya perlahan lalu menegakkan tubuhnya bersandar lemas pada kursi khususnya.
"Omong-omong, tumben sekali kamu mendatangiku di pagi hari? Apa mungkin telah terjadi sesuatu yang aneh padamu lagi semalam?" tanya dokter Jesslyn penasaran.
"Semalam lagi-lagi ada reaksi yang aneh. Untung saja tidak melakukan sesuatu yang kejam lagi. Hanya saja penyakit insomniaku sepertinya semakin buruk deh. Semalam aku hanya bisa tidur selama 2 jam saja," jelas pengacara Leonard.
"Kamu rutin minum obat insomnia dariku, 'kan?"
"Selama ini sih aku rajin minum obat pemberian darimu. Tapi ada sesuatu yang selalu menolakku untuk minum obatnya. Maka dari itu, sepertinya sebentar lagi dia akan menguasai tubuhku sepenuhnya. Kalau begini terus apa sebaiknya aku bunuh diri saja?" desah pengacara Leonard pasrah.
"Kamu jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu. Karena kalau kita mengakhiri hidup tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Hidupmu yang selama ini kamu jalani bertahun-tahun akan terbuang sia-sia."
"Aku juga tahu itu. Tapi kalau seandainya dia mengambil alih tubuhku sepenuhnya, sama saja seperti aku sudah mati. Lebih baik aku bunuh diri saja jadi aku bisa membunuhnya juga sekalian."
"Tapi--"
"Mungkin kamu tidak akan pernah bisa menghentikanku. Kalau kamu jadi aku pasti juga tidak tahan hidup seperti ini terus. Kamu tidak mungkin menjalani hidupmu seperti orang tidak waras setiap harinya. Apalagi kamu adalah dokter yang hebat dalam menangani pasien memiliki gangguan jiwa sepertiku. Sedangkan aku adalah seorang pengacara hebat yang bekerja di firma hukum ternama, pasti kamu tidak ingin hidup seperti monster dan terus mempertahankan harga dirimu yang mahal. Kamu memiliki klinik dan juga banyak pasien yang selalu mengincarmu, kalau seandainya jiwamu yang lain menguasai tubuhmu, kamu tidak akan pernah memberikan semua yang kamu perjuangkan selama ini kepadanya, 'kan."
"Benar juga sih perkataanmu itu. Kalau seandainya aku memiliki penyakit sepertimu lalu semakin hari semakin memburuk sepertinya aku tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang setiap harinya."
"Maka dari itu, aku sudah pernah berpesan padamu sebelumnya. Kalau seandainya terjadi sesuatu yang buruk padaku, sebaiknya kita jangan pernah bertemu lagi. Aku takut dia akan membahayakan nyawamu suatu hari nanti," saran pengacara Leonard baik.
"Apa mungkin kamu selama ini memiliki seorang rekan kerja yang kenal dekat denganmu? Aku takut dirimu nanti tidak bisa mengendalikannya dan menyakiti semua orang berada di sekitarmu."
Pengacara Leonard berusaha memikirkannya sambil memiringkan kepalanya dan mengernyitkan alisnya.
"Selama ini sih tidak ada seseorang yang terlalu dekat denganku. Adanya aku mengenal seseorang yang kuanggap sebagai musuh bebuyutanku sejak dulu."
"Kamu tidak bermaksud menyakitinya, 'kan?" tanya dokter Jesslyn ragu.
"Tidak mungkin aku melakukan perbuatan kejam gitu padanya. Bahkan sekarang setiap kali aku memegang pisau saja rasanya seperti para korban menghantukiku."
"Yang pasti kamu jangan pernah berniat membunuhnya saja. Kalau kamu memiliki pemikiran begitu, bisa juga suatu hari nanti dia akan membantumu untuk membunuhnya."
"Mustahil aku memiliki pemikiran begitu. Istrinya sangat cantik, aku tidak tega melihat istrinya menangis melihat suaminya meninggal di hadapannya," bantah pengacara Leonard memalingkan matanya.
"Baguslah kalau begitu sekarang aku jadi sedikit merasa lega."
"Tapi pasangan suami istri itu terus saja ingin menangkapku." Pengacara Leonard menghembuskan napasnya kasar.
"Jangan bilang mereka yang selama ini sedang menyelidiki kasus pembunuhan yang telah kamu perbuat, bukan maksudku dirimu yang lain."
"Iya memang benar mereka selama ini mengincarku terus," sahut pengacara Leonard berterus terang.
"Tapi apakah kamu ingin menyerahkan dirimu begitu saja? Padahal itu bukan perbuatanmu sesungguhnya."
"Iya memang benar sih. Tapi apa boleh buat cepat lambat mereka pasti akan mendapatkan buktinya. Aku sudah mempersiapkan mentalku untuk membusuk di balik jeruji besi seumur hidupku."
"Jadinya kamu akan mengakui itu adalah perbuatanmu sesungguhnya?"
"Iya. Aku tidak mungkin mengatakan kalau itu bukanlah perbuatanku. Apalagi pasti beberapa kali aku tertangkap pada kamera CCTV atau saksi mata. Kalau aku mengatakan diriku yang lain melakukan perbuatan kejam itu, mereka pasti tidak akan memercayainya sama sekali."
"Tapi kariermu nanti akan hancur begitu saja."
"Lebih baik karierku hancur daripada akan banyak korban lagi yang mati karenaku."
Pengacara Leonard beranjak dari kursinya sambil membenarkan jas kerjanya bersiap-siap berpamitan dengan dokter Jesslyn.
"Tapi aku tidak tega melihat pasienku berakhir seperti itu. Kamu adalah pasien terlama yang aku tangani bertahun-tahun."
"Memang nasibku sudah seperti ini sejak dulu. Aku harus menerima kenyataannya saja. Sudahlah lebih baik aku kembali bekerja saja," pamit pengacara Leonard menepuk pundaknya dokter Jesslyn lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
"Jangan lupa kamu harus minum obat insomnia juga supaya tidurmu selalu nyenyak!" pekik dokter Jesslyn.
Kembali lagi pada aku dan Adrian yang dari tadi masih saja terus memantau pengacara Leonard. Kali ini ia menampakkan dirinya keluar dari klinik itu langsung memasuki mobilnya. Setelah mobilnya sudah jauh jangkauannya dari kami, aku memutuskan untuk memasuki klinik itu sekarang.
"Adrian, sebaiknya kita masuk ke klinik itu deh. Kita harus menanyakan penyakit yang dialami pengacara Leonard kepada dokter yang menanganinya selama ini."
"Aku yakin sekali penyakit yang dialaminya bukan penyakit gangguan jiwa biasa. Mengingat durasi waktunya yang sangat lama dia berada di dalam klinik itu."
"Apalagi dia sampai menyembunyikan rekam medisnya pada data pribadinya."
__ADS_1
"Mungkin bisa jadi penyakit ini yang membuatnya melakukan hal sembrono. Aku jadi semakin penasaran penyakit langka yang dialaminya selama ini."
"Ayo, kita masuk ke sana sekarang saja!" ajakku terburu-buru.