
Misi yang aku rancang secara spontan semoga dapat berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apa pun. Sambil menunggu kondisi kesehatan Adrian pulih sepenuhnya, kami semua mempersiapkannya jauh-jauh hari dulu. Terutama Yohanes terus memantau pergerakan mencurigakan kepala jaksa Henry selama di kantor. Setiap saat dari pagi sampai malam, ia terus memantaunya tanpa mengenal lelah. Bahkan saat makan siang saja, Yohanes rela mengikutinya diam-diam menuju restoran lalu memotret pergerakannya untuk melaporkannya padaku. Namun belakangan ini belum ada tanda kecurigaan pergerakannya.
Hingga pada saat sehari sebelum Adrian diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Yohanes tetap memantau pergerakannya di balik tembok dekat ruang kerja kepala jaksa Henry. Tiba-tiba kepala jaksa Henry melangkah keluar dari ruangannya ketika Yohanes sedang berdiri mematung di balik tembok. Ia dengan sigap mengintainya dari belakang tanpa suara langkah kakinya.
Ketika di tengah perjalanan untuk melakukan misi pengintaiannya, Yohanes dengan santainya mengendarai mobilnya sambil bersiul. Namun mobilnya kepala jaksa Henry bukan menuju restoran tempat yang biasanya ia makan. Sontak Yohanes langsung menginjak pedalnya sedikit dalam dan mulai konsentrasi lagi mengejarnya. Lampu sen kiri menyala pada mobilnya kepala jaksa Henry menuju suatu tempat. Yohanes juga menyalakan lampu sennya membelokkan mobilnya.
"Hmm sepertinya kali ini dia ke tempat markas rahasianya deh," gumam Yohanes menyipitkan matanya.
Dugaannya barusan ternyata benar. Kepala jaksa Henry melajukan mobilnya memasuki basement Brilliant Hotel mengambil karcis parkirnya. Tidak mau ketinggalan jejak juga, Yohanes bergegas memasuki basement lalu memarkirkan mobilnya berada di dekat mobilnya kepala jaksa Henry dengan radius beberapa meter saja.
Yohanes kembali mengikutinya lalu bersembunyi di balik tembok mengamatinya dari jauh. Ketika pintu liftnya terbuka lebar di saat bersamaan kepala jaksa Henry memasuki liftnya lalu menekan tombol lift lantai yang dituju. Yohanes melangkahkan kakinya lebar menghampiri liftnya mengamati lantai yang ditujunya.
"Hmm lantai 15. Mudah-mudahan aku tidak ketinggalan jejak."
Pintu lift sebelah terbuka secara lebar, Yohanes memasuki liftnya dan menekan lantai yang dituju sambil berdoa dalam hati.
Ting...
Yohanes bergegas keluar dari liftnya lalu mengamati sekeliling koridornya. Untung saja kepala jaksa Henry masih menampakkan dirinya sedang melangkahkan kakinya santai menuju kamar hotelnya. Langkah kaki Yohanes semakin besar tanpa menimbulkan suara dalam kondisi hening suasana koridornya.
Tak lama kemudian, kepala jaksa Henry menghentikan langkah kakinya di depan sebuah kamar lalu menempelkan kartu akses kamarnya pada alat sensor pintunya sambil mengamati sekelilingnya dengan raut wajah sedikit gugup. Sementara Yohanes membungkam mulutnya rapat bersembunyi di balik sebuah pot tanaman sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
Pintu kamarnya tertutup rapat sekarang. Dengan sigap Yohanes mendatangi kamarnya berdiri tepat di depan sana mengamati nomor kamar hotelnya. Ia mengarahkan kamera ponselnya pada pintu kamarnya untuk memotret nomor kamarnya. Usai itu, Yohanes mengirimkan fotonya melalui pesan singkat kepada Adrian.
Ia kembali bersembunyi di balik pot tanaman itu sambil tertawa sendiri seperti sedang memenangkan jackpotnya. Sudah sekitar 10 menit ia bersembunyi di sana masih belum ada pergerakan mencurigakan dari kepala jaksa Henry sampai dirinya sudah mulai merasa bosan sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian, kepala jaksa Henry melangkah keluar dari sana dengan santainya bergumam pada dirinya sendiri.
"Sepertinya besok aku mampir di sini saja daripada berada di rumah terus di saat hari libur. Tidak ada salahnya aku terus menatap di sini walaupun selama ini aku selalu hidup sendirian. Tidak, waktu itu aku terus tinggal bersama monster yang membuat hidupku sengsara! Mari kita lihat saja nanti, monster sialan itu akan membusuk di jeruji besi!" umpatnya sambil melangkah menuju lift.
Sementara Yohanes hampir saja cegukan tertangkap basah ketika sibuk menguping dari tadi. Ia terus menarik napasnya pelan lalu menghembuskannya untuk menenangkan otot-ototnya terasa tegang.
Sedangkan di sisi lain, aku dan Adrian asyik menonton film horror bersama di kamar pasien sebelum beraksi besok. Untung saja kondisi sekarang masih siang jadinya aku tidak merasa takut sama sekali. Kalau aku menontonnya saat malam hari, mungkin aku bakal berlompat-lompat terus seperti sedang melihat hantu sungguhan.
"Sayang, kalau kamu takut sebaiknya kita menonton film lain saja," saran Adrian lembut.
"Tidak. Untuk apa takut?" sahutku berlagak polos.
"Tapi biasanya kamu juga nanti ketakutan teriak terus sampai memelukku erat. Padahal kamu selalu saja berlagak sombong dan pemberani di hadapanku tapi sebenarnya kamu penakut. Dasar kebiasaan sejak pertama kali kita berkencan," sindirnya tertawa kecil.
"Tidak. Lihat saja nanti! Aku sekarang sudah berani."
Namun ketika ada adegan paling menyeramkan tiba-tiba muncul di tengah perbincangan kami, rasanya aku ingin berteriak menjerit lalu memeluknya erat. Tapi tidak mungkin aku langsung melakukannya setelah bertingkah sombong di hadapannya barusan. Aku menahan rasa takutku dengan mengukir senyuman paksa dan tanganku sedikit gemetar sekarang. Tatapan mata Adrian tertuju padaku menyadari aku sedikit bertingkah aneh di hadapannya.
"Sayang, kalau kamu takut mendingan ngaku saja deh," ucapnya menatapku khawatir.
"Aku tidak takut," sahutku masih bisa berlagak sombong padanya.
"Tapi kamu berkeringat sekarang." Adrian menyeka keringat yang melekat pada dahiku.
"Itu karena suhu ruangan ini memang panas dari sananya." Aku terus mencari alasan padanya sambil mengibaskan kerah kemejaku seolah-olah kegerahan.
"Padahal aku tidak menaikkan suhunya. Sudahlah kamu tidak usah membohongiku mencari segala alasan."
Adegan dalam film horrornya semakin lama semakin menyeramkan lalu hantunya muncul tiba-tiba membuatku tersentak kaget merinding ketakutan sekarang.
"AAHHH!" teriakku menjerit secara spontan memeluknya erat.
"Sayang ...." lirihnya mengelus kepalaku seperti anak kecil.
Mataku terbelalak menyadari tingkahku sekarang yang tidak sengaja memeluknya sampai mencengkeram bajunya. Aku membuang mukaku darinya melepas pelukannya langsung. Namun Adrian melingkarkan tanganku kembali pada punggungnya dan membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya.
"Sudahlah tidak usah berlagak jual mahal terus padaku. Aku tidak mungkin memarahimu karena berbohong padaku barusan, Sayang," ucapnya menyunggingkan senyumannya.
"Aku tidak bermaksud membohongimu, Sayang. Tapi aku kesal pada diriku sendiri saja sejak dulu walaupun aku berlagak sombong tetap saja aku selalu ketakutan nonton film horrornya."
"Lebih baik kamu ketakutan daripada berlagak pemberani. Karena aku ingin dipelukmu terus seperti boneka," balasnya mencubit pipiku lembut.
"Sayang, aku takut." Aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan mengedipkan mataku berlagak imut.
"Kamu tidak usah takut lagi, Sayang. Kalau takut sebaiknya pejamkan matamu saja."
"Tidak mau!" tolakku langsung.
"Kenapa memangnya?"
"Daripada aku menutup mataku, lebih baik aku menatapmu saja untuk menghilangkan rasa takut."
Tatapan mata kami saling bertemu satu sama lain. Pandangan matanya berbinar terfokus padaku sambil menyentuh pipiku dengan kedua tangannya.
BAMM
Tiba-tiba ada seseorang membuka pintu kamarnya kasar sehingga momen kemesraan kami sekarang dikacaukan olehnya. Sosok Yohanes yang telah mengacaukannya dengan memasang raut wajah kepolosannya memalingkan mata dari kami.
"Maaf aku tidak sengaja merusak momen kalian. Aku sungguh tidak melihat apapun tadi. Kalian silakan lanjutkan saja," sesalnya menunduk bersalah membalikkan tubuhnya menghadap pintu lagi.
"YOHANES!!" Adrian sudah tidak bisa menahan amarahnya sekarang melampiaskannya dengan meneriakkinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Langkah kaki Yohanes spontan terhenti tepat di depan pintu. Kini rasanya sudah seperti ia tersambar petir yang dahsyat membuat tubuhnya sekarang mati rasa. Secara perlahan ia menolehkan kepalanya pada Adrian sambil menggigit bibirnya terus.
"Aku sungguh tidak melihatnya sama sekali! Kalau begitu aku akan pergi sekarang," ucap Yohanes sangat gugup.
"Kenapa kamu selalu saja muncul di saat aku sedang menghabiskan waktu bersama istriku? Apa mungkin kamu sengaja melakukannya karena cemburu?"
"Cih! Mana mungkin aku cemburu di saat aku sendiri sudah menikah juga! Pemikiranmu ada-ada saja!" sergah Yohanes menatap sebal.
"Ya sudah terserah padamu saja. Sekarang kamu katakan padaku, kenapa tiba-tiba mengunjungi sampai lupa mengetuk pintu kamarnya?"
"Aku punya berita bagus untuk kalian."
__ADS_1
"Langsung ke inti pembicaraannya saja! Tidak usah pakai lama!" celetuk Adrian kasar.
"Kepala jaksa Henry akan mengunjungi hotelnya lagi besok. Jadinya besok kebetulan adalah hari kita menjalankan misinya, kesempatan emas ini sepertinya jarang terjadi deh."
"Bagus. Kalau begitu kita harus mempersiapkannya matang untuk besok," balas Adrian penuh bersemangat.
"Ish perasaan tadi kamu marah padaku, sekarang bisa tersenyum. Kamu maunya apa sih?" seloroh Yohanes mengangkat alisnya.
"Yang pasti besok kita harus mencari buku rekeningnya sampai ketemu," sahutku tersenyum licik.
Tak terasa waktu berjalan cepat. Aku dan semua anggota timku sudah mempersiapkannya dengan matang untuk menjalankan misi yang aku rancang sebelumnya. Kami semua berkumpul di satu kamar hotel untuk saling mendukung satu sama lain sebelum menjalankan aksinya masing-masing. Untung saja kondisi Adrian sekarang sudah pulih sehingga bisa membantuku maksimal.
Sebelum itu, Tania dan Fina merias wajahku terlebih dahulu supaya terlihat lebih mantap. Apalagi kedua sahabatku ini walaupun biasanya menyebalkan, tapi teknik merias wajahnya memang bisa diandalkan. Sebenarnya aku tidak membutuhkan mereka, karena aku juga bisa merias wajahku sendiri bahkan setiap hari walaupun tidak terlalu mencolok.
"Aduh, aku bisa merias wajahku sendiri!" keluhku cemberut.
"Ssstt! Sebaiknya kamu diam saja. Aku jadi susah memakaikan pemerah pipi padamu," oceh Tania.
"Tapi biasanya kan aku yang merias wajahku."
"Seharusnya kamu bersyukur memiliki teman seperti kami. Lagi pula Adrian pasti akan terpesona melihat kecantikanmu," tambah Fina sambil memoles bibirku dengan lipstiknya warna merah cerah.
Aku menempelkan bibirku bagian atas dan bawah untuk meratakan warna bibirnya lalu mengukir senyuman khasku di hadapan cermin. Kini penampilanku sudah seperti pengantin baru saja menikah dengan balutan dress merah selutut. Fina dan Tania terpesona denganku sambil menyentuh pundakku menatap cermin.
"Sempurna!" puji Fina.
"Memang kalian bisa diandalkan. Terima kasih ya!" Aku membalikkan tubuhku memeluk mereka berdua erat.
Sementara para lelaki sedang sibuk di sisi lain. Wajah tampan Adrian kembali bersinar ditambah penampilannya kini terlihat sangat keren dan spontan ia melepas satu kancing kemejanya.
"Wah, Adrian!" seru Hans heboh.
"Kamu norak sekali sih!" celetuk Adrian.
"Penampilanmu keren sekali walaupun baru saja pulih," puji Nathan mengacungkan jempolnya.
"Aku yakin Penny nanti akan terpesona melihatmu," lontar Hans.
Sedangkan aku yang sudah selesai merapikan penampilanku memutuskan untuk menghampiri suamiku sedang duduk di sudut ranjang. Pandangan mata kami berbinar apalagi ekspresi wajahnya tercengang mengamatiku.
"Kamu sangat cantik, Sayang," pujinya manis.
"Kau juga terlihat tampan dan keren."
"Penampilanku yang terlihat keren seperti biasanya, pasti kamu sangat merindukannya selama ini." Adrian mengedipkan mata kirinya padaku.
"Mala dari itu, jangan pernah memakai seragam pasien lagi ditambah perban pada kepalamu. Dua hal itu sangat mengganggu pemandangan."
"Tenang saja, Sayang. Penampilanku akan terus terlihat tampan seperti ini supaya kamu terpesona melihatku setiap saat."
Adrian meraih tanganku membiarkanku duduk di atas pangkuannya kemudian mendekapku hangat di hadapan semua temanku membuat mereka semua iri.
"Mereka semakin lama semakin berani terang-terangan bermesraan di hadapan kita," lanjut Hans.
"Omong-omong Sayang, apakah kita tidak memiliki perencanaan cadangan? Kalau sampai rencana awal tidak berjalan mulus, kita harus memikirkan perencanaan cadangannya," tanyanya padaku.
"Iya sih. Tapi aku belum memikirkan rencananya nih."
"Aku punya ide!"
Adrian membisikkan rencananya padaku hingga membuat jantungku semakin berdebar dan senyumanku terus mengambang membayangkannya.
"Bagaimana, Sayang? Apakah kamu suka idenya?" tanyanya menyunggingkan senyuman nakal.
"Mmm aku suka idenya tapi ini sedikit berlebihan sih," sahutku menunduk malu.
"Apa tuh rencananya?" tanya Nathan penasaran.
"Sepertinya mencurigakan nih," tukas Tania menyipitkan matanya.
"Sudahlah hal kecil ini tidak usah dipeributkan. Sebaiknya kalian juga harus bersiap-siap berpenampilan sesuai peran kalian dan peralatannya harus sudah siap," titahku kepada mereka semua.
"Baiklah, Penny!" patuh mereka serentak.
Hans menyamar sebagai seorang pelayan kamar hotel dengan riasan memakai kacamata yang biasanya dipakai untuk orang polos beserta kumis palsunya. Sementara Fina juga menyamar sebagai pelayan kamar hotel dengan menguncir rambutnya sudah selayak seperti perannya. Nathan memakai seragam petugas keamanannya, topi, beserta kumis palsunya juga sudah seperti perannya. Tania yang tugasnya memantau dari kamar hotel seberang juga sudah mempersiapkan kameranya dulu. Sedangkan hanya Yohanes yang tidak berkumpul bersama dengan kami dulu karena ia harus memantau pergerakan kepala jaksa Henry depan rumahnya.
Masing-masing dari kami memakai earpiece untuk memudahkan komunikasi kami dalam jarak jauh. Ketika Yohanes sedang fokus melakukan pemantauannya di depan rumah itu, kepala jaksa Henry sudah menampakkan dirinya di depan rumahnya sedang memasuki mobilnya. Kemudian Yohanes yang pertama kali melakukan aksinya sekaligus juga melaporkannya kepada seluruh anggota tim.
"Dia sedang menuju ke sana sekarang."
Sementara aku bersama anggota timku lainnya yang sedang berkumpul langsung fokus pada misinya sekarang.
"Kalian sudah siap sekarang?" tanyaku bersemangat.
"Sudah pasti aku siap sekali!" sorak Adrian tersenyum lebar.
"Mari kita musnahkan penjahat itu!" sambung Hans percaya diri.
"Kalau begitu sekarang kalian semua bergegas menuju pos masing-masing dan mulai memainkan peran kalian," pintaku tegas.
"Baiklah, Penny!" patuh semuanya serentak.
Saat ini mereka semua berpencar menuju posisi mereka masing-masing. Tania bergegas berlari memasuki hotel seberang mengambil kartu akses kamarnya di meja resepsionis sambil membawa peralatannya. Setibanya di kamar hotel, Tania langsung mengatur kameranya terlebih dahulu mengukur ketepatan dan juga fokus pemotretannya.
Kini hanya aku dan Adrian berada di kamar hotel ini masih dalam posisi bermanja padanya sebelum melakukan misi rahasianya.
"Sebentar lagi dia akan tiba di hotel, kalian bersiap-siaplah." Suara Yohanes terdengar dalam earpiece.
"Baiklah sebaiknya kamu berhati-hati saja," sahutku.
__ADS_1
Aku menarik napasku pelan lalu menghembuskannya dalam untuk mempersiapkan mentalku. Adrian menggenggam tanganku erat menatapku penuh percaya diri.
"Aku yakin kita pasti bisa, Sayang," ucapnya.
"Sebenarnya ini baru pertama kali aku berbuat nekat seperti ini. Apalagi aku melibatkan semua anggota timku, kamu, dan Yohanes. Aku jadi sedikit gugup," desahku lesuh.
"Ide rancanganmu tidak akan pernah gagal, Sayang. Lagi pula pasti akan seru kalau bermain peran denganmu."
"Iya itu karena memang aku sengaja membagi perannya seperti itu supaya aku bisa terus bersamamu."
Sementara di sisi lain, Yohanes masih sibuk mengikuti mobilnya kepala jaksa Henry di tengah perjalanannya menuju hotel. Tak membutuhkan waktu yang lama, kepala jaksa Henry memarkirkan mobilnya di basement lalu diikuti Yohanes memarkirkan mobilnya yang jaraknya tidak jauh jangkauannya.
"Dia sudah tiba di sini," ucap Yohanes melaporkannya lewat earpiece.
Mendengar laporan dari Yohanes, aku dan Adrian bergegas keluar dari kamar hotel yang kami tempati melangkah menuju lift supaya seperti seolah-olah kami baru saja mampir dari suatu tempat.
Sementara di basement sekarang, ketika kepala jaksa Henry sudah tidak menampakkan dirinya, Yohanes bergegas menghampiri Nathan yang sedang berjaga dari jarak jauh.
"Bagaimana sekarang? Kamu ingin melakukannya?" tanya Nathan.
"Tentu saja. Rasanya aku ingin menghancurkan mobilnya sampai tidak terbentuk lagi."
"Aish, bukan berarti gitu juga kali!"
"Sudahlah kamu tidak usah berisik. Kamu tinggal diam dan lihat aku saja!"
Yohanes memakai topinya dan juga masker sambil mengambil kunci dari saku jasnya membuat goresan halus pada pintu mobilnya kepala jaksa Henry dan juga bampernya. Lalu ia mengukir senyuman liciknya sambil menendang mobilnya kasar hingga berbunyi. Sementara Nathan mengamati berdecak kagum bertepuk tangan dari kejauhan.
"Wah, ternyata kamu juga tipe orang yang menyeramkan juga, ya!" s
puji Nathan menatap melongkok.
Lalu Yohanes kembali mendatangi Nathan berlagak angkuh memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya.
"Bagaimana dengan aksiku barusan? Keren bukan?" tanya Yohanes.
"Bukan keren. Tapi luar biasa!" puji Nathan mengacungkan jempolnya.
"Ini juga sebagai pelampiasan dariku karena dia selalu saja memarahiku ketika pekerjaanku tidak memuaskan baginya. Apalagi selama ini dia juga selalu meremehkan Adrian dan Penny saat menyelidiki kasus sekarang. Aku tidak akan memaafkannya dengan mudah," jelas Yohanes mengangkat alisnya.
"Kamu setiap kali sedang marah pasti langsung seram gini. Padahal biasanya kamu bertindak santai saja."
"Itu karena aku juga harus melihat kondisi sekarang. Kalau kondisinya bikin aku marah, pasti aku akan bertindak lebih jauh."
"Ya sudah deh, kalau begitu sekarang aku akan mulai memainkan peranku."
Sementara sekarang Tania sudah bersiaga di kamar hotel seberang berfokus mengamati kepala jaksa Henry dari kejauhan. Ketika kepala jaksa Henry mulai melakukan pergerakan mencurigakan, Tania langsung mengatur fokus kameranya bersiap memotret setiap pergerakannya. Kepala jaksa Henry menghampiri sudut kamar hotelnya membuka sebuah brankas rahasianya lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil tersimpan dalam sana.
"Bagus ini adalah jackpot!" seru Tania mulai asyik memotretnya.
Sekarang Hans dan Fina sedang melangkah menuju kamar kepala jaksa Henry sambil mendorong kereta berisi pesanan makanannya. Hans mengetuk pintunya pelan sebanyak tiga kali tanpa rasa gugup sama sekali.
Tok...tok...tok...
Kepala jaksa Henry menghentikan aksinya memasukkan buku rekening rahasianya ke dalam brankas pribadinya lagi dengan mendengkus kesal. Lalu ia menghentakkan kakinya kasar menbuka pintunya.
"Ada apa ini?" tanyanya penuh emosi.
"Maaf telah mengganggu kenyamanan Anda. Kami ingin melakukan pelayanan kamar dengan menyajikan beberapa makanan untuk Anda," ucap Fina sopan.
"Oh iya, benar juga. Maaf saya telah membentak Anda. Silakan masuk dulu," balasnya lemas.
Hans dan Fina memasuki kamarnya lalu menaruh makanannya di atas meja, tatapan matanya berfokus pada brankas rahasia yang bersandar pada sudut kamar. Tiba-tiba ada ide cemerlang yang terlintas pada pikirannya Fina untuk mengalihkan pembicaraannya sambil menunggu Hans menuangkan tehnya ke cangkir kecil.
"Omong-omong, bagaimana menurut Anda mengenai pelayanan hotel ini? Apakah menurut Anda memuaskan atau sebaliknya?" tanya Fina berbasa basi.
"Hmm kalau menurut saya sih pelayanannya sangat memuaskan bahkan saya ingin memberikan penilaian bintang enam."
"Wah kalau sampai manajer kami mendengarnya pasti akan sangat senang!" seru Hans tersenyum paksa.
"Kenapa kalian menanyakan ini tiba-tiba?" tanyanya terheran.
"Oh, itu karena kami masih merasa bersalah karena mengganggu kenyamanan Anda sekarang sampai menegur kami tadi," jawab Fina nada bicaranya agak manis.
"Tidak juga. Saya yang bersalah tadi. Mengenai bentakkan saya barusan, jangan disimpan dalam hati Anda, ya," sesal kepala jaksa Henry mendekatkan tubuhnya menuju Fina.
Sementara ini adalah kesempatan yang bagus bagi Hans mengambil kartu akses kamarnya yang diletakkan di meja. Ketika melihat perlakuan Fina seperti ini, rasanya ia sedikit geram sekarang.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu sebanyak tiga kali membuat kepala jaksa Henry semakin kesal karena merasa mengganggu aktivitasnya sekarang. Ia membuka pintunya kasar dengan tatapan mata elang.
"Ada apa lagi ini?" tanya kepala jaksa Henry penuh emosi.
"Maaf mengganggu kenyamanan Anda. Tadi saat saya sedang berjaga di basement ada seseorang sengaja berbuat iseng pada mobilmu," jawab Nathan datar.
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Anda harus ikut dengan saya sekarang. Alarm mobil Anda sampai berbunyi terus mengganggu ketenangan para tamu hotel lainnya."
"Baiklah kita ke sana sekarang!"
"Lalu bagaimana dengan makanannya?" tanya Fina.
"Sudah dibiarkan di atas meja saja. Sebaiknya kalian juga bergegas kembali bekerja sekarang," pinta kepala jaksa Henry kepada Hans dan Fina terburu-buru meninggalkan ruangannya.
Sementara Hans dan Fina berlagak polos melangkah keluar dari kamarnya juga lalu melaporkan pergerakannya lewat earpiece.
"Sekarang giliranmu dan Adrian beraksi," ucap Fina.
__ADS_1