
Aku berdiri mematung dengan kakiku gemetar sekarang. Perasaanku semakin tidak enak. Menurut firasatku, yang memberikan pesan kepadaku bukan seorang saksi, tapi dari Josh. Ia bertindak seolah-olah menjadi saksi untuk memancingku ke sini. Pantesan saja ia tidak memperbolehkan aku mengajak anggota timku dan juga petugas polisi lain.
Dengan penuh rasa takut, aku menolehkan kepalaku ke belakang pelan. Josh menatapku tersenyum licik, berjalan mendekatiku perlahan. Aku melangkah mundur sampai keringat dingin sambil menggenggam ponselku gemetar.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Josh dengan tatapan sinis sambil melonggarkan lilitan dasi di lehernya.
Aku berusaha berpura-pura tegar dan tidak tahu apa pun. "Kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?"
Josh tersenyum psikopat, langkahnya semakin besar seolah-olah tidak sabar ingin menyentuhku. "Aku? Aku yang menghubungimu tadi lewat pesan singkat."
"Kamu ingin berbicara denganku mengenai apa? Kita bisa membicarakannya dengan baik," ujarku sangat gugup dan akhirnya langkah kakiku terhenti pada tembok.
"Aku ingin kamu menjadi milikku sekarang!" pekik Josh mencengkeram lenganku menarikku menuju sebuah ranjang.
Dengan sigap aku membuka ponselku dan memberikan sinyal SOS kepada Adrian untuk menolongku secepatnya. Josh menghempaskan tubuhku di atas ranjang sambil membuka kancing kemejanya satu per satu memulai aksi aneh.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriakku menjerit ketakutan sambil berusaha melepas cengkeraman tangannya.
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku barusan? AKU INGIN KAMU MENJADI MILIKKU SEKARANG JUGA!!" Josh semakin tidak waras meraba kedua lenganku.
"DASAR BEDEBAH TIDAK WARAS! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENYENTUH TUBUHKU!" umpatku menampar wajahnya kasar.
PLAKK
"Sekarang kamu berani menamparku! Rasakan akibatnya nanti!" ketus Josh menjambak rambutku kuat.
Aku menahan rasa sakit akibat ia menjambakku. Aku menggenggam ponselku erat memasang tatapan tanpa rasa takut. "Lihat saja nanti! Adrian pasti akan menolongku sebentar lagi! Bersiaplah untuk dikurung di balik jeruji besi!"
"DIA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJADI KEKASIHMU LAGI!" Josh semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku, aku terus berusaha membela diriku menghindarinya.
Dengan satu tangan, aku mencoba untuk menghubungi Adrian.
Sedangkan Adrian sedang mengendarai mobilnya menuju kantor polisi. Tiba-tiba ia menerima sinyal SOS lalu dengan cepat membuka navigasinya. Posisi navigasi itu menunjukkan Loyal Hotel. Perasaannya sudah mulai tidak enak dan keringat dingin mulai mengalir di lehernya. Pada saat bersamaan ada panggilan telepon dari 'Kekasih Kesayanganku'. Dengan sigap ia mengangkat panggilan telepon.
"Tolong aku, Adrian! Kumohon ...."
"Penny!" panggil Adrian panik.
Panggilan telepon itu terputus. Sekarang Adrian sangat geram hingga matanya memerah mendengar suara sang kekasih disiksa habis-habisan. Ia terus menyentuh dadanya kini terasa sangat sakit, sesak dan juga ingin menangis karena rasa sakitnya yang begitu mendalam. Ia mencoba menghubungi Hans untuk membantunya dengan menekan layar LCD.
"Hans, aku butuh bantuanmu! Tolong panggilkan anggota tim lainnya pergi ke suatu hotel. Nanti akan kukirimkan navigasinya!"
"Memangnya ada apa? Kenapa kita harus ke sana?"
"Penny dalam bahaya! Kamu harus ke sana sekarang!"
"Apa? Baiklah, aku ke sana sekarang juga."
Emosinya sangat tidak stabil sambil memukul setiran sambil menambah kecepatan penuh menyetir mobilnya menuju hotel itu.
"AARGHHH! Awas saja sampai keparat itu berani menyentuh wanitaku!"
Kembali lagi di saat aku sedang disiksa Josh yang sudah tidak waras. Emosi Josh terkontrol, lalu membanting ponselku terjatuh ke lantai. Aku berusaha mendorong tubuhnya menjauh dariku tapi tenagaku sudah mulai habis untuk melawannya. Rasanya aku ingin menendang area terlarang, tapi ia terus menahan kedua kakiku agar aku sulit memberontaknya.
"LEPASKAN AKU, JOSH!!" teriakku menjerit berusaha menggigit pergelangan tangannya.
Namun tangannya menahan kepalaku. Tenagaku kini kalah dengannya sehingga aku merasa tidak berdaya sekarang.
"JANGAN HARAP AKU BISA MELEPASKANMU SEMUDAH ITU!!"
__ADS_1
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENJADI MILIKMU!!"
"POKOKNYA MALAM INI AKU AKAN JADIKAN KAMU MILIKKU DENGAN PAKSA!!"
Bibirnya hampir menyentuh bibirku berbeda sangat tipis. Aku menangis pecah dan bisa dikatakan kejadian ini membuatku trauma. Apalagi ia meremas kepalaku sekuat tenaga dan tangannya ingin meraih kancing kemejaku.
BAMM
Adrian membuka pintu kamar dengan paksa sampai rusak.
Adrian berlari menarik Josh lalu menonjok wajahnya denvan sekuat tenaga. "LEPASKAN WANITAKU DASAR BEDEBAH GILA!!"
PUKK
Josh tersenyum iblis membersihkan bibirnya sedikit berdarah. "Kenapa? Sekarang kamu berlagak jadi pahlawan?"
"BERANINYA KAMU MENYENTUH TUBUHNYA! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU!" Adrian mencengkeram lengan kemejanya Josh sambil menonjok wajahnya terus.
PUKK
Josh membangkitkan tubuhnya dengan lincah lalu menonjok dan mendorong tubuh Adrian dengan kasar hingga terjatuh ke lantai. Adrian meringis kesakitan karena sikunya kena kaki kursi sehingga tidak ada tenaga mengejar Josh sudah melarikan diri.
Sedangkan semua anggota timku baru tiba di kamar hotel dengan raut wajah panik.
"KALIAN SEMUA CEPAT TANGKAP DIA! JANGAN SAMPAI DIA KABUR!" pinta Adrian emosinya membludak.
Hans langsung berlari mengejar Josh dan diikuti anggota tim lainnya.
Sedangkan aku duduk lemas di ranjang dalam kondisi masih trauma dengan kejadian menakutkan. Aku sangat ketakutan sampai tanganku gemetaran tidak bisa dikendalikan dan juga sarafku sangat tegang akibat syok.
Dengan sigap Adrian menghampiriku berjongkok di hadapanku, lalu menggenggam kedua tanganku untuk menenangkanku. "Penny, kamu terluka? Apakah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Jangan membuatku takut, Penny."
"Aku ... takut, Adrian. Ini ... lebih menyeramkan dari film horror." Air mataku terus berlinang pada wajahku.
Tangisanku semakin pecah. "Seharusnya aku tidak berbuat ceroboh. Aku terlalu nekat bertemu dengannya tanpa mengajak teman-temanku. Kalau seandainya dia berbuat hal yang lebih jauh lagi, nasibku akan seperti apa nantinya? Atau mungkin kamu telat mendatangiku dan terjadi begitu saja, aku tidak akan bisa menghadapimu, Adrian. Aku masih trauma dengan kejadian barusan."
Jempolnya mengusap air mataku. "Itu tidak akan pernah terjadi. Kamu lupa aku adalah pengawal pribadimu sekaligus kekasihmu? Jadinya setiap kamu dalam bahaya, aku pasti akan menolongmu dan tiba tepat waktu."
"Tapi tadi dia nyaris saja ...." Aku tidak sanggup mengatakan kejadian tadi terutama di saat detik-detik terakhir, tanganku semakin gemetar rasanya aku tidak bisa mengendalikannya.
"Aku akan membersihkan noda kotor murahan itu sekarang juga."
Adrian menatapku dengan senyuman manis sambil memeluk punggungku erat. Ia mendaratkan kecupan manisnya pada keningku lalu perlahan bibirnya mendekati bibirku dan mencium bibirku dalam durasi singkat. Jantungku berdebar sangat kencang saat ia melakukan aksi itu tiba-tiba. Tanganku sudah tidak gemetaran lagi dan juga tidak tegang. Akhirnya aku bisa menenangkan diriku berkat dirinya. Tapi aksi ciumannya barusan membuatku agak canggung.
Saat ia melepaskan tautan bibirnya, aku terdiam sejenak sambil menyentuh bibirku bekas diciumnya.
"Adrian yang tadi barusan ...." Aku bingung harus berkata apa karena ini pertama kalinya Adrian melakukan ini padaku.
"Itu sebagai hadiah dariku untukmu. Aku bermaksud membersihkan noda kotor itu darimu supaya kamu tidak takut lagi dan tidak kepikiran dengan trauma itu. Kejadian buruk tadi harus dihapus supaya tidak terpendam dalam pikiranmu dan juga hatimu," ucapnya sambil mengelus pipiku lembut.
"Aku tidak masalah dengan itu karena kamu adalah kekasihku. Tapi ... sekarang jantungku itu terasa berdebar kencang. Rasanya aku seperti ingin serangan jantung," ujarku gugup tidak berani menatapnya sambil memegangi dadaku.
"Kenapa kamu sangat gugup di hadapanku? Aku bukan orang asing bagimu."
Aku menunduk malu. "Habisnya aku tidak terbiasa saja."
"Apakah mungkin ini ciuman pertamamu seumur hidupmu?"
Rona merah menyala pada pipiku. "Iya, sewaktu dulu aku berpacaran dengan mantan pacarku, dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan aku tidak pernah bersentuhan dengannya apa pun itu."
__ADS_1
Adrian tertawa manis sambil menyelipkan helaian rambutku ke belakang telingaku. "Syukurlah, ini merupakan kabar sangat baik."
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang kucintai, Penny. Untung saja aku adalah orang pertama yang melakukan ciuman padamu. Nyaris saja keparat gila itu melakukan hal kotor padamu di hadapanku yang membuatku semakin geram," gumamnya dalam hati.
"Aku tidak akan membiarkan pria lain berbuat hal seperti itu lagi kepadamu. Kamu harus selalu ingat bepergian bersamaku terus. Bukankah kita sudah berjanji bahwa kita selalu bersama di mana pun dan kapan pun. Jangan pernah mengingkari janjimu lagi."
Sekarang aku kembali bernapas lega. Memang vitaminku satu-satunya yang mampu menghapus lukaku. Apalagi ciuman darinya juga aku sangat menyukainya.
Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya manja. "Terima kasih telah mengobati lukaku. Berkat kamu, sekarang aku tidak takut lagi. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi."
Adrian menempelkan hidungnya pada hidungku. "Penny, aku sangat bahagia melakukan ciuman pertamaku bersamamu."
Aku langsung menjauhkan wajahku darinya. "Ish kenapa kamu membahas hal itu lagi! Kamu membuatku malu saja."
"Karena kita berdua melakukan ciuman pertama kita bersama, ini membuktikan bahwa kamu memang milikku, Penny."
Aku mengelus pipinya lembut. "Tidak perlu dibuktikan juga kamu memang milikku, Adrian."
Tiba-tiba raut wajahnya berubah drastis menjadi galak tatapannya. Tangannya mencubit pipiku sedikit bertenaga. "Omong-omong, aku mendengar dari Fina, kamu membohonginya dengan alasan kamu pergi ke minimarket beli camilan!"
Aku menunduk lesu. "Habisnya dia keras kepala ingin menemaniku terus. Jadinya secara terpaksa aku harus membohonginya."
"Lagi pula alasanmu itu sangat tidak masuk akal!"
"Bodoh amat yang penting aku bisa lolos darinya!" elakku dengan nada angkuh.
"Kalau aku jadi Fina, tidak akan kubiarkan kamu lolos begitu saja!"
"Walaupun begitu, aku tetap terus memaksakan diri pergi begitu saja."
"Ini akibat perbuatan cerobohmu, situasi jadi semakin rumit dan kamu barusan menghadapi ... sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi! Memikirkannya lagi membuatku sakit!"
Adrian memang galak. Tapi, aku selalu menyukai ocehannya kalau ada kaitannya denganku.
"Aku suka melihatmu perhatian padaku seperti ini," ucapku dengan senyuman godaan.
"Kamu pikir ini menyenangkan! Aku sudah sangat lelah!" celetuknya mendengkus pasrah.
Aku menggeserkan tubuhku menjauhinya. "Huft begitu saja kamu sudah ngambek!"
Adrian duduk bergeser mendekatiku, lalu memelukku sambil mengusap kepalaku.
"Aku hanya bercanda, Penny. Jangan duduk berjauhan seperti itu!"
Aku mengelus pipinya sedikit merah akibat ditonjok Josh. "Tapi apakah kamu baik-baik saja? Tadi kamu dihajar sampai terjatuh begitu. Biar kulihat luka di wajahmu itu."
"Ini tidak seberapa. Aku melihatmu dengan kondisi selamat saja sudah sangat lega."
Aku baru tersadar bahwa anggota timku sedang mengejar Josh.
"Omong-omong, kita harus membantu mereka sekarang juga!" Aku beranjak dari ranjang dan mengambil ponselku yang terjatuh di lantai.
Hans dan lainnya sibuk mengejar Josh. Mereka semua berpencar larinya supaya lebih mudah menangkapnya. Hans berlari mendekati Josh tapi selalu dihadang banyak orang yang sedang berjalan kaki di sana. Lalu ia mengambil jalan pintas untuk mengejarnya. Akhirnya ia menemukannya lagi lalu tangannya berusaha meraih Josh masih berlarian.
"Aish, berhenti di sana!" pekik Hans sambil berlari.
Di persimpangan lampu merah, saat lampu berwarna hijau, Josh dengan sigap berlari menyeberangi jalan dengan jalur zebra cross. Di saat lampu kembali berwarna merah, Hans dengan nekat berlari menyeberangi jalan, ada sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya hingga terjatuh.
BRUGHHH
__ADS_1
Fina yang menyaksikan kejadian itu tepat di depan matanya langsung berdiri mematung hingga air matanya mulai mengalir dari kelopak matanya.
"TIDAK, HANS!!"