Good Partner

Good Partner
Part 55 - Sulk


__ADS_3

Sampai sekarang aku masih penasaran sebenarnya siapa yang mengikutiku selama ini. Karena aku sedang bersama Adrian sehingga pelaku itu tidak berani mencelakai aku.


Di tengah perjalanan pulang, aku menyandarkan kepalaku pada kaca jendela mobil sambil melamun.


Adrian menatapku sekilas sambil menyetir mobil. "Kamu kenapa, Penny? Kenapa kamu melamun seperti itu?"


Aku menatapnya dengan ekspresi wajah lesu. "Tadi sebenarnya di tempat parkir, aku merasa ada seseorang yang sedang mengintaiku dari belakang."


Sebenarnya Adrian menyadarinya juga, tapi ia tetap diam supaya seolah-olah tidak tahu apa pun daripada nyawa mereka justru terancam. "Untung saja aku menjemputmu pulang jadinya pelaku itu tidak berani macam-macam denganmu."


Aku memijit pelipisku pelan. "Tapi aku masih bingung sebenarnya apa yang diinginkan pelaku itu dariku. Pelaku yang mengintaiku selama ini bukan pembunuh yang membunuh Emma. Tapi seorang anggota kepolisian dari kantorku. Kepalaku sekarang terasa sakit."


Tangan kanannya mengelus kepalaku penuh kasih sayang. "Sudah kamu tidak usah pikirkan itu dulu, lebih baik kamu tenangkan pikiranmu sekarang."


Aku mengangguk pelan. "Iya, aku mengerti."


Adrian menggenggam tangan kiriku mengelus pelan. "Sebaiknya kamu memikirkan aku saja."


Benar juga. Daripada memikirkan kasus terus, lebih baik memikirkan kekasihku yang terlihat manis sekarang. Berkat Adrian, kepalaku tidak sakit sekarang. "Memang biasanya aku selalu memikirkanmu."


"Omong-omong, apakah kamu dimarahi Inspektur lagi?"


Aku tersenyum tipis sambil menggeleng. "Walaupun alibi Josh terbukti melalui rekaman CCTV, tapi aku tidak dimarahi inspektur dan Josh. Bahkan tadi pagi, aku masih bisa makan bersama dengan Josh."


Api cemburu membara dalam tubuh Adrian. Mendengar kekasihnya makan bersama pria lain, telinganya langsung sensitif. "Tunggu sebentar! Hanya kamu yang makan bersama dengannya? Tidak ada siapa pun yang menemanimu?"


"Iya, memangnya kenapa?" Aku bertanya balik dengan tatapan polos.


Ketika lampu merah menyala di persimpangan jalan, Adrian memberhentikan mobilnya tiba-tiba hingga membuat tubuhku hampir terpental ke depan.


Membuat jantungku hampir terlepas juga! Aku merapikan rambutku sedikit berantakan, lalu memelototinya. "Ish lagi-lagi kamu bersikap seperti ini!"


"Kamu benar-benar paling pintar makan berdua bersama pria lain dibandingkan dengan pacarmu sendiri!" celetuknya bibirnya mengerucut.


Aku menyunggingkan senyuman usil, sengaja semakin mengomporinya untum menguji reaksinya apa. "Kamu cemburu?"


"T-idak kok! Buat apa aku cemburu! Lagi pula ini demi pekerjaanmu!" ketusnya dengan nada ngambek memalingkan matanya dariku sambil melajukan mobilnya lagi.


Aku mendekatkan wajahku pada pipinya. "Kalau kamu tidak cemburu, kenapa tidak berani menatapku dari tadi?"


"Aku sedang menyetir! Nanti kalau sampai ketabrak gimana akibat menatapmu!"


"Hufft! Ya sudah, aku diam saja! Aku mau pejamkan mataku sebentar!" bentakku dengan kesal memiringkan tubuhku menghadap pintu dan memejamkan mataku.


Kami berdua hanya diam saja. Selama makan malam, aku masih mengambek dan tidak ingin menatap matanya. Bahkan setelah membersihkan diriku, aku sibuk mengerjakan kasus di sofa ruang tamu hanya berdiam saja.


Tiba-tiba Adrian mendongakkan kepalanya dari belakang membuatku tersentak di saat aku sedang fokus. "Kamu sedang apa?"


Dengan lincah aku menggeserkan bokongku menjauhinya. "Aduh! Kamu mengagetkan aku saja!"


Adrian menatapku sebal. "Oh, jadi kamu melihatku seperti hantu yang muncul tiba-tiba."


Aku menaruh surat kabar yang diberikan Yulia di atas meja. "Tadi kamu ngambek, sekarang kamu mengagetkanku seperti ini! Maunya apa sih, Adrian!"


"Aku maunya bersamamu, Penny." Adrian menduduki sofa merangkul pundakku erat.


Aku suka dengan jawabannya membuat kadar gulaku naik drastis. Terutama tangannya kini menyentuh pipiku. "Maaf ya tadi aku membuatmu ngambek."


Senyuman ceria terukir pada wajahku lalu tanganku menyentuh pipinya secara spontan. Kali ini aku tidak akan mengambek lagi. "Maafkan aku juga, Adrian. Aku tidak bermaksud membuatmu mengambek juga."


"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, Penny. Yang terpenting kita sudah tidak mengambek lagi. Malahan aku ingin terus bersamamu sekarang." Adrian menyandarkan kepalanya pada pundakku dengan manja sambil memelukku erat.


Aku mengelus kepalanya. "Karena kamu ingin bermanja denganku sekarang, aku tidak mau fokus pada pekerjaan dulu."


"Tadi kamu lihat apaan sih? Kelihatannya seperti surat kabar," tanya Adrian mulai penasaran.

__ADS_1


"Ya, begitulah kasus ini masalahnya lebih rumit."


Adrian mengusap kepalaku, menepuk-nepuk punggungku berirama membuatku jadi malas bekerja sebenarnya. "Kalau begitu sebaiknya kita beristirahat sejenak dulu, nanti lanjutkan lagi."


Akhirnya cukup puas melakukan adegan mesra berdurasi lama. Sekarang situasi mulai tegang dan kembali fokus menyelidiki kasus lagi. Aku mengambil surat kabar yang tadi kutaruh di meja dan memperlihatkan padanya.


"Kamu masih ingat Reporter Yulia dari stasiun TV BYZ?" tanyaku mulai fokus bekerja lagi.


Adrian mengangguk serius. "Iya, aku masih mengingatnya. Dia merupakan reporter yang bersaksi di persidangan Pak Colin dua bulan yang lalu."


"Dia menemukan surat kabar ini di suatu gudang penyimpanan. Coba kamu lihat baik-baik deh, berita ini tidak pernah dipublikasikan di media apapun!" Aku memberikan surat kabar ini untuknya.


Adrian membaca surat kabar ini hingga dahinya berkerut. "Dua orang gadis menghilang secara misterius, memang aku belum pernah mendengar berita ini sih."


Aku berpikir kritis bertopang dagu. "Ini yang menurutku sangat aneh, kenapa berita ini tiba-tiba dikubur seperti ini?"


"Menurutku sepertinya ada orang dalam yang bekerja di stasiun TV itu bekerja sama dengan pelakunya."


Alisku terangkat sebelah. "Maksudmu apa?"


"Kasus pembunuhan yang sekarang ini pasti ada kaitannya dengan kasus hilangnya dua gadis itu menghilang secara misterius. Jadi pelakunya itu bekerja sama dengan orang dalam dan menyuruhnya untuk tidak menerbitkan artikel itu."


"Tapi kata Reporter Yulia, karyawan di sana tidak bertindak mencurigakan sama sekali."


"Mungkin orang itu beraksi saat di luar kantor. Kita harus mencari tahu siapa orang dalam itu dengan sengaja menguburkan berita ini."


Jika dipikirkan lebih dalam lagi semua teori konspirasi ini, aku merasa ada yang janggal dengan kasus pembunuhan Maria. Apakah pembunuh ini membunuh Maria untuk menutup mulut? Maria sungguh mengenai dua gadis itu atau ada sesuatu dalam kamera Maria?


"Tunggu sebentar! Jangan bilang kameranya Maria menyimpan foto-foto bukti itu. Jadinya pembunuh itu mengetahui bahwa Maria menyimpan foto bukti itu dan membunuhnya begitu saja."


Adrian tersenyum girang mengacungkan dua jempol. "Cerdas sekali, Penny."


"Pokoknya kita harus menangkapnya secepat mungkin dan mengambil kamera itu."


"Aku punya ide cemerlang. Ada satu cara untuk memancingnya keluar," tuturnya tersenyum cerdas.


"Kita harus merilis artikel ini di internet untuk memancing pelakunya keluar. Dengan artikel ini, kita bisa jadikan sebagai umpan untuk menangkap pelakunya."


Kali ini giliranku tersenyum girang memeluknya erat. "Kamu memang sangat cerdas, Adrian!"


"Ini demi kasus yang kita selidiki bersama cepat terselesaikan. Lagi pula entah kenapa hari ini aku bisa berpikir cerdas."


"Memang dari lahir kamu sudah cerdas."


Adrian tersenyum malu. "Kamu mengetahuinya dari mana?"


"Dari instingku." Aku menunjuk kepalaku dengan jari telunjukku.


Sedangkan di sisi lain, di rumah yang sangat mewah itu, pemuda misterius terlihat dari belakang itu sibuk mendengarkan sebuah lagu yang dirilis tahun 90an sambil memainkan jarinya di sandaran sofa. Asisten pribadinya memasuki ruangan memberikan sebuah amplop berwarna cokelat kepadanya.


"Apakah kamu ingin melaporkan sesuatu yang baru lagi?" tanya pemuda misterius itu.


"Aku ingin memberikan amplop ini kepada Tuan."


Pemuda misterius itu membuka amplop cokelat itu yang isinya semua foto kejadian di tempat parkir kantor polisi. "Ternyata kepala detektif cerdas ini sekarang dilindungi seseorang."


"Aku mendengar pria itu merupakan seorang jaksa."


"Seorang jaksa? Sekarang dia berani sekali meminta perlindungan padanya supaya kita gagal untuk mengincarnya."


"Jadi sekarang kita harus bagaimana, Tuan?"


"Kita harus menggunakan kelemahannya."


"Kelemahannya itu apa?"

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum licik menatap foto Tania. "Teman baiknya merupakan seorang detektif juga, kita harus memancingnya dengan itu."


Aku bangun tidur lebih awal sambil meregangkan kedua tanganku ke atas dan beranjak dari ranjangku secara perlahan. Karena ini masih terlalu pagi, jadinya Adrian masih belum bangun. Sebagai ganti karena ia selama ini sudah membuatkan sarapan untukku dan juga makan malam, sesekali aku harus membuatkan sarapan untuknya.


Aku melangkah menuju dapur mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan menyiapkan peralatan memasaknya. Walaupun aku tidak begitu pandai dalam memasak, tapi setidaknya aku membuat sarapan ini dengan hatiku tulus.


Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai memasak nasi omelet, Adrian juga baru bangun dari tidurnya.


"Hoam ... tumben kamu sudah bangun," ujarnya masih mengantuk sambil menguap.


"Hari ini aku bangun pagi sekali jadinya aku sekalian memasak untuk sarapan kita."


"Kelihatannya lezat." Adrian memandangi nasi omelet buatanku dengan pandangan berbinar sambil mengambil sendoknya.


Aku memasukkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Belum tentu sih karena aku tidak terlalu mahir memasak sepertimu."


"Aku mau cicip sekarang."


Adrian mengambil satu sendok nasi memasukkan ke dalam mulutnya sambil memejamkan matanya.


Perasaanku jadi tidak enak saat melihat ekspresinya seperti itu. "Apakah masakanku terasa tidak lezat?"


"Mmm ini sangat lezat. Rasanya tidak jauh berbeda dengan masakanku!" Adrian menikmati nasi omeletku melahap.


Baru pertama kali aku dipuji seperti ini membuatku semakin gugup. Apakah ia sungguh memujiku? "Kamu tidak membohongiku, 'kan?"


"Tidak kok. Nasi omelet ini memang rasanya sangat lezat apalagi dimasak kamu."


Adrian mengelus kepalaku menampakkan senyuman manis. "Terima kasih ya telah membuatkan sarapan untukku."


"Kalau begitu, mulai sekarang sebaiknya kita bergantian memasak sarapan dan makan malam."


"Boleh juga, tapi kalau bisa aku yang memasak sarapannya saja."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku tidak ingin membuatmu repot bangun pagi."


"Tenang saja sekarang aku ingin membiasakan diri memasak sarapan untukmu."


"Baguslah aku tidak perlu membangunkanmu lagi setiap pagi," ejeknya menertawaiku puas.


"Sudahlah lebih baik kita cepat habiskan makanannya dan berangkat ke kantor." Aku makan nasi omelet buatanku terasa lezat membuat pipiku merah merona.


Setibanya di kantor, aku melihat Tania sibuk merengek seperti anak kecil di hadapan Nathan. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini di kantor. Apa yang terjadi sebenarnya?


Dengan penuh penasaran, aku menghampiri mereka berdua. "Kalian berdua kenapa sih?"


"Tania merengek ingin pergi ke minimarket mau membeli camilan dari tadi," jawab Nathan kesal.


"Aku belakangan ini suka lapar, jadinya aku butuh camilan untuk mengganjal perutku," ucap Tania merengek manja.


"Kamu ini seperti ibu sedang hamil saja!" celetuk Nathan.


Justru aku ingin membela Tania jika lihat situasi ini. Karena aku sudah mengenal sikap Tania selalu rakus setiap saat. "Sudahlah Nathan, mendingan biarkan Tania pergi berbelanja saja!"


"Tapi--"


Tania memelukku erat. "Penny, memang kamu adalah yang terbaik!"


"Tapi aku harus menemanimu pergi ke minimarket."


Tania menggeleng cepat. "Tidak usah. Aku mau pergi sendiri saja. Lagi pula aku bukan anak kecil."


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jangan terlalu lama ya, masih ada banyak kerjaan di sini," tuturku dengan tegas.

__ADS_1


"Iya, tenang saja. Lagi pula buat aku berlama-lama di sana."


Tania berjalan kaki menuju minimarket yang jaraknya sekitar 500 meter dari kantor polisi. Ia belanja banyak sekali camilan untuk mengganjal perut karetnya. Setelah membayar belanjaannya, ia keluar dari minimarket itu kembali menuju kantor polisi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Wajahnya mulai pucat mempercepat langkah kakinya.


__ADS_2