Good Partner

Good Partner
Part 88 - Happy Life


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain, di apartemen Nathan, dalam kondisi tertidur Tania terus memegang perutnya hingga keringat dingin. Ia menggenggam tangannya Nathan dengan erat hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Dengan sigap Nathan membantu Tania duduk bersandar pada sandaran ranjangnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu tidak enak badan?" tanya Nathan sangat cemas sambil mengusap keringat mengalir pada leher istrinya.


"Aku ... rasanya ... ingin muntah. Perutku sakit."


Dengan sigap Tania beranjak dari ranjang lalu berlari memasuki kamar mandi.


Hoek..hoek..


Nathan berlari memasuki kamar mandi dan menghampiri istrinya yang duduk lemas di lantai.


"Sayang, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang!" usul Nathan sambil membantu istrinya membangkitkan tubuhnya.


Secara perlahan Nathan menuntun Tania kembali duduk di tepi ranjang. Tania terus mengeluh kesakitan sambil memegangi perutnya hingga dahinya berkerut.


"Aku tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba begini. Padahal aku selama ini tidak makan makanan sembarangan," tutur Tania kebingungan.


"Apa mungkin kamu hamil?"


"Tidak mungkin."


"Apanya tidak mungkin? Melihatmu seperti ini sudah pasti kamu sedang hamil."


"Tapi kamu jangan cepat mengambil kesimpulan dulu. Kalau hasilnya berbeda dari yangkaumu kira gimana. Nanti kamu kecewa berat. Apalagi selama ini aku tes kehamilan hasilnya tidak menandakan aku sedang hamil."


"Pokoknya aku harus membawamu ke rumah sakit sekarang juga!"


"Ya sudah, aku menurutimu saja," balas Tania bermalasan.


Mereka berdua mengganti pakaiannya lalu Nathan menggendong Tania membawanya menuju mobilnya. Di tengah perjalanan, Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh hingga membuat Tania semakin mual sambil menutupi mulutnya.


"Sayang, bisakah kamu jangan kebut! Aku merasa semakin mual," bujuk lemas wajahnya semakin pucat.


"Maaf Sayang, aku tidak akan kebut lagi." Nathan melepaskan pedal gasnya lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal.


"Nah begini baru aku merasa nyaman." Tania mengulum senyuman tipis.


Setibanya di rumah sakit, Nathan menggendong Tania menuju ruang pemeriksaan kandungan. Setelah melakukan pemeriksaan keseluruhan, Nathan duduk tepat di depan dokter kandungan itu dengan gugup sambil menyentuh tangannya Tania.


"Hasilnya apa, Dok?" tanya Nathan semakin gugup hingga tangannya gemetar.


"Selamat istri Anda sedang hamil."


Nathan langsung memeluk istrinya erat sambil menangis terharu.


"Sudah kubilang kan, kamu pasti sedang hamil."


"Aku tidak sabar menantikan kelahiran anak kita nanti."


"Karena sedang kondisi hamil jadinya Anda harus selalu berhati-hati. Anda tidak boleh bekerja sangat keras dan juga tidak boleh makan makanan yang dapat mempengaruhi janin di rahim Anda."


"Terima kasih atas sarannya, Dok. Kami permisi dulu," pamit Nathan sambil menggandeng tangannya Tania keluar dari ruangan itu.


Di taman rumah sakit, mereka berdua duduk bersama di sebuah bangku taman kosong. Tania menyandarkan kepalanya pada pundaknya Nathan dengan manja.


"Aku tidak sabar menanti buah hati kita," ucap Tania tersenyum girang.


"Kita harus memberitahukan berita gembira ini kepada yang lain."


Nathan mengambil ponsel di saku celananya dan memberikan pesan singkat kepada yang lain.


Sedangkan Fina berada di rumahnya sedang sibuk memilih dress yang akan dipakainya. Ia mengeluarkan beberapa dress yang ada di lemarinya hingga membuat seisi kamarnya berantakan.


"Aduh, pusing nih! Kira-kira aku harus memakai dress yang mana supaya dia terpesona melihatku?" Fina berkeluh kesah sambil menggarukkan kepalanya.


Fina mencoba dressnya satu per satu sambil bercermin tapi ia selalu tidak puas dengan semua dress yang dicobanya lalu melemparnya di atas ranjang.


Ding...dong...


Saat Fina ingin mencoba dress lainnya, sontak terdengar suara seseorang menekan bel rumahnya. Ia langsung berlari keluar dari kamarnya dan membukakan pintu rumahnya.


"Hans, cepat sekali kamu datang!" sambut Fina dengan matanya terbelalak.


"Hehe maaf aku hanya bermaksud menjemputmu lebih awal."


"Kamu tidak lihat aku belum selesai bersiap-siap! Bahkan tadi aku sampai sempat panik," keluh Fina mengerucutkan bibirnya.


"Maaf Fina, kamu jangan ngambek lagi, ya," rayu Hans manis.


"Ya sudah, kamu masuk dulu sambil menungguku selesai." Fina mempersilakan Hans memasuki rumahnya.


"Kalau begitu aku akan menunggumu sampai selesai." Dengan percaya diri Hans memasuki rumahnya Fina dan duduk bersantai di sofa.


"Tunggu aku sekitar 10 menit!"


"Kamu mau bersiap-siap sejam juga tidak masalah bagiku."


"Ish kamu bisa saja berkata seperti itu!" sungut Fina mencebik kesal bergegas memasuki kamarnya.


10 menit kemudian...


Fina keluar dari kamarnya berjalan anggun dengan balutan dressnya menghampiri Hans hingga membuatnya menyemburkan air dari mulutnya.


"Hans, kamu kenapa?" tanya Fina cemas.


"Kamu terlalu imut jika memakai itu," goda Hans menatap Fina terpesona kagum.


"Ih kamu berlebihan!"


"Aku berbicara sesuai fakta."


"Ya sudah, aku terima pujian manismu barusan."


"Ayo Fina, kita pergi sekarang juga!"


Hans menuntun Fina memasuki mobilnya dan membawanya menuju suatu tempat. Setibanya di sana, Fina menatap tempat itu berdecak kagum.


"Kenapa Fina? Apa kamu tidak suka tempatnya?"


"Bukan begitu."


"Lalu apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Bagaimana kamu tahu bahwa aku suka bermain di sini?"


Mata Hans membulat tidak menyangka.


"Benarkah? Padahal tempat Arcade ini biasanya tempat langgananku di saat aku sedang sendirian dan tidak ada kerjaan."


"Tenang saja. Sekarang kamu tidak bermain sendiri. Aku akan menemanimu bermain mulai sekarang."


"Kalau begitu temani aku bermain tembak-tembakan. Biasanya aku suka memainkan itu di sini."


"Itu adalah permainan kesukaanku juga. Ayo kita main sekarang!" ajak Fina dengan semangat menarik tangannya Hans menuju permainan itu.


Hasil dari permainan itu adalah Fina yang menang sedangkan Hans hanya bisa mendesah pasrah.

__ADS_1


"Sekali lagi! Tadi aku belum siap!" celetuk Hans berlagak sombong mengangkat kepalanya.


"Baikah, aku tidak takut denganmu!"


Mereka terus memainkan permainan itu lagi dan tetap saja Fina yang memenangkan permainan itu. Hans sangat geram meletakkan pistol mainan itu kasar.


"Sudahlah aku menyerah! Aku tidak menyangka kamu jago memainkan permainan ini," sergah Hans menggarukkan kepalanya kesal.


"Makanya jangan melihat orang dari sisi luarnya saja," ledek Fina menjulurkan lidahnya.


"Aku tidak bilang kamu payah dalam permainan ini."


"Sudahlah Hans lebih baik mengaku saja," balas Fina mengedipkan matanya manis.


Lagi-lagi Hans mudah terpancing godaan kekasihnya selalu genit.


"Aduh, kenapa sih kamu selalu menatapku dengan wajah imut itu!"


"Kenapa? Kamu tidak suka? Ya sudah, mulai sekarang aku akan memasang wajah galak setiap bertemu denganmu!" ketus Fina dengan tatapan tajam.


"Bercanda, Fina. Aku lebih suka kamu imut seperti ini." Hans mengelus kepalanya Fina seperti anak kecil hingga membuat pipinya Fina memerah.


"Aku lapar," rengek Fina merangkul tangan Hans mesra.


"Mau makan di mana? Restoran semahal apa pun aku pasti bersedia mentraktirmu."


"Dasar sombong! Makan di mana saja terserah yang terpenting aku ingin makan sekarang juga!"


"Ya sudah aku akan mengajakmu ke restoran yang makanannya enak."


Fina tidak mendengar ucapannya Hans barusan karena sibuk menatap sebuah kotak permainan mesin capit. Ia menatapnya dengan lesuh.


"Kamu ingin memainkan permainan itu?" tanya Hans.


"Aku sebenarnya ingin bermain tapi selalu saja gagal."


"Ayo kita bermain bersama!" ajak Hans menarik tangannya Fina menuju kotak mesin capit itu.


Di kotak mesin capit itu, Fina berdiri tepat di depannya Hans. Lalu Hans memeluknya dari belakang dan menggerakkan tangannya Fina mengendalikan permainan itu.


"Kamu ingin boneka apa?" tanya Hans.


"Aku ingin boneka kelinci putih itu." Fina menunjuk boneka itu dengan jari telunjuknya.


"Tenang saja. Serahkan semuanya padaku!" ujar Hans dengan percaya diri sambil menggerakkan mesin capit itu mengarah menuju boneka kelinci putih tersebut.


Ketika boneka kelincinya berhasil dicapitnya, Fina membulatkan matanya dengan sempurna hingga mulutnya terbuka lebar.


"Hans, bagaimana kamu melakukannya?"


"Kamu lihat saja cara aku mendapatkannya."


Dengan santainya Hans menggerakkan mesin capitnya menuju lubang keluar lalu ia melepaskan capitannya ketika bonekanya terjatuh ke lubang itu. Akhirnya dalam sekali percobaan saja, Hans berhasil mendapatkan boneka kelinci putih itu dan langsung memberikannya kepada Fina.


"Ini untukmu."


"Terima kasih Hans, kamu memang yang terbaik!" seru Fina langsung memeluk Hans erat.


"Apa pun permintaanmu akan aku kabulkan. Sesulit apapun pasti aku akan berusaha untuk melakukannya demimu."


"Sudah cukup gombalnya, Hans! Sekarang aku lapar nih!"


"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang!"


"Tunggu sebentar!" Fina menghentikan langkah kakinya sejenak.


"Kamu sungguh tidak mengajakku ke restoran sedang promosi besar atau makanan pedas, 'kan?" tukas Fina menyipitkan matanya curiga.


"Kamu pasti berpikiran seperti itu takut aku sakit perut lagi, 'kan," sahut Hans mengangkat dagu Fina.


"Iya sudah pasti. Aku sangat mencemaskanmu!"


"Tenang saja, Fina. Kali ini aku mengajakmu ke restoran lebih berkualitas dari sebelumnya. Lagi pula aku tidak mungkin sakit perut lagi."


Hans mengajak Fina ke suatu restoran oriental. Hans memesan berbagai macam makanan membuat Fina menatapnya sampai melongok.


"Ini semua untukmu."


"Apa kamu serius? Aku mana mungkin menghabiskan semuanya dalam sekejap."


"Tadi bukankah kamu bilang lapar, ya?"


"Aku lapar tapi bukan berarti makan sebanyak ini. Nanti kalau misalnya aku semakin gemuk lalu kamu membenciku gimana!"


Hans mencium pipinya Fina dengan manis membuat wajahnya Fina memerah seperti tomat.


"Aku tidak akan pernah membencimu, Fina. Walaupun dalam keadaan apa pun, aku pasti akan menerimamu apa adanya."


"Sudahlah aku mau makan!"


Sedangkan kami berdua pulang terlebih dahulu ke apartemen untuk meletakkan barang-barangku di sana. Kali ini aku bukan menginap tapi tinggal bersamanya selamanya. Setibanya di sana, aku menatap kamar yang dulu biasanya aku tidur di sana sekarang terlihat kosong. Sekarang aku menarik koperku memasuki kamarnya Adrian lalu membereskan semua pakaianku di dalam walk in closetnya.


"Sayang, coba ke sini deh!" panggil Adrian menghampiriku tiba-tiba sambil menggenggam tanganku.


Aku mengikutinya berjalan menuju ruang tamu dan ia memperlihatkan sebuah foto pernikahan kami saling merangkul mesra yang tergantung pada dinding.


"Sayang, entah kenapa aku sangat terharu melihat foto pernikahan kita terpajang seperti ini. Walaupun hanya satu foto ini yang dipajang tapi aku merasa foto ini menghiasi suasana tempat tinggal yang tadinya biasa," ucapku dengan pandangan berbinar.


Adrian melingkarkan kedua tangannya pada perutku dari belakang sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


"Nanti ruang tamu ini tidak hanya dihiasi dengan foto pernikahan kita saja. Tapi aku akan menciptakan kenangan indah bersamamu dan mengabadikan kenangan itu lalu kupajang semuanya di sini termasuk foto keluarga kecil kita."


"Selagi kita masih memiliki waktu yang sangat banyak, aku ingin menghabiskan waktu banyak bersamamu sebelum aku menyesalinya nanti."


"Tinggal kamu bilang kepadaku saja apa yang kamu inginkan atau apa yang ingin kamu lakukan pasti aku akan mengabulkan permintaanmu walaupun sesulit apa pun," ucapnya tersenyum manis.


"Kalau begitu kita pergi kencan sekarang!" ajakku penuh semangat.


"Aku akan menunggumu bersiap-siap."


Aku memasuki walk in closet lalu mengambil blouse putih lengan panjang dan mini skirt hitam. Tidak lupa aku merias wajahku terlebih dahulu salah satunya memoles bibirku memakai lipstik berwarna merah cerah. Kini penampilanku sudah terlihat sangat sempurna, aku keluar dari kamar sambil membawa sling bag lalu memperlihatkan penampilanku di hadapannya sambil berputar-putar.


"Sayang," panggilku manis.


Sorot matanya terpaku pada pesona kecantikanku sangat terkagum hingga batuk tersedak saat sedang minum segelas air putih.


"Uhuk...uhuk..."


Dengan sigap aku menaruh sling bag di meja menghampirinya memeluknya.


"Kamu tidak apa-apa? Minumnya pelan-pelan saja," ucapku dengan cemas sambil mengelus punggungnya.


"Sayang, sudah hentikan. Aku jadi semakin tergoda dengan kecantikanmu ini," balasnya sambil membelai rambutku.


"Oh, jadi kamu mau aku berpenampilan biasa saja. Baiklah aku akan mengganti pakaianku lagi."


"Jangan, Sayang!"

__ADS_1


"Tadi kamu sendiri bilang sudah tidak tahan dengan kecantikanku lagi jadinya aku ganti pakaianku sederhana saja."


"Maksudku bukan itu. Sudahlah pokoknya istriku ini tercantik di dunia," ungkapnya tulus sambil mengelus pipiku lembut.


"Aku semakin sayang deh," balasku tersenyum manis sambil mengedipkan mataku.


"Tunggu aku sebentar, ya. Aku juga mau ganti pakaianku dulu."


Beberapa menit kemudian, Adrian keluar dari kamar memakai kemeja dilapisi dengan sweater hingga membuat sorot mataku terfokus padanya tersenyum mengambang. Apalagi penampilannya semakin terlihat gagah di mataku.


"Suamiku sendiri juga terlihat tampan," pujiku berdecak kagum sambil menyentuh pundaknya dengan kedua tanganku.


Adrian meraih tanganku lalu melepaskan jam tanganku yang merupakan hadiah ulang tahunku darinya.


"Kenapa kamu melepaskannya? Padahal ini kan hadiah darimu," tanyaku bingung menautkan kedua alisku.


"Jam tangan itu sudah terlihat usang. Sebaiknya kamu ganti dengan yang ini saja," ucapnya sambil memakaikan jam tangan baru itu terlihat mewah pada tanganku.


"Sejak kapan kamu membelinya?"


"Aku sudah membelinya sejak dulu, tapi aku menyimpannya sampai sekarang sebagai hadiah pernikahan dariku."


"Ini pasti sangat mahal." Pandanganku berbinar memandangi jam tangannya.


"Mau mahal atau tidak, aku tetap membelikannya untukmu. Apalagi jam tangan ini terlihat sangat cocok dipakai istri kesayanganku."


"Terima kasih, Sayang. Aku pasti akan selalu menjaga hadiah spesial darimu ini." Aku langsung memberikan kecupan manis pada pipinya.


"Ayo, kita pergi sekarang!" ajaknya sambil merangkul tanganku.


Aku dan Adrian berjalan bersama menuju basement saling bergandengan tangan. Ia membukakan pintu mobilnya untukku lalu memasangkan sabuk pengaman untukku. Aku menekan layar LCD dasbor mobilnya memutarkan lagu "Nothing's Gonna Change My Love For You - George Benson" yang merupakan salah satu lagu favoritku.


"Kamu tahu juga aku suka dengan lagu ini," ucapnya tersenyum bahagia sambil menggengam tangan kiriku.


"Aku padahal hanya memutar lagu kesukaanku saja. Aku tidak menyangka kamu menyukai lagu ini juga."


"Aku suka mendengar lagu ini apalagi mendengarnya bersama istri tercintaku ini. Apakah kamu tahu makna lagu ini apa?"


"Apa itu? Aku hanya menikmatinya saja."


"Tiada yang mampu mengubah cintaku untukmu. Lagu ini sangat cocok untuk kita berdua. Bagaikan cintaku tidak pernah berubah terhadapmu. Walaupun dunia mengubah hidupku dalam kondisi apapun, aku masih tetap mencintaimu, Penny."


Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku lalu mencium keningku dengan lembut. Ia meraih tanganku dan menempelkannya di dadanya untuk merasakan detak jantungnya berdebar kencang saat ini.


"Kamu bisa merasakan detak jantungku?"


"Aku bisa merasakannya dengan jelas. Jantungmu berdebar pasti karena kamu berada di dekatku sekarang."


"Tidak hanya sekarang. Detak jantungku berdebar seperti itu sejak dulu setiap kali bersamamu."


Aku meraih tangannya menempelkannya di dadaku supaya ia bisa merasakan detak jantungku juga.


"Jantungku terus berdebar seperti ini setiap saat sejak dulu."


"Kamu sangat mencintaiku sampai berlebihan begini, kalau begitu kita bermesraan dulu di sini sebentar."


Tangannya masih melekat pada dadaku, ia semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku.


Drrt..drrt..


Ponselku bergetar tiba-tiba di saat kemesraan kami berdua. Aku mengambil ponselku yang ada di dalam sling bagku tapi Adrian mencegahku begitu saja saat aku ingin mengangkat teleponnya.


"Sayang, bisakah kamu tidak mengangkat teleponnya?" rayunya manis.


"Nathan meneleponku. Aku harus mengangkatnya, siapa tahu itu hal penting tentang pekerjaan."


"Tapi aku masih mau bermesraan denganmu. Lagi pula kamu kan sedang berlibur."


"Nanti kita lanjutkan lagi, ya. Ini tidak akan lama, tenang saja."


"Aku akan menurutimu deh," patuhnya dengan nada paksaan.


Aku menelepon Nathan balik akibat sambungan teleponnya terputus tadi.


"Halo Nathan, ada apa kamu meneleponku?"


"Penny, kamu jangan kaget, ya."


"Sebenarnya ada apa sih? Apakah ada kasus baru lagi?"


"Tania hamil."


"Apa? Dia sungguh hamil? Kamu tidak bercanda kan?"


"Mana mungkin aku bercanda, Penny. Hal beginian aku tidak berani jadikan bahan candaan."


"Tapi sejak kapan? Bukan sejak saat dia rakus belanja banyak snack di minimarket, 'kan?"


"Bukan. Tadi pagi dia muntah terus jadinya aku membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan. Ternyata dugaanku itu benar bahwa dia hamil."


"Aku ikutan bahagia jadinya. Selamat untuk kalian berdua. Aku akan setia menunggu bayinya lahir."


"Terima kasih, Penny. Aku tutup teleponnya dulu, ya. Maaf mengganggu kemesraan kalian berdua." Nathan mengakhiri pembicaraannya lalu menutup teleponnya begitu saja.


Dasar Nathan tahu saja aku sedang bermesraan dengan Adrian sekarang. Ia seperti cenayang saja. Sekarang kembali lagi kami berdua saling bertatapan dengan pandangan berbinar.


"Mari kita lanjutkan kemesraannya."


"Dasar Nathan kurang ajar! Kasih tahu istrinya hamil saja sampai meneleponmu begini! Dia ini selalu saja mengganggu kita sejak dulu" ketusnya sangat geram mengerucutkan bibirnya.


"Sabar, ya, Adrian. Tapi dia sebenarnya tahu bahwa kita sedang bermesraan sekarang."


"Baguslah kalau dia menyadarinya. Awas saja sampai dia berpura-pura bodoh!"


"Sudahlah, biarkan saja. Yang penting sekarang kamu fokus sama aku saja."


"Basi ah! Kita juga bisa melakukannya kapan pun." Tubuhnya menjauh dariku membuatku jadi kecewa.


"Perasaan tadi yang merengek itu siapa." Aku menyipitkan mataku sengaja menyenggol lengannya.


"Kalau kita tidak berangkat cepat nanti filmnya keburu dimulai."


"Film lebih diutamakan daripada istri sendiri. Ya sudah lebih baik tidur saja!"


"Jangan gitulah, Penny. Sebagai gantinya aku menyetir mobil sambil menggenggam tanganmu terus, gimana?"


"Bahaya, Sayang! Sebaiknya kamu fokus menyetir saja daripada terjadi hal aneh!"


"Tenang saja. Aku ini kan pengemudi mobil yang andal. Hal kecil ini tidak akan menggangguku. Malahan membuatku semakin semangat."


"Baiklah, tapi ingat kamu harus fokus menyetirnya."


Sambil mengendarai mobilnya, Adrian terus menggenggam tanganku dan menatapku dengan senyuman manis sesekali. Lalu ia mengendarai mobilnya menuju suatu pusat perbelanjaan yang elit. Setibanya di sana, Adrian dengan antusias mengajakku ke bioskop untuk menonton film bersama tapi aku menolaknya.


"Hari ini kita tidak nonton di bioskop," ucapku sambil menarik tangannya keluar dari bioskop.


"Kenapa begitu? Bukankah kita ke sini untuk berkencan? Kamu masih ngambek karena tadi, ya?" tanyanya sedikit kecewa.

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


__ADS_2