Good Partner

Good Partner
Part 74 - Kejujuran


__ADS_3

Di ruang rapat, aku menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan terlebih dahulu. Sambil mempersiapkan peralatanku, mereka semua masih saja dalam kondisi sangat lesu seperti tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Aku sudah sangat pasrah melihat mereka seperti itu terus setiap harinya hingga mulutku ini sudah membengkak akibat kebanyakan berteriak.


"Penny, aku dengar semalam Dokter Emily tewas dalam kecelakaan tabrak lari," ucap Fina tiba-tiba di tengah keheningan.


"Aku sudah mengeceknya semalam. Itu bukan kasus tabrak lari biasa. Tapi disengaja menabrak Dokter Emily hingga tewas."


Fina menurunkan alis. "Seharusnya aku tidak bertindak cepat waktu itu."


"Bukan salahmu, Fina. Sebelum Dokter Emily mengalami kecelakaan itu, dia mengirimkan aku sebuah catatan medis mengenai penyakitnya Josh. Dia pasti sudah tahu sekarang dia menjadi target utama. Maka dari itu, dia mengirimkan bukti catatan medisnya kepadaku lebih awal."


Nathan memukuli meja penuh amarah. "Aish aku sangat kesal sekarang! Kenapa semua orang terutama wanita mati terbunuh!"


Aku memasang raut wajah seperti detektif profesional. "Maka dari itu, aku mengadakan rapat ini."


"Kamu ingin merencanakan apa lagi, Penny?" tanya Tania mulai penasaran.


Sekarang saatnya aku mengungkapkan rencana yang sudah terpendam dalam benakku pada semua anggota timku. "Kita harus memaksa Inspektur William membuka mulutnya sekarang juga."


Hans membelalakan mata terkejut. "Kamu akan mengancamnya? Di saat seperti ini?"


Aku mengeluarkan alat perekam suara dari saku jaket. "Inspektur William satu-satunya yang bisa kita andalkan sekarang. Kita harus bergerak lebih cepat sebelum Josh melakukan sesuatu yang lebih keji lagi. Aku sudah siap mengancamnya dengan rencana awalku."


Fina memijit kepala. "Tapi apakah rencana ini akan berhasil?"


"Tenang saja, jika aku tidak bisa menghadapinya. Aku membutuhkan bantuanmu, Fina." Aku menepuk bahunya dengan tatapan penuh keyakinan.


"Tapi kalau menghadapi Inspektur William, aku tidak berani, Penny," sanggah Fina dengan nada lirih.


"Aku yakin kamu pasti bisa, Fina. Anggap saja Inspektur William itu seperti orang lain yang kamu tidak kenal," usul Hans membangkitkan semangat Fina menampakkan gigi putihnya.


Aku memasang raut wajah kejam berjalan menuju ruangan Inspektur William. Tanpa mengetuk pintu, aku membuka pintu dengan lebar,  lalu menerobos masuk bersama semua anggota timku tidak peduli ia akan memarahiku seperti apa.


"KALIAN SEMUA BERANINYA MASUK KE SINI TANPA MENGETUK PINTU TERLEBIH DAHULU!" pekik Inspektur William dengan lantang.


Kami tidak menghiraukannya dan duduk di sofa. Sedangkan Fina dengan santai menutup pintu ruangan rapat.


"Tertangkap kamu, Inspektur William!" ketusku dengan tatapan tajam.


"Apa maksudnya ini? Aku tertangkap karena apa?" bentak Inspektur William meninggikan nada bicara.


Aku mengeluarkan alat perekam suaranya dari saku jaketku dan memutar rekaman perbincangannya dengan Josh waktu itu. Di saat rekaman suara itu diputar, raut wajah Inspektur William berubah drastis hingga tangannya mulai gemetar.


Aku tersenyum sinis menatap tangannya. "Kenapa? Sekarang kamu takut?"


Inspektur William menunjuk-nunjuk kami satu per satu. "Beraninya kalian semua mengintaiku diam-diam! Ini pelanggaran hukum, lalu merekam suara diam-diam juga merupakan suatu pelanggaran!"


"Yang melanggar hukum adalah kamu, bukan kami! Beraninya seorang anggota kepolisian melakukan hal rendahan seperti itu!" ketus Fina mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Itu hanya bukti rekaman suara! Kalian tidak bisa berasumsi aku telah melakukan hal yang tidak sepantasnya!"


Aku sudah tidak tahan lagi dengannya yang menyangkal kelakukannya terus. Aku mengeluarkan ponselku dan memperlihatkan fotonya sedang bersama Josh saat aksi suap itu. "Kamu tidak akan bisa menyangkal dengan alasan apa pun lagi. Sebaiknya kamu menyerah saja."


Inspektur William tidak meresponsku langsung memalingkan matanya dariku. Aku tahu sekarang di pikirannya sangat bingung antara ia menyerah begitu saja atau mencari alasan lain lagi untuk menyangkalnya.


Sekarang aku ingin menambah bumbu supaya ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Sekarang aku memberimu dua pilihan."


"Apa?!"


"Karena kamu sudah tertangkap basah sebaiknya kamu memilih salah satu dari dua pilihan ini. Yang pertama, kamu membuka mulutmu dan memberitahu semua mengenai kasus hilangnya dua gadis serta apa yang dilakukan Josh selama ini. Yang kedua, atau kamu menutup mulutmu dengan rapat lalu aku akan mengekspos perbuatan tidak patut dilakukan di seluruh internet."


"Sebenarnya apa yang diinginkan kalian dariku?"


"Hanya satu hal saja, kamu harus mengakui semuanya dan bekerja sama dengan kami untuk penyelidikan kasus ini." Fina membantuku menjawabnya.


"Kalau aku menolak dan tetap tutup mulutku?"


"Maka kariermu akan hancur begitu saja. Tidak hanya itu, nama baikmu akan hancur dan juga reputasimu selama ini yang kamu pertahankan akan terbuang sia-sia," lanjut Fina sambil memainkan jari dengan nada sombong.


Inspektur William tertawa remeh. "Tapi kalau seandainya aku membuka mulutku, aku tidak mendapat suatu keuntungan dari kalian."


"Menurutku lebih baik kamu sama sekali tidak mendapat keuntungan daripada reputasimu dan harga dirimu yang sangat mahal itu hancur begitu saja. Bagaimana jadinya?" Aku menatapnya dengan senyuman cerdas karena sebentar lagi ia pasti akan mengakuinya.


Inspektur William tidak bisa berpikir lebih jernih lagi setelah dibujuk berbagai kalimat mutiara. Setelah dipikir-pikir, apakah ia harus menyerah saja? Mungkin akan lebih membanggakan baginya. "Aku akan mengungkapkan semuanya kepada kalian. Tapi dengan syarat kalian harus menepati janji tidak mengekspos perbuatanku ini."


Inspektur William memasang wajah pasrah. "Itu sebenarnya bukan keinginanku. Tapi Josh yang memerintahku membuntutimu terus bahkan aku harus melaporkan setiap pergerakan kalian di sini."


Nathan menanggapi ucapan Inspektur William dengan serius. "Pantesan kenapa pelaku itu kebetulan mengetahui pergerakan kita."


"Ini sebagai negosiasiku dengannya di masa lalu. Sejak aku menyelidiki kasus dua gadis itu, dia mendatangiku dan mengancamku."


Aku mengernyitkan alisku. "Mengancam apa?"


"Kalau aku terus menggali informasi mengenai kasus itu, aku akan dibunuhnya mentah-mentah."


"Jahat sekali dia!" ketus Hans.


"Lalu alasan dia menyuruhku untuk mengikutimu adalah untuk membunuhmu kalau kamu bertindak lebih jauh untuk menggali informasinya."


Aku menelan salivaku ketakutan. Josh itu tidak seperti yang aku bayangkan. Di hadapanku ia bersikap ramah, tapi di belakangku ia berusaha untuk menghabisiku dengan tangan orang lain.


"Apa perintahnya hanya itu saja?" tanyaku sangat gugup.


"Iya. Kalian harus mengingat janji barusan itu sebagai gantinya."


"Tenang saja, kami akan selalu menepati janji dan membungkam mulut kami rapat," jawab Fina dengan santai.

__ADS_1


Setibanya di meja kerja divisiku, mereka sangat gembira dan rasanya sudah terlepas beban, begitu pula denganku.


"Akhirnya kita tidak perlu mengawasinya lagi!" seru Nathan bernapas lega.


"Beban kita sudah berkurang satu," lanjut Hans girang.


"Tapi apakah Inspektur William bisa kita percaya sekarang?" tanya Fina masih meragukannya sambil berkacak pinggang.


"Tenang saja, kalau dia sampai berani mengkhianati kita lagi. Aku akan mengekspos perbuatannya di internet," jawabku dengan senyuman cerdas.


Fina tersenyum licik. "Sekarang kita hanya tinggal fokus dengan penangkapan Josh saja. Kita harus mencari banyak bukti akurat untuk menangkapnya.


Sedangkan di sisi lain, Inspektur William tampak gelisah mengambil ponselnya menghubungi Josh.


"Ada apa lagi Anda menelepon saya? Apakah bayarannya masih belum cukup?"


"Saya tidak akan kerja sama dengan Anda lagi."


"Kenapa Anda tiba-tiba berubah pikiran? Apakah Anda masih ingin mendapat bayaran yang lebih lagi?"


"Saya tidak akan bekerja sama dengan orang yang keji seperti Anda. Sebaiknya Anda menyerah saja sebelum hukuman Anda akan bertambah saat di persidangan nanti."


"Anda berani mengkhianati saya seperti ini. Apakah Anda lupa siapa yang mempertahankan posisi Anda saat ini?"


"Saya sudah lelah kerja sama dengan Anda melakukan hal yang keji. Sebagai seorang anggota kepolisian, rasanya harga diri saya sangat rendah melakukan hal itu." Inspektur William mengakhiri perbincangan itu lalu menutup telepon menaruh ponselnya kasar.


Sore harinya, di saat aku sedang merapikan meja kerjaku. Terdapat suatu notifikasi pesan yang masuk. Aku mengambil ponselku dan membaca pesan itu dari nomor tidak dikenal.


"Jika Anda ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya setahun yang lalu, sebaiknya Anda segera menemui saya di Loyal Hotel kamar nomor 150 lantai 15 sekarang. Dengan syarat Anda hanya boleh datang sendirian tanpa membawa polisi ke sini."


Ini aneh sekali, siapa yang menghubungiku sebenarnya? Apakah ia merupakan seorang saksi dari kasus hilangnya dua gadis itu? Yang pasti aku harus pergi ke hotel itu  tanpa mengajak teman-temanku.


Tiba-tiba Fina menghampiriku menatapku bingung. "Kamu mau pergi ke mana, Penny?"


"Aku ingin pergi ke suatu tempat sebentar saja," jawabku sedikit terburu-buru.


"Biar aku yang menemanimu saja."


Aku menggeleng cepat. "Tidak usah, lagi pula aku hanya ke minimarket sebentar mau beli camilan."


Fina memutar bola mata. "Ya sudah, kalau begitu jangan pergi terlalu lama.”


Dengan sigap aku melangkahkan kakiku keluar dari kantor, lalu memanggil taksi sedang berkeliaran di jalan. Aku meminta sopir taksi mengantar aku ke hotel tempat pertemuan.


Setibanya di hotel, aku menekan tombol lift menuju lantai 15. Saat pintu lift terbuka, aku berjalan menuju kamar hotel itu dan membuka pintu perlahan. Saat aku memasuki kamar, tidak ada siapa pun di sini.


CLIKK

__ADS_1


Pintu kamar itu tiba-tiba tertutup dengan sendiri. Perasaanku menjadi tidak enak sekarang.


__ADS_2