
Perasaanku sudah mulai tidak enak sekarang. Di tengah perbincangan keluarga manis ini dikacaukan oleh sebuah berita yang buruk bagi kami. Apalagi berita ini mengenai aksi pembunuhan lagi yang terjadi pada kota ini. Seingatku terakhir kali kasus pembunuhan di kota ini adalah kasusnya Josh yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku secara spontan menutup telinganya Victoria untuk tidak membuatnya ketakutan.
drrt...drrt...
Ponselnya Adrian bergetar tiba-tiba. Adrian dengan sigap mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya lalu menggeser layar ponselnya.
"Baiklah, aku mengerti. Aku ke sana sekarang juga," ucap Adrian menutup panggilan teleponnya terburu-buru.
drrt...drrt...
Sekarang giliran ponselku yang bergetar. Kali ini pasti salah satu anggota timku menghubungiku mengenai berita yang disiarkan di TV. Aku mengambil ponselku lalu menggeser layarnya untuk mengangkat panggilan telepon dari Fina.
"Penny, apakah kamu sudah menonton berita barusan?"
"Aku baru saja menonton beritanya. Katanya ada mayat yang ditemukan di hutan."
"Iya nih. Aku dan yang lainnya akan segera ke TKP sekarang. Kamu juga harus segera menyusul kami secepatnya."
"Baiklah, aku akan pergi ke sana sekarang juga."
Aku menutup panggilan teleponnya lalu kembali beralih pada Adrian dan Victoria lagi.
"Aku harus pergi ke TKP sekarang," ucapku.
"Lalu bagaimana dengan Victoria? Tidak mungkin kita membawanya juga ke TKP."
"Aku akan menghubungi ibu untuk menjemputnya pulang," ujarku sambil memberikan sebuah pesan singkat untuk ibu.
"Mama Papa! Apa ada masalah?" tanya Victoria dengan tatapan penuh khawatir.
Aku bingung ingin menjelaskan padanya seperti apa. Anakku ini otaknya cerdas sepertiku dan Adrian sehingga kalau aku memberitahu kejadian pembunuhan ini, ia pasti akan mengerti lalu ketakutan sendiri sampai gemetar. Dengan berat hati, aku harus membohonginya.
"Mama dan papa kebetulan harus ke kantor karena harus urus pekerjaan lagi," ucapku sedikit gugup.
"Maafkan papa dan mama, ya, tidak bisa menemani Victoria makan siang," sesal Adrian memeluk Victoria dengan erat.
"Nanti nenek yang akan menemanimu makan siang di sini, ya," lanjutku lesuh.
"Oke, Mama."
"Kalau begitu aku bayar tagihan makanannya dulu." Adrian beranjak dari kursinya menghampiri counter kasir.
Tak lama kemudian, ibu tiba di sini langsung menghampiriku dan Victoria.
"Ibu cepat sekali sudah tiba di sini," sambutku.
"Kebetulan ibu juga sedang berjalan-jalan di daerah ini makanya cepat sampai. Ibu mendengar ada kasus pembunuhan lagi, ya."
"Iya, Bu. Tadi barusan disiarkan di TV."
Raut wajah ibu semakin memucat lalu secara spontan memeluk Victoria erat.
"Kamu tenang saja, Penny. Biar ibu yang akan menjaga Victoria hari ini."
"Maaf ya, Bu. Aku merepotkan ibu terus setiap kali aku sibuk."
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu dan Adrian ngurus pekerjaan dulu. Lagi pula merawat cucu ibu sendiri bukanlah suatu beban," balas ibu tersenyum simpul.
Sementara Adrian sudah selesai membayar tagihannya kembali menghampiriku.
"Adrian, urusan Victoria serahkan saja pada ibu. Yang terpenting kamu urus pekerjaanmu dengan Penny dan menjaganya baik-baik," usul ibu.
"Baiklah, Ibu. Aku akan mengandalkan ibu hari ini," balas Adrian menggenggam kedua tangan ibu.
"Sebaiknya kalian berdua pergi sekarang saja. Nanti aku akan mengajak Peter dan Randy bermain bersama Victoria di apartemen kalian."
"Baiklah, Bu. Aku dan Adrian pergi dulu ya. Sampai bertemu nanti, Bu," pamitku menggenggam tangan Adrian.
"Aku juga pergi dulu, Bu," pamit Adrian.
Di tengah perjalanan menuju TKP, Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh hingga membuatku terombang-ambing dari tadi. Sambil mengendarai mobilnya, tangan kanannya menyentuh tangan kiriku.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu takut."
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula biasanya juga aku mengendarai mobilku lebih gila darimu. Bahkan setiap kali Fina menaikki mobilku selalu saja dia pusing dan mual."
"Haha aku sering mendengar ocehannya mengenai itu. Memang dia itu berlebihan sekali."
"Walaupun sikap dia terkadang dingin dan kalau sedang menginterogasi orang selalu tidak disaring dulu, tapi sebenarnya dia itu juga wanita yang lemah. Hanya tampak dari luar saja dia terlihat kuat."
Beberapa menit kemudian, Adrian memarkirkan mobilnya di belakang mobil Nathan. Aku dan Adrian dengan sigap keluar dari mobil menghampiri TKP. Kami berdua memakai sarung tangan karet dan mengeluarkan name tag memperlihatkan kepada tim forensik. Aku dan Adrian melintasi police line kemudian ikut bergabung dengan semua anggota timku yang sudah tiba duluan.
Aku mulai mengeluarkan jurus detektifku lagi. Saatnya melakukan pemeriksaan mengenai seluruh bagian mayat tersebut. Tubuhnya sudah membusuk dan banyak bekas tusukan yang ada pada tubuhnya. Dilihat dari tusukannya ini, korban ditikam secara habis-habisan oleh pelaku sebanyak lima kali. Lalu selain itu juga ada memar pada lehernya. Pasti sebelum korban ditikam oleh pembunuh secara habis-habisan, korban dicekik terlebih dahulu sehingga membuatnya kesulitan bernapas.
"Kapan hasil autopsinya keluar?" tanyaku pada salah satu petugas tim forensik.
"Paling cepat besok pagi."
"Baiklah. Saya akan menunggu hasil autopsinya. Nanti dikirimkan melalui email saya."
"Sepertinya ini bukan pembunuhan biasa dilihat dari polanya," ucap Adrian mengerutkan dahinya.
"Pembunuh pasti menyimpan rasa dendam pada anak ini," lanjut Fina mulai berspekulasi.
"Apa mungkin kalian menemukan name tag? Biasanya pada seragam sekolah pasti tertera name tagnya," tanyaku kepada seluruh anggota timku.
"Tadi sudah aku cari ke mana-mana tapi tidak ada satu pun barang milik korban yang tertinggal di sini," jawab Nathan.
"Tim forensik juga sudah mencarinya di sekitar area TKP namun tidak ada barang milik korban sama sekali," lanjut Hans.
Aku dan Adrian melakukan pemeriksaan pada mayat lainnya. Pola pembunuhannya terlihat sama seperti mayat pertama. Korban dicekik terlebih dahulu lalu ditikam habis-habisan oleh pembunuh. Kedua korban ini juga memiliki kesamaan yaitu siswi SMA jika dilihat dari seragam sekolahnya.
__ADS_1
"Tidak salah lagi. Pelakunya sama seperti orang yang membunuh korban pertama," ucapku berkacak pinggang.
"Pelakunya pasti merupakan seseorang yang merasa iri pada mereka berdua sehingga membunuhnya dengan sadis begini," lanjut Adrian.
"Tapi menurutmu, apa mungkin pelakunya merupakan seorang siswa SMA juga? Dilihat dari proses pembunuhannya, seperti agak mustahil kalau pelakunya itu siswa SMA."
"Untuk sekarang ini kita hanya berspekulasi saja. Bisa juga pelaku memiliki gangguan jiwa sama seperti dengan kasusnya Josh."
"Benar juga sih perkataanmu itu. Sepertinya kita tinggal menunggu hasil autopsi kedua korban besok pagi."
"Menurut penyelidikanku, dua korban ini dibunuh pada waktu yang berbeda. Dilihat dari kondisi fisik kedua mayat ini, korban yang pertama kali kita lihat tadi dibunuh lebih dulu lalu tak lama kemudian, korban yang ini dibunuh. Pembunuh menghapus jejak pembunuhannya dengan memilih tempat yang strategis sehingga sulit menemukan jejaknya."
"Alasan pelakunya memilih tempat ini untuk mengubur mayatnya dibandingkan dengan membuangnya ke sungai karena sudah ada dua kasus pembunuhan sebelumnya yang keduanya memiliki kesamaan yaitu mayatnya ditemukan dalam sungai. Pelaku tidak ingin memiliki kesamaan yang serupa. Sepertinya pelaku kali ini jauh lebih licik dari yang kita kira."
"Penny, sebaiknya kita kembali ke kantor sekarang," usul Fina tiba-tiba memotong pembicaraanku dengan Adrian.
"Baiklah, kita pergi sekarang juga. Aku akan menaikki mobilmu Fina," balasku.
Sebelum itu, aku memeluk Adrian dengan erat untuk berpamitan dengannya.
"Adrian, aku kembali ke kantorku dulu, ya," pamitku.
"Hati-hati di jalan, Penny," balas Adrian.
Aku melepas pelukannya kemudian bergabung dengan Fina menaikki mobilnya. Setibanya di kantor, aku dan semua anggota timku memasuki ruangan kami untuk mengadakan rapat darurat.
"Jadi bagaimana, Penny?" tanya Tania.
"Pokoknya saat hasil autopsinya sudah keluar dan teridentifikasi identitas mayatnya, kita akan memulai penyelidikannya di sekolah korban. Keduanya sekolah di tempat yang sama. Sepertinya kedua korban ini memiliki hubungan dekat satu sama lain dan juga pelaku ada kaitannya dengan kedua korban. Ini baru spekulasiku saja. Kemungkinan pelaku iri pada kedua korban lalu membunuhnya dengan kejam," ucapku mulai berfokus pada penyelidikannya.
"Tapi apa mungkin anak SMA mampu melakukan hal kejam begini?" tanya Hans memiringkan wajahnya.
"Kita tidak pernah tahu sosok orang yang terlihat lemah dari luar tapi sebenarnya dalam dirinya itu sangat kejam. Bisa juga pelaku memiliki gangguan jiwa seperti yang dialami oleh Josh," jawabku sambil berjalan mondar-mandir.
"Aku jadi takut sekarang," ucap Tania tiba-tiba bergidik ngeri.
"Kamu kenapa, Tania?" tanya Nathan.
"Beberapa tahun ini tidak terjadi kasus pembunuhan yang kejam. Sedangkan hari ini kita menemukan korban dari kasus pembunuhan lagi. Kalau dulu sih aku masih tidak begitu khawatir karena aku belum memiliki anak. Sekarang ini kita semua sudah berkeluarga dan memiliki anak. Aku jadi khawatir dengan keselamatan anakku," jawab Tania menggigit bibirnya.
Benar juga. Aku jadi sedikit khawatir dengan keselamatan Victoria. Sewaktu aku sedang hamil sampai putriku lahir dan sekolah sekarang, selama ini tidak ada kasus berbahaya seperti ini.
"Tenang saja, Tania. Anak-anak pasti akan selamat. Kamu tidak usah memikirkan hal yang aneh," balas Nathan menepuk pundaknya Tania berirama untuk menenangkannya.
"Selama proses penyelidikan kasus ini, aku akan menitipkan anakku pada ibuku," ucap Hans.
"Aku juga akan meminta ibuku untuk menjaga Erhan dengan ketat. Apalagi Erhan ini kadang susah diajak kerja sama," kata Nathan.
"Aku yakin Erhan pasti akan mengerti. Victoria saja mengerti situasi saat ini."
"Tapi kamu tidak mungkin memberitahu Victoria secara langsung mengenai kasus pembunuhan ini, 'kan, Penny?" tanya Fina.
"Jadinya nanti kamu akan meminta ibumu untuk merawat Victoria selama proses penyelidikan?" tanya Tania.
"Kalau itu sih aku belum kepikiran. Nanti akan aku pikirkan kembali." Aku menghembuskan napasku lesuh sambil mengetuk meja beberapa kali agar pikiranku tenang.
Sepanjang hari ini aku terus termenung memikirkan keselamatan anakku. Gara-gara Tania berkata seperti itu, aku jadi takut kalau suatu hari nanti anakku akan dalam bahaya juga. Selama proses penyelidikan kasus ini, secara terpaksa aku harus menitipkan Victoria pada ibu demi keselamatannya. Aku sudah bertekad bulat sekarang.
Malam harinya, aku membawa tas kerjaku keluar dari kantor polisi dengan lesuh. Namun aku harus menyembunyikan wajah kusutku ini dengan senyuman manis agar Adrian tidak terlalu mencemaskanku. Aku tersenyum menghampirinya.
"Penny!" panggilnya.
"Adrian, aku lapar."
"Kita pulang sekarang, yuk! Aku yang memasak makan malamnya."
Setibanya di apartemen, Adrian terus menggenggam tanganku dengan erat dari di basement sampai depan pintu kediaman kami. Bahkan saat memasukkan kode aksesnya, Adrian masih saja tidak ingin melepas genggaman tangannya. Aku tahu pasti Adrian takut terjadi sesuatu padaku lagi sampai membuatku melekat terus padanya seperti lem.
Aku dan Adrian memasuki kediaman kami lalu menghampiri Victoria yang sedang asik bermain dengan ayah, ibu, dan ayah mertua.
"Papa! Mama!" sapa Victoria berlari menghampiriku dan Adrian.
"Maafkan papa dan mama, ya, hari ini pulang agak telat," ucap Adrian menunduk lesuh.
"Kalian berdua sudah makan malam?" tanya Maia.
"Belum, Bu. Aku akan masak makan malamnya sekarang," jawab Adrian.
"Tidak perlu. Ibu sudah memasak makan malam untuk kalian."
"Terima kasih banyak, Bu. Maaf kalau aku merepotkan ibu terus," ucapku memeluk ibu dengan hangat.
"Tidak apa-apa. Ibu, ayah, dan Randy ingin membicarakan sesuatu pada kalian."
"Apa itu, Bu?" tanyaku.
"Karena kalian berdua mulai sibuk menyelidiki kasus ini. Ibu takut kalian tidak akan sempat mengurus Victoria. Bagaimana kalau selama kalian melakukan penyelidikan kasus ini, Victoria menginap di rumah ibu saja?" tawar ibu.
"Aku juga sebenarnya ingin menitipkan Victoria pada ibu. Cuma rasanya aku tidak rela berpisah dengan anakku. Aku sebagai seorang ibu bisa merasakan kalau seandainya aku tinggal berpisah dengan anakku sendiri seperti ada sesuatu yang kurang dalam hidupku," desahku lesuh.
"Tapi Penny, ini juga demi keselamatan anakmu. Kalau ayah, ibu, dan Randy menjaga Victoria dengan baik pasti dia akan selalu baik-baik saja," lanjut Peter.
"Mama ...." lirih Victoria.
Aku mengangkat tubuhnya Victoria untuk duduk di atas pangkuanku sambil mendekapnya hangat. Adrian secara spontan merangkul bahuku dan juga menyentuh tangan mungilnya Victoria.
"Mama masih tidak rela berpisah denganmu, Victoria," ucapku dengan mata sedikit sembab.
"Penny, aku juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan anak kita. Tapi kamu harus dengarkan perkataan ayah dan ibu demi keselamatannya."
"Ibu, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Victoria malam ini. Besok aku akan serahkan Victoria pada ibu."
__ADS_1
"Baiklah. Ibu mengerti perasaanmu, Penny."
"Kalau begitu aku akan mengemas pakaian Victoria dulu," ucapku beranjak dari sofa kemudian memasuki kamarnya Victoria.
Aku mengambil sebuah tas berukuran besar lalu memasukkan pakaiannya Victoria secukupnya. Adrian juga ikut membantuku mengemas barangnya Victoria.
"Penny, apa kamu baik-baik saja?" tanya Adrian.
Aku menahan air mataku yang hampir mengalir dan berpura-pura tersenyum di hadapannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja."
"Kamu istirahat dulu saja. Biar aku yang mengemas barangnya Victoria."
"Rasanya aneh sekali kalau setiap malam tidak ada kehadiran anak kita dalam kamar ini," ucapku sambil menatap sekeliling kamar.
"Aku bakal rindu membacakan dongeng untuk Victoria setiap malam."
"Untuk malam ini, aku ingin kita bertiga tidur bersama sebelum berpisah."
"Ide yang bagus, Penny. Aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan berhargaku melihat wajahnya Victoria sepanjang malam."
Aku menutup resleting tasnya lalu membawa tas itu keluar dari kamar dan menyerahkannya pada ibu.
"Semua barang kebutuhan Victoria sudah lengkap dalam tas ini."
"Baiklah kalau begitu ibu, ayah dan Randy pulang dulu ya," pamit Maia melangkahkan kakinya keluar dari kediamanku yang diekori Peter dan Randy.
Sekarang hanya aku, Adrian, dan Victoria dalam ruang tamu. Victoria menghampiriku kemudian memelukku dengan hangat.
"Mama, jangan sedih. Kalau mama sedih nanti aku juga sedih," ucapnya memanyunkan bibirnya sambil mengelus kepalaku dengan tangan mungilnya.
"Mama tidak sedih. Hanya saja mama dari tadi lapar makanya kelihatan lesuh," balasku membohonginya.
"Victoria, kata mama nanti kita bertiga tidur bersama malam ini."
"Asyik! Aku tidak sabar tidur sama papa dan mama," sorak Victoria girang.
"Kalau begitu kita makan dulu, ya. Perut papa sudah lapar nih dari tadi," ucap Adrian mengelus perutnya.
Usai makan malam dan membersihkan diri, Victoria berlari memasuki kamarku dan menaikki ranjangnya. Sedangkan aku mengeringkan rambutku dulu yang habis dikeramas dengan alat hair dryer. Adrian yang baru saja membersihkan dirinya langsung merebut hair dryer dari genggaman tanganku.
"Adriiaan! Aku belum selesai mengeringkan rambutku!" tegurku.
"Aku bermaksud membantumu mengeringkan rambutmu," balasnya sambil mengibaskan rambutku yang masih sedikit basah.
"Aku kira kamu akan menggunakannya untuk mengeringkan rambutmu."
"Tenang saja. Istriku yang manis selalu menjadi prioritas utamaku."
"Nanti aku juga akan membantumu mengeringkan rambutmu."
"Tidak usah. Rambutku sudah hampir kering."
"Sudahlah biarkan aku membantumu."
Aku beranjak dari kursi lalu merebut hair dryer dari tangannya. Secara perlahan aku mengeringkan rambutnya dari setiap sisi.
"Rambutmu masih basah! Dasar pembohong!" ketusku menjitak kepalanya.
"Tapi rambutku sudah mulai kering."
"Sudah tanggung. Ini juga sedikit lagi kering."
"Mmm enak sekali rambutku dikeringkan olehmu sayang."
Aku memajukan kepalaku mendekati daun telinganya berbisik pelan.
"Bagaimana kalau aku mengeringkan rambutmu sampai seterusnya?"
"Tentu saja aku mau, Sayang!" sahutnya langsung menyetujui tawaranku.
"Hmm tapi karena kita akan menyelidiki kasus lagi, sepertinya ...."
"Kalau kamu tidak ingin melakukannya, aku tidak mempermasalahkannya, Sayang. Nanti kita bekerja keras lagi sampai kelelahan. Lebih baik waktu luangnya kamu gunakan untuk beristirahat."
"Tidak mau. Pokoknya aku ingin mengeringkan rambutmu saja!" tolakku keras kepala.
"Papa! Mama! Aku mau tidur!" rengek Victoria manja tiba-tiba di sela perbincangan kami.
"Oke, Victoria. Mama juga sudah ngantuk nih mau tidur sekarang."
Aku mematikan mesin hair dryer lalu membaringkan tubuhku tepat di sebelah Victoria dan mendekapnya hangat. Sedangkan Adrian juga membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Victoria lalu mendekapnya juga.
"Victoria," panggilku lembut.
"Iya, Mama?"
"Karena mama dan papa sudah menemanimu tidur jadinya Victoria harus bermimpi indah, ya."
"Jangan lupa memimpikan papa dan mama juga ya," lanjut Adrian.
"Ish kamu ini! Memangnya mimpi bisa diatur!"
"Kan siapa tahu kalau kita bertiga tidur bersama nanti Victoria bisa bermimpi tentang kita berdua."
"Bagiku yang terpenting melihat wajahnya dengan dekat begini sebelum berpisah sudah puas bagiku."
Victoria tidak membuka suaranya karena sudah tertidur lelap dari tadi tanpa kami berdua sadari. Aku dan Adrian mengecup pipinya Victoria dengan penuh kasih sayang.
"Selamat malam, Putriku. Mama dan papa sangat menyayangimu," bisikku dan Adrian serentak.
__ADS_1