Good Partner

Good Partner
S2 : Part 5 - Korban Menghilang Lama


__ADS_3

Demi keselamatan anakku, aku harus merelakan Victoria tinggal bersama ibu untuk sementara waktu hingga situasi kembali kondusif. Khusus untuk pagi ini, aku membuatkan sarapan bersama dengan Adrian sebelum berpisah dengan Victoria. Aku menghidangkan nasi omeletnya dalam porsi yang banyak supaya ia bisa menikmati sarapannya sampai puas. Aku mengambil sesendok nasi omeletnya memasukkannya ke dalam mulutnya Victoria.


"Mmm enak!" seru Victoria berseri-seri.


"Hari ini papa sama mama masak sarapan spesial untukmu, Anakku. Papa sangat bahagia kalau Victoria suka nasi omeletnya," ucap Adrian sambil mencubit pipinya Victoria lembut.


"Nanti aku rindu nasi omelet buatan papa dan mama."


Aku hening sejenak kembali berusaha menutup kesedihanku dengan melukiskan senyuman ceria pada wajahku agar Victoria juga tidak sedih.


"Mama dan papa juga bakal rindu sarapan bersama Victoria setiap harinya," ucapku.


"Mama sedih?" tanya Victoria menggenggam tanganku.


Dugaanku benar. Cepat lambat Victoria pasti peka mengetahui kesedihanku sekarang.


"Mama bukan sedih. Tapi mama kurang tidur jadinya masih sedikit ngantuk," sahut Adrian membantuku menjawabnya.


"Iya benar kata papa. Semalam mama kurang tidur jadinya masih ngantuk nih." Aku berpura-pura menguap dan mengucek mataku supaya terlihat masih mengantuk.


"Victoria tidak usah mencemaskan papa dan mama. Yang papa inginkan adalah Victoria selalu terlihat sehat setiap harinya walaupun tinggal sama nenek."


"Victoria harus mendengarkan kata kakek dan nenek, ya, jangan jadi anak nakal. Mengerti?"


"Mengerti!" patuh Victoria.


"Anak pintar. Memang Victoria ini satu-satunya anak kebanggaan papa dan mama," ucapku dan Adrian serentak mengelus kepalanya Victoria.


Aku dan Adrian mengantarkan Victoria ke sekolahnya terlebih dahulu. Tempat ini merupakan tempat perpisahan antara aku dengan anakku. Sebelum Victoria memasuki kelasnya, aku dan Adrian memeluknya dengan erat hingga rasanya tidak ingin melepaskannya. Hingga waktu tersisa lima menit sebelum bel sekolah berbunyi, aku dan Adrian melepas pelukannya.


"Victoria selama tinggal bersama kakek dan nenek harus selalu ingat menjadi anak yang baik, ya," ucapku berpesan padanya.


"Pokoknya Victoria harus selalu makan yang banyak dan bermimpi indah setiap malam walaupun papa tidak membacakan dongeng untukmu," lanjut Adrian.


"Mama papa. Aku pasti jadi anak yang baik dan selalu menuruti kakek dan nenek," balas Victoria berlagak percaya diri.


"Syukurlah kalau begitu mama bisa tenang. Mulai hari ini nenek yang akan menjemputmu pulang sekolah. Ingat, ya, jangan membuat nenek repot."


"Mama tenang saja." Tangan mungilnya menepuk-nepuk pundakku.


"Kalau begitu mama dan papa berangkat kerja dulu, ya. Sebaiknya Victoria masuk kelas saja," pamitku.


"Oke. Bye bye, Mama papa," pamitnya melambaikan tangannya.


"Bye, Victoria," balas Adrian melambaikan tangannya juga.


Aku membalikkan tubuhku melangkahkan kakiku lemas kembali memasuki mobil Adrian. Aku memasang sabuk pengaman lalu menyandarkan kepalaku pada kaca jendela mobil dengan lemas. Selama perjalanan menuju kantor polisi, aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Tak lama kemudian, Adrian memberhentikan mobilnya tepat di depan kantor polisi. Ia secara spontan mendekatkan tubuhnya pada tubuhku sambil melepas sabuk pengamanku.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya penuh khawatir.


Aku menggenggam tangannya dengan erat dan mengeluarkan senyuman khasku padanya.


"Sayang, mari kita selesaikan kasus ini secepatnya demi bisa bertemu dengan Victoria lagi! Aku yakin kita pasti bisa menang!"


"Ini baru namanya istriku yang selalu semangat setiap harinya. Tenang saja kita pasti bisa memecahkan kasusnya," balasnya membelai rambutku.


"Sayang." Aku menunjuk pipi kiriku.


Adrian langsung mencium pipi kiriku mendalam sambil memelukku dengan erat.


"Semangat, Sayang. Vitamin penyemangat dariku akan selalu membuatmu bertambah semangat bekerja dan kuat."


"Aku juga selalu memberi vitamin penyemangat untukmu supaya kamu selalu semangat setiap saat," balasku mencium pipi kanannya.


"Kalau seandainya terjadi sesuatu padamu, kamu harus menghubungiku, ya."


"Tenang saja. Aku punya banyak pasukan yang selalu melindungiku setiap saat," tuturku bernada sombong.


"Ish banyak pasukan tapi selama ini kamu selalu saja membuatku khawatir!"


"Aku tidak akan berbuat ceroboh lagi. Ya sudah deh aku harus masuk ke kantor sekarang. Aku harus mengecek email mengenai hasil autopsi dua korban."


"Baiklah."


Aku melepas pelukannya kemudian membuka pintu mobilnya. Sambil melangkahkan kakiku menuju ruangan kerja, aku mengambil karet rambut dalam saku blazerku lalu mengikat rambutku dengan erat. Aku mengangkat kepalaku dan terus menatap lurus memasang raut wajah sebagai seorang kepala detektif yang kompeten lagi.


Setibanya di ruang kerjaku, aku langsung menghampiri meja kerjaku dan membuka email yang telah dikirim oleh tim forensik.


"Hasil autopsinya sudah dikirim tim forensik?" tanya Hans.


"Lima menit yang lalu emailnya baru masuk. Aku sedang menyimpan file autopsinya," jawabku terus berfokus menatap layar monitor.


Lalu aku mengadakan rapat darurat lagi. Aku menyalakan projectornya dan mematikan semua lampu ruangan ini.


"Korban pertama bernama Angelina Vania berusia 15 tahun dengan tinggi 157 cm. Ditemukan tewas kemarin siang sekitar pukul 12. Menurut hasil autopsi, tubuh korban sudah membusuk selama enam bulan. Korban memiliki luka tusukan sebanyak lima kali yang sangat mendalam hingga merobek ususnya. Lalu leher korban mengalami luka memar yang cukup parah hingga membuatnya kesulitan bernapas sebelum ditikam habis-habisan," terangku mulai berfokus pada penyelidikannya.


"Tunggu! Korban ini sudah membusuk selama enam bulan tapi kenapa kita tidak pernah mendengar laporan seorang siswi SMA menghilang?" tanya Nathan bertopang dagunya.


"Maka dari itu, kita harus mencari tahunya lebih dalam lagi," jawab Fina.


"Kemudian korban kedua bernama Gracia Jesslyn berusia 15 tahun dengan tinggi 158 cm. Mayatnya ditemukan kemarin siang sekitar pukul 12 bersama dengan korban pertama. Lokasi penguburan mayat antara korban pertama dengan korban kedua tidak jauh. Menurut hasil autopsi, korban kedua memiliki luka tusukan yang sama dengan korban pertama. Korban kedua dibunuh sebulan kemudian setelah korban pertama dibunuh," lanjutku.


"Tapi aku masih bingung dengan dua korban ini. Kenapa orang tua mereka tidak melaporkan hilangnya anak mereka selama berbulan-bulan?" tanya Nathan lagi.


"Oh, aku baru saja dapat informasinya nih selagi Penny tadi presentasi," pungkas Tania.

__ADS_1


"Apa itu?" tanyaku.


"Pantesan saja mereka tidak dilaporkan menghilang selama ini. Kedua korban merupakan anak yatim piatu sejak kecil lalu mereka tinggal bersama dalam satu rumah," jelas Tania.


"Lalu apa mereka memiliki hubungan darah?" tanyaku.


"Dilihat dari biodatanya sih mereka tidak ada hubungan darah maupun saudara jauh. Bisa juga mungkin mereka berdua dulunya pernah tinggal dalam panti asuhan yang sama."


"Kita harus memulainya dari mana dulu, Penny?" tanya Nathan.


"Kita akan memulai penyelidikannya di sekolahnya dulu. Hal yang paling janggal dalam pikiranku adalah kenapa pihak sekolah tidak melaporkan hilangnya dua siswinya," paparku mengerutkan dahiku.


"Kalau begitu kita pergi ke sekolahnya sekarang saja!" ajak Fina.


"Iya kamu paling bersemangat dalam tim ini mengenai interogasi," balasku tersenyum paksa.


"Iya dong. Aku ini orangnya cepat tanggap."


"Lalu kamu selalu mengatakan aku ini lamban seperti siput." Aku melanjutkan perkataannya sambil memutar kedua bola mataku bermalasan.


"Tapi sekarang aku sudah tidak bilang kamu lamban." Fina mengangkat bahunya percaya diri.


"Aku tahu kamu sengaja memujiku tiba-tiba supaya kau bisa ikut denganku ke sekolah, 'kan," tukasku menyipitkan mataku.


"Nah, kalau itu kamu bisa tahu. Memang kamu peka sekali padaku, Penny."


"Kamu tidak usah memujiku juga aku bakal mengajakmu ikut denganku," ejekku menjulurkan lidahku.


"Ish dasar kamu, Penny! Aku tarik ucapanku barusan tadi. Kamu memang orang yang lamban!" ketus Fina mengangkat alisnya.


"Perkataan yang sudah dilontarkan tidak bisa ditarik kembali."


"Awas saja kamu, Penny! Nanti akan aku laporkan pada Adrian!" ancam Fina dengan tatapan mata elang.


"Sudahlah kalian tidak usah berdebat lagi! Apalagi kamu Penny, jangan melawan Fina lagi. Nanti aku juga akan lapor ke Adrian," ucap Hans merangkul bahunya Fina sambil mengancamku.


"Silakan saja lapor. Adrian lebih memercayaiku daripada kalian semua." Aku mengangkat kepalaku berkacak pinggang.


"Penny, jadinya kamu ingin pergi ke sekolahnya tidak?" tanya Tania.


"Iya ini aku baru saja mau pergi ke sekolahnya. Fina dari tadi cerewet!" ketusku melangkahkan kakiku keluar dari ruang kerja.


"Tunggu aku, Penny! Kamu kan naik mobilku!" pekik Fina mengambil kunci mobilnya menyusulku.


Setibanya di sekolah para korban, aku dan Fina bergegas memasuki ruang gurunya untuk menginterogasi wali kelasnya. Lalu aku menghampiri salah satu guru berwajah dingin yang sedang sibuk membuat kopinya.


"Permisi maaf mengganggu," ucapku sopan.


Guru berwajah dingin tersebut menoleh ke arahku menatapku dengan tajam.


"Anda siapa?"


"Ada perlu apa Anda kemari?"


"Apa mungkin Anda tahu wali kelasnya Angelina dan Gracia ada di mana?" tanya Fina.


"Itu di sana," jawab bu guru tersebut sambil menunjuk seorang bu guru lainnya yang sedang sibuk di meja kerjanya.


"Baiklah, terima kasih," balasku menundukkan kepalaku hormat.


Kemudian aku dan Fina menghampiri bu guru tersebut yang kelihatannya sedang sibuk mengecek lembar jawaban ulangan anak-anak.


"Permisi maaf mengganggu sebentar," ucapku sopan.


"Iya ada apa?" tanya bu guru tersebut sambil menutup pulpennya.


"Apa mungkin Anda adalah wali kelasnya Gracia dan Angelina?" tanyaku berbasa basi.


"Iya benar."


"Perkenalkan saya adalah kepala detektif yang bertugas dalam penyelidikan kasus pembunuhan temuan mayat di hutan kemarin," ucapku memperlihatkan name tagku.


"Saya Fransisca. Senang berkenalan dengan Anda," balas Bu Fransisca berjabat tangan denganku.


"Boleh minta waktu Anda sebentar? Dimohon kerja samanya," tanya Fina tersenyum ramah.


"Baiklah kita jangan membicarakannya di sini. Sebaiknya kita membicarakannya di kantin sekolah saja," jawab bu Fransisca menuntunku dan Fina menuju kantin sekolah.


Aku dan Fina terlebih dahulu duduk di bangku kantin sambil menunggu bu Fransisca memesan kopinya. Tak lama kemudian, ia menghampiri kami berdua duduk tepat di hadapanku.


"Omong-omong, kalian ada perlu apa kemari? Apakah Angelina dan Gracia ada hubungannya dengan kasus pembunuhan yang kalian sedang selidiki?" tanya bu Fransisca sambil minum kopinya.


"Dua korban yang ditemukan di hutan kemarin adalah Angelina dan Gracia," jawabku datar.


"Uhuk...uhuk..."


Bu Fransisca tersentak kaget hingga batuk tersedak lalu ia mengambil selembar tisunya menyeka bercak kopi yang menempel di sudut bibirnya.


"Apa saya tidak salah mendengarnya barusan? Angelina dan Gracia dibunuh?" tanya Bu Fransisca bergidik ngeri.


"Memangnya Anda selama ini tidak tahu kedua murid Anda menghilang selama enam bulan?" tanya Fina balik.


"Kenapa Anda tidak melaporkannya kepada pihak kepolisian untuk melakukan pencarian?" tanyaku.


Bu Fransisca memiringkan kepalanya mengernyitkan alisnya dan berkacak pinggang.


"Menghilang? Memangnya mereka berdua dilaporkan menghilang?" tanyanya dengan tatapan kebingungan.

__ADS_1


"Jadinya Anda selama ini tidak tahu kedua murid Anda menghilang tiba-tiba?" tanyaku lagi.


"Saat enam bulan yang lalu, saya hanya mendapat laporan bahwa Angelina berhenti sekolah."


"Apakah mungkin Angelina yang melaporkannya langsung kepada Anda?" selidik Fina semakin penasaran.


"Bukan Angelina yang melaporkannya. Tapi ada seseorang mengaku sebagai walinya bahwa dia akan dipindahkan keluar negeri."


Firasatku sudah mulai tidak enak sekarang. Menurut penelusuran Tania tadi, Angelina selama ini hanya tinggal berdua bersama Gracia.


"Apa mungkin Anda melihat wajah orang yang melapor itu?" selidikku.


"Orang itu mengirimkan email padaku beserta surat pernyataan bahwa Angelina berhenti sekolah."


"Bolehkah saya melihat isi emailnya?"


Bu Fransisca membuka layar ponselnya lalu memperlihatkan emailnya kepadaku. Isi emailnya memang tidak terlihat mencurigakan sama sekali seperti wali orang tua normal. Aku mengarahkan kamera ponselku untuk mengambil foto sebagai bukti orang mencurigakan mengirimkan email tiba-tiba. Lalu aku mengirimkan foto barusan itu kepada Hans untuk meminta melacak alamat IPnya.


"Omong-omong, ada masalah dengan email ini?"


"Aku mencurigai orang yang mengirimkan email ini adalah pelaku yang membunuh Angelina sehingga dia menutupi jejak pembunuhannya seolah-olah menjadi wali orang tuanya."


"Apa mungkin lima bulan yang lalu Gracia juga dilaporkan berhenti sekolah dan dipindahkan keluar negeri?" selidik Fina.


"Iya benar. Ini emailnya." Bu Fransisca memperlihatkan emailnya kepadaku lagi.


Isi emailnya sama persis dengan email sebelumnya. Hanya saja alamat emailnya yang berbeda. Aku foto bukti emailnya lagi dan mengirimkannya kepada Hans untuk melacak alamat IPnya.


"Ini hanya spekulasiku saja. Yang mengirimkan dua alamat email berbeda ini adalah pelaku pembunuhannya," paparku mengerutkan dahiku.


"Pembunuh?" Bu Fransisca merinding ketakutan hingga keringat dingin terus mengalir pada kepalanya.


"Anda tidak usah khawatir. Nanti tim saya akan melacaknya melalui alamat email ini. Kalau seandainya kami sudah menemukannya, kami pasti akan menangkap pelakunya secepatnya," ujarku menggenggam tangan Bu Fransisca untuk menenangkannya.


"Saya tidak menyangka ada seseorang yang membunuh dua murid kesayangan saya tiba-tiba. Saya ini memang wali kelas yang paling payah karena tidak tahu tentang masalah ini."


"Ini bukan sepenuhnya salah Anda. Pembunuh itu sengaja melakukan penyamaran supaya pihak kepolisian sulit untuk melacaknya," sanggah Fina.


"Seharusnya saya membaca isi email itu dengan baik lalu mencurigainya. Kalau seandainya ada korban lainnya lagi diperlakukan seperti ini gimana?"


"Tidak apa-apa. Yang pasti sekarang Anda harus tetap tenang dan bersikap seperti biasa saja. Serahkan saja semuanya pada saya dan juga anggota saya lainnya untuk mencari pelakunya hingga ketemu," tuturku dengan tatapan percaya diri.


"Kalau begitu saya akan mengandalkan Anda sepenuhnya, Kepala Detektif Penny."


Satu clue sudah dapat. Sekarang beralih ke informasi berikutnya yang harus kudapatkan.


"Omong-omong, apakah mungkin Angelina dan Gracia pernah bermasalah dengan seseorang sebelumnya? Misalnya seperti ada seseorang yang cemburu dengannya." Aku melontarkan pertanyaan terakhirku sebelum kembali ke kantor.


"Selama ini sih mereka berdua terlihat baik-baik saja di kelas."


"Apa mungkin mereka berdua memiliki kekasih?" tanya Fina.


"Hmm coba saya mengingatnya dulu. Setahu saya sih Angelina berhubungan dekat dengan Nielsen.  Setiap kali jam istirahat mereka berdua selalu makan bersama di kantin."


"Kalau Gracia gimana?" tanya Fina lagi.


"Gracia juga selama ini terkadang makan bersama dengan Nielsen di kantin. Atau mereka bertiga makan bersama di kantin dan selalu berkumpul satu kelompok setiap kali ada tugas kelompok."


Pandangan Fina beralih padaku lalu ia mendekatkan wajahnya pada daun telingaku.


"Sepertinya kita harus menginterogasi anak itu saat jam istirahat," bisik Fina.


"Apa mungkin kamu mencurigainya?" tanyaku berbisik dengannya.


"Aku hanya bertanya saja. Siapa tahu dia ingin memberikan kita sebuah informasi lagi."


"Hufft informasi apa coba!" ketusku mengerutkan bibirku.


"Makanya aku selama ini menganggapmu itu lamban, Penny. Kalau kamu mencari informasi hanya setengah, kamu tidak mungkin bisa menangkap pelakunya secepatnya."


"Bisakah jangan mengatakanku lamban terus, Fina! Padahal kamu sendiri juga suka mual setiap kali aku menyetir mobilku kebut. Kamu seperti anak kampung saja!" sindirku balik.


"Apa kamu bilang barusan?" Fina mulai geram padaku menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


"Tidak apa-apa. Mungkin kamu salah mendengarnya."


"Omong-omong bolehkah saya kembali ke ruang guru? Saya harus mengurus pekerjaan saya lagi," potong Bu Fransisca.


"Oh, boleh silakan. Terima kasih atas kerja sama Anda," ucapku berjabat tangan dengannya lagi tersenyum ramah.


Bu Fransisca menuduk hormat padaku dan Fina lalu meninggalkan kami berdua di kantin sekolah.


Tring...tring...


Bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Para siswa di sekolah ini mulai berhamburan menuju kantin sekolah. Ini kesempatan yang bagus bagiku untuk mencari Nielsen.


Aku dan Fina dari tadi sibuk memantaunya dengan fokus di kantin sekolah. Lalu aku menemukan seorang siswa yang sedang berkerumunan dengan temannya menghampiri bangku kosong. Name tag yang tertera pada seragam sekolahnya menunjukkan sosok nama yang kami cari dari tadi.


"Fina."


"Iya, Penny. Kita akan menghampirinya sekarang juga," sahut Fina langsung beranjak dari bangkunya menghampiri Nielsen yang sedang duduk sendirian di bangkunya.


"Fina ini orangnya selalu saja tidak sabaran!" gerutuku mengikuti Fina dari belakang.


Saat Fina menghampirinya, tatapan mata Nielsen seperti ketakutan ketika melihat tatapan mata elangnya Fina merupakan ciri khasnya untuk menakuti para saksi dan tersangka.


"Kamu siapa?" tanya Nielsen sangat gugup.

__ADS_1


"Aku detektif Fina. Mohon minta waktunya sebentar. Aku ingin menanyakanmu mengenai Angelina dan Gracia."


Nielsen tidak menghiraukannya dan memalingkan matanya dari Fina, seperti ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


__ADS_2