
Lagi-lagi dua rekan detektif pria ini selalu saja beradu mulut seperti tom and jerry di kantor. Untung saja sekarang aku dan semua rekan timku dipindahkan ke dalam satu ruangan khusus sehingga kami tidak bakal ditegur lagi sama atasan. Tapi dengan kondisi begini, Hans dan Nathan selalu saja sikapnya tidak pernah berubah dan semakin hari semakin parah perbuatannya. Aku sebagai kepala detektif dalam divisi ini sebenarnya malu memiliki anggota seperti ini. Tapi walaupun sikap mereka begitu, terkadang juga dapat menghibur suasana hatiku karena kekonyolan mereka.
Aku menghembuskan napasku dengan kasar membanting tas kerjaku di atas meja kerjaku untuk menakuti mereka sekaligus untuk menenangkan situasi mencekam ini.
BRAK
Sekarang situasi dalam ruangan ini kembali hening dan kondusif. Aku melipat kedua tanganku dan mengangkat alisku menghampiri mereka berdua dengan tatapan tajam.
"Ada apa lagi ini?" tanyaku.
"Itu Hans yang mulai duluan," jawab Nathan menunjuk Hans.
"Kok jadi aku sih? Memangnya aku salah apa?" tanya Hans balik berkacak pinggang.
"Memang kamu salah, Hans! Kamu saja yang tidak mengakuinya sama sekali!" elak Nathan.
"Jadi sebenarnya di antara kalian, siapa yang mulai mengajak ribut dulu?" tanyaku mulai kesal menaikkan nada bicaraku.
"DIA!" jawab Hans dan Nathan serentak saling menunjuk satu sama lain.
Rasanya aku ingin meluapkan amarahku dan berteriak dengan kencang hingga terdengar sampai luar ruangan. Aku mengepalkan tangan kananku ingin menjewer kuping mereka sekarang juga. Tatapan mataku beralih pada istri mereka masing-masing yang hanya berdiam diri saja dari tadi tidak membantu melerai perdebatan mereka.
"Kalian berdua para saksi mata!" tegurku pada Tania dan Fina secara tegas.
"Kenapa, Penny? Kamu memanggilku?" tanya Tania bertingkah seperti orang bodoh.
"Iyalah siapa lagi!"
"Santai dong, Penny. Kalau setiap hari kamu marah-marah terus nanti darah tinggi," ujar Fina santai.
"Kenapa kalian berdua dari tadi diam saja? Kenapa tidak melerai perdebatan suami kalian?"
"Itu sudah biasa bagiku melihat mereka saling bertingkar seperti ini setiap hari," jawab Fina terlihat masa bodoh.
"Aku saja sampai bosan melihatnya selama bertahun-tahun," lanjut Tania memutar bola matanya bermalasan.
"Tapi setidaknya kalian menghentikan mereka. Kalau seandainya suara kalian berisik sampai terdengar di luar gimana! Apa kalian mau ditegur lagi?"
"Iya sih. Tapi memang ini sepenuhnya salah Hans sejak awal," tukas Tania menatap sebal.
"Kenapa kamu jadi salahkan suamiku sih!" celetuk Fina.
"Memang benar. Hans yang memulainya dulu dan bilang bahwa anakku ini bodoh!" celetuk Tania balik sambil menyenamkan lehernya.
"Ho! Memang benar Erhan terlihat bodoh. Lihat saja dia sudah memasuki taman kanak-kanak masih saja ngompol seperti bayi baru lahir saja," sindir Fina mencolek pundaknya Tania.
"Ah, Keira juga masih sering ngompol tuh! Kamu saja berbicara tanpa bercermin terlebih dahulu!" celetuk Tania mencolek pundaknya Fina balik.
"Kamu juga kalau berbicara tidak berpikir dulu, ya. Anakku ini masih berusia satu tahun jadinya masih wajar kalau anakku ngompol!"
Tadi para bapak, sekarang para ibu yang bertengkar. Membuat amarahku semakin meledak.
"Aduh kalian semua bisakah jangan berdebat karena masalah anak saja!" keluhku menutupi telingaku dengan kedua telapak tanganku.
"DIAM KAMU, PENNY!" teriak Tania dan Fina serentak memelototiku.
Aku bergeming tubuhku terasa lemas seperti terkena sambaran petir yang dahsyat.
"Tapi ini juga salah kalian. Karena masalah kehebatan anak saja jadi berdebat begini! Kalian selalu saja hal kecil dijadikan masalah besar! Apa kalian tidak lelah setiap hari bertengkar begini?"
Mereka berempat berdiam diri menunduk kepalanya bingung ingin berkata seperti apa. Aku berjalan mondar-mandir mengelilingi mereka berlagak sombong.
"Iya juga sih. Maafkan kami karena membuat keributan di pagi hari," ucap Tania lemas.
"Maaf Penny, aku tidak akan mengulanginya lagi," sesal Hans.
"Nah begini kan enak kalau tidak berdebat lagi. Aku pun jadi merasa tenang kembali," balasku mengelus dadaku.
Ceklek!
Seseorang tiba-tiba membuka pintu ruangan ini. Perasaanku mulai tidak enak lalu aku membalikkan tubuhku ke belakang. Orang itu adalah Danny yang kini sekarang menjabat sebagai inspektur menggantikan posisi inspektur William.
"Ada apa kamu kemari, Danny?" tanyaku berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.
"Tadi sepertinya aku mendengar ada keributan di ruangan ini. Apa mungkin kalian semua berdebat lagi?" tanya Danny balik dengan tatapan curiga.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin kamu salah mendengar tadi," jawabku berwajah datar.
"Oh, begitukah? Mungkin aku memang salah mendengar. Kalau begitu aku tidak akan mengganggu ketenangan kalian lagi. Silakan kembali bekerja." Danny menggarukkan kepalanya lalu menutup pintunya kembali.
Kembali lagi padaku yang sedang menegur semua anggota timku membuatku selalu stress di pagi hari. Aku berkacak pinggang kembali berjalan mondar-mandir lagi di hadapan mereka.
"Jadinya apa kalian semua mengerti ucapanku tadi? Jangan sampai kita ditegur Danny lagi! Tadi saja nyaris kita tertangkap basah!" tegasku menghentakkan kakiku kasar.
"Iya aku mengerti, Penny," sahut Fina.
"Ya sudah kalau begitu kalian sebaiknya kembali bekerja, jangan mengajak ribut lagi!"
Aku kembali menduduki kursi kerja sambil membenarkan rambutku sempat terlihat kusut. Obat untukku supaya tidak terbawa emosi setiap pagi dengan cara melihat foto pernikahanku, bulan madu di Moke Lake, dan juga foto keluarga kecilku. Aku mengambil foto pernikahanku tersenyum mengambang melihat wajah ketampanan suamiku. Memang Adrian itu satu-satunya kuanggap sebagai vitamin penyemangatku.
Aku membuka layar ponselku lalu mengamati ada sebuah notifikasi masuk dalam pesan. Aku menekan notifikasi tersebut, lalu menyimpan sebuah fotoku yang sedang melihat bintang semalam. Dilihat dalam waktu lama, memang benar kata Adrian tadi bahwa aku terlihat sangat bahagia dalam foto ini. Tanpa kusadari memang aku terlihat cantik semalam walaupun tanpa merias wajah dan memakai piyama.
drrt...drrt...
Kebetulan sekali memang vitamin penyemangatku ini bisa membaca pikiranku sekarang. Di saat suasana hatiku sedang tidak enak, Adrian selalu saja menghubungiku ketika sedang tidak sibuk. Aku menggeser layar ponselku mengangkat panggilan telepon darinya.
"Sayang, kamu sudah terima fotonya?"
"Tadi barusan aku menerimanya. Terima kasih, Sayang. Akan aku posting fotonya nanti."
"Apa kamu sibuk hari ini?"
"Tidak juga. Aku bahkan punya banyak waktu luang. Belum ada kasus yang harus aku selidiki sekarang."
"Bagus. Nanti kita makan siang bersama yuk! Aku juga hari ini tidak terlalu sibuk. Sekalian jemput Victoria pulang sekolah."
"Aku tidak sabar bertemu denganmu nanti. Aku merindukanmu, Sayang."
__ADS_1
"Baru saja kita berpisah beberapa menit yang lalu kamu sudah merindukanku saja. Aku juga merindukanmu, Sayang."
"Tapi aku tidak ingin menganggumu bekerja. Aku tutup teleponnya dulu deh. Nanti semua anggota timku merasa risih melihatku bermesraan lewat telepon."
"Haha biarkan saja mereka risih. Yang penting aku puas berbincang denganmu lewat telepon."
"Ish kamu nakal sekali sih! Nanti juga kita bakal bertemu lagi."
"Iya juga sih. Malahan melihat wajahmu langsung lebih puas rasanya."
"Maka dari itu, aku tutup teleponnya dulu, ya. Sampai bertemu nanti, Sayang."
"Sampai bertemu, Sayang."
Aku menutup panggilan teleponnya langsung membuka aplikasi sosial mediaku untuk memposting fotoku semalam.
"Malam paling istimewa bagiku bisa melihat bintang di langit tanpa berawan bersama suami tercintaku. Berkat suamiku, mulai sekarang aku bisa melihat bintang setiap malam sebelum tidur. Love you, my lovely husband."
Belum sampai lima detik aku memposting fotoku, sudah ada satu orang yang menekan tombol hatinya. Tentu saja orang pertama yang menyukai postingan fotoku ini adalah suamiku sendiri. Aku menghela napasku lesuh sedikit merasa bersalah karena saat Adrian memposting fotoku, aku bukanlah orang pertama yang menyukai postingannya.
"Penny!" panggil Fina menghampiriku.
"Ada apa, Fina?"
"Foto ini sungguh bukan hasil editanmu? Apakah ini asli?" tanya Fina mengerutkan dahinya sambil menunjuk postingan fotoku.
"Ini fotonya asli. Adrian memotretku semalam diam-diam," jawabku sengaja menekan cara bicaraku.
"Tapi bagaimana bisa kamu memiliki teropong bintang?"
"Nah ini kelebihan dari Adrian. Dia sengaja membelikan teropong bintang untukku sebagai hadiah pernikahan. Memang hanya Adrian yang bisa membaca pikiranku," jawabku mengangkat alisku dan melipat kedua tanganku di depan dada.
"Aku jadi iri nih. Aku juga ingin dibelikan teropong bintang supaya bisa melihat keindahan langit malam." Fina memanyunkan bibirnya menatap Hans dengan manja.
"Sabar ya, Fina. Aku yakin Hans juga pasti akan membelikannya untukmu."
"Teropong bintang doang untuk apa. Mendingan kita lihat bintang di observatorium," seloroh Hans berlagak sombong.
"Menurutku sih lebih enak kalau melihat bintang di rumah sendiri dibandingkan di tempat umum. Apalagi kalau melihat bintang bersama keluarga sendiri dan bisa bermesraan dengan suamiku sepuasnya," balasku tersenyum mengambang sambil membayangkan kejadian semalam.
"Aku juga ingin teropong bintang, Hans!" rengek Fina menggoyangkan tangan kanannya Hans.
"Huft dasar, Penny! Kamu selalu saja paling cerdas membuat istriku iri!" ketus Hans menatapku geram.
"Ini sebagai pembalasanku karena kalian selalu saja membuatku sakit kepala hampir setiap pagi!"
"Dasar sombong! Ini karena anakmu juga cerdas sepertimu dan Adrian jadinya aku tidak berani berbicara hal buruk mengenainya!" ketus Hans lagi.
"Jangan pernah membawa anakku ke dalam masalahmu! Kalau sampai kalian semua berdebat dan membawa nama Victoria, aku tidak akan memaafkan kalian dengan mudah!" ancamku dengan tatapan mata elang.
Hans berdiri lemas menelan salivanya berat lalu kembali ke meja kerjanya lagi. Sementara Fina juga kembali ke meja kerjanya dengan raut wajah masih cemberut. Sekarang giliran Tania dan Nathan yang menghampiriku.
"Bagus, Penny! Aku suka gayamu itu!" puji Tania mengacungkan jempolnya.
"Kalian juga sama kalau berdebat jangan pernah membawa nama Victoria!" tegasku.
"Iya aku tahu itu," sahut Nathan.
"Iya semalam dia ngompol sampai aku kurang tidur nih. Kamu bisa lihat sendiri kan mataku ini sudah seperti mata panda," keluh Tania menunjuk matanya dan bernapas lesuh.
"Ya begitulah kalau sudah punya anak. Pasti kamu juga mengurusnya sampai kurang tidur." Aku menunjukkan rasa empatiku dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Enaknya kalau punya anak seperti Victoria yang kecerdasannya miripmu dan Adrian."
"Memangnya anak kita terlihat bodoh?" protes Nathan mengernyitkan alisnya.
"Aku tidak bilang Erhan bodoh."
"Bagiku, Victoria juga sama saja seperti anak lainnya. Kalian saja yang melebihkannya," balasku merendah.
"Omong-omong, nanti kamu sendiri lagi yang menjemput Victoria pulang sekolah?" tanya Tania mengalihkan pembicaraannya.
"Oh, nanti aku dan Adrian yang menjemputnya."
"Memang kalian ini pasangan terkompak dan paling mesra," ujar Nathan.
"Memangnya kalian tidak menjemput Erhan nanti?" tanyaku balik.
"Nanti ibuku yang menjemput Erhan. Ibuku rindu sekali dengannya dan ingin bermain dengannya," jawab Nathan.
"Begitu rupanya."
"Aku jadi iri melihatmu dan Adrian selalu mesra setiap harinya," tutur Tania sambil memainkan kuku jarinya.
"Oh, jadi kamu merasa aku ini tidak bersikap romantis padamu?" protes Nathan berkacak pinggang.
"Bukan itu sih. Hanya saja aku merasa mereka ini pasangan langka tidak pernah bertengkar satu sama lain. Sedangkan kita terkadang berdebat sedikit karena masalah anak."
"Iya juga sih. Tapi walaupun begitu aku tidak pernah menyakiti hatimu," balas Nathan tersenyum simpul.
Sekarang waktunya makan siang. Sebelum itu, aku mengambil cermin kecil dan memakai lipstikku terlebih dahulu. Kemudian melangkahkan kakiku cepat keluar dari kantor. Di luar kantor polisi, Adrian sudah menungguku dari tadi sambil terus menatap jam tangannya. Aku berlari menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang!" panggilku girang.
"Aku menunggumu dari tadi, Sayang."
"Maaf, ya, kalau aku membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku tahu kamu tadi sibuk memakai lipstikmu."
Pipiku langsung merah merona. Setiap kali aku memakai lipstik, pasti matanya sangat peka mengamati bibirku.
"Kamu tahu dari mana tadi aku memakai lipstik?" tanyaku menyentuh bibirku.
Adrian menautkan kedua alisnya terfokus memandangi bibirku.
"Warna lipstikmu itu lebih mencolok dari tadi pagi."
__ADS_1
Wajahku semakin merah merona hingga pipiku mulai memanas.
"Kamu tahu saja. Aku jadi malu nih."
"Padahal tadi pagi kamu sudah memakai lipstiknya dua kali."
"Mungkin lipstikku yang ini warnanya cepat memudar," lontarku asal bicara.
"Apa mungkin kamu sengaja selalu memakai lipstik supaya menarik perhatianku?" Adrian menyunggingkan senyuman nakal semakin mendekati wajahku.
"Aduh kamu jangan membuatku semakin malu! Lagi pula aku memang sengaja supaya kamu terpesona melihatku."
Aku langsung menyadari ucapanku yang keceplosan dengan sigap membungkam mulutku rapat.
"Sudah kuduga kamu sengaja melakukannya," tukasnya semakin melebarkan senyumannya.
"Sudahlah, Sayang. Jangan membicarakan hal ini di kantor."
"Baiklah, ayo kita pergi jemput anak kita pulang sekarang!" ajaknya merangkul tanganku mesra.
Setibanya di Sunshine Kindergarten, aku dan Adrian menunggu tepat di lobby sekolah. Tak lama kemudian, Victoria menampakkan dirinya berlari dengan girang menghampiriku dan Adrian.
"Papa! Mama!" panggilnya.
Aku dan Adrian secara spontan memeluk Victoria dengan hangat.
"My little angel!" sapa Adrian menggendong Victoria sambil berputar-putar.
"Aku senang papa dan mama jemputku pulang sekolah," ucap Victoria tersenyum girang.
"Tentu saja papa dan mama menepati janji menjemputmu pulang sekolah," balas Adrian.
"Hari ini kita makan apa?" tanya Victoria.
"Hari ini papa ajak kalian makan pancake."
"Horey! Aku suka pancake!" sorak Victoria.
Beberapa menit kemudian, Adrian memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah toko pancake yang lokasinya dekat apartemen. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan luar. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghidangkan pancakenya untuk kami bertiga. Adrian mengambilkan sebuah garpu dan memotong sepotong kecil pancakenya memasukkan ke dalam mulutnya Victoria.
"Bagaimana rasanya, Victoria?" tanya Adrian.
"Enak! Aku suka pancakenya!"
"Papa Adrian suapi mama juga dong," rayuku manis.
"Mama Penny manja deh. Sini biar papa suapi mama juga," balasnya menyuapiku juga sambil mengelus kepalaku.
"Mama seperti anak kecil," ejek Victoria menertawaiku.
Aku tersipu malu mengalihkan pandangan mataku ke arah pemandangan jendela luar. Adrian menggenggam tanganku lalu mengecup punggung tanganku.
"Mama bukan seperti anak kecil. Tapi papa melakukannya karena papa sayang banget sama mama," ucap Adrian tersenyum manis padaku.
"Tapi mama tadi manja," protes Victoria.
"Wah, anakku sekarang sudah pandai bicara, ya! Mama jadi malu nih di hadapanmu." Aku mencubit pipi mungilnya lembut.
"Mama suapiku pancakenya juga!" rengek Victoria berkedip matanya.
"Nih mama suapi untukmu." Aku mengambil sesendok pancakenya menyuapi Victoria.
"Mama jangan sibuk menyuapi Victoria terus. Mama juga harus makan yang banyak," ucap Adrian sambil menyuapiku pancakenya.
"Iya deh papa yang baik selalu perhatian sama mama," balasku menyuapinya juga.
"Omong-ngomong, tadi tumben aku tidak melihat Nathan atau Tania menjemput Erhan di sekolah," ujar Adrian mengalihkan pembicaraannya.
"Hari ini ibunya Nathan yang menjemput Erhan."
"Oh, pantesan aku tidak melihat salah satu dari mereka dari tadi."
Aku tidak memedulikan apa pun sekarang. Aku hanya memedulikan momen saat suamiku yang menekan tombol hati paling awal pada saat aku postinf fotoku tadi.
"Terima kasih, ya, Adrian."
"Kenapa kamu tiba-tiba berterima kasih padaku?" tanyanya bingung.
"Karena kamu adalah orang pertama yang menyukai postingan fotoku tadi."
"Itu karena dari tadi sebenarnya aku merasa bosan di kantor. Kerjaanku itu melihat foto-fotomu di ponselku dan aku menunggumu memposting fotomu di sosial media. Jadinya saat aku melihat kamu sudah mempostingnya, aku langsung menekan tombol hatinya. Bahkan aku menekannya sampai seratus kali."
"Berarti sama dong sepertiku tadi. Aku juga kerjaannya hanya melihat foto-foto kita yang kutaruh di meja kerjaku."
"Untung saja aku merupakan orang pertama yang menyukai postingan fotomu. Itu menandakan bahwa aku akan selalu menjadi nomor satu bagimu," ungkap Adrian merangkul bahuku.
"Tapi aku bukan orang pertama yang menyukai postinganmu. Maaf, Adrian," ucapku menunduk bersalah.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku memposting fotomu diam-diam. Mau urutan berapa pun kamu menyukai postingan fotoku, yang terpenting kamu akan selalu menjadi nomor satu bagiku."
"Setiap kali aku sedang mengalami kesulitan, yang ada di pikiranku nomor satu adalah suamiku sendiri." Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.
"Sama sepertiku juga, Penny. Aku selalu memikirkanmu setiap kali aku sedang menghadapi kesulitan."
"Kalau aku urutan nomor berapa?" tanya Victoria tiba-tiba mengulas senyumannya.
"Anak papa tidak usah ditanyakan lagi. Pokoknya mama dan Victoria akan selalu menjadi nomor satunya papa," jawab Adrian menggenggam tanganku dan Victoria.
"Mama juga selalu menganggap papa dan Victoria menjadi nomor satunya mama."
"Tapi kenapa nomor satunya ada dua?" tanya Victoria lagi.
"Karena nomor satu yang ini merupakan spesial bagi papa yaitu keluarga kecil papa sendiri," jawab Adrian.
"Mama juga berpikiran yang sama seperti papa."
"Sudahlah lebih baik kita lanjutkan makan pancakenya selagi masih hangat."
__ADS_1
Kami bertiga melanjutkan makan pancakenya dengan melahap. Disela itu, tiba-tiba ada sebuah berita terkini yang disiarkan dalam TV.
"Berita terkini, sekitar pukul dua belas siang ditemukan dua jenazah oleh para pendaki gunung di hutan. Saat ini pihak kepolisian sedang menyelidiki kasusnya lebih mendalam."