Good Partner

Good Partner
S2 : Part 50 - The Warmth Of My Little Family


__ADS_3

Langkah kakiku terhenti seketika mengamati sosok wanita lumayan terlihat cantik memakai pakaiannya sedikit seksi dibandingkan diriku memakai pakaian dress elegan namun tidak seksi. Apalagi melihat perbuatan genitnya terhadap suamiku sendiri membuatku ingin menjambak rambut panjangnya sekarang juga. Sementara Marcellino bergeming kebingungan menatapku tiba-tiba bertingkah seperti ini.


Aku menghela napasku kasar berniat membuka suaraku dengan nada manis supaya suamiku tidak tergoda dengan wanita itu.


"Adrian ...." panggilku manis.


Adrian menolehkan kepalanya menatapku lalu lebih memilih melangkahkan kakinya menghampiriku. Namun sorot matanya sepenuhnya tidak terlihat bahagia apalagi ada pria lain yang sedang berada di dekatku sekarang.


'Siapa pria itu? Kenapa dia bisa berada di samping istriku sekarang?' gumamnya dalam hati.


Begitu juga aku melangkah bersama Victoria menghampirinya tersenyum tipis. Mengingat wanita yang tadi sedang berbicara dengannya, membuat hatiku sedikit terasa tidak nyaman sekarang. Sementara sosok wanita genit itu tampak risih ketika mengamatiku dan Adrian kembali bersama sekarang.


"Jadinya wanita cantik ini adalah istrimu, Adrian?" tanya Valerie dengan nada sedikit tertekan.


Spontan Adrian merangkul bahuku mesra menampakkan senyuman lebar.


"Iya dia adalah istriku bernama Penny Patterson dan ini adalah anakku bernama Victoria Anastasia."


Sementara Marcellino ikut bergabung dengan Valerie juga tidak mau kalah merangkul tangannya mesra di hadapan kami. Aku dan Adrian tidak percaya mereka sebenarnya saling mengenal satu sama lain.


"Kalian saling mengenal?" tanyaku bingung.


"Sebenarnya kami sama seperti kalian sudah menikah," jawab Marcellino.


"Tidak kusangka ternyata kenalan istriku juga mengenalmu, Valerie."


"Ternyata dunia sempit, ya," ujar Valerie.


"Omong-omong, kalian bukankah menetap di Jerman sekarang?" tanya Adrian berbasa basi.


"Kami ke sini karena sedang ada perjalanan bisnis. Kebetulan urusan kami sudah selesai jadinya besok kami akan kembali ke Jerman," jelas Valerie.


"Sepertinya hubunganmu dengan suamiku lumayan dekat sewaktu dulu dilihat dari perlakuanmu tadi," lontarku dengan nada agak cemburu walaupun aku tahu dia merupakan istrinya Marcellino.


"Oh, dulu kami teman saja. Benarkah begitu, Adrian?"


"Iya teman yang membuatku merasa tidak nyaman hingga sekarang," sahut Adrian bermalasan.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya."


"Sedangkan kamu, apa hubunganmu dengan istriku?" tanya Adrian dengan nada sedikit kesal kepada Marcellino.


"Hubungan kami juga sebatas teman."


"Teman tapi sama sekali tidak akrab," tambahku bermalasan.


"Aku kira wanita cantik itu adalah Fina," tukas Valerie tersenyum sinis.


"Biar kujelaskan semuanya padamu! Fina sudah menikah dengan teman dekatku sendiri. Lagi pula aku sampai sekarang hanya mencintai istriku sendiri!" tegas Adrian.


"Akhirnya dia menyerah juga mengejarmu. Sudah deh aku tidak ingin mencampuri urusan kalian lagi," lontar Valerie.


"Bagus kamu akhirnya menyadarinya juga. Kamu menggangguku menghabiskan waktu bersama keluargaku," elak Adrian mengangkat alisnya.


"Ya sudah, kalau begitu kita bersenang-senang juga, Valerie. Kami permisi dulu. Semoga kalian selalu hidup bahagia," pamit Marcellino ramah.


"Kamu juga semoga selalu bahagia bersama istrimu," balasku.


Mereka berdua meninggalkan kami di sini dengan damai. Akhirnya kini aku bisa bersenang-senang lagi bersama keluargaku. Dengan tangan mungilnya, Victoria mengibaskan dressku perlahan.


"Mama, aku mau cokelat!"


Tatapan mataku menoleh pada Adrian lalu memasang wajahku terlihat manis dan manja mengedipkan mataku.


"Papa Adrian, aku mau cokelat juga!" rayuku manis.


Adrian tertawa kecil secara spontan menggandeng tanganku dan Victoria.


"Oke, papa akan membelikan cokelat yang banyak untuk kalian."


"Asyik! Aku sayang papa!" seru Victoria.


Setibanya di toko cokelat langganan kami, Victoria berlarian dengan girang mengambil banyak cokelat yang terpajang di rak etalase bagian tidak terlalu tinggi jangkauannya. Memang Victoria sama sepertiku dan Adrian sangat menyukai cokelat sampai ingin membelinya banyak. Apalagi kalau cokelatnya yang enak dan mahal, Victoria makannya sampai rakus.


"Victoria, jangan lari nanti jatuh!" Adrian memperingatkannya baik.


"Oke, Papa!"


"Lucu sekali anak kita," ujarku tersenyum lebar.


"Sama sepertimu, Sayang."


Aku mengambil beberapa macam cokelat yang merupakan cokelat favoritku selama ini lalu ditaruh ke dalam keranjang. Lalu tanganku berusaha meraih cokelat yang ditaruh di rak agak tinggi, Adrian berinisiatif berdiri tepat di belakangku tangan kanannya melingkar pada perutku sementara tangan kirinya mengambil cokelat yang ingin kuambil. Jantungku kini berdebar dengan kencang lalu aku menolehkan kepalaku menghadapnya. Jarak wajahnya dengan wajahku sangat berdekatan membuat pipiku semakin hangat merah merona.


Adrian memasukkan cokelatnya ke dalam keranjang kemudian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman godaannya.


"Kamu memang seperti anak kecil, Sayang."


Mendengar ejekannya barusan membuat bibirku mengerucut dan helaan napas kasar yang dihembuskan dari mulutku.


"Padahal tadi aku bisa mengambilnya sendiri. Kamu saja yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan."


"Kamu manis sekali, Sayang." Adrian membelai rambutku perlahan membuat senyumanku semakin mengambang dan tidak sengaja melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya.


"Sayang, jangan membuatku semakin berbunga-bunga karena godaan manis darimu. Kalau kamu menggodaku di rumah sih tidak masalah."


"Baiklah nanti aku lanjutkan menggodamu saat di rumah."


"Dasar nakal! Tapi tidak masalah, aku sangat menyukainya, Sayang."


Terlanjur sudah jantungku tidak bisa terkendalikan lagi akibat gombalan manis darinya. Aku memutuskan mengalihkan pembicaraan manis ini daripada dilihat oleh para pengunjung di toko. Terkadang jika aku sedang salah tingkah, mungkin aku bisa bertingkah aneh tanpa kusadari.


"Sepertinya sudah cukup untuk persediaan camilan di kantor," ucapku gelagapan.


"Ingat jangan bagikan ke teman anehmu! Aku hanya membelikannya untukmu dan Victoria saja."


"Untuk apa aku membagikannya kepada mereka semua. Hadiah pemberian darimu hanya boleh dinikmati olehku saja."


Victoria menghampiri kami lalu memasukkan banyak cokelat yang diambilnya dari tadi. Helaan napasku panjang sedikit cemas takut kalau Victoria konsumsi cokelat terlalu banyak bisa memengaruhi kesehatan giginya.


"Victoria, kalau kamu beli banyak cokelat nanti gigimu bisa berlubang," ucapku pelan.


"Tapi aku mau cokelat," bantahnya memanyunkan bibirnya.


Adrian berjongkok di hadapannya sambil mengelus kepalanya lembut.


"Malaikat kecilku, kalau banyak makan cokelat nanti jadi tidak terlihat imut lagi. Kamu boleh makan cokelat tapi jangan terlalu banyak, gigimu bisa berlubang."


"Tenang saja, Putriku. Bukan berarti tidak boleh makan, kamu boleh makan asalkan jangan terlalu berlebihan," sambungku menasihatinya.


Raut wajahnya awalnya cemberut kembali tersenyum tipis lalu memelukku dan Adrian dengan tangan mungilnya.


"Aku mau jadi anak baik supaya papa dan mama selalu sayang aku," ucapnya.


"Memang anak kesayanganku selalu jadi anak yang baik dan pintar," puji Adrian mengelus kepalanya.


"Kalau begitu kita bayar cokelatnya dulu sekarang!" ajakku.


Setelah membayar semua cokelat yang dibeli tadi, kami bertiga melanjutkan perjalanan lagi mengelilingi pusat perbelanjaan. Sesuai dengan janji awal, aku dan Adrian mengajak Victoria bermain bersama di arena playground tempat biasanya kami bermain di saat hari libur. Untung saja aku memakai dress yang tidak terlalu terbuka sehingga aman dipakai untuk bermain perosotan bersama Adrian dan Victoria.


Kami bertiga bermain berbagai permainan di sana yang bisa dikatakan sangat menyenangkan walaupun terlihat sederhana. Terutama melihat anakku sendiri selalu tersenyum bahagia ketika bermain perosotan dan ayunan sudah lebih dari cukup membuatku dan Adrian juga ikutan bahagia.


"Mama papa!" panggil Victoria melambaikan tangannya sambil ingin menuruni perosotannya.


"Ayo, Anakku! Sini kemarilah!" Adrian membentangkan kedua tangannya lebar untuk menyambut Victoria.


Victoria menuruni perosotannya sambil mengangkat tangannya ke atas lalu Adrian langsung memeluknya erat.


"Papa!"


"Mama tidak dipeluk nih?" Aku memasang wajah cemberut untuk memancing Victoria.


"Aku juga sayang mama." Victoria memelukku tersenyum ceria.

__ADS_1


"Victoria mau main ayunan?" tawar Adrian menunjuk sebuah ayunan.


"Aku mau! Aku suka ayunan!"


Adrian menggendong Victoria menghampiri sebuah ayunan kecil yang hanya bisa dimainkan satu orang saja. Victoria menduduki ayunannya menggenggam pegangan tali ayunan dengan erat sambil menggoyangkan kakinya pelan.


"Mau papa ayunkan?" tawarnya lagi.


"Mau!"


Adrian menggoyangkan ayunannya dengan tenaganya sedikit hingga membuat Victoria tertawa bahagia, sorot matanya tertuju padaku.


"Mama! Ini menyenangkan!" sorak Victoria.


"Victoria mau main berjam-jam juga tidak masalah bagi mama. Asalkan jangan sampai terlalu kelelahan, ya." Aku mengelus punggung tangannya lembut.


"Oke, mama!"


Setelah menghabiskan waktu satu jam bermain di sana, kami bertiga mendatangi sebuah acara yang diselenggarakan di main atrium pusat perbelanjaan. Banyak pengunjung yang menghampiri sana dan ikut bergabung dengan perlombaan makan ramen berpasangan.


Tatapan mata Victoria beralih pada sebuah boneka kelinci yang terpajang di sebuah meja merupakan hadiah utama dalam perlombaan ini. Tangan mungilnya meraih lengannya Adrian dengan memasang raut wajah manisnya.


"Papa, aku mau boneka itu!" rengek Victoria menunjuk bonekanya dengan jari telunjuknya.


Adrian berjongkok di hadapannya lalu mengelus kepalanya lembut.


"Papa sebenarnya ingin mengikuti perlombaan ini tapi tidak ada yang bisa menjagamu."


"Benar kata papa. Mama juga ingin mendapatkan boneka itu untukmu tapi nanti siapa yang akan menjagamu."


Sementara Hans dan Fina juga mendatangi perlombaan ini sambil menggendong Keira. Reaksi Adrian ketika bertemu mereka berdua langsung bermalasan dan melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa kamu harus muncul di mana pun aku berada?" Alis Adrian terangkat sebelah.


"Bukankah justru kamu yang ingin berdekatan denganku terus?" tanya Hans balik.


"Rasanya aku jadi ingin muntah mendengarnya," sindir Adrian.


Disela perbincangan mereka, tangan mungilnya Keira sibuk menunjuk ke arah sebuah boneka kelinci yang terpajang di atas meja.


"Kelinci," ucap Keira dengan suara imutnya.


"Keira mau boneka kelinci? Kalau begitu kamu di sini dulu saja bersama tante Penny dan paman Adrian," balas Hans menatap Adrian tersenyum licik.


"Kenapa harus kami yang menjaga Keira! Itu kan anak kalian sendiri!" protes Adrian menolaknya langsung.


"Daripada kalian berdua tidak berbuat apa-apa, mendingan kalian menjaga anak kami saja," balas Fina seenaknya.


"Padahal kami juga ingin mengikuti lombanya tapi tidak ada yang menjaga Victoria," selorohku memelototi Fina balik.


"Ada apa sih kalian ribut-ribut begini?"


Nathan dan Tania mendatangi kami juga bersama dengan anak mereka. Sekarang Hans yang bereaksi bermalasan di hadapan Nathan.


"Kenapa semua orang merusak hari liburku bersama dengan keluargaku sih?" tanya Hans menggarukkan kepalanya kesal.


"Justru kamu yang mulai duluan mengganggu kebersamaanku dengan istriku dan anakku," elak Adrian kesal.


"Ish aku datang ke sini malahan tidak disambut hangat olehmu!" sungut Nathan bibirnya mengerucut.


"Omong-omong, kalian dari tadi kenapa berdebat sih?" tanya Tania penasaran.


"Itu Penny dan Adrian tidak mau bantu kami menjaga Keira," tukas Fina.


"Ish kenapa kamu jadi menyalahkan kami!" sungutku.


"Kalian mau ikut perlombaannya?" tanya Nathan.


"Iya nih. Victoria sebenarnya menginginkan boneka kelincinya," jawab Adrian mendesah lesuh.


"Aku mau boneka!" rengek Victoria lagi.


"Cih! Percaya diri banget sih! Aku meragukan kalian bakal bisa menang deh," elak Hans meremehkan kami.


"Kalian ikut saja. Biar aku yang menjaga anak kalian di sini," tawar Tania cepat.


"Tidak perlu. Lagi pula Erhan tidak tertarik dengan hadiahnya. Benarkah begitu, Erhan?" tolak Nathan halus.


"Aku lebih suka game," ujar Erhan.


"Baiklah, kalau begitu Victoria tetap bersama tante Tania dan paman Nathan, ya. Papa dan mama mau berlomba dulu," pesan Adrian baik.


"Oke, Papa!" patuh Victoria langsung mendatangi Tania.


Sementara Fina menitipkan Keira kepada Tania sambil menatapku tajam.


"Semoga berhasil!" sorak Tania menyemangati kami semua.


"Lihat saja! Aku dan Hans pasti yang akan memenangkannya!" seru Fina berlagak percaya diri.


Setelah itu kami berempat langsung menduduki meja yang sudah disediakan di sana. Sebenarnya aku sedikit gugup dan gelagapan dalam mengikuti perlombaan ini. Apalagi sainganku salah satunya adalah Hans dan Fina yang biasanya selalu menang dalam hal makan. Sebelum perlombaannya dimulai, Adrian menggenggam tanganku bermaksud supaya aku tidak terlalu gugup.


"Sayang, kamu gugup?" tanyanya.


"Sedikit sih. Aku tidak terlalu mengharapkan kita menang. Apalagi teman kita sendiri jagonya makan."


"Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin demi anak kita. Kalau menang bersyukur, sedangkan kalah anggap saja ini hanya perbuatan iseng kita."


Para panitia penyelenggara lombanya menghidangkan semangkuk ramen pedas raksasa membuat mataku terbelalak mengamatinya. Aku mendesah pasrah hanya mengikuti lombanya apa adanya saja.


"Kita pasti bisa memenangkannya, Sayang. Ini hanya hal kecil saja. Bahkan menangani kasus jauh lebih berat daripada perlombaan ini," lontar Adrian santai.


"Berkat dirimu yang bersemangat, aku jadi ikut bersemangat juga. Ayo, Sayang! Kita pasti bisa memenangkannya!" sorakku penuh semangat.


Seorang MC memberikan aba-aba kepada para peserta lomba untuk memulai perlombaannya sekarang juga. Aku dan Adrian sudah menggenggam sumpitnya terlebih dahulu sangat siap mengikuti perlombaannya. Ketika lombanya dimulai, aku mengeluarkan jurus rakusku ketika aku sedang lapar. Untung saja perutku kini sedikit lapar sehingga bisa makannya dengan melahap walaupun aku sedikit kepedesan.


Sementara di sisi lain, Hans dan Fina juga bersemangat menghabiskan ramennya bahkan wajahnya Fina sampai memerah seperti kepiting rebus akibat kepedesan. Bahkan dari tadi ia terus minum sebotol air mineral sampai perutnya mulai kembung.


"Ayo, Sayang! Kita pasti bisa mendapatkan bonekanya!" seru Hans sambil mengunyah mienya.


"Pedas ... sepertinya aku tidak kuat," keluh Fina lidahnya keluar dari mulutnya.


"Aduh jangan ngomong gitu dong! Nanti kalau kita kalah gimana!"


"Ish kenapa kamu lebih memedulikan perlombaan daripada istrimu sendiri!" Fina mendengkus kesal meneguk airnya lagi terburu-buru hingga tersedak.


"Uhuk...uhuk..."


Dengan sigap Hans mengambilkan selembar tisu untuk mengelap sisa air yang belepotan di sudut bibir istrinya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hans sangat cemas.


Hati Fina masih gelisah akibat terbawa suasana tadi. Ia menepis tangannya Hans kasar sambil melanjutkan menyantap ramennya.


"Kamu tidak usah mengurusku! Sebaiknya urus diri sendiri saja!" ketus Fina.


"Tapi mulutmu belepotan sekarang."


"Bukankah tadi kamu sendiri yang ingin menang? Sebaiknya tidak usah memikirkanku sekarang!"


Sementara aku dan Adrian juga sebenarnya mulai tidak kuat akibat rasa pedasnya yang luar biasa. Namun kami berdua tidak seperti Hans dan Fina yang tidak kompak. Aku menyuapi mienya untuk Adrian, begitu juga ia menyuapi untukku. Bagi kami sepedas apa pun, tetap tidak begitu terasa karena kami melakukannya dengan penuh perasaan cinta. Tatapan kami berdua tetap selalu ceria menikmatinya.


"Sayang, kalau kamu tidak sanggup tidak masalah," ucapnya pelan.


"Tidak masalah, Sayang. Ini demi anak kita juga jadinya kita harus berjuang sampai selesai."


Di saat suasana menegangkan begini, Adrian masih bisa mengusap bercak minyak pada sudut bibirku dengan jari jempolnya sekaligus menyuapiku.


"Kita melakukannya penuh cinta. Karena hanya dengan cinta bisa membawakan kemenangan untuk kita berdua," ungkapnya tulus.


"Karena kita saling mencintai dengan tulus, jadinya perlombaan apa pun kemungkinan kita bisa menang." Aku menyuapinya ramennya lagi.


"Aku menyayangimu, Penny." Adrian menyuapiku ramennya juga dengan santai tidak seperti peserta lainnya sangat panik mengingat waktu hampir habis.

__ADS_1


Ting...


"Waktu telah habis!" tegas MC.


Ini antara suatu keberuntungan atau memang tidak sengaja kami menghabiskan ramennya tepat waktu. Sedangkan Hans dan Fina tidak sempat menyelesaikannya sampai wajahnya terlihat kusut.


"Pemenangnya adalah pasangan nomor satu!"


Mendengar pengumuman barusan, raut wajah Fina dan Hans semakin cemberut sambil membanting sumpitnya kasar di atas mangkuk.


"Aish ini semua salahmu!" ketus Fina mencebik kesal melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa jadi salahku?"


"Gara-gara kamu tadi memarahiku, sekarang jadi kita kalah akibat membuang banyak waktu!"


"Aku tidak memarahimu kok. Kamu sendiri yang sangat sensitif padaku!"


"Sudahlah aku malas berbicara denganmu! Lihat saja teman kita yang selalu mesra setiap saat bisa memenangkan pertandingan ini," seloroh Fina tatapannya beralih pada yang lain.


Aku dan Adrian sangat girang secara spontan saling berpelukan sambil melompat seperti anak kecil. Adrian memelukku dengan erat sampai aku agak kesulitan bernapas tapi tidak masalah, yang terpenting kami berdua berhasil memenangkannya.


"Sudah kukatakan padamu barusan. Kita pasti akan memenangkannya karena rasa cinta kita sudah sangat kuat!" sorak Adrian dengan pandangan berbinar.


"Aku mengerti sekarang. Tujuan dari perlombaan ini adalah menguji besarnya cinta dan kekompakkan semua pasangan. Hanya kita yang berhasil karena tidak ada namanya keraguan di antara kita berdua."


"Kita akan selalu menjadi pasangan yang paling kompak, Sayang." Tanpa rasa malu Adrian mengecup pipiku sekilas.


Kami berdua langsung mengambil boneka kelincinya lalu menghampiri Victoria tersenyum bahagia padaku dan Adrian.


"Horeyy boneka kelinci!" Victoria kegirangan memeluk bonekanya.


"Papa dan mama pasti berusaha mendapatkannya demi anak kesayangan kami," ucap Adrian mengelus pipinya Victoria lembut.


"Mama papa hebat!"


Fina dan Hans menghampiri kami dengan tatapan iri.


"Permainan belum berakhir! Mari kita bertarung lagi!" hardik Hans nada bicaranya sedikit aneh akibat kepedasan.


"Pertarungan sudah selesai. Aku ingin bermain bersama keluargaku lagi," bantah Adrian menggandeng tanganku dan Victoria.


Saat kami bertiga ingin meninggalkan mereka, Hans menarik kerah kemejanya Adrian dari belakang mencegah kami pergi.


"Jangan pernah berpikir bisa kabur dariku."


Adrian menepis tangannya kasar lalu membalikkan tubuhnya menatap Hans.


"Baiklah kalau mau bertarung, aku tidak takut darimu!"


"Sayang, sebaiknya kita pergi saja," ucapku pelan.


"Sudahlah Penny, lebih baik kamu mengaku kalah saja," elak Fina tersenyum sinis.


Sementara Nathan dan Tania hanya berdiam diri saja tidak ikut campur perdebatanku dengan pasangan yang membuatku kesal setiap saat.


"Aku kasihan pada Adrian dan Penny. Di saat hari libur masih diganggu dengan Hans dan Fina," ucap Nathan menggelengkan kepalanya.


"Untung saja kita tidak disuruh berbuat aneh."


"Kalian berdua jadi saksinya!" celetuk Hans.


"Aish baru saja dibilang." Tania memutar bola matanya bermalasan menepuk dahinya.


Firasatku jadi tidak enak dengan ini. Apalagi mengamati Fina dan Hans penuh percaya diri mengajak melakukan tantangannya lagi. Pasti mereka sengaja mencari sesuatu yang sulit supaya Adrian kalah dari mereka.


Ternyata dugaanku benar. Mereka berdua mengajak bermain mesin capit di sebuah Arcade. Aku dan Adrian sama sekali tidak mahir dalam permainan ini sejak dulu. Sebenarnya kami berdua pernah beradu tantangan ini bersama Hans dan Fina namun di antara semua percobaan, kami tidak pernah memenangkannya.


Tatapan mata Hans dan Adrian seperti saling menerkam. Pertama kali yang mencobanya adalah Hans. Ia mulai menggeser capitannya pada sebuah boneka beruang lalu mencapitnya tepat sasaran hingga akhirnya berhasil memenangkannya.


"Yeayy!" pekik Keira girang.


"Ini khusus untuk anakku yang imut," ucap Hans mengelus kepalanya Keira lembut.


"Itu aku juga bisa!" seloroh Adrian.


Adrian mulai menggeser capitannya menuju sebuah boneka panda lalu dengan sigap mencapitnya tepat pada sasarannya.


"Papa bisa!" Victoria menyorakkinya.


"Tenang papa pasti bisa," sahut Adrian berfokus pada capitannya.


Ketika boneka pandanya hampir memasuki lubang keluarnya, tiba-tiba bonekanya terlepas dalam capitannya. Adrian menghela napasnya lesuh menunduk malu. Sementara Hans dan Fina menyunggingkan senyuman liciknya menertawainya.


"Makanya lain kali tidak usah berlagak jagoan," sindir Hans.


"Memang ternyata dari dulu kamu tetap saja tidak bisa memainkannya," tambah Fina ikut menyindirnya juga.


Kedua alisnya Adrian menurun sambil menghela napasnya kasar. Melihat wajah sang ayah terlihat lesuh, Victoria menghampirinya lalu menggenggam tangannya tersenyum manis untuk menghibur hatinya.


"Papa, jangan sedih. Aku punya boneka kelinci sekarang," ucapnya sambil menggerakkan bonekanya.


"Maafkan papa tidak bisa menepati janjimu," sesalnya.


Aku secara spontan mendekapnya hangat dari belakang menunjukkan rasa kepedulianku padanya.


"Sayang, tidak peduli kalah atau menang yang terpenting kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan Victoria tidak peduli dengan hal itu karena tadi kita sudah memenangkan perlombaannya. Walaupun kita tidak bisa memainkan permainan aneh ini, bukan berarti kita adalah orang yang payah. Di mataku dan Victoria, kamu tetap pria yang hebat bisa melakukan apa pun. Kamu adalah suami dan ayah terbaik di dunia ini."


Kepalanya terangkat percaya diri lalu memelukku dan Victoria dengan lengan kekarnya.


"Untung saja aku memiliki keluarga yang sangat pengertian padaku. Keluarga kecilku yang sangat kucintai sejak dulu pasti akan selalu mendukungku dari belakang. Aku tidak membutuhkan kemenangan dalam perlombaan aneh ini, aku hanya membutuhkan kehangatan dan kebahagiaan dari keluargaku."


"Aku menyayangimu, Adrian," ungkapku mengecup pipinya sekilas.


"Istriku sangat pengertian padaku sejak dulu, aku semakin menyayangimu, Penny."


"Papa, aku mau makan es krim!" rengek Victoria menggoyangkan lengan Adrian.


"Oke, papa akan membelikan es krim yang enak untukmu."


"Lalu kita pergi dari hadapan mereka sekarang," ajakku sambil menatap Hans dan Fina dengan tajam.


"Iya berarti sekarang skor kita seri. Tidak ada yang menang dan kalah. Kalian pergi bersenang-senang saja," ucap Hans dengan nada paksa.


"Sebaiknya kalian bermain bersama sepuasnya," tambah Fina seperti mengusir kami.


"Ish perasaan tadi kalian memaksa kami untuk bertarung dengan kalian, sedangkan sekarang kalian mengusir kami!" sergahku menghembuskan napasku kasar.


Sementara Adrian menggendong tangan kiri mungil Victoria dan merangkul bahuku mesra di hadapan mereka semua.


"Sayang, daripada kita terbawa emosi oleh mereka sekarang, kita makan es krim saja."


"Benar juga, Sayang. Lagi pula mereka sudah banyak menyita waktu berharga kita." Aku menajamkan tatapanku terhadap Hans dan Fina lalu meninggalkan mereka, melanjutkan melakukan kegiatan menyenangkan bersama keluarga kecilku.


"Kalau begitu aku, Tania, dan Erhan pergi dulu, ya," pamit Nathan terburu-buru menggenggam tangan istri dan anaknya meninggalkan Hans dan Fina.


"Hufft! Dari tadi membuang waktuku saja! Lebih baik aku berjalan bersama istri dan anakku yang terbaik di antara kalian!" sungut Hans bibirnya mengerucut.


"Lagi pula siapa suruh mengajak bertanding duluan tadi!" sergah Fina memukuli lengan Hans.


"Beruangnya lucu!" Di tengah pembicaraan menegangkan dari tadi, hanya Keira yang bisa membuat suasana kembali terada nyaman.


Hans tersenyum tipis sorot matanya terfokus pada Keira.


"Lebih lucu beruang atau Victoria?"


"Beruang," jawab Keira langsung.


"Lebih cerdas beruang atau tante Penny?" tanya Fina lembut pada Keira.


"Beruang," Keira menjawabnya tanpa berpikir lama.


"Memang anak kita saja juga sebal dengan Penny, Adrian, dan Victoria," tawa Hans terbahak-bahak merasa dirinya jagoan.

__ADS_1


"Cih! Sudahlah jangan menjelekkan mereka bertiga lagi! Mulutmu memang tidak bisa dikendalikan!" ketus Fina mencubit bibirnya Hans.


Sementara Keira tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya hanya bisa tertawa puas.


__ADS_2