Good Partner

Good Partner
S2 : Part 46 - Nothing Can Keep Us Apart


__ADS_3

Kini hanya aku dan Adrian berada di kamar duduk bersebelahan di sudut ranjang berukuran king size. Apalagi sekarang aku menatapnya dengan gugup karena kancing kemejanya dilepas satu sejak melakukan penyamaran tadi. Bisa dibayangkan saja Adrian yang biasanya mengancing semua kemejanya kini salah satu kancingnya sengaja dilepas membuatku semakin terngiang-ngiang saat ini. Diriku sudah tidak kuat mengamati ketampanannya lalu aku secara spontan beranjak dari ranjang ingin membereskan semua peralatan yang berserakan di meja. Namun Adrian menahan tanganku lalu mengangkat tubuhku tinggi dengan ukiran senyuman bahagianya sambil mengitari sekeliling kamar.


"Kita berhasil, Sayang! Aku tidak menyangka kita sungguh berhasil melakukan misinya!" serunya girang.


"Itu berkat kamu, Sayang. Karena kamu mendampingiku selama melakukan penyamarannya dan juga membantuku banyak," balasku mengukir senyuman khasku.


"Tidak. Ini semua berkat kecerdasanmu yang berhasil membawa kemenangan kita. Aku sungguh sangat bangga memiliki seorang istri yang sangat cerdas. Biasanya menurutku, tidak semua wanita memiliki kecerdasan sepertimu," ungkapnya tulus.


"Kamu tidak usah melebihkanku deh. Padahal aku hanya sembarangan merancang strateginya saja. Ini saja aku beranggapan sebagai strategi darurat yang kurancang. Selama ini ketika aku atau beberapa anggota timku melakukan penyamaran, aku selalu merancang misinya sesuai ide sembaranganku," ujarku merendah menunduk malu.


"Sejak pertemuan pertama kita sampai sekarang, ini baru pertama kalinya aku sangat terkagum pada aksimu. Memang kamu tidak usah diragukan lagi sejak dulu, aku tidak salah memilihmu sebagai wanita milikku selamanya. Aku semakin jatuh cinta padamu, Penny," lontarnya melebarkan senyumannya sambil membelai rambutku.


"Adrian, aku--"


Aku belum saja selesai berbicara langsung mulutku dibungkam olehnya dengan ciuman manis secara sekilas.


"Ini hadiah dariku spesial untukmu. Mungkin hanya aku yang memberikan hadiah kepadamu atas keberhasilan rancangan misimu ini."


"Adrian ...."


"Karena kita sudah terlanjur di sini, bagaimana kalau kita bermalam di sini untuk hari ini saja?"


Ajakannya barusan membuatku sedikit gagal paham. Pikiranku sudah aneh-aneh saja di saat situasi begini hingga pipiku memanas sekarang. Apalagi tidak seperti biasanya Adrian mengajak menginap di hotel kecuali saat bulan madu atau hari pernikahan kami. Kepalaku menunduk malu dan memalingkan mata darinya bingung ingin menjawabnya seperti apa. Aku hanya bisa melamun sambil terus melingkarkan kedua tanganku pada lehernya dengan manja.


"Sayang?" panggilnya bingung.


"Oh maaf, Sayang." Aku baru tersadar dari lamunanku secara spontan fokus menatapnya lagi.


"Jangan bilang kamu dari tadi ...."


"Aku tidak memikirkan apa pun!" bantahku menggelengkan kepalaku cepat.


"Lalu kenapa kamu dari tadi melamun?" tanyanya.


"Itu karena ...."


"Karena apa? Katakan padaku sekarang, Sayang." Adrian menyunggingkan senyuman nakal menempelkan hidungnya pada hidungku.


"Sudahlah lupakan saja! Anggap angin berlalu!"


"Memang kamu harus diberi hukuman supaya kapok!"


Adrian membaringkan tubuhku di atas ranjang empuknya lalu ia mulai meregangkan otot-otot tangannya. Sementara aku semakin gugup ketika melihat tingkahnya tiba-tiba seperti ini dan sedikit menggeserkan tubuhku menghindarinya. Namun ia menyadarinya pergerakanku lalu menghalangiku dengan menahan pundakku.


"Kamu mau ke mana, Sayang? Aku belum saja memberikan hukumannya padamu!"


"Aku tidak kabur! Untuk apa aku kabur darimu!"


"Rasakan ini!"


Adrian mulai memainkan jari jemarinya menggelitik tubuhku tanpa henti-hentinya sampai aku tertawa keras.


"Aduh, Sayang! Kenapa kamu menggelitikku?" Napasku mulai terengah-rengah akibat ia tidak memberikan jeda untukku bernapas dulu.


"Karena kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi jadinya kamu harus menerima hukuman dariku."


"Haha cukup hentikan, Sayang! Aku sudah tidak kuat nih."


Adrian menghentikan aksinya sejenak memberikanku jeda untuk bernapas. Aku menarik napasku panjang lalu membuangnya perlahan sampai wajahku kini berkeringat.


"Sudah selesai? Mau aku lanjutkan lagi?" tanyanya tersenyum nakal sambil memainkan jari jemarinya terus.


"Tidak mau!" tolakku langsung.


"Jadinya kamu mau bermalam di sini tidak?"


"Kenapa sih kamu tiba-tiba mengajakku untuk bermalam di sini? Padahal kita sendiri kan tinggal di apartemen elit," tanyaku mengernyitkan alisku.


"Mana mungkin kita tidak bermalam di sini kalau tidak menikmati fasilitasnya dengan baik. Lagi pula aku sudah memesan kamar hotel ini masa tidak kita nikmati sama sekali sih."


"Oh, jadi begitu alasannya." Napasku kembali lega lalu kembali mengulum senyumanku.


"Memangnya tadi kamu sempat berpikir seperti apa? Kamu jangan membayangkan yang aneh-aneh deh!"


"Aku selalu berpikir jernih. Kamu saja yang selalu salah berprasangka padaku!"


"Kan siapa tahu kamu mudah terpengaruh oleh ucapan Hans tadi."


"Ish untuk apa aku mendengarkan perkataan orang yang selalu mengajak ribut padaku! Sudah pasti aku lebih memercayaimu daripada dirinya!"


"Kamu menggemaskan seperti anak kecil." Adrian mengelus pipiku lembut.


"Ish kamu selalu saja menganggapku seperti anak kecil! Padahal otakku ini jauh lebih cerdas dari anak kecil!"


"Iya deh kamu memang jenius sejak dulu. Mungkin dilihat dari kecerdasanmu, kamu juga bisa bekerja sebagai agen FBI."


"Kalau itu sih belum tentu aku bisa. Apalagi kemampuanku masih belum sampai sana," tuturku menunduk malu.


"Aku yakin kamu pasti bisa, Sayang."


Aku menghembuskan napasku kasar membangkitkan tubuhku duduk di atas ranjang.


"Sudahlah kamu membuatku malu saja!"


"Sayang, kamu tidak usah malu. Kalau seandainya kamu mampu melakukannya, aku pasti mendukungmu sepenuhnya. Tetap saja aku selalu menjadi pendukungmu paling depan." Adrian menatapku penuh keyakinan menyentuh pundakku dengan kedua tangannya.


"Ish lama kelamaan kamu berlebihan seperti Hans!"


Adrian melepas sentuhan tangannya lemas lalu menggeserkan tubuhnya menjauh dariku membuang mukanya. Sementara aku sedikit merasa bersalah padanya menggeserkan tubuhku perlahan mendekatinya lalu memeluknya erat.


"Sayang!" panggilku manja.


Adrian masih saja tidak ingin menatap wajahku sibuk mengamati sekeliling kamar berlagak pura-pura tidak mengakui kehadiranku di sampingnya. Aku semakin mempererat pelukanku dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.


"Sayang!" panggilku lagi manja.


Senyuman nakal terukir pada wajahnya kemudian ia secara perlahan menolehkan kepalanya menatapku dengan pandangan berbinar.


"Kamu sudah seperti Victoria yang selalu memanggilku manja," ucapnya mencubit pipiku pelan.


"Habisnya tadi aku memanggilmu, kamu tidak meresponsku sama sekali. Jadinya terpaksa deh aku manja padamu," balasku memanyunkan bibirku.


"Oh, jadinya kamu terpaksa manja padaku. Baiklah kalau begitu mulai sekarang aku juga bersikap cuek padamu," ancamnya.


"Tega sekali kamu padaku! Ya sudah, sekalian saja mulai nanti malam kita juga tidurnya pisah kamar saja! Aku tidak mau tidur denganmu lagi!" bentakku mendengkus kesal beranjak dari ranjangnya lalu mengambil semua tasku.


"Sayang, aku bukan--"


"Tidak usah cari alasan lagi! Aku lebih baik naik taksi pulang sendiri saja!"


Aku menggantungkan tas sling bagku pada lengan dan juga mengambil tas lainnya melangkah menuju pintu keluar. Adrian secara spontan bergegas menyusulku lalu mendekapku dengan hangat dari belakang hingga semua tas berjatuhan ke lantai.


"Lepaskan aku!" Aku memberontaknya berusaha melepas dekapannya.


"Tadi aku cuma bercanda, Sayang. Mana mungkin aku menelantarkanmu begitu saja."


"Tapi kedengarannya seperti kamu sungguh ingin menelantarkanku! Selama ini kamu bersikap baik padaku ada tujuannya saja!"


Satu kecupan sekilas mendarat pada lekukan leherku membuat tubuhku sekarang mematung. Aku menoleh ke belakang menatapnya dengan senyuman khasku.


"Aku tidak jadi meninggalkanmu deh. Lagi pula juga aku tidak mungkin bisa hidup sendirian di apartemenmu yang cukup luas. Lebih baik aku ikut bermalam denganmu di sini saja. Besok baru kita pulang bersama."


"Maaf aku tidak bermaksud ingin menelantarkanmu tadi," sesalnya memanyunkan bibirnya.


"Tidak apa-apa. Aku percaya seorang pria yang terpenting dalam hidupku tidak mungkin menelantarkanku sendirian."

__ADS_1


"Sayang ...."


"Bahkan rasanya kamu pasti ingin melekat padaku setiap jam, menit maupun detik kan kalau tidak sibuk dengan pekerjaan."


"Sayang, besok kita harus menangkap kepala jaksa Henry secepatnya supaya hidup kita bisa kembali tenang lagi bersama anak kita. Aku rindu kebersamaan keluarga kecil kita yang selalu harmonis setiap saat."


"Aku pun juga rindu sekali dengan anak kemenangan kita. Malahan aku ingin kita menghabiskan waktu bersamanya pergi ke beberapa tempat selama hari libur."


"Kamu dan Victoria ingin pergi ke mana pun aku pasti dengan senang hati menemani kalian ke tempat kesukaan kalian."


"Yang pasti ada deh. Yang terpenting sekarang fokus pada kasus dulu sampai tuntas."


"Sebelum itu, mari kita makan malam romantis di hotel ini. Sudah lama kita tidak melakukan hal itu di luar kediaman kita."


"Baiklah aku ingin dinner romantis juga bersamamu."


Sementara di sisi kamar lain, kepala jaksa Henry sedang duduk bersantai di sofa panjang sambil mengangkat kakinya. Ia sambil mengemil camilan beserta minuman whiskynya yang diberikan oleh Hans dan Fina. Satu gigitan terakhir ia memasukkannya ke dalam mulut lalu bergegas menghampiri brankas rahasianya lagi. Ketika ia membuka brankasnya, kini sudah kosong seperti ruang hampa saja. Dengan penuh panik, kepala jaksa Henry terus mencari barang-barang rahasianya di setiap sudut kamarnya sampai di bawah ranjangnya.


"Sial! Siapa yang berani merampok semua barangku!" umpatnya geram.


Tepat di hotel seberang, ada Nathan dan Tania sibuk memantaunya dari sana sambil tertawa terbahak-bahak. Sementara Hans dan Fina duduk bersantai di sofa sambil meregangkan otot-ototnya yang sempat tegang tadi.


"Ada apa sih kalian ketawa iseng begitu?" tanya Hans penasaran.


"Coba kamu lihat sendiri deh! Dia sekarang lagi marah-marah di dalam kamar!" seru Nathan.


"Tidak mau, ah! Aku mau melemaskan sarafku saja yang hampir copot tadi," tolak Hans langsung.


"Ish lebih cenderung aku tadi yang hampir copot! Bahkan aku sampai tidak berani menatap matanya seperti ingin memakanku," sergah Nathan gemetaran.


"Kamu masih mending, Nathan. Coba kamu tukar peran denganku memasuki kamarnya menaruh makanan dan ambil kartu aksesnya secara nekat tanpa rasa berdosa sama sekali. Kamu pasti akan sangat tegang juga sepertiku!"


"Daripada aku memanggilnya ke tempat parkir lalu aku hampir dimarahi habis-habisan olehnya. Bahkan tadi saja saat di ruang pengendalian jantungku hampir copot rasanya!"


"Sudahlah cukup kalian tidak usah bertengkar lagi!" bentak Tania melerai perdebatan mereka berdua.


"Diam kamu, Tania! Kamu tidak usah sombong di hadapanku karena peranmu paling santai di antara kami semua!" hardik Hans memelototinya.


"Hehe aku tidak bermaksud sombong. Aku berbicara semauku saja."


"Omong-omong, kalau begini nanti kita tertangkap basah dong." Hans kembali gugup dan menggigit bibirnya.


"Tidak dong. Karena aku sudah menghapus jejaknya." Nathan tersenyum cerdas memperlihatkan USB kepada mereka semua.


Mata Hans terbelalak dengan sigap merebut USB itu dari genggaman tangannya.


"Luar biasa! Jadinya kamu juga meminta rekaman CCTV bukti kepala jaksa Henry sering mengunjungi hotel itu?"


"Pokoknya semuanya sudah aku bereskan sampai tidak kehilangan jejak. Semua kamera yang bisa merekam keberadaan kita semua sudah aku musnahkan semuanya jadinya kalian santai saja sekarang," tutur Nathan mengangkat kepalanya berlagak percaya diri.


Hans berdecak kagum tidak mengucapkan sepatah kata pun langsung memeluk Nathan sambil menepuk-nepuk punggungnya keras.


"Ternyata walaupun kamu suka mengajak ribut padaku tapi kamu juga cerdas sebenarnya!" puji Hans.


"Iya ini berkat Penny jadinya aku bisa berpikir cerdas begini," tawa Nathan terkekeh menggarukkan kepalanya.


Raut wajah Hans kembali berubah cemberut langsung melepas pelukannya.


"Kalau begitu Penny yang hebat! Bukan dirimu hebat. Pantesan saja biasanya kamu berpikir bodoh tapi tiba-tiba kamu bisa berpikir jernih seperti Penny!" ketus Hans bibirnya mengerucut.


"Ish kalian berisik sekali deh! Jangan ganggu aku!" hardik Fina mendengkus kesal sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang memainkan ponselnya.


Sementara di sisi lain, kepala jaksa Henry kini sedang menuju ruang pengendalian untuk melihat rekaman CCTV selama ia tidak berada di dalam kamarnya. Ia memerintahkan petugas keamanan di sana untuk memutar rekaman CCTV sepanjang koridor, kamar, dan juga liftnya. Namun tidak ada satupun jejak CCTV yang terekam selama aksi berlangsung.


"Kenapa kamera CCTV tidak berfungsi? Bukankah biasanya berfungsi dengan baik?" tanya kepala jaksa Henry penuh emosi sambil mengibaskan kerah kemejanya.


"Entah kenapa kameranya rusak saja tiba-tiba," jawab petugas keamanan datar.


"Sial! Bagaimana kalian bisa membiarkan kameranya rusak begitu saja? Pasti ada seseorang yang sengaja menghancurkannya!"


"Tidak bisa tenang! Pelayanan hotel ini sangat mengecewakan!"


"Tapi Anda--"


Kepala jaksa Henry menghembuskan napas kasarnya melangkah keluar dari ruang pengendaliannya kembali menuju kamarnya lagi. Saat ini ia sudah seperti orang yang tidak waras di dalam kamarnya merutukki dirinya sendiri.


Tak terasa hari sudah malam. Adrian mengajakku dinner romantis di restoran hotel. Kami berdua memilih tempat duduk di samping jendela sambil menunggu pesanan makanan kami. Pandangan matanya berbinar padaku sambil menyentuh tanganku.


"Sayang ...." panggilnya manis.


"Iya, Sayang?"


"Aku hanya ingin memanggil istriku yang manis."


"Kamu membuat jantungku semakin berdebar saja deh." Pipiku mulai merah merona sekarang.


"Ditambah sekarang kita sedang dinner romantis. Mengamatimu tepat di hadapanku, rasanya aku ingin memelukmu erat sekarang."


"Kalau begitu peluk aku saja sekarang," balasku manja.


Adrian beranjak dari kursinya berjongkok tepat di sebelahku sambil membuka layar ponselnya.


"Kamu sedang apa, Sayang?" tanyaku penasaran.


"Aku ingin berfoto bersamamu," jawabnya mengarahkan kamera ponselnya menghadap kami.


"Tunggu dulu! Aku rapikan rambutku dulu!"


"Baiklah aku akan menunggumu sampai siap."


Aku bergegas merapikan rambut panjangku yang sedikit kusut karena melakukan misinya tadi.


"Sudah siap sekarang," ucapku bersemangat.


Secara spontan Adrian merangkul bahuku mesra dan mengukir senyuman bahagianya di hadapan kamera ponselnya begitu juga aku.


"Baiklah aku akan mengatur kameranya sekarang sayang. Bersiap-siaplah hitungan satu ... dua ... tiga!!"


Cekrek


"Bagaimana hasilnya?" tanyaku penasaran.


"Kamu terlihat semakin manis, Sayang."


Wajahku semakin merah merona tersipu malu mengukir senyuman terngiang-ngiang sekarang.


"Kalau begitu aku mau foto lagi!" seruku.


"Baiklah kita akan mengambilnya lagi, ya."


"Tapi kali ini dengan gaya berbeda."


"Tidak mau. Aku maunya seperti tadi!" tolaknya.


"Padahal biasanya kamu kalau sedang foto bersamaku pasti banyak gayanya. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Kamu juga sudah memperbagus fotonya."


"Suka-suka aku maunya seperti apa. Sekarang kamu bersiap-siap saja menghadap kameranya lagi."


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.


"Hitungan satu ... dua ... tiga!" Adrian mengecup pipiku sekilas saat menekan tombol kameranya hingga membuatku tersenyum mengambang sekarang.


"Sayang, kamu membuatku kaget saja!"


"Kamu kaget tapi reaksimu itu sangat nyaman padaku. Lihat saja dirimu dalam foto." Adrian memperlihatkan hasil fotonya padaku.

__ADS_1


"Aku kaget merasa nyaman tiba-tiba."


Di saat yang bersamaan pelayan restoran menghidangkan makanan pesanan kami satu per satu. Adrian bergegas kembali menduduki kursinya menata piring lauknya dengan rapi.


Usai makan malam romantis, Adrian menggandeng tanganku mesra berjalan santai di taman hotel yang hiasannya terlihat indah dengan kilauan lampu berkelap kelip.


"Sudah lama sekali aku tidak berjalan santai bersamamu," lontarnya.


"Iya karena kamu dirawat di rumah sakit jadinya kita tidak bisa berkencan."


Adrian menghentikan langkah kakinya tiba-tiba mendesah lesuh.


"Kamu kenapa, Adrian?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa jenuh ketika terbaring di ranjang pasien sepanjang hari. Aku tidak bisa menemanimu menghirup udara segar. Bahkan aku tidak menemanimu melihat bintang sepanjang malam."


Aku menggeleng pelan menggenggam kedua tangannya dengan tatapan percaya diri.


"Melihatmu sepanjang hari saja sudah cukup puas bagiku."


"Penny sayang ...."


Aku mengamati cincin pernikahan yang terpasang berkilauan pada jari manisnya lalu mengelusnya lembut.


"Padahal kita sudah dihadapi bahaya beberapa saat yang lalu tapi cincin pernikahan kita masih saja melekat pada jari manis kita. Biasanya kalau orang sedang berkelahi dahsyat pasti cincinnya terlepas," tuturku dengan pandangan berbinar.


"Karena memang ini membuktikan bahwa kita tidak akan pernah bisa terpisah walaupun berbagai bahaya mengancam kita. Bahkan cincin saja tidak ingin terlepas dari kita. Bukan karena ukurannya pas jadinya sulit terlepas. Tapi memang cinta kita sudah sangat besar sehingga kita akan terus melekat sama seperti perlakuanku padamu saat ini." Adrian memelukku erat sambil mengusap kepalaku.


"Adrian sayang ...."


"Tidak ada yang mampu memisahkan kita. Walaupun ada seseorang yang menghalangi hubungan kita atau sesuatu yang menjadi penghalang besar, aku pasti menebasnya dan akan selalu setia melekat padamu."


"Begitu juga aku tidak peduli dengan apa pun. Aku hanya terfokus padamu. Aku tahu kamu pasti akan selalu datang padaku setiap saat."


Adrian melepas pelukannya sejenak membelai rambutku penuh perasaan.


"Rencana cadangan yang kurancang ingin kulakukan padamu sekarang. Tidak, maksudku aku ingin melakukannya bukan karena rencana cadangan. Tapi dengan ketulusan hatiku sepenuhnya padamu. Karena aku sangat mencintaimu, Penny."


"Aku sudah pasti menerima perlakuan manismu dengan hatimu yang tulus. Aku mencintaimu, Adrian," balasku tersenyum bahagia.


Adrian menyentuh pelipisku dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya menuju wajahku mendaratkan ciuman manisnya pada bibirku. Sementara kedua tanganku melingkar pada punggungnya dengan mataku terpejam menghayati dan menikmati ciuman penuh kasih sayang darinya selama beberapa detik.


Tautan bibir kami terlepas perlahan lalu ia mengakhiri perlakuan manisnya mencium keningku mendalam sambil memelukku hangat.


"Sayang, udaranya semakin dingin, kita kembali ke kamar saja, yuk!" ajaknya.


"Tapi aku masih ingin berjalan bersamamu." Secara tidak langsung aku menolaknya dan bibirku sedikit cemberut.


"Aku tidak membawa jas kerja untuk menyelimuti tubuhmu apalagi dressmu ini sedikit terbuka."


"Baiklah aku tidak akan melawanmu. Bagaimana kalau kita berjalan perlahan menuju kamar?"


"Hmm aku ingin menggendongmu sebenarnya," lontarnya santai mulai menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Ish nanti dilihat banyak orang!"


"Aku hanya bercanda."


Berjalan santai bersamanya di taman terasa sangat nyaman. Sekarang sudah waktunya kami kembali ke kamar hotel. Tidak perlu berlama membersihkan diriku, aku melangkah keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk kimono menghampirinya sedang duduk bersantai di atas ranjang.


"Sayang, biar aku yang memandikan kepalamu," tawarku.


"Tidak perlu, Sayang. Aku bisa keramas sendiri."


"Kepalamu baru saja sembuh. Nanti kalau sampai terjadi sesuatu gimana? Pokoknya kamu harus menurutiku saja."


Adrian menganggukkan kepalanya menyunggingkan senyuman nakalnya padaku.


"Baiklah aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini."


Di kamar mandi, Adrian melepaskan kemejanya saja lalu menyandarkan kepalanya pada bath tub. Sementara aku duduk tepat di sebelahnya mulai membilas kepalanya menggunakan shower dan memakaikan shampoo pada rambutnya.


"Bagaimana rasanya? Kamu tidak menyesal menolak tawaranku, 'kan?"


"Untung aku tidak sok jual mahal. Aku ingin kamu melakukannya lebih lama lagi." Adrian mengedipkan mata kirinya.


"Ish dasar modus! Nanti kamu bisa terserang flu!"


"Hufft! Padahal aku sudah menikmatinya!"


"Lebih baik kamu diam saja. Aku jadi sulit mengoles shampoo nih."


Adrian menyentuh tanganku dipenuhi busa shampoo lalu mencolek wajahku hingga wajahku jadi penuh busa.


"Adriiaan!"


"Haha kalau sambil bermain bersamamu rasanya semakin menyenangkan."


"Dasar mulai lagi deh nakal! Aku juga ingin membalasmu!"


Aku mencolek wajahnya juga dan mencipratkan air sambil tertawa puas hingga wajahnya penuh busa sekarang.


"Penny!"


"Maka dari itu, jangan merusak wajahku haha!" ejekku menjulurkan lidah.


"Tapi rasanya sangat menyenangkan! Aku ingin melakukannya lagi."


Ia tidak menyerah begitu saja kemudian melanjutkan bermain busanya bersamaku dengan gelak tawa bahagianya. Begitulah kami berdua jadi bermain perang busa tanpa hentinya hingga aku selesai membersihkan rambutnya.


Aku mulai lelah bermain bersamanya dan juga kalau melihat wajahku sendiri dengan cermin, rasanya aku ingin menertawaiku. Inilah hasil karya keusilan suamiku membuat wajahku terlihat konyol sekarang. Aku membilas wajahku dulu di wastafel lalu secepatnya melangkah keluar dari sana sebelum ia lanjut membersihkan dirinya.


Sambil menunggunya selesai membersihkan diri, aku duduk di sudut ranjang memainkan ponselku mengamati hasil foto tadi saat makan malam. Apalagi foto kedua tadi, kedua mataku sampai kecanduan menatapnya terus membuatku terngiang-ngiang.


Tak lama kemudian, Adrian melangkah keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk kimono sambil mengeringkan rambutnya juga menghampiriku duduk bersebelahan denganku.


"Kamu sedang lihat apa, Sayang?" tanyanya penasaran.


"Aku masih kecanduan mengamati foto tadi."


Adrian merebut ponselku lalu menaruhnya di atas meja.


"Aku juga kecanduan ingin bersamamu terus," tuturnya tersenyum manis.


Aku mengambil handuk yang dikalungkan pada lehernya untuk mengeringkan rambutnya juga yang sangat basah sekarang.


"Biarkan aku saja yang mengeringkan rambutmu."


"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri," tolaknya malu.


"Sudahlah kamu sebaiknya jangan banyak bergerak. Aku jadi kesulitan mengeringkannya sekarang. Lagi pula kamu tidak usah sok jual mahal lagi."


"Iya juga sih. Kalau begitu kamu berlama-lama saja mengeringkan rambutku," lontarnya santai menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Mau sampai besok sekalian?"


"Haha boleh juga tuh."


"Lalu aku tidak perlu tidur."


Aku belum selesai mengeringkan rambutnya langsung ia membaringkan tubuhku di atas ranjang.


"Ish aku belum selesai!" celetukku ingin beranjak dari ranjangnya namun ia menahan tubuhku dengan memelukku erat.


"Bodoh amat!"

__ADS_1


__ADS_2