
Setibanya di TKP, aku dan Adrian melewati police line sambil memperlihatkan name tag kami pada petugas kepolisian. Kami berdua memasuki rumah Emma sangat berantakan dibandingkan dengan tadi siang saat aku mengunjunginya.
Kami berpencar mencari hal mencurigakan sambil memakai sarung tangan karet. Aku berjongkok perlahan menatap mayat Emma yang warna bibirnya mulai berubah menjadi keabu-abuan. Tidak ada jejak yang tertinggal di sini lalu saat aku memeriksa keseluruhan tubuh Emma, dan metode pembunuhannya sama seperti yang dialami Maria. Terdapat luka memar pada leher Emma berwarna keabu-abuan. Tidak salah lagi, pelakunya sama seperti pelaku yang membunuh Maria.
Adrian menghampiriku berjongkok di sebelahku. "Kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan?"
Aku menunjuk luka memar di leher Emma. "Luka memar yang dialami Emma sama dengan luka yang ada di leher Maria. Pelakunya sama seperti pelaku yang membunuh Maria."
"Lalu pelaku pembunuhannya itu membunuh mereka berdua dengan cara mencekik lehernya dengan kencang sehingga kedua leher mereka mengalami keretakan tulang rongga leher hingga membuat mereka sulit untuk bernapas dan meninggal secara perlahan," sambung Adrian sambil bertopang dagu.
Tiba-tiba Adrian merasa janggal seketika mengamati tubuh Emma berdurasi lama. "Tunggu sebentar!"
"Ada apa?"
Adrian menatap kedua telinga Emma tanpa dipasang anting. "Apakah mungkin Emma tidak memakai antingnya saat bertemu denganmu tadi siang?"
Aku juga menatap telinga Emma sambil bertopang dagu, memang benar. Ada sesuatu yang menghilang. "Tadi siang dia memakai antingnya kok, anting bundar berwarna emas."
"Tapi saat tubuh Emma ditemukan seperti ini, antingnya sudah tidak terpasang di telinganya."
"Coba kita cari antingnya di kotak perhiasan!"
Dengan sigap aku berlari memasuki kamar Emma dan membuka laci mejanya. Aku mengambil kotak perhiasan itu lalu mencari anting emas milik Emma namun antingnya tidak ada di dalam kotak perhiasan ini.
Aku kembali menghampiri Adrian sambil membawa kotak perhiasannya. "Antingnya tidak ada di dalam kotak perhiasan ini."
"Ini aneh sekali. Kenapa pelakunya mengambil sepasang anting emas milik Emma, ya?" pikir Adrian mulai merenung sambil memiringkan kepalanya.
"Tapi saat mayat Maria ditemukan di sungai, perhiasan miliknya masih melekat di tubuhnya."
"Apa mungkin anting emas milik Emma itu merupakan emas asli?"
Aku menggeleng polos. "Sepertinya bukan. Aku sering melihat anting bermodel seperti itu di toko biasa yang ada di pusat perbelanjaan."
"Lagi pula pelakunya itu sepertinya tidak mengincar harta yang dimiliki para korban, melainkan sesuatu yang sangat berharga bagi korban dan menyimpan benda berharga itu di tangan pelaku."
Sepertinya yang dikatakan Adrian benar sepenuhnya. Aku jadi teringat dengan sesuatu yang janggal tiba-tiba pada saat ditemukan mayat Maria. Jika dicocokan semua teori yang kudapatkan selama ini, aku sangat yakin pelaku menyimpan barang dimiliki korban dengan sengaja.
"Tunggu sebentar, aku tiba-tiba teringat sesuatu!" seruku
"Apa itu?"
"Saat aku sedang menginterogasi Emma tadi siang, dia mengatakan padaku bahwa Maria itu bekerja sebagai fotografer. Seharusnya kamera milik Maria juga ditemukan di suatu tempat. Tapi kenapa saat pencarian di sekitar TKP, kamera milik Maria tidak ditemukan di mana pun."
"Menurutku, pelakunya itu memiliki penyakit gangguan jiwa."
Lagi-lagi Adrian mulai menunjukkan karismanya setiap menyelidiki kasus. Sisi ketampanannya terlihat jelas, namun aku tetap harus fokus dengan kasus kuselidiki. "Pelaku membunuh para korban lalu mengambil barang berharga bagi korban dan menyimpannya di suatu tempat. Tidak ada orang normal yang terobsesi dengan benda milik orang lain walaupun barang itu mahal atau murah."
Aku beranjak sejenak menghampiri semua bingkai foto Emma yang terpajang di lemari pajangan berjatuhan semua hingga kaca bingkainya retak. Aku mengambil salah satu fotonya yaitu foto yang kulihat tadi siang lalu menatapnya sambil merenungkannya. Kira-kira pelaku itu, apa yang diinginkannya sebenarnya dari mereka berdua? Kenapa pelaku itu membunuh kedua orang yang tidak berdosa ini? Aku yakin pasti ada sesuatu dengan mereka yang sangat berkaitan dengan pelaku.
Aku menaruh kembali foto itu ke tempat semula dan berjalan kembali menghampiri Adrian. "Kita harus memeriksa rekaman CCTV dulu di sekitar sini."
__ADS_1
"Ayo kita ke sana sekarang juga!" ajaknya menggandeng tanganku menuntunku perlahan keluar dari rumah Emma.
Sedangkan di sisi lain, sosok pemuda misterius tampak dari belakang sibuk membersihkan sepasang anting milik Emma dan memasukkannya di sebuah kotak pajangan sambil tersenyum seperti psikopat. Setelah itu, ia berjalan keluar dari ruang rahasia, menuangkan sebotol anggur ke gelasnya sambil menikmati pemandangan malam melalui kaca jendelanya.
Aku sedang melihat rekaman CCTV bersama Adrian di ruang pemantauan. Aku menatap rekaman itu hingga tatapan mataku terfokus melihat rekaman CCTV itu sepanjang hari ini. Tiba-tiba saat aku ingin melihat rekamannya pada waktu sore hari, rekaman itu terputus begitu saja.
Adrian menarik napasnya dengan dalam dan membuangnya begitu saja dengan pasrah.
"Pasti kamera CCTV sengaja dirusak pelaku sebelum memulai aksinya!"
Aku mengacak-acak rambutku sebal. "Aish, kalau begini kita akan sulit menangkap pelakunya!"
"Pelakunya pasti bersembunyi di suatu tempat di mana kita tidak akan bisa menemukannya."
Aku mengikat tali sepatuku yang lepas. "Aku harus kembali ke kantorku."
"Baiklah, aku akan antarkan kamu."
Di dalam ruang rapat, mereka semua dalam kondisi lemas dan mengantuk tanpa terkecuali Fina yang masih bersemangat. Aku tahu Fina bersemangat ingin memamerkan kecerdasannya demi mengalahkan aku.
"Kasus ini akan jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan," paparku mulai fokus.
Aku mengatupkan bibir sejenak."Menurutku, kemungkinan besar pelaku itu memiliki penyakit gangguan jiwa. Barang-barang berharga milik korban hilang begitu saja. Lalu pelaku membunuh dua korban itu dengan cara yang sama yaitu mencekik lehernya sampai kehabisan napas."
"Menurutku pelakunya itu teman terdekat dari kedua korban itu," tutur Tania berspekulasi tiba-tiba.
"Tidak, menurutku bukan itu. Tapi kekasihnya Maria," sambung Fina mengelak Tania dengan nada ketus.
"Kenapa? Kamu meragukannya? Sudah jelas pelakunya itu pasti kekasihnya Maria. Lalu Maria dan Emma saling bertengkar karena mereka berdua kebetulan menyukai pria yang sama. Satu-satunya yang berhubungan dekat dengan mereka berdua hanyalah pria itu," terang Fina dengan santai memainkan kursinya berputar.
Aku berdiri meletakkan kedua tanganku di meja. "Sebaiknya besok kita mengunjungi rumah kekasihnya Maria dulu. Kita harus menanyakannya sebelum mengambil kesimpulan dengan cepat."
Fina mengangkat tangan kanannya sukarela.
"Aku akan ikut denganmu besok!"
"Nanti kamu buat masalah lagi seperti tadi!" bentakku memarahinya.
"Tenang saja, aku tidak akan membuat keributan seperti tadi."
"Baiklah, kalau begitu rapatnya sampai di sini dulu saja. Kalian boleh pulang ke rumah dulu."
Dengan semangat aku melangkah keluar dari kantor polisi menghampiri Adrian yang sedang menungguku dari tadi di luar.
Adrian menyambutku mengelus kepalaku dengan tatapan kasih sayang. "Rapatnya sudah selesai?"
Berkat vitamin penyemangat darinya, tensi darahku kembali normal. Memang Adrian yang terbaik dalam hal menenangkan pikiranku. "Sudah, aku ingin pulang bersamamu."
Adrian merangkul bahuku berjalan menuju mobilnya.
Di tempat parkir, kami berdua bertemu dengan Fina yang sedang berjalan menuju mobilnya juga.
__ADS_1
Fina menatap kami berdua dengan kesal menghampiri kami. "Jadinya sekarang kalian berdua bermesraan di tempat seperti ini."
"Fina, sudah hentikan! Jangan menggangguku dan Penny lagi!" ketus Adrian geram sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Aku tidak mengganggu kalian berdua. Aku hanya bermaksud untuk menyapa kalian berdua saja." Fina berjalan semakin mendekati tubuh Adrian, hendak menepuk pundak.
Dengan sigap Adrian menepis tangan Fina kasar langsung merangkul bahuku mesra di hadapannya. "Jangan pernah berharap bisa menyentuhku!"
Fina berdecak kesal. "Kamu terlalu sensitif, Adrian. Padahal aku hanya menepuk pundakmu sekalian juga berpamitan dengan kalian."
"Ya sudah, kalau begitu kamu cepat pergi sekarang juga!" Adrian mengibaskan tangannya mengisyaratkan mengusir Fina.
"Baiklah aku akan pergi sekarang dan tidak akan mengganggu kalian berdua lagi. Aku pamit dulu ya, sampai bertemu besok, Penny!" Akhirnya Fina meninggalkan kami berdua menghentakkan kakinya dengan kesal menuju mobilnya.
Di tengah perjalanan pulang menuju rumahku, Adrian hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga membuatku sangat tidak nyaman duduk di sebelahnya. Spontan aku menyentuh tangannya mengukir senyuman ceria di hadapannya.
Adrian menolehkan kepalanya menghadapku sekilas tersenyum tipis. "Penny ...."
"Kamu masih kesal, Adrian?" tanyaku ragu.
"Tadi aku sangat kesal tapi sekarang hatiku terasa sangat nyaman ketika kamu menyentuh tanganku."
"Syukurlah aku suka melihatmu kembali tersenyum bahagia di hadapanku."
Adrian mencubit pipiku sekilas. "Setiap kali bersamamu, aku selalu bahagia, Penny."
Sebenarnya aku masih menyimpan rahasia lain darinya. Terpaksa aku harus menceritakan langsung padanya, daripada saat ia menemukannya lebih awal, ia pasti akan memarahiku.
Aku menghembuskan napas lesu. "Adrian, sebenarnya aku sangat ketakutan sekarang."
"Kamu kenapa, Penny? Apakah telah terjadi sesuatu buruk padamu?" tanyanya mulai mencemaskan aku.
"Tadi saat sebelum kamu mendatangi rumahku, aku seperti diikuti seseorang dari belakang," jawabku dengan lemas.
"APA?!"
Adrian terkejut mendengar ucapanku tadi, tanpa sengaja ia memberhentikan mobilnya tiba-tiba hingga tubuhku hampir terpental ke depan.
Adrian menatapku dengan panik memeriksa kondisi tanganku hampir terbentur dasbor. "Maafkan aku, Penny."
Aku memanyunkan bibir. "Aduh Adrian, kenapa kamu memberhentikan mobilmu tiba-tiba!"
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari tadi?"
Sudah kuduga pasti ia akan memarahiku seperti ini.
"Habisnya dari tadi kita sibuk fokus dengan pekerjaan. Jadi aku tidak ingin memberitahumu supaya pikiranmu lebih terkonsentrasi."
"Tapi setidaknya kamu harus memberitahuku dari awal!" celetuknya menaikkan nada bicaranya.
Mendengar nada bicaranya membuat telingaku terasa perih, aku semakin merasa bersalah. "Maaf aku tidak bermaksud membohongimu."
__ADS_1
"Kamu harus menginap di kediamanku sampai kasus ini selesai!"