Good Partner

Good Partner
Part 67 - Botol Obat Misterius


__ADS_3

Setibanya di kantor, Adrian sudah menungguku di sana. Aku berlari menghampirinya sambil membawa botol wine untuknya. Ia sangat bingung ketika melihatku tiba-tiba membawa sebotol wine. Padahal aku sendiri kemarin minum wine sampai kepalaku sakit sekali. Pokoknya aku harus siap mental mendengar ocehannya di saat aku menceritakan kejadian tadi memakai namanya. Padahal aku tidak bermaksud memanfaatkannya tapi mau gimana lagi demi aku bisa memasuki rumah itu mengikuti Inspektur William.


"Kamu beli wine? Bukankah kamu tidak bisa minum wine?" tanyanya bingung.


Aku menyunggingkan senyuman usil. "Ada deh. Nanti aku akan ceritakan kepadamu. Yang pasti aku mau meminta maaf dulu."


Dahi Adrian mengernyit. "Kenapa minta maaf? Memangnya kamu berbuat salah padaku?"


"Sudahlah ayo kita pulang dulu! Udaranya sangat dingin di sini nanti aku bisa terserang flu."


"Omong-omong, dari tadi entah kenapa aku bersin terus. Seperti ada seseorang yang membicarakanku dari belakang." Adrian menggesekkan hidungnya masih sedikit gatal.


Raut wajahku berlagak polos, padahal sebenarnya Adrian bersin juga karena ulahku. "Pasti karena kamu menungguku terlalu lama di sini. Kita pulang sekarang saja."


"Kasih tahu dulu apa yang kamu lakukan tadi!" rengeknya seperti anak kecil.


"Pulang dulu baru aku ceritakan!" balasku mulai kesal.


"Setidaknya kasih tahu intinya dulu, Penny!"


Aku menggeleng cepat. "Tidak mau!"


Adrian menatapku menyipitkan mata. "Ada sesuatu yang mencurigakan."


"Ayo kita pulang sekarang!" Aku merangkul tangannya erat menuntunnya berjalan menuju mobilnya.


Setibanya di kediamannya, ia menatapku terus karena masih penasaran denganku. Aku menaruh botol wine di meja ruang tamu dan membaringkan tubuhku di sofa.


Adrian menggeserkan tubuhnya mendekatiku. "Penny, aku sekarang serius nih. Sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi? Kamu habis dari mana saja?"


"Tadi aku mengintai inspekturku mengunjungi rumahnya Josh. Lalu, aku harus memikirkan strategi untuk bisa masuk ke rumahnya."


"Apa strateginya? Jangan bilang kamu merindukannya!" tukasnya meninggikan nada bicaranya.


Aku sengaja tertawa usil sekaligus ingin menjahilinya sengaja supaya kekasihku cemburu gemas. "Iya itu."


Reaksi Adrian mematung sejenak. Tatapannya melotot dan tangannya menyentuh pundakku. "Penny, kamu serius mengatakannya begitu? Sekarang kamu lebih memilihnya daripada aku?"


Aku memutar bola mataku. "Aku tidak mungkin bilang itu kepadanya! Lagi pula aku hanya menyukaimu saja dan tidak akan pernah menyukai pria lain!"


Adrian menyunggingkan senyuman usil membiarkanku duduk di atas pangkuannya sambil mendekapku hangat. "Aku bahagia mendengar pernyataanmu barusan. Bisa dikatakan aku akan menjadi milikmu selamanya."


Aku tersenyum manis mengelus pipinya. "Lagi pula aku tidak menyukai sikap pria lain sangat kasar. Sedangkan aku sangat menyukai pria berhati lembut sepertimu."


Akhirnya Adrian kembali bernapas lega. Namun, dilihat dari wajahnya seperti masih sedikit mencurigaiku. "Aku masih penasaran alasan yang kamu gunakan untuk memasuki rumah Josh."


"Aku sengaja bilang bahwa aku mengunjungi rumahnya karena kamu sangat penasaran dengan merek botol wine yang disajikan saat acara ulang tahunnya. Oleh karena itu, dia biarkan aku masuk begitu saja," lontarku santai.


"Oh, jadi sekarang kamu berani menggunakan pacarmu ini untuk dijadikan alasan ya!" celetuknya mencubit pipiku.


"Lalu dia bilang di hadapannya Inspektur William alasan aku memasuki rumahnya karena kamu ini buatku sengsara saja merengek seperti anak kecil." Aku tertawa puas sampai sakit perut.


"Penny, kenapa kamu merusak harga diriku!" ketusnya sambil memainkan jari jemarinya.


Perasaanku mulai tidak enak mengamati tingkahnya aneh tiba-tiba. Aku menelan salivaku berat sambil perlahan duduk menjauhinya, namun ia tetap menahanku duduk di atas pangkuannya sehingga aku tidak bisa kabur darinya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku gugup.


"Karena kamu tega padaku, maka aku akan membuatmu geli sesekali."

__ADS_1


Adrian menggelitik tubuhku, menertawaiku puas hingga aku tertawa geli sampai napasku terengah-rengah.


"Aduh geli, Adrian! Maafkan aku, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi!" keluhku sambil memukuli tangannya.


"Maka dari itu, jangan pernah jadikan aku sebagai alasan konyolmu," lanjutnya menyentil dahiku.


"Ish sakit, Adrian!"


"Beneran sakit? Sini aku sembuhkan." Adrian mengelus dahiku lembut.


Aku tersenyum malu. "Sekarang sudah lebih baik."


"Bagiku itu masih belum cukup, Penny."


Adrian mendaratkan kecupan manisnya pada dahiku mendalam sehingga senyumanku mengambang sekarang. "Bagaimana rasanya sekarang?"


"Sudah tidak terasa sakit berkatmu."


"Dasar manja!"


Sejenak tatapan Adrian tertuju pada botol wine yang masih belum disentuhnya sejak tadi.


"Kamu minum saja," ucapku.


"Tapi aku tidak ingin minum wine itu."


Aku membelalakan mataku. "Kenapa? Padahal aku sudah susah payah demi kamu!"


"Karena kalau aku minum sendirian itu rasanya tidak enak. Lagi pula kalau kamu tidak suka minum itu, aku juga tidak akan minum," tuturnya tersenyum manis padaku sambil membelai rambutku.


"Tidak apa-apa. Aku tidak masalah kalau kamu minum sendiri."


"Aku selalu melakukan apa pun sesuai dengan kehendakmu. Aku tidak akan melakukan apa pun sendiri tanpa kamu, Penny. Kalau kamu tidak suka, aku juga tidak akan suka. Karena aku lebih mengutamakan kamu daripada diriku sendiri," ungkapnya dengan tatapan tulus padaku.


"Minuman winenya sebaiknya kamu berikan kepada anggota timmu saja daripada dibiarkan seperti ini."


"Baiklah, besok aku akan berikan kepada mereka."


"Sebaiknya kamu mandi dulu, nanti kita lanjut mendiskusikan pekerjaan lagi," sarannya sambil mengelus kepalaku.


Setelah membersihkan diri dan juga makan malam, kami berdua berada di ruang kerja melanjutkan penyelidikan kasus ini lagi. Aku mengeluarkan berkas kasus dari tasku dan juga buku catatanku.


"Tadi saat aku berada di rumahnya Josh, Inspektur William tidak memperlihatkan pergerakan mencurigakan. Lagi pula sepertinya Josh tidak akan bekerja sama dengannya bahkan tadi sempat mengusirnya," ucapku mulai fokus pada penyelidikan.


"Tapi kenapa dia tiba-tiba mengunjungi Josh hari ini? Kenapa tidak dari beberapa hari yang lalu atau besok? Apa mungkin Josh memanggilnya dengan sengaja?" pikir Adrian dengan tatapan curiga.


"Menurut persepsi dari salah satu anggota timku itu, Inspektur William selama beberapa hari ini sangat sibuk bahkan jarang sekali keluar dari ruangannya."


"Menurutku ini masih sangat mencurigakan. Apa mungkin Josh bekerja sama dengan pelaku sebenarnya? Apakah kamu menanyakan mengenai karyawannya itu?"


Aku menepuk jidat. "Astaga aku lupa menanyakannya tadi gara-gara sibuk berdebat dengan Inspektur William!"


"Debat sama Inspektur William atau sibuk berbincang dengan Josh sampai lupa?" selidik Adrian menatapku dengan cemburu.


"Tuh lagi-lagi kamu seperti ini! Sudah pasti aku berdebat dengan Inspektur William terutama mengenai artikel berita itu!" ketusku mengambek lagi.


"Oh, aku mengira kamu sibuk berbincang dengan pria lain," balasnya tersenyum tipis.


Aku menyentuh pipinya mendaratkan kecupan hanga supaya ia tidak bersikap cemburu lagi. Sementara reaksinya tersenyum mengambang sambil terus memegangi pipinya bekas dicium.

__ADS_1


"Apa kamu puas sekarang?"


Adrian menyentuh dadanya. "Sudah pasti puas. Bahkan jantungku berdebar terus dari tadi."


Aku memainkan pulpenku, mengingat ada sesuatu yang janggal sebenarnya di rumah Josh. "Tapi, tadi aku merasa ada sesuatu yang sangat mencurigakan."


"Apa itu?"


"Di ruang tamunya, aku melihat ada sebuah botol obat di meja ruang tamu."


Dahi Adrian berkerut. "Sebuah botol obat?"


"Kelihatannya sih itu bukan botol obat biasa. Sepertinya bukan obat untuk menghilangkan rasa insomnia. Obat itu aku tidak pernah melihat di apotek mana pun."


"Apa mungkin Josh sebenarnya memiliki penyakit lainnya yang bahkan kita tidak ketahui?"


"Tapi kelihatannya dia sangat sehat saat di hadapanku dan juga di saat acara ulang tahunnya. Kira-kira itu obat apa, ya? Seandainya aku tahu nama obat itu, pasti akan aku cari tahu di internet," Aku terus memukuli kepalaku sendiri dengan kesal.


"Apa mungkin itu obat depresi? Biasanya orang yang memiliki stress berat sudah pasti mengonsumsi obat itu."


Aku menggeleng. "Menurutku bukan obat depresi. Dia selalu terlihat stabil."


"Kalau bukan itu, lalu obat apa?" Adrian menghela napasnya pasrah sambil menggarukkan kepala.


Sedangkan di sisi lain, Josh sedang berada di ruang rahasianya dan sedang menyuntik sebuah cairan lagi ke selang infus salah satu gadis yang menghilang. Ia menyuntikkannya sambil menyentuh wajah gadis itu tersenyum seperti psikopat.


drrt...drrt..


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia menaruh suntikan itu di atas meja dan mengambil ponselnya di saku celananya.


"Ada apa Anda menelepon saya lagi?" tanya Josh geram.


"Apakah Anda sungguh merilis artikel berita itu? Anda lupa dengan perjanjian kita dari awal?" Suara Inspektur William terdengar lewat telepon.


"Sudah saya bilang tidak usah mempermasalahkan itu lagi! Lihat akibat perbuatan Anda, anak buah Anda itu sudah mulai mencurigai Anda!"


"Apa Anda sudah lupa dengan posisi Anda saat ini? Sekarang Anda adalah seorang buronan. Kalau Anda berani macam-macam dengan saya, saya akan mengekspos perbuatan jahat Anda di seluruh media!"


"Anda tidak mungkin bisa melakukan perbuatan itu pada saya. Apa Anda lupa juga bahwa saya yang berperan besar dalam mempertahankan posisi Anda saat ini?"


"Sekarang Anda berani mengancam saya!"


"Saya tidak mengancam Anda, hanya memperingatkan Anda saja siapa yang lebih berkuasa saat ini! Lagi pula kalau seandainya saya menarik kembali artikel berita itu, nanti para netizen akan mencurigai saya dan tidak hanya itu saja, karier Anda dan saya akan hancur akibat perbuatan gegabah Anda!"


"Kalau Anda ingin bekerja sama dengan saya terus, sebaiknya Anda membayar saya lebih mahal lagi!"


"Saya akan membayar Anda lebih mahal jika Anda melaksanakan perintah saya dengan benar! Belakangan ini Anda sangat mengecewakan saya karena kinerja Anda sangat payah!"


"Saya akan melaksanakan perintah Anda dengan baik tapi dengan syarat bayarannya harus lebih besar lagi!"


Josh menutup panggilan telepondengan geram dan berjalan keluar dari ruang rahasia itu hingga napasnya terengah-rengah. Ia memasuki ruang tamu dan mengambil sebotol obat di meja dan menuangkan banyak kapsul ke telapak tangannya.


Keesokan harinya, setibanya di kantor, aku meletakkan botol wine itu di mejanya Hans. Lalu ia dengan sigap mengambilnya dan menatapku dengan senyuman manis.


"Bukankah semalam kamu tidak ingin memberikannya kepadaku?" tanyanya berbasa-basi.


"Adrian tidak ingin minum. Katanya demi aku, dia merelakannya dan memintaku memberikannya kepadamu."


"Baguslah. Aku harus berterima kasih padanya karena telah mengalah."

__ADS_1


"Sudahlah, aku mau kembali bekerja."


Aku berjalan menuju meja kerjaku lalu menaruh tasku. Seketika aku menatap layar monitor, ada notifikasi email masuk.


__ADS_2