Good Partner

Good Partner
S2 : Part 6 - Kecurigaan Fina dan Hans


__ADS_3

Fina menyipitkan matanya dengan curiga lalu duduk tepat di hadapan Nielsen. Sedangkan Nielsen yang dari tadi ketakutan secara perlahan menghindari Fina dengan menggeser posisi tempat duduknya. Fina mulai geram lalu ikut menggeser posisi tempat duduknya.


"Kenapa kalian ingin menginterogasiku? Memangnya aku ada salah apa?" tanya Nielsen semakin gugup hingga tangannya gemetar.


"Kamu barusan menghindariku dan memalingkan matamu dariku dan juga menggeser tempat dudukmu. Kenapa kamu menghindariku? Kalau kamu terus menghindar, aku akan anggap kamu ada masalah dengan Angelina dan Gracia," tukas Fina tersenyum licik.


Lagi-lagi Fina kalau sedang bertanya tidak disaring terlebih dahulu. Aku sengaja menyenggol lengan tangannya Fina untuk menegurnya supaya tidak membuat suasana yang mencekam begini.


"Bisakah kamu jangan menakuti orang terus!" bisikku menegurnya tegas.


"Ini kebiasaan burukku. Kebiasaan sulit diubah, Penny," bisik Fina balik.


"Dasar kamu, Fina! Selalu saja ujung-ujungnya nanti kamu membuat masalah!" ketusku memukuli lengannya.


"Sudahlah daripada kamu mengoceh terus mendingan kita lanjutkan mencari informasinya saja."


Tatapan mata Fina beralih kembali pada Nielsen.


"Jadinya kenapa kamu tadi menghindariku? Kalau kamu tidak ada salahnya, kenapa kamu ketakutan ketika melihatku?" tanya Fina lagi mempertegasnya.


"Itu karena wajahmu itu seperti ingin menerkam orang," jawab Nielsen menunduk kepalanya.


Aku tertawa kecil menutup mulutku dengan anggun sambil menatap Fina yang menunduk malu.


"Maaf aku tidak bermaksud menakutimu," ucap Fina datar.


"Omong-omong, kenapa kamu bertanya padaku tentang Angelina dan Gracia?"


"Apakah kamu sudah mendengar mengenai berita penemuan dua mayat kemarin siang?" selidikku balik mulai fokus pada inti pembicaraannya.


"Sudah sih."


"Kedua korban tersebut adalah Angelina dan Gracia," ucap Fina langsung.


Nielsen tersentak kaget hingga membuatnya sesak bernapas sambil memegang dadanya.


"Jadinya kami berdua ingin meminta informasi darimu. Barangkali kamu mengetahui sesuatu lain yang tidak diketahui oleh wali kelasmu," tambah Fina.


"Bagaimana bisa mereka berdua ditemukan tewas setelah berbulan-bulan tidak bertemu?" Nielsen sedikit terbata-bata seperti tidak memercayai perkataan Fina barusan.


"Memang ini sulit dipercaya. Tapi siapa tahu ada seseorang yang memiliki rasa dendam pada mereka lalu membunuhnya dengan kejam," ucapku menyentuh tangannya untuk menenangkannya.


"Tapi selama ini setahuku tidak ada seorang pun yang dendam pada mereka," sangkal Nielsen.


"Apa kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Fina menatap curiga.


"Tidak ada." Nielsen menggelengkan kepalanya.


"Apa mungkin selama ini Angelina dan Gracia bertemu dengan seseorang yang terlihat mencurigakan belakangan ini?" tanyaku.


Nielsen terdiam sejenak dan menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku cuma tahu kalau Angelina tiba-tiba sekolah di luar negeri sekitar enam bulan yang lalu. Lalu saat aku ingin menghubunginya, ponselnya selalu tidak aktif. Maka dari itu, aku mengira mungkin karena nomor teleponnya sudah diganti jadinya kami sudah tidak saling berhubungan dengan dekat lagi."


"Lalu bagaimana dengan Gracia? Angelina menghilang sekitar enam bulan yang lalu sedangkan Gracia menghilang lima bulan yang lalu. Apakah selama satu bulan itu dia mengatakan sesuatu padamu mengenai Angelina?" tanya Fina.


"Kalau itu sih sebenarnya ...."


"Hei, Nielsen!" tegur salah satu siswa menghampirinya.


"Iya kenapa, Harvey?"


"Kamu tidak ikut dengan kami mengantri beli makanan?"


"Oh, untuk sementara ini tidak dulu deh. Aku ada urusan penting nih."


"Ya sudah, kalau begitu aku antri beli makanannya lagi."


Kembali lagi pada Nielsen melanjutkan perbincangannya denganku dan Fina.


"Sebenarnya kenapa?" tanyaku lagi.


"Saat itu sebenarnya ...."


*****


Ketika Nielsen sedang berkunjung ke rumah kontrakan Gracia untuk melakukan kerja kelompok. Baru saja Nielsen ingin memasuki rumahnya Gracia, ia melihat temannya sendiri sedang dimarahi habis-habisan oleh sang pemilik rumah.


"Kalau kamu tidak membayar sewa bulanannya minggu depan, maka kamu tidak boleh tinggal di sini lagi!" bentak sang pemilik rumah lalu meninggalkan Gracia sendirian.


Gracia menghela napasnya lesuh melangkahkan kakinya berat memasuki rumahnya lagi. Nielsen berinisiatif menghampiri Gracia.


"Apa yang terjadi?" tanya Nielsen.


"Seperti biasa aku belum bayar sewa bulanan nih," desah Gracia lesuh.


"Memangnya bukannya Angelina yang biasanya membayar sewa bulanannya?"


"Sebenarnya sih kami berdua patungan membayar uang sewanya. Tapi karena Angelina pergi ke luar negeri tiba-tiba jadinya aku harus menanggung uang sewanya sendiri."


"Kalau begitu coba kamu hubungi Angelina sekarang."


"Aku sudah mencoba menghubunginya terus tapi ponselnya tidak aktif sama sekali."


"Hmm aku juga belakangan ini ingin menghubunginya tetap tidak bisa."

__ADS_1


"Coba deh aku menghubunginya sekali lagi."


Gracia menekan kontaknya Angelina untuk mencoba menghubunginya. Tidak ada respon dari Angelina lagi.


"Dia tidak menjawabnya?" tanya Nielsen.


"Mungkin dia mengubah nomor teleponnya. Kan dia sekarang sekolah di luar negeri jadinya tidak mungkin dia menggunakan nomor telepon lokal."


"Tapi ini aneh sekali, kenapa dia tidak memberitahu kita kalau dia mau pindah sekolah?" Nielsen mengerutkan alisnya bertopang dagunya.


"Benar juga sih. Dia pergi tanpa sepengetahuanku. Padahal semua barangnya juga masih utuh di sini. Hanya saja ponselnya yang tidak tertinggal. Bahkan perlengkapan kosmetik andalannya yang biasanya dia bawa ke mana pun juga masih ada di sini."


"Setahu aku itu Angelina bukan tipe orang yang suka menyembunyikan rahasianya. Apa pun yang dia ketahui pasti dilaporkan kepada kita."


"Mungkin dia merasa bersalah karena telah meninggalkanku diam-diam. Apalagi sekarang dia pasti sudah diadopsi keluarga kaya."


*****


Kembali lagi saat Nielsen sedang bercerita mengenai kunjungannya.


"Lalu saat Gracia sebelum pindah sekolah ke luar negeri, apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" selidikku melanjutkan interogasinya.


"Tidak sih. Dia bersikap seperti biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa pun."


"Lalu apakah kamu pernah mengunjungi rumahnya Gracia sesekali saat dia diberitahu pindah sekolah?" tanya Fina.


"Aku pernah ingin mengunjungi rumahnya tapi pemilik rumah sudah membuang semua barang mereka."


"Aish kalau begini kita akan sulit untuk mencari buktinya!" gerutuku.


Tring...tring...


Bel sekolah kembali bunyi nyaring. Nielsen beranjak dari bangkunya lalu berpamitan kepadaku dan Fina.


"Maaf aku harus kembali ke kelas sekarang."


"Tidak apa-apa. Terima kasih atas informasi yang telah kamu berikan," balasku tersenyum ramah.


"Kalau begitu aku permisi dulu." Nielsen melangkahkan kakinya kembali menuju kelasnya.


Sedangkan aku dan Fina kembali ke kantor polisi. Setibanya di sana, aku dan Fina memasuki ruang kerja menghampiri Hans yang sibuk melacak alamat email pelaku.


"Bagaimana, Hans? Apakah kamu menemukannya?" tanya Fina.


"Sepertinya dia memakai alamat email ini untuk sementara saja. Saat aku ingin melacaknya, alamat emailnya sudah diblokir jadinya aku tidak bisa mengaksesnya lagi."


"Memang pelakunya ini lebih cerdas dari yang kita perkirakan." Aku menghembuskan napasku kasar sambil mengibaskan kerah kemejaku.


"Kalau seandainya pelaku itu bisa menghubungi email wali kelasnya Angelina dan Gracia, pasti ada orang dalam yang diam-diam bekerja sama dengan pelakunya," tutur Fina mengangkat alisnya.


"Aku akan meminta Adrian memantau kamera CCTV di sekitar rumah kontrakan mereka." Aku membuka ponselku lalu memberikan pesan singkat kepada Adrian.


"Tapi apa mungkin pelakunya itu merupakan seorang guru di sekolah itu?" tukas Hans sambil mengigit jarinya.


"Hmm tapi untuk apa seorang guru melakukan hal kejam itu pada muridnya," lanjut Nathan.


"Bisa jadi. Kita tidak tahu apa yang terjadi dibalik semua ini," ujar Tania.


"Tapi apa mungkin tadi saat kalian ke sekolah ada sosok guru yang terlihat mencurigakan bagi kalian?" tanya Hans.


"Tadi sih saat kami ke ruang guru, ada satu guru wajahnya sangat menyeramkan. Mungkin kalau seandainya aku jadi muridnya bisa ketakutan sendiri," jawabku.


"Sebenarnya aku dari tadi sedikit mencurigai guru itu. Biasanya kalau pembunuh itu kan berwajah dingin."


"Iya benar, Fina. Mendengar ceritanya Penny barusan itu aku juga jadi sedikit mencurigainya," lanjut Hans.


Dulu Fina yang asal bicara. Sekarang sejak mereka menikah, suaminya yang bicara tanpa disaring dulu. Menambah bebanku saja mereka berdua!


"Dasar pasangan suami istri kalau ngomong tidak dicerna dulu!" ketusku membanting berkasnya di atas meja kerjaku.


"Memangnya kenapa, Penny? Kan tidak ada salahnya kalau aku berspekulasi dulu," tanya Fina memajukan kepalanya.


"Berspekulasi itu tidak ada salahnya, Penny!" bentak Hans membela istrinya.


"Masalahnya kalian ini kalau berspekulasi selalu saja berpikir yang aneh-aneh! Aku sih tidak berpikir sampai sana, ya. Buktinya kasus selama ini yang kita selesaikan seperti kasusnya Pak Colin dan Josh, wajah mereka berdua terlihat biasa saja."


"Benar tuh kata, Penny. Kita jangan melihat orang dari sisi luarnya dulu!" celetuk Tania menyentuh bahuku.


"Aku setuju dengan Penny. Apalagi kalau kita belum mendapatkan bukti yang akurat, kita tidak bisa sembarangan menuduh dulu," sambung Nathan berdiri tepat di sampingku.


"Ada benarnya juga sih perkataan Nathan barusan itu," kata Hans.


Aku dan semua anggota timku kembali merenungkan mengenai pelaku pembunuhannya. Menurutku, guru berwajah dingin itu sepertinya bukan pelakunya. Apalagi saat aku bertanya padanya tadi sikapnya terlihat biasa saja dan memberitahu wali kelasnya Angelina langsung padaku. Kalau seandainya ia sungguh pelakunya, kenapa tatapannya terlihat biasa saja. Biasanya kalau aku sedang bertanya kepada pelaku ataupun kaki tangannya, pasti ada kegelisahan yang terlukis pada wajahnya.


Hingga pada saat malam harinya, tubuhku sudah mulai lelah sambil meregangkan kedua tanganku ke atas. Karena ini sudah waktunya pulang kerja, lebih baik aku beristirahat saja di kediamanku daripada terus berpikir di sini. Kali ini aku yang menunggu kedatangan Adrian menjemputku pulang.


Tak lama kemudian, Adrian memarkirkan mobilnya di lahan parkir lalu aku langsung memasuki mobilnya.


"Maaf ya, Sayang. Kamu pasti menungguku lama," ucap Adrian.


"Bagaimana dengan rekaman CCTV sekitar depan rumah kontrakannya Angelina?"


"Aku tadi sudah mengunjungi pos keamanan sana dan mengecek rekaman CCTV yang terjadi selama enam bulan yang lalu dan juga lima bulan yang lalu tapi tidak ada satu pun jejak rekaman yang tertinggal."


"Ish selalu saja di saat begini rekaman CCTV tidak ada! Aku paling benci kalau kamera CCTV dirusak!"

__ADS_1


"Mungkin kita bisa mengeceknya di lain tempat yaitu tempat yang sering mereka kunjungi selama ini."


"Benar juga, ya. Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi." Aku menepuk jidatku.


"Sudahlah sekarang tidak usah pikirkan itu dulu. Yang penting aku ingin cepat pulang supaya bisa mengisi perutku yang lapar dari tadi."


Setibanya di kediamanku, aku melepas sepatuku lalu langsung menghempaskan tubuhku di atas sofa ruang tamu bermalasan. Adrian menghampiriku yang sedang asik berbaring lalu berjongkok dan mengelus kepalaku lembut.


"Hari ini aku yang masak makan malamnya, ya. Kamu istirahat dulu saja," sarannya.


"Ya sudah deh. Perutku juga lapar dari tadi jadinya sudah tidak ada tenaga untuk menahan tubuhku," balasku mengelus perutku.


"Tunggu sebentar, ya."


Beberapa menit kemudian, aku mencium aroma masakan yang sangat menyengat. Aku beranjak dari sofanya langsung menghampiri meja makan sambil mengambil sendoknya. Tidak seperti biasanya aku duduk tepat berhadapan dengan Adrian. Biasanya setiap makan, aku duduk berhadapan dengan anakku dan menyuapinya. Kini kondisinya seperti aku baru menikah dengan Adrian dan belum memiliki anak. Tapi bagiku, melihat suamiku sendiri saja tanpa kehadiran anakku sudah cukup menghiburku. Sambil menyantap makan malam, tatapan mataku terus berfokus padanya hingga ia meresponku dengan mengedipkan mata kirinya.


"Aduh, Sayang!" Aku tertunduk malu pipiku merah merona.


"Kenapa, Sayang?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya suka masakanmu saja," jawabku sambil mengambilkan lauk untuknya.


"Suka masakanku tapi kamu memberiku lauknya."


"Karena aku lagi ingin memberimu makan saja."


"Dasar! Kamu paling pintar cari alasan!"


"Memang benar. Kalau begitu aku ambil lauknya kembali." Aku mengambil lauk yang tadi aku berikan untuknya tapi dihadang olehnya dengan sendoknya.


"Tidak bisa begitu. Barang yang sudah diberi tidak bisa dikembalikan lagi."


"Ya sudahlah aku mendingan lanjut makannya saja!"


Sebagai gantinya ia memberikan beberapa lauk untukku.


"Aku juga ingin memberimu banyak lauk supaya kamu terlihat kuat."


Setelah makan malam dan membersihkan diriku, aku kembali melanjutkan menyelidiki kasusnya dengan Adrian di ruang kerjanya. Aku sibuk terus menatap foto mayat kedua korban hingga mataku sudah mulai lelah sambil mengucek mataku.


"Sayang, aku mau bertanya sesuatu padamu," ucapku.


"Memangnya kenapa, Sayang?"


"Menurutmu bisa tidak sih pelakunya itu merupakan seorang guru berwajah dingin di sekolah mereka? Soalnya tadi Hans dan Fina mencurigai guru itu adalah pelakunya."


"Hmm kalau aku sih masih sedikit ragu. Apalagi kenapa dia terang-terangan memberitahu sosok wali kelas mereka padamu. Lagi pula orang yang berwajah dingin tidak selamanya merupakan orang jahat."


"Tuh kan pemikiranmu sama denganku. Pokoknya selama belum ada bukti, aku tidak akan sembarangan menuduh dulu."


"Aku lebih suka kalau kamu berpikir jernih sesuai dengan gayamu itu daripada Fina yang tidak berpikir panjang dulu."


"Tenang saja ada Nathan dan Tania juga yang membelaku tadi."


"Kalau mereka dari dulu selalu menuruti perkataanmu dan berbanding terbalik dengan Fina."


"Kalau kamu gimana?" tanyaku sambil mengedipkan mataku manis.


"Kalau aku tentu saja selalu sependapat denganmu, Penny. Karena memang kita berdua merupakan rekan kerja paling kompak sejak dulu," jawabnya mengelus pipiku.


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya Adrian dengan manja.


"Kita sudah tiga kali memecahkan kasus pembunuhan bersama. Dari hubungan kita sebagai sahabat, kekasih, dan sekarang sudah menikah dan memiliki anak. Memang ini namanya bukan suatu kebetulan lagi," ucapnya menyandarkan kepalanya di atas kepalaku.


"Untung saja aku selalu dipasangkan memecahkan kasusnya bersamamu. Kalau bersama orang lain yang tidak aku kenal rasanya sangat tidak nyaman."


"Aku juga selalu nyaman setiap kali memecahkan kasus pembunuhan bersamamu. Jadinya aku akan selalu menjadi pengawal pribadimu dan malaikat pelindungmu setiap kali ada bahaya."


"Ish kamu jangan membuatku takut deh!"


"Aku hanya bercanda. Aku juga tidak ingin menghadapi bahaya lagi bersamamu karena terakhir kali saja sudah lelah bagiku."


"Yang pasti aku suka banget memiliki seorang pahlawan yang muncul entah dari mana menolongku di saat aku sedang mengalami bahaya." Aku mengecup pipinya Adrian dengan lembut.


"Aku akan selalu menjadi pahlawanmu supaya aku selalu terlihat suami yang keren dan kuat di matamu."


"Itulah salah satu alasan kenapa aku sudah mencintaimu sejak dulu."


"Aku juga suka gayamu saat sedang menyelidiki kasus. Saat pertama kali bekerja sama dengan seorang detektif wanita apalagi detektif tersebut wajahnya terlihat cantik lalu berpikir jenius membuatku jatuh cinta padamu sejak dulu."


Mataku terbelalak sempurna dan netra indahku langsung terfokus pada senyumannya percaya diri.


"Memangnya aku ini merupakan detektif wanita pertama yang bekerja sama denganmu?"


"Iya memang benar. Makanya kamu detektif wanita paling langka bagiku."


"Lalu setelah itu?"


"Aku tidak kerja sama dengan detektif wanita lainnya kecuali Fina dan Tania. Lagi pula mereka berdua merupakan anggota timku."


"Baguslah kalau begitu tidak ada satu pun yang berani merebut suamiku dariku."


"Walaupun ada yang berani merebutku, aku pasti selalu melekat padamu, Penny."


Sedangkan di sisi lain, ada seseorang bertubuh tinggi memakai topi, jaket, dan maskernya sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Orang misterius tersebut menikam sadis beberapa siswa yang ada di dalam suatu ruangan sedang mengikuti kelas tambahan.

__ADS_1


__ADS_2