
Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi sedang menuju ke sini. Josh menghentikan aksinya berusaha melarikan diri. Tapi Fina menghadang jalannya menghajarnya hingga terjatuh.
"RASAKAN INI AKIBAT MEMBUAT HANS KECELAKAAN!"
BRUKK
Fina memukulinya lagi hingga Josh sudah tidak bisa berbuat apa pun.
Sedangkan asisten pribadinya Josh mengambil pistol di saku celananya Nathan dan menarik pelatuk itu.
DUAARR
Asisten pribadi itu bunuh diri. Josh dalam keadaan lemas akibat dihajar Fina, berusaha untuk bangkit, tapi Nathan dan Tania menghajarnya tanpa segan hingga wajahnya dilumuri darah.
BRUGHHH
"Rasakan ini akibat menghajar istriku!" Nathan menonjoknya dengan sekuat tenaga.
Aku berjalan menghampiri Josh, aku juga menghajarnya sampai ia tidak berdaya lagi.
"Rasakan pukulan pertamaku ini untuk para korban yang tidak bersalah!"
BRUGHHH
"Rasakan pukulan keduaku ini akibat melukai pacarku!!" Pukulan kedua sangat keras untuk melampiaskan dendam di hatiku.
BRUGHHHH
Josh memelototi kami semua dengan tatapan psikopat. "Kalian semua lihat saja nanti. Akan kuhabisi kalian!"
Para petugas polisi memasuki ruangan ini mengepung Josh agar tidak bisa kabur ke mana pun lagi.
Aku mengambil borgol di saku jaketku lalu memborgol tangannya. "CEO Josh Wilson, Anda ditangkap atas penyekapan dua gadis setahun yang lalu, aksi pembunuhan Maria dan juga Emma serta percobaan pembunuhan Jaksa Adrian. Anda memiliki hak menyewa pengacara untuk membela Anda atau hak untuk berdiam saja."
"Tidak akan kubiarkan kamu lolos, Penny!" celetuk Josh menatapku tajam.
"Bawa dia sekarang juga!" pintaku dengan tegas kepada petugas polisi.
Petugas polisi menuntun Josh keluar dari ruangan ini. Sedangkan paramedis berhamburan membawa Dahlia dan juga Wenny ke rumah sakit terdekat. Barang-barang korban yang menghilang selama ini telah diambil Nathan dan dibawa ke kantor polisi.
Aku membantu Adrian berdiri perlahan sambil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Adrian, kamu kuat berjalan? Kalau tidak kuat biar paramedis yang membawamu."
"Aku masih bisa berjalan. Hanya saja ... kepalaku sedikit pusing." Adrian sudah tidak kuat menahan tubuhnya lagi hingga terjatuh pingsan.
Dengan sigap aku berjongkok di sebelahnya sambil memeluknya erat. "Adrian bertahanlah! Akan kupanggil paramedis membawamu ke rumah sakit!"
Paramedis membawa Adrian memasuki mobil ambulans untuk diantar ke rumah sakit. Aku memasuki mobil ambulans dan duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangannya.
Setibanya di rumah sakit, Adrian langsung diberi pengobatan, begitu pula aku yang tadi dipukuli lumayan keras. Setelah diberi pengobatan, aku meminta dokter memindahkan Adrian ke bangsal VIP.
Aku memasuki kamar mengambil sebuah kursi kosong dan meletakkannya tepat di sebelah ranjang. Aku meraih tangan kirinya menempelkan tangannya pada pipiku.
"Kamu harus bertahan, Adrian. Kamu harus bertahan demi aku." Aku menangis tersedu-sedu sampai air mataku mengalir dan menetes tepat pada pipinya.
Tak lama kemudian, ia membuka kedua matanya perlahan sambil mengelus pipiku lembut.
"Penny ...."
"Kamu sudah sadar, Adrian!"
"Punggungmu apakah baik-baik saja? Ada bagian tubuh lain yang terluka juga? Kamu sudah diberi pengobatan?" tanyanya sangat mencemaskanku sambil memeriksa kondisi tubuhku.
Aku langsung memeluknya erat. "Aku sangat merindukanmu, Adrian."
Adrian tersenyum manis mengelus punggungku. "Aku juga sangat merindukanmu, Penny. Bahkan aku sempat berpikir kamu tidak akan bisa menemukan aku."
"Tentu saja aku bisa menemukanmu. Apakah kamu lupa aku ini detektif cerdas di matamu?"
"Terima kasih telah menyelamatkan aku. Biasanya aku yang melindungimu. Sekarang situasi berbanding terbalik."
Memang posisinya sekarang terbalik denganku. Sekarang aku ingin melampiaskan apa yang kupendam dalam hatiku sejak kemarin.
"Apakah kamu tidak tahu betapa cemasnya aku saat kehilanganmu? Bahkan saat aku sedang menunggumu pulang, dadaku sampai nyeri menandakan bahwa kamu sedang dalam bahaya. Aku sampai tidak bisa tertidur nyenyak dan bermimpi buruk akibat mencemaskanmu terus! Aku juga hanya sarapan segelas susu demi kamu. Aku sangat mencemaskanmu sampai rasanya aku ingin gila."
Adrian membelalakan mata. "Penny, kamu hanya sarapan segelas susu saja karena memikirkan aku?"
"Aku tidak berselera makan kalau kamu tidak berada di sisiku."
Alisnya menurun. "Maafkan aku telah membuatmu mencemaskanku sampai seperti itu. Yang terpenting sekarang aku masih hidup dan bisa bertemu denganmu lagi. Tapi apakah ini pertama kalinya dadamu sampai sakit?"
"Iya! Rasa sakit itu sangat mendalam sampai dadaku sesak!"
"Kenapa bisa?"
__ADS_1
"Ini karena aku sangat mencintaimu!" ungkapku dengan tatapan percaya diri.
Adrian langsung mengecup keningku dan juga punggung tanganku. "Aku juga sangat mencintaimu, Penny. Sejak dulu, hanya kamu wanita satu-satunya sangat kucintai."
"Aku bahkan tidak pernah mengatakan kata cinta selama ini, betapa bodohnya aku. Kali ini aku mengatakannya sebelum aku menyesalinya."
Adrian tertawa kecil mengusap air mataku. "Sudah jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajahmu jelek seperti ini."
Aku memanyunkan bibirku. "Sudah kuduga kamu akan mengejekku."
"Tapi kamu tidak perlu mengatakannya padaku juga, aku tahu kamu sangat mencintaiku. Sejak pertama kali kita berpacaran, kita sudah saling mencintai dan melakukan apa pun dengan cinta."
Aku memeluknya semakin manja. "Pokoknya aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi sendirian. Kita harus selalu bersama sampai kapan pun. Aku tidak akan berangkat ke kantor sendirian lagi. Sekarang bukan hanya kamu yang bertugas melindungiku, tapi aku juga harus melindungimu."
Awalnya wajah Adrian terlihat girang, sekarang kembali murung. Aku bingung apa yang ada di dalam pikirannya sampai ekspresinya berubah drastis.
"Gara-gara kejadian yang menimpaku waktu itu makan malamnya jadi batal."
Hanya karena masalah itu? Rasanya aku ingin mencubitnya sepuasnya. "Kamu masih saja memikirkan hal tidak penting di saat kamu terluka!"
"Aku sudah berjanji. Aku sangat merindukan momen kencan kita. Sudah lama kita tidak pergi berkencan."
"Nanti kalau kasus ini sudah selesai, kita akan kencan lagi."
Adrian mengulurkan jari kelingking. "Tepati janjimu itu, Penny!"
Aku menautkan kelingkingku dengan kelingkingnya. "Sudah pasti. Tapi, aku harus belikan makanan untukmu. Energi tubuhmu harus diisi dulu."
"Jangan pergi terlalu lama! Nanti aku bisa mati kelaparan!"
Aku pergi ke suatu restoran di dekat rumah sakit beli bubur untuknya. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamarnya membantunya membuka bungkusan makanan.
"Itu bubur untukmu, silakan dimakan."
"Suapi aku buburnya," rayunya manja.
"Kamu manja sekali sih!" celetukku memasang wajah cemberut.
"Kalau kamu sungguh mencintaiku, seharusnya kamu suapiku juga!"
"Iya deh aku suapi kamu." Aku mengambil satu sendok bubur memasukkan ke dalam mulutnya.
Senyumannya terus mengambang ketika aku menyuapinya sambil mengelus punggung tanganku. "Bubur ini rasanya sangat enak ketika disuapi wanita yang kucintai."
"Oh iya, bagaimana dengan Josh sekarang?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraannya.
"Nathan dan Tania sibuk mengurusnya di kantor polisi."
"Syukurlah, sekarang semuanya sudah berakhir."
"Setelah ini, aku akan pergi ke kantor polisi untuk menginterogasinya."
"Kamu harus menemaniku di sini!"
"Tapi aku harus bekerja."
"Ada anggota tim lainnya yang bisa mengurus Josh."
"Kamu manja sekali sih, Adrian!"
"Sesekali kamu harus beristirahat. Terutama beberapa hari ini kamu pasti sangat kelelahan sampai tidak bisa tidur nyenyak akibat mencemaskan aku."
Aku memutar bola mata bermalasan. Tapi, ada benarnya juga. Aku ingin menikmati momen kebersamaannya juga lebih lama lagi. "Baiklah, aku akan menurutimu. Tapi kamu harus habiskan buburnya. Tubuhmu itu sangat lemah akibat tidak makan dan juga pengaruh obat suntikan. Kamu harus makan yang banyak supaya tubuhmu kembali kuat."
"Kalau kamu yang menyuapiku pasti aku akan makannya melahap."
Ternyata benar, ia makannya melahap bagaikan singa kelaparan. Tidak sampai 15 menit buburnya habis ditelan tanpa tersisa sedikit pun. Sesuai dengan janjinya, aku akan terus menemaninya di sini.
Adrian duduk bergeser memberikan tempat untukku duduk tepat di sampingnya. "Duduk di sebelahku."
Aku duduk tepat di sebelahnya dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya.
Adrian merangkul bahuku sambil mengelus telapak tanganku. "Penny, apakah kamu tahu? Sebenarnya saat kamu dikurung di kamar hotel waktu itu, dadaku terasa sangat sakit juga. Aku merasa seperti pertanda bahwa wanita yang kucintai sedang dalam bahaya dan ternyata instingku benar. Rasa cintaku padamu sangat mendalam sampai aku memiliki insting yang kuat padamu."
"Aku tahu kamu sangat mencintaiku sampai menjadi pahlawanku setiap saat. Kamu selalu mengorbankan nyawamu demi aku. Tapi kenapa kamu tidak berani mengatakan padaku bahwa kamu mencintaiku?"
"Sebenarnya, aku masih ragu. Aku bingung perasaanku terhadapmu itu apakah sungguh mencintaimu atau hanya sekadar menyukaimu saja. Semakin lama aku semakin menyadari bahwa aku tidak ingin kehilanganmu dalam hidupku dan juga hatiku selalu sakit setiap melihatmu menderita, itu menandakan bahwa rasa cintaku terhadapmu sangatlah besar."
"Sejak hari pertama kita berpacaran, aku sangat bahagia setiap bersamamu. Aku tidak pernah meragukanmu, Adrian. Selama ini kamu tidak mengatakan cinta padaku, tapi kamu membuktikannya langsung padaku tanpa harus mengatakannya sejak hubungan kita masih sebatas sahabat."
Adrian menyunggingkan usil. "Sekarang aku sudah selesai memberitahu rahasiaku. Giliran kamu yang memberitahuku tentang rahasiamu."
Aku memasang wajah polos, soal rahasia, memangnya aku pernah menyimpan rahasia? "Aku tidak memiliki rahasia apa pun."
__ADS_1
"Mimpi buruk yang kamu alami semalam itu seperti apa?"
Aku mendengkus pasrah dan terpaksa aku harus mengingat mimpi menyakitkan itu lagi demi dirinya. "Di mimpiku, kamu meninggal tepat di depan mataku."
Adrian membelalakan mata. "Aku meninggal? Bagaimana bisa?"
"Kamu meninggal karena menolong nyawaku. Josh ingin membunuhku tapi kamu menolongku sampai kamu kehabisan banyak darah dan meninggal. Ini sungguh keterlaluan. Baik di dunia mimpi atau di dunia nyata, kamu selalu saja mengorbankan nyawamu demi aku."
"Memang terbukti rasa cintaku begitu besar padamu."
Jantungku berdebar semakin kencang setiap mendengar perkataannya. Terutama situasi sekarang semakin panas rasanya walaupun suhu AC di ruangan ini cukup dingin. Apalagi jarak antara wajahku dengan wajahnya cukup dekat. Ia mulai mendekatkan wajahnya menuju wajahku membuatku semakin berbunga hingga pipiku memerah.
Tiba-tiba di saat momen seperti ini, ada seseorang yang membuka pintu kamar. Adrian langsung menjauhkan wajahnya dariku lalu bersikap biasa saja.
"Penny!" panggil Tania menghampiriku.
"Aku pura-pura tidak melihatnya saja," ujar Nathan dengan wajah polos.
Adrian mengerutkan dahi. "Maksudmu apa, Nathan?"
Nathan tertawa kikuk. "Bukankah kalian tadi ingin berciuman? Kami pasti merusak momen kalian tadi."
Adrian menggeleng cepat. "Tidak kok! Tadi aku hanya ingin memeriksa lukanya Penny. Kamu sendiri tadi lihat Penny dihajar Josh."
"Sepertinya aku dan Tania menjengukmu di waktu yang tidak tepat."
Tania memukuli punggung suaminya daripada terus berkata aneh-aneh. "Ada-ada saja kamu, Nathan. Waktu itu saat di depan ruang operasi kamu mencurigai itu dan sekarang kamu mengungkitnya lagi! Kamu terobsesi banget sih sama hal kecil itu!"
"Lagi pula bukankah itu wajar jika mereka melakukan itu! Bukankah itu benar, Adrian?" Nathan menatap Adrian dengan tatapan polos.
"Kalau itu sih ...."
"Bagaimana dengan hasil interogasinya Josh?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya, daripada suasana semakin canggung.
Tania menghela napas pasrah. "Dia sama sekali tidak ingin buka mulut. Padahal kejahatannya sudah terbukti. Dia ingin diinterogasi kamu saja."
"Kalau begitu, aku harus menginterogasinya sekarang juga." Aku beranjak dari ranjang mengikat tali sepatuku dan juga mengikat rambutku.
"Tungg, Penny!" pekik Adrian tiba-tiba.
Aku membalikkan tubuhku. "Ada apa, Adrian? Apakah tubuhmu terasa sakit lagi?"
Adrian menarik tanganku hingga aku terjatuh di atas pangkuannya. Ia memelukku dengan hangat lalu mencium pipiku.
Aku tersipu malu mengelus pipiku bekas diciumnya. "Kamu memanggilku hanya untuk ini saja."
"Kamu tidak suka? Padahal ini vitamin agar kamu semangat menginterogasinya."
Aku mencium pipinya juga. "Aku sangat suka. Terima kasih Adrian, kamu memang vitamin pembangkit semangatku."
"Aku masih kurang puas memberimu vitamin. Apalagi tadi pagi aku tidak memberimu vitamin."
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh bertindak sesukamu."
Adrian mencium keningku mendalam sambil mempererat pelukannya hingga membuat sepasang suami istri yang berdiri di sudut ruangan dari tadi hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Hati-hati di jalan, Penny."
"Tenang saja, tidak ada yang berani mengintaiku lagi."
"Jangan terlalu lama perginya. Aku sangat kesepian jika berada di ruangan ini sendiri."
Aku tertawa ledek melihat raut wajahnya sangat manja. "Mau kupanggil ayahmu menemanimu?"
Adrian menggeleng cepat. "Tidak mau. Aku tidak ingin ayahku mencemaskan aku."
"Nanti kamu sendirian di sini, siapa yang mengurusmu?"
"Tenang saja aku bisa sendiri. Sebaiknya kamu pergi saja dan tuntaskan interogasi itu," usulnya santai mengibaskan tangan kanannya untuk mengusirku.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Kalau butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku. Aku pasti akan mendatangimu," pamitku beranjak dari pangkuannya.
"Aku menghubungimu jika benar-benar membutuhkanmu. Aku tidak akan mengganggumu saat sedang menginterogasinya."
Sedangkan Nathan dan Tania semakin menertawai tingkahku dan Adrian dari kejauhan.
"Benar dugaanku sejak dulu. Kalian sudah seperti sepasang suami istri," ujar Nathan menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Nathan, kamu selalu berpikiran yang aneh terus. Sebaiknya kita pergi sekarang juga," ucapku dengan raut wajah serius.
"Tapi memang kalian seperti pasangan suami istri mesra setiap saat," lanjut Tania.
Aku mencubit lengan Tania. "Ish kamu sama saja seperti suamimu!"
__ADS_1