Good Partner

Good Partner
Special Part 4 - Let's Play!


__ADS_3

Ini sangat menyebalkan, giliran di situasi begini ada yang meneleponku. Rasanya aku ingin membentak orang yang meneleponku itu. Aku ingin mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja ruang tamu, tapi Adrian menepis tanganku pelan dan menahan tubuhku agar tidak bisa bergerak ke mana pun. Aku merasa seperti diikat tali olehnya. Ia mengambil ponselku lalu memasangkan mode senyap supaya tidak merusak momen kami sekarang.


Adrian menaruh kembali ponselku di atas meja ruang tamu dan melanjutkan aksinya lagi yang tertunda. Aku memeluk punggungnya dengan erat sedangkan ia mendekatkan wajahnya menuju wajahku dimulai dari mengecup keningku dengan lembut kemudian dilanjutkan sentuhan bibirnya. Jarak antar sepasang bibir ini hanya berbeda tipis lalu ada sesuatu yang mengganggu kami lagi.


drrt...drrt...


Penelepon itu menghubungiku lagi. Walaupun dalam mode senyap, ini masih sangat mengganggu momen kami. Aksi sentuhan bibir itu tidak terjadi lagi, aku meraih tanganku berusaha mengambil ponselku tapi ia menahan tanganku lagi.


"Sayang, aku harus mengangkat teleponnya," ucapku dengan baik.


"Aku ingin menikmati ini lebih lama," balasnya dengan senyuman godaan.


"Ish kalau sampai itu berhubungan dengan pekerjaan gimana!"


"Kan bisa minta tolong ke anggota timmu itu. Ayolah sayang, main bersamaku lebih lama lagi. Ya?" rengeknya seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan pada ibunya.


"Pokoknya tidak!" Aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenagaku lalu dengan cepat mengambil ponselku.


Sudah kuduga ini berhubungan dengan pekerjaan. Nomor tidak dikenal yang menghubungiku barusan. Pasti ini adalah salah satu dari kedua orang tuanya Fiona. Gara-gara Adrian tadi menahanku terlalu lama aku harus menghubungi kembali nomor tidak dikenal itu.


"Halo saya Detektif Penny. Apakah Anda adalah orang tuanya Fiona?"


"Saya Margareth, ibunya Fiona."


"Iya, Bu Margareth. Ada apa menghubungi saya malam-malam begini?"


"Barusan anak saya sudah sadarkan diri. Mungkin anak saya bisa memberikan kesaksian mengenai kejadian yang menimpanya."


"Benarkah? Syukurlah, aku lega mendengarnya. Kalau begitu aku akan ke sana sekarang juga." Aku mengakhiri pembicaraannya lalu menutup panggilan teleponnya.


Aku beranjak dari sofa lalu memasuki kamarku untuk mengganti pakaianku. Setelah selesai bersiap-siap, aku mengambil kunci mobilku dan juga mengikat tali sepatuku. Tapi Adrian menahanku pergi.


"Haruskah kamu pergi meninggalkanku?" tanyanya memanyunkan bibirnya kecewa.


"Maaf, Sayang. Aku harus pergi sekarang demi melakukan pekerjaanku."


"Kamu lebih memilih pekerjaan daripada aku?"


"Bukan begitu."


"Lalu apa?"


"Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu juga. Tapi ini situasi genting. Aku tidak mungkin meminta bantuan para anggota timku. Selama aku mengandung, aku sering meminta bantuan mereka. Jadinya aku tidak ingin merepotkan mereka lagi. Tenang saja, aku tidak akan pergi lama."


"Kalau begitu, aku akan menemanimu pergi."


"Tidak bisa. Kamu harus mengurus Victoria di sini. Nanti siapa yang jaga kalau kamu juga ikut denganku."


"Baiklah, aku di sini saja menjaga Victoria. Ingat, ya, perginya jangan lama-lama. Pokoknya aku tidur kalau kamu sudah ada di sampingku dan tidur bersamaku."


"Ish kamu ini benar-benar! Nanti kalau kamu kurang tidur bisa sakit!" sungutku tegas sambil berkacak pinggang.


"Bodoh amat!"


"Kamu nakal sekali sih, Sayang! Aku seperti mengurus dua anakku saja! Sudahlah aku mau pergi sekarang, nanti saat aku pulang, kamu harus sudah tidur lelap!"


"Iya deh aku menurutimu."


"Aku pergi dulu, ya," pamitku melambaikan tanganku kepadanya.


Adrian membalasku dengan mengecup bibirku sekilas membuatku menjadi tersenyum sendiri saat ini hingga jantungku berdebar kencang.


"Vitamin penyemangat di malam hari. Semangat, Sayang," ucapnya membelai rambutku.


"Terima kasih, Sayang. Ini hadiah dariku supaya bermimpi indah."


Aku membalasnya dengan mengecup bibirnya sekilas dan memeluk punggungnya agak lama sebelum aku pergi.


"Aku butuh energi darimu. Ini sudah malam, energi tubuhku sudah habis jadinya aku butuh energi lebih banyak lagi supaya semakin semangat bekerja."


"Baiklah, kalau begitu kamu peluk aku sepuasnya saja sampai energi tubuhmu terisi kembali. Aku tidak keberatan kalau energi tubuhku habis sepenuhnya demi kamu."


Aku melepas pelukannya dan bergegas pergi ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, aku berlari menuju kamarnya Fiona dengan napas terengah-rengah. Aku mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu lalu memasuki kamarnya. Di dalam kamar itu ada ayahnya Fiona juga yang sedang duduk di samping ranjang.


"Maaf saya datangnya lama, tadi ada urusan yang harus saya selesaikan," ucapku terpaksa membohongi mereka berdua. Padahal itu bukan urusan penting, melainkan aku harus mengurus anak kesayanganku sebesar gajah yang sangat keras kepala.


"Tidak apa-apa. Lagi pula ini tidak begitu mendesak," balas ayahnya Fiona dengan senyuman ramah.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kondisinya Fiona? Apakah dia ingin menyatakan kesaksiannya?" tanyaku mulai fokus bekerja.


"Tadi sih katanya dia mau berbicara denganmu. Cuma sekarang tidak tahu dia mau atau tidak," jawab Bu Margareth.


"Aku ... ingin ... bersaksi," ucap Fiona terbata-bata sambil menatapku.


"Kalau kondisi tubuhmu masih tidak memungkinkan jangan terlalu memaksakan dirimu. Kita bisa melakukannya besok pagi," saranku menggenggam tangannya.


"Tidak mau. Aku ingin mengungkapnya ... sekarang juga," balas Fiona keras kepala.


"Baiklah, aku akan mendengarmu. Kalau begitu tolong kamu ceritakan secara rinci kronologi kejadian yang menimpamu," pintaku lembut.


"Ada seseorang ... yang mendorongku tiba-tiba di tangga darurat."


"Siapa itu?" tanyaku sangat penasaran.


Fiona mengulurkan jari telunjuknya dengan pelan lalu mengarahkannya kepada ibunya.


"Ibuku ... yang mendorongku," ucap Fiona dengan tatapan tajam.


"Apa?" Ayahnya Fiona menatap melotot pada istrinya dengan wajah tidak percaya.


"Bukan saya. Bukan saya pelakunya! Mana mungkin saya melukai anak saya sendiri!" bantah Bu Margareth wajahnya sedikit pucat.


"Fiona, kamu tidak membohongiku, 'kan?" tanyaku lagi sedikit meragukannya.


"Aku sungguh ... tidak berbohong! Ibuku jelas-jelas ... mendorongku di tangga darurat," jawab Fiona terus menyangkalnya.


"Fiona, mungkin cedera kepalamu lumayan parah jadinya kamu sedikit berbicara aneh. Kamu harus beristirahat dulu dan besok kita lanjutkan lagi, ya," ucap ayahnya Fiona dengan baik.


"Ibu sungguh mendorongku! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!" elak Fiona terus membantahnya keras kepala.


"Kamu bicara apa sih, Fiona! Ibu tidak mungkin melakukan hal kejam seperti itu! Lagi pula kamu anak kesayangan ibu satu-satunya! Selama ini ibu bela-belain membelikan sesuatu untukmu untuk membahagiakanmu. Tapi kamu malah main sembarangan nuduh bahwa ibu adalah pelakunya!" bentak Bu Margareth memelototi anaknya dengan tajam.


Aku sendiri melihat perbincangan antara ibu dan anak menjadi perasaanku tidak nyaman jika berada di sini terlalu lama. Aku tidak mungkin menangkap ibunya begitu saja tanpa adanya bukti yang akurat. Walaupun Fiona sangat yakin bahwa ibunya adalah pelakunya, tapi dengan kondisi kepalanya seperti itu aku sedikit meragukannya. Lebih baik aku pergi dari sini sebelum keadaan semakin memburuk.


"Maaf saya permisi dulu. Mungkin kondisi tubuh Fiona sangat tidak memungkinkan untuk menyatakan kesaksiannya. Akan lebih baik kalau kita memberinya waktu dulu. Dengan kondisinya seperti ini, kemungkinan kesaksiannya bisa salah," ucapku dengan baik.


"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu tunggu putri saya tenang terlebih dahulu baru saya akan memanggil Anda lagi," balas Bu Margareth.


"Saya permisi dulu. Semoga cepat sembuh, Fiona," pamitku lalu meninggalkan kamar itu dengan cepat.


Setibanya di kediamanku, aku langsung memasuki kamarku dan melihat Adrian yang sedang tertidur lelap dengan kondisi terduduk pada sandaran ranjang. Aku mengganti pakaianku dulu kemudian menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Aku tidak ingin membangunkannya. Aku hanya ingin memeluknya dengan hangat saja untuk menenangkan pikiranku saat ini. Saat aku memeluknya, ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya lalu membaringkan tubuhku perlahan.


"Kamu sudah pulang rupanya," sambutnya dalam kondisi mengantuk sambil menguap.


"Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu. Aku hanya ingin memelukmu saja."


"Sini biar aku memelukmu." Adrian mendekapku dengan hangat membuat pikiranku semakin tenang rasanya.


"Adrian, tolong elus kepalaku," rayuku dengan manja.


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu lesuh begitu?" tanyanya sambil mengelus kepalaku dengan lembut.


"Pikiranku sedang kacau sekarang. Kasus yang sedang kuselidiki sekarang semakin lama semakin rumit. Korban mengatakan bahwa ibunya adalah pelaku yang mendorongnya. Sedangkan ibunya itu menyangkalnya. Aku tidak mungkin menangkap ibunya begitu saja. Bisa jadi pernyataannya korban itu salah."


"Sudahlah jangan pikirkan itu dulu, Penny. Sebaiknya kamu tenangkan pikiranmu dulu. Ada aku di sini yang selalu menenangkan pikiranmu." Adrian menepuk-nepuk punggungku berirama membuat pikiranku semakin tenang sekarang.


Mendengar perkataannya sangat manis membuat stressku hilang dalam sekejap. Memang ia satu-satunya pria yang bisa menghiburku.


"Aku jadi teringat saat aku stress berat menghadapi kasus. Kamu menyuruhku mengetuk tanganku di atas meja berirama dengan pelan. Di saat itu, aku sungguh bingung ingin melakukan apa. Pikiranku sangat kacau dan otakku tidak bisa berpikir jernih. Tapi sejak kamu mengajariku trik itu, pikiranku sangat tenang. Ternyata walaupun saat itu hubungan kita masih sebatas sahabat saja, kamu adalah orang pertama yang berhasil menenangkan pikiranku. Bahkan kedua orang tuaku belum tentu bisa menenangkan pikiranku."


"Sebenarnya, aku waktu itu asal bicara saja. Aku tidak tega melihatmu sengsara terus jadinya aku memikirkan segala cara untuk melihatmu kembali tenang lagi. Aku kira cara itu adalah cara bodoh dariku. Tapi cara itu berhasil hanya kamu yang melakukannya. Aku tidak menyangka ternyata sejak dulu, aku sudah memperlakukanmu berbeda dari yang lainnya."


"Suamiku ini sungguh sangat istimewa!" pujiku terkagum mengecup pipinya sekilas.


"Karena aku sudah mulai menyukaimu saat itu."


"Benarkah? Kenapa aku tidak menyadari itu?" Aku menggarukkan kepalaku kebingungan.


"Kamu wanita tidak peka sama sekali!" celetuknya menyentil dahiku.


"Aduh, sakit!" keluhku meringis kesakitan sambil mengelus dahiku.


"Sakit, ya. Sini biar aku obati." Adrian hanya mengelus dahiku tapi aku masih sedikit kecewa dengannya.


"Ish kamu tega bersikap kasar padaku!" Dengan sigap aku membalikkan tubuhku malas memandanginya.


Ia membalikkan tubuhku lagi hingga posisiku kini kembali menghadapnya. Wajahnya semakin mendekat padaku mendaratkan bibirnya pada dahiku bekas disentilnya tadi. Aksi manisnya berlangsung cukup lama hingga spontan aku memeluknya erat.

__ADS_1


"Maaf Sayang, aku tidak akan bersikap kasar padamu lagi," sesalnya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Tadi aku hanya bercanda, padahal dahiku tidak sakit sama sekali karena kamu menyentilnya lembut."


"Jadinya bisa disimpulkan kamu ingin bermanja denganku, ya," godanya menyunggingkan senyuman nakal.


"Sudahlah aku mau tidur saja, hari ini aku bekerja terus sampai kelelahan sekarang."


"Baiklah kalau begitu tidur yang nyenyak supaya besok bisa bekerja dengan semangat."


"Selamat tidur, Sayang." Aku melingkarkan kedua tanganku pada lehernya dan mengelus pipinya dengan lembut.


Keesokan harinya, hari ini aku bangun lebih awal jadinya waktuku sangat banyak untuk mengurus Victoria. Biasanya kalau aku sibuk di pagi hari, Adrian yang bertugas memandikan Victoria. Tapi untuk hari ini aku yang memandikan anakku, sesekali aku bergantian dengan Adrian melakukan kewajibannya. Aku menggendong Victoria menuju kamar mandi dan merendamkannya dalam bath tub yang berisi air hangat.


"Anak mama harus mandi yang bersih supaya wangi dan kuman tidak berani masuk ke tubuhmu," ucapku sambil menggosokkan sabun pada anakku.


"Anak papa juga harus wangi seperti papa yang baru selesai mandi," sahut Adrian ikutan memandikan anak kami.


"Sayang, kamu baru saja mandi. Nanti kamu berkeringat dan harus mandi lagi."


"Demi anak kita, aku tidak mempermasalahkannya. Lagi pula biasanya aku yang memandikan Victoria."


"Khusus hari ini aku yang memandikannya saja. Lebih baik kamu bersantai dulu saja atau bersiap-siap ke kantor." Aku menggosok tangannya Victoria dengan sabun lalu tidak sengaja aku mengusap keringat yang mengalir pada pipiku dengan tanganku yang dipenuhi sabun.


Victoria tertawa puas menatapku sambil menendang-nendang kaki mungilnya.


"Mama senang melihatmu tertawa begini!" paparku tertawa girang juga.


"Wajahmu ini sungguh belepotan sekali. Bahkan Victoria saja sampai menertawaimu," ejeknya menertawaiku puas.


"Tidak masalah belepotan, yang penting dia bisa tertawa lebar begini."


"Kalau begitu papa juga mau ikutan seperti mama, ah." Adrian mencolek sabun yang menempel pada pipiku menggunakan tangannya lalu menempelkan sabunnya pada pipinya.


"Ish Sayang, nanti kamu harus mandi lagi!" sungutku sambil menggelengkan kepalaku.


"Aku ingin bermain bersamamu, Sayang!"


Dengan sigap Adrian mencolek wajahku terus hingga wajahku ini dipenuhi dengan sabun. Victoria semakin tertawa lebar membuat Adrian semakin ketagihan melakukannya padaku. Memang dasar anak dan ayahnya sama saja nakal. Secara tidak langsung Victoria mendukung ayahnya melakukan keisengan ini padaku.


"Sayang, sudah cukup! Wajahku ini sudah banyak sabun!" omelku mendengkus kesal.


"Haha kamu tidak lihat anak kita ini senang melihatmu aneh gini." Adrian masih mencolek wajahku sambil tertawa nakal seperti anak kecil.


"Victoria, papamu ini nakal, ya. Harus diberi pelajaran!" Aku membalas Adrian mencolek wajahnya dengan tanganku yang dipenuhi sabun tanpa henti-hentinya.


"Cukup, Sayang, ampuni aku!"


"Tidak bisa semudah itu aku mengampunimu. Rasakan ini!"


"Victoria tolong! Mama nakal nih!"


"Dasar! Masa manja sama anak sendiri sih!"


"Aku bercanda, Sayang. Pokoknya aku tetap ingin bermain dengan kalian berdua sepuasnya."


Kami berdua terus perang sabun tanpa henti-hentinya demi membuat anak kami tertawa bahagia. Selain itu, ini juga kesempatan yang bagus untuk bermain dengan keluargaku secara tidak langsung.


Setelah selesai memandikan Victoria, aku membersihkan diriku yang dipenuhi sabun akibat perbuatan usilnya dari tadi. Sedangkan ia juga kembali membersihkan dirinya lagi akibat aku membalasnya terus. Aku bersiap-siap merapikan diriku kembali lagi berpakaian menjadi seorang detektif professional lagi. Tak lupa juga aku mengikat dasinya Adrian dan juga memakaikan jas kerjanya, itu adalah rutinitas aku.


Aku menghampiri Victoria lagi lalu menggendongnya sambil mengambil tas kerjaku beserta kunci mobil bersiap-siap berangkat kerja.


"Tunggu, Sayang!" pekik Adrian tiba-tiba.


"Ada apa, Sayang?"


"Biar aku yang mengantar Victoria ke rumahmu. Kamu langsung berangkat kerja."


"Tapi nanti kamu bisa terlambat."


"Ini masih pagi, sudahlah aku yang bawa Victoria saja. Sini biar aku menggendongnya."


Aku menurutinya saja lalu menyerahkan Victoria kepadanya.


"Kalau kamu sampai terlambat, jangan salahkan aku, ya."


"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Sayang. Aku tidak mungkin memarahi Penny kesayanganku."


Adrian mencium keningku dengan hangat lalu merangkul tubuhku mengelus punggungku lembut.

__ADS_1


"Aku selalu sayang padamu, Penny."


__ADS_2