Good Partner

Good Partner
S2 : Part 18 - Call With My Daughter


__ADS_3

Aku menghampiri seorang pria paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerja timku. Tidak biasanya ada orang asing berdiri di sana.


"Maaf Anda sedang cari siapa di sini?" tanyaku sopan.


Pria paruh baya tersebut mengamati name tag yang bergantungan di leherku lalu menyipitkan matanya.


"Apa Anda kepala detektif Penny?"


"Iya benar. Ada apa mencari saya?" tanyaku balik.


"Jadi begini, saya melihat pelaku kejadian ledakan gedung yang terjadi beberapa hari yang lalu."


Aku membelalakan mataku lalu mengamati sekelilingku dengan penuh hati-hati. Aku memasuki ruang kerja timku untuk memanggil seluruh anggota timku menghampiriku.


"Kalian semua cepat berkumpul di sini!" titahku tegas.


"Ada apa, Penny? Apa telah terjadi sesuatu padamu dengan pengacara itu?" tanya Nathan menanyakan hal aneh di luar topik.


"Ish sekarang bukan waktunya membicarakanku itu!" celetuk Tania memukuli lengannya Nathan.


"Ada seorang saksi mata yang menyaksikan pelakunya saat kejadian ledakan gedung itu," ucapku berwajah serius.


"Saksi mata? Bukankah saat itu di rekaman CCTV tidak ada seorang pun melewati sana kecuali Nielsen?" tanya Hans bingung menggarukkan kepalanya.


"Kita juga tidak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya saat itu. Hanya pelaku, korban, dan saksi mata yang mengetahui kejadian sebenarnya," balasku bertopang dagu.


"Saksi mata itu sekarang ada di mana?" tanya Fina.


"Sekarang dia ada di depan ruangan kita. Kalian semua tunggu di depan ruang interogasi."


"Baik, Penny," sahut semuanya serentak.


Aku kembali menghampiri pria paruh baya tersebut di depan ruanganku lalu menuntunnya menuju ruang interogasi.


"Sebaiknya kita membicarakannya di ruang interogasi saja. Harap ikuti saya sekarang," ucapku ramah.


Aku mengantarkannya memasuki ruang interogasi sambil membawa peralatanku. Lalu Tania memberikan segelas air mineral untuk pria paruh baya tersebut. Aku menyusun semua berkas kasusnya di atas meja dan membuka buku catatanku mulai mencatat pernyataan kesaksiannya.


"Maaf kalau boleh tahu nama Anda siapa?" tanyaku berbasa basi terlebih dahulu sebelum memasuki inti pembicaraannya untuk menghindari kegugupan.


"Nama saya Xavier. Saya seorang buruh pabrik."


"Baik, Pak Xavier. Bisa tolong Anda jelaskan secara rinci kejadian ledakan gedung tersebut? Waktu itu Anda melihat pelakunya sedang apa?"


"Saat itu saya pulang ...."


*****


Saat itu Pak Xavier sedang pulang ke rumahnya menelusuri sebuah gang kecil sambil membawa sekantong plastik yang berisi bir. Karena Pak Xavier baru saja pulang dari minimarket dan minum sekaleng bir hingga membuat kepalanya sedikit terasa sakit.


"Kenapa tanahnya bergetar? Apa mungkin sekarang telah terjadi gempa bumi?"


Pandangan Xavier sedikit kabur akibat tidak kuat minum bir yang kadar alkoholnya lumayan tinggi. Ia jalan bergoyang-goyang seperti pinguin menuju rumahnya.


PRAKKK


Kantong plastik memuat birnya tiba-tiba robek hingga semua bir yang ada di dalam kantong tersebut terjatuh ke jalanan. Pak Xavier berdecak kesal berjongkok memungut kaleng birnya berserakan di mana-mana. Lalu tiba-tiba ada seorang pria misterius berlari keluar dari gedung yang sudah timbul banyak asap di dalamnya. Pria misterius tersebut tidak sengaja menyenggol Pak Xavier membuatnya mengamuk.


"Hei kalau jalan lihat dong!" pekik Pak Xavier sedikit tidak karuan.


Pria misterius tersebut tidak memedulikannya melanjutkan aksinya melarikan diri dari gedung yang sudah terbakar tersebut.


"Dasar pria aneh! Kenapa dia begitu ketakutan melihatku dan lari seperti dikejar setan?"


*****


Kembali lagi di saat aku sedang menginterogasi Pak Xavier di ruang interogasi. Aku mencatat kejadian yang dialami oleh Pak Xavier tanpa terlewatkan satu pun.


"Jadi Anda melihat pelakunya itu di gang kecil yaitu di belakang gedung tersebut?" selidikku mempertegasnya.


"Iya benar."


"Tapi apa Anda yakin pria itu adalah pelakunya? Saat itu Anda sedikit mabuk."


"Walaupun saya sedikit mabuk dan pandangan agak kabur, tapi saya bisa melihat pria itu berlari keluar dari gedung itu panik."


"Selain itu, Anda tidak melihat kejadian aneh lagi?"


"Hanya itu saja sih yang bisa saya sampaikan. Bahkan sampai sekarang rasanya membayangkan kejadian itu seram sekali apalagi korbannya para pelajar SMA," ujar Pak Xavier bergidik ngeri.


"Baiklah terima kasih atas informasi yang Anda sampaikan. Barangkali ada sesuatu yang Anda ketahui mengenai insiden pembakaran gedung, Anda bisa menghubungi saya melalui nomor ini," ucapku menyerahkan kartu namaku kepada Pak Xavier.


"Baik saya mengerti."


"Kalau begitu Anda sudah bisa meninggalkan ruangan ini," ucapku membukakan pintunya.


Usai melakukan sesi interogasinya, aku bergegas membawa semua peralatanku kembali menuju ruang kerja timku untuk mengadakan rapat darurat lagi.


"Kita harus kembali mengunjungi gedung terbakar itu lagi!" ajakku terburu-buru.


"Apa mungkin ada sesuatu yang kita lewatkan di sana?" tanya Nathan.


"Saksi mata itu melihat pembunuhnya keluar dari gedung tersebut melalui pintu belakang. Aku sangat yakin pasti ada pintu rahasia di gedung itu," jawabku.


"Tapi bukankah waktu itu kita sudah menelusuri seluruh area gedung tersebut dan tidak ada apa pun yang tersembunyi di sana?" tanya Hans mengernyitkan alisnya.


"Iya benar. Bahkan petugas kepolisian dan tim forensik sudah menyisir seluruh areanya tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan di sana," lanjut Tania.


"Bisa juga memang ada pintu rahasia dalam gedung itu untuk pelakunya melarikan diri dari sana. Pasti pelaku sudah merencanakannya sejak awal dan mempelajari denah gedung itu sebelum melakukan aksi pembunuhannya," jelas Fina berpikir keras hingga dahinya berkerut.

__ADS_1


"Kalau begitu kita pergi sekarang saja! Aku akan naik mobilmu, Nathan!" seruku.


Setibanya di gedung itu, aku dan semua anggota timku berpencar mulai mencari pintu rahasia tersebut. Tak lama kemudian, Adrian tiba di sini juga ikut bergabung denganku mencari pintu rahasianya.


"Bagaimana kalau kita ke gang belakang?" tawar Adrian.


"Baiklah," sahutku.


Aku dan Adrian berlari menuju sebuah gang kecil di belakang gedung tersebut mencari pintu rahasianya. Ternyata benar perkataan Pak Xavier, memang ada pintu rahasia untuk pelakunya melarikan diri dari sana. Pintu tersebut memang kalau dilihat sekilas seperti sebuah tembok biasa namun kalau dilihat lama-lama sebenarnya itu adalah sebuah pintu. Untung saja ada sedikit celah jadinya aku agak mudah menemukannya. Adrian mendorong pintu tersebut dengan sekuat tenaganya hingga pintunya rusak. Lalu aku dan Adrian kembali bergabung dengan anggota timku berada di dalam gedung.


"Pelakunya sengaja kabur dari pintu belakang supaya tidak tertangkap kamera CCTV di depan," ujarku.


"Lalu pelaku itu pasti selama ini sudah mempelajari denah gedung ini," lanjut Hans.


"Pasti pelakunya memasuki gedung ini melalui pintu belakang lalu keluar dari pintu lagi. Karena kebetulan gedung ini merupakan tempat Nielsen mengikuti kelas tambahan jadinya baginya ini merupakan kesempatan baik untuknya menjebak Nielsen sebagai pelaku pembunuhannya," jelas Adrian panjang lebar.


"Sayangnya gang kecil itu tidak ada kamera CCTV sama sekali di sepanjang jalanannnya," desah Tania lesuh.


"Tidak masalah kalau tidak ada kamera CCTV di sini, yang terpenting sekarang kita memiliki saksi mata," balas Adrian tersenyum cerdas.


"Pak Xavier untuk sementara ini satu-satunya saksi mata yang kita miliki mengenai kasus pembakaran gedung. Aku harap dengan kesaksiannya, kita bisa memenangkan kasus ini," tuturku mengulum senyumanku.


"Tapi kalau kita berhasil memecahkan kasus pembakaran gedung berkat kesaksiannya Pak Xavier, bagaimana dengan penyelidikan kasus penemuan mayat Angelina dan Gracia di hutan?" tanya Tania.


"Nah kalau itu sih kita harus mencari tahu lebih dalam lagi tentang kasus pembakaran gedung. Apalagi kasus ini saling berkaitan dengan kasus penemuan mayat Angelina dan Gracia."


"Omong-omong Adrian, kamu tidak memberitahu pintu rahasia gedung ini kepada siapa pun, 'kan?" tanyaku kepadanya.


"Tenang saja. Untuk sementara ini hanya aku yang mengetahuinya."


"Baguslah kalau begitu informasi ini tidak akan bocor begitu saja."


drrt...drrt...


Ada seseorang yang menghubungi Nathan tiba-tiba. Ia dengan sigap menggeser layar ponselnya mengangkat panggilan teleponnya dari ibunya.


"Halo ibu, ada apa meneleponku?"


"Anakmu ini dari tadi bandel sekali sih tidak mau makan!"


"Kalau begitu ibu coba suapi Erhan saja. Pasti dia langsung menuruti ibu deh."


"Menuruti ibu gimana. Dari tadi ibu berusaha mencoba suapinya tapi dia tetap saja tidak mau makan. Ibu sudah mencobanya lebih dari 10 menit tetap saja tidak mau makan."


"Baiklah, aku dan Tania menuju ke rumah ibu sekarang."


Nathan bergegas memutuskan panggilan teleponnya langsung menggenggam tangannya menuju mobilnya. Sebelum itu mereka berdua berpamitan kepadaku terlebih dahulu.


"Aku dan Tania harus mengurus Erhan dulu."


"Sebaiknya kamu bergegas ke rumah ibumu sekarang," usulku mengibaskan tanganku pelan.


Karena matahari sudah mulai terbenam, aku dan Adrian juga memutuskan pulang ke kediaman kami. Di kediaman, baru saja aku melepas sepatuku, Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya langsung menarik tanganku menuju sofa ruang tamu dan memelukku erat sambil menghempaskan tubuhnya terbaring di atas sofa. Posisi tubuhku saat ini terbaring tepat di atas tubuhnya Adrian.


"Sayang, lepaskan aku!" Aku memberontaknya berusaha melepas pelukannya namun ia sengaja mempererat pelukannya supaya aku tidak bisa kabur darinya.


"Tubuhku lelah, Sayang. Aku membutuhkanmu sekarang."


"Aku juga lelah dari tadi. Tapi aku mau masak makan malam."


"Oh iya, bahkan aku lupa sekarang waktunya makan malam!" Adrian melepas pelukannya dan menepuk jidatnya.


"Dasar pikun!"


"Aku bukan pikun sih. Tapi aku memang lupa beneran."


"Sama saja artinya!" Aku memukuli lengannya bergegas beranjak dari sofa.


"Ish padahal kalau pikun itu kan suka lupa hampir setiap saat. Kalau lupa barusan itu bukan pikun!"


"Memang kamu ini bodoh!"


Perkataan sindirian itu dalam sekejap membuat tubuhnya menjadi panas.


"Kamu tega sekali mengatakanku bodoh!" elaknya menghembuskan napasnya kasar membuang mukanya dariku.


Aku sudah keterlaluan menyindirnya. Aku pakai trik andalanku mencoba mengembalikan hatinya seperti semula.


"Adrian sayang ...." panggilku manis.


Namun ia tidak meresponku sama sekali lalu dengan sengaja aku mendaratkan ciuman manis pada pipinya. Dengan sigap ia membalikkan tubuhnya menghadapku lagi lalu membalasku mengecup pipiku sekilas.


"Selain kamu cerdas sebagai detektif, kamu juga cerdas merayuku manis," tuturnya mengulum senyuman hangatnya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud mengatakanmu bodoh. Kalau kamu ingin memarahiku juga tidak masalah," sesalku menunduk bersalah memayunkan bibirku.


"Tentu saja aku tidak mungkin memarahi kesayanganku sendiri. Aku semakin cinta padamu, Sayang," lontarnya lembut sambil mengelus pipiku.


"Kalau begitu aku masak makan malam dulu, ya."


Usai makan malam dan membersihkan diriku, aku menghampiri Adrian sibuk bekerja di ruang kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam laci dan memberikannya kepadaku.


"Ini khusus untukmu, Sayang."


"Hmm isinya apa, ya?" Dengan penuh penasaran aku menggoyangkan kotak yang bisa dikatakan ringan.


"Coba saja buka!"


Aku membuka kotak hadiah pemberiannya isinya berupa bros motif bunga yang terlihat indah membuat pandanganku berbinar. Tapi ini aneh sekali. Tumben Adrian memberikan sebuah bros untukku. Padahal hari ini bukan hari spesial bagi kami atau Victoria.

__ADS_1


"Kamu suka brosnya? Tadi sebenarnya setelah makan siang bersamamu, aku mampir ke sebuah toko aksesoris menemukan bros cantik ini yang sangat cocok dipakai untuk istriku yang cantik juga."


"Tentu saja aku suka sekali sama brosnya! Kamu memang tahu seleraku, terima kasih, Sayang!" seruku memeluknya sekilas.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya."


"Aku jadi teringat sewaktu dulu kamu pertama kali memberiku hadiah sebuah bros bermotif bunga juga. Tapi ternyata bros itu kamu memasang alat pelacak tanpa sepengetahuanku."


"Bros yang sedang kamu pegang sekarang juga sudah kupasang alat pelacaknya."


Aku bergeming mengamati bros tersebut dengan fokus. Ternyata memang benar ada alat pelacak yang sudah terpasang di sana. Padahal aku mengira ia sungguh memberikan hadiahnya spesial untukku karena keinginannya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk melacak keberadaanmu diam-diam. Seharusnya aku meminta izin darimu dulu," sesalnya tertunduk bersalah.


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja sambil merangkul tangannya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu melakukan ini karena kamu sangat perhatian padaku. Aku lebih suka kamu berbuat begini."


"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu suatu hari nanti. Makanya mulai sekarang aku akan terus memantau posisimu di mana pun kamu berada."


"Memang kamu adalah pengawal pribadiku yang terbaik sejak dulu. Aku suka kamu berlagak seperti seorang pahlawan ketika aku sedang menghadapi bahaya." Aku semakin mempererat pelukannya dan membenamkan kepalaku pada tubuhnya.


"Kalau bisa sih aku tidak ingin kamu terlibat dalam bahaya sama sekali. Aku tidak suka melihatmu terluka terus."


"Aku juga maunya gitu sih. Apalagi bekas lukanya itu bisa merusak tubuhku."


Adrian menatapku terfokus sambil mengangkat kepalaku membelai rambutku lembut.


"Sekarang aku tidak ingin memikirkan bahaya dulu. Yang terpenting sekarang pikiranku hanya terfokus padamu saja."


drrt...drrt...


Ponselku bergetar di atas meja. Aku dengan sigap mengambil ponselku dan menggeser layar ponselnya mengangkat panggilan telepon dari ibu.


"Mama!"


Suara yang terdengar sangat tidak asing bagiku membuatku ingin memeluknya sekarang juga. Aku menyalakan loudspeaker supaya Adrian bisa mendengar suara indah malaikat kecil kami.


"Victoria, mama sangat merindukanmu."


"Papa juga merindukanmu, Victoria."


"Aku rindu papa dan mama juga!"


"Victoria, mama nyalakan kameranya, ya, supaya bisa melihat muka mama dan papa jelas."


Aku menyalakan kameranya dan menidurkan ponselku supaya Adrian juga tertangkap kameranya. Sedangkan ibu juga menyalakan kamera ponselnya agar aku dan Adrian bisa melihat wajah anak kami dengan jelas.


"Wah, anak kesayangan papa tetap terlihat imut nih!" sapa Adrian melambaikan tangannya.


"Victoria selama ini tidak pernah berbuat nakal, 'kan?" tanyaku manis.


"Aku jadi anak yang baik selalu menuruti kakek dan nenek selama ini."


"Syukurlah untung saja Victoria masih menjadi anak baik walaupun papa dan mama tidak berada di sisimu belakangan ini." Air mataku ingin mengalir dari kelopak mataku tapi aku terus menahannya supaya Victoria tidak sedih melihatku.


"Aku ingin main bersama papa dan mama lagi! Aku ingin pulang!" rengeknya mulai manja.


Aku terdiam sejenak bingung ingin menjelaskan kepada Victoria mengenai situasi saat ini. Apalagi kondisi sekarang sangat tidak kondusif.


"Tenang saja, Anakku. Nanti secepatnya bisa main bersama papa dan mama lagi. Papa pasti mengajakmu bermain ayunan sepuasnya dan membacakan dongeng untukmu setiap malam," lontar Adrian tersenyum ceria.


"Horey! Aku tidak sabar bertemu papa dan mama!" sorak Victoria girang.


"Mama dan papa juga tidak sabar bertemu Victoria," ucapku tersenyum tipis.


"Victoria, ini sudah malam sebaiknya tidur saja supaya tidak sakit," saran Adrian.


"Oke, aku mau tidur sekarang."


"Selamat malam, *My little angel*. Semoga bermimpi indah, ya," ucap Adrian.


"Tidur yang nyenya, ya, Victoria," ujarku melambaikan tanganku.


"Bye bye, Mama papa." Victoria melambaikan tangannya.


"Bye, Victoria," lontarku dan Adrian serentak.


Percakapan jarak jauh ini dilanjutkan oleh ibu. Kondisi kamera ponselku dan ibu masih menyala.


"Penny, sebenarnya setiap hari Victoria sangat merindukanmu. Bahkan dia sampai menanyakan kabarmu terus padaku. Apalagi dia sangat merindukanmu Adrian."


"Aku tahu Victoria selama ini pasti merindukanku dan Adrian. Bahkan rasanya sekarang aku ingin bermain bersamanya."


"Maka dari itu, kalian berdua pecahkan kasusnya secepatnya dan bisa bertemu dengan putri kesayangan kalian lagi."


"Tenang saja, Ibu. Aku dan Penny pasti akan cepat menyelidiki kasus ini supaya bisa bertemu Victoria."


"Adrian, ibu hanya ingin berpesan padamu satu hal yaitu kamu harus selalu melindungi Penny setiap saat. Jangan membuat dirinya terluka lagi."


"Kalau masalah itu serahkan saja semuanya padaku. Aku pasti akan melindunginya tanpa peduli aku menghadapi bahaya."


"Syukurlah kalau begitu ibu tutup teleponnya dulu, ya. Ini sudah malam, ibu tidak akan mengganggu kalian lagi."


"Pokoknya ibu dan ayah juga harus jaga kesehatan," pesanku.


"Iya tenang saja, Penny. Ibu, Peter, dan Randy masih sehat seperti biasanya."


"Aku tutup teleponnya dulu ya, Bu. Selamat malam."

__ADS_1


"Selamat malam, Penny."


__ADS_2