Good Partner

Good Partner
Part 49 - Polisi yang Mencurigakan


__ADS_3

Aish! Memalukan sekali rasanya bertabrakan dengan orang asing di saat genting begini. Memang sikapku sangat ceroboh tidak pernah berubah. Namun, aku baru menyadari bahwa aku bertabrakan dengan seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda denganku.


Pria itu mengulurkan tangannya padaku. "Kamu tidak apa-apa?"


Aku tidak menerima tawarannya, lebih memilih berusaha berdiri mandiri karena aku memang tidak suka bersentuhan dengan orang asing. "Aku baik-baik saja. Maaf telah menabrakmu tadi soalnya aku sedang terburu-buru."


Pria itu berjongkok dan menatap luka di kaki kiriku. "Kakimu sepertinya terluka."


"Aku baik-baik saja. Kalau tidak ada hal lain lagi, aku permisi dulu." Aku hendak berjalan menuju mobilku tapi dicegah pria itu.


"Kamu ikut denganku sekarang!" Pria itu menarik tanganku dengan paksa menuju suatu tempat.


"Ke mana kita? Lepaskan aku!" pekikku memberontaknya bberusaha melepas genggaman pria itu, sejujurnya aku sedikit tidak nyaman diperlakukan seperti ini.


Pria itu mengajakku ke apotek terdekat membelikan obat untukku. Setelah selesai membayar obat, pria itu menuntunku duduk di sebuah bangku kosong depan apotek sambil membuka bungkusan obat.


Aku menatapnya dengan gugup. Cara ia memperlakukan aku sungguh membuatku merasa canggung. Berbeda dengan Adrian sewaktu dulu merawatku sungguh penuh kasih sayang yang tulus. "Apa yang kamu lakukan?"


"Kakimu terluka karena menabrakku tadi, sebagai gantinya aku akan mengobati lukamu."


Aku menunduk sambil menyentuh betisku. "Aku baik-baik saja, bahkan aku masih bisa berlari."


"Tahan sebentar." Pria itu mengoleskan obat itu ke luka kakiku.


"Aaah perih!"


"Sudah selesai!" Pria itu memasukkan obat ke dalam kantung plastik.


Sebenarnya aku bingung dengan pria ini. Apakah ia adalah penguntit yang suka modus dengan wanita asing? Tapi aku harus berterima kasih padanya karena sudah mengobati kakiku.


"Terima kasih sudah mengobati luka kakiku," ucapku tersenyum ramah padanya.


"Ini bukan hal yang besar. Aku harus bertanggung jawab dengan lukamu itu," balas pria itu merendah.


Aku mulai penasaran dengan pria itu yang selalu berbicara informal padaku, padahal belum memperkenalkan diri. "Kita padahal saling tidak mengenal satu sama lain. Tapi kamu berbicara santai denganku dan juga kelihatannya kamu seumuran denganku atau tidak terlihat beda jauh."


"Apakah kamu seorang detektif?" tanya pria itu tiba-tiba.


Mataku terbelalak. "Bagaimana kamu tahu itu?"


"Kalung name tagmu itu menunjukkan bahwa kamu seorang detektif," ujar pria itu sambil menunjuk ke arah name tagku.


"Iya. Aku Kepala Detektif Penny Patterson," ucapku dengan ramah.


"Senang berkenalan denganmu, Detektif Penny. Aku Josh Wilson yaitu CEO dari stasiun TV BYZ." Josh mengeluarkan kartu namanya dari dompetnya dan memberikannya kepadaku.


"Oh stasiun TV BYZ, aku pernah berkunjung kesana beberapa kali saat sedang menyelidiki kasus."


"Apakah salah satu karyawanku pernah terlibat dalam kasusmu?" tanya Josh mulai penasaran.


"Dia terlibat tapi bukan pelaku kejahatan, dia berperan sebagai saksi dalam kasus itu."


"Begitu rupanya."


"Omong-omong, kenapa kamu mengunjungiku tempat pembuangan mobil bekas?" tanyaku penasaran juga.

__ADS_1


"Oh, aku sedang ingin memeriksa kondisi mobil perusahaanku yang terbuang di sana. Mobil itu sudah sangat tua dan tidak terurus lagi sehingga aku hendak untuk menghancurkannya begitu saja."


Josh beranjak dari bangku terburu-buru. "Aku harus kembali ke kantor dulu, ada sesuatu yang harus kulakukan di sana."


"Baiklah. Aku permisi pergi dulu." Aku bergegas bangkit dari bangku sambil membawa obat-obatanku kembali ke tempat parkir.


Di tengah perjalanan menuju kantor, aku masih merenungkan pelaku yang mengintaiku terus. Kira-kira siapa yang menjadi penyusup di kantorku? Yang pasti bukan salah satu dari timku. Aku sudah mengenal mereka sejak lama, mereka tidak mungkin tiba-tiba berbuat seperti itu. Sedangkan Fina yang biasanya sifatnya menyebalkan tapi ia seorang wanita. Lagi pula juga untuk apa ia mengintaiku, walaupun ia cemburu padaku selama ini.


Aku berjalan memasuki kantor sambil menatap semua orang yang ada di sini. Tingkah laku mereka seperti biasa tidak ada hal yang mencurigakan. Danny dari Unit 2 juga tidak melakukan hal yang mencurigakan bahkan ia masih bisa bersantai minum kopinya.


Sedangkan aku melihat anggota timku itu, Hans sibuk menggoda Fina yang sedang duduk menatap layar monitor.


"Fina, apakah kamu mau minum kopi?" tawar Hans sedikit gugup sambil memainkan kuku jari.


Fina menatap Hans sekilas lalu kembali fokus pada layar monitor. "Tidak usah. Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku."


"Ayolah, Fina! Kita minum kopi saja supaya kita bersemangat untuk bekerja." Hans mulai merayu Fina dengan manja.


Fina memukuli meja sambil memijit pelipis. "Pokoknya sekarang kamu jangan ganggu aku! Aku sedang sakit kepala sekarang!"


Hans sangat syok sampai tubuhnya terasa kaku. Akhirnya ia lebih memilih menyerah daripada hubungannya dengan Fina semakin hancur. "Baiklah kalau kamu tidak mau minum kopi."


Fina menghembuskan napas pasrah, akhirnya netranya bertemu dengan netra Hans, tapi dengan tatapan serius. "Ya sudah deh, aku mau minum segelas kopi. Tolong buatkan untukku!"


Senyuman ceria bangkit pada sudut bibir Hans. "Baiklah akan kubuatkan kopi yang enak untukmu."


Hans dengan semangat mengambil kopi instan yang ada di rak dan menyeduh kopi dengan termos. Lalu, ia menaruh segelas kopi buatannya di meja kerja Fina.


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku saja melihat kelakuan mereka sambil berjalan menghampiri Nathan dan Tania yang juga menyaksikannya sambil menggelengkan kepala mereka dan menertawainya.


"Aku setuju denganmu, Tania. Lagi pula Hans belum punya pasangan, Fina juga. Dilihat lama-lama mereka berdua akan menjadi pasangan yang cocok," lanjut Nathan tertawa terkekeh.


"Kamu pasti juga mendoakannya, Penny?" tanya Tania sambil menyenggol lenganku.


"Aku sih hanya mendoakan yang terbaik saja untuk mereka," jawabku hanya bisa tersenyum saja.


Tania menepuk-nepuk pundakku. "Sudah bilang saja bahwa kamu senang melihat Fina jadian sama Hans. Jadinya Fina tidak akan pernah merebut Adrian darimu lagi."


Pikiranku tidak bisa terfokus dengan masalah asmara. Menurutku, sekarang lebih darurat masalah kasus yang membuatku sakit kepala. Urusan hubungan asmara belakangan dulu.


Aku memajukan kepalaku mendekati telinga Nathan dan Tania. "Omong-omong, apakah kalian merasa ada salah satu anggota polisi di sini yang bertingkah aneh belakangan ini?"


Nathan mengedikkan bahu. "Menurutku tidak. Memangnya ada apa?"


"Apakah kamu mencurigai seseorang di sini?" tanya Tania mulai penasaran karena sikapku sangat aneh pagi-pagi.


"Aku hanya curiga. Pokoknya kalian harus berwaspada mulai sekarang, jangan bertindak gegabah. Aku tidak tahu siapa di antara kita di sini yang menjadi penyusup dan bersekongkol dengan pelaku pembunuhan."


"Tenang saja, kita akan selalu berwaspada setiap saat, Penny. Lagi pula kita sudah terlatih dengan hal ini sejak kasus Pak Colin dulu," balas Nathan berlagak percaya diri.


"Aish jangan ungkit kasus itu lagi! Gara-gara kasus itu aku jadi tidak bisa makan dengan tenang!" keluh Tania mencebik kesal.


"Memang pikiranmu itu hanya makanan saja sejak dulu!" celetuk Nathan menggelengkan kepalanya.


Malam harinya, aku mengendarai mobilku menuju kediamannya Adrian. Aku memasuki kediamannya lalu memandanginya sedang sibuk memasak makan malam. Tidak kusangka ia pulang lebih awal dariku.

__ADS_1


Aku berjalan menghampirinya. "Kamu sudah pulang sejak kapan?"


Adrian menolehkan kepala sekilas. "Tidak lama kok. Sekitar 20 menit yang lalu aku sampai di sini."


"Aroma makanan ini menggoda perutku berbunyi terus dari tadi." Aku menyunggingkan senyuman usil mengelus perutku.


"Sabar ya sebentar lagi matang juga kok. Kamu tunggu saja dulu sambil beristirahat duduk di sofa."


"Baiklah, aku duduk di sofa dulu sambil melemaskan kakiku ini." Aku berjalan menuju ruang tamu menghempaskan tubuhku ke sofa sambil tiduran.


Tak lama kemudian, Adrian selesai memasak menghidangkan masakannya di meja makan. Adrian berjalan menghampiriku yang sedang tiduran di sofa.


Melihat kakiku ada memar, ia langsung berjongkok di hadapanku sambil menyentuh kakiku dengan panik. "Kakimu terluka. Kamu kenapa?"


Aku memposisikan tubuhku berdiri tegak. "Tadi aku jalan terburu-buru lalu menabrak orang terjatuh sampai luka begini. Sekarang lukanya sudah mendingan kok."


"Aduh Penny, makanya dari dulu aku selalu mencemaskanmu. Hal kecil saja kamu sampai ceroboh begini!" omel Adrian mulai rewel lagi.


Mendengar nada bicaranya cerewet, membuat bibirku memanyun. "Tenang saja. Ini hanya luka kecil saja. Kamu jangan terlalu berlebihan deh."


Adrian mengambil kotak peralatan obat di lemari penyimpanan lalu berjongkok di hadapanku sambil mengeluarkan beberapa obat. Ia mengoleskan obat pada kapas mengobatiku perlahan.


"Tahan sebentar. Memang ini sedikit perih." Adrian mengoleskan obat sambil meniupnya perlahan.


Bagiku lukaku tidak terasa perih sama sekali karena ia yang mengobatiku sekarang. Hanya Adrian selalu membuatku tidak merasa kesakitan. Spontan aku mengelus kepalanya lembut tersenyum manis padanya.


Setelah mengobati lukaku, ia menempelkan perbannya lalu duduk di sebelahku sambil mendekapku erat. "Bagaimana? Kakimu masih sakit?"


Aku menggeleng. "Kalau kamu yang mengobatiku, rasanya tidak sakit sama sekali."


Adrian mencium pipiku sekilas. "Karena aku mengobatimu lembut supaya kamu tidak merasa kesakitan."


"Selain itu, kamu mengobatiku penuh kasih sayang," sambungku tersenyum ceria padanya.


Tiba-tiba Adrian menampakkan raut wajah serius penuh rasa penasaran. "Omong-omong, kamu tadi habis dari mana sampai terburu-buru tabrak orang sampai terjatuh?"


"Tadi aku mengunjungi tempat pembuangan mobil bekas untuk mencari mobil yang dipakai pelaku yang mengintaiku waktu itu."


"Lalu hasilnya?"


Aku menghembuskan napas lesu. "Mobil itu sudah dihancurkan pelaku. Aku sudah bertanya dengan salah satu petugas di sana, katanya waktu itu yang menyuruh menghancurkan mobil itu adalah seorang anggota polisi."


Dahi Adrian berkerut. "Anggota polisi? Apakah kamu yakin?"


"Kata petugas di sana sih dia melihat pelaku itu menggunakan lencana polisi. Sudah pasti itu adalah polisi. Polisi yang bekerja di kantorku sehingga dia tahu jadwal aku pulang ke rumah."


"Tapi siapa yang bersekongkol dengan pelaku? Adakah orang di kantormu yang bertingkah sangat mencurigakan?"


Aku mengedikkan bahu. "Tidak sih untuk saat ini."


Adrian mengelus kepalaku lambat laun. "Pokoknya mulai sekarang kamu harus berwaspada. Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, kamu harus menghubungiku! Aku pasti akan mendatangimu dan menolongmu."


Aku menyandarkan tubuhku pada pundaknya manja. "Iya tenang saja. Kamu sangat cocok menjadi pengawal pribadiku dan malaikat pelindungku."


Sedangkan di sisi lain, di tengah jalan yang sangat gelap, ada seseorang yang memakai lencana polisi berjalan dengan santai tampak dari belakang sedang menuju ke suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2