Good Partner

Good Partner
Part 64 - Psikopat Sesungguhnya


__ADS_3

Josh berjalan menuju gudang anggurnya dan membuka salah satu lemari penyimpanan. Josh menekan sebuah tombol di balik rak anggur dan suatu pintu rahasia terbuka secara lebar. Lalu ia memasuki ruang rahasia, menyusuri lorong sangat panjang dengan menggunakan senter.


Saat tiba di ujung lorong, ada sebuah pintu lagi di mana pintu tersebut dipasang kode akses. Ia memasukkan kode akses dan pintu itu secara otomatis terbuka. Di dalam ruangan itu terdapat banyak benda sangat unik seperti kameranya Maria, antingnya Emma dan juga ponselnya Yulia.


Tidak hanya itu juga, selain semua barang korban yang menghilang. Ia menghampiri dua tempat tidur pasien yang terletak pada sudut ruangan. Dua korban yang menghilang secara misterius terjadi setahun yang lalu itu ternyata dalam kondisi koma dan selama ini dikurung Josh.


Josh mengambil salah satu peralatan medis berupa alat suntikan dan menyuntikkan sebuah cairan di selang infus salah satu gadis itu sambil tersenyum seperti psikopat. "Apakah kalian tahu? Hari ini aku sedang berulang tahun. Seharusnya di saat begini kalian harus memberiku ucapan dan merayakannya bersama. Tapi sayang sekali karena kondisi kalian seperti ini, aku jadi merasa kesepian tidak ditemani kalian berdua."


Setelah memberikan suntikan cairan aneh itu, ia berjalan menuju tempat ia menaruh barang-barang korban yang menghilang. Ia mengambil antingnya Emma memikirkan kejadian waktu itu.


*****


8 Desember 2021


Di saat Emma selesai menyantap makan malamnya lalu mencuci piring-piring kotor. Tiba-tiba ada seseorang menekan tombol bel rumahnya. Ia melepaskan celemek dan berjalan menuju pintu, menyambut kedatangan tamu tidak terduga membuatnya bingung.


"Apakah kamu Emma?" sapa Josh tersenyum seperti psikopat.


Dahi Emma mengernyit. "Iya, itu aku. Sepertinya aku pernah melihatmu bersama temanku bernama Maria."


"Iya, aku adalah teman dekat sekaligus kliennya Maria. Namaku Josh Wilson."


Josh berusaha mengintip seisi rumah Emma. "Bolehkah aku masuk?"


"Silakan masuk." Emma mempersilakan Josh masuk ke dalam rumahnya.


Josh memasuki rumahnya Emma, berjalan menuju ruang tamu sambil menatap foto Emma bersama dengan Maria saat di taman bermain. Ia mengambil foto itu tersenyum sendiri.


"Kalian berdua sangat akrab ya," ucap Josh berbasa-basi.


"Kami memang sudah akrab sejak SMP."


"Tapi teman kesayanganmu ini sayang sekali sudah meninggal."


"Dia meninggal karena dibunuh pembunuh gila. Padahal temanku ini tidak berbuat salah apa-apa. Pokoknya aku harus menangkap pembunuh itu dan membunuhnya sebagai balas dendam atas kematian Maria."


Josh mulai kesal saat mendengar ucapan Emma, ia membanting foto yang dipegangnya hingga bingkai fotonya pecah.


Emma mengamuk melihat salah satu benda favoritnya rusak. Emma mendorong Josh sampai menabrak tembok. "Apa yang kamu lakukan?!"


"Kamu bilang pembunuh itu gila. Justru teman kesayanganmu itu yang gila!" bentak Josh sambil mengeluarkan sarung tangan karet dari saku celananya.


Josh memakai sarung tangannya lalu dengan sigap menghampiri Emma sedang berdiri ketakutan dan mencengkeram lehernya.


"LEPASKAN AKU!" pekik Emma memberontak berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.


"Ini akibat kamu menganggap pembunuh itu gila. Kalau kamu tidak berkata lancang, mungkin aku masih akan mengampuni nyawamu saat ini," bentak Josh sambil mencekiknya dengan keras.


"LEPASKAN! DASAR PEMBUNUH GILA! AKAN KUPANGGIL POLISI MENANGKAPMU SEKARANG JUGA!" teriak Emma suaranya mulai berserak.

__ADS_1


"Kamu mau panggil polisi? Oh ya satu hal lagi, aku dengar dari asisten pribadiku bahwa ada dua detektif yang mengunjungi rumahmu tadi siang. Kamu mengatakan sesuatu pada mereka?"


"AKU AKAN UNGKAPKAN SEMUA KEBENARAN ITU KEPADA DUA DETEKTIF ITU. PERSIAPKAN DIRIMU SAJA SEBELUM KAMU DITANGKAP MEREKA BERDUA!" Napas Emma mulai terengah-engah.


"KAMU TIDAK AKAN BISA BERKOMUNIKASI DENGAN DUA DETEKTIF BODOH ITU LAGI! AKAN KUBUNUH KAMU SEKARANG JUGA! RASAKAN AKIBAT PERBUATANMU ITU!"


Ckkk...ckkkk


Josh mencekik lehernya Emma dengan sekuat tenaga hingga membuat Emma mulai kesulitan bernapas dan berkeringat dingin. Secara perlahan kedua mata Emma terpejam dan tidak sadarkan diri terjatuh ke lantai. Josh memeriksa kondisi tubuhnya Emma dan sudah tidak bernyawa. Ia dengan sigap mengambil beberapa peralatannya untuk menghilangkan sidik jari yang menempel di bingkai fotonya Emma. Setelah itu, ia sengaja membuat rumah Emma berantakan melempar semua barang yang ada di rak maupun di lacinya. Kemudian ia menghampiri tubuhnya Emma yang sudah mulai dingin sepertimayat, terobsesi melihat antingnya Emma yang terpasang di kedua telinga. Ia melepaskan anting itu perlahan dan menyimpannya di dalam saku celananya.


*****


Josh sedang menatap anting itu sekali lagi sambil tertawa sendiri membayangkan kejadian waktu itu. Ia memasukkan anting itu dengan hati-hati ke dalam sebuah kotak khusus.


"Antingnya ini walaupun terlihat murahan tapi entah kenapa aku sangat menyukainya dan ingin kujadikan sebagai cenderamataku."


Kembali lagi pada saat aku bersama Adrian pulang dari rumahnya Josh, kepalaku masih sedikit terasa sakit hingga tubuhku hampir terjatuh saat berjalan menuju ruang tamu.


Dengan sigap Adrian menahan tubuhku hampir terjatuh. "Kamu tidak apa-apa?"


Aku menggeleng lemas. "Aku baik-baik saja. Mungkin aku harus beristirahat yang cukup agar tidak pusing."


"Sini biar aku mengantarmu ke kamarmu dulu." Adrian menuntunku sambil merangkul bahuku memasuki kamarku.


Aku duduk di atas ranjang secara perlahan sambil menyandarkan tubuhku lemas pada bantalku.


"Akan kuambilkan air putih untukmu," ucap Adrian bergegas mengambilkanku air putih tapi aku mencegahnya.


Adrian membalikkan tubuh. "Kenapa, Penny?"


"Temani aku sebentar di sini. Aku ingin kamu tetap berada di sisiku terus."


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini jika itu keinginanmu."


Dengan sigap Adrian menduduki tepi ranjang, lalu mendekapku dengan hangat sambil mengelus kepalaku. Di saat kondisiku lemas begini, hanya membutuhkannya berada di sisiku cukup menyembuhkan rasa sakit kepalaku.


"Maaf ya, aku membuatmu repot," ucapku menunduk malu.


"Tidak masalah. Aku tahu kamu belum pernah mencoba minuman alkohol seperti itu. Wajar kamu sakit kepala. Aku juga sama sepertimu sewaktu dulu."


Aku membelalakan mataku. "Berarti ini bukan pertama kalinya kamu minum wine?"


Adrian menggeleng polos. "Bukan kok."


Aku menghela napas pasrah. Aku terlalu egois kesannya masih belum mengetahui kepribadian pacarku sendiri sepenuhnya. Sedangkan pacarku sangat mengenalku sudah bagaikan suamiku. Memang aku sangat payah dalam hal hubungan asmara akibat terlalu fokus bekerja. "Aku baru tahu. Kenapa kamu lebih mengetahui tentang diriku?"


"Karena aku sungguh menyayangimu sepenuh hatiku," ucapnya tersenyum hangat padaku mempererat pelukannya.


Lagi-lagi aku merasa sedikit bersalah karena Adrian lebih mengenal karakterku dibandingkan aku mengenal karakternya. "Tapi aku tidak terlalu banyak tahu tentang dirimu,"

__ADS_1


Adrian memasang tatapan penuh makna, mengelus pipiku lembut. "Tidak apa-apa, Penny. Aku tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting, kamu juga menyayangiku dengan sepenuh hatimu."


Rona merah menyala pada pipiku membuatnya mulai panik menyentuh dahiku. "Kenapa pipimu sangat merah? Apakah kamu demam?"


Rasanya ingin kujitak kepalanya setiap kali pipiku memerah. Memang dasar tidak peka juga sejak dulu! "Ish kamu jadi orang tidak peka sama sekali! Pipiku memerah begini karena aku malu, bukan karena aku demam!"


"Ayolah Penny, jangan mengambek. Maaf aku tidak peka terus. Lain kali aku akan berusaha lebih peka," rayunya manis memajukan kepalanya pada wajahku sambil mengedipkan mata.


"Kalau kamu sekali lagi tidak peka, akan kusentil dahimu itu sampai memerah juga," ancamku menyunggingkan senyuman usil.


"Ampuni aku, Penny, jangan membuatku kesakitan."


Aku tertawa terbahak mengamati betapa polosnya kekasihku setiap kali memasang wajah memelas. "Aku mana mungkin menyakiti pacarku sendiri seperti itu. Tenang kok, aku hanya bercanda!"


Adrian mencubit pipiku lembut. "Kamu gemas sekali, Penny!"


Aku mengelus dahinya dengan tatapan kasih sayang. "Adrian, apakah kepalamu sungguh tidak pusing?"


"Sebenarnya tadi sedikit pusing. Tapi karena aku selalu berada di sisimu, sekarang tidak terasa pusing lagi."


"Kepalaku juga tidak sakit karena kepalaku terus bersandar padamu, Adrian."


"Aku masih ingin bermain bersamamu, Penny. Kita jarang sekali bermain sejak menangani kasus ini. Untung saja tadi aku masih bisa memperlakukanmu manis walaupun di rumah orang lain."


"Nanti juga kita akan pasti bisa bermain bersama lagi. Tadi kamu menyuapiku kue cokelat saja, aku sudah sangat bahagia."


"Aku pasti akan memanfaatkan waktu luangku untuk bersantai bersamamu, Penny."


Adrian beranjak dari ranjang menyelimutiku dengan selimut tebal. "Sudahlah lebih baik kamu beristirahat yang cukup saja. Besok kamu harus kembali bekerja."


"Baiklah aku akan tidur sekarang. Selamat malam, Adrian."


"Selamat tidur, Penny."


Aku berangkat lebih awal untuk mengadakan rapat darurat mengenai Inspektur William. Setibanya di kantor sebelum turun dari mobilnya Adrian, aku berpamitan dulu dengannya.


"Aku masuk ke dalam dulu ya. Aku harus memanggil semua anggota timku berkumpul di ruang rapat."


"Baiklah. Kalau kamu butuh bantuanku, kamu harus menghubungiku, ya."


"Tenang saja, aku pasti akan selalu menghubungimu."


Setelah berpamitan dengannya, aku menghampiri teman-temanku yang baru saja tiba di kantor, lalu aku memanggil mereka semua ke ruang rapat.


"Kalian semua cepat masuk ke ruang rapat sekarang!" panggilku dengan tegas.


Nathan memutar bola mata bermalasan. "Ini masih pagi, Penny. Apakah kita tidak bisa melakukannya nanti siang?"


"Aku juga setuju dengan Nathan. Tubuhku masih ingin tidur terus rasanya," lanjut Hans sambil meregangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ini penting, pokoknya aku tunggu kalian di ruang rapat sekarang." Aku mengambil barang-barang keperluanku membawa ke ruang rapat.


__ADS_2