
Karena hari ini merupakan hari libur jadinya aku dan Adrian tidak perlu memusingkan mengenai penyelidikan kasusnya terlebih dahulu. Di pagi hari yang cerah disambut udara sejuk membuat suasana hati kami terasa sangat nyaman juga. Aku juga tidak perlu membuatkan sarapan terburu-buru tidak seperti ketika hari kerja aku memasak tanpa peduli makanannya terasa enak atau tidak. Sementara Adrian sendiri juga dengan santainya membuatkan kopi spesial buatannya untukku menggunakan mesin espresso.
Aku menghidangkan nasi omeletnya di atas meja makan sambil menyiapkan sendok untuk kami. Adrian juga baru selesai membuatkan kopinya untukku lalu meletakkan cangkir kopinya di atas meja makan. Lumayan aku dan Adrian bisa sedikit menenangkan pikiran kami di hari libur walaupun sebenarnya kami tetap harus melanjutkan penyelidikan kasusnya hingga tuntas. Sebelum itu aku menikmati pagi yang indah ini melakukan kegiatan manis bersamanya sampai kami puas. Aku mencicipi kopi buatannya secara nikmat hingga rasanya tidak ingin menghabiskannya langsung.
"Mmm seperti biasa sensasi rasanya sangat pas melekat terus dalam mulutku," ucapku memejamkan kedua mataku melebarkan senyumanku.
"Untung saja ilmu baristaku masih tertanam di otak. Kan siapa tahu gara-gara menyelidiki kasus pembunuhan tidak jelas itu aku jadi lupa cara membuat kopi yang enak untukmu."
"Akhirnya aku bisa sedikit bersantai denganmu lagi di hari libur. Walaupun nanti kita akan lanjutkan pekerjaan lagi." Raut wajahku berubah kembali menjadi cemberut.
Memang hari libur menyebalkan. Aku hanya berharap masa suram ini segera berakhir supaya bisa bermain dengan suamiku leluasa.
"Sayang ...." lirihnya.
"Kenapa, Sayang?"
"Aku berharap hanya minggu ini hari libur kita harus melibatkan pekerjaan. Aku tidak mau minggu depan kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama. Memasak bersamamu, bermain dengan anak kita, pergi bersama ke tempat yang menyenangkan, atau kegiatan lainnya bisa membuat hidup kita terasa bahagia terus. Aku rindu melakukan itu semua di hari libur."
"Kamu lupa dengan satu hal lagi."
"Sekarang aku ingin menambahkan satu kegiatan baru lagi yaitu melihat bintang bersamamu dan Victoria setiap malam sebelum tidur."
Aku mengelus pipinya lalu mencubit pipinya lembut.
"Untung saja kamu tidak melupakan salah satu kegiatan yang dapat menghiasi kehidupanku juga."
"Aku lelah saja menyelidiki kasus ini sampai rasanya mataku berat membukanya." Tatapannya bermalasan sambil mengucek matanya.
"Oh, jadi kamu tidak niat menatapku di pagi hari. Baiklah aku akan habiskan makanannya sekarang lalu aku kembali tidur lagi!"
"Sayang, maksudku bukan--"
Helaan napasku kasar sambil menghabiskan makananku terburu-buru hingga membuatku batuk tersedak.
"Uhuk...uhuk..."
Adrian berinisiatif mengambilkan segelas air putih untukku lalu merangkul bahuku hangat. Aku dengan sigap minum airnya sambil memukuli dadaku.
"Kamu ceroboh sekali, Penny! Hanya karena aku berkata begitu, kamu sudah ngambek!" gerutunya mengomeliku sambil mengelus punggungku.
"Ya habisnya tadi kamu bilang matamu terasa berat di pagi hari, pasti kamu juga malas lihatku dan sudah bosan denganku!" celetukku memalingkan mataku darinya.
"Lihat aku, Penny!"
Tatapan mataku langsung tertuju padanya. Adrian memasang netra gagahnya terlihat imut membuatku rasanya ingin mencubit pipinya terus sampai memerah.
"Iih kenapa sih kamu terlihat menggemaskan sekali, Adrian!" Aku mencubit pipinya mendalam.
"Aduh sakit, Penny!"
"Ya sudah, kalau kamu merasa kesakitan lebih baik aku berhenti saja."
"Tapi selama kamu suka, aku tidak mempermasalahkannya, Penny," ujarnya mengecup pipiku manis.
Tanganku terlepas dari pipinya lalu aku mengecup pipinya sekilas. Ia membalasku menghujani ciuman pada pipiku dan begitu sampai seterusnya kami saling menghujani ciuman pada pipi.
"Ish kalau begini aku kapan bisa lanjutkan makannya lagi!" sungutku meletakkan sendokku kasar.
"Baiklah kita lanjutkan saja makannya."
Sementara di sisi lain berbeda dari pasangan yang sudah bersikap manis di pagi hari, Fina dan Hans sudah selesai melakukan sarapannya terlebih dahulu lalu melanjutkan memikirkan penyelidikan kasusnya di ruang tamu. Hans duduk bermalasan membentangkan kakinya di atas sofa sambil menguap terus.
"Fina, sepertinya kita harus beristirahat dulu deh. Belakangan ini kita terlalu sibuk memikirkan kasusnya sampai kurang tidur," usul Hans.
"Kalau kamu pemikirannya mau enak terus, kapan kasus ini akan segera berakhir?"
"Tapi kita kan manusia, bukan robot Artificial Intelligence yang bekerja selama seharian penuh. Setidaknya kita bisa melakukan kegiatan lain yang jauh lebih santai di hari libur. Aku juga bosan melakukan pekerjaan selama seminggu penuh," oceh Hans memicingkan matanya.
Fina mendengkus kesal dan membanting laporan berkas kasusnya di atas meja ruang tamunya.
"Aku juga sebenarnya mau bersantai di hari libur. Apalagi bersantai denganmu. Aku rindu bermain di Arcade bersamamu sampai puas," celotehnya meluapkan kekesalannya.
"Kalau begitu hari ini kita bermain di sana saja. Mari kita bermain sampai puas."
__ADS_1
"Tapi aku tetap tidak mau."
"Memangnya kenapa? Bukankah kamu menginginkannya?"
"Apa kamu tidak merindukan, Keira?" tanya Fina dengan tatapan serius.
Hans bergeming bernapas lesuh menundukkan kepalanya.
"Aku juga sebenarnya merindukan Keira sih. Aku rindu melihat bayi kecil kita yang imut."
"Maka dari itu, aku ingin segera menyelesaikan kasus ini supaya bisa bertemunya lagi. Aku sangat merindukan anak kita sampai setiap malam tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkannya. Apalagi pembunuhnya belakangan ini semakin tidak waras. Aku takut suatu hari nanti pembunuhnya bisa membahayakan Keira, Erhan, dan Victoria," ucap Fina dengan tatapan sendu.
Hans secara spontan memeluk Fina dengan hangat sambil menepuk punggungnya.
"Kamu tidak usah berpikiran yang aneh-aneh. Pembunuhnya tidak mungkin mengincar anak kita dan yang lainnya. Aku sangat yakin deh. Lagi pula untuk apa pembunuhnya mengincar anak-anak yang usianya masih kurang dari 5 tahun semua. Kamu harus selalu berpikir positif, Fina. Kalau kamu berpikir positif terus, tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa kita semua."
"Benar juga sih. Seharusnya aku selalu berpikir positif dan memikirkan masalah ini perlahan. Mungkin kalau aku bertindak cepat, bisa juga secara tidak sengaja aku berbuat gegabah dan menimbulkan masalah yang rumit lagi."
"Nah ini baru yang namanya Fina yang aku kenal selama ini selalu terlihat cerdas di antara semua," kata Hans membelai rambutnya Fina.
"Sekarang aku mau bertanya padamu, lebih cerdas aku atau Penny?" tanya Fina dengan pandangan berbinar-binar.
"Tidak butuh pertanyaan yang aneh lagi. Sudah jelas kamu jauh lebih cerdas daripada Penny yang berlagak sombong terus."
"Memang sudah pasti aku yang paling cerdas di antara semua. Tapi entah kenapa suamiku ini suka berpikir yang konyol ketika sedang melakukan penyelidikan." Fina berlagak sombong sambil menjewer telinganya Hans.
"Kan aku berusaha untuk berpikir keras daripada diam terus. Lagi pula juga terkadang pemikiranku itu benar!"
"Sudahlah terserah padamu deh. Yang pasti setiap kali kamu sedang berspekulasi aneh-aneh lebih baik aku menutup telingaku saja dengan rapat!"
"Ish masa begitu sih! Kamu tega sekali padaku, Fina!"
Kembali lagi pada aku dan Adrian baru saja selesai sarapan langsung bekerja lagi di ruang kerjanya. Ini aneh sekali. Aku merasa seperti ada seseorang yang sedang membicarakan kejelekanku dari belakang hingga aku bersin tanpa henti-hentinya.
ACHOOO!
Adrian secara spontan membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya.
"Tidak. Aku hanya merasa ada seseorang yang sedang membicarakanku dari tadi."
"Ish siapa sih yang berani membicarakan kejelekan istriku dari belakang! Lihat saja nanti aku bakal membuatnya bersin lebih parah darimu!" sungutnya mengerucutkan bibirnya.
"Menurutku pasti Hans atau Nathan yang sedang membicarakanku sih. Biasanya mereka berdua selalu mengompori kita setiap saat!"
"Dasar mereka berdua hobinya cuma membicarakan orang dari belakang saja!"
drrt...drrt...
Sontak ponselku bergetar di atas meja. Nama Reporter Yulia tertera pada layar ponselku. Aku dengan sigap menggeser layar ponselku mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo Yulia, tumben kamu meneleponku pagi-pagi begini?"
"Apa kamu punya waktu luang, Penny?"
"Untuk sekarang sih aku tidak terlalu sibuk bekerja."
"Baguslah kalau begitu aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu."
"Apa itu? Apakah telah terjadi sesuatu padamu?"
"Ada seseorang yang memintaku untuk menulis artikel berita mengenai kasus pembunuhan dua pelajar SMA yang ditemukan di hutan."
"Apa?"
"Aku memiliki buktinya dan akan serahkan padamu nanti."
"Baiklah kita akan bertemu di mana?"
"Nanti ketemu di pusat perbelanjaan saja. Aku akan kirimkan nama Kafenya untukmu lewat pesan singkat."
"Baiklah, aku akan bertemu denganmu nanti siang. Mungkin sekarang kamu harus lebih berhati-hati terutama kamu jaga buktinya jangan sampai hilang. Saat menuju ke Kafe sebaiknya kamu berpura-pura bertindak seperti orang normal saja. Kita tidak akan mungkin tahu bahwa pelakunya mengintaimu dari belakang."
"Baik Penny, aku mengerti."
__ADS_1
"Kalau seandainya terjadi sesuatu tiba-tiba, kamu harus menghubungi langsung."
"Baiklah."
"Kalau begitu aku akan tutup teleponnya dulu. Sampai bertemu nanti."
Aku mengakhiri pembicaraannya langsung menutup panggilan teleponnya. Kembali lagi aku melanjutkan diskusi tentang kasus dengan Adrian.
"Kira-kira siapa yang mengirimkan bukti pelaku melakukan aksi pembunuhannya kepada Reporter Yulia?" selidikku mulai fokus.
"Yang pasti kenapa orangnya mengirimkan buktinya kepada Reporter Yulia, bukan pihak kepolisian?" Adrian mulai berpikir keras hingga dahinya berkerut.
"Nah makanya itu sangat mengganjal pikiranku. Apakah mungkin orangnya tahu kalau ada kaki tangan yang bekerja di kantor kita? Kenapa dia langsung memberikannya kepada Reporter Yulia? Padahal kalau serahkan buktinya kepada kita langsung bisa jadi kasusnya akan cepat terselesaikan."
"Benar juga perkataanmu, Penny. Apa mungkin bisa juga orangnya tidak percaya dengan polisi sama sekali?"
Siang harinya sesuai dengan rencana, Reporter Yulia bertemu denganku dan Adrian di suatu Kafe dalam pusat perbelanjaan. Reporter Yulia melangkah keluar dari rumahnya secara diam-diam sambil mengamati sekelilingnya takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Ia menggenggam tasnya erat membawanya menuju halte bus umum terdekat.
Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan tersebut, Reporter Yulia terus memeluk tasnya yang berisi bukti kuat untuk membuktikan kejadian pembunuhan ini sampai setiap kali ada seseorang melewatinya, ia dengan sigap menaruh tasnya bersandar pada kaca jendela di sampingnya.
Karena jarak antara halte bus dengan pusat perbelanjaan lumayan dekat, Reporter Yulia tiba di pusat perbelanjaan tersebut lebih awal. Ia bergegas memasuki ke dalam gedung pencakar langit berkaca tersebut langsung mendatangi Kafe tempat pertemuannya. Sebelum itu, ia memesan minuman Americano terlebih dahulu yang merupakan kopi favoritnya saat sedang sibuk melakukan pekerjaannya apalagi mengenai kasus pembunuhan yang terjadi.
Sedangkan aku dan Adrian masih di tengah perjalanan menuju pusat perbelanjaan tersebut lalu tiba-tiba terjadi sebuah kemacetan parah yang cukup panjang. Adrian terus membunyikan klakson mobilnya tapi bagiku percuma saja kalau mobil depan tidak bergerak sama sekali.
"Aish kenapa di saat begini bisa macet parah sih!" keluhnya sambil memukuli setiran mobilnya.
"Ya begitulah nasib kita tidak tahu kejadian yang akan terjadi di masa depan. Apalagi jarak antara apartemen kita dengan pusat perbelanjaannya lumayan jauh."
"Tapi kita harus menemuinya segera. Aku takut bila terjadi sesuatu buruk yang menimpanya tiba-tiba."
"Aku juga sebenarnya takut sih. Apalagi aku jadi teringat nyawanya terancam sewaktu dulu membantu kita menyelidiki kasusnya Josh."
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu padanya. Apalagi dia pergi ke sana sendirian tanpa dijaga oleh siapa pun."
Aku menyentuh tangannya Adrian sambil mengelusnya lembut.
"Aku yakin dia pasti akan baik-baik saja. Dia sengaja memilih Kafe dalam pusat perbelanjaan karena sistem keamanan di sana sangat ketat. Tidak mungkin pelakunya berbuat seenaknya di sana. Apalagi di setiap sudut pusat perbelanjaan dilengkapi kamera CCTV," ucapku tersenyum manis.
Sementara Reporter Yulia dari tadi terus menunggu sambil melihat jam tangannya dengan tatapan gelisah. Sudah sekitar hampir 30 menit, ia mulai sedikit gugup dan menelan salivanya sedikit berat sambil menikmati kopinya. Ia juga sambil mengamati barang buktinya yang masih tersimpan aman dalam tasnya. Namun ia tetap bersabar menunggunya untuk melepas beban yang sedang dipegangnya saat ini. Apalagi kalau sampai pelakunya tahu bahwa Reporter Yulia memiliki barang buktinya, pelakunya pasti membunuhnya habis-habisan dan menghancurkan barang buktinya.
drrt...drrt...
Sontak ponselnya bergetar di dalam tasnya membuat dirinya sedikit kaget dan terbangun dari lamunannya. Reporter Yulia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mengangkat panggilan teleponnya. Raut wajahnya berubah drastis ketika mendengar dari sang penelepon.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan ke sana sekarang."
Reporter Yulia dengan sigap mematikan panggilan teleponnya lalu bergegas keluar dari Kafe tersebut.
Sedangkan aku dan Adrian baru saja tiba di basement langsung melangkah keluar dari mobil menuju Kafe tempat pertemuannya. Aku dan Adrian menaikki liftnya sambil berlari hingga napas sedikit terengah-rengah. Akhirnya kami tiba juga di Kafenya dan mencari keberadaan Reporter Yulia.
Namun sudah kami cari sekeliling Kafe tidak ada tanda kehadirannya di sana. Aku mulai sedikit panik secara spontan menghubungi Reporter Yulia. Panggilan teleponnya langsung terhubung dengannya.
"Halo Yulia, apa yang terjadi?"
"Maaf, Penny. Aku ada urusan tiba-tiba jadinya kita harus membatalkan pertemuan kita. Mungkin di lain waktu kita akan bertemu lagi."
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu tetap dalam kondisi selamat. Urusan pekerjaanmu sebaiknya diselesaikan dulu saja, urusan penyelidikan kasus ini kita bisa mendiskusikannya besok atau lusa."
"Baiklah nanti aku akan mengecek jadwalku lagi. Kalau seandainya besok aku tidak sibuk, mari kita bertemu."
"Ya sudah kalau begitu kamu sebaiknya terus berhati-hati. Aku akan tutup teleponnya."
Aku menutup panggilan teleponnya lalu kembali beralih pada Adrian.
"Sepertinya sia-sia kita datang berkunjung ke sini. Tiba-tiba dia ada urusan penting yang harus kita selesaikan," desahku lesuh.
"Tidak apa-apa. Yang penting dia masih dalam kondisi selamat sudah bersyukur."
"Kalau saja tadi tidak terjadi kemacetan mungkin kita sudah mendapatkan buktinya."
"Kita tetap harus bersabar saja. Lebih baik kita pergi dari sini saja. Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini."
Ketika kami berdua melangkah keluar dari Kafe, kami tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang membuat raut wajah Adrian kesal.
__ADS_1