Good Partner

Good Partner
S2 : Part 1 - Special Day For Us


__ADS_3

Kehidupan baruku sejak menikah dengan seorang pria yang kucintai seumur hidupku hingga aku dikaruniai seorang malaikat kecil sebagai hiasan yang memperindah keluarga kecil ini selalu dilalui dengan hari yang mempermanis hidupku ini.


Seiring waktunya berjalan dari tahun ke tahun, tetap tidak ada seorang pun yang mampu menghancurkan keluarga kami maupun ada suatu halangan yang mengancam keretakan keharmonisan keluarga kami. Karena kami bertiga sudah berpegang teguh untuk saling menyayangi satu sama lain dan tidak ada perpecahan di antara kami. Walaupun sudah menjalani kehidupan rumah tangga ini selama bertahun-tahun, sekalipun kami tidak bertengkar satu sama lain. Tidak seperti keluarga lain yang mungkin memiliki masalah rumah tangga hingga melakukan pertengkaran hebat.


Setiap hari, aku selalu menjalani kehidupanku dengan sukacita walaupun pekerjaanku yang seperti biasa selalu membuatku jarang menghabiskan waktuku bersama dengan putri kecilku. Biar gimanapun, putriku tetap sangat menyayangiku dan mengertiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan.


Terutama hari ini merupakan hari paling penting bagiku. Aku terus menatap jam tanganku yang masih terlihat mengkilap seperti masih baru. Aku tidak peduli apakah rekan kerjaku berpikir aku seperti orang yang tidak waras terus menatap jam selama hampir lima belas menit.


Hingga akhirnya jarum panjang menunjukkan angka delapan. Aku bersiap-siap membereskan meja kerjaku dan juga mengambil kunci mobilku.


"Sudah waktunya jemput Victoria nih," ucapku penuh semangat.


"Tunggu aku dong! Aku juga mau jemput Erhan nih." Tania juga terburu-buru memakai jaketnya dan juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ini masih siang lho. Kalian benar-benar sok sibuk saja!" hardik Hans menatap menyeringai.


"Kamu diam saja deh! Pengen aku sumpelin mulutmu itu pakai kapas," omel Nathan.


"Sayang, kamu mau ikut aku jemput Erhan tidak?" tanya Tania sengaja berbicara dengan manis.


"Tidak deh. Aku lebih baik di sini saja mengawasi temanmu ini yang bawel dan cerewet," jawab Nathan terus menatap Hans dengan tajam.


"Siapa yang bilang suamiku ini cerewet?"


Sosok Fina baru saja menampakkan dirinya dari kamar kecil langsung menghampiri Nathan. Hans secara spontan bersembunyi di belakang tubuhnya Fina seperti tembok.


"Itu Nathan yang bilang aku ini cerewet dan bawel." Hans sengaja memasang raut muka kepolosannya sambil menunjuk Nathan dengan jari telunjuknya.


"Oh, kamu juga salah, Hans. Mereka kan mau jemput anak pulang sekolah. Seharusnya kamu ngerti dong," balas Fina akhirnya membelaku dan Tania.


"Nah iya betul tuh, Fina. Memang kamu ini orangnya selalu pengertian padaku." Aku mengulas senyumanku sambil menepuk pundak Fina.


"Kan dari dulu memang aku ini orang yang paling pengertian. Kalian saja yang tidak menyadarinya sama sekali." Fina mengedipkan mata kirinya padaku dan Tania.


Tania memutar bola matanya bermalasan dan melipat kedua tangannya di dadanya.


"Padahal kamu dulu orang yang paling kubenci di kantor ini," ejek Tania.


"Apa kamu bilang barusan?"


"Tidak apa-apa."


"Sudahlah daripada kita berdebat karena masalah kecil saja mendingan aku dan Tania jemput anak-anak sekarang," leraiku menyentuh pundak mereka berdua.


"Nah benar tuh kata Penny. Daripada membuang tenagaku mendingan disimpan untuk main bersama dengan Erhan nanti," lanjut Tania mengangkat kepalanya.


"Ayo kita pergi sekarang, Tania!" ajakku.


"Tapi Penny, kenapa kamu tidak meminta Adrian menjemput Victoria saja?" tanya Hans berlagak bodoh.


Aku menghembuskan napasku dengan kasar sambil mendekati Hans lalu menyentil dahinya dua kali.


"Aduh sakit!" Hans meringis kesakitan sambil menyentuh dahinya.


"Kamu bagaimana sih! Hari ini kan Adrian sibuk dengan sidangnya," celetukku rasanya ingin mencakarnya dengan kuat.


"Oh iya, benar juga sih. Aku lupa!"


"Dasar pikun!" sindirku.


"Hei, Penny! Wajarlah kalau aku lupa. Lagi pula Adrian itu suamimu dan tidak ada hubungannya denganku sama sekali," sergah Hans memelototiku balik.


"Iya deh. Memang Adrian itu satu-satunya orang yang paling pengertian terhadapku di antara kalian semua. Makanya aku tidak salah memilihnya sebagai suami kesayanganku," balasku berkacak pinggang.


"Dasar sombong, Penny!" ketus Fina mengerucutkan bibirnya.


"Sudahlah aku malas berdebat dengan kalian di hari pentingku ini. Ayo Tania, kita pergi sekarang juga!"


Aku menarik tangannya Tania dengan paksa keluar dari kantor polisi. Biasanya saat tugasku tidak terlalu berat, aku dan Tania menjemput anak kami pulang sekolah. Sekarang ini Victoria dan Erhan sekolah di sebuah taman kanak-kanak yang cukup populer di kota ini sejak dulu. Aku sengaja memilih sekolah ini juga bertujuan untuk memudahkanku menjemput Victoria setiap harinya karena jarak antara kantor dan sekolahnya hanya 6 kilometer saja. Jadinya cukup menghabiskan waktu perjalanan menuju ke sana sekitar 20 menit.


Kebetulan hari ini jalanan tidak begitu ramai sehingga aku dan Tania tiba di sekolah tersebut lebih awal dari biasanya. Aku memarkirkan mobil SUVku tepat di sebelah mobilnya Tania. Lalu aku bergegas turun dari mobilku dan menunggu kedatangan Victoria di lobby sekolah.


"Mama!" teriak Victoria dari kejauhan sambil membawa tas ranselnya.


Aku secara spontan melangkahkan kakiku ringan menghampiri malaikat kecilku lalu menggendongnya.


"Victoria!" sahutku girang mempererat pelukannya.


"Mama, hari ini datang lebih cepat," balas Victoria tersenyum ceria.


"Iya dong. Mama pasti datang cepat supaya kita bisa main di rumah." Aku membalasnya sambil mengelus kepalanya.


"Asyik hari ini aku bisa main lagi sama mama!"


"Kita pulang sekarang, yuk!" ajakku menggendong Victoria menuju mobilku.


"Tapi aku juga mau main sama papa."


"Tenang saja. Hari ini papa pulang cepat supaya bisa bermain bersamamu."


"Horey aku bisa main sama papa juga!" sorak Victoria.


Sementara Erhan dari tadi sibuk menatapku dan Victoria dengan iri. Tania terheran dengan putranya lalu berjongkok di hadapannya.


"Erhan kenapa sedih? Apa hari ini ada masalah?" tanya Tania.


"Aku juga mau digendong seperti Victoria," protes Erhan memalingkan matanya.


"Aduh Erhan, kamu ini anak laki-laki! Masa mau digendong begitu sih!" keluh Tania menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku masih kecil." Erhan memanyunkan bibirnya menunduk kepalanya.


"Sudahlah daripada kamu manja mendingan kita pulang saja." Tania menggandeng tangannya Erhan menuju mobilnya.


Hari sudah mulai gelap. Karena hari ini merupakan hari yang paling spesial, makanya aku memasak banyak makanan spesial juga hari ini terutama aku membuat banyak telur dadar gulung kesukaan kami bertiga. Disela memasak, aku juga sambil memantau aktivitasnya Victoria. Aku mematikan kompornya sejenak lalu menghampiri Victoria yang sedang sibuk menggambar menggunakan crayon di ruang tamu.


"Victoria sedang gambar apa tuh?" tanyaku penuh penasaran duduk di sebelahnya.


"Ini gambar mama dan papa," jawabnya sambil memberikan kertasnya padaku.


"Wah, ternyata sekarang Victoria sudah pintar menggambar, ya! Gambarnya bagus sekali!" pujiku sambil membelai rambutnya.


"Iya karena ini hadiah untuk mama dan papa," ujar Victoria sibuk bermain crayonnya.


"Hadiah untuk mama dan papa?" Aku sebenarnya sedikit bingung tiba-tiba anakku ini memberikan hadiah untukku dan Adrian. Padahal hari ini bukanlah hari ulang tahunku maupun Adrian.


"Hari ini hari ulang tahun mama dan papa. Ini hadiah dariku."


Aku berdecak kagum ternyata Victoria sendiri mengingat ulang tahun pernikahanku. Walaupun sebenarnya ia masih belum memahami maksud ulang tahun pernikahanku ini.


"Thank you, My little angel," ucapku mencium pipinya lembut.


"Mama, aku lapar!" rengek Victoria terus mengelus perutnya.


"Oke, kalau begitu mama masak makanan yang enak dulu, ya."


Aku melepas pelukannya dan menaruh kertasnya di atas meja lalu lanjut memasak lagi. Di saat aku sedang sibuk mempersiapkan makan malam, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang memasukkan kode akses dan memasuki kediaman ini.


"Victoria, papa pulang!" teriak Adrian sambil melepas sepatunya.


Victoria langsung melempar crayonnya dan berlari menghampiri Adrian.


"Papa!" sahut Victoria girang.

__ADS_1


Adrian menaruh semua barangnya di lantai kemudian menggendong Victoria.


"Wah, anak papa ini senang sekali, ya, hari ini!"


"Iya karena aku bisa main sama papa hari ini. Aku kangen sama papa."


"Oke, hari ini papa akan bacakan dongeng kesukaanmu lagi sebelum tidur," balas Adrian mengusap rambutnya Victoria.


"Asyik!"


"Mama di mana, ya?"


"Mama lagi masak makanan enak."


"Kalau begitu papa samperin mama dulu, ya." Adrian menggendong Victoria menuju ruang tamu dan menuntunnya duduk di sofa.


Sementara aku dari tadi sibuk memasak sambil mendengarkan percakapan mereka hingga membuatku tersenyum girang. Adrian melingkarkan kedua tangannya pada perutku dan menyandarkan kepalanya dengan manja pada punggungku.


"Sayang, aku lelah. Bolehkah aku terus bersandar seperti ini sampai kamu selesai memasak?" tanyanya manis.


"Kamu mau bersandar sampai puas juga tidak masalah. Karena aku tahu beberapa hari ini kamu kurang tidur akibat sibuk mempersiapkan sidang hari ini," balasku menyentuh tangannya mempererat pelukannya.


"Terima kasih, Sayang." Adrian tersenyum manis mencium pipiku singkat.


"Omong-omong, bagaimana dengan sidangmu hari ini?"


"Tentu saja aku yang menang dong. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecerdasanku ini walaupun pengacaranya merupakan dari firma hukum terbaik di kota ini."


Aku mematikan kompornya lalu membalikkan tubuhku menghadapnya mengelus pipinya dengan lembut.


"Memang suamiku ini adalah jaksa yang tercerdas di antara semuanya. Apalagi ditambah setiap saat aku selalu mendoakanmu, pasti kamu akan memenangkan persidangannya."


"Oh iya aku ingin memberimu hadiah istimewa. Pasti kamu sangat suka."


"Apa itu? Jangan buatku penasaran deh!"


Adrian menuntunku menuju ruang tamu lalu membuka sebuah kardus besar mengeluarkan sebuah teropong bintang dan menaruhnya di jendela ruang tamu. Aku berdecak kagum sampai bingung ingin berkata apa. Bahkan aku tidak menyangka ia memberiku sebuah benda yang aku inginkan sejak dulu.


"Sayang, kamu sungguh membelikan ini untukku?" Mataku berbinar menatap teropong tersebut sambil meraba tiap sisi teropongnya.


"Tentu saja. Sejak dulu aku ingin melihat bintang bersamamu dan Victoria setiap hari. Terakhir kali kita melihat banyak bintang saat bulan madu di Queenstown. Tapi setelah itu kita tidak pernah bisa melihatnya lagi keindahan langit dipenuhi bintang, apalagi kalau lihat bintang di kota ini sepertinya sulit. Bahkan kita jarang sekali melihat bintang sekarang."


Aku menyentuh kedua tangannya mengelusnya dengan lembut.


"Terima kasih telah mengabulkan keinginanku lagi, Sayang. Ini adalah hadiah terindah bagiku."


"Papa, aku mau lihat bintang!" rengek Victoria berkedip matanya.


"Untung saja hari ini tidak berawan jadinya bisa lihat bintangnya dengan jelas."


Adrian menggendong Victoria lalu menempelkan matanya pada teropong.


"Papa! Bintangnya banyak sekali di langit!" sorak Victoria tersenyum ceria.


"Bagaimana, Victoria? Indah sekali, 'kan," tanya Adrian.


"Indah! Aku suka!"


"Papa selalu menganggap Victoria dan mama sebagai bintangnya papa. Karena kalian berdua juga sama indahnya dengan bintang-bintang itu yang selalu menerangi kehidupan papa setiap harinya," tutur Adrian sambil merangkul bahuku mesra.


"Kalau begitu mama akan selalu menganggap papa sebagai bintang raksasa yang selalu menerangi keluarga kecil ini," balasku mengukir senyuman hangatku.


"Omong-omong, kamu belum buat kue cokelatnya, 'kan?"


"Aku dari tadi menunggumu pulang supaya bisa membuat kuenya bersamamu."


"Kalau begitu kita buat kuenya sekarang, yuk!"


"Asyik aku mau kue!" seru Victoria.


Aku membantu Adrian melepas jas kerjanya dan menaruhnya di atas sofa. Sedangkan Adrian menyisingkan lengan kemejanya kemudian melepas jam tangannya. Peralatan beserta semua bahan untuk membuat kue sudah kusiapkan dari tadi sehingga kami bisa mulai membuat kuenya sekarang.


Di tengah membuat adonan kuenya. Adrian berhenti sejenak menatapku dengan serius.


"Penny, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu."


"Ada apa lagi?"


"Coba lihat aku deh sekarang!"


Aku menolehkan kepalaku menghadapnya malahan ia mencolek wajahku dengan tangannya yang dipenuhi tepung.


"Adriiaan!"


"Haha entah kenapa setiap kali membuat kue bersamamu pasti bawaannya aku ingin mencolek wajahmu terus."


"Kamu selalu saja kebiasaan iseng padaku terus! Akan aku balas perbuatanmu itu!" celetukku mencolek wajahnya juga hingga dipenuhi tepung.


"Peennyy! Kamu merusak wajah tampanku!"


"Bodoh amat yang penting aku puas," ejekku menjulurkan lidahku.


"Kamu tega sekali padaku!"


"Suka-suka aku. Siapa suruh kamu yang memulai dulu."


Adrian mulai tersenyum nakal mendekatkan wajahnya menuju wajahku membuatku sekarang gugup. Sebenarnya aku tidak masalah ia melakukannya tapi harus lihat situasi juga.


"Kamu mau apa, Adrian? Nanti dilihat Victoria lho." Aku menelan salivaku berat.


"Karena kamu sudah mengotori wajahku ini jadinya kamu pantas mendapat hukuman dariku. Mau aku gelitik atau cium sekarang?"


"Ish aku tidak mau pilih dua-duanya!" Aku memalingkan mataku kembali melanjutkan membuat adonan kuenya.


"Harus pilih salah satu dong! Kalau mau main harus sportif!"


"Pokoknya aku tidak mau pilih. Kamu mau mengotori wajahku sampai penuh dengan tepung juga aku tidak mempermasalahkannya."


"Kalau begitu aku tidak mau mencolek wajahmu deh. Aku tidak ingin merusak wajah bintang kesayanganku ini."


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya lebar dengan manja. Adrian mengecup puncak kepalaku dengan lembut dan melanjutkan membuat kuenya lagi.


Di tengah kami berdua sibuk membuat adonan kue, Victoria berlari menghampiri kami tertawa puas.


"Muka mama papa lucu seperti boneka salju."


"Ini karena papamu yang sangat nakal jadinya muka mama seperti ini deh," lontarku sambil menatap Adrian berlagak polos.


"Padahal mamamu yang lebih nakal. Coba kamu lihat, siapa yang lebih imut di matamu," ujar Adrian berjongkok di hadapan Victoria sambil mengedipkan matanya imut.


"Mama papa imut!" Victoria terkagum sambil melompat girang.


"Kamu sendiri bisa lihat kan, Sayang. Anak kita sangat menyukai hasil karya indah kita." Adrian semakin tersenyum nakal dengan sengaja menyenggol lenganku pelan.


"Aku juga menyukai hasil karya usilmu yang bisa menghiburku," balasku terus mencolek wajahnya puas.


"Baiklah, Sayang. Kalau kamu ingin bersikap usil padaku terus, tentu saja tidak masalah bagiku supaya hatimu selalu terhibur berkatku." Adrian kembali melanjutkan aksi jahilnya hingga membuat Victoria tertawa semakin puas.


Usai proses pembuatan kuenya selama 2 jam, kami bertiga menyantap kue cokelat spesial buatanku dan Adrian dengan nikmat. Terutama Victoria yang terus makan kuenya dengan melahap hingga mulutnya dipenuhi cokelat. Aku mengambil selembar tissue menyeka bercak cokelat tiap sudut bibirnya perlahan.


"Victoria sepertinya suka sekali sama kue buatan papa dan mama, ya," ucapku lembut.


"Aku suka sekali. Aku ingin makan kuenya setiap hari. Kue buatan papa dan mama paling enak."

__ADS_1


"Wah, papa jadi terharu nih ternyata anak papa suka kuenya!" papar Adrian terkagum mengelus kepalanya Victoria.


"Tapi kalau makan kue setiap hari nanti gigimu banyak kuman. Lebih baik Victoria makan masakan buatan mama yang tidak kalah enak dengan kue. Lagi pula masakan mama dan papa juga baik untuk tubuh lho," kataku menasihati Victoria.


"Semua makanan buatan papa dan mama pasti aku suka."


"Anak pintar! Kalau begitu makan yang banyak, ya, supaya Victoria selalu sehat setiap hari," ucap Adrian sambil menyuapi makanannya pada Victoria.


"Nah Victoria makan telur dadar gulung yang banyak juga, ya. Mama sengaja masak banyak untukmu dan papa juga," ujarku mengedipkan mata kiriku pada Adrian.


"Asyik berarti aku juga bisa makan yang banyak!" Adrian menggenggam sumpitnya lalu mencapit telur gulungnya satu per satu dengan lahap.


Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya seperti anak kecil dan menyenggol lengan tangannya dengan sengaja.


"Kamu ini seperti anak kecil saja," bisikku.


"Memang iya?"


"Jangan lupa kamu sisakan telur gulungnya untuk Victoria juga. Masa iya kamu ingin berebutan makanan dengan anakmu sendiri!" tegasku.


"Iya deh aku sisain untuk Victoria dan untukmu juga," patuhnya memasukkan telur gulungnya ke dalam mulutku tiba-tiba.


"Mmm enak rasanya."


"Rasanya enak kalau ddisuapisama suami kesayanganmu ini, 'kan," godanya sambil terus menyuapiku.


"Aku juga mau disuapi papa!" protes Victoria memanyunkan bibirnya.


Aku dan Adrian tertawa kecil. Anakku ini juga bisa cemburu melihatku disuapi sama Adrian terus.


"Tenang. Papa juga mau suapimu sampai kenyang," ujar Adrian sambil menyuapi Victoria.


Usai menyantap makan malam dan membersihkan diriku, waktunya aku menemani malaikat kecilku tidur di kamarnya. Aku memasuki kamarnya lalu ikut bergabung dengan Adrian yang sedang membacakan sebuah dongeng untuk Victoria. Adrian secara spontan mendekapku dan Victoria dengan hangat lalu melanjutkan membaca dongengnya lagi.


"Jadi akhirnya sang putri tidur menikah dengan pangerannya dan hidup bahagia selamanya."


"Papa, aku mau nanya."


"Kenapa Victoria?"


"Apa aku juga bisa hidup bahagia seperti putri tidur?"


"Iya dong. Buktinya papa dan mama dari sebelum menikah sampai sekarang selalu hidup bahagia seperti putri dan pangeran di dongeng ini," jawab Adrian menatapku berbinar.


"Karena mama dan papa saling mencintai satu sama lain," sambungku mengukir senyuman khasku sambil menatapnya.


"Jadinya kalau Victoria mau hidup bahagia seperti mama dan papa, harus cari pangeran sejati juga."


Victoria tidak meresponnya karena sudah tertidur lelap dari tadi. Aku dan Adrian beranjak dari ranjangnya bersamaan dan mengecup pipinya Victoria.


"Semoga mimpi indah, Malaikat kecilku," bisikku dan Adrian bersamaan.


Aku dan Adrian meninggalkan Victoria sendirian di kamarnya kemudian menutup pintu kamarnya secara perlahan. Karena Adrian sudah membelikan hadiah istimewa untukku, aku menghampiri teropong bintangnya lagi untuk melihat keindahan langit malam ini sebelum tidur. Aku berdecak kagum hingga rasanya ingin terbang ke angkasa untuk melihat bintang lebih dekat lagi.


Sementara Adrian menghampiriku mendekapku dengan hangat dari belakang.


"Penny ...." lirihnya manis.


"Iya, Adrian."


"Pertahankanlah senyumanmu itu sampai seterusnya. Rasanya aku sangat bahagia melihat kesayanganku ini setiap harinya tersenyum bahagia."


Aku membalikkan tubuhku menghadapnya dan memeluknya dengan erat.


"Hidupku tidak ada kurangnya sejak menikah denganmu, Adrian. Pokoknya aku menganggap kamu adalah paket terlengkap hidupku."


"Bagiku kamu adalah wanita paling sempurna dalam hidupku, Penny." Adrian mencium puncak kepalaku dengan manis.


"Ini sudah malam. Sebaiknya kita tidur saja, yuk."


"Tidak mau. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama lagi. Bagaimana kalau kita rayakan hari istimewa ini dengan minum wine dulu?"


"Kamu beli wine lagi? Dasar kebiasaan setiap ada hari spesial selalu saja minum wine!"


"Memangnya kenapa? Kamu tidak suka?"


"Bukan begitu. Aku takut kita bakal mabuk sampai besok pagi. Sedangkan besok kita harus kembali kerja lagi. Apalagi setiap kamu mabuk selalu saja berujung sakit kepala."


"Tapi tenang saja. Aku kan selama ini beli wine kadar alkoholnya yang rendah. Lagi pula kamu kan sudah bisa minum wine sejak lamaran waktu itu."


"Baiklah kalau begitu aku tidak perlu takut akan berbuat aneh lagi deh."


Aku menduduki sofanya lalu membuka botol winenya dengan sekuat tenagaku.


"Sini biar aku yang buka saja." Adrian mengambil botol winenya dariku lalu menuangkannya ke dalam dua gelas kacanya.


Aku mengambil gelas wine lalu bersulang dengannya.


"Duduk di pangkuanku, Penny," pintanya menepuk pahanya.


Aku langsung menurutinya lalu duduk di atas pangkuannya dengan manja sambil menikmati wine.


"Maafkan aku, Penny," lontarnya tiba-tiba menunduk lesuh.


"Kenapa kamu minta maaf padaku, Adrian?" tanyaku bingung.


"Setiap hari ulang tahun pernikahan kita selalu saja dirayakan dengan sederhana. Sedangkan pasangan suami istri lain merayakannya pasti di restoran mewah," jawabnya menghela napasnya lesuh.


Aku tertawa anggun mendengar kegelisahannya. Padahal bagiku sangat tidak masalah, ia yang selalu berlebihan.


"Adrian, aku tidak butuh perayaan yang terlalu mewah. Walaupun kita merayakannya secara sederhana, tapi yang terpenting aku selalu puas hidup bersamamu. Semewah apa pun kamu merayakannya, belum tentu kamu bakal hidup bahagia juga," ungkapku menggenggam tangannya.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu dinner romantis di restoran mewah. Tapi karena kesibukan pekerjaanku yang selalu menghalangiku, aku jadi tidak bisa mengajakmu."


"Tidak apa-apa. Setiap kali di hari ulang tahun pernikahan kita, kamu selalu memberiku hadiah terindah. Seperti anting ini yang selalu aku pasang setiap harinya. Kamu memberi anting istimewa ini di hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Kamu tahu reaksiku saat itu? Aku ingin menangis terharu rasanya apalagi kamu selalu memberiku perhiasan yang berbeda dari lainnya. Ditambah hari ini kamu memberiku benda yang kuinginkan sejak dulu, ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia."


"Syukurlah, aku sangat lega kalau kamu menyukai hadiah dariku selama ini."


"Aku juga punya hadiah untukmu."


Aku mengambil sebuah paper bag ukuran besar lalu memberikan untuknya.


"Isinya apa, ya? Aku jadi penasaran banget nih."


"Coba kamu buka saja!"


Adrian membuka paper bagnya lalu berdecak kagum ketika membuka kotak kecilnya berisi sebuah jam tangan mahal.


"Sayang, kamu sungguh memberiku jam tangan ini?"


"Selama ini kamu selalu memberiku hadiah mahal jadi sebagai gantinya aku memberimu jam tangan ini."


"Terima kasih, Sayang. Mulai besok aku akan selalu memakai jam tangan ini ke mana pun aku pergi." Tatapan mata Adrian berbinar sambil mempererat pelukannya.


"Adrian, melihat senyumanmu sekarang bagiku adalah salah satu hadiah ulang tahun pernikahan terindah kita seumur hidup. Dengan melihatmu selalu tersenyum bahagia, bersikap usil, dan memperlakukanku manis membuat hidupku selalu bahagia. Karena aku bisa merasakan ketulusan cintamu yang sangat besar padaku selama ini," ungkapku tulus.


"Aku juga suka kamu selalu mengungkapkan isi hatimu terbuka padaku."


"Kita lanjut minum winenya lagi sampai puas."


Adrian menuangkan wine untukku dan untuknya lalu kami bersulang lagi. Tanpa sengaja aku minum wine sampai belepotan.


"Ish selalu saja berepotan begini!" gerutuku.

__ADS_1


"Tunggu, Penny! Jangan mengelap bercak winenya dengan tanganmu sendiri!"


Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku yang tangannya bersiap-siap untuk mengelap bercak winenya pada sudut bibirku. Tapi tangannya menyentuh pipiku dan tatapan matanya terfokus pada bibir merahku lalu ia mencium bibirku dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2