
Kembali lagi saat Adrian sedang sibuk membersihkan piring-piring kotornya, aku yang baru saja selesai membersihkan diriku berjalan lambat tanpa menimbulkan suara menghampirinya dari belakang melingkarkan kedua tanganku pada perutnya. Harumnya tubuhku ini membuat dirinya tersenyum mengambang lalu menaruh piring terakhir yang dicucinya pada rak piring dan membalikkan tubuhnya menghadapku. Adrian melepaskan kedua tanganku yang melekat pada perutnya lalu menjauhkan tubuhnya dariku hingga menabrak counter pantry.
"Sayang, kenapa kamu melepaskannya? Kamu tidak suka dipelukku?" Aku sedikit kecewa memanyunkan bibirku.
"Bukan begitu, Sayang. Aku kan belum mandi, kalau mau memelukku nanti setelah aku mandi saja."
"Bodoh amat yang penting aku nyaman saja!" Aku menyunggingkan senyuman nakal lalu memeluknya lagi dengan erat.
"Ish dasar nakal sekali istriku! Biarkan aku mandi dulu, ya, setelah ini aku pasti akan bermain denganmu."
Pikiran dan ucapannya berbeda jauh. Dirinya mempererat pelukannya sambil mengusap rambutku. Terutama sorot matanya membuatku sangat terpaku padanya, tanpa kusadari tanganku bergerak refleks menyentuh pipinya.
drrt...drrt...
Suara getaran ponsel pada meja ruang tamu sangat mengganggu kemesraan kami sekarang. Raut wajahnya langsung lesuh menjauhkan wajahnya diriku. Aku mendengkus kesal melepas pelukannya menghentakkan kakiku kasar menuju ruang tamu lalu menggeser layar ponselku mengangkat panggilan telepon dari Reporter Yulia. Karena bukan anggota timku yang menghubungi malam-malam begini, jadinya tidak mungkin aku berbicara dengan nada emosi.
"Halo Yulia, ada apa kamu meneleponku malam-malam begini?"
"Penny, sudah aku kirimkan padamu navigasi posisiku saat ini."
"Memangnya ada apa? Jangan bilang kamu diikuti oleh seseorang dari belakang." Suaraku mulai bergetar merinding ketakutan memiliki firasat buruk dengannya.
"Iya aku merasa seperti ada yang sedang mengikutiku sekarang. Tolong aku, Penny!" Suara jeritannya seperti sedang dikejar pelakunya membuatku semakin panik sekarang.
"Baiklah aku dan seluruh anggota timku akan menolongmu sekarang."
Aku segera mematikan panggilan teleponnya lalu mengirimkan navigasi posisi keberadaan Reporter Yulia kepada seluruh anggota timku. Aku dan Adrian bergegas memasuki kamar menuju walk in closet mengganti pakaian kami. Usai itu, Adrian terburu-buru mengambil kunci mobilnya melangkah menuju pintu keluar bersamaku.
Sementara di sisi lain, Reporter Yulia semakin melangkahkan kakinya besar menghindari pelaku yang terus mengikutinya dari belakang. Semakin lama langkah kaki pelaku tersebut semakin besar membuat Reporter Yulia semakin panik hingga akhirnya dari tadinya sekadar jalan cepat jadi berlarian menuju ke sembarang tempat yang membuatnya aman.
Reporter Yulia berlari sambil menggendong tasnya tanpa peduli menabrak para pejalan kaki yang sedang melewati areanya lalu pelaku misterius tersebut juga tidak menyerah dan terus mengejar Reporter Yulia. Hingga pada akhirnya mereka memasuki area gang sempit yang hanya bisa memuat satu mobil saja dan juga jarang sekali masyarakat sekitar melewati gang tersebut. Selain itu juga gang ini sebagian besar lampu jalanannya rusak sehingga kesempatan yang bagus bagi pelaku untuk melakukan aksi kejahatannya.
Reporter Yulia berlari sampai pada titik persimpangan kemudian bingung mengamati jalanan yang semakin bercabang seperti cabang pohon. Tanpa perlu berpikir lama, ia memutuskan berlari ke arah kanan entah ke mana itu yang penting bisa menyelamatkan dirinya dari pelaku.
Namun tenaganya Reporter Yulia sudah tidak kuat lagi. Napasnya terengah-rengah dan kakinya sangat lemas serasa tubuhnya seperti mau tumbang di atas tanah. Apalagi area ini hanya diterangi beberapa lampu jalanan yang redup membuat penglihatannya sedikit susah. Pelakunya masih belum menampakkan dirinya juga lalu dengan inisiatif Reporter Yulia bersembunyi di balik sebuah pagar batu untuk menarik napasnya panjang dulu sebelum melanjutkan pelarian dari pelaku itu.
Sontak Reporter Yulia mendengar ada suara langkah kaki pelaku yang semakin mendekat menuju ke arahnya membuatnya bergidik ngeri dan tubuhnya merinding. Ia menelan salivanya berat melangkahkan kakinya pelan tanpa menimbulkan suara apa pun. Langkah kakinya terhenti ketika ia tidak sengaja menginjak sebuah ranting pohon membuat pelakunya menyadari kehadiran Reporter Yulia. Pelakunya bergegas mendatanginya dengan cepat. Ketika Reporter Yulia berusaha melarikan diri lagi, ia kalah cepat dengan pelakunya.
Helaan napasnya lesuh dan hampir cegukan akibat panik menatap pelaku berada tepat di hadapannya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Secara perlahan ia melangkahkan kakinya mundur menghindari pelakunya dan kembali berlari lagi sekuat tenaganya. Namun pelakunya berhasil menangkapnya dengan menarik tangannya paksa. Sebagai bentuk perlawanan, Reporter Yulia menendang sesuatu membuat pelakunya berdiri lemas sehingga ia bisa kembali kabur lagi. Akan tetapi perlawanannya barusan tidak efektif sama sekali bagi pelakunya. Pelakunya tetap saja terus mengejarnya lalu menarik tasnya dengan paksa.
"Lepaskan saya!" pekik Reporter Yulia terus memberontak pelakunya merebut tas darinya.
"Kalau Anda ingin nyawa Anda selamat, sebaiknya Anda serahkan saja barang buktinya pada saya!" bentak pelaku tersebut.
"Barang bukti apa? Saya tidak mengerti maksud perkataan Anda barusan."
"Anda tidak usah berpura-pura bodoh di hadapan saya! Saya tahu Anda memiliki barang buktinya dan Anda sembunyikan di suatu tempat supaya saya tidak bisa menemukannya!"
"Sungguh saya tidak tahu barang buktinya! Kalau seandainya saya memiliki barangnya sekarang, saya bakal menyerahkannya pada Anda sekarang untuk menyelamatkan nyawa saya!"
"ANSA TIDAK USAH BERBICARA OMONG KOSONG! JELAS-JELAS SAYA MELIHAT ANDA MEMILIKINYA!" teriak pelakunya.
Tamparan yang cukup kuat dari pelakunya mendarat pada pipinya Reporter Yulia sebanyak dua kali membuatnya meringis kesakitan. Reporter Yulia melawannya dengan melayangkan tendangannya lagi namun kakinya ditahan oleh pelakunya dan tubuhnya dibanting olehnya terjatuh di atas tanah dengan kasar.
"AAHHH!!"
Pelaku tersebut menjambak rambutnya Reporter Yulia dengan kasar hingga membuatnya semakin merinding ketakutan.
"Anda masih tidak kapok juga walaupun saya sudah memperlakukan Anda dengan kasar!"
"Saya bertindak memang sesuai dengan kenyataan. Kalau Anda tidak percaya silakan saja cari barang yang Anda butuhkan di tas saya!" bentak Reporter Yulia dengan tatapan tajam.
Sambil menjambak rambutnya Reporter Yulia, pelaku tersebut membuka resleting tas itu lalu menuangkan seisi tasnya terjatuh di atas jalanan aspalnya tanpa tersisa. Pelaku itu melempar tasnya Reporter Yulia lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku jaketnya menodongkan ke arah Reporter Yulia.
"Katakan pada saya sekarang! Di mana barang itu?"
"Sudah saya bilang berulang kali dari tadi! Saya tidak memiliki barangnya sama sekali!" celetuk Reporter Yulia.
"Dasar bohong! Saya melihatnya tadi Anda memiliki barangnya!" Pelaku tersebut semakin menarik rambutnya Reporter Yulia serasa seperti akar rambutnya terangkat semua.
"Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda membunuh semua orang tidak berdosa?"
"Diam! Sebaiknya Anda tidak usah ikut campur!"
Reporter Yulia mengulurkan tangannya berusaha meraih maskernya pelaku namun tangannya ditahan oleh pelakunya lalu pisau kecilnya ditodongkan mendekati lehernya.
"Saya harus berbuat apa supaya mulut Anda terus membungkam!" sergah pelaku.
__ADS_1
"Tenang saja saya tidak akan mudah takut dengan seorang psikopat seperti Anda! Lihat saja nanti!"
"Sekarang Anda tinggal memberitahu pada saya di mana barang itu Anda sembunyikan sekarang juga! Ini kesempatan terakhir Anda kalau ingin nyawa Anda tetap selamat!"
"Barangnya memang tidak ada sejak awal! Apa Anda tidak mendengar perkataan saya dari tadi!" bentak Reporter Yulia suaranya terdengar sedikit berserak.
Pelaku tersebut tanpa segan-segan menonjok wajahnya Reporter Yulia lagi hingga sedikit berdarah dan semakin mendekatkan pisau kecilnya pada lehernya Reporter Yulia.
"MATI SEKARANG JUGA!!" teriak pelakunya mengayunkan pisaunya menuju lehernya Reporter Yulia.
"BERHENTI DI SANA!" pekik Nathan dan Tania sambil berlari menyelamatkan Reporter Yulia.
Pelaku tersebut menghentikan aksi kejamnya lalu berlari menghindari dua detektif. Sementara Tania sangat geram pada pelakunya lalu berlari mengejarnya.
"TANIA, APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN!" pekik Nathan berlari menyusul Tania.
Sedangkan pelakunya membalikkan tubuhnya ke belakang menghadap Tania sambil berlari lalu melayangkan tendangannya yang kuat mengenai wajahnya Tania. Tubuh Tania terjatuh lemas di atas aspal jalanan lalu pelakunya kembali melarikan diri dari sana sebelum petugas kepolisian lainnya mendatangi area ini.
"TANIA!!" teriak Nathan berlari menghampiri Tania yang tidak berdaya.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak usah mencemaskanku berlebihan," sahutnya lesuh sambil memegang sudut bibirnya agak berdarah.
"Kamu terluka mana mungkin baik-baik saja!" oceh Nathan sangat cemas sambil mengusap darah yang melekat pada sudut bibirnya Tania dengan jempolnya.
Tak lama kemudian, aku dan Adrian tiba di sana bergegas menghampiri tubuhnya Reporter Yulia terbentang di atas jalanan aspalnya.
"Maaf aku datang terlambat," sesalku menunduk bersalah.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang menolongku," sahutnya tersenyum tipis.
Sedangkan Nathan merangkul tangannya Tania menuntunnya perlahan bergabung denganku dan Adrian. Pipinya Tania sedikit memerah apalagi luka di bibirnya membuatku sangat mencemaskannya sekarang.
"Tania, apa yang telah terjadi padamu?" tanyaku cemas sambil menyentuh pipinya sedikit memar.
"Ini hanya luka kecil saja. Kalian saja yang bereaksi berlebihan."
"Luka kecil apanya! Kamu kenapa tadi nekat mengejar pelakunya sendirian!" gerutu Nathan mengomelinya habis-habisan.
"Aduh Tania, kalau kamu berbuat nekat begitu nyawamu bisa terancam!" omelku.
"Apa yang terjadi?" tanya Fina.
"Kalian datangnya lama amat sih!" omel Nathan geram.
"Tadi kami sempat terjebak macet makanya telat datangnya," balas Hans memasang raut wajah polosnya.
"Ish kenapa kalian berangkat dari rumah seperti siput!" sindir Nathan.
"Yulia, biar kami yang mengantarmu ke rumah sakit," tawar Hans mengulurkan tangannya.
"Tidak apa-apa. Aku masih bisa jalan," balas Reporter Yulia berusaha bangkit namun tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi.
"Jangan malu-malu. Aku melihat wajahmu memar, kamu harus diberi pengobatan dulu," ujar Fina membantunya bangkit dengan merangkul tangannya.
"Iya benar kata Fina. Kamu memiliki cedera cukup parah," lanjutku.
"Baiklah. Maaf merepotkanmu, Hans."
"Kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit dulu!" ajak Nathan.
"Tapi lukaku tidak begitu parah Nathan," tolak Tania.
"Kamu cukup menuruti perkataanku saja!"
Sedangkan Hans dan Fina menuntun Reporter Yulia perlahan memasuki mobilnya. Kami semua mengikuti Hans dan Fina menuju rumah sakit. Setibanya di sana, Hans dan Fina membawa Reporter Yulia menuju ruang UGD untuk diberi pengobatan terhadap cedera yang dialaminya sama seperti halnya Tania juga diberi pengobatan di sebelah. Aku dan Adrian menghampiri Reporter Yulia menanyakan kejadian yang dialaminya barusan.
"Ini pasti berat, 'kan," ucapku lesuh.
"Sedikit sih bagiku."
"Maaf ya, aku membuat nyawamu terlibat dalam bahaya terus. Waktu itu kamu juga mengalami cedera yang parah akibat membantuku," sesalku tertunduk bersalah.
"Tidak apa-apa, Penny. Walaupun ini memang sangat membahayakan nyawaku, tapi aku harus melakukan pekerjaanku untuk mengungkapkan kebenaran bersama kalian semua. Mungkin kalau aku tidak membantu kalian, nanti kalian akan kesulitan menyelidiki kasusnya," sahutnya menggenggam tanganku tersenyum simpul.
"Tapi tadi aku sungguh takut bila terjadi masalah besar yang menimpamu. Untung saja Nathan dan Tania tiba duluan, kalau tidak, mungkin kamu akan menghadapi bahaya yang dapat mengancam nyawamu."
"Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi, Penny. Beberapa orang berkata bahwa kalau kita melakukan pekerjaan pasti ada yang namanya risiko."
__ADS_1
"Tapi aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu, Yulia. Kamu membantuku menyelidiki tiga kasus pembunuhan sejak dulu. Apalagi kamu selalu memegang peran penting saat menyelidiki kasus." Aku mengulum senyuman ramah.
"Tentu saja aku pasti akan membantumu menyelidiki kasus walaupun dapat membahayakan nyawaku. Karena aku sudah menganggap kamu sebagai teman dekatku, Penny."
Aku secara spontan memeluknya dengan hangat.
"Omong-omong, apakah tadi pelakunya berbicara sesuatu yang aneh padamu?" tanya Fina mengalihkan pembicaraannya.
"Pelakunya tadi mengincarku karena barang bukti itu," jawab Reporter Yulia kembali serius.
"Sudah kuduga dia mengincarmu karena masalah barang bukti. Karena bukti itu juga salah satu kunci utama untuk aku memecahkan teka teki ini," ujarku bertopang dagu.
"Tapi bagaimana pelakunya bisa tahu kalau kamu memiliki barang buktinya? Padahal kita tidak membicarakannya di kantor polisi deh," tanya Nathan bingung.
"Benar juga sih. Kamu memberitahu Penny saat hari libur bagaimana dia bisa mengetahuinya," lanjut Tania.
"Mungkin pelakunya selama ini sudah menargetkan seluruh anggota tim dan orang sekitarnya sejak awal. Pelakunya berasumsi bahwa salah satu dari kita pasti menyimpan barang buktinya," kata Adrian.
"Lalu mungkin pelakunya mengincarmu dulu karena kamu seorang reporter jadinya kemungkinan besar kamu memiliki barang buktinya," lanjut Fina.
"Benar juga sih. Tapi aku selama ini tidak menyadarinya sama sekali."
"Mungkin pelakunya beraksi hanya di malam hari. Dia tidak mungkin mengintaimu di siang hari," balas Hans berkacak pinggang.
"Bisa juga sih. Aduh aku jadi sedikit takut pelakunya akan mengincarku terus. Apalagi aku dalam kondisi masih hidup begini dia tidak akan membiarkan hidup bebas." Reporter Yulia menghela napasnya lesuh sambil memainkan kuku jarinya.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus memerintahkan petugas polisi untuk terus mengawasi daerah sekitar tempat tinggalmu supaya pelakunya tidak akan berani menampakkan dirinya lagi," kataku.
"Situasi semakin tidak kondusif. Pelaku bisa melakukan seenaknya apa yang dia inginkan sampai dirinya puas," tambah Adrian.
"Yang pasti intinya sekarang kamu harus beristirahat dulu," ucap Hans melontarkan berbeda dari yang lainnya.
"Kamu ini bisa saja berbicara seperti itu di situasi seperti ini!" sungut Nathan memukuli lengannya Hans.
"Kan aku orangnya memang paling perhatian di antara kalian semua. Sedangkan kalian hanya bisa menakutinya." Hans berlagak sombong mengangkat kepalanya memelototi kami semua.
"Mulai deh dia berlagak norak dan sombong!" hardik Adrian menggelengkan kepalanya.
"Diam kamu, Adrian! Sebelum aku merobek mulutmu sampai tidak bisa berbicara lagi!"
"Hei, Hans! Jangan berkata seperti itu di hadapannya! Kalau perkataanmu tidak saring, maka aku akan cari staples raksasa untuk membungkam mulutmu!" celetukku dengan tatapan sebal.
"Sebaiknya kamu diam saja tidak usah ikut campur, Penny!" bentak Fina mencolek lenganku kasar.
"Fina! Kenapa kamu bersikap kasar pada istriku!" hardik Adrian.
"Adrian! Teganya kamu membentak istriku!" Hans mencengkeram kerah kemejanya Adrian kasar.
Adrian membalas Hans dengan mencengkeram bajunya seperti ingin saling baku hantam.
"Lagi pula istrimu ini yang memulainya duluan!" celetuk Adrian.
"Aduh kenapa kalian jadi bertengkar semua sih!" keluh Tania menutupi daun telinganya dengan kedua tangannya.
"Biarkan saja mereka semua bertengkar. Ini seperti tontonan film di malam hari," balas Nathan tertawa terkekeh.
"Benar juga sih. Lebih baik kita tidak usah terlibat dan menonton aksi kekonyolan ini di malam hari."
"KALIAN BERDUA DIAM!" bentak Adrian dan Hans serentak.
Nathan dan Tania hanya berdiam diri mengamati kami semua bertengkar karena masalah kecil saja hingga hampir saling menjambak rambut.
"Fina! Awas saja kamu berani menjambak rambut Penny kasar!" ketus Adrian melepas cengkeraman tangan Fina pada rambutku.
Namun Fina menepis tangannya kasar lalu menjambak rambutku lagi, secara spontan Adrian ingin melepas cengkeramannya lagi namun ditahan oleh Hans.
"Kenapa kamu menahanku?" hardik Adrian memelototi Hans tajam.
"Urusan kita belum selesai!"
Hei, Hans! Jangan melukai wajah suamiku!" tegasku.
"Suamimu itu keterlaluan!"
Sedangkan Reporter Yulia menyaksikan tingkah kekonyolan kami sampai tertawa terbahak-bahak memegang perutnya.
Sementara di sisi lain, pelaku yang berhasil melarikan diri itu sedang berada di ruang rahasianya sambil melempari semua barang yang ada di mejanya tanpa peduli rusak. Pelaku tersebut sangat geram hingga gerah melepas jaket, topi, dan juga maskernya.
__ADS_1