
Dua bulan kemudian
Sekarang memasuki bulan Desember 2021. Karena di kota ini sudah tidak terjadi hal aneh lagi, sekarang aku bisa dengan bebas pergi ke mana saja termasuk berkencan dengan Adrian.
Kebetulan sekali, hari ini aku ada janji berkencan. Sekarang aku tidak berpenampilan tomboi lagi sejak berpacaran. Aku selalu merias wajahku dan memakai pakaian yang sepantasnya seperti wanita normal lainnya.
"Penny, kamu lama sekali! Adrian sudah menunggumu di sini dari tadi!" Suara teriakan ibu dari lantai bawah membuatku panik.
"Astaga cepat sekali dia datangnya! Aku harus bergegas sekarang!" Aku mengambil sling bag dengan lincah.
Kini penampilanku sudah terlihat sempurna dengan balutan dress selutut terlihat anggun. Aku berlari keluar dari kamarku menuruni tangga terburu-buru hingga aku hampir terjatuh dari tangga.
Untung saja Adrian menahanku dengan cepat merangkul punggungku hingga membuatku malu di depannya. "Kamu ceroboh sekali sih! Kalau sampai terjatuh beneran gimana!"
Aku memalingkan mataku sebal. "Ish aku panik gara-gara kamu datangnya cepat sekali!"
Adrian tertawa gemas sejenak sambil membelai rambutku lembut. Terutama netra gagahnya terfokus memandangi terus membuatku semakin salah tingkah.
"Aku tidak tega memarahimu karena hari ini kamu cantik sekali."
Rona merah menyala pada pipiku. "Setiap kali kamu memuji penampilanku, aku jadi semakin malu!"
"Pipimu memerah tiba-tiba. Kamu demam?" Adrian menyentuh dahiku memeriksa kondisi tubuhku dengan ekspresi wajah polos.
Bola mataku berputar bermalasan. Sudah dua bulan berpacaran dengannya, namun tetap saja sikapnya yang terkadang tidak peka masih belum berubah.
Sebagai hukumannya, aku mencubit pipinya sedikit bertenaga. "Dasar tidak peka sama sekali! Pipiku memerah bukan karena demam tapi aku malu mendengar pujianmu barusan!"
Adrian tersenyum usil mencubit pipiku juga. "Ya sudah, aku mencubit pipimu supaya pipimu memerah."
Pipiku sedikit sakit akibat dicubit. "Aduh sakit, Adrian!"
"Bukankah bagus kamu tidak perlu merias wajahmu dengan tebal?"
"Coba kalau aku yang mencubitmu! Aku jamin kamu pasti mengeluh kesakitan!"
Aku mulai memainkan jari jemariku belum saja mencubitnya, ia langsung menahan tanganku mendekapku erat.
"Aku tidak akan mencubitmu lagi," ucapnya manis sambil mengusap kepalaku.
Di tengah momen kemesraanku dengan Adrian, ibu muncul tiba-tiba entah dari mana menertawakan kami.
"Kalian sudah selesai bermesraannya?" ejek ibu.
"Hehe sudah, Bu. Kami akan pergi sekarang juga," pamitku tersenyum sendiri menarik tangan Adrian keluar dari rumahku.
"Hati-hati di jalan! Jangan pulang terlalu malam!" pekik ibu, lalu melanjutkan menonton berita di ruang tamu.
Sebenarnya jarang sekali aku pergi nonton di bioskop bersama Adrian, karena pekerjaan kami yang selalu sibuk. Aku beli popcorn dan soda sebagai pelengkap sambil menonton. Film yang kami tonton adalah film bergenre horror.
Walaupun aku tidak suka film horror tapi Adrian lumayan menyukainya, aku menonton film itu dengan sepenuh hatiku dari awal hingga akhir. Sepanjang film itu berlangsung, aku hanya bisa menutup mataku dengan tasku.
"Kamu takut?" Suaranya seperti sedang mengejekku membuatku malu.
Tetap saja aku harus berani daripada ia terus mengejekku. "Tidak, aku biasa saja."
"Kalau kamu tidak takut, kenapa kamu menutupi wajahmu dengan tasmu?"
Dengan sigap aku menyingkirkan tasku dengan tatapan melotot menonton film. "Aku tidak takut. Tadi rambutku sedikit berantakan jadinya aku merapikannya dulu. Nih aku sudah tidak menutupi wajahku lagi."
Adrian mengulurkan tangan kiri. "Kalau kamu takut pegang tanganku saja."
Aku mengibaskan tanganku berlagak angkuh bermaksud menolak tawarannya. "Lihat saja nanti siapa yang takut duluan!"
Tiba-tiba muncul sosok hantu yang menyeramkan tubuhnya tidak utuh sama sekali dalam adegan film membuatku semakin ketakutan.
"AAAHHH!!" Akhirnya aku menyerah memeluk tubuh kekasihku erat.
Adrian menertawaiku puas sambil mengelus kepalaku. "Tuh, sudah kuduga kamu pasti takut nonton film horror. Aku sudah menduganya sewaktu kita mengunjungi kantor lama Pak Colin di Gangnam waktu itu. Suara tikus saja kamu sampai ketakutan seperti melihat hantu."
Aku memanyunkan bibir. "Iya, aku mengakuinya. Aku sebenarnya takut hantu dan takut menonton film horror ini sangat menyeramkan."
Adrian mengernyitkan alis. "Kalau kamu takut, kenapa tetap ingin menonton film ini? Kita bisa memilih film lain sesuai dengan seleramu."
Aku memainkan kuku jariku menunduk malu. "Habisnya aku ingin menyesuaikan seleraku dengan seleramu juga. Selama ini kamu yang berusaha menyesuaikan tapi sekarang giliran aku yang berusaha menyesuaikannya."
Adrian sedikit memiringkan tubuhnya menghadapku dan mendaratkan kecupan manis pada punggung tanganku selama beberapa detik. "Tapi kalau kamu memang tidak suka, jangan terlalu memaksakan dirimu. Nanti kamu merasa tidak nyaman dan begitu pula denganku."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lagi pula kita sudah terlanjur menonton film ini, kita harus menonton film inj sampai selesai." Aku menghela napasku panjang untuk mempersiapkan mentalku.
Adrian menepuk pundaknya. "Sini kepalamu bersandar saja di pundakku supaya tidak takut."
Aku tersenyum manis menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja mempererat pelukannya.
"Sekarang kamu sudah tidak takut lagi?" Adrian mendaratkan bibirnya di dahiku dengan lembut.
Aku mengangguk anggun. "Sudah lumayan rasa takutnya mulai menghilang karena ada kamu tepat di sisiku."
Sepanjang menyaksikan filmnya, Adrian mengusap kepalaku sambil memelukku sampai filmnya berakhir. Perlakuan hangatnya padaku saat ini terutama memandangi senyumannya manis membuat jantungku semakin berdebar dan ingin bermanja dengannya lebih lama lagi.
Tapi jika dipikir-pikir, mungkin aku akan membuat tangannya sakit kalau terus memelukku. "Kamu memelukku terus apakah tanganmu tidak pegal?"
Adrian menggeleng dan mengedipkan mata sekilas. "Tidak masalah. Tanganku selalu kuat demi wanita kesayanganku tidak ketakutan."
"Kalau begitu apakah aku boleh bermanja denganmu sampai filmnya berakhir?"
"Tentu saja boleh. Kamu boleh melakukan apa saja padaku." Adrian mencium pipiku sekilas.
Aku langsung membalasnya dengan mengecup pipinya.
Walaupun aku bermanja dengannya sepanjang menyaksikan filmnya, masih ada sedikit rasa takut melekat pada diriku. Namun setiap kali aku ketakutan, tatapanku langsung tertuju pada wajah tampannya.
Setelah dua jam berlangsung, akhirnya aku terbebas dari film horror itu dan dengan cepat berlari ke kamar kecil untuk buang air kecil karena merinding ketakutan. Setelah itu, aku keluar dari kamar kecil sambil bernapas lega.
"Dasar penakut," ledek Adrian merangkul bahuku mesra.
Aku memanyunkan bibir. "Ish bukan karena takut! ACnya sangat dingin seperti kutub utara. Lagi pula aku sudah tidak takut lagi karena bersandar di bahumu."
"Selain itu, kamu terus bermanja padaku terus," tambahnya tersenyum godaan padaku.
Aku tersenyum malu di hadapannya. "Kalau itu sih memang aku ingin bermanja denganmu."
"Kamu memang banyak alasan!" celetuknya setengah tertawa.
"Ya sudah, aku pulang saja sekarang kalau kamu tidak percaya denganku!" ancamku mendengkus kesal meninggalkannya.
"Tunggu, Penny!"
Adrian menghampiriku melingkarkan kedua tangannya pada perutku dari belakang mengecup telingaku sekilas. "Kumohon jangan mengambek! Tadi aku hanya bercanda saja. Maafkan aku."
"Aku pasti memaafkanmu tapi ada satu hukuman untukmu karena membuatku tadi mengambek."
Ekspresi wajahnya mulai pucat. "Apa itu hukumannya? Jangan yang susah dong!"
"Ayo, sini ikut denganku!" ajakku menggandeng tangannya dengan semangat menuntunnya menuju restoran Korea.
Aku sengaja memesan makanan yang sangat pedas yaitu tteokbokki dan sup sundubu jjigae sebagai hukuman untuk Adrian. Sebenarnya Adrian bisa makan makanan pedas Tapi, ia tidak bisa menikmatinya dalam jumlah yang banyak seperti sekarang.
Ekspresi wajahnya semakin pucat dan menelan saliva gugup mengamati semua menu makanan ini berwarna merah cabai. "Kenapa kamu pesan makanan pedas semua?"
Aku tersenyum sinis. "Ini hukumanmu. Kamu harus memakan tteokbokki dan sup sundubu jjigae ini bersamaan tanpa minum air."
"Aduh, Penny jangan begitu dong! Nanti kalau aku sakit perut gimana!" rengeknya seperti anak kecil.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Habiskan dua-duanya sekarang!"
Adrian memasang wajah memelas menatap tteokbokki di hadapannya. "Baiklah, akan kuhabiskan sekarang. Nanti kalau sampai aku sakit perut, kamu harus ikut bertanggung jawab, ya."
Adrian menghela napasnya dengan pasrah mengambil sendok di meja, lalu menyantap tteokbokki dan sup sundubu jjigae bersamaan dengan wajah pucat. Aku tidak rela melihatnya menderita sendirian walaupun ini ulahku.
Dengan sigap aku mengambil sendokku juga, lalu membantu ia menghabiskan makanannya. Memang sejak dulu sikapnya polos setiap aku menjahilinya dan selalu menurutiku.
"Kenapa kamu ikutan makan juga?" tanyanya bingung.
"Kamu memang sangat bodoh dan mudah tertipu. Padahal kamu seorang jaksa tapi mudah tertipu dengan ucapanku seperti itu!"
"Aku hanya mengikuti perintah kekasihku saja. Kalau ada orang lain selain kamu yang menyuruhku melakukan hal seperti ini, aku dengan jelas menolaknya mentah."
Aku memukuli sendoknya menggunakan sendokku. "Kamu memang pintar cari alasan!"
"Kamu barusan bilang apa?" Adrian berpura-pura tidak mendengarkan perkataanku menyunggingkan senyuman usil.
Aku memalingkan mataku polos. "Tidak apa-apa. Aku tadi hanya asal bicara saja."
Adrian menyipitkan mata, melipat kedua tangan di dada. "Aku yakin tadi kamu mengucapkan sesuatu padaku."
__ADS_1
"Sudahlah sekarang kita cepat habiskan makanannya dan pergi dari sini, nanti kamu yang bayar tagihannya."
"Ayolah, Penny! Cepat katakan padaku!" rengeknya mendesak sambil menggoyangkan tanganku.
Aku memutar kedua bola mataku bermalasan membungkam mulutnya dengan menyuapinya, dalam sekejap senyuman manis terpampang pada wajah tampannya.
"Bagaimana? Kamu suka?"
Adrian mengangguk malu sambil menyuapiku. "Aku menyukainya kalau aku menyuapimu juga."
Aku jadi merasa sungkan dan ingin menarik ucapanku soal bayar tagihan makanan. Sejenak aku meletakkan sendok di mangkuk. "Omong-omong, biar aku saja yang membayar tagihannya. Tadi aku sungguh asal bicara."
"Tidak perlu. Biar aku saja yang bayar, kamu tinggal menikmati makanannya bersamaku."
Karena ia sungguh menuruti perintahku dan membayar tagihan makanannya, aku mengajaknya ke toko es krim dan membelikan es krim untuknya. Aku membeli dua es krim rasa cokelat dicampur vanila untuk kami.
Aku memberikan sebuah es krim untuknya. "Ini hadiah untukmu karena sudah menuruti perintahku."
Adrian mengelus kepalaku memperlakukan seperti anak kecil. "Terima kasih, Kesayanganku. Omong-omong, memang kamu andal dalam hal ini."
"Karena kamu dan aku menyukai es krim rasa ini tentu saja aku selalu mengingatnya."
Saat aku sedang menikmati es krim, Adrian mengusap bercak cokelat melekat di sudut bibirku dengan jempolnya. Jantungku berdebar kencang memandangi wajahnya berdekatan denganku.
"Setelah ini, kita pulang saja. Nanti ibuku memarahiku jika pulang terlalu malam," ucapku gelagapan.
"Iya tenang saja, beri aku waktu untuk menghabiskan es krim ini."
Karena sudah malam, aku bergegas pulang ke rumah supaya tidak dimarahi ibu. Kalau ayah sih terserah mau aku pulang malam atau tidak, yang terpenting ada seseorang di sisiku terus.
Setibanya di rumahku, aku turun dari mobilnya Adrian dan berpamitan dengannya. "Kamu pergi dulu saja, aku akan melihatmu di sini."
Adrian menggeleng langsung keluar dari mobil menghampiriku. "Tidak, aku akan melihatmu masuk ke dalam rumahmu dulu baru aku bisa pulang dengan tenang."
"Aku kan sudah sampai di rumah. Kamu pulang saja, besok kamu harus kerja."
Adrian menyentuh pundakku. "Pokoknya tidak mau. Aku ingin melihatmu masuk ke dalam rumah!"
"Ish kamu keras kepala, Adrian! Padahal aku lebih pilih melihatmu pulang dengan selamat."
"Aduh, kalian berdua berisik sekali malam-malam begini!" keluh Randy menghampiri kami berdua tiba-tiba.
Aku dan Adrian hening sejenak. Apalagi aku harus menjaga sikapku di hadapan paman Randy.
"Ayah sedang apa di luar malam-malam begini?" tanya Adrian berbasa-basi.
"Ayah sedang membuang sampah dan mendengarkan kalian yang sangat berisik. Mau masuk ke rumah saja pakai ribet," omel Randy mengeluh dicampur menertawai kami berdua.
Aku menatap Adrian tajam. "Adrian itu cerewet sekali pakai ribet segala!"
Adrian memelototiku balik. "Bukan aku yang cerewet tapi dia yang cerewet, Ayah!"
Paman Randy hanya bisa menggelengkan kepala terus. "Sudahlah hentikan! Kalian berdua sudah dewasa tapi masih bersikap kekanak-kanakan!"
Aku dan Adrian hanya bisa tertawa terkekeh karena tingkah kekonyolan kami berdua.
Adrian mendekapku hangat hingga membuatku tidak ingin melepaskannya sekarang. "Penny, aku ingin bersamamu lebih lama lagi. Kita hanya bisa berkencan di hari libur, bagiku waktu kita masih kurang banyak sehingga aku kurang puas."
Aku melingkarkan lenganku pada punggungnya erat. "Aku juga sama seperti kamu, Adrian. Aku ingin setiap hari berkencan bersamamu atau setiap pulang kerja makan malam bersamamu, tapi karena kita sudah tidak menyelidiki kasus bersama, aku tidak bisa bertemu denganmu sesuka hatiku."
Adrian mengelus kepalaku lambat laun. "Bagaimana kalau besok kita makan malam bersama? Kebetulan aku tidak sibuk."
"Kalau aku sih juga tidak sibuk dengan pekerjaanku. Tapi kamu yakin tidak sibuk?"
Adrian mempererat pelukannya sambil mengusap kepalaku. "Iya, aku yakin. Ini demi wanitaku."
Sementara paman Randy mengamati kemesraan kami hanya bisa tertawa kikuk. "Lebih baik kamu pulang saja ke apartemenmu, Adrian. Besok kamu harus kerja lagi."
Adrian memutar bola mata sambil melepas pelukan. "Baik, Ayah. Aku akan pulang sekarang juga."
"Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya, sampai jumpa, Adrian."
Sebelum aku berjalan memasuki rumahku, Adrian mengecup pipiku. "Ini vitamin dariku supaya kamu bermimpi indah. Selamat malam, Penny."
Aku juga mencium pipinya. "Aku juga tidak lupa memberi vitamin untukmu. Selamat malam, Adrian."
Rasanya aku tidak rela berganti hari besok. Hari ini terasa tidak begitu panjang bagiku, aku tidak puas berjalan bersama dengannya. Terutama besok hari Senin, hari aku mulai bekerja lagi walaupun aku tidak sesibuk mengurus kasus Pak Colin yang dulu.
__ADS_1
Alarmku berbunyi terus hingga membuat telingaku sakit karena aku menaruh tepat di sebelah telingaku. Dengan kesal aku langsung bangun dari mimpi indahku dan mematikan alarm yang menjengkelkan itu. Dalam keadaan masih mengantuk, aku menuruni tangga sambil meregangkan tanganku menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Sedangkan ayah sibuk menonton berita di ruang tamu.
"Berita terkini, ditemukan sebuah mayat wanita yang usianya berkisar 18 - 20 tahun di dasar sungai. Untuk saat ini, pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus ini lebih mendalam."