Good Partner

Good Partner
Part 62 - Berkas Kasus yang Akhirnya Ditemukan


__ADS_3

Situasi sekarang di kamar terasa hangat dan nyaman walaupun ada dua petugas polisi yang sedang berjaga di luar kamar. Sedangkan di dalam kamar, hanya ada aku dan Adrian saja saling menatap dengan jarak dekat dengan pandangan berbinar. Yulia sampai sekarang belum memperlihatkan responsnya.


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja. "Untung saja kamu ada di sini menemaniku, kalau hanya aku sendirian yang berjaga, pasti aku bisa ketiduran."


Adrian mencubit pipiku gemas. "Aku sudah tahu sifatmu itu. Kamu paling tidak suka kalau ditinggal sendiri."


Rona merah menyala pada pipiku. "Memang benar sih, seperti halnya dengan kemarin itu. Aku menunggumu pulang sampai ketiduran di kamarku."


"Sudah kubilang tidak perlu menungguku sampai larut malam, kamu harus beristirahat yang cukup agar tidak mudah sakit!" celetuknya mengerucutkan bibir.


"Aku hanya merindukanmu, walaupun hanya waktu malam hari saja tidak melihatmu, rasanya aku sangat kesepian."


Adrian mendaratkan kecupan manis pada keningku mendalam hingga membuat senyumanku semakin mengambang sekarang.


"Tadi pagi saja kamu bahkan tidak ingin sarapan denganku," ujarnya memanyunkan bibir.


Aku memainkan kuku jariku. "Adrian, maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengambek lagi."


Bibirnya menempel pada dahiku. "Tidak apa-apa. Wajar kamu mengambek karena aku egois."


"Aku sebenarnya tidak marah saat menikmati nasi omelet buatanmu. Aku bisa merasakan ketulusan hatimu membuat sarapannya untukku."


Tangan kanannya menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga. "Aku tahu. Dilihat dari senyumanmu terpancar pada wajahmu membuat hatiku terasa nyaman memandangimu."


"Tapi, kamu tidak akan membiarkan aku sendirian lagi?"


Adrian merangkul pundakku mesra. "Tenang saja. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian lagi."


Senyumanku semakin lebar, tanganku spontan mengayunkan kedua lengannya girang. "Aku paling tidak suka kamu pulang larut malam. Terutama di saat suasana hatiku sedang tidak enak!"


"Kamu kenapa?" tanyanya mulai cemas.


Aku menghela napas pasrah. "Situasi di kantor saat ini semakin kacau. Aku ingin curhat denganmu saja sulit sekali."


"Nanti kamu bisa mengungkapkan semua isi hatimu yang terpendam padaku satu per satu. Aku selalu menjadi pendengar yang baik dan mendukungmu dari belakang."


"Inilah salah satu alasan kenapa aku sangat menyukaimu. Karena kamu pembangkit semangat hidupku."


Aku mengecup pipinya dalam durasi cukup lama hingga membuatnya memelukku dengan erat sekarang. Adrian mengecup pipiku juga mengukir senyuman bahagianya pada wajahnya.


"Adrian, karena tadi pagi aku tidak memberi vitamin untukmu, jadinya sebagai gantinya aku memberimu vitamin lebih banyak dari biasanya."


"Saat aku memelukmu tadi pagi, aku bisa merasakan vitaminmu tersalurkan pada tubuhku juga," balasnya sambil mengusap kepalaku lembut.


Aku tersenyum manis menyentuh pipinya. "Karena aku akan selalu menjadi vitamin penyemangatmu."


Adrian mengelus pipiku sambil mendekatkan wajahnya menuju wajahku membuat jantungku semakin berdebar kencang.


Tiba-tiba di tengah pembicaraan kami, tangan kiri Yulia menunjukkan responsnya. Ia membuka kedua matanya perlahan dan menatapku.


Bola mataku terbelalak. "Yulia sudah siuman!"


"Aku akan memanggil dokter ke sini." Adrian bergegas keluar dari kamar memanggil dokter yang menangani perawatan Yulia.


Sedangkan aku berdiri mendekati ranjang, menyentuh tangannya pelan. "Yulia, kamu mengenalku?"


Ia tidak menjawabku. Aku tahu ia pasti belum bisa berbicara akibat dicekik pembunuh.


"Kalau begitu coba kamu menganggukkan kepalamu jika kamu mengenalku."

__ADS_1


Yulia menganggukkan kepalanya dan menatapku seperti ingin berbicara sesuatu denganku.


Tak lama kemudian, Adrian bersama dokter yang bertugas memasuki kamar. Dokter itu dengan sigap menghampiri Yulia dan memeriksa kondisinya dengan berbagai macam peralatan.


"Bagaimana dengan kondisinya, Dok?" tanya Adrian.


"Tanda vitalnya sudah stabil tapi untuk situasi sementara ini, pasien masih belum bisa berbicara. Kita hanya menunggu pasien pulih secara perlahan dan pasien bisa berbicara seperti orang normal lagi."


"Baik, terima kasih, Dok."


"Saya permisi dulu," pamit dokter itu kembali menangani pasien lain.


Aku melanjutkan perbincanganku dengan Yulia. Ia menatapku sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat mendekatinya.


Aku berjongkok dan mendekat ke wajahnya, ia seperti ingin berbicara sesuatu. "Kamu ingin berbicara sesuatu padaku?"


Yulia menganggukkan kepala dan mengulurkan jari telunjuknya menunjuk tasku yang ada di kursi.


Aku sudah mengerti sekarang. Ia pasti ingin berkomunikasi denganku dengan cara menulis di selembar kertas. Aku mengambil tasku, lalu mengeluarkan buku catatanku dan juga pulpen. Ia mengambil buku catatanku dan membuka selembaran halaman kosong lalu menuliskan suatu kalimat yang tulisan tangannya sedikit berantakan akibat tangannya masih lemas.


Setelah menuliskan kalimat itu, ia mengembalikan buku catatanku dan aku membaca tulisannya perlahan.


"Pelaku yang mencekikku waktu itu, dia adalah orang dari stasiun TV tempat kerjaku."


Alisku terangkat sebelah. "Siapa itu? Apakah kamu melihat wajahnya?"


Aku memberikan buku catatanku lagi dan ia menuliskan sebuah pernyataan lagi untuk menjawab pertanyaanku. Lalu aku membaca tulisannya lagi.


"Saat itu, aku sangat ketakutan dan panik. Dia memakai masker hitam dan topi hitam jadinya aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku berusaha membuka maskernya tapi tidak bisa."


"Bagaimana kamu tahu dia adalah orang dari stasiun TV BYZ?" tanyaku lagi.


"Aku mendengar suaranya terdengar tidak asing saat berbicara denganku. Aku sering mendengar suara itu di tempat kerjaku tapi aku tidak tahu suara siapa itu. Yang pasti aku sangat yakin pelakunya dari tempat kerjaku."


Aku tersenyum tipis menyentuh tangannya. "Baiklah, aku mengerti. Terima kasih telah memberikanku kesaksian darimu. Sebaiknya kamu beristirahat dulu dan jangan memaksakan dirimu."


"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Adrian.


Aku bertopang dagu. "Sudah kuduga pelakunya pasti bekerja di stasiun TV itu. Dimulai dari artikel berita ini menghilang tanpa jejak. Lalu dia bekerja sama dengan pihak kepolisian dan membungkam mulutnya dengan cara apa pun. Tapi saat ini kita belum tahu pasti rupa pelaku sebenarnya seperti apa. Kita tidak mungkin menerobos masuk stasiun TV itu tanpa surat penangkapan resmi."


"Apa mungkin di kantormu itu ada berkas kasusnya? Siapa tahu detektif yang menangani kasus itu menyembunyikannya di gudang arsip berkas kasus."


Aku menepuk jidat, lalu menampakkan senyuman cerdas. "Bisa juga ya, kenapa aku tidak terpikirkan. Pokoknya setelah aku selesai bertugas menjaga Yulia, aku harus bergegas ke ruang arsip itu mencari berkas kasusnya."


Sudah waktunya Hans bertugas menjaga Yulia. Hans memasuki kamar sambil membawa banyak makanan yang ada di dalam kantung plastik.


"Hans, apakah kamu sedang berpiknik?" tanyaku setengah meledeknya.


Hans memang wajah polos. "Tidak kok, memangnya kenapa?"


"Kamu seperti sedang berpiknik saja membawa banyak makan," ejek Adrian menertawainya terkekeh.


"Masa sih? Padahal aku hanya membawa sedikit makanan saja."


"Ingat, Hans! Kamu baru saja sembuh. Jangan sembarangan makan, nanti membuat Fina khawatir" saranku setengah bergurau dengannya.


Bola mata Adrian terbelalak dan setengah hatinya sangat lega mendengar wanita menyebalkan di matanya ada perkembangan mulai melupakan mengejarnya. "Fina mencemaskan Hans? Apa aku tidak salah mendengarnya?"


Aku tersenyum ceria menatap Adrian. "Iya, kemarin itu Fina merawat Hans di saat genting seperti ini. Bahkan dia memasak makanan untuk Hans."

__ADS_1


Adrian mengelus dada tersenyum lega. "Untunglah Fina mulai tertarik denganmu, Hans."


"Sudahlah lebih baik kita bergegas ke kantorku," kataku sambil mengambil tasku terburu-buru.


"Kenapa kamu kembali ke kantor lagi? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Hans bingung.


"Ada sesuatu penting yang harus kucari berkaitan dengan kasus di artikel berita itu. Pokoknya kamu harus fokus menjaga Yulia," jawabku sambil menepuk pundaknya.


"Iya tenang saja, aku akan usahakan membuat mataku melotot terus," kata Hans sambil menatapku dengan melotot.


Aku bergegas berlari menuju mobilku dan mengendarai mobilku kembali ke kantorku, diikuti Adrian dari belakang untuk mengawasiku.


Setibanya di kantor, aku berlari memasuki kantor dan menghampiri Tania bersama Nathan sedang bersiap-siap pulang.


"Tunggu sebentar!" pekikku menghalangi mereka jalan.


"Ada apa, Penny? Kenapa kamu menghalangi kami pulang?" tanya Tania bingung sambil berkacak pinggang.


"Aku membutuhkan bantuan kalian, cepat ikuti aku ke ruang arsip!" ajakku menarik tangan Tania.


"Aku juga akan ikut denganmu," ujar Fina sambil menghampiriku.


"Bagus sekali. Semakin banyak orang semakin cepat untuk mencarinya," seruku dengan semangat.


"Kalau begitu aku akan menunggumu di sini saja." Adrian menduduki sebuah bangku kosong.


Di ruang arsip, kami berpencar mencari berkas kasus hilangnya dua gadis itu. Aku mencari di setiap sudut dan juga seluruh rak tapi aku tidak menemukan berkas kasusnya. Begitu pula mereka juga belum menemukannya sama sekali.


"Ketemu!" pekik Tania.


Aku, Nathan, dan juga Fina bergegas menghampirinya.


"Pintar sekali kamu dalam mencari hal seperti ini!" puji Nathan mengelus kepala Tania.


"Hanya kebetulan ketemu saja tadi di sebuah rak dekat sudut tembok dan ditaruh ditumpukan paling bawah," balas Tania merendah menunduk malu.


"Berkas kasusnya akan kupegang dulu. Jika kita selidiki ini di sini, nanti mata-mata pelakunya akan mengetahui pergerakan kita," usulku pada Tania.


"Baiklah Penny akan kuserahkan berkasnya padamu." Tania memberikan berkasnya untukku.


Aku keluar dari ruang arsip sambil memasukkan berkas itu ke dalam tasku, lalu menghampiri Adrian yang sedang menungguku di sana.


"Apakah kamu menemukannya?" tanya Adrian.


"Tentu saja. Ayo kita pulang sekarang!" ajakku dengan antusias merangkul tangannya.


Setibanya di kediaman Adrian, setelah membersihkan diri dan juga makan malam, kami mulai fokus bekerja lagi di ruang kerja. Aku membuka berkas kasus itu dan menatap nama detektif yang menyelidiki kasusnya saat itu. Aku terkejut saat melihat nama detektif itu hingga semua kertas berjatuhan di lantai.


"Kamu kenapa?" tanya Adrian.


"Detektif yang menangani kasus itu adalah Inspektur William," jawabku dengan gigiku gemetaran.


Sedangkan di sisi lain, Josh masih berada di kantornya sedang bersiap-siap pulang. Lalu tiba-tiba sekretarisnya memasuki ruangannya.


"Tuan, saya sudah mengirimkan email kepada tamu undangan acara ulang tahun Tuan," ucap sekretaris itu.


"Tamu undangannya itu orang VIP, 'kan?"


"Iya saya tidak sembarang mengundang orang lain."

__ADS_1


"Sepertinya tamu VIP kita kurang banyak. Aku akan mengundang dua orang lagi untuk menghadiri acara ulang tahun supaya rumahku terkesan ramai dikunjungi orang," tutur Josh sambil mengambil ponselnya.


__ADS_2