Good Partner

Good Partner
S2 : Part 24 - Sepotong Pecahan Puzzle


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya, aku dan Adrian bertemu dengan Reporter Yulia di suatu Kafe yang letaknya sekitar 6 kilometer dari kediaman kami. Kali ini aku dan Adrian tiba di Kafe lebih awal. Sebelum itu seperti biasa kami memesan kopi kesukaan kami yaitu Matcha Latte. Tak lama kemudian, Reporter Yulia tiba di sini langsung menghampiri kami dengan napas sedikit terengah-rengah.


"Maaf kalian pasti telah menungguku lama."


"Tidak apa-apa. Kami juga baru tiba di sini sekitar lima menit yang lalu," sahutku tersenyum ramah.


"Bagaimana kalau kamu memesan kopi dulu?" usul Adrian.


"Kalau begitu kalian tunggu di sini dulu. Aku akan segera kembali."


Reporter Yulia bergegas menuju counter kasir memesan kopi menunya Iced Americano terlebih dahulu. Usai itu ia kembali menghampiri kami sambil membawa segelas kopi pesanannya.


Sekarang kembali lagi fokus pada kasus yang kami sedang selidiki. Aku memajukan kepalaku menatap serius pada Reporter Yulia.


"Jadinya anonim itu mengirimkanmu bukti seperti apa?" tanyaku.


Reporter Yulia mengamati sekelilingnya dengan penuh kehati-hatian sambil membuka resleting tasnya mengambil sebuah alat recorder. Ia menaruh alatnya di atas meja sambil meminjamkan earphone kepada kami.


"Aku sudah mendengar rekaman ini dengan jelas. Rekaman ini berisi mengenai kejadian pembunuhan salah satu pelajar SMA."


Aku memasang earphone pada telingaku sebelah kiri lalu Adrian memasangnya pada telinga sebelah kanan. Aku menekan tombol putar memulai mendengar rekamannya dengan penuh konsentrasi.


"Kenapa kamu bisa tahu rumahku? Siapa kamu sebenarnya?"


"Kamu tidak usah takut melihatku, Angelina. Apakah kamu lupa? Kita ini adalah teman dekat sewaktu masih kecil."


"Siapa kamu sebenarnya? Aku tidak memiliki teman saat aku kecil."


"Apa maksudmu? Beraninya kamu berkata seperti itu!"


PLAKKK


Aku dan Adrian bergidik ngeri mendengarnya hingga tanganku mulai gemetar.


"Tolong ampuni aku! Aku sungguh tidak mengenalmu sama sekali. Kalau kamu mengincar uang, aku tidak memiliki uang sama sekali." Suara Angelina terdengar panik dalam rekamannya.


"Aku mengunjungimu bukan untuk mencuri uangmu! Tapi aku ke sini untuk bertemu teman lamaku yang aku rindukan selama bertahun-tahun!"


"Kalau mau mencari teman lama sepertinya kamu salah mengenali orang. Semua temanku terlihat seumuran denganku. Sedangkan kamu hanyalah seorang pria dewasa yang tidak waras!"


PLAKKK


"Sekarang aku tidak akan segan menamparmu akibat kamu melupakanku!" bentak pembunuh misterius.


"Kamu saja yang buta tidak melihat orang di hadapanmu ini! Karena kamu terlalu banyak minum alkohol, pandanganmu jadi pudar dan melihatku seperti wanita dewasa juga!"


"Aku sudah tidak tahan mendengar ocehanmu yang tidak masuk akal. Sebaiknya kamu ikut denganku sekarang!"


"Lepaskan aku! Lepaskan sebelum aku memanggil polisi!"


Rekaman suaranya terhenti sampai situ saja. Tubuhku semakin merinding mendengar rekaman yang mengerikan itu hingga tanganku sangat gemetar. Adrian berinisiatif menenangkanku dengan menggenggam tanganku erat. Kami berdua melepas earphone mengembalikan kepada Reporter Yulia.


"Apa mungkin kamu tahu nama pengirim rekaman ini?" selidikku lagi.


"Saat itu aku sedang ingin menulis artikel berita di ruanganku, petugas keamanan menghampiriku membawakan sebuah kotak berukuran besar. Tapi anehnya tidak ada nama pengirimnya sama sekali."


"Hmm ini aneh sekali kenapa saksi mata tidak mau memberitahu namanya?" tanyaku bingung menggarukkan kepalaku.


"Mungkin saksi mata tidak ingin memberitahukan identitasnya kepada kita takut nyawanya akan terancam sama seperti Nielsen dan Pak Xavier," jawab Adrian mengernyitkan alisnya.


"Apa kamu membawa suratnya?" tanyaku.


Reporter Yulia mengeluarkan selembar kertas kecil menaruhnya di atas meja. Aku dan Adrian membaca surat dari saksi mata tersebut bersama.


"Maaf mengganggu kesibukan Anda. Tapi saya ingin meminta tolong pada Anda untuk menulis artikel berita mengenai kasus pembunuhan terhadap salah satu pelajar SMA. Tujuan saya memilih Anda untuk menulis artikelnya karena Anda satu-satunya reporter yang paling andal. Maka dari itu, untuk mengungkapkan kebenaran di balik kasus pembunuhan ini, Anda harus melakukan pekerjaan Anda sebagai reporter membantu pihak kepolisian supaya kasus ini cepat terselesaikan. Saya tidak akan memberitahu nama karena saya tidak ingin mengungkapkan identitas saya. Mungkin ini terlihat hal kecil saja, tapi hanya ini yang bisa saya bantu."


Aku memiringkan kepalaku terfokus mengamati surat dari seorang anonimnya. Benar perkataan Adrian barusan, saksi mata ini tidak ingin memberitahu identitasnya demi keselamatannya. Tapi yang masih mengganjal pada pikiranku saat ini ke mana pelakunya membawa Angelina pergi? Mayatnya sudah membusuk selama 6 bulan ditemukan di hutan.

__ADS_1


"Jadinya kamu akan menulis artikel beritanya?" tanyaku sedikit ragu.


"Sebenarnya aku ingin menulisnya sih sama persis dengan hasil rekaman suaranya. Tapi apakah mungkin akan efektif, ya? Soalnya rekaman suara ini tidak membuktikan aksi pembunuhannya secara langsung."


"Benar juga sih. Rekaman suara ini hanya membuktikan percakapan antara pelaku dengan Angelina saja," balasku.


"Tapi dengan rekaman suara ini, kita bisa mendapatkan cluenya lagi," kata Adrian.


"Kalau begitu kalian simpan saja surat dan alat recordernya. Saat ini aku tidak membutuhkannya lagi. Mungkin aku tidak akan menulis artikel beritanya dulu sampai ada bukti yang lebih akurat lagi."


"Baiklah aku akan menyimpannya dengan baik," ucap Adrian menyimpan surat beserta alat recordernya ke dalam saku celananya.


"Tadi saat kamu mengunjungi Kafe ini tidak ada siapa pun yang sedang mengintaimu, 'kan?" selidikku.


"Tidak sih. Mungkin karena hari masih siang jadinya tidak mungkin menampakkan dirinya saat ini."


"Syukurlah."


"Apa kamu akan melakukan kegiatan lain di rumah atau langsung pulang saja setelah bertemu dengan kami? Kalau langsung pulang ke rumahmu, biar kami mengantakanmu pulang dengan selamat," tawar Adrian.


"Tidak perlu. Aku ada janji dengan temanku lagi di tempat lain untuk menyelesaikan penulisan artikel beritanya," tolak Reporter Yulia halus sambil beranjak dari kursinya.


"Baiklah kamu harus tetap berwaspada," saranku baik.


"Barangkali ada suatu informasi terbaru yang kamu ketahui berhubungan dengan kasus ini, sebaiknya segera hubungi kami," pesan Adrian.


"Baik aku mengerti. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Reporter Yulia membawa tasnya meninggalkan kami berdua di sini.


Aku dan Adrian juga bergegas meninggalkan Kafe lalu kembali menuju kediaman kami. Setelah menempuh perjalanan 15 menit, kami berdua melanjutkan berdiskusi mengenai rekaman suaranya di ruang kerja kediaman kami. Adrian memutar lagi rekaman suaranya mendengar ulang hasil rekamannya dengan penuh konsentrasi.


"Saat pelakunya bilang bahwa dirinya adalah teman lamanya Angelina, sudah dipastikan dia adalah Zack," ucapku mulai fokus pada penyelidikan.


"Berarti mayat yang ditemukan oleh pihak kepolisian waktu itu sungguh bukan mayatnya Zack. Tapi ada seseorang menukar tubuhnya dengan mengambil anak orang lain yang tubuhnya juga sudah hancur sehingga polisi tidak mungkin mengenali wajahnya dengan jelas," lanjut Adrian.


"Kalau seandainya mobil tersebut tidak ludes terbakar, mungkin kita masih bisa mengamati orang yang menolong Zack sewaktu kecelakaan melalui kamera dasbor mobil."


"Berarti bisa disimpulkan orang itu memberikan identitas baru kepada Zack hingga sampai sekarang Zack mungkin hidup sebagai anak asuhannya."


"Dari laporan detektif yang menangani kasus kecelakaan lalu lintas itu, memang saat itu ada terjadi tabrakan beruntun sebanyak tiga mobil. Mobil milik Pak Bernardo merupakan walinya Zack ditabrak oleh mobil lainnya yang pengemudinya saat itu dalam kondisi mabuk. Lalu mobilnya Pak Bernardo menabrak mobil lainnya dengan kuat hingga menabrak sebuah tiang lampu jalanan. Ketiga mobil itu ludes terbakar, tidak ada satu pun korban yang selamat dari kecelakaan mautnya," terangku panjang lebar.


"Hmm kalau misalnya tidak ada satu pun korban yang selamat dari kecelakaannya, lalu sebenarnya siapa yang menolong Zack waktu itu?"


"Menurut dugaanku sih, yang menolong Zack waktu itu bukan bermaksud baik. Tapi memanfaatkan Zack untuk menutupi kejahatannya. Bisa juga orang yang menyelamatkan Zack dari kecelakaan itu berbuat kejahatan atau kesalahan yang tidak sengaja dibuat sehingga dia menukar tubuhnya supaya seolah-olah tidak terjadi apa-apa."


"Lalu sidik jarinya Zack ditemukan pada tubuh mayat itu pasti orang yang menolongnya sengaja melekatkan tubuhnya Zack sebelum dibawa olehnya kabur."


Setelah hasil diskusi kami panjang lebar, ini memang terdengar rencana yang sangat sempurna. Memang Zack masih hidup dengan identitas barunya berkeliaran di kota ini untuk membunuh orang. Sebenarnya Zack bermaksud untuk bertemu dengan teman lamanya yang tinggal di panti asuhan yang sama. Tapi karena mereka sudah lama tidak saling bertemu dan juga Zack sudah tumbuh dewasa jadi sudah sepantasnya Angelina tidak mengenali Zack sama sekali. Karena Angelina melupakannya jadi Zack tidak bisa menahan emosinya lalu melampiaskan amarahnya dengan membunuhnya secara kejam. Yang masih mengganjal pada pikiranku saat ini, kenapa pelakunya terobsesi sekali dengan kartu identitas, foto, dan juga ponsel para pelajar SMA?


"Adrian, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Kenapa, Penny?"


"Waktu itu kamu bilang kemungkinan Zack memiliki gangguan jiwa karena ciri-ciri motif pembunuhannya mirip seperti kasusnya Josh. Sebenarnya aku juga memiliki pemikiran yang sama padamu. Tapi kalau dilihat dari informasi mengenai Zack, sebenarnya dia tidak memiliki catatan medis apa pun apalagi mengenai kesehatan mentalnya selama hidup di panti asuhan terlihat normal," ujarku memperlihatkan laporannya pada Adrian.


"Kemungkinan besar terjadi Zack memiliki gangguan jiwa saat kecelakaan itu terjadi," sahutnya sambil memainkan pulpennya.


"Jadi dia memiliki gangguan jiwa akibat trauma yang dialaminya sewaktu kecelakaan?"


"Iya benar. Coba kamu pikirkan baik-baik deh, Penny! Zack sangat nyaman tinggal di panti asuhan itu bersama tiga teman dekatnya dan sudah menganggap mereka sebagai saudara kandungnya sendiri. Saat Zack keluar dari panti asuhan itu rasanya dia tidak rela meninggalkan panti asuhannya ingin tinggal bersama ketiga teman dekatnya. Lalu tak lama kemudian, Zack mengalami kecelakaan maut bersama dengan Pak Bernardo. Tiba-tiba dia ditolong oleh seseorang yang tidak dikenalnya dan diberi identitas baru. Aku sangat yakin mungkin orang yang menolongnya waktu itu membuatnya tinggal dengan suasana tidak nyaman. Apalagi dia mengalami kecelakaan di saat usianya tergolong muda. Bisa jadi kecelakaan yang menimpanya waktu itu menghantuinya terus sampai sekarang, sehingga membuat dirinya mengalami trauma yang sangat berat mengganggu kesehatan mentalnya," jelas Adrian sangat lengkap.


"Aku punya satu hadiah untukmu, Adrian."


"Apa itu?"


Aku melingkarkan kedua tanganku pada lehernya lalu mengecup pipinya manis secara mendalam dalam durasi singkat.


"Hadiahnya ini ternyata. Aku mengira hadiah apa," ucapnya menunduk malu sambil menyentuh pipinya yang habis dicium olehku.

__ADS_1


"Ini karena aku sangat bangga memiliki suami yang pemikirannya selalu jenius. Kamu selalu terlihat keren setiap kali sedang berspekulasi. Apalagi dugaanmu barusan memang terdengar sangat masuk akal," pujiku mengacungkan jempolku.


"Kamu ini membuatku semakin malu saja. Tapi kalau dipuji oleh istri tercintaku sendiri malahan aku semakin bersemangat." Adrian membelai rambutku lambat laun.


"Sepertinya sekarang kita sudah bisa memecahkan pecahan teka teki yang terpotong sedikit demi sedikit."


"Baguslah berarti semakin banyak clue yang kita dapatkan maka semakin cepat kita menyelesaikan kasus ini."


"Sebenarnya aku masih penasaran dengan nama saksi matanya siapa. Kalau seandainya kita bisa bertemu dengannya langsung pasti kita bisa mendapatkan informasinya lebih lengkap lagi."


"Yang terpenting sekarang kita sudah tahu latar belakangnya pelaku dan pecahan kronologi insiden pembunuhan Angelina. Urusan saksi mata yang mengamati insidennya langsung itu belakangan saja kita pikirkannya. Aku sedikit lega ternyata masih ada orang secara sukarela memberikan bukti ini diam-diam kepada kita."


"Tapi kenapa dia baru memberikannya sekarang? Kenapa tidak dari sejak tubuhnya Angelina ditemukan di hutan? Mungkin Nielsen, Pak Xavier, dan para pelajar lainnya tidak mengalami musibah mematikan itu," tanyaku.


"Mungkin saksi mata ini menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan bukti kesaksiannya pada seseorang yang menurutnya bisa dipercayai sepenuhnya. Atau mungkin saksi matanya sebenarnya selama ini ragu menyerahkan bukti ini apalagi mengamati perilaku pelaku terhadap korban secara kejam di depan matanya membuat dirinya mengalami sedikit trauma. Sejak kejadian mencekam itu, bisa juga dirinya selalu dihantui terus setiap saat."


"Iya juga sih. Kalau aku jadi saksi matanya juga pasti ketakutan terus sejak melihat kejadian itu secara langsung."


"Sudahlah kepalaku sepertinya butuh istirahat. Rasanya ingin menyandarkan kepalaku pada sesuatu yang terasa empuk deh." Senyuman nakal terlukis pada wajahnya sambil menyandarkan kepalanya secara perlahan pada pundakku.


"Ish kepalamu berat, Adrian! Aku juga ingin menyandarkan kepalaku!" sungutku berusaha mengangkat kepalanya.


"Tidak mau!" tolaknya langsung merengek seperti anak kecil.


"Adrian! Kepalaku juga sudah pegal nih! Aku mau menyandarkan kepalaku juga!"


Adrian mengangkat kepalanya lalu menggendong tubuhku menuju ruang tamu dan membaringkan tubuh kami di atas sofa. Adrian memelukku erat dan aku membenamkan kepalaku pada tubuhnya sambil memejamkan kedua mataku.


"Dasar manja, Penny! Kau terlihat imut setiap kali manja padaku." Adrian mencubit pipiku lembut.


"Ish jangan ganggu tidur siangku!"


"Tadi sepertinya aku yang merengek ingin beristirahat deh! Sekarang malahan kamu yang terlihat seperti tidak tidur selama berhari-hari."


"Kamu berisik sekali sih, Adrian! Rasanya aku ingin mengunci mulutmu dengan gembok deh!" gerutuku memukuli lengannya lembut.


"Ya sudah, kamu mau kunci mulutku rapat silakan dengan cara apa pun! Aku tidak masalah sama sekali karena bagiku rasanya pasti nyaman."


Aku menempelkan jari telunjukku pada bibirnya untuk membungkam mulutnya yang rewel membuat telingaku panas. Namun ia menggenggam jari telunjukku lalu semakin memajukan kepalanya mendekatiku.


"Sayang, jangan ngambek dong," rayunya manja padaku.


"Kamu sungguh membuat kepalaku semakin panas." Aku memanyunkan bibirku memalingkan mata darinya.


"Penny sayang ...."


Aku tidak memedulikannya dan lebih mementingkan mengistirahatkan kepalaku yang sudah panas. Mungkin kalau aku lanjut bekerja lagi, kepalaku bakal konslet. Namun karena ia memanggilku dari mulut manisnya, aku mengurungkan niatku ngambek padanya. Malahan tanpa kusadari bibirku yang manyun awalnya menjadi tersenyum ceria.


"Adrian sayang ...." Aku menunjuk pipi kananku mengisyaratkan padanya untuk memberikan vitamin padaku.


"Syukurlah kalau kamu sudah tidak ngambek lagi. Kalau begitu ini vitamin untukmu supaya kepalamu tidak konslet." Adrian mencium puncak kepalaku dan pipiku manis.


"Memang kamu suami yang terbaik selalu peka terhadapku."


Adrian meraih tanganku melingkarkan pada punggungnya lalu mempererat pelukannya sambil mengusap kepalaku lembut. Perlahan kepalaku sudah tidak terasa konslet lagi berkat vitamin darinya. Pada akhirnya aku tidur merengkuh dalam dekapannya sepanjang siang bersamanya.


Sementara di sisi lain, Reporter Yulia berkumpul bersama rekan kerjanya di suatu restoran dalam pusat perbelanjaan melanjutkan diskusinya mengenai perilisan artikel berita yang sedang mereka kerjakan. Sepanjang hari ini, mereka berdua terus fokus bekerja hingga malam hari.


"Akhirnya selesai juga pekerjaanku. Terima kasih ya, Yulia," ucap rekan kerjanya Reporter Yulia.


"Untung saja kita bisa menyelesaikannya hari ini jadinya kita bisa merilis artikelnya besok pagi walaupun hari ini kita kebut sampai malam."


"Tidak masalah yang terpenting pekerjaanku sudah terselesaikan. Akhirnya malam ini aku bisa tidur nyenyak."


"Sebaiknya kita pulang saja sekarang supaya besok kita tidak kelelahan saat bekerja."


"Baiklah lagi pula juga leher dan punggungku terasa pegal sekali," keluh rekan kerjanya sambil menepuk-nepuk punggungnya sendiri.

__ADS_1


Reporter Yulia berpamitan dengan rekan kerjanya lalu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing dengan arah yang berlawanan. Namun ia merasa seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang ketika ingin melangkah menuju halte bus terdekat.


__ADS_2