
Pertengkaran cukup hebat dengan suamiku sebenarnya aku tidak rela melakukannya. Sejak aku menikah dengannya hingga sekarang, ini pertama kalinya aku bersikap egois padanya dan mengusirnya dari hadapanku. Saat ini dalam kondisi tubuhku terbaring di atas ranjang, rasanya aku tidak terbiasa tidur sendirian walaupun sebenarnya aku selama ini hidup sekitar 28 tahun tidur di kamarku dulu sendiri. Namun sekarang situasinya sangat berbeda. Tanpa kasih sayang dari suami tercinta, aku tidak bisa tertidur lelap sekarang. Walaupun aku baru menikah dengannya sekitar empat tahun, tapi aku sudah tidak terbiasa tidur tanpa dirinya menemani di sampingku. Sepertinya bertengkar seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Ketika aku mengamati foto pernikahan kami terpajang di dinding kamar, melihat senyuman bahagia kami terlihat sangat alami menandakan kami akan selalu saling mencintai dan tidak pernah bertengkar sekali pun. Meski kami sering berdebat karena hal kecil tapi tidak sampai sedahsyat begini.
Waktu sudah berjalan hampir lima menit, aku sudah tidak tahan lagi tidur berpisah dengannya seperti ini. Rasanya aku ingin menghampirinya sekarang juga.
Sedangkan Adrian juga sama saja. Dari tadi ia membaringkan tubuhnya di sofa sambil terus berbalik badan. Ia berusaha memejamkan matanya namun tidak berhasil juga.
'Arrghh! Kenapa sulit sekali aku tertidur lelap? Sepertinya memang tubuhku ini sudah kecanduan tidur bersamamu. Aku tidak bisa tidur tanpa kamu, Penny. Pokoknya aku tetap tidur bersamamu sekarang walaupun kamu tidak menerimaku sama sekali. Memang ini sepenuhnya salahku jadinya sangat wajar dia marah besar padaku,' gumamnya dalam batinnya.
Adrian mengambil bantalnya lalu membuka pintu kamarnya secara perlahan. Sedangkan aku yang tadinya memutuskan beranjak dari ranjang untuk mengajaknya tidur bersamaku kini bisa kembali tersenyum lagi melihat kedatangannya.
"Adrian ...." sambutku manja.
Adrian menaruh bantalnya tepat di sebelahku lalu membaringkan tubuhnya dan mendekapku hangat.
"Penny, maafkan aku soal yang tadi. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Seharusnya aku tidak bersikap egois padamu dan tidak menghalangi mimpimu. Aku sebagai suamimu seharusnya terus mendukung mimpimu, bukan menghalangimu demi keegoisanku. Aku tahu mungkin sekarang kamu tidak akan memaafkanku karena masih kesal padaku jadinya mungkin besok aku akan meminta maaf padamu lagi. Tapi izinkan aku tidur bersamamu, aku tidak bisa tidur tanpamu," ungkapnya tulus.
Mendengar ungkapan darinya yang sangat tulus membuatku lega sekarang. Bahkan yang seharusnya minta maaf itu aku, bukan dirinya. Apalagi dilihat wajahnya sangat lesuh, membuatku semakin bersalah padanya.
"Aku juga tidak bisa tidur tanpa kamu berada di sisiku. Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun padaku."
"Penny ...."
"Maafkan aku, Adrian. Seharusnya aku tidak bersikap egois padamu. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi supaya tidak merepotkanmu. Aku juga sebenarnya merasa tidak enak padamu karena aku terus melibatkanmu dalam masalahku. Semua saranmu mulai sekarang aku akan mendengarkannya dengan baik," ungkapku tulus.
"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, Penny. Itu juga bukan kemauanmu mengalami bahaya terus. Tapi aku akan dengan senang hati menjadi pahlawanmu yang selalu datang menolongmu tepat waktu."
"Aku suka dengan gayamu setiap kali menolongku. Apalagi tadi ...."
"Memangnya tadi aku kenapa?" tanyanya memasang raut wajah polosnya.
"Bukan apa-apa."
"Sayang, cepat beritahu padaku! Tadi gayaku keren di bagian mana?" Adrian semakin penasaran padaku sambil mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman nakal.
"Kamu melakukan pertolongan pertamamu padaku. Napas buatanmu waktu itu menghidupkanku kembali," lontarku gelagapan.
"Sudah kuduga kamu pasti menyukainya, 'kan," gombalnya tertawa kecil.
"Pasti aku menyukainya karena itu dapat menolong hidupku." Wajahku semakin memerah lalu memalingkan mataku darinya.
Adrian semakin mendekatkan wajahnya menempelkan hidungnya pada hidungku.
"Mau kuberi lagi?"
"Ish dasar nakal! Tidak mau!" sungutku mengerucutkan bibirku.
Tiba-tiba ia menghembuskan napasnya lesuh.
"Sayang, kamu sungguh membenciku?"
Hatinya pasti masih terasa sangat sakit akibat aku tadi melontarkan ucapanku yang tidak pantas didengarkannya. Sebagai permintaan maaf padaku, aku mengecup pipinya mendalam penuh cinta sambil memejamkan mataku.
"Sayang ...."
"Aku tidak pernah membencimu, Sayang. Tadi itu karena aku sedang emosi jadinya aku asal bicara. Aku mana mungkin membenci suamiku sendiri."
"Tapi yang tadi itu kedengarannya seperti kamu sungguh membenciku."
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Kalau seandainya aku mengatakan 'benci' lagi, kamu berhak memukuliku sampai puas," ungkapku tulus.
Adrian secara spontan mencium hidungku dan semakin mempererat dekapannya.
"Aku tidak mungkin memukulimu, Sayang. Walaupun kamu membenciku, pasti kamu memiliki suatu maksud tertentu. Aku selalu memahami perasaanmu. Penny, aku sangat mencintaimu dengan segenap hatiku. Jadinya jangan pernah membenciku lagi, ya."
"Kamu akan selalu menjadi Adrian yang aku kenal. Adrian Christopher yang memiliki sikap penyayang, penyabar, penolong, dan selalu mencintaiku setiap saat. Aku sungguh mencintaimu sepenuh hatiku."
Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya lalu menghujani ciumannya pada pipiku sampai dirinya puas dengan gelak tawa bahagianya.
"Aku sangat membutuhkan vitamin darimu, Penny. Tadi saat kamu diculik, hatiku terasa sesak lagi," desahnya lesuh.
"Coba kamu lepaskan pelukanmu dulu!"
Adrian menurutiku melepaskannya lalu aku menaruh kepalaku di atas dadanya.
"Kasihan kamu merasakan sakitnya dua kali," ucapku sambil mengelus dadanya.
"Pokoknya setiap kali ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, pasti langsung terhubung ke hatiku. Aku saja tadi bahkan sampai hampir tidak kuat untuk berdiri."
"Ini yang dinamakan insting hati suami dan istri sangat kuat satu sama lain. Karena kamu sangat sayang padaku jadinya hati kita selalu saling terhubung."
"Memang benar aku sangat menyayangimu karena kamu adalah belahan jiwaku."
"Oh iya, Adrian! Aku lupa memberimu hadiah yang spesial untukmu sejak dulu."
"Apa itu?"
Aku duduk di sudut ranjang mengambil sebuah kotak kurus dari laci meja sebelah ranjangku.
__ADS_1
"Ini hadiah untukmu," ucapku sambil memberikan kotaknya.
"Hmm dilihat dari ukuran kotaknya sih sepertinya bendanya pasti kecil. Aku penasaran isinya apa nih."
"Coba buka saja sekarang!"
Adrian melepaskan ikatan pitanya lalu membuka kotaknya sampai matanya berbinar-binar mengamati isi kotaknya.
"Bagaimana? Kamu suka?"
"Aku suka sekali, Sayang! Terima kasih hadiah indahnya!" soraknya girang.
"Terakhir kali aku melihat tinta pulpenmu habis dan tidak ada stok pulpen lagi di laci mejamu. Ya sudah, aku membelikan pulpen khusus ini spesial untuk suami tercintaku."
"Besok pasti aku langsung memakainya. Kalau perlu aku taruh di dalam jasku supaya tidak lupa."
Adrian beranjak dari ranjang menuju walk in closet mengambil salah satu jas kerja yang akan dipakainya besok lalu memasukkan pulpennya ke dalam saku jas. Sementara aku dari tadi tertawa kecil mengamatinya girang begitu karena hanya mendapatkan satu pulpen dariku. Adrian kembali lagi menghampiriku sambil mengamatiku sedang tertawa terus.
"Kenapa kamu tertawa, Sayang?"
"Karena aku suka melihatmu bahagia seperti tadi. Padahal hanya satu pulpen walaupun harganya mahal. Tapi tetap saja itu tidak semahal barang berharga."
Adrian memelukku erat mencium puncak kepalaku mendalam.
"Kan sudah pernah aku katakan sebelumnya, hadiah semahal apa pun atau yang murah tetap saja aku menganggapnya sebagai benda berharga bagiku karena pemberian spesial darimu."
"Syukurlah kamu menyukainya." Mataku mulai terasa berat membukanya.
"Sebaiknya kita tidur sekarang saja."
"Iya nih aku mulai ngantuk."
"Sini biar aku selalu menemanimu tidur supaya kamu tidur nyenyak dan memimpikanku." Adrian semakin mempererat pelukannya tidak peduli aku sesak bernapas atau tidak.
Pipiku semakin memanas. Akhirnya aku kembali menerima pelukannya lagi. Bahkan aku semakin ingin bermanja dengannya sampai besok pagi.
"Adrian sayang ...."
"Iya, Sayang?"
"Gara-gara aku, kita jadi tidak memecahkan rekor sebagai pasangan suami istri tidak pernah bertengkar seumur hidup walaupun kita bertengkar hanya berdurasi sepuluh menit tadi."
Adrian menggeleng pelan mengukir senyuman hangatnya padaku.
"Penny sayang, yang tadi itu kita anggap berlalu saja dan tidak pernah terjadi seumur hidup kita. Aku tetap menganggap kita tidak pernah bertengkar sama sekali."
"Adrian ...."
Aku membenamkan kepalaku manja pada dadanya dan mempererat pelukannya.
"Aku pasti akan berpegang janjiku. Pokoknya aku akan terus menjaga cinta abadi kita."
Sorot matanya terfokus pada pipiku sempat terluka tadi sambil mengelusnya lembut.
"Apakah pipimu masih sakit, Sayang?"
"Berkat ciuman vitamin istimewa darimu, sekarang sudah tidak sakit lagi," lontarku mengulum senyuman khasku.
"Aku bahagia melihat senyuman terindahmu lagi. Tenang saja Sayang, aku tidak akan membuatmu menangis lagi seperti tadi."
"Mmm aku sangat menyayangimu, Adrian."
Akhirnya pertengkaran hebat berdurasi sangat singkat yang sempat terjadi tadi, kami mengakhirinya dengan damai dan manis. Lebih baik kami bersikap gini terus dan tidak saling membenci lagi sampai seterusnya.
Sinar matahari menyinari seisi kota ini dengan terang hingga menembus kaca jendela kamar. Adrian membuka kedua matanya secara perlahan masih dalam kondisi mendekapnya erat. Tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan singkat yang muncul bukan dari ponselnya. Ia penasaran dengan isi pesan singkatnya lalu mengambil ponsel itu membacanya dalam hati.
"Ada sesuatu penting yang ingin kusampaikan padamu. Kamu harus datang ke tempat ini sekarang juga selagi aku masih baik. Hanya kamu yang boleh mendatangiku saja. Kalau kamu berani membawa semua temanmu dan juga petugas polisi, maka nyawamu akan aku habisi saat itu juga."
Raut wajahnya Adrian kembali memucat. Ia menelan salivanya berat sambil memandanginya. Dengan sigap ia beranjak dari ranjangnya bersiap-siap untuk menghampiri pemberi pesan singkat itu. Usai melakukan semuanya dengan beres seperti membuatkan sarapan dulu, tanpa berpamitan ia bergegas keluar dari kediamannya dengan balutan jas dikenakannya yang di dalam sakunya ada pulpen istimewanya ditaruh semalam.
Beberapa menit kemudian, aku terbangun dari tidur nyenyakku sambil meregangkan kedua tanganku. Tanganku merasa seperti ada sesuatu yang aneh. Seingatku semalam Adrian memelukku erat, tapi kenapa kini rasanya hampa? Aku menolehkan kepalaku ke samping dan sedikit panik melihatnya tidak berada di sampingku.
Aku bergegas beranjak dari ranjang mencarinya ke seluruh ruangan di kediaman ini namun tidak ada tanda kehadirannya di sini. Kegelisahan mulai muncul pada diriku. Adrian bukan tipe orang kalau pergi tanpa berpamitan denganku. Ketika aku menghampiri meja makan, hanya ada seporsi nasi omelet buatannya dan juga sebuah kertas kecil yang terselip di bawah piringnya. Aku duduk lemas mengambil catatan kecil darinya lalu membacanya dalam hati.
"Penny, maaf kalau aku pergi tanpa berpamitan denganmu. Tiba-tiba aku ada urusan penting yang harus diselesaikan di kantor. Jangan lupa habiskan nasi omeletnya dan juga jangan sampai terlambat ke kantor. Nanti malam pasti kita akan main bersama lagi. I love you, My beloved Penny."
Aku langsung mengambil sendoknya dan mulai menyantap sarapan buatannya sambil merenungkan kejanggalan perbuatannya pagi ini. Walaupun Adrian memiliki urusan penting di kantornya, biasanya ia berpamitan denganku dulu. Memang sih biasanya aku berangkat ke kantor sendiri kalau ia sibuk. Tapi menurutku tingkahnya sungguh aneh kali ini. Ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
Aku bergegas menghabiskan sarapannya lalu merapikan diriku dulu yang sangat berantakan. Lalu aku mengambil ponselku di atas meja samping ranjang untuk menghubunginya.
"Halo Penny, kamu sudah bangun. Sarapannya sudah kamu habiskan? Kamu sudah mandi? Apa sekarang kamu sedang berangkat kerja?"
"Kamu ada di mana sekarang?"
"Aku sedang menuju ke kantor."
"Kamu tega sekali membiarkanku berangkat sendirian. Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan denganku? Kamu lupa memberikan vitaminmu untukku."
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Akan aku pastikan nanti malam kamu bisa bermain bersamaku sepuasnya sebagai gantinya. Aku berjanji tidak akan pergi tanpa berpamitan denganmu lagi. Nanti saat pulang kerja, aku akan memberikan vitamin untukmu lima kali lipat dari biasanya."
"Pokoknya kamu harus memegang janjimu itu. Aku akan menunggumu pulang nanti malam."
"Iya nanti aku pasti bakal pulang tepat waktu."
"Apa mungkin kamu sudah sampai di kantor? Kenapa perjalananmu lama sekali padahal jaraknya lumayan dekat kalau dari sini?"
"Ini baru saja aku tiba. Kalau begitu aku tutup teleponnya dulu, ya. Sampai bertemu nanti malam, Sayang."
Panggilan teleponnya langsung dimatikan olehnya. Perasaanku mulai sedikit tidak enak padanya. Tiba-tiba aku menyadari ada sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal muncul pada layar ponselku. Aku buka pesannya dengan tanganku gemetar dan membacanya. Tubuhku semakin merinding ketakutan mengamati Adrian yang membalas pesannya. Ketakutan dan kegelisahan semakin timbul pada diriku. Aku langsung membuka navigasinya untuk melacak keberadaannya. Sebenarnya pulpen yang aku berikan semalam, sudah aku pasang alat pelacaknya dulu takut terjadi sesuatu padanya tiba-tiba. Ternyata memang benar, ia membohongiku padahal sekarang ia sedang berada di tempat pergudangan kosong.
Di sisi lain, Adrian memarkirkan mobilnya di sembarang tempat lalu melangkah keluar mulai menelusuri area pergudangan itu. Ia melangkahkan kakinya perlahan mencari keberadaan Zack di setiap sisi area tersebut lalu akhirnya menemukannya juga di sudut tembok.
"Kenapa kamu yang datang? Di mana detektif Penny?" tanya Zack.
"Aku yang menggantikannya untuk menemuimu. Cepat katakan! Bukankah katamu itu kamu ingin membicarakan sesuatu padanya?"
"Karena kamu yang datang maka dari itu aku tidak akan memberitahumu."
Zack mengambil sebuah tongkat besi di dekatnya lalu mengayunkannya mengarah pada Adrian. Sedangkan Adrian bergegas menghindarinya lalu mengepalkan kedua tangannya menghajar Zack dengan sekuat tenaganya. Ia melayangkan tendangannya hingga mengenai tubuhnya terjatuh ke lantai. Adrian berlagak sombong merasa dirinya kini sudah menang lalu menghampiri Zack yang berusaha bangkit kembali.
"Kemampuanmu hanya segitu saja?" tantang Adrian berlagak sombong.
"Yang tadi itu masih permulaan. Kalau kamu ingin mengetahui kemampuanku yang sesungguhnya, rasakan ini!"
Zack melayangkan tonjokannya mengarah wajahnya Adrian. Ketika Adrian ingin melawan pukulannya, ia kalah cepat darinya. Zack menonjok perutnya dengan sekuat tenaganya lalu wajahnya hingga tubuhnya Adrian ambruk ke tanah.
BRUGHHH
Di saat bersamaan, aku merasakan dadaku terasa sangat sakit seperti dihantam oleh seseorang. Napasku semakin terasa sesak hingga aku ingin memberhentikan mobilku di tengah jalan untuk menarik napas panjang. Air mataku berlinang tiba-tiba dan semakin gelisah. Firasatku semakin memburuk mengenai keselamatannya. Dengan penuh emosi, aku mengurungkan niatku berhenti di suatu tempat dan tetap menginjak pedal gasku mendalam menuju area pergudangan itu sambil menghubungi Hans.
"Hans, sekarang kamu dan Fina ada di mana? Apa kalian sudah sampai di sana?"
"Saat ini kami masih dalam perjalanan ke sana."
"Ya sudah kalau begitu secepatnya kalian harus tiba di sana!"
Aku semakin gila mengendarai mobilku sedikit ugal-ugalan tidak peduli hampir menabrak mobil lain sambil terus membunyikan klakson.
Tinn...tinn...
Suara klakson mobil lain sangat menggangguku sampai rasanya aku ingin meluapkan emosiku saat ini menabrak mobilnya. Kini mataku memerah dan sembab dicampur dengan tatapan tajam seperti silet bersiap-siap ingin membunuhnya pada saat itu juga kalau aku menemukan kondisi Adrian dalam kondisi terluka. Awas saja sampai Zack melukai suamiku! Tidak peduli apa pun itu, aku pasti akan membunuhnya di tempat!
Aku menekan layar dasbor mobilku untuk menghubungi Nathan menanyakan lokasinya saat ini.
"Nathan, sekarang kamu dan Tania berada di mana?"
"Kami juga masih dalam perjalanan menuju ke sana, Penny."
"AARGHH! KENAPA SEMUA ORANG MASIH BELUM TIBA DI SANA!" gerutuku sudah seperti orang gila hingga rambutku berantakan.
"Penny, sebaiknya kamu tenangkan dirimu. Aku yakin pasti Adrian bisa menghadapinya. Dia adalah pria yang kuat."
"AKU MANA BISA TENANGKAN DIRIKU! ADRIAN TIDAK MUNGKIN BISA MELAWANNYA SENDIRIAN! TENAGA ZACK JAUH LEBIH KUAT DARINYA! APA KAMU TIDAK INGAT PERLAKUANNYA TERHADAP TANIA WAKTU ITU?"
"Kamu harus berpikir positif, Penny. Lebih baik kamu mendoakannya saja supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya!"
"Sudahlah aku tidak ada waktu lagi berbasa basi denganmu!"
Aku langsung mematikan panggilan teleponnya sambil terus mengumpat dan memukuli setiran mobilku. Kini emosiku sungguh tidak stabil dan rasanya dadaku semakin terasa sakit. Aku merasakan kesakitan yang mendalam pada diriku sekarang walaupun tidak berdarah.
Sedangkan pada saat yang bersamaan, Adrian masih terus bertarung dengan Zack. Walaupun wajahnya sudah memulai memar, tapi tetap saja ia masih ingin melawannya dan pantang menyerah.
"Kenapa kamu masih belum menyerah juga? Apakah kamu tidak lelah dari bertarung melawanku?" tanya Zack tersenyum sinis.
"Aku tidak takut dengan sampah sepertimu! Sampah harus dimusnahkan juga dari dunia ini sekarang!" umpatnya menendang perutnya Zack hingga terjatuh ke tanah.
BRUGGHH
Ketika tubuhnya Zack sudah tidak berdaya lagi, Adrian menghampirinya lalu melanjutkan penghajarannya sampai puas. Ia terus menonjok wajahnya Zack hingga berlumuran darah.
"Rasakan ini akibat kamu ingin membunuh Penny! Dasar keparat!" Pukulan pertama mendarat sangat kuat pada wajahnya.
PLAKKK
"Sedangkan yang ini untuk para korban yang tewas dibunuh olehmu!" Pukulan kedua dari kepalan tangannya mendarat dengan kuat.
Tubuhnya Zack sudah terlihat lemas untuk bangkit kembali. Sedangkan kini Adrian merasakan kemenangannya dalam pertarungan ini sambil menyenamkan lehernya dan menyeka wajahnya dilumuri darah. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang melangkah penuh percaya diri mengangkat kepalanya tegak.
Namun kemenangan belum bisa dirasakannya saat ini. Secara perlahan Zack bangkit tanpa sepengetahuan Adrian lalu melangkahkan kakinya cepat tanpa menimbulkan suara mengayunkan tongkat besinya mengarah pada kepala Adrian.
PRAKKK
Adrian berdiri mematung sambil memegangi kepalanya dilumuri darah. Belum sempat kepalanya menoleh ke belakang, tubuhnya sudah ambruk duluan ke tanah. Zack membuang tongkat besinya lalu menendang tubuhnya Adrian kasar hingga membuat dirinya muntah darah.
Sedangkan aku dan semua anggota timku beserta petugas kepolisian lainnya sudah tiba di area ini. Kami semua bergegas mencari keberadaannya melalui navigasinya. Aku terus berlari walaupun dadaku semakin terasa sakit dan juga mataku kini memerah akibat dari tadi air mataku terus membanjiri pipiku. Hingga pada akhirnya aku menemukan tubuhnya yang sudah sekarat di depan mataku dan sedang dihajar habis-habisan oleh Zack.
__ADS_1
"ADRIAN!!" teriakku menjerit.