Good Partner

Good Partner
Special Part 3 - Stick With You


__ADS_3

Aku bersama Bu Teresa memasuki ruang interogasi. Di dalam sana, Bu Teresa sangat gugup ketika melihat sekelilingnya. Pasti ia tidak terbiasa dengan ruangan ini. Lalu aku menyuruh Fina membuatkan kopi untuknya agar ia bisa tenang. Kurang lebih lima menit kemudian, Fina kembali ke ruang interogasi sambil memberikan secangkir kopinya untuk Bu Teresa.


"Terima kasih," ucap Bu Teresa tersenyum ramah pada Fina.


"Sama-sama. Saya permisi dulu," balas Fina lalu meninggalkan kami berdua sendirian di sini.


"Sekarang kita mulai interogasinya."


Aku mengambil buku catatan kecilku dan juga pulpen untuk mencatat pernyataan kesaksiannya.


"Tadi siang sekitar pukul 11 siang, Anda mengatakan bahwa Anda menemukan seorang gadis yang tidak sadarkan diri dengan cedera kepala yang lumayan parah. Apakah itu benar?" selidikku mulai fokus pada penyelidikan.


"Iya benar. Waktu itu saya habis dari atap ingin menuruni tangga tiba-tiba saya terkejut ada seorang gadis tergeletak di lantai darahnya mengalir terus."


"Lalu, untuk apa Anda berada di atap?" selidikku lagi sedikit mencurigainya karena aku tidak mungkin memercayainya langsung.


"Saya sedang mengalami stress berat jadinya saya mencari udara segar di atap. Anda tidak mencurigai saya bahwa saya pelakunya, 'kan?" tanya Bu Teresa balik dengan gugup.


"Tidak. Ini hanya sebagai pemeriksaan saja. Lalu apakah waktu itu Anda berada di atap sendirian atau ada orang lain lagi selain Anda di sana?"


"Hanya saya yang berada di atap. Karena lagi sepi jadinya saya memutuskan menghirup udara segar di sana untuk menenangkan diri."


"Lalu setelah Anda menuruni tangga darurat apakah ada orang lain yang sedang melewati tangga darurat?"


"Tidak ada sih. Saat itu kondisi apartemen sangat sepi jadinya jarang dilalui banyak orang."


"Baiklah kita akhiri saja interogasinya. Terima kasih atas kerja samanya, Anda bisa meninggalkan ruang interogasi ini."


Bu Teresa menghabiskan kopinya dengan cepat dan mengambil tasnya meninggalkan ruang interogasi. Sedangkan aku tetap di ruang interogasi masih memikirkan ini. Kalau bukan Bu Teresa pelakunya dan juga penghuni apartemen ini, lalu siapa pelakunya? Untuk saat ini aku tidak berani mengambil kesimpulan bahwa Fiona bunuh diri akibat stress berat. Aku harus melakukan pemeriksaan di sekolahnya.


Aku mengambil barang-barangku membawanya keluar dari ruang interogasi lalu menghampiri semua anggota timku di luar ruangan. Lalu aku mengajak mereka semua untuk ikut denganku mengunjungi sekolahnya Fiona.


"Jadi bagaimana interogasinya?" tanya Fina penasaran.


"Bu Teresa bukan pelakunya. Sepertinya kita harus mengecek latar belakang Fiona di sekolahnya. Mungkin kita bisa mendapat clue dari sana. Kalau kata Bu Teresa, tidak ada satu pun penghuni apartemen yang melewati tangga darurat tersebut. Pelakunya antara teman sekolahnya atau mungkin pacarnya," balasku berspekulasi sementara mengernyitkan alisku.


"Seandainya saja di tangga darurat ada kamera CCTV," keluh Tania mendesah pasrah.


"Benar juga. Bagaimana dengan rekaman kamera CCTV di sekitar tangga darurat?" tanyaku lagi.


"Tadi saat aku ingin mengecek rekaman CCTV nya, petugas keamanannya bilang bahwa saat ini kamera CCTV nya sedang dalam proses perbaikan selama dua hari," jawab Hans.


"Kenapa di situasi begini kamera CCTV nya tidak berfungsi? Situasi semakin rumit deh!" gerutuku mengacak-acak rambutku kesal.


"Mungkin kita lebih baik ke sekolahnya Fiona sekarang," usul Nathan.


"Ya sudah, ayo kita ke sana sekarang!" ajakku sambil mengambil kunci mobilku.


Setibanya di sekolahnya Fiona, aku dan anggota timku memasuki ruang guru untuk mendapatkan arsip latar belakangnya Fiona. Lalu aku menghampiri salah satu guru yang sedang beristirahat untuk menanyakan wali kelasnya Fiona untuk menginterogasinya sebentar.


"Maaf, apakah Anda tahu wali kelasnya Fiona Natalia ada di mana sekarang?" tanyaku ramah.


"Saya wali kelasnya Fiona Natalia. Ada apa, ya?"


"Perkenalkan saya Detektif Penny yang menangani kasusnya Fiona saat ini. Boleh minta waktunya sebentar? Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda."


"Boleh. Perkenalkan saya Tiana. Kalau boleh tahu Anda ingin menanyakan apa dengan saya?"


"Sebaiknya kita membicarakannya di tempat yang lebih sepi. Tidak enak membicarakannya di ruang guru."


"Baiklah, kita ke ruang konseling saja," ajak Bu Tiana menuntunku menuju ruang konseling.


Sesampainya di sana, Bu Tiana mempersilakanku memasuki ruangan lalu aku menduduki sebuah sofa panjang. Sedangkan Bu Tiana sedang membuatkan kopi untukku lalu menyajikannya untukku.


"Ini kopi untuk Anda," ucap Bu Tiana sambil menaruh secangkir kopinya di atas meja.


"Terima kasih atas kopinya," sahutku sambil meminum kopinya.


"Tadi Anda ingin menanyakan saya apa?"


"Jadi begini, apakah mungkin selama ini di kelas, Fiona sering dibully oleh temannya atau dia mengalami stress berat?" selidikku mulai fokus pada inti pembicaraan.


"Hmm sepertinya tidak. Malahan Fiona sering dipuja oleh teman sekelasnya."


"Dipuja?"


"Karena Fiona memiliki IQ yang cukup tinggi jadinya banyak teman sekelasnya yang menyukainya bahkan Fiona memiliki teman yang banyak. Selain itu, Fiona juga merupakan salah satu siswi yang memiliki kepribadian baik di sekolah ini."


"Kalau Fiona adalah siswi yang terbaik di sekolah dan sering dipuja oleh teman-teman sekelasnya pasti ada beberapa siswa lain yang tidak menyukainya karena iri. Apakah mungkin Fiona memiliki musuh di kelasnya? Biasanya pasti ada siswa yang sangat iri padanya sehingga ingin membunuhnya."


"Hmm kalau musuh sih tidak. Yang pasti ada satu teman sekelasnya tidak terlalu berhubungan dekat dengan Fiona."


"Siapa itu?"


"Beatrice. Tapi seharusnya dia tidak melakukan hal kejam itu kepada Fiona. Beatrice merupakan salah satu siswi pendiam di kelas jadinya dia memiliki teman yang sedikit."


"Boleh saya lihat fotonya?"


Bu Tiana mengambil sebuah album foto kelasnya dari lemari penyimpanan lalu membuka buku album foto itu dan memperlihatkannya padaku. Sosok gadis tampak alim yang berpose tepat di sebelah Fiona.

__ADS_1


"Dia adalah Beatrice," ucap Bu Tiana sambil menunjuk foto itu.


"Oh, jadi wajah Beatrice seperti ini." Aku terus menatap foto itu tapi aku tidak bisa mencurigai Beatrice begitu saja. Anak yang terlihat alim dan memiliki senyuman manis tidak mungkin melakukan hal kejam begitu.


"Anda tidak mencurigainya, 'kan?"


"Tidak. Saya hanya penasaran dengan wajahnya seperti apa."


"Apakah ada informasi lain lagi yang ingin Anda ketahui?"


"Mungkin ini pertanyaan terakhir dari saya. Apa mungkin Fiona memiliki pacar?"


"Pacar? Sepertinya tidak. Walaupun Fiona sangat terkenal di kalangan siswa tapi dia tidak tertarik dengan hal itu. Dia lebih memilih belajar terus dibandingkan menghabiskan waktunya dengan bersantai. Saya sering melihatnya sedang sibuk belajar sendirian di perpustakaan saat waktu istirahat."


"Baiklah, saya mengerti. Terima kasih atas waktunya dan kerja samanya," ucapku sopan berjabat tangan dengannya.


"Saya berharap Anda bisa menemukan pelakunya secepatnya karena Fiona merupakan satu-satunya siswi kesayangan saya."


"Tenang saja, serahkan saja kepada saya. Saya pasti akan menangkap pelakunya secepat mungkin. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitku menunduk hormat.


Setelah berpamitan dengan Bu Tiana, aku meninggalkan ruang konseling dan bergabung dengan anggota timku lainnya. Saat aku sedang berjalan di koridor, aku tidak sengaja melihat Beatrice yang sedang duduk termenung di kelasnya menatap sebuah bangku kosong tepat di sebelahnya. Bangku kosong itu pasti biasanya di duduki oleh Fiona. Dilihat dari tatapannya, tidak mungkin ia mendorong Fiona. Kalau ia pelakunya, tidak mungkin menatapnya sampai cemas begitu.


Di tengah perjalanan kembali menuju kantor polisi, aku menceritakan perbincanganku dengan Bu Tiana kepada anggota timku. Sesampainya di kantor polisi, aku langsung menancapkan gasku melanjutkan perjalanan menuju rumah lamaku untuk menjemput Victoria lagi karena hari sudah sore.


Setibanya di apartemenku, aku mengurus Victoria terlebih dahulu seperti memberinya susu dan menidurkannya di ranjang bayi. Setelah Victoria tertidur lelap, aku secara perlahan meninggalkannya lalu memasak makan malam di dapur. Saat aku sedang memasak, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang memasukkan kode akses. Aku mematikan kompornya dan bergegas berlari menuju pintu. Di saat pintu itu terbuka, Adrian langsung menghampiriku memelukku dengan manja.


"Sekarang jam berapa, Sayang?" tanyanya tersenyum tipis padaku.


"Ish kamu bisa lihat lewat jam tanganmu itu!"


"Sekarang jam 7 malam, akhirnya hari ini aku bisa pulang lebih awal dari biasanya," ucapnya dengan girang sambil memelukku sampai melompat-lompat.


"Segitunyakah kamu bahagia sampai begitu," balasku ikutan girang.


"Tentu saja. Pekerjaanku sudah beres semua, sekarang aku bisa bermain denganmu dan Victoria lagi."


"Aku sangat rindu menghabiskan waktu bersamamu. Sebenarnya aku ingin main denganmu sepuasnya hari ini."


"Aku ingin melihat Victoria. Apakah dia sedang tertidur?"


"Barusan aku menidurkannya."


"Aku ingin melihatnya sebentar."


"Baiklah, tapi jangan membuatnya terbangun, ya. Aku susah menidurkannya."


Kami berdua memasuki kamar lalu menghampiri tempat tidurnya Victoria. Adrian menggendong Victoria sambil mengusap kepalanya.


"Anak kesayanganku, papa pulang. Kamu pasti merindukan papa, 'kan? Maaf ya papa selama ini selalu sibuk sampai jarang main denganmu. Pekerjaan papa sudah beres jadinya papa bisa bermain denganmu lagi sepuasnya," bisiknya dengan pelan.


"Iya nih, papa tega, ya, tidak bermain sama kita terus," tawaku terkekeh.


Lalu Adrian menaruh Victoria kembali pada tempat tidurnya dan memeluk pinggangku erat.


"Maaf, ya, Sayang, aku selalu membuatmu dan anak kita kesepian di sini," sesalnya menunduk bersalah.


"Aku cuma bercanda tadi. Sudahlah aku mau lanjut masak lagi. Kamu istirahat dulu saja di sofa."


"Tidak mau! Aku mau melihatmu masak!" tolaknya mulai keras kepala.


"Kalau begitu kamu mandi dulu saja."


"Tidak mau!" tolaknya lagi.


"Dasar keras kepala! Ya sudah deh aku sudah pasrah. Lebih baik aku lanjut masak saja."


Aku menyalakan kompor lagi dan mulai melanjutkan mengaduk bahan makanan yang ada di dalam panci. Sedangkan Adrian terus menyandarkan kepalanya pada pundakku membuatku susah bergerak.


"Kepalamu diangkat dulu! Aku susah gerak nih!"


"Kepalaku pegal, butuh sandaran empuk nih," ucapnya semakin bermanja padaku.


"Kalau mau yang empuk sana tidur di ranjang. Jangan ganggu aku di sini. Lagi pula pundakku kan keras seperti batu."


"Pundakmu itu empuk kalau disandar olehku saja." Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya sambil mengusap kepalaku.


"Ada-ada saja! Pundakku itu bukan bantal!"


"Hufft padahal kamu sendiri sering menjadikan pundakku sebagai bantalmu!"


"Itu ... beda lagi."


"Dasar tidak ngaca! Aku ingin mencubitmu terus rasanya." Adrian mencubit pipiku terus dengan lembut membuatku ingin membalasnya juga.


Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Kali ini ideku pasti berhasil.


"ASTAGA!" pekikku menjerit membuatnya melepas pelukannya.


"Ada apa? Kenapa kamu berteriak? Apakah tanganmu terluka?" tanyanya sangat cemas dengan sigap memeriksa kondisi kedua tanganku.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya sengaja membuatmu kaget saja hahaha."


"Kamu bagaimana sih nanti Victoria bangun lho!"


"Bodoh amat!" ejekku menjulurkan lidahku padanya.


"Istriku ini nakal amat sih! Mau kucubit lagi?"


"Jangan cubitku lagi! Ampuni aku. Lagi pula makanannya sudah jadi, ayo kita makan bersama!"


Aku membawa masakanku dan menghidangkannya di atas meja makan. Adrian langsung mengambil sendoknya lalu menyantapnya dengan melahap sampai batuk tersedak.


"Uhuk...uhuk..."


Dengan sigap aku menaruh sendokku langsung menghampirinya memberinya segelas air putih.


"Sayang, kamu kenapa? Makannya pelan-pelan saja," tanyaku cemas sambil mengelus punggungnya.


Adrian mengangkat tubuhku ini dalam posisi berjongkok dan membiarkanku duduk di atas pangkuannya.


"Makan bersamamu seperti ini lebih nikmat rasanya," tuturnya santai sambil mendekapku hangat.


"Lepaskan aku! Aku mau duduk di kursiku sendiri!" Aku terus memberontaknya malahan ia menjepit kedua kakiku dengan kakinya supaya aku tidak bisa ke mana-mana.


"Kamu tidak bisa kabur dariku," ledeknya lalu menyuapiku tiba-tiba.


"Aku bukan anak kecil!"


"Sok jual mahal tapi saat aku menyuapimu barusan raut wajahmu itu tersenyum mengambang."


"Masa sih? Aku tidak percaya," ujarku tersipu malu memalingkan mataku darinya.


"Tatap mataku, Sayang." Adrian mengangkat daguku menahan kepalaku dengan kedua tangannya.


Melihat wajah tampannya membuatku langsung meleleh. Aku merasa seperti ia sedang mengujiku sekarang.


"Kenapa kamu?"


"Dilihat dari matamu itu terlukis bahwa kamu ingin disuapiku terus, 'kan. Jujur saja deh, hati tidak pernah bisa berbohong."


Helaan napas pasrahku dihembuskan dari mulutku sambil aku memainkan kuku jariku.


"Iya sih ...."


"Tuh dugaanku benar. Sudah tidak usah malu-malu denganku deh. Turuti aku saja."


"Aku menurutimu tapi aku juga suapi kamu juga. Belakangan ini aku tidak makan malam bersamamu. Aku sangat merindukan kamu memperlakukanku seperti ini," ujarku tersenyum manis mempererat pelukannya.


"Kamu manis sekali, Sayang." Adrian mendaratkan ciuman manisnya sekilas pada pipiku lalu melanjutkan menyuapiku.


Setelah makan malam yang cukup lama padahal kami saling suapan dan juga membersihkan diri, aku membaringkan tubuhku di sofa sambil meregangkan otot-ototku. Lalu Adrian yang baru selesai membersihkan dirinya menghampiri sofa ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya sehingga posisi tubuhnya sekarang menimpa tubuhku.


"Adrian! Aku ini lagi beristirahat!" keluhku mencebik kesal bibirku mengerucut.


"Mmm tidak mau! Aku maunya menempel terus padamu," tolaknya manja mendekatkan tubuhnya padaku.


Aku mendorong tubuhnya lalu dengan sigap aku duduk sikap sempurna di sofa. Adrian menatapku sebal dan duduk menjauh dariku.


"Kenapa kamu duduk menjauh dariku, Sayang" tanyaku dengan manja sambil menggeserkan tubuhku mendekatinya.


"Tadi kamu marah padaku, sekarang bersikap manis padaku! Maunya apa sih!" ketusnya memalingkan matanya dariku.


"Ayolah, Sayang! Aku tadi cuma bercanda. Jangan ngambek gitu dong! Aku ingin menempel padamu terus, kalau bisa menempel seperti lem." Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja merangkul lengannya.


Dengan tatapan nakal, Adrian membaringkan tubuhku lagi di sofa.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan gugup melihat tingkahnya seperti ini tiba-tiba.


"Bukankah kamu sendiri tadi bilang ingin melekat padaku seperti lem?" Adrian menyunggingkan senyuman nakal semakin mendekati wajahku.


"Iya sih. Aku hanya bingung saja kamu tiba-tiba bertingkah seperti ini."


"Melihatmu seperti ini sangat menghibur hatiku. Wajahmu semakin hari terlihat semakin manis," tuturnya mengelus pipiku dengan lembut.


Aku melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya dengan erat menatapnya dengan senyuman mengambang.


"Kamu sungguh menepati janjimu. Wajahmu kembali terlihat segar lagi seperti dulu yang mampu menghibur hatiku juga," ucapku dengan pandangan berbinar sambil menyentuh pipinya.


"Sosok diriku yang asli selalu berpenampilan keren tentu saja harus kembali seperti semula demi istri kesayanganku," balasnya dengan mengedipkan mata kirinya padaku membuatku semakin jatuh cinta dengannya.


"Cukup hentikan, Sayang! Kamu selalu saja membuatku semakin jatuh cinta padamu."


"Kalau begitu aku akan semakin sengaja membuatmu semakin cinta padaku."


Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku dan aku sudah bersiap-siap memejamkan kedua mataku untuk menerima ciuman darinya.


Kring...kring...


Ponselku berbunyi di tengah momen kemesraan kami.

__ADS_1


__ADS_2