Good Partner

Good Partner
S2 : Part 29 - Saksi Mata


__ADS_3

Adrian berusaha mencerna perkataan yang dilontarkan Carlos barusan. Ia masih tidak mengerti maksud perkataannya bahwa Carlos diancam oleh pembunuh sesungguhnya selama ini. Bibirnya sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, Adrian membuka suaranya lagi.


"Kamu selama ini diancam pelakunya? Maksudmu gimana?" tanya Adrian.


"Sebenarnya awal mulanya aku adalah seorang saksi mata insiden yang terjadi di depan rumahnya korban. Namun karena aku tertangkap basah oleh pelakunya jadi terpaksa aku jadi kaki tangannya selama ini."


"Lalu kenapa waktu itu kamu bisa melewati daerah sana?" selidik Yohanes.


"Karena waktu itu memang aku tinggal di sana."


"Coba kamu ceritakan pada kami kejadian waktu itu!" titah Yohanes tegas.


"Baiklah aku akan mengungkapkan semuanya pada kalian. Semoga kalian memercayai perkataanku ini."


"Ya sudah kalau begitu coba ceritakan kronologinya gimana!" tegas Yohanes sudah tidak bersabar.


"Jadinya begini ...."


*****


Ketika Carlos baru saja turun dari sebuah halte bus, ia melangkahkan kakinya lemas menuju gang rumahnya yang sedikit sempit. Rambutnya terlihat sedikit tidak beraturan karena kelelahan bekerja selama seharian penuh. Apalagi dirinya dulu belum bekerja di kantor kejaksaan. Dengan tatapan mata yang terasa berat untuk membukanya lebar, tiba-tiba ia mendengar ada suara teriakan jeritan seorang gadis. Tanpa berpikir panjang dan penuh penasaran, Carlos mencari tahu keberadaan suara gadis tersebut lalu hanya jarak 200 meter ia menemukan sosok gadis yang sedang berbicara dengan sosok pria misterius yang wajahnya ditutupi masker dan juga memakai topi.


Carlos inisiatif bersembunyi di balik tembok mendengar percakapan mereka yang terdengar sangat menegangkan. Karena percakapan semakin mencekam dan menakutkan, kebetulan waktu itu Carlos baru saja membeli alat recorder maka ia menggunakannya untuk merekam suara perbincangan mereka dengan tangannya mulai gemetar.


Seketika Angelina diseret paksa oleh sosok pria misterius itu, sebenarnya Carlos bermaksud ingin menolongnya. Tapi karena aksi yang dilakukan pembunuh sangat menakutkan maka Carlos mengurungkan niatnya lalu membalikkan tubuhnya ke belakang seolah-olah tidak melihat kejadiannya langsung.


Namun sebenarnya sebelum pengacara Leonard membawa tubuhnya Angelina menuju rumahnya, ia merasa seperti ada seseorang yang menyaksikan kejadian penyiksaannya langsung. Ia melangkahkan kakinya pelan mengamati sekeliling gang tersebut lalu menemukan sosok Carlos sedang berjalan menuju rumahnya dalam kondisi ketakutan. Pengacara Leonard dengan sigap berlari menghampiri Carlos lalu membungkam mulut dan menabrakkan punggungnya pada tiang lampu jalanan.


"Ampuni aku! Tadi aku sungguh tidak melihat apa pun," ucap Carlos terbata-bata.


"Kalau kamu ingin nyawamu selamat sebaiknya kamu tutup mulutmu yang rapat saja sampai selamanya!" ancam pengacara Leonard dengan tatapan tajam.


"Aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun."


"Tapi sepertinya ucapanmu barusan aku tidak bisa memercayaimu deh." Pengacara Leonard mencengkeram kerah kemejanya Carlos kasar.


"Aku sungguh akan terus membungkam mulutku. Lagi pula aku tidak ada untungnya juga memberitahu kejadian ini."


"Kalau begitu kamu juga harus melakukan perintahku."


"Perintah apa? Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan asalkan kamu mengampuni nyawaku." Carlos terus memohon sampai wajahnya semakin memucat dan keringat dingin terus mengalir pada wajahnya.


"Kalau kamu ingin nyawamu selamat, maka mulai sekarang kamu harus menjadi anak buahku gimana?" tawar pengacara Leonard tersenyum sinis.


Carlos menelan salivanya berat memalingkan mata darinya.


"Untuk apa aku menjadi anak buahnya penjahat. Rasanya dosaku akan bertambah besar nanti," ucap Carlos sangat gugup.


"Oh, kalau kamu tidak mau menjadi kaki tanganku, maka aku akan menghabisi nyawamu sekarang juga!"


"Baiklah ... aku akan menjadi kaki tanganmu sekarang asalkan kamu tidak terus mengancam nyawaku," patuh Carlos terpaksa.


"Baguslah kalau begitu sekarang kamu harus mencarikan informasi untukku yang lengkap!" Pengacara Leonard menepuk pundaknya Carlos lalu meninggalkannya sendirian di sini.


Sedangkan Carlos bergegas berlari menuju rumahnya dengan penuh ketakutan. Setibanya di rumahnya, ia mengunci pintunya dengan rapat kemudian memasuki kamarnya. Ia mengeluarkan alat recordernya yang merekam percakapan mencekam barusan lalu memasukkannya ke dalam laci mejanya. Dengan penuh kegelisahan, Carlos menyandarkan punggungnya lemas pada tembok sambil menggigit jarinya.


*****


Kembali lagi saat Adrian dan Yohanes sedang menginterogasi Carlos di atap rumah sakit.


"Jadinya nyawamu akan diancam pelakunya lalu demi menyelamatkan nyawamu, kamu rela berbuat jahat padaku memberikan segala informasi tentangku kepada pelakunya," papar Yohanes dengan nada kesal melipat kedua tangannya.


"Aku tidak bermaksud berbuat jahat padamu. Pembunuhnya menyuruhku untuk melakukan itu supaya aku tetap bisa hidup," sangkal Carlos berlutut di hadapan Yohanes.


"Gara-gara ulahmu, waktu itu hampir saja nyawaku juga terancam. Untung saja Adrian dan para detektif datang tepat waktu menyelamatkanku. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padaku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


"Maafkan aku, Yohanes. Aku tidak akan berbuat hal seperti itu lagi."


"Untuk saat ini aku sulit memaafkanmu, Carlos!"


"Omong-omong, kenapa kamu tiba-tiba ingin berkhianat dari pelakunya? Padahal pelakunya tidak berniat untuk membunuhmu," tanya Adrian penasaran.


"Walaupun sekarang nyawaku tetap selamat, tapi aku merasa seperti dihantui terus setiap harinya. Aku tidak bisa hidup menyembunyikan kebenaran. Apalagi aku merupakan saksi mata dalam insiden penyiksaan itu, aku tidak mungkin menyembunyikan faktanya terus. Jadinya aku memutuskan meminta bantuan Reporter Yulia menulis artikel beritanya untuk mengungkapkan kebenaran," jelas Carlos panjang lebar.


"Apa mungkin selama ini kamu melihat wajah pelakunya?" selidik Yohanes.


"Hmm tidak sih. Selama ini kami saling berkomunikasi lewat telepon saja."


"Coba kamu perlihatkan nomor teleponnya padaku!" titah Adrian.


Carlos mengambil ponselnya dari saku celananya lalu menggeser layar ponselnya memperlihatkan nomor teleponnya kepada Adrian. Kemudian Adrian menekan kontak tersebut untuk membuat panggilan telepon langsung kepada pelakunya namun tidak ada panggilan terjawab. Adrian mencoba membuat panggilan teleponnya sekali lagi tapi hasilnya sama saja seperti sebelumnya. Ia memutuskan untuk menyimpan nomor telepon tersebut pada ponselnya.


"Sepertinya kamu juga dicuekin oleh pembunuhnya," ucap Yohanes sedikit meledeknya.


"Maka dari itu, aku sudah muak selama ini dimanfaatkan oleh pembunuhnya terus. Lebih baik aku menyerahkan barang buktinya kepada Reporter Yulia daripada berdiam diri terus. Aku sudah tidak peduli apakah nyawaku akan dihabisi olehnya atau tidak."


Adrian tersenyum simpul lalu menepuk pundaknya Carlos sehingga membuat Yohanes bingung.


"Kerja yang bagus, Carlos!" seru Adrian.


"Kerja bagus apanya, Adrian? Gara-gara dia, aku hampir saja mati!" ketus Yohanes berkacak pinggang.


"Dia sudah tidak ingin bekerja sama dengan pelakunya lagi dan lebih memilih mendukung kita."


"Tapi sama saja aku tetap tidak bisa memaafkannya!"

__ADS_1


"Memang ini masih sulit bagimu. Tapi bukankah ini sangat bagus buat kita jadinya tidak ada seorang pun di kantor kita yang berbuat aneh lagi."


Yohanes memutar bola matanya bermalasan. Sebenarnya setengah hatinya masih berat memaafkan Carlos. Namun setengah hati juga sudah lega mendengar semua fakta.


"Benar juga sih. Setidaknya sekarang kita kalau bekerja tidak usah main petak umpet lagi."


"Lalu kamu bisa tidur nyenyak lagi, 'kan," lanjut Adrian sengaja menyenggol lengan tangannya Yohanes.


"Ish mana bisa tidur nyenyak sih! Kaki tangan pelaku sudah terungkap tapi pelakunya sendiri belum kita tangkap. Nyawaku masih dalam bahaya juga sekarang!"


"Hufft! Padahal di depan apartemenmu juga sudah dipatroli oleh polisi secara ketat kamu masih saja takut. Seharusnya kamu berterima kasih pada Penny karena itu perintah darinya!"


"Apa? Itu berkat Penny? Wah, ternyata dia baik sekali, ya, padaku walaupun dia adalah istrinya temanku yang sangat sombong!" sorak Yohanes sambil menyipitkan matanya pada Adrian.


"Ish padahal kamu sendiri yang lebih menyebalkan!"


"Tidak apa-apa, asalkan itu dari Penny saja aku sudah senang," tawa Yohanes terkekeh.


Adrian menatapnya menyeringai sambil meregangkan otot-otot tangannya.


"Kamu mau mati?"


"Hehe bercanda, Adrian."


"Maaf mengganggu perbincangan kalian berdua tapi apakah aku boleh kembali ke kamar ibuku?" potong Carlos sopan.


"Iya kamu sudah bisa kembali ke sana sekarang. Lagi pula juga tidak ada hal lain lagi yang bisa kamu sampaikan," sahut Yohanes melambaikan tangannya bermaksud untuk mengusirnya.


"Ingat, Carlos! Kamu harus berbuat baik terus jangan sampai membuat ibumu kecewa! Apakah kamu ingin ibumu melihatmu bekerja sebagai kaki tangannya pembunuh? Aku yakin sekali ibumu nanti sakit hati apalagi kondisi kesehatannya saat ini sedang buruk," pesan Adrian menasihatinya baik.


"Tenang saja, Adrian. Sekarang aku sudah tidak ingin melakukannya lagi. Aku juga merasa bersalah pada ibuku karena menjadi anak yang jahat di hadapannya," sahut Carlos tatapan matanya penuh percaya diri.


"Baguslah kalau kamu menjadi anak yang berbakti sekarang," balas Yohanes lirih.


"Kalau begitu aku kembali ke kamar ibuku dulu, ya," pamit Carlos lalu meninggalkan mereka berdua di atap rumah sakit.


Sementara Adrian dan Yohanes memutuskan kembali ke kantornya lagi. Di tengah perjalanan menuju ke sana, Adrian sibuk terfokus pada layar ponselnya mengamati nomor teleponnya pembunuh. Sedangakan Yohanes memasang raut wajahnya bermalasan sambil mengendarai mobilnya.


"Dasar, Adrian! Kamu paling cerdas menyuruhku menjadikan sopir pribadimu supaya kamu bisa duduk tenang bermain ponselmu!"


"Ish kamu ini kalau bicara tidak lihat faktanya dulu! Aku dari tadi sedang mengamati nomor teleponnya pembunuh!"


"Oh, aku mengira kamu sedang asyik berbincang dengan istrimu."


"Maunya sih gitu. Tiba-tiba aku sangat merindukannya," ejek Adrian tersenyum nakal.


"Cih sebaiknya jangan mengganggunya bekerja deh! Aku juga sudah cukup lelah menjadi budakmu selama seharian!"


"Bukan menjadikanmu sebagai budakku, tapi lebih tepatnya asisten pribadiku."


"Ih dasar berlebihan deh! Padahal kamu lebih tua dariku hanya dua tahun."


"Dua tahun itu jaraknya lumayan!"


"Aku sudah lelah berdebat denganmu! Apalagi hari ini seharian mengurus Carlos terus tubuhku jadi terasa lelah!"


"Tapi apa yang kita lakukan hari ini memang keren sih." Yohanes tersenyum lebar menyenggol lengannya Adrian.


"Sebenarnya lebih kerennya lagi sih melakukannya bersama Penny," desah Adrian lesuh.


Matahari sudah tidak tampak lagi pada langit. Hari ini rasanya aku sangat lelah ingin segera pulang secepatnya. Dengan kakiku yang lincah, aku melangkah cepat keluar dari kantorku lalu menunggu kedatangan suamiku menjemputku pulang.


Tak lama kemudian, mobil SUV Adrian tampak pada lahan parkir kantor polisi. Dengan sigap aku berlari memasuki mobilnya lalu langsung menyandarkan kepalaku pada pundaknya manja.


"Aku lelah, Sayang," ucapku manja.


"Aku sendiri pun juga begitu, Sayang. Hari ini aku melakukan suatu misi yang keren bersama Yohanes," sahutnya berlagak sombong sambil mengedipkan mata kirinya padaku.


"Misi apa itu? Misi sebagai agen rahasia?"


"Hmm semacam begitu sih. Yang pasti misiku hari ini berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil. Aku juga sudah tahu siapa saksi mata yang mengirimkan alat recordernya kepada Reporter Yulia."


"Siapa itu? Apakah seseorang yang aku kenal?"


Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman godaan.


"Nanti aku beritahu padamu deh. Kamu pasti bakal terkagum mendengar ceritaku nanti."


"Ish ya sudahlah kita pulang saja sekarang! Aku lapar nih!"


Usai makan malam, aku dan Adrian berdiskusi mengenai penyelidikan kasus pembunuhan ini di ruang kerjanya. Adrian duduk tepat di sebelahku lalu menyandarkan kepalanya pada pundakku dan memelukku hangat.


"Jadinya kamu hari ini ngapain saja sampai manja padaku?" tanyaku sangat penasaran.


"Hari ini aku dan Yohanes mengintai anggota tim investigator yang baru bekerja denganku selama beberapa bulan."


"Wah, kamu dan Yohanes memang seperti agen rahasia saja!" pujiku heboh.


"Ish jangan kagum pada dia juga!"


"Memangnya kenapa? Apa salahnya?"


"Aku muak mendengarnya hari ini terus terkagum padamu terus. Setiap kali dia berbicara mengenaimu seperti seolah-olah membicarakan bintang idolanya saja!" ketus Adrian mendengkus kesal.


"Lagi-lagi kamu bersikap cemburu!"

__ADS_1


"Bodoh amat! Yang penting aku peduli denganmu."


Aku menyentuh pelipisnya untuk menahan kepalanya terus berfokus padaku. Senyuman nakal terukir pada wajahku membuatnya agak gugup mengamatiku.


"Kalau kamu sedang cemburu lucu sekali, Sayang," ucapku manis tertawa kecil.


"Bahkan tadi dia menyamakan film genre favoritnya denganmu. Lalu aku melarangnya."


Kini aku tidak bisa menahan tawa lagi. Gelak tawaku terlepas sampai puas sambil memegangi perutku. Sementara Adrian hanya berlagak polos menatapku bingung.


"Kenapa kamu ketawa, Sayang?" tanyanya.


"Sayang, kamu cemburunya berlebihan sekali sih. Kamu pasti takut suatu hari nanti aku akan menonton bersamanya, 'kan." Dengan sengaja aku semakin mendekatkan tubuhku padanya.


"Habisnya dia sempat bilang ingin mengajakmu menonton bersamanya dan juga istrinya."


Aku menggelengkan kepalaku lalu meraih tangannya melingkar pada pinggangku.


"Memang kamu sangat menggemaskan, Adrian. Mana mungkin sih aku menonton bersama orang lain. Bahkan aku sudah jarang sekali menonton bersama Fina atau Tania. Aku hanya ingin menonton bersama suami kesayanganku."


Adrian mencium keningku mendalam penuh kasih sayang selama beberapa detik lalu mencium hidungku sekilas. Tubuhku membeku sejenak akibat mendapat perlakuan manis darinya lalu aku membalasnya mencium pipinya sekilas.


"Puas kan sekarang setelah menciumku terus," lontarku.


Adrian tidak meresponku malahan sorot matanya terfokus pada bibirku walaupun tidak dipoles lipstik. Pikirannya pasti sudah ke mana-mana. Sebagai gantinya aku melingkarkan kedua tanganku pada lehernya kemudian menghujani ciuman pada pipinya membuat dirinya tertawa geli.


"Haha geli, Sayang."


"Kamu tidak mau? Ya sudahlah aku berhenti saja," ucapku kecewa menjauhkan kepalaku darinya perlahan.


Adrian menahan kepalaku lalu mendekatkan wajahku lagi pipinya.


"Jangan berhenti, Sayang. Aku butuh asupan tenaga darimu," godanya tersenyum nakal.


"Tenagaku sudah habis," ucapku datar.


"Yah aku jadi tidak bertenaga lagi deh sekarang."


Perbincangan yang darinya untuk berdiskusi mengenai penyelidikan kasus berakhir bermesraan dengannya lagi akibat godaan darinya. Lumayan setidaknya aku kembali bersemangat berkat dirinya. Sebaiknya aku mengembalikan ke topik pembicaraan lagi.


"Sudahlah lanjutkan lagi ceritanya. Jadinya kamu kenapa mengintai anggota investigator itu? Apakah dia sungguh berbuat jahat padamu?"


"Kamu tahu sebenarnya dia itu siapa?" tanyanya balik.


"Hmm mendengar ceritamu seperti ini pasti dia adalah kaki tangan pelakunya."


"Iya benar. Tapi ada satu hal lagi, dia memegang peran penting juga."


"Apa itu?"


Aku berusaha berpikir keras untuk menebaknya. Setelah aku merenung, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.


"Jangan bilang saksi mata itu dan kaki tangan pelaku adalah orang yang sama."


"Memang istriku cerdas sekali kalau masalah tebak-tebakkan. Sini aku beri hadiah untukmu," pujinya mengacungkan jempolnya lalu menghujani ciumannya pada pipiku.


Wajahku semakin merah merona sambil mengelus pipiku sendiri usai dicium olehnya.


"Kamu membuat hatiku berbunga-bunga saja sekarang," desisku pelan.


"Tapi sepertinya pelakunya memakai nomor telepon sementara untuk menghubungi Carlos." Adrian mengambil ponselnya di atas meja lalu memperlihatkannya padaku.


Kalau dilihat nomor teleponnya memang berbeda dengan yang tertera pada kartu namanya. Sudah pasti pengacara Leonard menggunakan ponsel lebih dari satu untuk menghubungi kaki tangan pelakunya.


"Adrian, aku juga sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu."


"Apa mungkin kamu menemukan saksi mata lagi atau bukti lainnya?"


"Bukan. Tapi aku menemukan sosok pembunuhnya siapa."


"Siapa itu? Apakah dia bekerja di kantor polisi selama ini?"


"Kamu jangan terkejut, ya. Pembunuh sebenarnya itu adalah pengacara Leonard."


Adrian tersentak kaget seperti terkena sambaran petir sekarang. Ia menelan salivanya berat dan wajahnya mulai memucat.


"Adrian?"


"Bagaimana kamu bisa tahu pengacara Leonard adalah pembunuhnya?" tanyanya gugup.


"Aku menemukan sebuah chip di pot tanaman depan ruang kerja timku. Sepertinya pergerakanku selama ini diketahuinya persis karena dia menyadap tanpa sepengetahuanku. Lalu tadi aku melihat video rekaman CCTV saat hari aku membebaskan Nielsen dari tuduhannya, dia tidak sengaja menyenggol pot tanaman itu. Bukankah ini sangat aneh? Selama ini tidak ada seorang pun yang menyenggol pot itu," jelasku panjang lebar.


"Jadinya bisa dikatakan selama ini dia bertemu dengan kita bukan suatu kebetulan? Tapi dia memang sedang mengikuti kita diam-diam?"


"Iya benar. Apalagi saat bertemu dengannya di Kafe dalam pusat perbelanjaan, aku yakin itu bukan kebetulan," tambahku dengan tatapan serius.


"Lalu esok harinya dia mengincar Reporter Yulia dan hampir membunuhnya, aku yakin dia sudah merencanakannya sejak awal."


"Tapi yang masih mengganjal pada pikiranku sekarang, tidak ada catatan medis mengenainya. Dia tidak memiliki gangguan jiwa sama sekali." Aku memperlihatkan datanya pengacara Leonard kepadanya.


"Hmm ini aneh sekali. Melihat motif pembunuhannya seperti itu, aku yakin sekali dia memiliki gangguan jiwa.


"Lalu aku juga menyuruh anggota timku mencari informasinya mendalam lagi. Pengacara Leonard bukan anak yang tumbuh di panti asuhan. Sejak kecil ia tumbuh bersama orang tua kandungnya. Namun kedua orang tuanya meninggal sejak lama."


"Berarti kalau dia bukan Zack, kenapa dia mengincar tiga pelajar SMA itu yang tinggal di panti asuhan bersama Zack?" Adrian berpikir keras hingga dahinya berkerut.

__ADS_1


"Yang pasti sekarang kita harus menyelidiki informasinya lebih mendalam lagi. Walaupun tentang pertama kali dia bekerja di firma hukum L&C dan juga hal lainnya. Aku yakin dia pasti menyembunyikan faktanya dari kita."


__ADS_2