Good Partner

Good Partner
Part 59 - Reporter Yulia dalam Bahaya


__ADS_3

Seiring waktu berjalan, artikel itu menjadi bahan pencarian utama di internet dan juga trending urutan nomor lima di seluruh negeri ini. Banyak sekali netizen yang mengajukan petisi untuk melakukan penyelidikan ulang kasus hilangnya dua gadis itu. Selain itu, ada beberapa netizen yang berasumsi bahwa kasus itu ada hubungannya dengan kasus yang sedang kujalani saat ini.


Sudah dua jam berlalu sejak Fina dan Hans meninggalkan kantor. Aku sangat lega dan merasa bersyukur karena berkat rasa sakit yang dialami Hans justru membawakan keberuntungan untuk kita bertiga. Bagi Hans akan mempermudah mempererat hubungan dengan Fina. Bagi Fina, pasti ia akan memiliki perasaan istimewa terhadap Hans jika ia sering menghabiskan waktu hanya berdua dengan Hans. Sedangkan bagiku, sainganku berkurang karena hanya aku yang bisa mendapatkan Adrian.


"Tuh sudah kuduga mereka pasti bermesraan sampai Fina tidak kembali ke kantor," ledek Nathan tertawa terkekeh.


Tania menepuk pundak Nathan pelan. "Ish kamu ini bisa saja berpikir seperti itu! Mungkin Fina sedang membantu Hans yang sedang kesulitan bergerak."


Di satu sisi, aku cukup muak mengurus hubungan asmara orang lain. Sekarang saatnya kembali fokus pada kasus yang masih kuselidiki. "Sudahlah tidak usah memikirkan mereka berdua lagi. Yang terpenting kita harus fokus pada pekerjaan dulu!" tegasku pada mereka.


"Aku barusan melihat di internet banyak netizen yang meminta penyelidikan ulang kasus itu lagi," ucap Tania mulai fokus.


Nathan menggarukkan kepala kesal. "Aduh, ini sangat merepotkan!"


Aku berpikir keras sambil mengetuk mejaku dengan jari telunjukku berulang kali. "Dengan artikel ini, kita juga bisa mencari detektif yang berusaha menutupi kasus ini. Bukankah ini sangat aneh? Kenapa detektif yang bertugas dalam penyelidikan kasus ini tidak mencari tahu lebih dalam lagi?"


drrt...drrt...


Ponselku tiba-tiba berbunyi, perasaanku jadi tidak enak ketika melihat Yulia meneleponku di saat malam seperti ini.


"Penny, sepertinya aku diikuti seseorang."


Bola mataku terbelalak. "Apa? Di mana kamu, Yulia? Bisakah kamu memberitahuku di mana posisimu sekarang juga?"


"Aku sudah share location posisiku saat ini."


"Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang!" Aku terburu-buru menutup panggilan telepon.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Nathan mulai panik.


"Reporter Yulia dikejar pembunuh itu," jawabku dengan pucat.


"Apa? Kalau begitu kita harus menolongnya sekarang juga! Ayo kalian semua naik mobilku!" Nathan mengambil kunci mobilnya berlari keluar dari kantor polisi, diikuti aku dan Tania dari belakang.


Di sisi lain, Yulia sedang berlari dengan cepat memasuki rumahnya dan mengunci pintunya dengan rapat. Tapi pelaku itu terus mendobrak pintu rumahnya hingga pintunya hancur. Dengan rasa panik dan bingung ingin harus berbuat apa untuk membela dirinya, Yulia memasuki kamarnya dan bersembunyi di dalam lemari pakaian.


Pelaku itu berjalan dengan hati-hati sehingga ia tidak membuat suara langkah kakinya memasuki setiap ruangan rumah itu. Sedangkan Yulia menutup mulutnya dengan rapat sambil menggigit jarinya tidak menimbulkan suara apa pun.


Tak lama kemudian, pelaku itu memasuki kamarnya Yulia lalu memeriksa setiap sudut kamar. Ia memeriksa di bawah tempat tidur dan di kamar kecil, kemudian berjalan tepat di depan lemari pakaian. Karena Yulia semakin ketakutan ketika melihat pelaku itu tepat di depan matanya melalui celah lemari hingga membuatnya cegukan.


Hikk


Yulia menutup mulutnya dengan kedua tangannya rapat. Pelaku itu ketika mendengar suara cegukan itu langsung membuka lemari pakaian menatap wajah Yulia sangat pucat.


"KELUAR SEKARANG!" pekik pelaku imenyeret keluar Yulia dan melempar tubuh Yulia terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Pelaku itu mendekati Yulia sambil mencengkram tangannya pada leher Yulia bersiap-siap untuk mencekiknya.


"Saya mohon ... jangan bunuh saya!" ucap Reporter Yulia dengan ketakutan berlutut di depan pelaku itu.


"Kenapa Anda menerbitkan artikel itu?" hardik pelaku itu.


"Saya ... hanya ingin mengungkapkan kebenaran saja."


"Ingin mengungkapkan kebenaran ... MEMANGNYA ANDA ADALAH SEORANG POLISI!" bentak pelaku itu melempar semua barang di meja rias hingga berjatuhan di lantai sampai berserakan.


"Saya hanya melakukan pekerjaan saya. Saya ini seorang reporter. Artikel berita yang terkubur begitu saja tidak bisa saya biarkan."


Pelaku itu menarik kerah kemeja Yulia. "Jadi, Anda lebih memilih melaksanakan pekerjaan Anda dengan benar daripada NYAWA ANDA SAAT INI!"


"SAYA MOHON AMPUNI NYAWA SAYA! SAYA TIDAK BERBUAT BERSALAH APA PUN!" teriak Yulia menggesekkan kedua tangannya memohon pelaku itu hingga menangis pecah.


"JIKA ANDA TIDAK MEMBUKA MULUT ANDA, SAYA AKAN MENGAMPUNI NYAWA ANDA SEKARANG! TAPI KARENA ANDA SUDAH MERILIS BERITA ITU DI SELURUH MEDIA DAN MENJADI BAHAN TOPIK PEMBICARAAN HANGAT SAAT INI, AKAN SAYA HABISI NYAWA ANDA SEKARANG JUGA!!"


Pelaku itu tanpa ragu langsung mencekik leher Yulia dan menabrakkan tubuh Yulia pada tembok dengan kuat.


Ckkk...ckkk


Yulia sulit membuka mulutnya akibat dicekik pelaku itu. Wajahnya mulai pucat dan napasnya mulai terengah-rengah sambil berusaha membela dirinya melepas cengkeraman tangan pelaku itu. Kakinya ingin menendang sesuatu, namun ditahan pelaku dengan sekuat tenaga sehingga ia tidak bisa berbuat apa pun sekarang.


Sementara aku dan kedua temanku saat ini sedang menuju rumah Yulia. Keringat dingin mulai mengalir di leherku, takut terjadi sesuatu lebih buruk jika aku tiba di sana tidak tepat waktu.


"Iya, ini sudah kecepatan penuh."


"Semoga dia masih hidup," ujar Tania memejamkan matanya mulai berdoa dalam hati.


Kembali lagi Yulia saat ini dicekik pelaku hingga mulai kehabisan napas.


"Bagaimana? Apakah rasanya sakit?"


"L-ep-askan s-aya!" Yulia mulai kesulitan bicara sambil memukul tangan pelaku itu dengan tenaganya yang tersisa.


"Ini akibat Anda tidak bisa menutup mulut dengan rapat dan juga Anda diam-diam bekerja sama dengan para tikus licik itu!"


"S-iapa A-nda seb-enarnya!" Yulia mengulurkan tangannya berusaha membuka masker pelaku itu untuk melihat wajahnya secara langsung.


"Anda tidak perlu tahu! Yang terpenting sekarang Anda memikirkan momen bahagia yang telah Anda jalani selama ini sebelum Anda mati sekarang juga atau mungkin Anda bisa menyampaikan pesan terakhir sebelum hidup Anda berakhir!"


Ckkk...ckkk...


Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi sedang menuju rumah ini. Suara itu semakin terdengar dengan jelas hingga membuat pelaku itu melepas cengkeraman tangannya langsung bersiap-siap melarikan diri.

__ADS_1


"Uhuk..uhuk..."


Tubuh Yulia terjatuh lemas sambil ia memegangi lehernya bekas dicekik tadi dengan napasnya tersengal-sengal.


"Untuk saat ini Anda sangat beruntung karena ada polisi yang menolong Anda. Kalau tidak, Anda pasti sudah tidak akan selamat. Saya mengambil ponsel Anda sebagai gantinya," ucap pelaku itu mengambil ponsel Yulia yang tergeletak di lantai dan melompati jendela kamar.


Saat ini, akibat dicekik dalam waktu yang lumayan lama, Yulia kehabisan napasnya hingga ia tidak sadarkan diri.


Kami bertiga memasuki rumah itu dengan sigap. Kondisi rumah itu sangat berantakan. Aku memeriksa sekeliling rumah itu mencari keberadaan Yulia, seketika aku memasuki kamar, aku menemukannya tidak sadarkan diri. Aku bergegas menghampirinya dan mengangkat kepalanya sambil menyentuh lehernya untuk mengecek kondisi tubuhnya.


"Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Nathan sangat panik.


Aku menghela napas sedikit lega. "Syukurlah, aku masih bisa merasakan dia sedang bernapas."


"Apakah ambulansnya sudah datang?" tanya Nathan kepada Tania.


"Ambulansnya tiba dalam waktu beberapa menit lagi," jawab Tania.


"Aish kenapa lama sekali datangnya!" gerutu Nathan sambil menggarukkan kepala kesal.


Aku membangkitkan tubuhku lemas. "Aku akan memeriksa seluruh rumah ini dulu."


Aku memeriksa seluruh benda di rumah ini satu per satu, dimulai dari ruang tamu, dapur, ruang keluarga, setiap kamar, tapi tidak ada sesuatu yang menghilang. Hanya saja semua benda berserakan di lantai.


Aku kembali lagi memasuki kamar dan memeriksa lemari pakaian, laci meja, dan juga meja rias, tapi tidak ada benda berharga yang hilang termasuk seisi dompetnya.


Aku berjalan mondar-mandir sambil berpikir kritis. "Ini aneh sekali, kenapa pelaku ini tidak mengambil perhiasan atau uang?"


"Apa mungkin ada benda lain yang sangat berarti baginya?" tanya Tania.


"Tunggu sebentar! Aku merasa ada sesuatu yang kurang!"


Aku mengambil tas milik Yulia dan menuangkan seisi tas itu hingga berserakan di lantai. Dugaanku benar, ponsel Yulia hilang. "Ponselnya menghilang!"


"Pelakunya sangat licik mengambil ponsel itu karena mengira ada banyak bukti yang tersimpan," ujar Tania mengerutkan dahinya sambil bertopang dagu.


Tiba-tiba Nathan memiliki ide cemerlang. "Tunggu sebentar! Penny, bukankah tadi kamu saat mencari keberadaan Yulia dengan cara melihat navigasinya?"


Aku segera mengambil ponselku dan membuka aplikasi navigasi. Sayangnya, keberadaan ponsel Yulia tidak bisa ditemukan. Pelaku itu pasti mematikan ponsel Yulia agar aku tidak bisa melacaknya.


Aku menghembuskan napas kasar. "Pelakunya itu mematikan ponselnya."


Nathan meninju tembok. "Aish kalau begini akan sulit untuk menangkapnya lagi!"


"Untuk situasi sekarang, kita hanya bisa mengandalkan Yulia saja. Saat dia terbangun, kita harus menanyakannya dengan rinci karena dia merupakan satu-satunya saksi dalam percobaan pembunuhan."

__ADS_1


Di suatu rumah yang sangat megah, pelaku itu memasuki ruang rahasianya dan menaruh ponselnya Yulia tepat di sebelah antingnya Emma dan juga kameranya Maria.


__ADS_2