
Aku mengeluarkan semua berkas kasus di dalam tasku, buku catatanku, dan juga mencolok laptopku dengan kabel charger. Di saat aku sedang mempersiapkan rapat, raut wajah mereka sangat tidak enak dilihat. Hans sibuk menggarukkan kepalanya seperti ada kutu, Fina menguap terus, sedangkan Tania dan Nathan sibuk berduaan terus membuatku iri.
Aku mulai geram menatap mereka bermalasan di pagi hari. Aku sengaja membanting tumpukan kertas agar mengagetkan mereka, akhirnya mereka menatapku.
Nathan membelalakan mata mengelus dada. "Aduh Penny, kamu buatku kaget saja pagi-pagi begini!"
"Santai dong, Penny! Lagi pula ini masih pagi!" celetuk Hans memelototiku.
Sedangkan Fina tidak respons sama sekali dan sibuk menguap terus sambil mengucek kedua matanya. Ini aneh sekali, tidak seperti biasanya ia bersikap seperti ini di hadapanku. Fina yang dikenal memiliki sikap ambisius dan arogan tiba-tiba terlihat seperti seekor kucing yang baru saja terbangun dari tidur.
"Hei, Fina! Kamu tumben sekali terlihat ngantuk!" pekikku menegurnya tegas.
Fina berusaha menahan rasa kantuk. "Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak."
Alisku mengernyit sejenak. Tidak biasanya Fina berkata terus terang padaku. Ya memang wajahnya terlihat sangat kusut membuatku mulai penasaran.
Hans memasang tatapan cemas mendorong kursinya mendekati Fina. "Ada apa denganmu?"
Fina menghela napas lesu. "Sejak kasus ini terjadi, aku takut saja. Bagaimana jika pelaku itu tiba-tiba menyerangku suatu hari nanti sama seperti korban lainnya yang dibunuh dengan dicekik seperti itu?"
Mendengar perkataan Fina terdengar sangat aneh, aku membulatkan mataku dengan sempurna.
"Kamu tidak usah takut, apa kamu lupa kita selalu saling mendukung satu sama lain?" ucap Hans dengan lembut.
"Iya. Pokoknya kita selalu saling mendukung dan menjaga satu sama lain walaupun di masa sulit," tambah Nathan tersenyum lebar sambil merangkul pundak Tania.
"Sebenarnya belakangan ini aku sering bermimpi buruk. Kasus pembunuhan ini selalu menghantuiku. Maka dari itu, untuk bersikap sok tegar, aku bersikap dingin di hadapan kalian semua. Padahal sama sekali di lubuk hatiku ini, aku sangat ketakutan. Demi menjaga harga diriku, secara terpaksa aku bersikap sombong di hadapan kalian dan beberapa di antara kalian pasti hatinya tersakiti karena ucapanku setajam pisau silet," ungkap Fina dengan tulus, matanya mulai berkaca-kaca.
Hans menepuk-nepuk punggung Fina berirama. "Tenang saja, Fina. Aku akan selalu memaafkanmu. Aku tahu kamu berbuat seperti itu pasti ada suatu alasannya."
Bukan merasa sedih atau menunjukkan rasa empati, malahan Nathan dan Tania menertawai mereka berdua diam-diam.
Fina memasang tatapan elang. "Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Tidak ada. Wajahnya Tania sangat jelek," jawab Nathan menertawai Tania puas.
"Oh, jadi kamu bilang wajahku ini sangat jelek, ya!" protes Tania sambil mengepalkan tangannya.
"Tidak kok, hanya saja ...." Nathan belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, telinganya dijewer Tania.
"Aduh sakit, Tania!" keluh Nathan sambil memegang telinganya memerah.
Sekarang giliran Hans dan Fina yang menertawai kelakuan konyol Nathan dan Tania. Aku hanya bisa diam sampai mereka selesai berdebat sambil memainkan pulpenku dari tadi.
"Apa yang lucu?" hardik Nathan menatap Hans dan Fina dengan tajam.
"Tidak ada kok," jawab Fina dan Hans serentak.
__ADS_1
"Ehem! Ada yang jawabnya kompak nih," ejek Tania tertawa terbahak.
"Jangan memikirkan hal aneh-aneh deh!" protes Hans menatap menyeringai.
"Siapa yang bilang kita berpikir yang aneh!" bentak Nathan memelototi Hans.
"Kenapa kamu membentak, Hans!" bentak Fina dengan tatapan tajam.
Nathan menyipitkan mata curiga. "Tuh pasti ada sesuatu di antara kalian berdua. Kalau tidak terjadi apa-apa, ngapain Fina membentakku balik."
"Aku hanya membela temanku saja! Lebih baik kamu diam saja, Nathan!"
Perdebatan mereka berempat menghabiskan waktu cukup lama hingga membuatku sudah kehabisan kesabaran. Aku mengambil tumpukan kertas dan membantingnya lagi. Akhirnya mereka hening sejenak lalu tatapan matanya tertuju padaku.
"Kalian sudah selesai berdebat?" tanyaku sangat kesal sekarang.
"Sudah puas, Penny," jawab Nathan tertawa terkekeh sambil menggarukkan kepalanya seperti orang bodoh.
"Kalian tahu tidak? Kalian berdebat panjang lebar dari tadi menghabiskan waktu sekitar 10 menit! Kita di sini untuk rapat, bukan untuk berdebat!" bentakku meluapkan semua emosiku yang terpendam dari tadi.
"Kamu galak sekali sih, Penny! Kalau galak terus akan aku laporkan kepada Adrian sekarang," elak Hans mengancamku.
"Jangan pernah berani melaporkan kepadanya! Sampai kamu sungguh lapor padanya, tamatlah riwayatmu nanti!" ancamku dengan tatapan tajam seperti ingin menerkamnya.
Fina menunduk bersalah. "Maaf, Penny. Ini semua salahku, aku yang memulainya tadi, jadi ujung-ujungnya berdebat."
"Maafkan aku, Penny, selama ini aku selalu berkata kasar padamu dan juga membuatmu marah."
Aku memeluknya erat. "Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu sekarang. Untuk sekarang dan ke depannya, aku harap kita selalu bekerja sama dengan baik."
"Terima kasih, Penny."
"Nah sekarang karena situasi sudah mulai tenang, mari kita mulai rapatnya sekarang," ujarku antusias.
drrt...drrt...
Aku memutar bola mataku bermalasan mendengar suara ponselku berdering di saat aku ingin memulai rapat. Aku tersenyum sendiri memandangi vitamin penyemangatku yang menghubungiku saat ini.
"Adrian, ada apa kamu meneleponku?"
"Aku masih mencemaskanmu. Apakah kepalamu sungguh tidak terasa sakit lagi?"
"Hmm bisa dikatakan sih kepalaku sebenarnya tadi pagi sudah tidak terasa sakit, tapi karena keempat anggota timku dari tadi sibuk berdebat terus, sekarang kepalaku terasa sakit lagi." Aku menatap menyeringai pada mereka semua.
"Memang mereka tidak bisa menjaga mulutnya. Tega sekali mereka membuat wanitaku sakit kepala! Aku tidak akan membiarkannya begitu saja!"
"Sudahlah, Adrian. Tadi aku juga sudah menegur mereka satu per satu."
__ADS_1
"Aku tidak akan mengganggumu bekerja lagi. Sampai bertemu nanti, Penny."
"Sampai bertemu, Adrian."
Saat aku menutup telepon, Hans dan Nathan memandangiku sambil menggelengkan kepala.
"Dasar pilih kasih! Sedangkan berbincang dengan Adrian, kamu sampai senyum terus!" hardik Nathan mendengkus kesal.
"Namanya juga Penny. Dia hanya peduli dengan kekasih kesayangannya," lanjut Hans sedikit meledekku.
"Sudahlah jangan protes. Sebaiknya kita fokus bekerja sekarang!"
Aku kembali menduduki kursiku dan memperlihatkan berkas kasus itu kepada mereka semua.
"Mulai sekarang kalau ada sesuatu yang penting sebaiknya bicarakan di ruang rapat saja," tegasku mulai fokus pada rapat.
"Memangnya ada apa, Penny? Apakah mata-matanya ada di sekitar kita?" tanya Hans mulai penasaran.
"Kalian coba lihat halaman pertama dari berkas kasus itu dan lihat nama detektif yang menyelidiki kasus itu," pintaku dengan tegas.
Hans membuka berkas kasus itu perlahan. Hans menatap nama itu sampai keringat dingin mulai mengalir di lehernya.
"Inspektur William?"
"Iya benar."
"Tapi bukankah selama ini dia terlihat kompeten di depan kita?" tanya Nathan masih ragu.
"Sewaktu aku dipanggil ke ruangannya, dia selalu menekanku tidak menggali informasi lebih dalam lagi mengenai kasus yang ditanganinya demi harga dirinya sangat mahal itu. Yang pasti, dia adalah seorang mata-mata yang bersekongkol dengan pelaku sebenarnya dan juga selalu mengintaiku diam-diam selama ini," paparku dengan tatapan serius sambil meletakkan kedua tanganku di atas meja.
Fina memukuli meja meluapkan amarah. "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Beraninya dia berbuat munafik seperti itu di hadapan kita semua!"
"Pokoknya kita akan mengawasi pergerakannya mulai sekarang. Dengan adanya dia, kita akan bisa melihat siapa pelaku sebenarnya dan seperti apa sosok wajah pelakunya," sambungku.
Tania menghela napas pasrah. "Siap-siap deh mengintai lagi seperti dulu."
"Ya sudah Tania kalau kamu tidak mau mengintai Inspektur William lebih baik kamu bertugas menjaga Reporter Yulia di rumah sakit sepanjang malam, bagaimana?" tawarku padanya.
Tania mengangguk. "Ya sudah, aku lebih memilih menjaga Reporter Yulia dibanding harus mengintai lagi."
"Aku yakin sekali pasti ada sesuatu yang sangat penting disembunyikan Inspektur William," sambung Fina.
"Maka dari itu, untuk saat ini juga walaupun pagi, siang, sore, ataupun malam kita harus mengawasi pergerakannya terus," lanjutku dengan tatapan serius.
Setelah selesai rapat, kami kembali ke posisi kami masing-masing. Tania mengambil tasnya bersiap-siap mengunjungi rumah sakit menjaga Reporter Yulia. Sedangkan anggota tim lainnya bersamaku di sini bersikap seperti biasa. Selama seharian ini, tidak ada pergerakan yang mencurigakan. Tapi aku tetap harus memantau setiap gerak-geriknya dengan tatapan elang.
Tiba-tiba Inspektur William keluar dari kantornya dan berjalan menuju pintu utama. Aku bergegas meminta anggota timku mengikutinya diam-diam dari belakang.
__ADS_1
Kami mengikutinya dengan menaiki mobilnya Hans. Di tengah perjalanan, aku semakin penasaran siapa yang akan ditemuinya. Mobil Inspektur William berbelok ke arah di mana aku merasa itu mengarah ke tempat sangat tidak asing bagiku. Mobil itu menuju perumahan elit dan berhenti tiba-tiba di sebuah rumah sangat megah. Rumah itu adalah rumah Josh yang aku kunjungi di acara ulang tahunnya. Sebenarnya apa hubungan antara Josh dengan Inspektur William?