Good Partner

Good Partner
Part 71 - Perasaan Sebenarnya


__ADS_3

Ada sesuatu terusik pada pikiranku. Di saat siang bolong, Josh mengunjungi suatu tempat. Seharusnya ia sedang bekerja di perusahaannya. Kenapa ia tiba-tiba berkunjung ke tempat lain? Lalu ia bukan berkendara menuju rumahnya, melainkan menuju suatu tempat sangat asing bagiku walaupun masih di kota.


Aku melajukan kecepatan mobilku dengan menginjak pedal gas mengikuti mobilnya Josh dari belakang. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi hingga wajah Fina sangat pucat sambil memegang gagang pintu erat.


"Penny, aku rasanya sangat mual sekarang!" keluh Fina tangannya gemetar.


"Tahan sebentar, Fina! Kita harus mengikuti Josh!" tegasku fokus menatap kaca depan.


"Tapi aku sudah tidak tahan lagi, Penny!"


"Tenang saja. Lebih baik kamu pejamkan matamu saja daripada lihat kaca depan membuatmu semakin mual."


Fina menuruti perintahku, memejamkan matanya perlahan meskipun tangannya masih gemetar.


Tak lama kemudian, aku melihat Josh menyalakan lampu sen mobil mengarah ke suatu rumah sakit. Aku juga menyalakan lampu sen mobilku memasuki rumah sakit itu dan parkir di basement. Aku memarkirkan mobilku tidak terlalu dekat, jaraknya sekitar 100 meter. Aku mematikan mesin mobilku lalu menatap Fina masih gemetaran.


Aku menepuk lengannya pelan. "Fina, kita sudah sampai!"


Fina membuka matanya perlahan lalu menghembuskan napasnya lega sambil mengelus dada. "Akhirnya aku sudah tidak bertemu dengan maut lagi."


"Maaf kalau aku menyetir mobilku kebut sampai membuatmu ketakutan."


Fina menatapku terkagum. "Tidak masalah. Justru aku harus belajar menyetir darimu. Aku salut denganmu bisa menyetir dengan kebut seperti ini. Jarang sekali seorang wanita bisa menyetir segila ini."


"Itu karena aku sudah terbiasa dengan kasus yang kutangani sebelumnya, gara-gara kasus itu, aku jadi mahir mengemudi mobil."


Josh keluar dari mobilnya tanpa membawa apa pun memasuki rumah sakit. Begitu pula aku dan Fina keluar dari mobilku dan terus mengikutinya dari belakang. Josh menekan tombol lift rumah sakit menunjukkan lantai 10 lalu memasuki lift itu. Sedangkan aku dan Fina menekan tombol lift sebelah lalu memasuki lift juga.


Setibanya di lantai 10, untung saja aku masih bisa melihat sosok Josh di sana. Aku dan Fina terus mengikutinya dari belakang lalu tiba-tiba Josh memasuki sebuah ruangan. Dengan sigap kami melihat nama dokter yang tertera di pintu ruangan itu.


"Dokter Emily Vilia. Untuk apa dia bertemu dengannya? Bukankah dia terlihat sehat?" tanya Fina kebingungan sambil bertopang dagu.


"Sepertinya ini berhubungan dengan botol obat yang kulihat di rumahnya waktu itu," jawabku dengan tatapan serius.


"Dia mengonsumsi obat apa?"


Aku mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu. Dilihat dari botol obatnya itu, itu bukan botol obat biasa. Kalau itu botol obat depresi atau insomnia, wujudnya bukan seperti itu."


"Apa mungkin Josh sungguh mengidap penyakit langka? Jadinya dia membutuhkan obat itu dari dokter yang dikunjunginya saat ini."


"Asumsiku sama seperti Adrian waktu itu saat pemeriksaan mayat tubuhnya Emma, pelaku ini mengidap penyakit gangguan jiwa. Menurutku dengan melihat obat langka yang dikonsumsi Josh, aku semakin yakin dia sungguh mengidap penyakit sangat langka."


Aku dan Fina menunggu Josh keluar dari ruangan itu sampai leherku sakit. Aku berjalan mondar-mandir seperti orang aneh di depan ruangan. Sedangkan Fina menguap terus hingga matanya mulai terpejam tapi ia tetap menahannya.


Sudah berjalan 30 menit, tapi Josh masih belum berkunjung keluar dari ruangan itu. Aku sudah sangat bosan lalu menelepon Hans untuk menanyakan kondisi di kantor saat ini.


"Halo Penny, sedang apa kamu dan Fina saat ini? Kenapa kalian berdua lama sekali bertemu dengan orang anonim itu?"


"Aku dan Fina sedang mengintai Josh sekarang di rumah sakit."

__ADS_1


"*Di rumah sakit? Apa yang terjadi sebenarnya*?"


"Sepertinya Josh sedang berkonsultasi dengan dokter bersangkutan mengenai penyakit langka yang diidapnya saat ini."


"Bagaimana dengan keadaan Fina?"


Aku menepuk jidat sambil menatap Fina. "Di situasi seperti ini kamu masih bisa memedulikan Fina!"


Fina langsung terbangun dari lamunannya dan duduk sikap sempurna.


"Fina tadi sempat hampir ketiduran sekarang dia sudah bangun gara-gara suaraku sangat kencang."


"Syukurlah, yang penting tidak terjadi sesuatu padanya."


"Situasi di kantor sekarang bagaimana?" tanyaku mengalihkan ke inti pembicaraan.


"Nathan dan Tania, mereka berdua terlihat baik-baik saja, sedangkan aku sendiri sangat bosan karena tidak ada kehadiran Fina di sini."


Rasanya aku ingin menjewer telinga Hans ketika sudah kembali ke kantor. Selalu saja ia melaporkan sesuatu tidak penting padaku.


"Aku bukan menanyakan itu Hans! Tapi bagaimana dengan situasi Inspektur William saat ini? Apakah ada pergerakan yang mencurigakan darinya?" omelku mulai geram pada Hans sambil mengibaskan jaketku.


"Oh, bilang dong, Penny. Dia dari tadi tidak keluar dari kantornya sama sekali. Aku terus memantaunya sampai mataku sakit."


"Baguslah. Pokoknya kamu terus memantaunya dan jangan sampai kehilangan jejaknya. Kalau terjadi sesuatu yang mencurigakan, kamu harus segera hubungiku." Aku sudah tidak tahan lagi bicara dengan Hans lalu mematikan teleponnya.


"Ada apa Fina? Apa ada yang lucu?" tanyaku dengan nada masih kesal.


Fina menatap menyeringai. "Aku bingung dengan Adrian. Kenapa dia menyukai seorang wanita sepertimu yang sangat konyol?"


Aku tersenyum manja membayangkan setiap. momen bersamanya selalu manis meski aku selalu ceroboh di hadapan Adrian, tapi ia selalu menyukainya. "Aku juga tidak tahu kenapa dia sangat menyukaiku bahkan dia selalu menyelamatkan aku dan mengorbankan nyawanya."


"Sepertinya dia sungguh menyukaimu karena karaktermu ini sangat unik. Lalu, kepribadianmu juga sesuai dengan wanita idamannya."


"Sedangkan kamu, apakah kamu menyukai Hans?" tanyaku dengan tatapan serius.


Fina gelagapan sampai pipinya mulai memerah. "Apa maksudmu, Penny? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu padaku?"


Aku menyipitkan mataku menyenggol lengannya sengaja. "Sudah lebih baik mengaku saja Fina. Aku bisa membaca raut wajahmu itu kamu menyukai Hans."


Fina terdiam sejenak. Tangannya terus meremas celana pantofel dipakainya. "Aku memang sedikit menyukainya. Dia itu memiliki karakter yang konyol membuatku merasa terhibur di saat aku sedang stress berat."


"Sudah kuduga kamu menyukainya sejak kejadian dia sakit perut. Mana ada rekan kerja yang sakit, kamu dengan rela merawatnya sampai larut malam."


"Aku ketahuan deh."


"Selain itu, saat tadi di kantor kamu menawarkan permen padaku dan Hans. Kamu memiliki satu permen di dalam tasmu, lalu kamu memberikan permen untuk Hans karena kamu pasti menyukainya, bukan karena dia yang menerima tawaranmu duluan."


Fina tidak membalas perkataanku, kepalanya menunduk malu.

__ADS_1


Aku tersenyum santai menepuk pundaknya. "Kamu tidak perlu malu di hadapanku. Aku akan mendoakan kalian berdua semoga kalian cepat berpacaran."


Aku mengatupkan bibirku, lalu melanjutkan perkataanku lagi. "Aku yakin pasti kalian berdua akan jadian cepat lambat. Tinggal tunggu waktunya saja karena Hans sangat menyukaimu sampai menanyakan aku mengenai kabarmu terus sampai aku bosan."


Fina merasa sedikit lega, mengangkat kepala sedikit percaya diri menatapku santai. "Omong-omong, kamu masih mau permen? Besok aku akan membawakannya untukmu juga."


"Tidak perlu. Permennya untuk Hans saja. Sepertinya dia sangat menyukai permen."


"Hmm bisa juga karena dia sakit tenggorokan tadi."


"Memang kamu tidak peka, Fina! Tadi Hans itu ...."


Aku mengurungkan niatku memberitahu yang sebenarnya pada Fina mengenai Hans hanya bersandiwara di hadapannya.


Fina menggeserkan tubuhnya mendekati aku. "Kenapa Hans?"


Aku membuang muka. "Lupakan saja. Tadi aku hanya asal bicara."


Di tengah pembicaraanku dengan Fina, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan lebar. Aku dan Fina dengan sigap bersembunyi di balik suatu lorong dan menatap Josh dari kejauhan.


"Josh sudah keluar dari ruangan itu. Apakah kamu mau memasuki ruangan itu dan menanyakan dokter itu mengenai Josh?" tanya Fina.


Dahiku mengernyit, firasatku mulai enak setiap mendengar usulan Fina selalu gila. "Bukankah ini terlalu cepat untuk bertanya?"


"Kalau kita mengulur waktu terus, nanti Josh akan bertindak lain lebih cepat," jawab Fina dengan tatapan serius.


"Kamu memang selalu gerak cepat, Fina."


"Bukan aku yang cepat, tapi kamu yang lamban seperti biasa, Penny," sindir Fina menertawakanku remeh.


"Ya sudah, sesuai dengan permintaanmu ayo kita masuk ruangan itu bersama!"


Aku dan Fina memasuki ruangan itu, lalu Dokter Emily kebingungan saat melihat kami berdua menerobos masuk tiba-tiba.


"Kalian berdua siapa? Kenapa kalian memasuki ruangan saya tiba-tiba?"


"Kami berdua adalah detektif. Kami akan meminta waktu Anda sebentar untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada Anda. Mohon kerja samanya," jawabku dengan tatapan ramah.


"Tapi saya tidak melakukan kesalahan sama sekali," tutur Dokter Emily dengan gugup.


"Pasien yang barusan keluar dari ruangan ini, dia mengidap penyakit apa?" tanya Fina langsung pada intinya.


"Dia sama sekali tidak mengidap penyakit apa pun. Dia hanya stress berat jadinya konsultasi dengan saya tadi," jawab Dokter Emily datar.


"Saya pernah melihatnya mengonsumsi obat langka di rumahnya. Botol obat itu tidak terlihat seperti untuk depresi atau insomnia."


"Saya tidak pernah menangani pasien yang mengalami penyakit langka!" ketus Dokter Emily geram.


"Anda barusan mengatakan bahwa Anda tidak pernah menangani pasien mengidap penyakit langka. Padahal saya tidak mengatakan pasien itu mengidap penyakit langka," tukas Fina tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2