
Dokter Emily menatap kami dengan ketakutan, menelan salivanya berat. Sedangkan Fina sibuk berjalan mengelilingi ruangan itu sambil memeriksa sesuatu yang mencurigakan. Untung saja Fina pintar sekali memainkan katanya sehingga dokter itu tidak akan membungkam mulutnya. Aku bahkan tidak bisa berpikir sampai sana. Walaupun Fina merupakan detektif yang suka memamerkan kecerdasannya dan selalu mengatakan aku lamban, tapi otaknya sangat cerdik dan cepat tanggap. Tidak ada ruginya aku mengajaknya ke sini. Lain kali aku harus belajar banyak darinya untuk memainkan kata membuat suatu jebakan.
Fina membuka lemari di dekat jendela, mengambil sebuah botol obat sama persis dengan kulihat waktu itu di rumahnya Josh.
"Bukankah itu botol obat yang kulihat waktu itu?" tanyaku menunjuk botol obat itu.
"Ini sangat aneh. Botol obat ini saya tidak pernah melihat di mana pun. Sepertinya ini bukan botol obat biasa, apalagi tidak ada label," tutur Fina memainkan botol obat yang ada di tangannya.
"Letakkan obat itu seperti semula!" hardik Dokter Emily tegas.
"Tadi Anda mengatakan tidak pernah mengatasi seorang pasien yang mengalami penyakit gangguan jiwa. Tapi obat yang saya pegang saat ini, sepertinya bukan obat biasa." Dengan sengaja Fina bermain melempar botol obat itu ke atas.
"Cepat letakkan sekarang juga sebelum saya panggil petugas keamanan!" bentak Dokter Emily mulai geram.
Fina menatap tajam. "Maka dari itu, Anda harus memberitahu kepada kami dulu! Sebenarnya obat apa ini? Botol obat ini sangat langka dan tidak bisa ditemukan di sembarang tempat!"
"AKAN SAYA PANGGIL PETUGAS KEAMANAN SEKARANG JUGA!" Dokter Emily mengangkat gagang telepon untuk menghubungi petugas keamanan.
Fina sangat geram langsung merebut gagang telepon, meletakkannya kembali dengan kasar.
"APA YANG SEDANG ANDA LAKUKAN?!" pekik Dokter Emily.
"Percuma jika Anda menghubungi petugas keamanan. Nanti saya juga akan memberitahu kepada semua orang bahwa Anda melakukan praktik ilegal dan juga menyembunyikan kebenaran di hadapan para detektif!" bentak Fina mengepalkan tangannya.
Dokter Emily mengacak-acak rambutnya. "Sebenarnya apa yang Anda inginkan? Saya akan memberikan apa pun yang Anda inginkan."
"Cukup beritahu saja, ini obat untuk apa? Lalu Josh mengidap penyakit apa? Kalau sampai Anda tidak memberitahu kepada kami, karier Anda yang selama ini diperjuangkan akan hancur!"
"Baiklah, saya akan memberitahu semunya kepada kalian." Dokter Emily duduk di kursi kerjanya.
Sedangkan Fina masih tetap menggenggam botol obat itu di tangannya dengan tatapan tajam.
"Jadinya penyakit apa yang dialami Josh?" selidikku mulai fokus pada penyelidikan.
"Penyakit yang dialaminya sangat langka. Saya jarang bertemu dengan pasien yang memiliki penyakit langka seperti itu. Menurut dari gejalanya, dia mengidap penyakit Erotomania."
Aku memiringkan kepalaku, sebenarnya aku pernah mendengar nama penyakitnya tapi aku tidak tahu penyakit ini jenisnya seperti apa.
"Penyakit seperti apa itu?"
"Penyakit itu biasa dialami seseorang yang sangat yakin dan percaya diri bahwa orang yang disukainya akan menyukainya balik. Gejala utama dari penderita Erotomania adalah terlalu meyakini atau salah menafsirkan seseorang mencintai dirinya. Bahkan para pengidap penyakit ini dapat melecehkan seseorang yang tidak dikenal sebelumnya sehingga dapat menyebabkan khayalan menjadi terus berkembang."
Aku dan Fina hanya bisa berdiam mendengar penjelasannya hingga keringat dingin mulai mengalir di leher. Bahkan aku tidak sanggup membayangkannya jika terjadi hal seperti itu menimpaku.
"Tapi bukankah seorang psikopat itu tidak bisa disembuhkan? Kenapa Anda meresepkan obat ini kepadanya?" tanya Fina dengan tatapan curiga.
"Dia memaksa saya meresepkan obat untuknya. Walaupun saya sudah menjelaskan kepadanya berulang kali, tapi dia masih tetap keras kepala bahkan mengancam nyawa saya."
__ADS_1
Jadi begitu ceritanya. Memang Josh itu sungguh psikopat menyeramkan. Sekarang informasi yang kudapatkan cukup berguna, aku akan mengakhiri sesi interogasi.
"Baiklah, saya mengerti sekarang. Terima kasih telah memberitahukan kepada kami mengenai kebenarannya. Tapi bolehkah kami menyimpan botol obat ini sebagai barang bukti? Tenang saja kami tidak akan mengatakan bahwa Anda yang meresepkan obat ini untuknya."
"Boleh saja, lagi pula ini bukti yang sangat penting untuk menangkapnya."
"Tapi kenapa Anda tiba-tiba berubah pikiran mengungkapkan semuanya bahkan menyerahkan barang penting ini kepada kami?" selidik Fina lagi meyakinkannya.
Ekspresi wajah Dokter Emily sangat lesu. "Karena sebenarnya saya sangat takut dengannya. Dia selalu mengancam saya dan tatapan matanya sangat kejam. Saya berharap dia ditangkap secepatnya dan hidup saya tidak terbebani selamanya."
"Terima kasih telah memberikan waktu Anda sebentar. Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan, harap menghubungi kami segera," tuturku bersiap-siap meninggalkan ruangan itu.
Aku dan Fina keluar dari ruangan menuju ruang pemantauan CCTV untuk melihat rekaman di saat Josh sedang mengunjungi rumah sakit ini.
"Bolehkah saya menyimpannya untuk dijadikan bukti penyelidikan?" tanyaku memohon kepada salah satu petugas keamanan di sana.
"Boleh silakan."
Aku mengambil flashdisk di tasku dan membuat salinan rekaman CCTV itu ke flashdisk.
Lalu, aku dan Fina berjalan menuju basement menaiki mobilku kembali ke kantor. Di tengah perjalanan menuju kantor, aku sambil berbincang dengan Fina mengenai kejadian tadi di rumah sakit.
"Aku penasaran denganmu Fina, bagaimana kamu bisa memainkan kata seperti itu membuatnya terjebak dalam perkataanmu itu," ujarku tiba-tiba sambil mengendarai mobilku.
"Karena itu memang keahlianku sejak dulu. Aku dilatih sejak dini bahwa aku harus menjadi orang yang cepat tanggap dan tidak mudah percaya orang asing. Lagi pula menurutku itu hal yang mudah bagiku," jawab Fina dengan nada sombongnya.
"Sebenarnya kamu bisa sepertiku juga, Penny, hanya saja kamu yang sangat lamban," ledek Fina menertawaiku puas.
Setiap kali ia menyindirku lamban, aku ingin menjambak rambut indahnya sampai botak.
"Ya ampun Fina, lagi-lagi kamu membahas aku lamban lagi! Padahal kalau dilihat dari keahlian menyetir mobil, aku lebih unggul darimu!" ketusku dengan nada sombong.
"Menyetir mobil dengan kebut itu melanggar peraturan lalu lintas. Kamu bisa kena tilang suatu hari nanti!"
"Oh jadi begitu, kalau begitu aku akan menyetir dengan kecepatan penuh lagi." Aku sengaja menginjak pedal gasku agak dalam membuatnya panik lagi.
Fina mendengkus kesal memalingkan matanya menatap kaca jendela di sebelahnya. "Sudahlah, Penny! Jangan kebut seperti tadi lagi! Kamu seperti ingin membunuhku saja!"
"Maka dari itu Fina, sebaiknya kamu diam saja dan jangan mengoceh lagi."
"Aku tidak mengoceh, hanya menasihatimu saja!"
Hari ini aku sangat lelah dan juga kemarin aku kurang beristirahat jadinya aku memutuskan pulang lebih awal. Aku berpamitan pulang kepada semua anggota timku terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan pulang, sebenarnya aku sangat gugup dan takut. Aku takut akan diikuti Inspektur William dari belakang sama seperti kejadian waktu itu. Tapi sekarang rasanya aku lebih tenang karena aku meminta bantuan teman-temanku selalu mengawasi pergerakan Inspektur William. Namun tidak semudah itu aku bisa tenang, kali ini aku takut Josh akan menghabisiku tiba-tiba suatu hari nanti. Aku menambah kecepatan mobilku karena aku takut diikuti lagi.
Aku memasuki kediamannya Adrian, melepaskan sepatuku dan membiarkan sepatuku tergeletak di lantai karena tubuhku sudah sangat lelah. Aku berlari menuju sofa ruang tamu dan membaringkan tubuhku di atas sofa yang sangat empuk itu sambil menunggu Adrian pulang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, aku mendengar ada seseorang yang sedang memasukkan kode akses. Aku beranjak dari sofa dengan penuh semangat berlari menuju pintu,
Aku menyambut kedatangan Adrian dengan memberikan pelukan manja. "Aku sangat merindukanmu, Adrian."
Adrian mengelus punggungku pelan. "Aku juga sangat merindukanmu, Penny."
Aku menggandeng tangannya masuk ke kediamannya. "Kamu duduk di sofa dulu saja. Aku akan masak makan malam untuk kita."
Adrian mencium pelipisku. "Baiklah, aku akan menunggumu."
Mendapatkan vitamin penyemangat darinya, aku bersemangat berjalan menuju dapur menyiapkan bahan makanan dan juga peralatan memasak. Walaupun tubuhku terasa sangat lelah, aku tetap akan memasak demi pacarku.
Sekitar tiga puluh menit berjalan, aku selesai memasak dan menghidangkan masakanku di meja makan. Adrian langsung menghampiriku lalu mengambil sendok dan mencicipi masakanku.
Aku menundukkan kepala melihat ekpresi wajahnya agak datar, aku tahu rasanya biasa saja karena aku hanya masak nasi goreng. "Maaf ya aku tidak bisa masak makanan lezat. Tubuhku pegal jadinya aku masak seadanya."
Justru ekspresi wajah Adrian sekarang terlihat girang. Ia menikmati nasi goreng buatanku melahap. "Ini terasa lezat kok. Tadi pagi aku tidak salah memuji kamu bahwa masakanmu itu ada perkembangannya."
Aku mengangkat kepala sedikit gugup. "Benarkah? Kamu tidak membohongiku, 'kan?"
"Aku mana mungkin membohongi pacarku sendiri."
Aku masih tidak memercayai perkataannya lalu mencicipi masakanku. Menurutku rasanya memang lebih enak dari biasanya.
"Bagaimana? Memang benar, kan, terasa lezat?" tanyanya.
"Mungkin nasi goreng buatanku terasa lezat karena aku memasak dengan penuh niat demi kamu."
Adrian tertawa girang. "Aku sangat bahagia mendengarnya, Penny. Berarti kamu memasak juga penuh perasaan perhatian padaku."
"Ini juga sebagai ganti rugi dariku akibat aku meninggalkanmu tanpa berpamitan tadi pagi.
"Aku tidak butuh ganti rugi repot begini. Melihatmu sekarang seperti ini saja sudah membuatku rasanya puas."
Adrian beranjak dari kursinya, lalu membiarkanku duduk di atas pangkuannya sambil mendekapku hangat. Ia mencium pipiku dan juga keningku mendalam hingga membuat energi tubuhku terisi berkat ekstra vitamin yang ia berikan saat ini.
"Tadi pagi aku tidak memberimu vitamin. Sesuai dengan janjiku saat di telepon tadi, aku akan memberikan banyak vitamin untukmu," ucapnya sambil mengelus pipiku.
"Kalau begitu aku juga akan memberimu vitamin yang banyak supaya selalu tetap kuat." Aku mencium pipinya mendalam.
"Ditambah masakan spesial buatanmu, sekarang tubuhku kembali bertenaga lagi."
"Mulai besok aku akan memasak lebih lezat lagi dari tadi."
Adrian menyunggingkan senyuman usil memberikan sendoknya untukku. "Sebelum itu kamu harus suapiku supaya terasa lebih lezat."
"Ish dasar manja!"
__ADS_1