Good Partner

Good Partner
S2 : Part 8 - Interogasi Nielsen


__ADS_3

Aku, Adrian, dan semua anggota timku mengunjungi Felicity High School lagi. Setibanya di sana, kami semua menelusuri koridor sekolahnya lalu mendengar gosipan antar siswa mengenai teman-temannya yang ditemukan tewas dalam ledakan gedung kelas tambahannya. Sosok Nielsen yang sedang keluar dari kelasnya sendirian, lalu aku menghampirinya. Nielsen tersentak kaget ketika menatapku dan secara perlahan melangkahkan kakinya mundur. Sementara Fina tersenyum licik sambil melipat kedua tangannya.


"Nielsen, harap kamu ikut denganku sekarang!" ucapku tegas.


"Ikut ke mana? Aku masih ada kelas setelah jam istirahat." Nielsen berlagak polos sedikit memalingkan matanya dariku.


"Ikut dengan kami ke kantor polisi. Ada sesuatu yang harus kami periksa terhadapmu," ajak Fina mendesak.


"Tidak ada sesuatu yang bisa aku sampaikan lagi." Nielsen menghindariku membalikkan tubuhnya ke belakang.


Aku mencegahnya dengan menyentuh pundaknya sedangkan Fina menghadang jalannya menatap tajam seperti ingin membunuh orang.


"Minggirlah! Aku ingin kembali ke kelasku!" celetuk Nielsen.


"Alasan kami menyuruhmu ikut ke kantor polisi karena kamu tertangkap kamera CCTV saat kejadian ledakan semalam," balas Fina berterus terang.


"Tenang saja. Kami bukan memanggilmu sebagai pelaku kejahatan, tapi sebagai seorang saksi dalam kejadian tersebut," ujarku santai.


"Lebih baik kita membicarakannya langsung di kantor polisi," kata Adrian menepuk-nepuk pundaknya Nielsen.


"Ada keributan apa ini?"


Seorang guru berwajah dingin yang kulihat di ruang guru menghampiri kami semua sambil membawa buku-buku pelajaran. Kami semua menundukkan kepala dengan hormat kepadanya.


"Jadi begini, mengenai kasus ledakan yang terjadi semalam. Nielsen tertangkap kamera CCTV di depan gedung tersebut," ucapku menjelaskannya sopan.


"Jadinya menurut Anda, murid saya ini merupakan seorang pelaku pembakaran gedung itu?" tanya guru berwajah dingin tersebut menaikkan satu oktafnya.


"Bukan begitu. Saya memanggil Nielsen sebagai saksi dalam kasus pembakaran gedung," jawabku.


"Oh, begitukah? Ya sudah, kalian bisa membawanya ke kantor polisi."


Bu guru berwajah dingin itu menatapku tajam lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelas yang ingin diajarnya. Kemudian Fina dan Hans menuntun Nielsen menuju mobil mereka.


Setibanya di kantor polisi, aku langsung menuntun Nielsen memasuki ruang interogasi yang suhu udaranya sengaja aku naikkan supaya tidak gugup. Aku mengambil semua berkas kasusnya ke dalam ruang interogasi sambil menyusun foto-foto buktinya di atas meja.


"Ini apa?" tanya Nielsen ketakutan melihat foto mayat kedua temannya.


"Ini adalah foto mayat kedua temanmu itu. Saat tadi pagi aku memasuki gedung yang terbakar itu, para siswa yang satu sekolah denganmu ditemukan tewas dengan kondisi tubuh yang sama."


"Lalu ini semua apa hubungannya denganku?"


Aku memperlihatkan rekaman CCTV kejadian ledakan itu kepadanya sambil menunjuk sosoknya yang tertangkap dalam kamera.


"Sekitar hampir pukul 10 malam, kamu tertangkap dalam kamera di luar gedung itu."


"Iya memang benar aku pergi ke sana jam segitu," sahut Nielsen berwajah datar.


"Lalu kenapa kamu berkunjung ke sana larut malam? Bukankah biasanya kelas tambahan dimulai lebih awal?" tanyaku mulai fokus pada interogasinya.


"Itu karena aku memang datang terlambat."


"Datang terlambat? Tapi kamu datangnya telat sekali. Sepertinya jam segitu menandakan kelas berakhir."


Sementara di sisi lain Fina dan yang lainnya mengawasi proses interogasinya di luar ruangan. Terutama Fina terus mengawasi gerak geriknya Nielsen saat sedang proses interogasi berlangsung.


"Kalian semua perhatikan Nielsen baik-baik deh!" tegas Fina.


"Memangnya ada apa?" tanya Tania.


"Coba kamu lihat pergelangan tangannya yang terus gemetar!" tegas Fina lagi sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Memangnya kalau pergelangan tangan gemetar bermasalah, Fina?" tanya Nathan berkacak pinggang.


"Biasanya kalau ada seseorang sedang di interogasi apalagi kalau orang itu memang tidak ada salahnya sama sekali tidak mungkin tangannya sampai gemetaran gitu," jawab Fina menaikkan alisnya.


"Mungkin Penny sengaja menurunkan suhu ruangannya karena dia dari tadi kepanasan," bantah Adrian santai.


Fina mengambil remote AC lalu memperlihatkannya kepada Adrian.


"Penny justru menaikkan suhu ruangannya sengaja supaya Nielsen tidak gugup sama sekali. Biasanya kalau suhu ruangan terlalu dingin, kebanyakan saksi maupun tersangka pasti gugup dan otaknya tidak bisa berpikir jernih," terangnya.


"Jadinya kamu masih mencurigai Nielsen merupakan pelaku pembakarannya?" tanya Adrian.


"Bukan mencurigainya. Tapi kita jangan terlalu memercayai orang asing sepenuhnya. Kalau kamu ingin melihat sifat yang sesungguhnya, kamu harus melihat bahasa tubuh mereka."


"Tapi kalau seandainya Nielsen memang sungguh saksi dari kejadian ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Adrian lagi.


"Kalau itu sih sebaiknya aku diam saja. Aku tidak ingin bertaruh denganmu, Adrian."


Kembali lagi di saat aku sedang menginterogasi Nielsen. Aku merasa Nielsen mulai sedikit gugup ketika aku menayakan kedatangannya menuju gedung tersebut. Karena situasi sudah mulai tegang, aku tidak bertanya langsung mengenai inti pembicaraannya.

__ADS_1


"Kamu ke mana saja sebelum datang mengikuti kelas tambahan? Apa mungkin kamu bersama temanmu ke warnet atau ke arcade?"


"Kalau itu sih aku pergi ke warnet bersama temanku."


"Kalau begitu kenapa kamu bisa datang terlambat mengikuti kelas tambahan? Atau mungkin kamu keasyikan bermain sampai lupa ada kelas tambahan?"


"Iya memang benar sih. Kemarin karena aku keasyikan bermain bersama teman-temanku jadi lupa waktu. Ya begitulah, biasanya anak laki-laki kalau sudah bermain di warnet dalam waktu yang lama jadi kecanduan serasa seperti rumah kedua."


"Lalu katamu tadi barusan bakal jadi kecanduan. Kenapa kamu tiba-tiba bisa menyadari bahwa kamu ternyata ada kelas tambahan malam itu?"


"Kalau itu sih karena salah satu dari temanku dicari oleh orang tuanya tiba-tiba maka dari itu aku menyadari telah bermain berlebihan sampai lupa waktu," jawab Nielsen sambil menggarukkan kepalanya.


"Jadinya semua temanmu itu tidak mengikuti kelas tambahannya. Hanya kamu saja yang selalu setiap malam mengikuti kelas tambahannya," ujarku mempertegasnya.


"Iya benar."


"Lalu orang tuamu selama ini tidak mencarimu?"


"Aku selama ini tinggal bersama dengan paman dan bibiku. Mereka tidak pernah mencariku walaupun aku pulang larut malam."


Informasi yang aku dapatkan sedikit berguna untuk membantu penyelidikan ini. Aku memutuskan memasuki inti pembicaraannya melihat dirinya sudah tidak lagi gugup.


"Memangnya kamu pulang di atas jam 10 malam tetap tidak dicari paman dan bibimu?"


"Tidak sih. Selama ini aku juga nongkrong di klub sewaktu Angelina dan Gracia masih hidup."


"Begitu rupanya. Semalam saat kamu memasuki gedung, apakah kamu melihat ada seseorang yang mencurigakan di sana?" tanyaku mulai penasaran.


"Hmm saat itu aku terburu-buru memasuki gedung itu karena keterlambatanku menghadiri kelasnya. Namun saat aku ingin memasuki kelasnya tiba-tiba gedung itu meledak," jawab Nielsen mengerutkan dahunya memiringkan kepalanya.


"Apa kamu sungguh tidak melihat apa pun sama sekali? Seperti ada seseorang sedang memakai masker yang menutupi wajahnya?"


"Hmm tidak sih. Saat aku tahu gedung itu sudah terbakar, aku langsung melarikan diri untuk menyelamatkan diriku sebelum gedung itu menghanguskan seluruh ruangan dan menutupi pintu keluarnya."


"Tapi saat kamu ingin memasuki kelas sebelum ledakan itu terjadi, apa mungkin kamu mendengar ada jeritan para siswa? Mayat yang tadi kami temukan di gedung itu memiliki sebanyak lima luka tusukan."


Nielsen mulai menunjukkan reaksi kegelisahannya. Tangannya mulai gemetar dan juga keringat dingin mulai mengalir sepanjang lehernya.


"Aku mendengar suara jeritan banyak orang," desis Nielsen sangat gugup.


"Lalu apakah mungkin saat ledakan itu terjadi, kamu melihat bayangan pembunuhnya?"


"Tidak sih. Saat itu aku sudah sangat takut. Aku takut bakal menjadi target pembunuhan berikutnya. Apalagi mendengar suara jeritan para siswi, membuatku semakin ngeri rasanya seperti sedang menonton film horor. Karena saat ledakan itu terjadi tanpa berpikir panjang aku langsung melarikan diri sebelum pembunuh itu mengejarku dan membunuhku walaupun saat itu asap sudah banyak dan penglihatanku mulai kabur."


"Baiklah untuk hari ini sekian dulu interogasinya. Kamu bisa kembali ke sekolahmu sekarang."


Nielsen mengulum senyumannya bergegas keluar dari ruang interogasi. Saat Nielsen membuka pintu ruangannya, tepat di depan pintu, Fina telah menunggunya dari tadi menyambutnya dengan senyuman ramah.


"Maukah aku mengantarkanmu kembali ke sekolahmu lagi?" tawar Fina lembut.


"Tidak perlu. Aku bisa kembali ke sekolahku sendiri," tolak Nielsen halus.


"Apa kamu yakin? Ini demi keselamatanmu sih," tanya Fina sedikit meragukannya.


"Sekarang aku sudah dewasa jadinya tidak perlu diantar. Lagi pula aku bisa memanggil taksi untuk mengantarkanku."


"Ya sudah deh, kalau itu kemauanmu, aku tidak akan memaksakan kehendakmu," balas Fina menepuk pundaknya Nielsen.


"Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Nielsen menundukkan kepalanya hormat lalu melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi.


Aku, Adrian, dan semua anggota timku memasuki ruang kerja timku lagi mendiskusikan informasi yang aku dapatkan tadi. Adrian menarik sebuah kursi kosong yang bersandar pada tembok dan menaruhnya tepat di sebelah kursiku.


"Hei, Adrian! Sedang apa kamu ke sini? Bukankah seharusnya kamu kembali ke kantormu?" tegur Hans menautkan kedua alisnya.


"Suka-suka aku mau di sini atau di di sana! Lagi pula juga aku kan bekerja sama dengan kalian menyelidiki kasus ini jadi tidak ada salahnya aku mampir di sini sekalian menemani istriku," balasnya sambil mengedipkan mata kirinya padaku.


"Tapi nanti kamu akan ditegur sama atasanmu," ucapku.


"Tenang saja. Aku sudah meminta izin. Khusus hari ini aku akan nongkrong di sini sepanjang hari." Adrian merangkul bahuku erat.


"Sudahlah, Adrian, lebih baik kamu mengaku saja rindu bersama istrimu itu," celoteh Hans.


"Benar tuh. Apalagi lipstik yang ada di bibirnya Penny belepotan tuh. Pasti tadi pagi kalian sedang melakukan sesuatu sebelum mendatangi TKP kan." Nathan memperagakannya dengan memainkan dua jari telunjuknya lalu menempelkannya satu sama lain.


Kebiasaan deh Nathan matanya selalu peka setiap lipstikku belepotan. Pipiku jadi memanas sekarang.


"Apakah benar? Penny, kamu ini sejak menikah jadi nakal, ya!" ejek Hans menertawaiku.


"Ternyata kepala detektif kita yang satu ini setiap harinya selalu saja memarahi kita semua jadinya setiap pagi melakukan begituan," lanjut Fina menambah bumbunya.


"Tidak kok!" bantahku dan Adrian bersamaan.

__ADS_1


"Masa sih? Sepertinya aku juga dulu pernah melihat begini deh. Tapi aku lupa sih kapan. Yang pasti situasinya sama seperti sekarang yaitu kalian berdua menyangkalnya," ujar Nathan dengan tatapan curiga.


"Aish kamu selalu saja memperhatikan hal begituan sejak dulu!" ketus Tania memukuli lengannya Nathan.


"Terima kasih Tania telah membelaku dan Adrian."


"Tapi kalian kan sudah menikah kenapa harus malu-malu di depan kami semua?" tanya Tania heran.


Aku memutar bola mataku bermalasan sambil mencubit pipinya Tania kuat.


"Kamu sama saja dengan suamimu itu. Aku dan Adrian sungguh tidak melakukannya tadi pagi. Lagi pula kami tidak ada waktu melakukan begituan apalagi mendengar berita itu. Benarkah begitu, Adrian?"


"Iya benar. Walaupun sebenarnya tadi kamu sengaja mengikat ulang dasiku yang sudah terlanjur aku ikat rapi," jawab Adrian tersenyum nakal.


"Ish kamu masih saja membahas hal begituan!" ketusku memalingkan mataku darinya.


Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku membuat semua anggota timku risih.


"Tuh kan! Mulai deh Adrian bertindak macam-macam!" seru Nathan berlebihan.


Adrian tidak menghiraukannya lalu mengambil selembar tisu yang ada di meja kerjaku untuk membersihkan lipstikku yang belepotan pada bibirku.


"Kata siapa aku ingin melakukan ciuman pada Penny. Aku hanya membantunya membersihkan lipstiknya."


"Habisnya kamu ini hanya membersihkan lipstiknya sampai jaraknya berdekatan begitu!" celetuk Nathan.


"Memangnya kalau suami istri saling berdekatan tidak boleh? Lagi pula juga kalian semua saja tidak bercermin dulu kalau bicara!" elak Adrian balik.


"Iya juga sih," sahut Tania lesuh.


"Selain itu, kalian jangan main sembarangan ambil kesimpulan! Aku mana mungkin melakukannya di tempat kerja," tegas Adrian sambil membersihkan bibirku.


Adrian menaruh selembar tisunya ke dalam saku jasnya lalu berbisik denganku.


"Bagaimana? Aku terlihat keren, 'kan?"


"Memang kamu selalu keren, Adrian," bisikku balik terkagum padanya.


"Khusus hari ini pasti tidak ada seorang pun yang berani membuatmu emosi."


"Iya benar nih. Karena ada kamu di sini yang menemaniku sepanjang hari," ucapku manis.


"Kalian membisikkan apa sih?" potong Hans merusak suasana.


"Kamu tidak perlu tahu, Hans! Lebih baik kamu mengurus istrimu sana!" tegasku lalu tatapanku beralih kembali pada Adrian.


"Omong-omong, tadi saat kamu menginterogasi Nielsen apakah ada sesuatu yang dia ketahui?" tanya Fina mengalihkan pembicaraannya.


Adrian menjauhkan wajahnya dariku lalu berlagak seperti seorang jaksa professional lagi.


"Jadinya apakah Nielsen melihat wajah pelakunya?" tanya Adrian mulai serius.


"Tadi sih dia cuma bilang saat ledakan terjadi dia langsung menyelamatkan diri dari gedung itu."


"Lalu dia tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan sebelum mengunjungi gedung tersebut?" tanya Fina semakin penasaran.


"Dia hanya bermain di warnet bersama teman-temannya sih."


"Tapi ini aneh sekali. Aku merasa seperti ada sesuatu yang janggal darinya," tutur Fina bertopang dagu.


"Apa mungkin kamu mencurigainya karena kegelisahannya sepanjang interogasi?" tanyaku.


"Iya nih. Kalau seandainya dia tidak berbuat salah sama sekali kenapa sampai gelisah begitu?"


"Tapi bisa juga dia gelisah karena merasa bersalah tidak menolong temannya yang sudah terlanjur terbunuh di dalam ruang kelas dan langsung melarikan diri. Rasa bersalah yang ada dalam dirinya sejak malam itu kini menghantuinya terus," tutur Tania berspekulasi.


"Bisa jadi pendapatmu itu benar, Tania. Aku kalau jadi Nielsen juga pasti merasa bersalah apalagi kalau mereka semua adalah teman sekelasnya," balas Nathan menepuk pundaknya Tania.


"Selain itu dia tidak mengatakan apa pun lagi?" tanya Adrian padaku.


"Dia hanya berkata begitu saja. Dia cuma mendengar suara jeritan para siswi dalam ruangan itu hingga membuatnya ketakutan."


"Hmm bisa jadi itu yang membuatnya dari tadi di ruang interogasi ketakutan begitu." Adrian mengerutkan dahinya bertopang dagu.


"Kalau aku jadi Nielsen juga sebenarnya ketakutan sih ketika berada di TKP sendirian. Apalagi ada seorang pembunuh yang sedang membunuh teman sekelasku," ujar Fina menghela napasnya lesuh.


"Nah kamu sendiri juga pasti gelisah, 'kan. Makanya Fina lain kali jangan sembarangan menuduh orang dulu!" tegas Adrian.


"Aku jadi merasa tidak enak padanya karena selalu bersikap galak." Fina menundukkan kepalanya sambil memainkan kuku jarinya.


"Pasti Nielsen bukan tipe orang yang pendendam kok. Kamu tenang saja, Fina." Hans menyentuh pundaknya Fina untuk meyakinkannya.

__ADS_1


Aku mengintip layar monitor di hadapanku ada sebuah notifikasi email masuk. Pasti ini merupakan email dari tim forensik mengenai hasil autopsi para korban dalam gedung itu.


__ADS_2