Good Partner

Good Partner
S2 : Part 38 - Please Come Back To Me!


__ADS_3

Aku teriak menjerit merinding ketakutan mengamati tubuhnya kini sekarat. Zack langsung menghentikan aksinya lalu lari kabur dariku. Mataku semakin memerah dan mengepalkan kedua tanganku erat berusaha mengejarnya. Namun aku lebih memilih untuk berada di sisi tubuhnya Adrian yang sudah sekarat. Aku memutuskan untuk memerintahkan semua anggota timku menghajarnya.


"KALIAN SEMUA CEPAT TANGKAP DIA SEKARANG JUGA!" titahku penuh emosi.


Mereka semua dengan sigap berlari mengejar Zack. Sedangkan aku melangkahkan kakiku lemas menghampirinya lalu duduk lemas tepat di sampingnya sambil mengangkat kepalanya dilumuri darah. Tangisanku semakin pecah hingga air mataku membasahi wajahnya. Adrian membuka matanya secara perlahan dengan tangannya lemas menyentuh tanganku.


"Penny ...." lirihnya lemas.


"Adrian, bertahanlah! Kamu harus kuat!" Aku menggenggam tangannya erat.


"Penny ... maaf aku tidak ...." Ucapannya terbata-bata memuntahkan darahnya.


"Kamu ... kenapa bicara seperti itu? Jangan bicara yang aneh deh!" Aku mengusap mulutnya dilumuri darah.


"Sebaiknya kamu ... tangkap Zack ... bersama lainnya sekarang juga."


"Tidak mau! Aku tidak mau meninggalkanmu, Adrian!" tolakku menangis pecah.


"Penny sayang ... kamu harus dengarkan aku."


Secara perlahan kedua matanya terpejam. Aku tidak bisa menahan tangisanku untuk meluapkan amarahku yang terpendam sekarang. Tak lama kemudian petugas paramedis menghampiriku sambil mengangkat tubuhnya Adrian ke ranjang pasien dan memasang alat ventilator.


"Apakah Anda ingin ikut dengan kami ke rumah sakit?" tawar salah satu petugas paramedisnya padaku.


Tatapanku sendu mengamatinya di atas ranjang pasien dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sebenarnya aku ingin mengikutinya ke rumah sakit namun di sisi lain juga aku akan membunuh Zack sekarang juga. Mengingat dengan pesan yang disampaikannya padaku, ia lebih mementingkan aku menangkap Zack terlebih dahulu lalu menghampirinya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mendengarkan pesannya saja.


"Tidak. Saya harus menangkap pelakunya sekarang juga."


"Baiklah kami membawanya ke rumah sakit dulu," pamit petugas paramedis itu padaku.


Sementara aku bergegas berlari memasuki mobilku lagi untuk melakukan pengejaran terhadap Zack. Aku menginjakkan pedal gasnya mendalam mulai menyetir seperti orang gila lagi bahkan lebih gila dari sebelumnya akibat perbuatannya terhadap Adrian di depan mataku.


Sedangkan di sisi lain, anggota tim lainnya juga sedang dalam melakukan pengejaran terhadap Zack di tengah perjalanan. Nathan dan Hans mengendarai mobil mereka dengan kecepatan penuh sambil terus menyalip mobil lain.


Tin...tinnn...


Hans terus membunyikan klakson mobilnya sambil merutukki dirinya sendiri. Sementara Fina yang tadinya suka pusing dan mual setiap kali naik kendaraan dalam kondisi kebut kini sudah terbiasa. Malahan ia memerintahkan Hans untuk menambahkan kecepatannya lagi.


"Hans, bisa tambahkan kecepatannya tidak?"


"Iya ini aku sudah menyetirnya ngebut!"


"Aish sial! Beraninya dia kabur begitu saja setelah apa yang diperbuatnya terhadap Adrian!" umpat Fina mencekam.


"Pokoknya aku tidak akan mengampuninya begitu saja!"


Sedangkan Nathan berada tepat di belakang mobilnya Hans untuk mengejar Zack. Sama seperti halnya dengan Hans, ia terus membunyikan klakson mobilnya supaya mobil lain memberikan jalan untuknya.


"Sial! Kenapa dia bisa menyetir kebut begitu!" umpat Nathan memukuli setiran mobilnya.


"Coba kamu tambahkan kecepatannya!" pinta Tania.


Ketika Nathan menambahkan kecepatan mobilnya dan membelokkan mobilnya ke samping, sontak ada mobil lain menyetir lebih gila darinya memotongnya.


"Ish sial! Kenapa masih ada orang yang tidak memberiku jalan!" umpat Nathan lagi.


"Itu mobil Penny! Dia sedang melakukan pengejaran juga!" seru Tania.


"Aku yakin sekali Penny tidak akan bisa membiarkannya lolos begitu saja setelah melihat suaminya sekarat di hadapannya."


"Kita juga harus membantunya."


Sorot mataku terus berfokus pada mobilnya Zack yang masih agak jauh dariku. Aku menambahkan kecepatan mobilku lagi sudah seperti pembalap mobil dan bahkan lebih cepat dari petugas kepolisian lainnya yang sedang melakukan pengejaran juga. Semakin lama mobilku semakin mendekatinya namun Zack tetap tidak menyerah dan terus melarikan diri dariku.


Napasku sudah mulai sesak dan dadaku masih terasa nyeri. Batas kesabaranku sudah tidak stabil sehingga aku mengambil sebuah pistol tepat di sebelahku lalu membuka kaca jendela mobilku menodongkan ke arah mobilnya. Sementara Fina mengamati aksi gilaku dari tadi sampai tatapannya melongok.


"Sepertinya Penny sudah tidak waras sekarang," ucapnya matanya terbelalak.


"Namanya juga Penny. Setiap kali orang yang dicintainya jatuh sekarat, dia pasti sudah mulai tidak bisa berpikir jernih," sahut Hans.


Kembali lagi pada saat aku sedang mengendarai mobilku sambil mengukur ketepatanku menembak peluru mengarah pada ban mobilnya. Aku mengarahkan mobilku tepat di belakang mobilnya lalu menembakkan pelurunya pada ban mobil kanan bagian belakang.


DORRR


Satu kali tembakan melayang mengenai ban mobilnya hingga ia mulai tidak bisa mengendalikan mobilnya. Namun ia tetap tidak nyerah begitu saja lalu menambahkan kecepatan mobilnya lagi. Kemudian aku menembakkan pelurunya lagi mengarah pada ban mobil kiri belakang.


DORRR


Zack sudah tidak bisa menyeimbangkan mobilnya lagi lalu ia memberhentikan mobilnya di tengah jalan. Aku, Nathan, dan Hans dengan sigap memberhentikan mobil kami mengepung Zack supaya tidak bisa kabur lagi. Aku bergegas keluar dari mobilku menggenggam pistolku erat menodongkan ke arah mobilnya.


"Sebaiknya kamu menyerah saja sekarang! Tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi!" bentakku.


Zack keluar dari mobilnya lalu menatapku tersenyum seperti psikopat.


"Kalau kamu menghentikanku sekarang juga percuma. Suami kesayanganmu tidak akan bisa bertahan hidup," sinisnya tertawa setan.


"TUTUP MULUTMU! KAMU TIDAK USAH BICARA OMONG KOSONG!" teriakku menjerit dengan tangisan pecah.


"Sepertinya kalau suami kesayanganmu sedang selarat, sekarang dirimu terlihat seperti tidak berdaya."


Perkataannya barusan membuat tubuhku semakin gerah rasanya ingin menembakkan pelurunya pada tubuhnya sekarang juga.


"Ayo, cepat tembak! Bukankah kamu dari dulu ingin membunuhku!"


Pikiranku sudah mulai tidak jernih apalagi aku terus membayangkan Adrian saat ini. Aku meletakkan jari telunjukku dekat tarikan pelatuknya bersiap untuk menembaknya sekarang.


"Kalau kamu bicara omong kosong lagi, aku akan menarik pelatuknya sekarang!" hardikku dengan tatapan mata elang.


"Penny! Sebaiknya kamu tenangkan dirimu dan jangan mudah terpengaruh perkataannya!" pekik Fina dari belakang.


"Kamu membunuhnya berarti sama saja membunuh pengacara Leonard juga!" lanjut Hans.


"Lama sekali kamu berpikirnya, detektif Penny!" bentak Zack mendekatiku.


Lalu aku membela diriku dengan membanting tubuhnya di atas aspal jalanan kemudian menyeret tubuhnya dengan kasar menabrakkannya pada mobilnya sambil menodongkan pisau pada kepalanya. Tangan kiriku mengeluarkan borgol dari saku blazerku. Sedangkan semua anggota timku membantuku untuk menahannya.


"Sudah kubilang berkali-kali bahwa aku bukanlah detektif bodoh mudah terpengaruh perkataan omong kosongmu. Membunuhmu tidak akan pernah menyelesaikan masalah, adanya aku menimbulkan masalah lebih rumit lagi dan hidupku tidak bisa tenang selamanya walaupun Adrian sudah pulih total," jelasku panjang lebar.


"Awas kamu, detektif Penny!"

__ADS_1


"Pengacara Leonard, kamu ditangkap atas pembunuhan terhadap Angelina, Gracia, Nielsen, Pak Xavier, dan juga para pelajar SMA. Kamu juga ditangkap atas percobaan pembunuhan terhadapku dan jaksa Adrian beserta melakukan pembakaran gedung perusakan propertinya. Kamu memiliki hak untuk menyewa pengacara untuk membelamu atau hak untuk berdiam diri saja," ucapku lantang.


"Wah, ternyata perkaranya banyak juga, ya!" seru Hans heboh.


"Bawa dia sekarang juga!" pintaku tegas kepada petugas kepolisian lainnya.


Aku membalikkan tubuhku menghampiri seluruh anggota timku.


"Aku tadinya berpikir kamu akan menembaknya, Penny," ucap Tania bernapas lega.


"Kalau aku menembaknya sama saja seperti membunuh dua orang sekaligus. Aku tidak boleh melampiaskan amarahku dengan membunuhnya. Kalau sampai Adrian mengetahuinya, dia pasti akan sedih mendengarnya."


"Kerja yang bagus, Penny!" Fina mengulum senyuman lebarnya menepuk pundakku.


"Aku akan pergi ke rumah sakit sekarang. Salah satu dari kalian tolong bawa mobilnya Adrian ke rumah sakit juga!" pintaku tegas.


"Kalau begitu aku yang akan membawanya saja," sahut Nathan sukarela.


Aku kembali memasuki mobilku lalu melajukan menuju rumah sakit. Setibanya di sana, aku langsung berlari menuju ruang UGD mencarinya. Dokter yang bertugas beserta beberapa perawat sedang mendorong ranjang yang ditempati Adrian menuju suatu tempat.


"Bagaimana dengan keadaannya sekarang?" tanyaku gugup.


"Untung saja tanda vital pasien masih stabil. Hanya saja dia harus dioperasi sekarang," jawab dokter tersebut sambil mendorong ranjang pasiennya.


Sedangkan aku hanya bisa menggenggam tangannya Adrian lumayan dingin dan dilumuri darah mengikuti para dokter menuju ruang operasi. Aku tidak bisa mengendalikan tetesan air mataku hingga terus membasahi tangannya. Ketika ia ingin dibawa masuk ke dalam ruangan itu, aku berdiri mematung melepaskan genggamannya mengamatinya dari kejauhan saat pintu ruang operasinya tertutup secara perlahan.


Sementara aku menduduki sebuah bangku kosong di depan ruang operasinya menundukkan kepalaku supaya tidak dilihat oleh orang lain bahwa tangisanku mulai pecah saat ini. Tak lama kemudian, Fina dan Hans tiba di sini langsung mendatangiku. Fina berinisiatif menunjukkan rasa empatinya dengan memelukku hangat.


"Fina, aku takut sekali."


"Kamu tidak perlu takut, Penny. Aku yakin Adrian pasti akan cepat sadar. Di dalam sana pasti dia berjuang bertahan hidup demi kamu dan Victoria," sahut Fina sambil mengelus punggungku perlahan.


"Adrian pasti sadar kok kalau dia masih mau berdebat denganku terus," gurau Hans berusaha menghiburku.


"Ish di saat begini kamu masih bercanda!" sungut Fina memukuli lengan tangannya.


"Padahal aku hanya bercanda, Fina. Memangnya kamu mau lihat teman kita menangis terus?"


"Terima kasih Hans telah berusaha menghiburku," ucapku tersenyum tipis.


Waktu terus berjalan dengan cepat. Aku menunggu proses operasinya tanpa makan atau melakukan kegiatan lain dulu sebelum aku mendengar kabarnya. Tidak peduli beberapa orang melewati area ini mengamatiku seperti orang tidak memiliki harapan hidup. Yang terpenting aku harus tetap berfokus sekarang.


Ketika mataku sudah mulai terasa berat membukanya padahal ini masih siang hari, seorang dokter menangani operasinya melangkah keluar dan menghampiriku.


"Bagaimana dengan kondisinya, Dok?" tanyaku penasaran.


"Untungnya paramedis membawanya cepat ke rumah sakit sehingga pasien masih terselamatkan. Selain itu, pasien tidak mengalami cedera terlalu parah. Hanya saja ada luka sobekan pada kepalanya akibat benturan cukup kuat hingga darahnya terus mengalir. Tapi tenang saja pasien pasti akan segera tersadar kembali."


Senyuman tipis terlukis pada wajahku sekarang dan kembali bisa bernapas lega.


"Terima kasih sudah menyelamatkannya, Dok," ucapku ramah.


"Pasien sudah bisa dipindahkan ke kamar inapnya."


"Pindahkan dia ke bangsal VIP!"


"Baiklah kalau begitu Anda bisa mengisi formnya dulu."


"Ini hasil scannya. Untungnya tidak ada kerusakan internal pada pembuluh darah otaknya akibat benturannya."


"Jadinya kira-kira kapan dia bisa sadar?"


"Paling lama sih sekitar 12 jam Anda harus menunggunya sampai sadar. Kalau kondisi tubuhnya pulih cepat, mungkin sekitar 5 jam kemudian pasien sudah sadarkan dirinya."


"Baiklah terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitku.


Aku membuka pintu kamar VIP secara perlahan lalu mengambil sebuah kursi kosong duduk tepat di sebelah ranjang. Aku menyentuh tangan kirinya lembut menempelkannya pada pipiku. Sejujurnya rasanya aku sangat muak mengamatinya dalam kondisi sekarat. Apalagi beberapa tahun yang lalu juga pernah dalam kondisi yang sama. Namun kali ini aku yakin Adrian pasti akan cepat tersadar demi bisa bermain denganku lagi walaupun sebenarnya ia tidak bisa menepati janjiku.


Tiba-tiba Nathan dan Tania memasuki kamar ini lalu menghampiriku sambil menyerahkan kunci mobilnya Adrian padaku.


"Mobilnya sudah aku parkirkan di basement," ucap Nathan.


"Terima kasih, Nathan."


"Penny, apa kamu baik-baik saja?" tanya Tania sangat mencemaskanku.


"Sebenarnya sekarang kondisiku masih sedikit takut dengannya. Bagaimana kalau nanti dia tidak akan membuka matanya untukku?"


"Tidak mungkin, Penny. Adrian kan sungguh mencintaimu dan anakmu. Pasti dia akan segera membuka matanya demi bisa melihat kalian lagi," sanggah Tania sambil merangkul bahuku.


Beberapa saat kemudian, Hans dan Fina juga memasuki kamar ini sambil membawakan sekantong berisi bungkusan makanan.


"Penny, sebaiknya kamu makan dulu saja! Sejak tadi kamu belum makan sama sekali," saran Fina sambil membukakan bungkusan makanannya untukku.


"Aku tidak berselera makan. Nanti saja aku makannya," ujarku lesuh.


Fina tidak menghiraukan perkataanku lalu memberiku sendoknya paksa.


"Tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus makan biar tetap kuat, Penny!" bentak Fina seperti ingin menerkamku.


"Tapi aku--"


"Sudahlah tidak usah banyak alasan! Apakah kamu ingin Adrian melihatmu pucat begini?" celoteh Fina cerewet.


"Pasti Adrian nanti merasa bersalah kalau melihatmu pucat," lanjut Tania.


"Kalau aku jadi Adrian pasti akan ngambek seharian," gurau Hans lagi.


"Bukan ngambek sih. Lebih cenderung memarahimu nanti," tambah Nathan.


"Kalau kamu masih tidak mau makan, aku akan suapimu paksa!" celetuk Fina lagi.


Aku sangat terharu memiliki teman yang selalu mendukung dan menghiburku di saat aku sedang mengalami kesulitan. Terutama Fina bersikap sangat berlebihan padaku membuatku sekarang sedikit malu.


"Ish aku bisa makan sendiri! Lagi pula aku hanya ingin Adrian yang suapiku!" sungutku mengerucutkan bibirku.


"Ya sudah, sebaiknya kamu makan sekarang saja nanti keburu dingin!" tegas Fina.


"Kamu tidak ada bedanya dengan ibuku!"

__ADS_1


"Bodoh amat! Yang penting aku ingin melihat kepala detektif terbaikku kembali bersemangat lagi."


Aku tersenyum simpul sambil menyantap makanannya.


"Anak pintar," ledek Tania mengelus kepalaku seperti anak kecil.


"Ish aku bukan anak kecil!"


"Sudahlah cepat habiskan makananmu!" titah Nathan tegas.


"Memang kamu terlihat seperti anak kecil, Penny! Apalagi setiap kali manja dengan Adrian!" sindir Hans.


"Sudahlah kalian semua sebaiknya keluar dari ruangan ini daripada menggangguku saja!" usirku mengibaskan tanganku.


"Hufft! Dasar tidak tahu berterima kasih! Ayo Hans, kita pergi saja sekarang!" sergah Fina menggenggam tangannya.


"Memang Penny tidak tahu diri! Padahal temannya sudah perhatian padanya malahan dia mengusir kita semua!" hardik Tania mengerucutkan bibirnya menggandeng tangannya Nathan keluar.


"Aku hanya ingin sendirian saja di sini!" pekikku mengamati semua temanku meninggalkanku sendirian.


Sepanjang hari aku terus menunggunya terbangun dari komanya. Aku hanya makan sedikit saja itu pun dibelikan oleh Fina walaupun aku tidak menyuruhnya membelikan makanan untukku. Meskipun hari sudah gelap sekarang, Adrian masih belum tersadar juga. Aku terus merawatnya dengan mengusap keringatnya yang terus mengalir pada kepalanya dan juga tangannya menggunakan handuk kecil.


Tak lama kemudian, ayah memasuki kamar ini membawakan beberapa baju ganti untukku dan juga makanan. Aku menoleh ke arahnya dengan mengulum senyuman tipis.


"Ayah."


"Jangan lupa kamu harus menjaga kesehatan tubuhmu juga. Kamu harus tetap kuat, Penny," saran ayah menepuk pundakku.


"Tenang saja, Ayah. Ayah tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa merawat diriku sendiri."


"Memang ini rasanya berat kalau orang yang kita cintai tidak sadarkan dirinya. Tapi bukan berarti kamu langsung menyerah."


"Omong-omong, ayah tidak memberitahukan Victoria mengenai kondisi Adrian, 'kan?"


"Ayah tidak mungkin memberitahukannya. Kalau seandainya dia mengetahuinya, pasti seharian kerjaannya akan menangis terus melihat papa kesayangannya terbaring di ranjang terus."


"Syukurlah."


"Kalau begitu ayah pulangdulu, ya. Ayah harus membantu ibu merawat anakmu lagi," pamit ayah.


"Sampai jumpa, Ayah, hati-hati di jalan," ucapku melambaikan tanganku.


Walaupun hari sudah malam, aku memutuskan untuk tetap berjaga sambil menyantap makanan pemberian dari ayah tadi. Aku terus memaksa mataku terbuka lebar mengamatinya siapa tahu ia meresponku tiba-tiba. Namun sampai dini hari saja, Adrian tetap tidak melakukan pergerakan apapun. Mataku sudah mulai tidak kuat menahannya hingga pada akhirnya aku tertidur lelap dalam kondisi masih menggenggam tangannya.


Pagi hari yang sangat cerah membuatku langsung terbangun dari tidurku. Aku segera membuka kedua mataku lebar mengamatinya lagi. Ini sudah sekitar 12 jam lebih Adrian tidak terbangun. Kegelisahan mulai timbul pada diriku. Kalau kondisinya sewaktu dulu, ia tersadar dengan cepat. Namun kini ia belum tersadar juga lebih dari setengah hari. Aku memutuskan membersihkan wajahku yang sangat kusut dan juga memakai lipstikku untuk menutupi wajahku yang lesuh.


Usai merapikan diriku seperti orang normal lagi, aku tetap duduk tepat di sampingnya menyentuh tangannya lagi. Air mataku terus berlinang hingga membasahi pipinya. Kalau saja kondisinya seperti begini di saat aku sedang hamil, mungkin aku tidak akan bersemangat hidup.


*****


Seketika aku sedang mengandung Victoria memasuki 5 bulan, perutku mulai membuncit sehingga aku mengajukan cuti kerja demi kesehatanku dan bayiku. Rasanya sangat membosankan berdiam diri di kediamanku tanpa ada kehadirannya.


Namun di saat aku sedang duduk termenung sendirian pada siang hari, tiba-tiba ada suara seseorang sedang memasukkan kode akses kediaman kami. Aku bergegas beranjak dari sofanya perlahan menghampiri pintunya. Sosok Adrian menampakkan dirinya di saat begini membuatku bingung, apalagi bukankah ia harusnya di kantor sekarang.


"Sayang, kenapa kamu pulang tiba-tiba?"


"Tentu saja untuk menemanimu, Sayang," jawabnya santai.


"Tapi bukankah kamu sibuk bekerja?"


Adrian membungkam mulutku dengan jari telunjuknya.


"Prioritas utamaku sekarang adalah menemanimu dan merawatmu ketika aku tidak sibuk."


"Tapi--"


Adrian tidak menghiraukanku lalu menuntunku menduduki sofa ruang tamu. Ia membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya dan mendekapku hangat sambil menyentuh perutku.


"Aku juga merasa bosan di kantor. Maka dari itu, aku lebih memilih menghabiskan waktu bersamamu saja. Setiap detik sangat berharga bagiku, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Sayang ...."


"Apalagi kamu sedang hamil. Kamu tidak boleh banyak bergerak demi kesehatanmu dan bayi kita. Aku usahakan akan menemanimu terus walaupun aku sibuk."


"Kamu tidak perlu memaksakan dirimu."


"Tidak masalah bagiku. Karena aku terlalu sayang padamu sampai ingin melekat padamu terus."


"Kalau begitu tetap bersamaku terus sekarang."


"Aku tidak perlu kembali ke kantor juga tidak masalah. Yang penting aku dan kamu saat ini puas karena kita bebas bermesraan terus. Kalau kamu meminta bantuan, tinggal panggilku saja. Aku siap melayanimu seharian penuh tanpa mengenal lelah."


"Tapi nanti kamu diomeli."


Adrian mendekatkan wajahnya pada perutku sambil mengelus pelan.


"Anakku, papa diomeli tidak masalah. Yang terpenting saat lahir nanti harus jadi anak yang sehat dan kebanggaan papa dan mama."


Tiba-tiba aku merasakan sebuah tendangan pada perutku yang membuatku bahagia.


"Sayang, anak kita baru saja meresponmu!" sorakku.


"Syukurlah berarti ini menandakan bayi kita tidak sabar bermain bersama kita langsung." Adrian mendaratkan ciumannya pada perutku penuh kasih sayang.


Karena dirinya sekarang berada di sisiku, aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini dengan membenamkan kepalaku pada tubuhnya manja. Selama aku hamil, aku selalu manja padanya seperti anak kecil manja pada ibunya.


"Aku semakin cinta padamu kalau kamu manja padaku begini terus," ucapnya mengecup pipiku sekilas.


*****


Mengingat perlakuannya sewaktu aku sedang hamil membuatku semakin merindukannya sekarang. Aku rindu dirinya selalu tersenyum bahagia, memperlakukanku penuh kasih sayang, dan setiap momen kebersamaan kita selama ini.


Kini aku hanya bisa memejamkan mataku sejenak berdoa untuknya sambil menggenggam tangannya.


"Kumohon kembalilah padaku, Adrian. Kamu harus bangun demi aku dan Victoria. Aku tidak ingin kehilangan suamiku yang sangat kusayangi. Aku ingin menghabiskan waktu bersenang-senang bersamamu sampai kita menua."


Tak lama kemudian, timbullah sebuah keajaiban. Adrian meresponku dengan menggerakkan jari tangannya lalu membuka kedua matanya perlahan. Aku kembali tersenyum bahagia mengamatinya tersadar setelah aku menunggunya lama.


"Adrian, kamu sudah sadar!" sambutku girang.

__ADS_1


Namun raut wajahnya berbeda dari biasanya. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan biasa.


"Kamu siapa?"


__ADS_2