
Saat aku sedang membuka emailku, Fina memberikan secangkir kopi untukku dan juga Hans. Tumben sekali Fina sangat baik padaku. Biasanya ia tidak pernah membuatkanku kopi bahkan ia hanya membuat untuk dirinya sendiri. Sedangkan Hans membalasnya dengan mengedipkan mata kiri.
Aki tersenyum. "Terima kasih, Fina."
"Aku selama ini tidak pernah membuatkan kopi untukmu. Mulai hari ini, aku akan selalu rajin buatkan kopi spesial untukmu sebagai permintaan maaf yang tulus dariku, karena telah menyakiti hatimu di masa lalu," kata Fina dengan ramah.
Aku mencicipi kopi buatannya dan rasanya sangat pas, tidak terlalu pahit dan juga tidak hambar. "Mmm kopinya lezat sekali, Fina! Kamu harus buatkan kopi untukku terus!"
"Dengan senang hati, Penny. Oh ya tadi kamu sedang menatap apa sampai serius begitu?" Fina menatap layar monitorku dengan fokus.
"Ada pesan masuk di emailku. Aku harus mengecek pesan itu."
Fina menunduk segan. "Bolehkah aku melihatnya juga? Aku juga sangat penasaran sebenarnya."
"Boleh saja, kenapa tidak? Sini kamu berdiri tepat di sebelahku saja, kita lihatnya bersama." Aku mengibaskan tanganku mengisyaratkan Fina mendekat.
Aku melanjutkan membuka emailku dan pesan itu dari anonim yaitu orang yang tidak dikenal identitasnya dan tidak memperlihatkan namanya dengan jelas.
Dengan rasa semakin penasaran, aku membuka email darinya, terdapat dua video di pesannya. Aku menekan video itu dan menyaksikannya bersama Fina. Video itu merupakan rekaman CCTV alibinya Josh sewaktu aku menangkapnya.
Saat aku dan Fina menyaksikan rekamannya, Fina merasa ada sesuatu yang janggal pada video rekaman itu hingga matanya terbelalak.
"Penny, coba lihat deh!" ujar Fina menunjuk video itu dengan panik.
"Ada sesuatu yang salah dengan video ini?" tanyaku kebingungan.
"Waktu rekaman CCTV berbeda dengan waktu itu yang kamu lihat!"
"Apa?"
Aku mengulang memutar rekaman CCTV itu dan menatapnya sangat fokus. Benar perkataannya Fina, waktunya berbeda dengan yang aku lihat. Tapi bagaimana bisa? Untungnya mata Fina selalu tajam dan peka sejak dulu.
"Benar perkataanmu. Waktu rekamannya berbeda dengan yang aku lihat."
Fina menggigit jari menatap kebingungan. "Jadinya rekaman CCTV yang mana merupakan yang asli?"
"Aku akan membawa laptopku ke ruang rapat. Kalau kita menyaksikan rekamannya di sini, nanti kita bisa tertangkap basah," bisikku sambil memindahkan video itu ke dalam flashdisk.
Aku bawa flashdisk dan laptopku ke dalam ruang rapat. Semua anggota timku juga mengikutiku memasuki ruang rapat karena diminta Fina.
Aku mencolok flashdisk pada laptopku dan memindahkan video tadi ke laptop. Setelah itu, aku menyaksikan ulang rekaman CCTV sampai mataku juling. Waktu rekaman CCTV ini dengan yang kulihat waktu itu beda jauh.
"Apakah benar rekaman CCTV berbeda?" tanya Hans masih tidak percaya.
"Iya, kalau tidak percaya, kamu bisa melihatnya sendiri," sahut Fina.
Nathan bertopang dagu. "Jadinya, rekamannya yang benar yang mana, Penny? Kamu jangan membuatku bingung."
"Aku juga bingung sekarang. Kenapa ada seseorang yang mengirimkan rekaman CCTV ini tiba-tiba kepadaku?" jawabku sambil menggarukkan kepalaku kesal dengan anggota timku yang sibuk bertanya tapi tidak melakukan apa pun.
"Kalau misalnya rekaman CCTV yang ini merupakan asli. Berarti alibi Josh terbukti salah," papar Hans sambil memainkan pulpennya.
__ADS_1
Aku menepuk jidatku, baru menyadari aku pernah menyimpan rekaman CCTV membuktikan alibi Josh waktu itu. "Oh ya, aku lupa bahwa aku pernah menyimpan rekaman itu di laptopku."
"Coba kamu bandingkan, Penny! Mari kita lihat di mana letak perbedaan dari kedua rekaman ini!" pinta Fina tegas.
Aku membuka folder video di laptopku dan menemukan rekaman CCTV yang kulihat pernah kusimpan sebelumnya. Untung saja aku pernah menyimpannya sehingga bisa melihat rekaman itu lagi. Aku memutar rekaman CCTV itu dan menatapnya sampai mataku sakit sekali.
Fina menepuk pundakku sekilas. "Sebaiknya aku saja yang memandangi rekaman CCTV."
Aku menggeleng. "Tidak perlu. Biar aku saja yang menyaksikannya sendiri dulu."
Sampai sekarang aku masih bingung letak perbedaan dari kedua video itu apa selain waktu rekamannya. Aku memutar dua video dan membandingkannya terus hingga memakan waktu sekitar 15 menit.
Aku membulatkan mataku dengan sempurna menyadari ada sesuatu yang janggal dari salah satu video ini hingga aku bangkit dari kursiku tiba-tiba membuat anggota timku heran melihatku.
"Ada apa lagi, Penny? Apakah kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Nathan lagi.
"Coba kalian ke sini deh! Aku takut mataku yang sudah kelelahan melihat dua rekaman itu terus atau memang ada sesuatu yang mencurigakan," pintaku mendesak menunjuk satu titik menurutku janggal.
Semua anggota timku menghampiriku dan menatap video itu dengan saksama. Nathan, Tania, dan juga Hans tidak merespons sama sekali sedangkan Fina fokus terus menatap rekaman itu. Aku memberhentikan rekaman CCTV alibinya Josh waktu itu dan memperlihatkannya kepada mereka.
"Coba kalian lihat baik-baik!" ujarku sambil menunjuk sesuatu yang mencurigakan pada ujung kamera.
Nathan menggarukkan kepala kebingungan. "Sepertinya jarum jamnya sesuai deh."
"Aku juga lihatnya begitu," tutur Tania memandanginya hingga dahinya berkerut.
Hans melihat rekaman itu sampai mengucek matanya. "Kamu yang salah lihat kali, Penny."
"Kalau begitu aku akan memutar rekaman CCTV yang dikirim oleh seseorang barusan lewat email."
Aku memutar rekaman yang dikirim anonim itu dan memberhentikannya pada saat yang sama dengan tadi. "Coba kalian lihat lagi baik-baik!"
"Rekaman CCTV ini terlihat lebih jernih dibandingkan dengan tadi," ujar Hans.
"Tampilannya sangat sempurna seperti rekaman CCTV sungguhan," tambah Tania.
"Aku akan memberitahu kalian sesuatu yang penting dari kedua rekaman ini. Kalian barusan melihat rekaman CCTV ini terlihat sangat jernih, 'kan?"
"Iya benar," jawab Nathan.
"Aku akan memutar rekaman yang sebelumnya lagi dan menjelaskannya kepada kalian semua."
"Kepalaku sangat sakit sekarang, sepertinya aku harus minum obat sakit kepala." Hans memijit pelipisnua pelan.
"Sebaiknya kamu minum obat saja sekarang," saran Nathan menepuk pundak Hans.
"Sangat disayangkan aku tidak membawa obat."
"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kamu tahan saja sampai pulang," ejek Nathan santai.
Hans mengepalkan tangan kiri dan menghembuskan napas kasar sambil menatap tajam pada Nathan. "Bicara sih mudah ya."
__ADS_1
"Kalian berisik sekali sih! Kepalaku menjadi semakin terasa sakit akibat mendengar perdebatan kalian!" omel Fina berkacak pinggang.
Aku memutar rekaman CCTV itu untuk terakhir kalinya lalu memberhentikan pada waktu yang sama dan memperlihatkannya kepada mereka lagi.
"Kalian pasti melihat rekaman CCTV ini seperti pencahayaannya redup, 'kan," ucapku dengan fokus.
"Memang ada yang salah dengan itu?" tanya Nathan mulai penasaran.
"Benar penglihatan kalian semua. Ini rekaman palsu dan sudah dimanipulasi. Metode manipulasi ini memang mudah sekali menipu orang, jika orang yang melihatnya tidak peka," jawabku dengan tatapan serius.
"Maksudnya rekaman palsu?" tanya Nathan lagi yang bingung dar tadi.
"Rekaman ini diambil di saat waktu berbeda. Maka dari itu, coba kalian lihat perbedaan letak jarum panjangnya. Memang teknik ini sudah sering dipakai penjahat untuk menutupi kejahatannya. Hanya sedikit diedit dan dimanipulasi sudah berhasil menipu kita," jawabku menjelaskannya seperti orang cerdas.
Hans bertepuk tangan. "Wah, kamu cerdas sekali, Penny!"
"Kamu mempelajarinya dari mana?" tanya Nathan penasaran.
"Aku pernah mempelajarinya sebelumnya dan ada sebuah adegan drama yang pernah kutonton menggunakan metode ini."
"Berarti bisa dikatakan rekaman yang dikirim anonim itu ...."
"Itu adalah rekaman CCTV yang asli. Sedangkan yang ini sudah pasti palsu." Aku melanjutkan perkataan Fina.
Hans menendang kursi kasar. "Wah, aku tidak bisa memercayai ini! Beraninya dia membohongi kita semua!"
"Untuk saat ini, kita harus berwaspada dengan Josh. Jangan bersikap gegabah yang membuatnya mencurigai kita semua!" tuturku dengan tegas.
"Tapi bagaimana cara anonim itu mendapatkan rekaman yang asli?" tanya Nathan bingung.
Aku melipat kedua tangan di dada. "Pasti orang itu bekerja di bar tempat biasanya Josh nongkrong di sana. Dia diam-diam menyimpan rekaman asli lalu memberikannya padaku."
Dahi Tania mengernyit. "Tapi untuk apa dia memberikan ini padamu sekarang?"
Aku menggeleng lemas. "Aku tidak tahu. Setelah ini, aku akan menghubungi orang itu melalui email dan memintanya bertemu denganku secepatnya."
"Lebih baik sekarang kita keluar dari ruang rapat dan mengawasi pergerakan Inspektur William lagi," usul Fina.
"Ya sudah, kalau begitu rapatnya sampai di sini dulu. Kalian harus ingat selalu berwaspada dan jangan sampai melakukan pergerakan yang mencurigakan!" pintaku kepada semua anggota timku.
"Baik, aku mengerti," patuh Fina.
Mereka keluar dari ruang rapat dan diikuti aku dari belakang sambil membawa barang-barangku. Aku kembali duduk di meja kerjaku dan mengirim pesan kepada anonim itu untuk memberitahu nomor telepon.
Aku menunggu balasan email itu sampai malam tapi belum ada balasan juga dari anonim itu. Tiba-tiba di saat aku sedang menatap layar monitorku terus, Inspektur William keluar dari ruangannya tergesa-gesa.
Hans menatapnya penasaran. "Kenapa dia terburu-buru seperti itu?"
Nathan mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu sepertinya dia terburu-buru menuju ke suatu tempat."
"Sebaiknya kita harus bergegas mengikutinya sebelum kehilangan jejaknya," saranku sambil memakai jaketku.
__ADS_1
"Ayo, naik mobilku saja!" ajak Nathan sambil mengambil kunci mobilnya.