
Setibanya di restoran, aku melihat banyak orang berkerumunan di luar restoran. Aku bergegas memasuki restoran menghampiri Pak Colin duduk lemas hingga wajahnya pucat. Aku mengamati sekeliling restoran sekarang sangat kacau.
"Bapak baik-baik saja? Apakah Bapak terluka?"
Pak Colin menggeleng ngeri. "Saya tidak terluka sama sekali. Hanya saja saya heran kenapa ada orang yang menerobos restoran saya? Padahal sebelum saya pulang ke rumah, saya sudah mengunci semua pintu dengan ketat."
"Bapak tenangkan diri dulu saja. Mari kita membicarakan hal ini secara perlahan satu per satu. Bapak minum air dulu dan tarik napas dengan pelan," ucapku berusaha menenangkan Pak Colin yang masih terlihat panik sekarang.
Tak lama kemudian, Adrian memasuki restoran menghampiri kami.
"Barusan aku memeriksa kamera CCTV di jalanan sekitar restoran, sepertinya kamera CCTV sudah dirusak pelaku untuk menghilangkan jejak sebelum melakukan aksi jahatnya," lapor Adrian padaku.
"Aish, kalau begini terus bagaimana bisa kita menangkap pelakunya dengan cepat!" ketusku dengan kesal sambil memukuli meja sedikit bertenaga.
"Penny ...." lirih Adrian menyentuh pundakku.
Aku tahu emosiku sedang tidak stabil. Memang aku tidak membaca situasi sekarang, apalagi aku merasa malu karena bertingkah hal tidak wajar di hadapan sahabatku sangat tampan.
Aku tidak berani menatap mata gagahnya. "Maaf aku tidak bermaksud menakutimu, Adrian. Memang biasanya kalau aku sedang kesal sikapku seperti ini."
"Tidak apa-apa, Penny. Memang sangat wajar kalau kamu bertingkah seperti ini." Adrian tertawa gemas sejenak sambil mengelus kepalaku seperti anak kecil.
Baru menyadari ada seseorang selain kami di sini, tatapannya kembali beralih pada Pak Colin. "Bapak bisa tolong jelaskan kejadiannya seperti apa kronologinya?"
"Sebenarnya tadi saat saya sedang perjalanan pulang menuju rumah saya, tiba-tiba saya menyadari bahwa ada barang saya tertinggal di restoran. Lalu, saya memutuskan kembali ke restoran dan ada seseorang di dalam sana yang sedang mengacaukan restoran. Saya berjalan perlahan memasuki restoran hingga pelaku tersebut mengetahui kehadiran saya. Kemudian pelaku melarikan diri sambil mendorong saya hingga terjatuh," jawab Pak Colin menjelaskan kronologinya pada kami secara panjang lebar.
Dahi Adrian berkerut. Mendengar penjelasan Pak Colin membuat kepalanya sedikit sakit. "Apakah Bapak sudah memeriksa ada barang berharga yang hilang di sini seperti uang atau semacamnya?"
Pak Colin menghela napas. "Anehnya barang-barang berharga saya masih utuh semua di sini. Bahkan pelakunya tidak mengambil uang saya sama sekali."
Sebenarnya aku masih penasaran motif pelaku itu apa. Kalau Pak Colin juga terlibat bahaya begini, pasti ia meninggalkan jejak serupa seperti yang dialamiku dan Adrian. "Apakah ada sesuatu yang mencurigakan lagi dalam kejadian ini? Seperti pelakunya meninggalkan sesuatu semacam surat ancaman?"
"Oh ya, saya menemukan kotak itu di counter kasir tadi. Sepertinya pelaku sengaja meninggalkan kotak ini di sini saat saya memasuki restoran," kata Pak Colin sambil memberikan sebuah kotak misterius terletak di meja lain.
Dengan sigap aku membuka kotak misteriusnya yang isi surat ancamannya sama sepertiku dan Adrian. Aku membaca surat ancaman itu dalam hati.
"Anda adalah target selanjutnya, bersiaplah!"
Aku mendesah lesu sambil mengucek kertas kecil itu. "Dugaanku benar tadi."
"Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya? Maksud dugaan Anda barusan benar itu apa?" tanya Pak Colin bingung mendengarkan perkataanku barusan.
"Ceritanya sangat panjang, saya tidak bisa menceritakannya satu per satu pada Anda. Yang terpenting sekarang Bapak harus selalu berwaspada."
"Sepertinya kasus hilangnya ayahnya Penny ada hubungannya dengan kasus ayah saya juga. Kemungkinan besar Bapak juga bisa menjadi targetnya karena Bapak merupakan sahabat terdekat ayah saya dan ayahnya Penny," tambah Adrian.
"Peter? Tapi kejadian itu sudah sangat lama. Kenapa pelakunya sekarang baru bertindak?" tanya Pak Colin semakin bingung dengan situasi sekarang.
Aku menunduk lesu, melipat kedua tangan di dada. "Sampai sekarang kami masih mencari tahu motif pelakunya sebenarnya. Pokoknya Bapak harus menjaga restoran Bapak dengan keamanan ketat."
__ADS_1
"Saya dan Penny pergi dulu untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi," pamit Adrian sambil menepuk pundakku mengisyaratkanku mengikutinya keluar dari restoran.
Ketika kami berada di luar restoran, raut wajah Adrian sangat serius fokus memikirkan kejadian ini hingga dahinya berkerut.
"Adrian, kamu kenapa?"
"Satu-satunya yang mengetahui semua kejadian ini hanyalah ayahku. Pasti ayahku mengetahui pelaku yang menyebabkan semua kekacauan ini."
"Kalau begitu besok kita berdua mengunjungi ayahmu," ajakku penuh antusias.
"Penny ...."
Mengamati wajahnya menjadi sangat lesu dan tangan kanannya menggenggam tanganku tiba-tiba, membuatku bingung dengannya seketika aku mengucapkan sesuatu berkaitan dengan ayahnya. Apakah terjadi sesuatu antara Adrian dengan ayahnya?
"Kamu kenapa?" tanyaku sambil berkacak pinggang.
"Tapi ... masalahnya aku agak canggung sih," ungkapnya gelagapan.
"Kenapa kamu canggung dengan ayahmu sendiri? Apakah kamu pernah melakukan kesalahan padanya?"
Adrian menggeleng pelan. "Aku sudah tidak mengunjunginya selama dua tahun, pasti suasana akan terlihat canggung. Terakhir kali aku mengunjunginya, ayahku seperti menolak kunjunganku. Aku cemas ayahku akan kecewa dan tidak ingin bertemu denganku lagi."
Untuk meyakinkannya, aku menyentuh pundaknya dengan tatapan percaya diri. "Adrian, aku yakin pasti ayahmu akan senang melihatmu mengunjunginya lagi setelah sekian lama. Ayahmu pasti sangat merindukanmu karena sudah lama kamu tidak mengunjunginya. Ayahmu pasti ingin bertemu denganmu. Percayalah padaku."
Adrian sedikit mengangkat kepala gugup. "Kamu yakin?"
"Aku yakin sekali. Besok kita berbicara dengan ayahmu perlahan satu per satu."
Keesokan harinya, aku dan Adrian pergi ke rutan untuk mengunjungi ayahnya Adrian. Sebelum bertemu dengan ayahnya, aku menggenggam tangannya untuk meyakinkannya lagi supaya terlihat percaya diri di hadapan ayahnya.
"Kamu sudah siap, Adrian?"
Senyuman tipis terpampang pada wajah tampannya. "Aku sudah siap sekarang."
"Ayo, kita masuk sekarang!"
Aku dan Adrian memasuki tempat tahanan dan pengunjung saling berkomunikasi yang dibatasi kaca. Aku melihat ayahnya Adrian berpenampilan sedikit berantakan memasuki ruangan. Reaksinya saat melihat putranya mengunjunginya tiba-tiba, ia membulatkan mata sempurna, bingung ingin berkata apa.
"Ayah, sudah lama tidak bertemu," sapa Adrian sedikit gugup.
"Adrian, kamu ke mana saja selama ini? Kenapa kamu baru mengunjungi ayah sekarang? Ayah sangat merindukanmu selama ini," sahut Randy sangat merindukan putranya, mengulurkan tangan kanannya ingin meraih tangan putranya tapi dihalang pembatas kaca.
Adrian menunduk lesu. "Maafkan aku, Ayah. Aku belakangan ini banyak kerjaan jadi tidak sempat mengunjungi ayah."
Justru reaksi Randy tersenyum ceria. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu sekarang sudah mengunjungi ayah sekarang. Omong-omong, kamu mengunjungi ayah ada apa, ya?"
"Ayah masih ingat sahabat Ayah yang bernama Peter?"
"Ayah sangat merindukannya sampai sekarang. Memangnya ada apa, ya?" tanya Randy lagi.
__ADS_1
"Aku curiga kasus ayah ada hubungannya dengan sahabat ayah itu," jawab Adrian dengan tatapan curiga.
"Itu mustahil, Adrian. Ayah melakukan kesalahan waktu itu sehingga ayah ditangkap." Paman Randy langsung membantah pernyataan Adrian.
"Itu benar, Paman," tambahku tiba-tiba.
"Kamu siapa, ya? Kamu temannya Adrian?" Paman Randy menatapku bingung dari ujung kepala hingga kaki.
"Perkenalkan aku, Penny. Aku adalah putri dari sahabat paman yang bernama Peter dan sahabat Adrian," ucapku sopan tersenyum ramah.
Reaksi Paman Randy tercengang. "Oh, kamu putrinya Peter. Ayahmu sering membicarakanmu sewaktu dulu. Katanya kamu sangat cantik dan ternyata benar setelah aku melihatmu secara langsung."
Mengingat waktu sangat terbatas, terpaksa aku mengalihkan perbincangan langsung pada intinya. "Sebenarnya aku sudah dua kali diberi surat ancaman dan Adrian juga mendapat surat ancamannya sama sepertiku. Lalu, teman paman yang bernama Colin itu juga semalam dapat surat ancamannya. Apakah paman kira-kira tahu siapa dalang dibalik semua ini?"
Randy mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Selama ini, tidak ada orang yang memiliki dendam kepadaku dan sahabat-sahabatku."
"Kalau begitu, apakah paman tahu logo bunga Magnolia bersayap?"
Saat aku menanyakan hal itu, raut wajah paman Randy langsung berubah drastis dan terdiam sejenak, memalingkan mata dariku seolah-olah ada yang disembunyikan. "Aku tidak pernah melihat logo itu."
"Ayah yakin?" tanya Adrian mulai mencurigai ayahnya.
"Ayah tidak mungkin membohongi putra ayah sendiri dan putri sahabat ayah," jawab Randy dengan polos.
"Maaf waktu kunjungan telah habis, silakan berkunjung di lain waktu," tegur sipir bertugas.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengunjungi ayah lagi di lain waktu. Ayah harus selalu jaga kesehatan," pamit Adrian melangkah keluar dari sini.
"Paman juga harus selalu menjaga kesehatan. Aku pergi dulu, ya," pamitku sopan bergegas menyusul Adrian.
Saat aku sedang berjalan di tempat parkir menuju mobilku, tiba-tiba aku terdiam sejenak dan teringat dengan perkataan terakhir paman Randy. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dengan sigap aku bergegas menghampiri Adrian yang sedang berjalan menuju mobilnya.
"Tunggu, Adrian!" pekikku dari kejauhan mencegah Adrian pergi.
"Ada apa, Penny?" sahutnya menolehkan kepalanya menghadapku.
"Apakah kamu merasa ayahmu menyembunyikan sesuatu dari kita? Apalagi saat aku membicarakan mengenai logo itu, reaksinya langsung berubah."
Adrian mengernyitkan dahi. "Sepertinya kita harus mengunjunginya lagi agar dia bisa membuka mulutnya."
"Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu. Sampai bertemu lagi, Adrian. Hati-hati di jalan," pamitku meninggalkannya lalu memasuki mobilku.
"Hati-hati di jalan, Penny."
Di tengah perjalanan, aku masih memikirkan hal itu di kepalaku. Situasi semakin rumit mengenai kasus ini.
drrt...drrt...
Ponselku berbunyi tiba-tiba. Namun anehnya yang meneleponku adalah nomor tidak dikenal. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengangkat panggilan telepon.
__ADS_1
"Saya adalah pelaku yang meracuni tahanan yang bernama Ray. Mari kita bertemu sekarang juga! Akan saya kirimkan alamatnya," ucap pelaku misterius lalu mematikan panggilan teleponnya sebelum aku membalasnya.
Ini aneh sekali Gerry ingin bertemu denganku tiba-tiba. Setelah melihat alamat yang dikirimkannya, aku langsung menginjak pedal gas menuju ke sana untuk menangkapnya.