Good Partner

Good Partner
S2 : Part 34 - Care About You


__ADS_3

Aku dan semua anggota timku melangkah keluar dari klub malam itu lalu berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan menuju kediaman kami, Adrian masih tidak ingin berbicara denganku sama sekali dan tetap terus berfokus menyetir mobilnya. Kecuali tadi saat di klub malam, ia membuka suaranya karena sedang menyelidiki kasusnya saja. Aku jadi semakin merasa bersalah padanya lalu menyentuh tangan kanannya. Namun ia sama sekali tidak memedulikanku dan terus saja tatapan matanya tertuju ke depan.


Untuk menghilangkan suasana menegangkan yang membuatku sangat tidak nyaman, aku sengaja memutar sebuah lagu romantis kesukaan kami berjudul "Only Love - Trademark" walaupun sebentar lagi kami sudah mau tiba di apartemen namun ia tetap tidak meresponku sama sekali.


Tak lama kemudian kami tiba juga di basement apartemennya. Ketika Adrian sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, aku memasang raut wajahku cemberut tidak menatap wajahnya sama sekali sambil menggenggam gagang pintu mobilnya. Baru saja aku ingin membuka pintunya, Adrian menahan tubuhku tiba-tiba lalu mendekatkan wajahnya pada telingaku sambil memutar lagu itu lagi.


"Kamu mau ke mana, Penny?"


Akhirnya Adrian membuka suaranya, namun tetap saja aku sudah terlanjur kesal karena ia bersikap cuek padaku terus.


"Pertanyaan bodoh! Yang pasti masuk ke kediaman kita!"


"Aku belum selesai bicara, Penny."


"Tidak ada sesuatu yang bisa aku bicarakan padamu lagi! Dari tadi aku menyentuh tanganmu tapi kamu tidak meresponku sama sekali!"


"Itu karena--"


"Karena apa? Kamu mengambek karena tadi aku menegurmu di kantor sampai kamu dipermalukan di depan semua anggota timku!"


"Iya tadi begitu sekarang sudah tidak."


"Kalau sekarang tidak, kenapa dari tadi tidak meresponku sama sekali!"


"Karena aku takut kamu akan memarahiku nanti."


"Dasar paling pintar cuma cari alasan! Aku tidak ingin bicara denganmu lagi!"


Adrian langsung mengecup pipiku lembut dan memeluk tubuhku erat. Lagi-lagi perlakuan manisnya langsung membuat hatiku terasa hangat dan bermekaran. Aku membalasnya melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya membenamkan kepalaku manja pada tubuhnya.


"Tadinya aku tidak ingin bicara denganmu, tapi karena perlakuanmu sekarang sangat nyaman bagiku makanya aku tidak ingin berdebat denganmu lagi," ucapku manis.


"Jadinya sekarang kamu sudah tidak menyuruhku untuk diam lagi, 'kan. Tadi itu aku benar-benar malu banget. Apalagi sampai digosipkan Fina dan Tania."


"Tadi karena aku sangat emosi mendengar perdebatan kalian jadinya aku tidak sengaja membentakmu juga. Biasanya aku memperlakukan semua anggota timku setara tidak peduli dia adalah musuh atau sahabatku. Maafkan aku Adrian, seharusnya aku tidak membentakmu kasar tadi," sesalku menunduk bersalah.


Adrian mengecup hidungku lalu membelai rambutku perlahan dengan tatapan mata berbinar.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Yang terpenting bagiku adalah kamu tetaplah Penny yang aku kenal selalu mencintaiku setiap saat."


"Tapi aku tidak tega melihatmu dibentak olehku. Adrian, kamu jangan pernah membenciku karena masalah tadi, ya. Kejadian tadi tolong kamu lupakan saja," balasku memanyunkan bibirku.


"Mana mungkin aku membencimu karena masalah kecil tadi saja. Kejadian tadi tidak menyakiti perasaanku sama sekali. Walaupun kamu galak padaku, aku tetap memedulikanmu dan menyayangimu, Penny."


Namun lubuk hatiku masih memiliki perasaan bersalah padanya. Sebagai permohonan maafku yang tulus sekaligus bukti perasaan cintaku padanya, aku menyentuh pipinya lalu mengecup bibirnya sekilas. Ekspresinya ketika usai dicium olehku langsung berubah. Ia menyunggingkan senyuman nakalnya sambil menyentuh bibirnya.


"Penny, kamu membuatku kaget saja. Tapi tidak apa-apa, aku suka diperlakukan manis begini oleh istriku," ucapnya agak gelagapan, namun senyumannya terus mengambang dari tadi.


"Karena aku sudah memperlakukanmu seperti itu, jangan ngambek lagi, ya."


"Akan aku buktikan bahwa aku tidak ngambek lagi."


Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku mendaratkan ciumannya pada bibir lembutku dalam durasi sedikit lama.


Seketika ia melepas tautannya, sekarang giliranku yang menyentuh bibirku bekas diciumnya.


"Syukurlah bahkan kamu masih bisa menciumku."


Adrian meraih tanganku lalu melekatkan tanganku pada perutnya tiba-tiba


"Aku lapar, Sayang. Dari tadi perutku mengganggu momen kemesraan kita."


"Iya, nanti aku yang masak makan malamnya untukmu karena hari ini kamu menemaniku terus sepanjang hari." Aku mengelus kepalanya pelan.


Sementara di sisi lain, sepasang kekasih yang hobinya suka memamerkan kemesraan mereka di kantor kali ini bersikap dingin lagi. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun saat ini walaupun sedang makan malam bersama. Apalagi mengingat kejadian yang di klub malam membuat Hans masih marah sampai sekarang.


*****


Saat itu ketika mereka semua sedang ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba tangannya Fina ditarik oleh seorang pria dalam keadaan mabuk. Fina langsung membela dirinya dengan membanting tubuh pria itu ke lantai sambil berlagak penuh percaya diri membenarkan rambutnya sedikit berantakan.


"Makanya lain kali jangan coba berbuat mesum padaku! Kamu harus ingat bahwa aku ini adalah seorang wanita yang menyeramkan juga walaupun wajahku terlihat cantik!"


Di saat bersamaan Fina sedang mengoceh, ada seorang pria lainnya yang menghampirinya ingin meraba pinggangnya diam-diam. Lalu Hans mengamatinya langsung menghajar pria itu hingga wajahnya dipenuhi luka memar.


"Jangan pernah berani menyentuh tubuh wanitaku!" bentak Hans sambil menonjoknya sampai puas.

__ADS_1


"Hans! Sudah hentikan perbuatanmu!" tegur Fina menahan kepalan tangan Hans hampir mendarat pada wajah pria itu lagi.


"Kenapa kamu menghentikanku, Fina? Kenapa kamu lebih pilih membelanya daripada suamimu sendiri?"


"Kamu harus tahu diri juga dong! Ini tempat umum. Apakah kamu ingin digosipkan seorang detektif menghajar seorang warga sipil di klub?"


Hans menghembuskan napasnya kasar lalu menarik tangannya Fina paksa keluar dari gedung tersebut menyusul anggota tim lainnya.


*****


Kembali lagi pada saat Fina dan Hans sedang makan malam bersama. Fina tidak melirik wajah suaminya sama sekali tetap sibuk menyantap makanannya saja. Sedangkan Hans sudah tidak tahan dengan tingkah lakunya istrinya langsung menaruh sendok dan garpunya kasar di atas piringnya.


"Fina!" bentak Hans.


"Kenapa kamu membentakku tiba-tiba? Kamu ingin mencari masalah denganku?"


"Aku tidak ingin mengajak ribut. Aku hanya kesal padamu saja kenapa dari tadi kamu berbuat cuek padaku! Memangnya aku ini adalah tembok bagimu?"


"Memang iya. Sekarang aku menganggapmu sebagai tembok!"


"Apa kamu masih marah padaku karena masalah tadi? Kenapa kamu memarahiku? Padahal tadi aku bermaksud menolongmu! Kamu tadi hampir dilecehkan oleh seorang pria asing, apakah kamu ingin tubuhmu ternodai olehnya?" Hans meluapkan amarahnya yang terpendam tadi hingga napasnya terengah-rengah.


"Aku memarahimu karena kamu bertindak terlalu berlebihan! Kamu melindungiku memang baik sih. Tapi kamu menghajar pria itu habis-habisan sampai wajahnya dipenuhi luka memar karena perbuatanmu. Apa kamu ingin dilaporkan sebagai penyerang? Justru yang penyerang adalah pria itu. Semua orang menyaksikan kejadian tadi pasti menuduhmu yang melakukan penyerangan duluan karena kamu bertindak terlalu kasar! Kalau aku jadi dirimu, menghajarnya cukup sekali saja sudah sangat puas bagiku!" tegas Fina memelototinya.


"Tapi aku bermaksud melindungimu! Aku bingung dengan semua wanita. Kenapa sih sikapnya selalu tidak peka?"


"Aku bukan tidak peka. Tapi aku tidak suka kalau suamiku melakukan tindakan kekerasan yang berlebihan!"


"Padahal aku bertindak begitu supaya pria itu kapok! Sedangkan kamu tidak tahu berterima kasih padaku!"


Fina sudah sangat geram padanya lalu menaruk sendok dan garpunya kasar di atas piringnya. Ia beranjak dari kursinya lalu melangkah menuju ruang tamu.


"Kenapa kamu tidak lanjutkan makannya?" tanya Hans nada bicaranya masih kesal.


"Aku tidak berselera makan akibat kamu dari tadi terus mengajakku ribut!" ketus Fina memalingkan matanya dari Hans.


"Aku tidak mengajakmu ribut! Kamu saja yang selalu bersikap dingin padaku!"


"Oh, jadi sekarang kamu menuduhku seolah-olah aku yang berbuat jahat padamu!"


"Bukan begitu, Fina. Kamu salah paham padaku!"


"Pantesan saja dulu Adrian menolakmu mentah karena perbuatanmu yang kasar begini! Dia lebih memilih Penny yang memiliki sikap lembut padanya."


Lontaran perkataan Hans barusan membuat Fina semakin sakit hati seperti terkena sambaran petir. Air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Apalagi berkaitan permasalahan masa lalunya sangat pahit dibuka kembali.


"Kamu tega padaku, Hans. Kamu membuatku sakit hati sekarang!" Tangisan Fina semakin pecah membuat Hans sekarang sedikit merasa bersalah padanya.


Hans secara spontan menghampirinya duduk tepat di sebelahnya sambil menyeka air mata yang terus membasahi pipinya.


"Maaf aku tidak bermaksud menyakiti hatimu," sesal Hans.


"Memang kamu tidak tahu apa-apa. Semuanya saja menganggap Penny lebih baik dariku. Sekarang aku lebih mencintaimu daripada Adrian tapi kamu masih saja menyindirku mengungkit masa lalu! Kalau aku tidak mencintaimu, kenapa aku sekarang menjadi istrimu!"


"Fina, maafkan aku. Aku tidak akan pernah menyindirmu lagi. Aku juga tidak akan berbuat kekerasan lagi demi melindungimu."


Fina masih mengambek memanyunkan bibirnya sambil memeluk bantal sofa. Lalu Hans secara spontan mendekapnya hangat.


"Kamu tetap yang terbaik bagiku, Fina," ucap Hans.


"Jadinya lebih baik aku atau Penny?"


"Tentu saja kamu lebih baik. Kalau Penny cuma bisa emosi saja sampai tadi menegur suaminya sendiri di hadapan kita semua."


Senyuman licik terpampang pada wajah Fina tiba-tiba.


"Aku penasaran bagaimana dengan mereka berdua saat ini," ucapnya.


Sekarang kembali lagi pada aku dan Adrian melanjutkan berdiskusi tentang pekerjaan di ruang kerjanya. Pecahan teka teki mengenai kasus pembunuhan ini semakin lama semakin terlihat motif pembunuhannya Zack. Apalagi ia selalu melakukan pembunuhannya di rumah pengacara Leonard supaya tidak ditemukan jejak pembunuhannya. Karena tidak ada seorang pun yang memasuki rumahnya kecuali dokter Jesslyn, maka sampai sekarang pihak kepolisian tidak akan mengetahui jejak pembunuhannya di sana. Setelah aku berpikir panjang, tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku.


"Adrian, bagaimana kalau kita menyusup ke rumahnya pengacara Leonard?"


"Tapi Penny, bukankah terlalu bahaya untuk memasuki rumahnya? Bagaimana kalau nanti kita tertangkap basah olehnya?" tanyanya ragu.


"Tenang saja. Kita akan menyusupnya saat dia sedang melakukan terapi rutinnya dengan dokter Jesslyn. Nanti kita akan meminta pertolongannya untuk bekerja sama dengan kita."

__ADS_1


"Hmm boleh juga sih idemu itu. Tapi kapan kamu akan melakukannya?"


"Kalau bisa sih besok. Lebih cepat maka lebih baik. Jadi dengan ini juga kita bisa menemukan barang bukti lainnya di rumahnya."


"Pokoknya besok aku akan ikut denganmu, Penny. Aku akan melindungimu takut terjadi sesuatu yang buruk menimpamu tiba-tiba."


"Tenang saja, Adrian. Aku akan selalu menjadikan kamu sebagai pengawal pribadiku walaupun besok aku juga ajak beberapa anggota timku ikut dengan kita," ucapku mengelus pipinya lembut.


"Apakah mungkin besok kamu sungguh akan mencari jejak pembunuhannya di rumahnya?" tanya Adrian penasaran.


"Untung saja di ruanganku ada peralatan cadangan dari tim forensik. Jadinya nanti aku menggunakan peralatan itu untuk mencari jejaknya. Aku sangat yakin walaupun dia sudah membersihkan rumahnya setelah melakukan aksi pembunuhannya, pasti setidaknya ada sedikit jejaknya yang sudah lama melekat selama bertahun-tahun," jelasku mengerutkan dahiku.


"Kamu memang cerdas sekali, Penny!" puji Adrian mengelus kepalaku.


"Semoga rencana kita berjalan dengan lancar besok."


Keesokan harinya aku, Adrian, dan seluruh anggota timku untuk merancang misiku menyusul rumahnya pengacara Leonard secara diam-diam. Sebelum itu aku membuat panggilan telepon pada dokter Jesslyn untuk memastikan pengacara Leonard melakukan terapi rutinnya lagi.


"Halo, detektif Penny, kenapa kamu meneleponku tiba-tiba?"


"Apakah hari ini pengacara Leonard melakukan terapi rutinnya?"


"Iya nih. Nanti dia akan mengunjungi klinikku."


"Bagus kalau begitu aku akan meminta bantuanmu."


"Bantuan apa?"


"Nanti saat kamu melakukan terapinya, kalau bisa kamu mengulur waktu lebih lama lagi. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan di rumahnya. Apakah kamu ingin membantuku?"


"Tentu saja. Nanti aku akan berbuat semampuku untuk membuatnya berlama-lama di klinikku."


"Aku akan mengandalkanmu, dokter Jesslyn. Nanti aku akan kirimkan beberapa anggota timku untuk mengawasimu dari luar."


"Baiklah, detektif Penny."


"Kalau begitu aku tutup teleponnya dulu."


Aku menutup panggilan teleponnya lalu beralih pada seluruh anggota timku lagi.


"Fina dan Tania, nanti kalian yang akan bertugas mengawasi pergerakan pengacara Leonard di depan klinik," pintaku kepada mereka berdua.


"Baiklah, Penny," sahut mereka berdua serentak.


"Sementara Hans, Nathan, dan Adrian akan ikut denganku ke rumahnya pengacara Leonard. Terutama kamu Hans, aku sangat membutuhkan bantuanmu meretas keamanan pintu rumahnya."


"Tenang saja, Penny. Kalau urusan itu serahkan saja padaku," sahut Hans berlagak sombong.


"Kalau aku tugasnya apa?" tanya Nathan bingung.


"Mungkin aku akan membutuhkan bantuanmu kalau pintunya terkunci manual. Aku membutuhkan keahlianmu juga."


"Haha peranmu sedikit Nathan," ledek Hans menertawainya.


"Sudahlah sekarang saatnya kita melakukan misi kita." Aku mengambil sebuah tas dari tim forensik berisi peralatan cadangan untuk mencari jejak pembunuhan.


Sekarang semuanya berada pada posisinya masing-masing. Fina dan Tania berjaga di depan klinik. Sedangkan aku dan tiga lelaki sedang perjalanan menuju rumahnya pengacara Leonard. Setibanya di sana, kami berempat memakai sarung tangan karetnya terlebih dahulu. Sedangkan Hans langsung memainkan perannya yaitu meretas keamanan pintu gerbang rumahnya. Hanya memakan waktu sekitar lima menit, Hans berhasil melakukan peretasannya sehingga kami bisa memasuki rumahnya tanpa perlu memanjat pagar temboknya yang tinggi. Sambil melangkah memasuki rumah itu, aku memasang alat earpiece pada telingaku bagian kiri untuk berkomunikasi dengan Fina dan Tania.


"Bagaimana dengan keadaan di sana?" tanyaku.


"Pengacara Leonard baru saja memasuki kliniknya." Suara Tania terdengar dalam earpiece.


"Baiklah kalian tetap harus memantaunya terus. Jangan sampai terlewatkan pergerakannya. Kalau terjadi sesuatu, kalian harus segera melaporkannya kepadaku."


"Baiklah, Penny," sahut Tania.


Lalu aku memulai aksiku sekarang. Aku membuka tas tim forensik lalu mengeluarkan botol semprotan dan juga botol yang mengandung larutan Luminol. Larutan Luminol merupakan sebuah larutan kalau disemprotkan ke benda manapun yang ada bercak darah maka akan timbul sebuah cahaya yang menunjukkan jejak pembunuhan yang diperbuat oleh pembunuhnya.


Aku membuka tutup botol larutannya dan juga botol kosongnya lalu menuangkan larutannya sekitar seperempat botol ke dalam botol kosong itu. Kemudian aku menutup kedua botol tersebut dengan rapat dan bersiap-siap untuk menyemprotkannya ke seluruh rumahnya. Terutama aku menyemprotkan ke setiap benda berwarna gelap dan juga beberapa benda yang dapat dijadikan sebagai alat pembunuhannya. Aku menyemprotkannya ke setiap celah dalam ruang tamunya tanpa terlewatkan satu pun. Usai itu, Hans dan Adrian menutup semua tirai di ruang tamu itu supaya aku bisa melihat jejaknya dengan jelas. Nathan mematikan semua lampu di rumah itu lalu aku mulai mengamati jejak cahaya yang timbul pada setiap sisi aku semprot dengan larutan itu. Lama kelamaan timbullah sebuah cahaya berwarna ungu menandakan bahwa terjadi sebuah perkelahian yang menimbulkan bercak darah korban berceceran di mana pun.


Walaupun hanya terlihat sedikit jejaknya yang melekat pada benda tertentu, sudah terbukti bahwa ada aksi pembunuhan sebelumnya pernah terjadi di dalam rumah ini. Lalu aku melangkahkan kakiku menuju dapur ada jejak darah juga yang melekat pada counter berwarna gelap. Tidak salah lagi setelah melakukan aksi pembunuhannya Zack mencuci peralatan pembunuhannya yaitu pisau dapur untuk menikam tubuhnya Angelina dan Gracia lalu tanpa sengaja noda darahnya melekat pada counternya tanpa ia sadari.


"Penny, sebaiknya kita mencari barang para korban dulu," usul Adrian.


"Baiklah sebaiknya kita berpencar saja mencarinya!" sahutku.

__ADS_1


"Aku dan Nathan akan mencarinya di lantai satu, kalian berdua ke lantai dua saja," ujar Hans.


Aku dan Adrian bergegas menaikki anak tangganya satu per satu menuju lantai dua. Kami mencari sebuah ruangan rahasia yang bisa dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang bukti para korban pembunuhannya. Kami menggeledah di setiap lantai dua di ruangan manapun tetap tidak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan. Sontak ada satu hal terlintas dalam pikiranku saat ini.


__ADS_2